Tittle : What The Fuck?.

Rate : T.

Genre : Romance, Hurt/Comfort.

Pairing : TaeMin.

Cast : Woo Taewoon, Woo Jiho (Zico Block B), Choi Sungmin.

Author : Skinner Woo.

Disclaimer : Core Contents Media Ent, 7 Seasons Ent.

Warning : BL, Yaoi, AU, OOC, Miss Typo(s), DLDR, No Flamers, RnRjusaeyoo, Support SPEED FFjusaeyooo!

Chapter 2 : The Bodyguard.

" Ya! Idol! Palliwah!." Kata Taewoon yang melihat Sungmin berjalan kearahnya dengan tertatih. Taewoon gelisah jika mereka tertangkap oleh reporter.

BRUUGK!

Tiba-tiba Sungmin terjatuh. Membuat Taewoon terkejut. Sungmin menatap Taewoon dengan pandangan menyorotkan rasa bersalah pada Taewoon. " Aku… tidak bisa…" kata Sungmin pelan

Taewoon dengan segera berlari menghampiri Sungmin, dan segera menggendong Sungmin.

" Sekki… kau benar-benar menyusahkan!." Gerutu Taewoon.

Sungmin hanya bisa menahan sakitnya. " Maafkan aku…" kata Sungmin pelan.

" Berhenti bicara! Jangan pasang wajah seperti itu! Jika aku ibumu akan kusuruh kau berhenti menjadi Idol. Memangnya reporter itu tidak punya kasihan apa? Menganggu kehidupan orang saja!." Marah Taewoon. Tidak hanya pada Sungmin, tapi pada semuanya, pada keadaan, dan pada apapun yang ia hadapi sekarang.

Taewoon segera masuk ke dalam lift dengan cepat, detik berikutnya para reporter sudah sampai di lantai 4, dan mereka berbondong-bongong mencari kamar rawat Sungmin.

" Jika mereka mendapati kita tidak ada disana, mereka pasti akan segera mencari kita." Kata Sungmin.

" Aku tau!." Sahut Taewoon yang tidak sabar menunggu turunnya lift. Tak seberapa lama, merekapun sampai dilantai parkiran. Taewoon dengan terengah mencari mobil milik si manager sambil masih menggendong Sungmin.

" Itu disana!." Kata Sungmin sambil menunjuk mobil milik si manager. Taewoon segera berjalan secepat mungkin kearah mobil itu. " Kuncinya sudah disiapkan didalam." Kata Sungmin.

Taewoon segera menaruh Sungmin di seat belakang, dan dia segera masuk ke mobil dan mengemudikan mobil keluar dari parkiran.

" Kemudikan dengan pelan." Kata Sungmin, " Jangan sampai ketahuan kita kabur." Lanjut Sungmin. Taewoon sedikit risih, karena selama ini dia tidak pernah yang namanya disuruh-suruh atau menuruti apa yang orang lain mau.

Setelah itu Sungmin memberitahu pada Taewoon letak dorm-nya. Dia benar-benar tidak tau harus melakukan apalagi, baru pertamakali ini dia mendapat masalah besar. Dan hanya Taewoon seorang yang ada bersamanya. Sungmin sangat takut jika ada sesuatu yang terjadi pada mereka berdua.

Tak lama setelah itu, ponsel Sungmin kembali berdering, telfon dari manager lagi.

" Haish… dia benar-benar berisik…" kata Taewoon sambil melempar ponsel pada Sungmin.

Sungmin dengan segera menjawab panggilan itu. " Hyung?."

[[ Sungmin-ah! Sepertinya aku tidak bisa bersamamu di dorm untuk beberapa hari kedepan.]] kata manager.

" Wae? Lalu bagaimana denganku hyung?." Tanya Sungmin.

[[ Aku harus mengurus banyak hal dengan media, juga mempersiapkan wawancara official tentangmu. Kau harus terus bersama Taewoon.]]

" Tapi hyung—"

[[ Berikan ponselnya pada Taewoon. Palli.]]

" Manager hyung ingin bicara denganmu lagi." Kata Sungmin sambil memberikan ponselnya pada Taewoon.

Taewoon menerima ponsel itu dengan tatapan tidak enak pada Sungmin. " Mwo!." Sambar Taewoon pada si manager.

[[ Aku ingin kau menjadi bodyguard Sungmin hingga masalah ini selesai.]] kata si manager.

" Mwoya! Shireo!." Seru Taewoon.

[[ Hanya ini yang bisa kau lakukan, kumohon bantulah Sungmin dan bantu dirimu sendiri.]]

" Memangnya kau tidak bisa menyewa orang lain untuk melakukan pekerjaan itu?." Tanya Taewoon.

[[ Tidak bisa. Untuk saat ini aku tidak bisa mempercayai siapapun, atau merekrut orang baru untuk menjaga Sungmin. Selain itu Sungmin tidak suka dijaga banyak orang, dia tidak pernah mau dimanja.]] kata si manager.

Taewoon melihat Sungmin dari kaca spion mobil sambil menghela nafas panjang. " Menjadi bodyguard-nya? Oh ayolah! Aku tidak mau melakukannya! Itu pemborosan waktu pada masa mudaku! Idol lemah sepertinya sangat merepotkan!." Kata Taewoon.

[[ Mau tidak mau kau harus menerima hal ini. Jika kau sudah selesai dengan masalah ini, aku akan mengabulkan apapun keinginanmu.]] kata si manager. Hanya hal ini yang manager itu lakukan demi melindungi artis yang menjadi aset paling mahal entertainmentnya.

" Ck! Aku tidak berpengalaman dalam hal seperti itu!." Kata Taewoon.

[[ Aku akan mengajarimu, akan kuberitau apapun tentang menjadi bodyguard yang baik.]] kata si manager.

Taewoon tidak lagi memiliki alasan untuk menolak lagi. " Haish! Terserahlah!." Kesal Taewoon sambil melempar ponsel itu pada Sungmin lagi.

Sungmin melanjutkan pembicaraan sebentar dengan managernya dan setelah itu memutus sambungan telepon.

" Manager hyung ingin tau nomor ponselmu, jadi dia bisa menghubungimu, begitu katanya." Kata Sungmin.

" Shireo. Dia pasti akan menggangguku nanti."

" Tapi ini penting." Sahut Sungmin.

" Ck! Arasseo. Akan kukirim pesan padanya. Beritau aku nomornya." Kata Taewoon.

Sungmin segera memberikan nomor si manager pada Taewoon, dan Taewoon segera mengirim pesan berisi kata kotor untuk mengolok si manager dengan ponselnya.

" Apa manager hyung menyuruhmu untuk menjadi bo—"

" Nde! Itu sangat menyebalkan, kau tau!." Potong Taewoon.

" Jika kau tidak mau aku tidak memaksa—"

" Kau pikir aku mau melakukannya?! Seolah aku dibiarkan memilih saja! Ini semua salahmu!." Tuduh Taewoon.

" Aku juga tidak menghendaki hal ini terjadi, aku—"

" Tapi semua ini sudah terjadi kan? Ck! Hidupku jadi terasa terkurung, harusnya aku tidak menolongmu waktu itu!." Marah Taewoon.

Sungmin terlihat sedikit tidak suka dengan kata-kata Taewoon, selain itu Taewoon sedari tadi memotong kalimatnya, membuat Sungmin lama-lama menjadi jengkel. " Kau terlalu egois—"

" Aku? Kenapa bisa aku egois? Kau tidak tau seberapa aku menahan untuk terus bersamamu, dan dicerca masyarakat?." Potong Taewoon.

Saat itu mereka sudah sampai di dorm milik Sungmin, dan sedang menuju parkiran.

" Kau pikir hanya kau saja yang merasa berat?." Sahut Sungmin yang nadanya mulai meninggi.

" Kau Idol! Meskipun kau salah, fans-fans bodoh itu tetap saja membelamu! Apa yang berat? Semua orang memanjakanmu, tak ada seorangpun yang mencercamu!." Kata Taewoon.

Sungmin terdiam saat itu, dia amat marah pada Taewoon yang terus menyalahkannya.

" Aku bersyukur kau menolongku waktu itu memang, tapi aku tidak tau jika ternyata kau jauh dari perkiraanku. Kau orang paling egois yang pernah kutemui—"

" Kau yang egois! Memangnya apa yang bisa dilakukan Idol sepertimu tanpa perlindungan orang lain hah?!." Sambar Taewoon.

" Berhenti memanggilku Idol! Kau tidak tau seberapa banyak masalah dalam hidupku?!."

" Aku tidak ingin tau memang, jadi berhenti terlihat kau yang merasa semua ini berat." Kata Taewoon yang masih saja tidak mau kalah.

Sungmin memandang Taewoon tidak percaya, dia sudah amat marah pada Taewoon. " Geurae… salahkan semua padaku. Jika kau merasa aku yang membuat masalah di hidupmu, aku tidak memaksamu menjadi bodyguardku. Selain itu kau menyesalkan menolongku waktu itu? Lakukan semua yang kau inginkan sesuka hati. Aku tidak akan meminta apapun padamu. Akan kulakukan wawancara itu hari ini." Kata Sungmin dengan nada datarnya yang terdengar sangat marah. Dia membuka pintu mobil dan berjalan keluar dengan kesusahan. Mencoba sebisa mungkin berjalan sampai ke dorm-nya.

Taewoon melihat Sungmin dengan pandangan terkejut sekaligus bingung, dia tidak tau harus melakukan apa saat melihat Sungmin berjalan pergi dengan susah payah.

Sungmin mengeluarkan ponselnya dari saku, dan mencari nomor managernya dan segera menelfon si manager.

" Hyung?."

[[ Wae? Wae? Aku tidak bisa mendengar suaramu Sungmin-ah!.]] seru si manager.

" Ya! hyung! Bisakah kau kabari para reporter untuk wawancara hari in— uwaah!." Pekik Sungmin ketika tiba-tiba Taewoon merebut ponsel itu dan menggendong Sungmin.

" Ck! Cerewet! Kenapa kau langsung ngambek seperti itu sih?." Kata Taewoon.

" Ya! turunkan aku!." Seru Sungmin.

Taewoon masih diam tanpa memperdulikan Sungmin. " Ya! kubilang turunkan aku! Aku masih marah padamu!." Seru Sungmin.

" Jika kau banyak bergerak kau bisa jatuh! Kau ingin mematahkan lenganmu lagi?." Kesal Taewoon. Sungminpun terdiam sambil membuang muka dengan kesal.

Taewoon sampai di depan lift dan terdiam karena kedua tangannya masih menggendong Sungmin. " Tolong pencetkan tombolnya." Kata Taewoon yang melihat Sungmin diam saja. Dengan wajah yang masih kesal Sungmin segera menekan tombol lift. Tak seberapa lama lift terbuka dan mereka masuk. Sungmin menekan tombol untuk menuju lantai 6.

" Kau bisa turunkan aku sementara di lift." Kata Sungmin.

Taewoon tertawa kecil. " Kau bilang seperti itu seolah-olah kau ingin digendong lagi ketika lift terbuka." Kata Taewoon yang sukses makin membuat Sungmin kesal karena digoda.

BUKK!

Sungmin memukul lengan Taewoon dengan keras dengan tangan kanannya, dan itu sukses membuatnya merasakan rasa nyeri akibat memar yang ada di badannya.

" Aishh.. appo…" rintihnya. Dan itu membuat Taewoon terlihat panik mengkhawatirkan Sungmin.

" Ya… hati-hatilah." Kata Taewoon, tapi tak dipedulikan oleh Sungmin.

Setelah mereka sampai Taewoon kembali menggendong Sungmin hingga masuk ke dorm. Taewoon tidak menurunkan Sungmin ketika sampai, dia tidak membiarkan Sungmin berjalan sampai mereka berada di kamar, dengan perlahan Taewoon menurunkan Sungmin di tempat tidur.

" Istirahatlah." Kata Taewoon, lalu berjalan keluar kamar.

" Aaaaah… Neomu baegopaaaaa…" kata Taewoon sambil mengelus perutnya. Dia berjalan ke dapur dan memakan apapun yang ia temukan disana. Dia kembali ke ruang tengah dan menyalakan TV untuk nonton pertandingan baseball. Baru beberapa menit matanya terasa berat dan lelah hingga akhirnya dia tertidur masih sambil memegang remote TV.

Taewoon dibangunkan oleh suara dering ponselnya, dengan sedikit tergopoh dan mengantuk dia mengeluarkan ponselnya dari saku. " Hallo?." Kata Taewoon dengan suara khas orang baru bangun tidur. " Ya! jangan coba-coba mengusilliku! Nuguyaaa?." Tanya Taewoon kesal saat tak mendengar suara penelepon.

" Ya! sekki!." Seru Taewoon lagi. Dia melihat layar ponselnya dengan kesal. " Mwo? Bukan telepon? Pesan dari manager itu?." Kata Taewoon sedikit merutuki kenapa dia bisa salah sampai mengira itu panggilan telfon.

Dia melihat isi pesan dari si manager itu yang berisi ;

CARA MENJADI BODYGUARD YANG BAIK

Selalu berada dalam jarak 1 meter dari Sungmin.

Bertindak cepat dan tanggap pada sekitar.

Tidak pernah meninggalkan Sungmin pergi sendirian.

Membukakan pintu mobil sebelum Sungmin masuk mobil.

Tidak memperbolehkan orang mencurigakan mendekati Sungmin.

Tidak boleh lengah ketika melewati para fans.

Menjaga Sungmin agar tetap dalam kondisi yang baik dimanapun dan kapanpun.

Menuruti apa kata Sungmin.

Tidak mengacaukan keadaan ketika Sungmin berada di depan media.

Mengemudikan mobil dengan nyaman.

Tidak boleh membuat keputusan sepihak pada Sungmin.

Jangan membiarkan Sungmin kelelahan.

Tidak boleh melakukan hal jahat pada Sungmin.

Bersikap seperti bodyguard saat menjaga Sungmin diluar.

Professional dalam melakukan pekerjaan.

Hafal nomor pribadi Sungmin.

Tidak pernah mengacaukan jadwal Sungmin.

Disiplin.

Manajemen waktu, manajemen hati, manajemen keadaan.

Bicara sedikit saja pada Sungmin ketika berada di depan media.

TAMBAHAN

Jagalah kesehatan Sungmin.

Pastikan dia makan dengan baik.

Jangan biarkan dia kurang istirahat ataupun tidur terlalu larut.

Dia harus minum obat.

Panggil dokter segera jika Sungmin mulai tidak enak badan.

Jangan sampai dia jatuh sakit ketika dia belum pulih.

Jangan sampai media menangkap Sungmin atau melihat Sungmin.

Kau tidak boleh mengeluh dan harus menurut.

Sungmin harus makan makanan yang sehat.

Jika kau tidak bisa memasak, maka belilah makanan sehat diluar.

Jaga Sungmin baik-baik.

Jangan kecewakan Sungmin.

NAMBAH TERAKHIR

SUNGMIN HARUS BAIK-BAIK SAJA SAMPAI WAWANCARA DIGELAR

JANGAN BUAT ONAR, JANGAN BUAT KESALAHAN, JANGAN CEROBOH

SEMUA TERGANTUNG PADAMU DAN SUNGMIN

PASTIKAN SEMUA RENCANA BERJALAN LANCAR

MAKA KAU, SUNGMIN, AKU DAN SEMUA TIDAK ADA YANG MERASA DIKECEWAKAN.

BENAR-BENAR TERAKHIR

INGAT SEMUA PESAN INI DENGAN BAIK! HAFALKAN DILUAR KEPALA!

Taewoon hanya bisa melongo membaca pesan dari si manager yang begitu panjang, menyesakkan, dan menyebalkan dengan tata bahasa yang menuntut dengan halus.

" Aku terlihat seperti anjing jika aku melakukan semua itu…" kata Taewoon. " Tidak sekalian saja aku harus memandikannya, dan mengganti popoknya, ataupun menyuapinya saat makan? Biar lengkap aku seperti pesuruh!." Lanjut Taewoon kesal.

Dia kembali mengantongi ponselnya lalu terdiam, karena tidak tau harus melakukan apa. Dilihatnya jam dinding. Sudah pukul 8 malam. Tiba-tiba dia teringat Sungmin.

" Idol lemah itu sudah makan atau belum ya?." gumam Taewoon sambil bangkit dari sofa, tapi detik berikutnya dia kembali duduk. " Aniya… itu bukan gayaku jika aku mengkhawatirkan apa dia sudah makan atau belum… lagipula dia pasti masih marah padaku, dan tidak mau diperhatikan olehku…" kata Taewoon sambil kembali duduk di sofa.

" Tapi, manager menyebalkan itu bilang aku harus menjaganya…" kata Taewoon lagi sambil bangkit dari sofa.

Setelah mengalami peperangan batin dengan dirinya sendiri, akhirnya Taewoon memutuskan untuk melihat keadaan Sungmin di kamar.

Taewoon mengintip sedikit dari pintu, melihat situasi terlebih dahulu sebelum dia masuk. " Dia belum bangun?." Gumam Taewoon pelan. " Wajahnya kenapa pucat begitu?." Lanjut Taewoon lagi, kali ini sedikit khawatir. " Jangan-jangan Idol lemah itu mati? Bisa gawat jika dia mati terlebih dahulu sebelum wawancara. Hidupku akan seperti buronan…" kata Taewoon.

Dia langsung saja masuk ke kamar Sungmin. Dia melihat badan Sungmin sudah sangat berkeringat dan panas. " Hey… Idol… kau baik-baik saja kan?." Tanya Taewoon pelan sambil menoel-noel tangan Sungmin, tapi tak ada reaksi.

" Ya! Idol! Ireona!." Kata Taewoon panik sambil menepuk pelan pipi Sungmin beberapakali.

" Idol! Hey! Idol! Jangan mati!." Kata Taewoon. Yang mencoba menggoyangkan tubuh Sungmin.

Perlahan Sungmin mengerang dan membuka matanya meski terlihat sulit. " … neomu appahajimaa…" kata Sungmin yang kesakitan akibat perbuatan Taewoon.

Taewoon menghentikan apa yang ia lakukan tadi, setidaknya dia bersyukur Sungmin tidak mati. " Idol, apa yang terjadi padamu? Kau bisa dengar aku kan?." Tanya Taewoon.

Sungmin terlihat menahan sakit. " … nde… aku dengar, berhenti berteriak…" kata Sungmin pelan. Kepalanya sangat pening seperti diputar-putar oleh roller coaster, dia benar-benar tidak tahan.

" Kau ingin makan? Katakan padaku apa yang kau mau?." Tanya Taewoon.

Sungmin terlihat sangat terganggu pada Taewoon yang tidak tanggap. " Tolong… ambilkan kotak obat… ambilkan obat demam…" kata Sungmin mencoba sekuat mungkin untuk bicara dan membuka mata meski kepalanya sangat berat dan tubuhnya sangat sakit.

Taewoon langsung mencari kotak obat di ruangan itu. Dan tak lama kemudian dia menemukannya dan membawanya ke dekat Sungmin. " Obatnya yang mana? Aku tidak tau nama dan fungsi obat ini…" kata Taewoon bingung sambil mengeluarkan semua obat yang ada disana.

Sungmin terdiam mencoba menarik nafas dengan benar, dia ingat Taewoon payah dalam hal seperti ini. Dia berharap managernya ada disini. " … obat yang kotaknya warna merah…" kata Sungmin.

" Yang ini?." Tanya Taewoon yang dibalas anggukan oleh Sungmin. Taewoon segera mengambilkan air putih dan membantu Sungmin untuk meminum obat.

" Idol, apa kau merasa baikan?." Tanya Taewoon.

" Shikkeureo…" kata Sungmin pelan, tidak kuat lagi untuk menyahuti semua kepanikan Taewoon.

Taewoon duduk di dekat Sungmin seperti seekor anjing menunggu majikannya dengan sabar. " Idol-ssi… jangan mati nee?." Kata Taewoon kikuk.

Sungmin menghela nafas panjang. " … aku hanya demam… geumanhera…" kata Sungmin lemah.

Taewoon mengangguk kecil. " Kau terlihat seperti mau mati. Pokoknya jangan mati." Kata Taewoon. Sungmin kembali memejamkan matanya untuk tidur. Taewoon terus menunggui Sungmin hingga dia sendiri kembali tertidur.

Saat Taewoon terbangun, dia mendapati Sungmin menggigil, dan semakin berkeringat. " Ya! Idol! Panasmu semakin tinggi!." Kata Taewoon panik.

" … dingin…" gumam Sungmin serak.

" Minumlah obat lagi, atau kupanggil dokter?." Tanya Taewoon bingung.

" Ani… jangan panggil… dokter…" kata Sungmin.

Taewoon semakin bingung. " Lalu bagaimana? Obatnya tidak membuatmu lebih baik!." Seru Taewoon.

" Shireo!." Kata Sungmin sedikit lebih keras.

" Jika tanpa dokter kau akan baik-baik saja, lalu apa yang akan kau lakukan sekarang? Terus berbaring berharap kau bisa sembuh dengan sendirinya?." Tanya Taewoon kesal.

" … panggilkan manager hyung…" kata Sungmin.

Taewoon mendesah kesal. " Dia tidak bisa datang." Kata Taewoon.

Sungmin sedikit kesal pada Taewoon saat ini. " Aku akan menunggu sampai dia datang kalau begitu…" kata Sungmin keras kepala. Taewoon tentu saja semakin tidak sabar menghadapi Sungmin.

Taewoon dengan menahan marah keluar dari kamar Sungmin dan berfikir keras, butuhkah dia memanggil dokter sekarang? Atau membiarkan si Idol disana seperti kemauannya tadi? Atau dia memaksa si manager untuk datang?.

" Haish… aku tidak tau cara melakukan pertolongan pada orang sakit. Aku harus berfikir dengan baik! Mana yang harus kupilih?." Gerutu Taewoon bingung.

Taewoon terdiam sambil mengambil nafas panjang. " Baiklah, aku akan memilih sesuai intuisiku." Kata Taewoon sambil merasakan apa yang sedang intuisinya bisikkan.

" Panggil dokter saja!." Katanya memutuskan. " Biarlah meski si Idol itu menolak. Sudah tau kondisinya buruk dan sekarat begitu. Jika dia mati bagaimana?." Gerutunya sambil membuka ponsel dan menghubungi rumah sakit untuk memanggil dokter.

Setelah itu dia menunggu di ruang tamu, perasaannya masih panik dan bingung, dia melirik jam dinding berkali-kali, sudah pukul 3 pagi. Dia semakin tidak sabar menanti kedatangan si sokter. Karena dia juga belum mengecek keadaan Sungmin setelah dia meninggalkannya tadi.

Sekitar 15 menit kemudian akhirnya dokter itu datang, Taewoon dengan segera menyuruh dokter itu masuk dan memeriksa Sungmin. Saat dia melihat Sungmin, dia sudah tidak lagi sadar, mungkin dia sudah jatuh tertidur. Taewoon hanya berdiri agak jauh agar si dokter bisa melakukan pekerjaannya dengan baik.

Taewoon beberapakali membantu sang dokter untuk memasang alat infuse untuk Sungmin. Setelah semua sudah selesai Taewoon mempersilahkan dokter itu untuk bersitirahat sebentar di ruang tamu, beberakali dokter juga menanyakan tentang keadaan Sungmin sebelum demam pada Taewoon.

Saat Taewoon kembali ke kamar, dia melihat Sungmin perlahan-lahan bangun. Sungmin sedikit bingung dengan infuse yang dipasangkan padanya. Lalu dia segera melihat kearah Taewoon dengan pandangan kesal. Taewoon mengerti arti pandangan itu.

" Aku tidak punya pilihan lain selain memanggil dokter. Demammu sudah parah!." Kata Taewoon.

Terlihat ekspresi Sungmin yang menahan marah. " Jika kubilang aku tidak ingin dokter, maka jangan panggil!... Bodyguard atau bukan, kau tidak bisa membuat keputusan itu!..." kata Sungmin serak.

" Kenapa? Karena aku memarahimu sebelumnya? Karena sekarang kau membenciku? Aku hanya ingin menolongmu! Bagaimana jika sesuatu terjadi padamu? Apa kau tidak memikirkan managermu? Perusahaanmu? Dan fans-fansmu? Kau ingin menghukumku dengan bersikap seperti itu? Katakan padaku apa maumu—"

" Mauku?!." Potong Sungmin kesal, nafasnya terengah karena masih belum pulih ditambah dengan amarahnya pada Taewoon. " Kau ingin tau mauku?!." Ulang Sungmin dengan mata berkaca-kaca, yang langsung membuat Taewoon terdiam dengan pandangan bersalah.

Sungmin memalingkan wajahnya dari Taewoon, lalu menutupi matanya dengan lengannya yang masih di infus. Terdengar sedikit isakan kecil. " Kau pikir aku mau menerima semua ini? Kaupikir aku tenang dengan semua yang terjadi?... tidak sekalipun kau tau apa yang kupikirkan… tak sekalipun…" kata Sungmin pelan. " Aku ini.. hiks.. sedang ketakutan… sangat takut dibandingkan dirimu… jangan samakan aku sepertimu. Pergilah! Aku tidak menginginkanmu didekatku… aku tidak ingin membuatmu menyesal untuk menolongku lagi… hiks hiks… Akan kuselesaikan… pasti akan kuselesaikan masalah ini untukmu…" kata Sungmin disusul tangisnya. " … hiks.. hiks… karena itu… berhenti mengasariku… hiks…" lanjut Sungmin.

Taewoon terdiam, dia benar-benar tidak tau apapun yang terjadi pada Sungmin setelah kejadian yang menimpanya saat itu, Taewoon tidak pernah tau seberapa Sungmin takut dengan apa yang tersiar di media, Taewoon tidak pernah tau rasa trauma Sungmin yang menerima rasa sakit dan tekanan dari segala pihak, Taewoon tidak pernah tau hal ini yang ternyata lebih dikhawatirkan oleh manager. Taewoon tidak pernah tau semua itu. Hingga detik ini. Rasanya dia ingin mengulang hari-hari kemarin, untuk mengoreksi seteiap perkataan dan tuduhannya pada Sungmin.

Taewoon hanya bisa diam dan keluar dari kamar membiarkan Sungmin lebih tenang. Dia segera pergi menemui dokter tadi.

" Apa dia sudah bangun?." Tanya dokter itu.

" Nde. Dia sudah bangun tadi, tapi aku menyuruhnya untuk kembali tidur." Kata Taewoon.

" Baguslah, ini obat-obat yang harus diminum." Kata Dokter sambil memberikan beberapa obat pada Taewoon.

" Jika semua sudah selesai, saya akan kembali." Kata Dokter itu sambil menunduk sejenak pada Taewoon. Taewoon membalasnya dengan cepat, dan Taewoon terlihat kebingungan dengan obat-obat itu.

" Eo… Dokter, tunggu!." Panggil Taewoon kikuk.

" Nde?."

" Aku tidak terlalu mengerti tentang obat meski tertulis cara penggunaannya, bisakah kau jelaskan padaku dengan lebih sederhana? Kurasa Sungmin juga sedikit merasa depresi…" kata Taewoon.

Dokter itu kembali berjalan kearah Taewoon sambil tersenyum. " Baiklah, akan kujelaskan." Kata si Dokter sambil mengambil lagi obat di tangan Taewoon.

" Yang berwarna kuning ini harus diminum 3x dalam satu hari setelah makan, yang merah juga 3x sebelum makan. Setelah makan pagi, siang dan malam pastikan Sungmin meminumnya. Dan yang putih diminum sekali saja sebelum tidur. Dan yang ini vitamin agar dia lekas sembuh. Jika demamnya datang lagi, kompres dengan air hangat dan minumkan obat yang kapsul ini. Sampai sini kau pahamkan?." kata Dokter itu sambil satu persatu menunjukkan obatnya dan memberikannya pada Taewoon.

Taewoon terdiam sambil bergumam untuk menghafalkan obat-obat itu dan menghafalkan waktu minum dan berapakali harus Sungmin konsumsi.

" Ya, aku akan ingat semuanya." Kata Taewoon.

" Dan satu lagi. Aku menemukan obat penenang ini di tangannya tadi. Apa dia banyak mengkonsumsi ini?." Tanya dokter itu sambil mengeluarkan sebotol kecil kapsul obat pada Taewoon.

" Aku tidak tau, tapi aku beberapakali menemukannya di dekatnya. Memangnya kenapa?." Tanya Taewoon.

" Aku beberapakali mendengar berita tentangnya. Dan aku juga terkejut karena aku menanganinya hari ini. Kurasa dia mengalami depresi dan trauma, kondisi badannya juga seperti itu. Terkadang kita tidak tau apa yang ia rasakan. Tapi kurasa aku bisa mengerti posisinya yang tertekan. Tapi kusarankan larang dia untuk mengkonsumsi obat penenang. Dia tidak boleh ada ketergantungan jika dia ingin sembuh. Kesehatan psikis juga harus dijaga. Kau harus memberikan banyak dukungan padanya." Kata dokter itu sambil memberikan obat penenang itu pada Taewoon. Dan saat itu Taewoon jadi merasa bersalah, karena dia pasti juga salah satu orang yang menjadi tekanan bagi Sungmin.

" Aku mengerti. Terimakasih banyak atas pertolongannya." Kata Taewoon sambil menunduk.

" Nde. Idol memang seperti itu, mudah depresi. Semoga dia cepat sembuh. Aku tau kau bukan orang yang jahat seperti yang media katakan." Kata dokter itu sambil menepuk bahu Taewoon.

.

.

.

.

.

.

Pagi itu Taewoon bangun lebih awal, padahal kesehariannya dia jarang sekali bisa bangun pagi. Seperti ada stimulus besar yang membuatnya bisa bangun pagi. Dia segera mandi dan membersihkan diri. Kemudian dia segera menemui Sungmin di kamarnya.

" Idol…" panggil Taewoon pelan sambil membangunkan Sungmin. " Idolireonaa…" kata Taewoon lembut. Sungmin segera terbangun, dan bingung melihat Taewoon yang tersenyum padanya.

Sungmin hanya menatap Taewoon bingung dan masih mengantuk. " Kau harus mengganti bajumu. Kau pasti belum bisa mandi dengan benar kan? Jika kau ingin ke kamar mandi aku akan membantu—"

" Aku bisa lakukan sendiri…" kata Sungmin dengan suara sangat serak, bahkan dirinya sendiri terkejut mendengar suaranya.

" Ini sudah kusiapkan bajunya." Kata Taewoon.

Sungmin hanya diam sambil berusaha untuk bangun yang langsung dibantu Taewoon meski Sungmin segera menepisnya. Taewoon membiarkan Sungmin melampiaskan marahnya sesuka hati, kali ini Taewoon tidak akan berkata kasar pada Sungmin.

Tiba-tiba Sungmin memandang Taewoon lama, sedangkan Taewoon yang dipandangi menjadi bingung. " Ada apa?." Tanya Taewoon.

" Aku tidak bisa ganti baju jika kau ada disini. Keluarlah!." Kata Sungmin.

" Eo! Majayo. Mian, aku akan keluar." Kata Taewoon segera pergi. Setelah lama menunggu, akhirnya Taewoon segera ke dapur. Dia sudah menyiapkan bubur untuk Sungmin, yang sebelumnya ia buat pagi-pagi sekali tadi dengan melihat resep di internet. Dia benar-beanr payah dalam memasak. Tapi walaupun tidak se enak bubur buatan seorang ibu, setidaknya itu masih enak dimakan untuk Sungmin, setelah berkali-kali gagal dalam pembuatannya.

" Idol! Aku sudah siapkan sarapan untukmu." Kata Taewoon sambil membantu Sungmin ke ruang makan. Sungmin sedikit tidak terbiasa dengan sikap Taewoon yang tiba-tiba berubah drastis. Tapi Sungmin tidak punya niat untuk menanyakannya.

" Kau bisa memasak?." Tanya Sungmin curiga, karena ukuran lelaki yang menggunakan obat saja tidak bisa, pasti memasakpun tidak bisa.

" Hmmm… aku baru saja belajar memasak tadi. Maaf aku memakai dapurmu dan beberapakali gagal. Tapi kurasa yang ini bisa dimakan, jika tidak enak aku akan menelfon delivery." Kata Taewoon.

" Ani. aku tidak suka fast food." Kata Sungmin sambil memulai makan. Tanpa Taewoon sadari dia seperti mencatat itu dalam otaknya untuk terus diingat bahwa : Sungmin tidak menyukai fastfood. Sehingga dia bisa mengira makanan apa yang bisa dimakan oleh Sungmin nanti.

Sungmin mulai menyendok bubur itu dan memakannya, Taewoon takut jika Sungmin akan memuntahkannya. " Hmm… tidak buruk." Komentar Sungmin sambil menyendok lagi bubur itu. Senyum Taewoon terkembang.

" Ini sudah kusiapkan obatmu. Dokter bilang kau harus rutin minum obat." Kata Taewoon.

" Sejak kapan kau bisa mengenali tentang obat?." Tanya Sungmin.

" Sejak tadi malam. Aku menghafalkan semua yang dikatakan oleh dokter. Jadi kau tidak perlu takut aku salah memberimu obat." Kata Daehyun.

Sungmin hanya mengangguk kecil sambil kembali memakan buburnya. Dia sedikit kesulitan melakukan aktivitasnya karena lengan kirinya masih belum bisa digerakkan, dan dia sudah ingin sekali sembuh dari memar-memar ditubuhnya.

" Apa matamu masih bengkak?." Tanya Taewoon pada Sungmin.

" Hum…" jawab Sungmin sambil mengangguk.

" Orang-orang itu benar-benar memukulimu dengan kuat…" kata Taewoon.

Sungmin masih terdiam, menebak apakah kata berikutnya yang keluar dari mulut Taewoon adalah ' Kau lemah, dan harus menjadi kuat'.

. " Makanlah yang banyak. Kau sangat kurus. Bahkan adikku lebih berat darimu…" Kata Taewoon lagi, entah kenapa Taewoon jadi terus ingin mengajak Sungmin bicara.

" Kau tidak perlu menggendongku lagi. Kakiku sudah mulai sembuh." Sahut Sungmin singkat.

" Jangan khawatir. Aku bodyguardmu, menggendongmu kemanapun bukan masalah untukku." Kata Taewoon. Mendengar itu Sungmin menghela nafas panjang. Dia sungguh tidak berharap Taewoon akan seperti itu. Dia ingin sekali memutuskan hubungan seperti ini dengan Taewoon dan segera menyelesaikan masalah ini.

" Apa kau mengambil obatku?." Tanya Sungmin tiba-tiba dengan nada tidak suka.

" Obat? Obat penenang itu?." Tanya Taewoon.

" Nde. Kau mengambilnya? Sini kembalikan padaku." Kata Sungmin.

" Aniya… Dokter bilang kau tidak boleh mengkonsumsi obat itu terlalu sering, jadi hentikan meminum obat itu." Kata Taewoon.

" Apa pedulimu. Aku membutuhkan obat itu! Sekarang kembalikan!." Paksa Sungmin.

" Shireo. Ini demi kebaikanmu sendiri. Jangan menyiksa dirimu sendiri seperti itu. Kenapa kau harus meminum obat seperti itu? Nanti kau tidak bisa sehat dengan cepat." Kata Taewoon dengan suara kalem.

" Ck! Jangan mengaturku!." Kesal Sungmin sambil memalingkan wajah dari Taewoon.

Taewoon tau Sungmin pasti masih marah padanya, karena itu Taewoon tidak pernah menyerah untuk membuat Sungmin memaafkannya.

" Managermu menghubungiku tadi. Dia bilang semua orang menunggu kesehatanmu kembali. Setelah itu kau bisa langsung melakukan wawancara." Kata Taewoon.

" Kenapa tidak sekarang saja? Aku masih bisa melakukan wawancara." Kata Sungmin.

" Aniya. Terlalu beresiko. Aku tau kita berdua ingin masalah ini selesai. Tapi sebagai bodyguardmu, aku tidak ingin para reporter itu melukaimu. Kau tau sendiri mereka seperti karnivora saja ketika melihatmu."k ata Taewoon.

Sungmin kembali mengehela nafas panjang. " Aku ingin masalah ini cepat selesai." Kata Sungmin.

" Nado. Tapi jika terlalu ceroboh, kita bisa menimbulkan masalah baru." Kata Taewoon memberi pengertian.

Sungmin terdiam. " Hajima…" kata Sungmin, tiba-tiba Taewoon memandang Sungmin dengan pandangan tidak mengerti.

" Jangan perlakukan aku seperti itu." Kata Sungmin dengan wajah tidak suka.

" Maksudmu?." Tanya Taewoon bingung.

" Ck! Lupakanlah." Sahut Sungmin.

.

.

.

.

.

.

Sungmin masih terlihat tidak memperdulikan semua perlakuan Taewoon padanya, sebenarnya dia ingin masalah ini selesai, selain dia merasa dia sudah membuat kehidupan Taewoon menjadi berat, dia jadi terlihat sangat rapuh dan lemah. Dia ingin melakukan semua sendirian tanpa Taewoon. Dia ingin membuktikan pada semua orang bahwa dia bukan hanya seorang Idol yang selalu di manja.

Ketelatenan Taewoon merawat Sungmin selama beberapa minggu kali ini memang membuahkan hasil, karena keadaan Sungmin mulai lebih baik. Sungmin sudah bisa berjalan dengan baik, setelah sebelumnya dia memakai kruk untuk berjalan. Dan luka-luka di tubuhnya juga sudah mulai pulih.

" Ya! Idol! Tunggulah sebentar lagi. Masakannya sudah hampir matang." Kata Taewoon panik saat dia mulai kacau memasak di dapur, sedangkan Sungmin masih diam menunggu Taewoon di meja makan dekat dapur sambil melihat Taewoon yang kebingungan.

Sungmin menungu dengan malas di tempatnya. Tiba-tiba Taewoon menumpahkan panci yang berisi kari yang dia buat tadi, dan dia terjatuh karena terpereset kari itu.

" Ya! Ya! Panas! Panas! Panas! Aish… appooo…" pekik Taewoon sambil berusaha berdiri karena pantatnya terkena kari panas.

" Hahahaha!." Tiba-tiba Sungmin tertawa ketika melihat Taewoon yang sangat payah. Dia tidak pernah menyuruh Taewoon memasak untuknya, tapi Taewoon sendiri memaksa ingin memasakkan makanan untuk Sungmin.

Taewoon melihat Sungmin dengan pandangan tertegun sekaligus terkejut, seolah rasa panas di pantatnya menghilang. Sungmin yang menyadari tatapan itu jadi bingung.

" Kenapa kau menatapku seperti itu?. " Tanya Sungmin.

" A…ani… hanya saja…"

" Hanya saja apa?." Tanya Sungmin cepat.

Taewoon tersenyum lebar. " Aku senang melihatmu tersenyum. Wajahmu lebih indah kalau kau tersenyum." Kata Taewoon sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Sedangkan Sungmin yang terkejut menjadi sedikit salah tingkah, saat itu dia merasa sejak kepulangannya ke dorm, dia tidak pernah tertawa ataupun tersenyum sedikitpun.

" Sudahlah. Sekarang belilah makanan ke supermarket." Kata Sungmin mengganti topik dengan sedikit canggung.

" Baiklah…" kata Taewoon.

Taewoon-pun segera pergi untuk membeli makanan. Sedangkan Sungmin menunggu di dorm.

Ketika Taewoon membeli makanan di supermarket, tiba-tiba ada beberapa fans Sungmin yang mengenali Taewoon, dia segera memukul Taewoon dengan keranjang belanjanya, membuat Taewoon sangat terkejut.

" Ya! neo! Dasar orang jahat! Kau apakan Sungmin oppa? Kenapa kau tega menculiknya!." Seru fans itu sambil terus memukul Taewoon.

" Ya! kau salah paham! Aku tidak menculiknya!." Kata Taewoon panik, dan hanya bisa melindungi diri sendiri.

Gara-gara fans itu beberapa orang jadi melihat Taewoon dan menyadari bahwa Taewoon adalah orang-orang yang sedang dicari-cari para reporter karena menculik artis. Beberapa dari mereka yang juga fans dari Sungmin ikut memukuli Taewoon dan mengejar-ngejar Taewoon di sana hingga membuat kericuhan.

Hingga akhirnya security ikut mengejar Taewoon. Para fans itu membuat berita tentang keberaaan Taewoon lewat social media hingga menarik fans lainnya untuk membahas hal itu, dan akhirnya reporter dengan cepat datang kesana.

Dalam waktu 30 menit, supermarket itu dipenuhi banyak orang, mulai dari fans, security, polisi dan reporter.

Sungmin yang masih menunggu di dorm akhirnya memutuskan untuk menonton televisi, dan dia terkejut karena melihat headline news berisikan Taewoon yang sedang dibawa oleh polisi dan dikelilingi reporter dan fans-nya.

" Di.. dia tertangkap?." Seru Sungmin terkejut.

Dengan cepat dia menelfon managernya. " Manager hyung! Apa kau—"

[[ Ya aku juga menontonnya sekarang. Aku tidak bisa menyelamatkan Taewoon tepat waktu kesana.]] kata manager yang sudah tau topik permasalahan yang ingin dibicarakan oleh Sungmin.

" Lalu bagaimana ini? Dia tidak bersalah." Kata Sungmin.

[[ Lagipula kenapa juga dia harus keluar? Harusnya kalian berdua jangan sampai meninggalkan dorm.]] kata si manager yang terlihat panik.

" A… aku menyuruhnya membeli makanan…" kata Sungmin menyesal.

[[ Biar kupikirkan dulu bagaimana menyelamatkannya.]] kata si manager bingung.

Sungmin merasa bersalah atas hal ini, dan dia tidak ingin berlama-lama menunggu managernya, dia harus langsung bertindak.

" Aku akan menjemputnya." Kata Sungmin cepat.

[[ Hey! Tunggu! Jangan gegabah, jika sesuatu terjadi padamu—tut tut tut—]]

Sungmin langsung menutup telfonnya dan segera berlari ke parkiran dan masuk ke mobil managernya yang dulu ia pakai untuk lari dari rumah sakit.

Sungmin segera pergi ke tempat Taewoon berada, ketika dia sampai disana, dia melihat banyak sekali orang –orang mengerumuni Taewoon. Dia tidak bisa menembus kerumunan itu dengan mobilnya. Dia terdiam dalam kepanikan, detik berikutnya dia keluar dari mobil dengan cepat, dan mencoba masuk ke kerumunan itu untuk menarik Taewoon.

Tapi dengan cepat para fans dan reporter menyadari keberadaan Sungmin, mereka langsung menyerbu Sungmin dengan cepat, kamera dan microphone disodorkan padanya dengan pertanyaan bertubi-tubi membuat Sungmin tidak bisa melindungi dirinya sendiri.

Sedangkan Taewoon yang tadi masih di pegang oleh para security terkejut mendapati Sungmin juga berada disana.

" Idol!." Seru Taewoon khawatir. Dia segera berlari untuk menyelamatkan Sungmin. Taewoon sedikit kesusahan untuk menjangkau Sungmin.

" Ya! Idol!." Seru Taewoon sambil mencoba mengulurkan tangannya pada Sungmin yang masih terhalang banyak orang.

Sungmin yang menyadari Taewoon mencoba meraihnya jika mengulurkan tangannya untuk meraih Taewoon. Tiba-tiba seorang reporter dengan keras mendorong Sungmin karena berdesakan dengan banyak orang disana, hingga membuat Sungmin terjatuh lengan Sungmin yang baru saja sembuh karena patah hampir saja terluka. Melihat itu Taewoon dengan marah mendorong reporter itu menjauh dan membuat kericuhan karena reporter itu terlihat tidak terima dengan perlakuan Taewoon.

Taewoon segera menghampiri Sungmin dan membantunya berdiri sambil melindungi Sungmin dengan badannya. " Kenapa kau ada disini?." Tanya Taewoon panik.

" Aku ingin menjemputmu." Sahut Sungmin mencoba untuk menghindari para reporter dan fans yang mulai ricuh.

" Ck! Kau terlalu nekad. Cepat kembalilah ke dorm! Dimana managermu?." Tanya Taewoon.

" Dia sedang perjalanan menuju kemari." Sahut Sungmin.

Tiba-tiba reporter tadi mendorong dan memukul Taewoon dengan keras. " Ya! berani-beraninya kau mendorongku!." Marahnya.

" Ayo kita pergi dari sini, kau bisa celaka nanti." Kata Sungmin khawatir dan juga panik.

Taewoon menahan rasa sakit itu masih sambil melindungi Sungmin. " Aniya. Mereka menginginkanku, jika kita pergi mereka akan mengikuti. Kau pergilah." Kata Taewoon.

" Ya! jangan sentuh oppa-ku! Pergi! Kenapa kau menyakiti Sungmin oppa!." Seru seorang fans sambil memukuli Taewoon.

" Hey! Dia tidak bersalah, jangan memukulnya!." Seru Sungmin yang tidak digubris karena semua orang terfokus pada Taewoon.

" Hey! Berhenti!." Seru Sungmin yang terlihat ingin menangis karena merasa bersalah pada Taewoon.

" Jangan pukul dia!." Teriak Sungmin yang masih tak di dengar. Taewoon masih terdiam menahan pukulan itu sambil melindungi Sungmin. " Kajja! Kita pergi, mereka bisa memukulimu." Kata Sungmin sambil menarik Taewoon untuk masuk ke mobil.

Taewoon tidak bisa melakukan apapun selain melindungi Sungmin. Tiba-tiba ponsel Taewoon berdering, dengan cepat dia mengangkatnya.

[[ Hyung! Apa yang kau lakukan disana? Kenapa mereka semua memukulimu?.]]

" Jiho-ya, aku tidak bisa berbicara denganmu saat ini." Kata Taewoon kerepotan.

[[ Apa kau perlu bantuan hyung?.]] Tanya Jiho.

" Ani. aku bisa mengatasi semua ini. Dan katakan pada eomma, aku akan pulang secepat mungkin." Kata Taewoon.

[[ Apa kau tau seberapa aku mencoba mencegah eomma untuk nonton TV? Kau tersiar dimana-mana hyung.]] gerutu Jiho.

" Ck! Tetap jangan biarkan eomma untuk menonton TV. Aku akan segera menyelesaikan masalah ini." Kata Taewoon sambil menutup ponselnya.

Lalu dia melihat si manager datang dengan tergopoh-gopoh. Taewoon segera menggiring Sungmin kearah mobil dan segera memasukkan Sungmin ke dalam mobil. Sedangkan si manager yang mengikuti arah Taewoon membawa Sungmin segera ikut masuk ke dalam mobil.

" Ya! manager hyung! Bawa Idol pergi!." Kata Taewoon cepat.

" Tunggu! Bagaimana denganmu?." Tanya Sungmin khawatir.

" Aku akan baik-baik saja. Cepatlah sembuh." Kata Taewoon.

" Ya! kajima! Ayo masuk! Kau bisa pergi dari sini, kau tidak bersalah!." Seru Sungmin panik.

Taewoon tersenyum tipis pada Sungmin sambil menutup pintu mobil, dan dengan cepat si manager tancap gas pergi dari sana. Taewoon kembali dikerumuni para reporter dan fans yang penuh amarah itu dan beberapa polisi akhirnya membawa Taewoon pergi sebelum terjadi semakin banyak kerusuhan.

" Hyung! Kembali! Ayo jemput dia!." Seru Sungmin berkaca-kaca melihat Taewoon tertinggal di belakang.

Si manager juga berat hati meninggalkan Taewoon disana, tapi dia juga harus membawa Sungmin ke tempat aman. " Aku… tidak bisa Sungmin-ah…"

" Hyuung! Jebal …hiks.. hiks.. kita kembali menjemputnya… Dia tidak bersalah hyung… hiks hiks… kita harus kembali…" kata Sungmin yang akhirnya menangis karena dia merasa dia sangat lemah tidak bisa melakukan apapun saat ini.

Si manager melihat Sungmin dari spion mobil dengan perasaan bersalah sambil menggigit bibirnya takut. " Mianhae. Sungmin-ah…" kata si manager.

" Hiks.. hiks… jebal hyung…" mohon Sungmin.

.

.

.

.

.

.

Jiho masih menonton berita di televisi sambil memakan makanan ringan dengan tenang, dia tidak terlihat mengkhawatirkan kakaknya yang sedang tersiar akan ditahan hingga ada wawancara resmi dari pihak entertainment dimana Sungmin bekerja.

" Ada-ada saja hyung itu…" gumamnya pelan.

Tiba-tiba ibunya datang setelah seharian tadi pergi bekerja. " Jiho-ya…." panggil ibunya, dengan cepat Jiho mematikan TV ketika ibunya hampir sampai di ruang TV.

" Nde eomma. Kau sudah pulang ternyata?." Tanya Jiho.

" Aku membawakan Dakgalbi untukmu. Mana Taewoon?." Tanya ibunya sambil berjalan menuju dapur.

" Dia sedang pergi dengan teman-temannya." Kata Jiho sekenanya.

" Kapan dia akan pulang? Sudah lama kita tidak makan malam bersama." Kata ibunya.

" Eh… Dia bilang dia berwisata selama beberapa hari dengan temannya. Mungkin dia akan pulang seminggu lagi." Kata Jiho.

" Kenapa dia tidak bilangku?." Tanya ibunya bingung.

" Dia terlihat terburu-buru, jadi mungkin dia akan menghubungi eomma nanti." Kata Jiho.

" Hmm… baiklah kalau begitu." Kata ibunya.

Sebenarnya ibu mereka terlalu santai, sehingga tidak terlalu memperhatikan dengan baik. Jiho dan Taewoon sangat menyayangi ibunya, jadi mereka selalu terlihat menjaga ibunya tetapi terkadang berbuat onar tanpa sepengetahuan ibunya. Jika ketahuan ibu mereka selalu memaklumi. Selain itu ibunya juga jarang berada di rumah karena terkadang selalu sibuk bekerja.

" Eomma ingin nonton televisi Jiho-ya, sepertinya sudah lama aku tidak nonton berita." Kata ibunya.

" Televisinya rusak eomma!." Sahut Jiho seadanya.

" Eh? Kenapa bisa begitu?."

" Hmm… aku tidak sengaja menumpahkah air diatasnya kemarin."

" Haish… dasar kau ini. Panggilah tukang service untuk membetulkannya."

" Nde. Araseo eomma. Sekarang eomma lebih baik istirahat saja. Aku tidak ingin eomma terlalu sibuk kerja dan sakit." Kata Jiho.

" Tumben kau mengkhawatirkan eomma seperti itu."

" Hahahaha, aku ini kan anak yang berbakti, jadi harus mengkhawatirkan eomma." Sahut Jiho sekenanya.

" Ya ya ya, terserah kau saja." Kata ibunya sambil melenggang pergi.

.

.

.

.

.

Setelah hari itu, Taewoon mendekam di penjara polisi, karena statusnya masih mengambang, antara bersalah dan tidak. Polisi tau dia tidak bersalah, tapi berita-berita pers yang sudah menyimpang itu sangat memojokkan Taewoon atas penculikan Sungmin, akhirnya polisi memasukkan Taewoon di penjara hingga ada wawancara. Polisi juga tidak bisa mengeluarkan Taewoon karena reporter selalu datang silih berganti. Beberapa fans juga datang langsung kesana, memastikan bahwa Taewoon benar-benar di penjara.

Sedangkan Sungmin sedang menggalau karena Taewoon berada dalam penjara. Sungmin merasa bersalah pada Taewoon, karena tidak seharusnya keadaan menjadi seperti ini. Dia sudah meminta pada manager dan pimpinan perusahaannya untuk mengadakan wawancara, tapi mereka menolak dengan alasan keadaan Sungmin. Jadi mereka akan mengadakan wawancara jika kondisi Sungmin sudah baik.

Sungmin kembali ke dorm-nya bersama si manager. Managernya benar-benar merasa bersalah pada Sungmin karena tidak bisa berbuat apa-apa. Dia juga tidak bermaksud membuat Taewoon seperti ini. Bahkan dia juga belum menjenguk Taewoon ataupun memberitahukan sampai kapan Taewoon harus dipenjara.

" Jika saja hyung tidak meninggalkannya, dia tidak akan dipenjara." Kata Sungmin kesal.

" Kau sudah mengatakannya berkali-kali Sungmin-ah…" kata si manger dengan rasa bersalah tapi juga dengan rasa lelah harus meladeni omelan Sungmin.

" Jika hyung merasa bersalah ayo cepat adakan wawancara, pers sudah terlalu keterlaluan membual dengan berita-berita tidak benar. Harusnya para penjahat itu yang dipenjara hyung, bukan dia." Kesal Sungmin.

" Aku mengerti Sungmin-ah… Tapi bos bilang harus menunggu kondisimu pulih dulu, apa tanganmu masih sakit?." Tanya si manager.

" Ani! jangan pikirkan tanganku." Sambar Sungmin tidak peduli.

" Jika kau ingin Taewoon segera keluar, maka kau harus segera memulihkan keadaanmu. Setelah itu kami akan langsung adakan wawancara." Kata si manager.

" Araseo!." Tukas Sungmin.

" Istirahatlah, jangan berbuat yang macam-macam." Pesan si manager.

Sungmin segera masuk ke kamarnya dan bersiap istirahat. Dia masih kepikiran tentang Taewoon. Dia benar-benar merasa bersalah pada Taewoon. Padahal Taewoon sudah mulai baik padanya, tiba-tiba mereka berpisah seperti itu. Rasanya baru tadi pagi dia tertawa melihat Taewoon yang ceroboh. Dan sekarang dia merindukan Taewoon yang selalu kebingungan merawatnya, ataupun Taewoon yang selalu mengeluh, dan memanggilnya idol setiap saat. Sungmin benar-benar merindukan laki-laki yang ternyata membuatnya seperti ini.

.

.

.

.

.

Selama 3 minggu Sungmin menahan diri untuk tidak protes pada managernya, dan mencoba sebaik mungkin untuk menyembuhkan lukanya. Dia ingin sekali menghubungi Taewoon, setidaknya dia bisa tau Taewoon baik-baik saja. Tapi managernya benar-benar melarang Sungmin keluar dan menghubungi Taewoon. Sempat Sungmin hendak pergi ke kantor polisi untuk menemui Taewoon, tapi akhirnya dia ketahuan dan managernya semakin mengurungnya di dorm.

" Aku sudah sehat, sekarang ayo adakan wawancara." Kata Sungmin.

" Apa benar kau sudah sehat? Tapi perban di tanganmu masih—"

" Ini sudah lebih baik hyung. Lihat… aku bisa menggerakkanya lebih leluasa ketimbang dulu. Beberapa minggu lagi pasti akan sembuh total, dan aku bisa melakukan aktivitasku sendiri." Katanya.

" Haish… tetap saja—"

" Hyung! Kau sudah janji!." Protes sungmin.

" Arasseo arasseo… aku akan hubungi kantor." Kata si manager.

Sungmin benar-benar tidak sabar lagi untuk melakukan wawancara. Setelah manager-nya bicara panjang lebar, akhirnya dia membawa Sungmin ke kantor. Disana Sungmin benar-benar bersikeras untuk mengadakan wawancara hari itu juga. Akhirnya CEO mereka menuruti kemauan Sungmin untuk menggelar wawancara.

Pers dikejutkan dengan wawancara official itu, semua reporter dari banyak stasiun TV segera datang, beberapa dari mereka akan menayangkan wawancara itu secara Live. Salah satu pihak dari entertainment Sungmin menghubungi kantor polisi untuk membawa Taewoon.

" Apa dia sudah dibawa kesini?." Tanya Sungmin pada si manager ketika mereka akan masuk ke ruang acara.

" Ini bukan saatnya memikirkan Taewoon, fokuslah dengan apa yang akan kau katakan nanti." Kata si manager.

" Aku Tanya, pa dia sudah dibawa kemari?." Tanya Sungmin lebih tegas.

Si manager menghela nafas panjang. " Kenapa kau begitu keras kepala sih? Kau tidak pernah seperti ini sebelumnya."

" Itu bukan jawaban yang kuinginkan." Sahut Sungmin.

" Ck! Iya dia sedang dibawa kemari. Tapi dia tidak akan datang untuk wawancara untuk menghindari kericuhan. Dia akan melihat wawancara ini dari mobil. Jadi kau tidak perlu khawatir." Kata si manager.

Terlihat si moderator wawancara melakukan pembukaan, dan Sungmin bersiap di pintu. " Aku ingin bertemu dengannya sebelum dia pergi." Kata Sungmin.

" Sebentar lagi kau akan masuk." Kata si manager, dia benar-benar sedikit jengkel dengan Sungmin yang sedari tadi mengkhawatirkan Taewoon.

Terdengar suara moderator menyambut Sungmin untuk masuk.

" Jangan bohongi aku lagi hyung. Apapun yang terjadi aku harus bertemu dengannya." Kata Sungmin yang masih belum beranjak.

" Iya iya! Akan kuturuti semua yang kau mau. Sekarang masuklah!." Kata si manager.

Sungmin-pun masuk ke ruang acara, dan disambut cahaya menyilaukan dari camera-camera reporter, ruangan menjadi riuh dan pertanyaan pertanyaan mulai dilontarkan sana sini.

Sungmin memang sudah membiasakan diri menahan silau itu. Dan kali ini dia terlihat benar-benar tidak terpengaruh dengan cahaya itu. Dia segera duduk dan menunggu jawaban yang di tanyakan padanya.

" Sungmin-ssi, apa benar waktu itu kau sudah diculik dan dianiaya?."

" Sungmin-ssi, bagaimana pria itu bisa menculikmu?."

" Apa dia sudah dihukum dengan berat?."

" Kenapa kau belum menggugatnya ke pengadilan?."

Sungmin terdiam sejenak mendengar pertanyaan-pertanyaan itu. Lalu dia mulai mengambil microphone dan bicara.

" Kurasa terjadi banyak sekali kesalahpahaman yang terjadi disini." Kata Sungmin memulai. " Memang benar aku sudah diculik waktu itu. Oleh supir pribadiku yang baru."

" Jadi benar dia sudah menculikmu?."

" Dia tidak boleh dibebaskan begitu saja."

Sungmin sedikit jengkel dengan para reporter yang terus saja berkomentar tanpa membiarkan dia bicara dengan tenang.

" Kurasa wawancara ini percuma diadakan jika kalian tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan kebenarannya." Kata Sungmin. " Aku melihat fans-ku dengan brutal memukuli seseorang yang tidak bersalah, memakinya dan malkukan hal buruk di depanku. Aku tidak menginginkan hal seperti itu. Aku tau maksud mereka ingin melindungi idol mereka. Tapi kalian salah orang." Kata Sungmin. Tak ada suara reporter yang menyela seakrang.

" Setelah acara yang kudatangi waktu itu, aku memang pergi dengan supir pribadiku, dan aku tidak tau bahwa dia punya niat jahat padaku. Mereka memang menyakitku karena aku berusaha untuk kabur. Tapi orang yang selama ini kalian benci dan yang selalu kalian salahkan bukan pelakunya. Dialah yang menolongku waktu itu."

" Lalu kenapa dia kabur membawamu waktu itu?."

" Apa benar dia tidak berniat jahat padamu?."

" Aku mengatakan ini sejujur-jujurnya. Bukankah itu yang kalian inginkan dariku? Bagaimana bisa aku tidak membalas budi pada orang yang sudah menolongku berkali-kali." Kata Sungmin. " Aku yang menyuruhnya pergi dari tempat kejadian, karena aku tidak ingin dia terkena masalah. Ternyata aku salah. Akibatnya terjadi kesalahpahaman pada pihak media yang mengatakan dialah yang menculikku." Lanjut Sungmin.

" Hingga aku berada di Rumah Sakit, dialah yang menjagaku, dan banyak sekali membantuku di dorm. Aku tidak ingin ada fans yang mengganggu kehidupannya dan keluarganya dengan mengatasnamakan kasus penculikan ini. Dia benar-benar tidak bersalah. Dan aku sangat berterimakasih padanya. Aku ingin berita-berita tidak benar menyangkut Woo Taewoon dihapuskan, itu sama saja pencemaran nama baik." Kata Sungmin.

Setelah itu para reporter mulai bertanya lebih detail apa saja yang terjadi. mereka tidak bisa mengganti ataupun membuat berita yang tidak benar, karena beberapa stasiun TV sudah menyiarkan secara langsung. Wawancara itu berlangsung selama 1 jam, dan diputuskan bahwa Woo Taewoon tidak bersalah.

Ketika wawancara selesai banyak fans yang meminta maaf langsung pada Sungmin atas perbuatan mereka pada Taewoon. Media sosial juga riuh dengan permintamaafan pada Sungin dan Taewoon.

Sungmin turun dari tempat wawancara itudan disambut oleh managernya. " Apa kau sudah puas sekarang?." Tanya si manager sambil tersenyum.

Sungmin tertawa kecil. " Belum." Jawabnya.

" Haish… dia menunggumu di koridor. Aku sudah mengamankan tempatnya dari fans dan reporter. Sebaiknya cepatlah." Kata si manager.

Sungmin tersenyum senang lalu segera berlari menuju tempat Taewoon berada. Disana dia melihat Taewoon berdiri memunggunginya. Sungmin berjalan dengan perlahan.

" Hey…" panggil Sungmin pelan.

Taewoon-pun menoleh. Terlihat ada beberapa luka di sudut bibir dan pelipisnya, sepertinya itu bekas luka yang ia dapat ketika dipukuli fans.

" Terimakasih. Choi Sungmin" Kata Taewoon.

Sungmin sedikit terkejut mendengar Taewoon memanggil namanya. Sebelumnya Taewoon selalu memanggilnya ' Idol' disertai dengan cacian. Tapi kali ini Taewoon benar-benar memanggil namanya.

" Kurasa ini pertamakalinya kau memanggil namaku dengan benar. Taewoon hyung." Balas Sungmin sambil tersenyum lebar.

" Sepertinya kau juga pertamakali memanggil namaku. Apa kau sudah sehat?." Tanya Taewoon.

Sungmin melihat tangan kirinya yang masih di perban. " Ini sudah lebih baik dari yang dulu. Walaupun aku belum bisa melepas besi penyangganya. Tapi aku bisa melakukan semua hal sendiri." Kata Sungmin.

" Kau terlihat sudah berubah tadi."

" Berubah?."

" Nde. Aku melihat wawancaranya. Kau terliaht lebih berani dan kuat dari sebelumnnya." Kata Taewoon.

Sungmin merasa senang sekali, Taewoon tidak mengatakan dia idol lemah seperti dulu. Tapi dia merasa aneh pertemuannya dengan Taewoon tidak dibumbui perkelahian atau perang mulut seperti dulu.

" Kurasa kau juga sudah berubah menjadi lebih baik sekarang." Kata Sungmin.

" Semua berkat kau." Kata mereka bersamaan, detik berikutnya mereka saling pandang dan disusul tawa.

" Kau sudah bebas. Kau juga sudah tidak perlu menjadi bodyguard-ku. Tidak perlu khawatir, jika ada fans yang masih menyerangmu, kau boleh menuntutnya." Kata Sungmin.

" Geurae… Aku bisa pulang dengan tenang." Kata Taewoon.

Kemudian mereka saling terdiam. Rasanya mereka masih ingin terus bersama, tapi yang terjadi malah kecanggungan satu sama lain. Dulu mereka sangat ingin melakukan wawancara ini, dan ingin segera berpisah dengan masalah yang sudah diselesaikan. Tapi yang terjadi sekarang, rasanya mereka tidak ingin berpisah.

" Ba… baiklah, aku harus pulang. Adikku sudah mencariku tadi." Kata Taewoon gugup.

" Geu… geurae… hati-hati di jalan hyung." Kata Sungmin. " Apa perlu aku suruh seseorang untuk mengantarmu?." Tanya Sungmin yang juga menjadi gugup dan bingung.

" Ani… aku bisa naik bus dari sini." Kata Taewoon.

" Oh… baik… terimakasih banyak sudah membantuku selama ini." Kata Sungmin sambil menunduk sejenak.

" Nde. Jaga dirimu baik-baik." Kata Taewoon sambil berjalan pergi.

Sungmin masih terdiam melihat punggung Taewoon menjauh. Sedangkan Taewoon ingin sekali menoleh ke belakang melihat wajah Sungmin untuk yang terakhir kalinya, tapi entah kenapa dia tidak melakukannya.

Setelah Taewoon hilang di balik koridor, si manager datang menghampiri Sungmin.

" Hey, kenapa masih berdiri di situ? Ayo kita kembali." Kata si manager.

" N.. nde hyung…" sahut Sungmin sambil mengikuti managernya.

.

.

.

.

.

" Aku pulang." Kata Taewoon ketika dia masuk ke rumah.

" Oh kau sudah pulang hyung?." Tanya Jiho yang masih nonton televisi.

" Nih, Dakgalbi pesananmu." Kata Taewoon sambil melempar sekeresek Dakgalbi pada Jiho.

" Huwahaha, akhirnya makan malam dengan Dakgalbi." Kata Jiho seolah dia tidak mengkhawatirkan tentang kasus Taewoon yang baru saja selesai.

" Eomma dimana?." Tanya Taewoon.

" Dia sedang belanja ke pasar. Mungkin setelah ini pulang." Kata Jiho.

" Kau sudah makan belum?." Tanya Taewoon.

Tiba-tiba Jiho menatap Taewoon dengan pandangan horror. " Kau kenapa hyung? Menyeramkan sekali?." Tanya Jiho.

" Apa maksudmu?." Tanya Taewoon tidak mengerti.

" Sejak kapan kau khawatir aku belum makan atau belum?. " jawab Jiho.

Taewoon jadi menyadari dia tidak sekasar dulu. Mungkin itu gara-gara Sungmin. " Haish… lupakan." Sahut Taewoon sambil berjalan masuk ke kamarnya.

Taewoon benar-benar galau dengan perasaannya. Entah kenapa dia jadi merindukan Sungmin. Harusnya dia senang sekarang dia bisa pulang dan tidak perlu repot-repot melindungi si idol, ataupun tidak perlu takut lagi diserang fans dan disiarkan oleh media.

Tapi yang ia rasakan malah sebaliknya, dia masih ingin bersama Sungmin lebih lama lagi. Dia ingin merawat Sungmin, dan entah kenapa dia merasa tidak keberatan untuk manjadi bodyguard Sungmin lagi.

" Haish! Apa yang kau pikirkan? Sudahlah, jangan ingat idol itu lagi." Kata Taewoon tidak tenang.

.

.

.

.

Seminggu berlalu, Sungmin masih tidak bersemangat untuk melakukan aktivitasnya. Dia memang tidak memeiliki jadwal sepadat dulu, karena manager-nya ingin dia benar-benar sembuh, sehingga Sungmin bisa melanjutkan aktivitas dance-nya.

" Hey, kenapa kau lesu sekali sih? Bersemangatlah." Kata manager.

" Hyung, aku ingin di dorm saja hari ini…" kata Sungmin lemas.

" Wae geuraesseo? Ayolah masalah sudah selesai, harusnya kau senang." Kata si manager.

" Molla… Aku hanya tidak bersemangat."

" Apa karena Woo Taewoon itu?. " Tanya si manager menggoda.

Sungmin terlihat salah tingkah. " Te… tentu saja tidak! Tanganku tiba-tiba sakit lagi, jadi aku malas keluar." Kata Sungmin pura-pura terlihat tangannya sakit.

" Jinjjayo? Mana mana sini bair kulihat." Kata si manager.

" Ani! sudah hyung pulang saja, aku ingin sendirian disini." Kata Sungmin.

" Hey, kenapa kau jadi begitu? Aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu. Katakan saja apa yang kau inginkan. Bukannya kau biasanya begitu? Menyuruh-nyuruhku melakukan apapun yang kau minta?." Tanya manager.

" Aku tidak minta apa-apa. Hanya ingin sendiri hyung. Duh, kau ini menganggu saja." Kata Sungmin cuek.

" Baiklah, aku sudah siapkan makanan di kulkas. Kau bisa menghangatkannya kalau kau lapar. Aku kembali ke kantor dulu." Kata si manager.

Sungmin terlihat sedikit tenang ketika managernya pergi. Sebenarnya dia ingin sekali bertemu dengan Taewoon. Entah kenapa dai rindu pada Taewoon yang pemalas, dan suka mengeluh. Tapi tidak ia pungkiri, Taewoon-lah yang membuatnya berubah.

" Apa bisa aku bertemu dengannya lagi? Pasti dia sekarang senang karena sudah kembali ke rumah." Gumamnya.

Tiba-tiba bel berbunyi. Sungmin segera membuka pintu dorm-nya. Ternyata si manager kembali.

" Ponselku tertinggal." Kata si manager.

" Ck! Ambilah klau begitu. Jangan sampai ada yang tertinggal lagi." Kata Sungmin sambil kembali ke sofa.

Si manager segera mengambil ponselnya dan pergi. " Sungmin-ah, aku pergi dulu nee!."

" Hn…" sahut Sungmin yang sibuk bermain ponsel.

Tiba-tiba bel pintu kembali berbunyi. " Duh, manager hyung ini, benar-benar tidak bisa membiarkan artisnya isitrahat apa?." Gerutunya sambil membuka pintu.

" Hyung! Jika ada yang tertinggal lagi maka aku—"

Sungmin terkejut ketika melihat orang yang di depannya bukanlah managernya, tapi— " Taewoon hyung?! Kenapa bisa kau ada disini?." Tanya Sungmin kaget.

" Hmm… harusnya kau bilang annyeong Taewoon hyung." Kata Taewoon sambil tertawa kecil.

Sungmin langsung salah tingkah, tapi dia tidak bsia menghentikan senyum bahagianya. " Ma.. masuklah hyung." Kata Sungmin.

" Terimakasih." Kata Taewoon.

" Ada apa kau datang kesini hyung?."

" Aku dengar dari managermu kau butuh bodyguard? Ibuku dan adikku memprotesku karena aku belum memiliki pekerjaan. Jadi karena sepertinya bodyguard itu cocok denganku aku melamar ke perusahaanmu hari ini." Kata Taewoon.

" Jinjjayo?." Tanya Sungmin yang sebisa mungkin menahan rasa senangnya.

Tiba-tiba Taewoon menyentil dahi Sungmin. " Bukan itu yang ingin aku dengar. Jujur saja, kau senang kan aku kembali?." Kata Taewoon.

Sungmin memegangi dahinya sambil mengaduh. " N.. nde… aku senang hyung…" kata Sungmin.

" Jadi mulai sekarang, aku akann terus melindungimu." Kata Taewoon.

Sungmin tersenyum lebar. " Kurasa aku harus jujur sekarang. Aku benar-benar merindukanmu hyung." Kata Sungmin.

Taewoon tersenyum. Berhari-hari mereka saling merindukan satu sama lain. Hal itu tidak akan berhenti jika mereka tidak bertemu dan mengatakan yang sebenarnya.

" Tentu aku juga merindukanmu, idol jelek." Kata Taewoon sambil mengacak rambut Sungmin.

" Ya! aku tidak jelek hyung! Bukatinya banyak yang suka padaku." Kata Sungmin membela diri.

" Karena itu aku ingin kau jelek saja, agar hanya aku yang suka padamu." Kata Taewoon. Sambil tertawa.

" Haish… kau ini…"

.

.

.

.

.

.:: THE END ::.

.

.

.

.

.

A/N :

Akhirnya FF ini selesai juga… makasih buat semua readers yang udah dukung FF SPEED dan untuk readers yang TaeMin shipper…

Semoga bsia ketemu di karya TaeMin-ku yang lain. Dan jangan kapok kapok mantengin FF-ku yang rasanya nggak selese-selese, dan updatenya mesti telat…

Bisa langsung kontak aku [08976447225] kalau kalian ada yang mau di omongin, atau mau nagih FF ke aku.

Last things, Mind To Riview?