BUONANOTTE!

Maaf ya, ngapdetnya telat. Dua minggu yang lalu saya ada di Jakarta karena ada acara pernikahan kakak sepupu. Minggu kemarin, saya ada ospek jurusan di luar kota. Jadilah belum sempat mengapdet.

Baiklah, terima kasih banyak review dan sambutan positifnya, untuk: gabyucchiP, Iin cka you-nii, riidinaffa, timamiYIPPIE, Kinomoto Riko, Hiruma Enma 01, Just 'Monta –YukiYovi sudah kubalas lewat PM ya!

Juga:

Chopiezu: halo, Miss Chopiezu Caroll! Kita ketemu di café Florian, nih. Hahaha ada-ada aja. Heeh? Rekap pelajaran akademi-mu? Tidak, terima kasih…*plak

Yosh, this is chapter 2! :D


Taki's Love Life

Chapter 2: The Baby

Written by: undine-yaha

Disclaimer: Inagaki Riichiro and Murata Yuusuke

Disclaimer: Nama-nama tempat dan nama tim amefuto yang ada di dalam cerita ini bukan punya saya ^^

Brenda mengangguk lagi. "Iya, begitulah… Natsuhiko."

Setelah itu baik Brenda maupun Taki terdiam seribu bahasa. Justin menatap mereka bergantian, bingung.

Kondisi tubuh Brenda yang sedang tidak sehat menambah beban pikirannya. Ia berdiri di samping Justin, mencoba menguatkan diri sementara keringat dingin mengalir di dahinya. Ia kehabisan kata-kata untuk Taki. Ketika ia melayangkan pandangannya pada Taki, semuanya tiba-tiba gelap.

XXX

Miracle Mile Medical Center

Taki dan Justin duduk berdampingan di ruang tunggu. Brenda pingsan dan Justin segera menelepon nomor darurat—seperti yang diajarkan di sekolahnya. Sementara Taki menggendong Brenda dengan panik.

Justin terlihat tenang-tenang saja. Taki berusaha menghiburnya, padahal Justin tidak kenapa-napa.

"Little Monsieur, kau tenang saja, ibumu pasti akan segera sembuh!" ucap Taki.

Justin mengangguk. "Iya, iya, Oom Natsuhiko," jawabnya, "Mom hanya kecapekan. Pak Dokter akan menasihatinya supaya ia tidak memaksakan diri ketika bekerja."

"Ahaha! Kau memang anak pintar!" puji Taki.

Taki terdiam sejenak. Seharusnya ada orang yang ia beritahu soal Brenda. Tapi siapa? Kalau Justin adalah anaknya, dan Brenda adalah ibunya, berarti, tinggal ayahnya Justin yang mungkin belum tahu soal ini.

"Justin, kau ingat nomor telepon ayahmu?" tanya Taki, "kita belum memberitahu dia kalau Brenda dibawa ke rumah sakit."

Saat mengatakan itu, Taki bukanlah berbasa-basi. Meski kenyataan tentang 'ayah Justin' menyakiti hatinya, tapi itu tak membuatnya merasa benci.

"Ayahku tidak ada di sini Oom," jawab Justin, "kita tidak bisa meneleponnya."

Taki mengernyit. "Ahaha? Lalu dia ada di mana?"

Justin menatap sejenak sepatu bergambar Ben 10 yang dipakainya, lalu menjawab sambil tersenyum, "Dad sudah pergi ke surga."

Melihat ekspresi Taki yang cengo, Justin tertawa kecil.

"Oom nggak tahu ya, surga itu dimana?" ia bertanya. Taki menggeleng dengan wajah jauh lebih polos dari anak TK.

"Ya udah, aku kasih tahu deh," Justin menyandarkan punggungnya ke kursi dan mengayun-ayunkan kakinya, "surga itu ada di atas sana, Oom. Jauuuuh di atas tempat kita berada sekarang. Dad dijemput oleh Tuhan dan sekarang tinggal di sana untuk selamanya."

Taki menganggukkan kepala, masih 45% mengerti. Tapi ia mulai teringat bahwa Suzuna pernah menceritakan sesuatu tentang ini.

"Surga itu tempat bagi orang yang sudah meninggal, Kak. Tempatnya sangat indah, orang akan bahagia di sana."

Taki tahu apa maksud Justin sekarang. Ayahnya sudah tiada. Rasa iba mulai melingkupi hatinya. Matanya berkaca-kaca.

"Ahaha… ternyata ayahmu sudah berada di surga," ucap Taki bersimpati, "kau jangan sedih, Justin. Ayahmu sekarang bahagia di sana, jadi jangan sedih ya!"

Justin tersenyum lebar. "Iya dong, Oom! Aku tahu itu!"

"Ahaha! Anak hebat!" puji Taki lagi.

Pintu ruangan tempat Brenda diperiksa terbuka. Seorang dokter keluar dari sana dengan wajah sumringah. Taki dan Justin berdiri dari tempat duduk mereka.

"Bagaimana keadaan Brenda?" tanya Taki pada orang itu.

"Ah, anda suami Mrs. Brooklyn?" Dokter itu dengan asalnya menebak . Taki belum sempat menjawab dan dokter itu sudah berkata lagi.

"Selamat, Pak!" ia menyalami Taki, "istri Anda sedang hamil 2 minggu!"

"Aha… ha?"

"Aku akan punya adiiik!" sorak Justin. Taki melongo.

XXX

Taki memasuki ruangan tempat Brenda diperiksa dengan hati gelisah. Wajahnya lesu. Ia menyadari Brenda ada di depannya dan melihatnya, tapi Taki tak mau mengangkat wajahnya.

"Maaf karena mungkin aku sudah mengganggumu," ia berujar—dengan nada santai khas dirinya, meski ekspresinya bukanlah yang ceria seperti biasanya, "aku benar-benar tidak tahu kalau kau sudah berkeluarga."

"Natsuhiko…" Brenda menghela nafas, itu bukan salah Taki.

"Aku memang suka pada Brenda," Taki nyengir, "ahahaaa, ternyata Brenda sudah ada yang memiliki. Maaf kalau kau merasa terganggu dengan keberadaanku, maaf juga soal suamimu—tadi Monsieur Justin sudah bercerita padaku."

Mendengar itu, Brenda menitikkan air mata. Justin—putra kecilnya yang tetap semangat dan tabah meski ayahnya telah tiada. Ia bisa menceritakan soal ayahnya pada orang lain dengan polosnya, meski Brenda tahu ada rasa sedih dan kehilangan yang dialami anak itu.

"Suamiku, Steve Brooklyn sudah tiada," Brenda berujar. Air matanya makin deras. "Ia mengalami kecelakaan ketika sedang bekerja. Rasanya—rasanya baru kemarin kami mengasuh Justin bersama-sama…"

Taki semakin muram mendengar cerita tersebut.

"Dan sekarang," Brenda terisak, "aku tengah mengandung anak kami yang kedua—tak kurang dari tiga minggu sejak aku mengucap selamat tinggal pada suamiku yang pergi ke surga…"

"Hidupku terasa hampa, Natsuhiko," ia mencoba melanjutkan di tengah kekalutannya, "sejak Steve pergi, aku mungkin tersenyum pada Justin, tapi hatiku tidak…"

Ia menatap Taki yang juga telah sanggup menatapnya, "Hatiku baru bisa tersenyum kembali ketika kau datang."

Ekspresi Taki berubah terkejut. Desir-desir aneh mengusik hatinya.

"Aku tidak tahu ini salah atau benar, tapi meskipun aku tidak bisa menerima perasaanmu, maukah kau tetap menjadi temanku?"

Cara berpikir Taki terlalu sederhana untuk mencerna kalimat tersebut. Rasa percaya dirinya jauh lebih besar ketimbang IQ-nya. Jadi, mendengar Brenda meminta dirinya untuk tetap menjadi temannya, Taki berbinar—serasa jadi pencetak touchdown di lapangan.

"AHAHAAA! Tentu aku mauuuu!" ia mengeluarkan putarannya yang paling riang.

Justin—yang baru saja diantar oleh seorang perawat ke kamar mandi, datang dan terlihat kagum dengan putaran itu.

"Oom Natsuhiko hebaaaat!" pujinya, "memangnya nggak pusing, ya?"

"Ahaa~ enggak dong," jawab Taki sambil mengedipkan matanya, "hanya orang jenius lho yang bisa melakukan ini!"

Brenda tertawa melihat tingkah Taki dan ekspresi Justin yang terpesona. Padahal baru saja ia bersusah hati ketika menceritakan perihal suaminya.

Dia bisa membuatku dan Justin melupakan sejenak masalah kami, batinnya, kalau aku memintanya jadi temanku, tidak salah kan?

Brenda menghela nafasnya perlahan, tangan kanannya menyentuh perutnya—yang sebentar lagi akan membesar. Ia menjawab sendiri pertanyaan yang ia ajukan.

Kurasa tidak.

XXX

Sayangnya, tim amefuto Sacramento Lions akan mengadakan special training selama tiga bulan. Taki yang termasuk sebagai pemain cadangan harus mati-matian menunjukkan kemampuan dalam latihan—siapa tahu terpilih jadi pemain inti.

Ia melakukan putaran kesedihan ketika membaca pengumuman tersebut di hall asrama. Sambil berputar pula ia menuju telepon umum untuk menelepon Brenda yang sudah pulang ke rumah setelah dinyatakan sehat oleh dokter.

"Oh nooo, Brendaaa!" teriak Taki di telepon, "kami akan dikarang-karang selama tiga bulan!"

Brenda yang sedang menyajikan makan malam mengernyit. "Dikarang-karang?"

"Iyaa, itu lho, disuruh berlatih dan dibatasi untuk jalan-jalan keluar, kalau bisa harus ada di asrama dan tempat latihan teruuus!" cerocos Taki galau.

"Oom Natsuhiko! Mom memasak pasta lho!" celetuk Justin riang. Brenda mencoba mencerna penjelasan Taki.

"Aku tahu!" Brenda memekik senang seperti baru mendapat lotre, "maksudmu karantina ya?"

"Yaa, karantina! Memangnya aku bilang apa tadi?" Taki balik tanya.

Brenda tertawa lepas. "Kau harus latihan dengan benar, ya!"

"Latihan apa? Oom Natsuhiko latihan apa?" tanya Justin penasaran di sela kunyahan makan malamnya.

"Justin, hati-hati tersedak, sayang," sahut Brenda, "Oom Natsuhiko ada latihan futbol."

"FUTBOL? Kereeen!" sorak Justin, "Mom! Aku ingin bicara dengannya!"

Baru sehari berkenalan, Justin kelihatannya merasa cocok dengan Taki.

"Oom!" panggilnya ketika Brenda sudah menyerahkan telepon itu padanya, "posisi Oom apa?"

"Tight end!" jawab Taki bangga, "kau suka posisi itu, Little Monsieur?"

"Itu posisi yang keren," jawab Justin, "kalau kau sibuk latihan, berarti nggak bisa menemaniku main, ya?"

"Ahaha, sayang sekali, aku tidak bisaa!" jawab Taki sedih, "tapi kalau ini semua sudah selesai, kita akan main sepuasnya!"

"Hore!" Justin bersorak lagi, hampir menggulingkan piring makanannya. Brenda segera mengambil alih telepon itu.

"Natsuhiko, latihan dengan benar ya! Kabari kami kalau sempat," begitu ia berpesan.

"Baik, Brenda! Kau juga jaga kesehatanmu ya!" Taki berpikir agak lama, "supaya adik kecil yang ada di dalam perutmu juga sehat!"

Brenda tersenyum. "Iya. Semoga sukses, Natsuhiko."

"Ahaaaahaa, aku memang orang sukses! Sampaikan salam pada Little Monsieur, daaagh!" Taki mengakhiri telepon itu dengan putaran bahagia.

"Mom, aku suka deh sama Oom Natsuhiko!" seru Justin.

DEG!

Brenda terpaku sejenak. Suka?

"Dia bilang akan mengajakku main kapan-kapan!" sambung bocah lelaki itu.

"Emmm, yeah, habiskan makananmu ya," Brenda mencoba mengakhiri pembicaraan tentang Taki itu. Hatinya mulai resah lagi. Ia teringat mendiang suaminya. Ia teringat Justin—seseorang yang ingin ia bahagiakan. Ia juga teringat Taki, seseorang yang bisa membahagiakan Justin.

Semuanya kini terasa begitu rumit.

XXX

Dua minggu sudah berlalu. Taki tidak memberi kabar apapun. Brenda mencoba mengira-ngira, latihan seperti apa yang ia jalani. Wanita itu pernah menonton futbol sesekali di televisi dan menemukan bagaimana para pemainnya saling menubrukkan diri satu sama lain.

"Kasihan sekali Natsuhiko. Tubuhnya memang tinggi, tapi tidak terlalu besar. Mungkin pelatihnya memberi dia latihan fisik yang keras," gumam Brenda ketika mengambilkan pesanan seorang pelanggan.

"Ini pesanan Anda, terima kasih," ujarnya, menyerahkan satu nampan berisi kentang goreng, burger, dan lemon tea.

Restoran sedang sangat padat karena jam segini adalah jam makan siang. Brenda sudah bilang pada atasannya kalau dia hamil dan tidak bisa terlalu lelah. Untung saja teman-temannya selalu berbaik hati pada Brenda, mereka akan menyuruh Brenda beristirahat kalau ia mulai merasa lelah.

"Crispy chicken-nya dua yaa!" Brenda berseru pada teman-teman di dapur.

"Siaaap!" sahut salah seorang dari mereka. Tak lama kemudian dua potong ayam goreng sudah siap untuk diberikan pada pelanggan.

"Bagaimana, Brenda? Restoran sedang ramai-ramainya, kalau lelah, bilang pada kami, ya?" kata seorang wanita dari bagian dapur.

Brenda tersenyum lebar. "Oke, aku masih kuat kok!"

Satu pesanan selesai. Seorang pria yang mengantri di belakang ibu-ibu tadi maju dan mendekat.

"Selamat datang, mau pesan apa?" tanya Brenda ramah. Pria itu berbadan tinggi dengan rambut pirang gelap. Cirinya hampir sama, tapi sayang itu bukan Taki.

Brenda sedikit kecewa. Ia ingin melihat Taki, sekali saja.

XXX

Miracle Mile

Brooklyn's House

Seorang anak lelaki, seorang ibu, dan sebuah buku matematika.

Seusai makan malam, Justin meminta tolong ibunya untuk membantu mengerjakan PR.

"Mom, soal ini tidak begitu sulit," ujar Justin sambil mengerjakannya sementara Brenda mengecek jawabannya, "tapi aku nggak semangat mengerjakannya…"

Brenda mengernyit. "Kenapa, sayang?"

Justin menaruh pensilnya dan melangkah ke kalender yang menempel di dinding.

"Perhatikan, ini—" ia menunjuk salah satu tanggal setelah membalik halaman kalender itu ke bulan sebelumnya, "—adalah hari waktu Oom Natsuhiko bilang dia akan latihan futbol."

Justin membalik kalender ke bulan ini dan menunjuk tanggalnya. Minggu ketiga di bulan ini. "Dan ini tanggal sekarang. Mom, Oom Natsuhiko sudah hampir dua bulan tidak menelepon lagi. Teleponlah dia Mom,bilang padanya aku ingin main!"

"Jadi itu sebabnya kau tidak bersemangat?" Brenda bertanya. Justin mengangguk dan merangkul ibunya manja.

"Kalau Ibu menelepon, nanti dia terganggu," kata Brenda, mencoba menahan keinginannya sendiri untuk menelepon, "kita harus bersabar, Justin."

Justin merengut.

Brenda tersenyum pada bocah lelaki yang—bisa dibilang seperti kloning dari mendiang suaminya itu karena mereka berdua sangat mirip.

"Natsuhiko sedang semangat untuk latihan saat ini," ujar Brenda lagi, "oleh karena itu, kau juga harus semangat untuk bersekolah. Dia pasti senang, kalau latihannya sudah selesai dan dia datang lagi kemari, kau menunjukkan prestasimu di sekolah."

Justin masih menekuk wajahnya beberapa saat. Brenda membelai rambut pirang itu dengan sayang.

"Oke Mom, aku mengerti," Justin mulai menyunggingkan senyum, "sambil menunggu Oom Natsuhiko mengabari kita, aku akan belajar dan mendapat nilai terbaik di kelas!"

"Bagus sekali," puji Brenda.

Wanita itu menghela nafas perlahan. Ia rindu, rindu sekali pada Steve. Tapi sekarang ada pria lain yang ia rindukan.

Bolehkah ia memelihara perasaan itu?

XXX

Sacramento Mountain Lions Training Field

Taki ambruk ke rerumputan hijau lapangan itu. Pemain yang lain terus berlari. Suasana hati Taki sangat muram. Alasannya siapa lagi kalau bukan….

"Ahahaaa, aku ingin menelepon Brendaaaa," keluhnya, masih tersungkur di rumput, "aku ingin mendengar suaranyaaa, aku ingin melihat wajahnyaaaa…"

"Natsuhiko Taki! Bangun!" Coach Bryan meneriaki Taki.

"Pelatih, jogging di malam hari itu ngantuk, tahu!" protes Taki dengan wajah kusut.

"Aku sudah memberimu waktu tidur siang tadi. Cepat lanjutkan larimu!" sentak Coach.

Taki akhirnya lanjut berlari. "Dia seperti pelatihnya Ojo," cibir Taki pelan.

"Ahahaa, bagaimanapun juga aku rinduuuu," ujarnya sambil berlari.

"Siapa? Cewekmu ya?" seorang rekan satu tim Taki yang berlari di belakangnya bertanya.

"Ahaaa, bukan!" jawab Taki senang karena ada yang menanyakan, "mungkin belum. Sudah minggu kedua di bulan ketiga latihan kita, aku tidak meneleponnya sama sekali!"

"Jelas saja, 'Grandpa Bryan' akan memarahimu kalau sampai berani melakukan kontak dengan dunia luar. Eh, ngomong-ngomong," pria berambut cokelat itu teringat sesuatu, "Natsuhiko, kau jadi jago berhitung begitu!"

"Ahaaahaa, karena aku jeniuuuuus!" jawab Taki nyombong, sejenak melupakan Brenda karena dipuji jago berhitung.

XXX

Last day of Taki's football training

Los Angeles Unified School District

Justin keluar dari kelasnya sambil berkata pada temannya, "Besok jangan lupa nonton Ben 10 ya!"

"Justin!"

Justin menoleh ke asal suara. Seorang guru menghampirinya dengan agak tergesa.

"Miss Hale, ada apa?" tanya Justin heran.

"Ibumu menelepon ke sekolah kalau ia akan terlambat menjemputmu," kata Ms. Hale, "kau disuruh menunggu sebentar.

Justin mengangguk. "Baiklah!"

"Justin, kau hanya diperbolehkan menunggu di area sekolah saja, jangan sampai keluar, oke? Mr. Lothario akan mengawasimu," ujar Ms. Hale, khawatir Justin akan keluar sendiri dari sekolah lalu, kemungkinan terburuk, diculik.

"Tenang saja Ms. Hale, aku akan menunggu di sekitar sini. Ah," Justin menemukan sederet tempat duduk di halaman sekolah, "aku akan duduk di situ."

"Baiklah," Ms. Hale mengangguk dan memberi isyarat pada petugas keamanan sekolah, Mr. Lothario.

Setelah duduk beberapa menit, Justin mulai merasa bosan.

"Uh, saat bosan begini, pasti asik kalau ada…"

"Ahahaaaa!"

Justin melongo sesaat. Ia lalu menegakkan kepalanya, melihat seorang pria yang terlihat seperti gasing di pagar sekolahnya.

"NATSUHIKOOO!" teriaknya tanpa embel-embel 'Oom'. Ia meloncat dari tempat duduknya dan melesat menuju Taki.

"Maaf, Tuan ini siapa?" tanya Mr. Lothario heran.

"Aku ke sini menjemput Justiiiin," jawab Taki, masih berputar.

"Natsuhiko!" Justin sampai dan menerjang Taki. BRUK! Keduanya jatuh ke tanah.

"Hei, hati-hati!" tegur Mr. Lothario.

"Aduuh," Taki yang 'ditiban' oleh Justin beranjak bangun. Justin menatapnya dengan sangat senang. Ia duduk di atas pangkuan Taki.

"Maaf, Oom! Sakit, ya?" tanya Justin, sedikit merasa bersalah.

Taki mengedipkan sebelah mata. "Ahahaaa, jatuh seperti ini saja tidak akan membuatku kesakitan!"

"Justin, siapa orang itu? Pamanmu?" tanya Mr. Lothario, "dia tadi bilang kalau ingin menjemputmu."

Justin menoleh ke Mr. Lothario dan mengangguk, "Iya! Dia pamanku!" jawabnya asal.

Mr. Lothario tersenyum. Syukurlah, bukan orang asing yang berbahaya, batinnya berkata.

"Aku datang menjemput!" kata Taki, masih duduk di tanah dan memangku Justin.

Justin tersenyum lebar, lalu memeluk Taki dengan bahagia. "Aku senang kau datang! Aku kangen Oom Natsuhiko!"

"Aah, saudara yang sudah lama tak bertemu, ya?" celetuk Mr. Lothario—tertipu.

Taki sedikit terkejut pada awalnya. Justin terlihat begitu senang saat bertemu dengannya, sampai-sampai ia dipeluk seperti ini. Tapi ia senang dan tertawa sambil mengacak-acak rambut Justin.

Justin melepas pelukannya. Ia bangkit dan berdiri sambil merapikan rambutnya.

"Ayo kita ke tempat Mom!" ajaknya, "Mom bilang dia akan terlambat menjemputku. Sekarang pasti dia masih ada di tempat kerjanya!"

Taki mengacungkan ibu jarinya dengan semangat. "Ahahaa! Ayo, aku sudah lama tidak bertemu Brenda!"

Justin menggandeng Taki dan melambaikan tangan pada Mr. Lothario. Mereka berjalan kaki menuju restoran tempat Brenda bekerja.

"Mom pasti juga kangen padamu," ujar Justin, membuat Taki tersenyum percaya diri.

XXX

Brenda Brooklyn keluar dari restorannya setelah berpamitan pada rekan-rekannya. Hari ini hari terakhir Taki latihan, ia ingat itu. Rasanya sudah tak sabar untuk meneleponnya lalu mengajaknya makan di rumah nanti malam. Tak sabar untuk melihat tingkah konyolnya dan tertawa sampai keluar air mata.

"Uh, aku harus cepat. Justin pasti sedang menunggu," gumamnya, mempercepat langkah.

Tetapi, baru setengah perjalanan menuju sekolah Justin, Brenda berhenti melangkah. Ia sepertinya mengenali seorang pria dengan vest cokelat yang bergandengan dengan seorang bocah lelaki dengan jaket bergambar bola futbol. Keduanya nyengir ketika melihat Brenda. Mulut mereka belepotan saus—sepertinya habis makan hot dog.

Brenda meneruskan lagi langkahnya. Itu Justin. Juga Natsuhiko Taki. Semakin cepat langkahnya dan senyumnya mengembang. Mereka berdua terlihat dengan jelas sekarang.

"Mooom!" Justin melambaikan tangan, "Oom Natsuhiko menjemputkuu!"

Sedikit tersengal, Brenda tersenyum pada Justin dan berhenti di depan Taki.

"Ahaha, halo, Mademoi—"

"Long time no see!" ucap Brenda dengan nada haru dan serta-merta memeluk Taki.

Taki mematung. Ia sangat senang ketika Justin memeluknya. Tapi dipeluk Brenda—rasanya sangat lain. Ia merasa sangat gugup.

Ini kali pertama seorang wanita selain ibunya memeluk dia seperti ini. Taki tak bisa menahan semu merah di pipinya.

Justin hanya melihat adegan itu sambil tertawa kecil. "Ahem!" ia berdehem, mengagetkan ibunya.

Brenda sontak melepas pelukannya dan terlihat malu. Taki masih membeku di tempatnya.

"Err, halo, Natsuhiko," sapa Brenda kikuk.

Justin memanggil Taki yang tak bereaksi, "Hei! Oom kenapa diam sajaaa?"

Taki tersadar. Ia nyengir lebar dan menjawab, "Halo juga Brenda, a-ha-haaa!"

Brenda tertawa kecil. Ia menggandeng Justin dan berkata, "Ayo kita pulang. Kau juga, Natsuhiko, aku akan masakkan sesuatu yang special!"

"Yeaaah!" sorak Justin riang. Taki sangat salah tingkah sampai-sampai tidak bisa berputar-putar. Ia berjalan di sebelah Justin dengan wajah sumringah.

Setelah beberapa langkah, Brenda teringat sesuatu. Ia mengeluarkan dua lembar tisu dari dalam tasnya dan memberikannya pada Justin dan Taki.

"Mulut kalian belepotan saus. Ayo dibersihkan," katanya. Justin dan Taki nyengir garing.

XXX

Sepiring Lobster Thermidor terhidang di meja dengan kepulan asap pertanda baru saja selesai dimasak. Justin sampai melotot melihatnya. Masakan yang cukup mewah dan istimewa.

"Spesial untuk Natsuhiko yang sudah menyelesaikan latihannya," kata Brenda, mempersembahkan masakannya dengan bangga.

"Kelihatannya enaaak," Taki memasang ekspresi sama dengan Justin. "Ahahaa! Terima kasih Brendaa!"

"Ayoo silakan dimakan!" Brenda ikut duduk di meja makan yang mungil itu.

"Itadakimasu!" ucap Taki spontan.

"I… tada… apa itu?" tanya Justin.

"Itadakimasu! Artinya: mari makan!" jelas Taki.

"Ooh, bahasa Jepang, ya?" Justin mengambil garpunya dan mengikuti, "Itadakimaaasu!"

"Ahahaa, pintar sekali, Little Monsieur!" puji Taki, lalu melirik Brenda, "kau tidak mau mencoba mengatakannya?"

"Oke, akan kucoba," angguk Brenda, "Ita-da-ki… masu!"

"Mom, kenapa terbata-bata begitu? Hahaha!" ledek Justin.

"Ahaha, usaha yang bagus, Brenda!" kata Taki. Brenda hanya menertawakan dirinya dan ikut makan bersama mereka.

"Lobster Thermidor itu bukannya makan malam ya?" celetuk Justin.

"Tadinya memang mau disajikan nanti malam, tapi Natsuhiko sudah datang duluan," jawab Brenda.

"Tidak masalah, siang atau malam, masakan Brenda 120% enak!" Taki memuji di sela kunyahannya.

Setelah itu mereka mendengarkan cerita Taki ketika menjalani latihan. Suasana sangat ramai akibat kehebohan Taki. Brenda dan Justin tak henti-hentinya tertawa.

XXX

Brenda mematikan keran. Suara kucuran air terganti dengan suara tawa Justin dari kejauhan. Meja makan sudah rapi. Piring-piring sudah selesai dicuci. Brenda mengelap tangannya hingga kering dan beranjak ke halaman.

"Nice catch!" pekik Justin ketika Taki menangkap bola futbol yang dilemparnya.

"Wah wah, senangnya yang main lempar-tangkap," kata Brenda ketika menghampiri anak lelakinya itu.

"Ahaha, main American football memang menyenangkan!" sahut Taki.

"Hari sudah sore, kau belum mengerjakan PR-mu, Justin," kata Brenda.

"Yaaah, aku masih ingin main," keluh Justin ketika Brenda mengambil bola dari Taki.

"Little Monsieur, PR itu harus dikerjakan!" kata Taki, teringat ketika ia ketiduran dan tidak mengerjakan PR-nya, lalu mendapat Hantaman Inline Skate Spesial oleh Suzuna.

"Baiklah. Tapi, kapan-kapan kita main lagi, ya!" pinta Justin, "aku juga ingin melihat pertandingan amefuto bersamamu! Terus ke taman bermain!"

"Ahaha, tentu saja!" jawab Taki, "terima kasih untuk monsternya ya! Enak!"

"Lobster, Natsuhiko, bukan monster," ralat Brenda, "terima kasih karena sudah mampir dan menemani Justin bermain, ya!"

"Ahaha, baiklah, sampai jumpa Justin!" Taki melambaikan tangannya.

"See you!" sahut Justin.

Taki tersenyum pada Brenda. "Sampai jumpa, Brenda."

Brenda baru saja akan menjawab ketika Taki membungkukkan badannya hingga kepalanya sejajar dengan perut Brenda.

"Sampai jumpa lagi, Little Baby!"

Brenda terpekur. Taki tersenyum ceria lalu melambaikan tangan dan pergi dari sana dengan sangat senang. Lihat saja, ia tidak berjalan melainkan berputar-putar.

"Daaadaaaah!" teriak Justin mengiringi kepergian Taki.

Setelah berhasil mengatasi gejolak aneh di dadanya, Brenda akhirnya sanggup berkata. "Hati-hati, Natsuhiko!"

Ia mengelus perutnya yang mulai membuncit. Aneh, aneh sekali rasanya ketika Taki mengucapkan salam pada calon bayi dalam kandungannya itu. Senang, kaget, dan rasa hangat bercampur jadi satu. Brenda tak menyangka Taki akan berpikir sampai ke situ.

"Aku mau mandi dulu, baru mengerjakan PR," ucap Justin sambil berjalan santai ke dalam rumah. Brenda mengikutinya, memegang bola futbol yang dibawanya dengan kedua tangan. Masih terbayang kejadian yang tadi.

"Mom," Justin yang mengalungkan handuk warna biru di lehernya tersenyum simpul ketika Brenda menoleh, "sudah lama kita nggak makan bareng Dad."

Masih merasa kaget akibat ulah Taki tadi, sekarang Brenda sudah dikejutkan lagi dengan pernyataan Justin barusan.

"Sudah lama juga, nggak main sama Dad di halaman," lanjutnya, masih dengan senyum yang sama—senyum yang sangat tabah. "Waktu makan dan main sama Oom Natsuhiko, rasanya—"

"Justin, cepat mandi, sayang," potong Brenda sambil menggiring Justin ke kamar mandi.

"Lho, Mom?" panggil Justin heran ketika Brenda langsung menutup pintu kamar mandi itu dari luar.

Rasanya seperti bersama Dad.

Kalimat itu—Brenda yakin kalimat itu adalah akhir dari perkataan Justin. Kalimat yang membuat hatinya takut dan gelisah. Takut kalau Justin akan menginginkan pria lain untuk menggantikan sosok ayahnya.

Brenda menggelengkan kepalanya. Tidak. Hatinya tetap milik Steve apapun yang terjadi, begitulah tekadnya.

"Aku masih mencintainya," gumamnya, ketika gejolak emosinya mulai memancing air matanya keluar. Ketika kedua mata kelabunya menangkap sosok pria berambut pirang dan bermata biru tua sedang tersenyum di salah satu foto keluarga yang terpajang di dinding.

"Aku masih mencintainya," isak Brenda.

[bersambung…]


Yoho!

Begitulah, sampai di sini dulu pertemuan kita*?*

Terima kasih banyak sudah membaca dan mohon maaf kalau ada kesalahan, ya! Jangan lupa review! Review kalian adalah penyemangatku ;D

Sampai jumpa, sehat selalu ya!