Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi memiliki hak penuh atas Kuroko's Basket dan seluruh chara di dalamnya. Hak penuh saya hanya sebatas pada fanfiksi ini.
Pair : Akashi Seijuuro x Kuroko Tetsuya (Akakuro)
Warning : BoyxBoy, AU, OOC, typo, minim dialog, 3rd person POV.
Pemuda merah itu memaksa langkah kakinya melukai keheningan dengan debam keras. Malam telah beranjak sejak kedua lengan waktu beradu pada angka sebelas. Jantungnya membuncah di dalam rongga dada. Sementara peluh melukis jejak di dahi dan rahang kukuhnya.
Ia lelah, sungguh.
Benaknya tak pernah tenang diusik rasa khawatir. Tak jarang rutinitasnya berujung berantakan lantaran kehilangan konsentrasi.
Seperti hari ini.
Lupakan soal bayaran yang mestinya jadi haknya setelah 6 jam bekerja. Lupakan soal tenaga yang terbuang percuma. Ia terlalu malas berspekulasi dengan nominal. Memang munafik jika ia tak butuh uang, tapi kehadirannya lebih dibutuhkan sekarang.
Jerit ponsel menggema tiba-tiba. Pemuda merah nyaris terantuk batu, lalu merutuk dalam hati. Tanpa berhenti berlari, ia segera menjawab panggilan.
"Iya, aku segera sampai."
Napas memburu. Nadi bertalu. Balasan didengarkan satu per satu. Dan ia mengepalkan jemarinya yang terasa kaku.
"Jangan tunggu aku! Cepat cari sekarang! Aku telah mengabari Tatsuya."
Komunikasi berakhir. Pemuda merah menggeram samar. Ponsel flip hitam digenggam dalam telapak tangannya yang besar.
Tak pernah berhenti ia mengedarkan manik mata ke seluruh sudut yang dapat terjangkau. Seiring desis putus asa yang ia bisikkan dengan suara parau.
"Sial! Kuroko, kau di mana?"
.
.
.
Thirty Days
By
Relya Schiffer
Chapter 2 : The Eleventh Until The Twentieth
.
.
.
Hari kesebelas
Midorima Shintarou telah mencium adanya aroma chaos sejak menginjakkan kaki di kelas. Ramalan Oha–Asa hari ini menempatkan Sagitarius pada urutan kedua terbawah dalam perbintangan. Terbukti, aura dingin telah ditebarkan Akashi Seijuuro sejak pagi.
"Midochin, ada apa dengan Akachin?" Atsushi yang biasanya hanya tertarik pada makanan sampai rela bertanya.
"Tidak tahu," jawab Shintarou singkat. Setengah berdusta, karena ada beberapa hipotesis bersliweran di benaknya.
"Ehh? Bukannya Midochin itu orang yang paling mengerti soal Akachin?"
Shintarou tersengat.
"Siapa yang kau maksud itu, Murasakibara? Aku tidak tahu apa-apa tentang dia-nanodayo!"
"Ehh? Masa? Bohong, ahh," jari-jari panjang Atsushi dikibaskan. "Kau 'kan tsundere, Midochin," lanjutnya enteng.
Untuk pertama kali dalam hidup, Shintarou ingin sekali menyumpal Si Jangkung Ungu dengan sepatu. Buku Fisika setebal 200 halaman nyaris melayang kalau saja Daiki tidak datang dan langsung memberondong Si Hijau dengan pertanyaan.
"Hey, Midorima. Akashi kenapa? Harusnya dia senang karena disuguhi penampilan idolanya semalam, kan?"
Napas pendek dihela, Shintarou mengeluh.
"Kenapa semua orang menanyakan tentang Akashi kepadaku? Aku bukan ibunya-nanodayo."
Satu alis Daiki terangkat. Pemuda berkulit gelap itu tampak berpikir sejenak dan menggumam samar.
"Cih, dasar tsundere!"
"Apa kau bilang, Aomine?" Shintarou naik pitam. Dua kali dilabeli tsundere dalam kurun waktu 5 menit bukanlah pencapaian yang membanggakan. Yah, meskipun itu kenyataan.
Tentu saja segala jenis protes tak akan hinggap pada seorang Aomine Daiki. Ace tim basket SMA Teiko itu justru berteriak pada sosok kuning yang sedang dikelilingi murid wanita.
"Kise! Ayo 1 0n 1 denganku!"
Dan wajar saja jika keputusan semena-mena Si Navy Blue kembali melahirkan protes.
"Kenapa aku, Aominecchi? Aku sedang sibuk-ssu."
"Apanya yang sibuk? Kerjaanmu cuma flirting begitu!" sengat Daiki. "Cepat ke lapangan! Kalau tidak, kugunduli kepalamu!"
Ryota cemberut. Sebuah kontradiksi, lantaran kilat semangat menyala di mata madunya. Adalah suatu hal mustahil jika seorang Kise Ryota menolak tantangan 1 on 1 dari Aomine Daiki. Meskipun hasil akhirnya tak berubah dari pertandingan yang sudah-sudah.
Shintarou menghela napas pendek. Ditinggalkan bersama seorang raksasa tukang makan dan iblis dengan bad mood tingkat tinggi bukanlah keadaan yang ia harapkan. Tapi, ia bisa apa?
Berdoa supaya hari yang buruk cepat berlalu—mungkin ?
Hari kedua belas
Setelah seharian menebar aura tak bersahabat, hari ini Seijuuro baru bersedia membuka sesi tanya jawab ala selebritis—minus jepretan kamera atau kilat flash light tentu saja.
Bertempat di lapangan indoor sekolah usai latihan basket, Shintarou mengajukan pertanyaan pertama perihal mood buruk Si Merah yang dijawab dengan singkat.
"Dia tidak datang."
Ohh, begitu. Pantas saja.
"Terus? Yang seharian kau diamkan kami kemarin, itu karena kau sedang ngambek? Hahahaha. Childish sekali kau, Akashi."
Ejekan Daiki dilirik tajam oleh sepasang rubi.
"Mulailah menentukan siapa ahli warismu, Daiki."
Dibelakang punggung tinggi Atsushi, Ryota berusaha mati-matian menahan tawa yang hampir lepas.
Sungguh.
Apakah Aomine Daiki tidak pernah belajar untuk tidak mengganggu Tuan Muda Akashi yang sedang tidak enak hati?
Okeh, sadarkah kita baru saja mengulang kata yang sama sebanyak tiga kali dalam satu kalimat? Mungkin, inilah tanda-tanda bahwa keadaan memang sangat tidak kondusif.
Shintarou menghela napas. Cukup bingung dengan sikap teman baiknya.
"Kalau Si Biru tidak datang, mungkin dia ada urusan. Ini bukan kejadian yang pertama kalinya-nanodayo."
"Midorimacchi benar-ssu. Waktu Si Biru tidak datang tempo hari, Akasicchi bersedia menunggunya tiga malam berturut-turut. Kenapa kali ini tidak-ssu?"
"Aku tidak mau membuang-buang waktu untuk hal yang tidak pasti."
Seijuuro meraih bola dari genggaman Ryota dan melakukan lay up singkat yang manis. Bola berhasil melesak ke dalam keranjang dengan sempurna.
"Ah, Akachin kecewa rupanya."
"Cih, kau seperti anak kecil, Akashi!" dengus Daiki pelan.
"Ssshhttt, Aominecchi! Jangan bilang begitu-ssu. Kau tidak punya perasaan."
"Memang kenyataan, kok," Sang Ace jelas tak mau disalahkan. "Sudah, aku pulang duluan."
Tak ada sahutan ketika sosok Daiki menghilang di balik pintu. Atsushi masih sibuk memberekan tas, kemungkinan besar berniat mengikuti jejak Daiki sebelumnya. Sementara sosok merah yang sempat menjadi pusat perhatian terus melintasi setiap sentimeter area diiringi suara dribble bola.
Ryota dan Shintarou paham bahwa sosok itu sedang berusaha mengalihkan pikiran dari satu nama.
Oh, ralat. Bahkan nama saja belum sempat terucap.
Selang sekian menit, Seijuuro kembali ke tepi lapangan. Ryota sigap menangkap bola yang dilemparkan.
"Aku tidak mau memaafkan pengkhianat," Sang Kapten mengucap tiba-tiba.
Mendadak Shintaro jadi sakit kepala.
"Apanya yang berkhianat? Kau sendiri belum mendengar penjelasan darinya-nanodayo."
"Tidak perlu. Aku selalu benar."
Kali ini giliran Ryota meringis.
"Akashicchi. Jangan begitu-ssu."
"Kau seperti orang yang memergoki pacarnya selingkuh-nanodayo."
Entah Shintaro berbicara terlalu pelan, atau memang Seijuuro yang tidak mendengar. Namun, kata-kata itu telah membuat kepala kuning Kise Ryota tersentak, berikut manik madu yang terbelalak kaget.
Hari ketiga belas
"Sei-chan, ayolah... Sampai kapan kau mau di dalam terus, hei?"
Maid kediaman Akashi menatap cemas sosok tinggi Mibuchi Reo.
Ah, bukan, bukan. Mereka bukan cemas pada Reo yang tampak desperate lantaran tak digubris. Cemas dan iba mereka justru tertuju pada meja marmer yang dijadikan pijakan selama pemuda 20 tahun itu berusaha mengintip isi kamar melalui ventilasi di atas pintu.
"Sei-chan, ayo keluar..."
Tidak hanya dipijak, tapi juga dijadikan alas melompat-lompat kala Reo gagal memancing penghuni kamar untuk keluar. Sungguh malang nasib Sang Meja. Wajah mulusnya harus ternoda jejak sepatu nista.
Tak hanya sampai di situ. Reo rupanya cukup berani untuk menggedor-gedor pintu kamar beberapa kali. Seorang maid kini menatapnya ngeri. Tak kuasa membayangkan bagaimana nasib anak sulung keluarga Mibuchi itu di kemudian hari—jika sampai ia berhasil membangunkan iblis dari neraka.
"Mi-Mibuchi-san, tolong jangan memukul pintunya. Nanti Tuan Muda marah pada anda," seorang maid berusaha menasehati.
"Biarkan saja," cetus Reo, lengkap dengan cengiran enteng. "Dia berani mengabaikanku, jadi biarkan saja dia marah."
"Tapi, Mibuchi-san..."
"Memangnya kalian tidak khawatir dengan apa yang dilakukan Sei di dalam sana?" Reo bertolak pinggang sejenak—"Kalian tidak takut kalau dia bunuh diri?"—dan memekik berlebihan.
"Tuan Muda hanya kelelahan sepulang sekolah tadi," buttler paruh baya dengan aura bersahaja menengahi. "Jadi, saya yakin sekarang Tuan Muda sedang berisirahat."
"Itu namanya spekulasi. Benar atau tidaknya harus dibuktikan!"
Negosiasi gagal total. Maid dan buttler pun angkat kaki; meninggalkan Sang Mibuchi yang mulai menggedor-gedor pintu kembali.
"Sei, kau yakin tidak mau keluar? Kita bisa membicarakan apa yang membuatmu muram dua hari ini, lho."
Masih tak ada sahutan. Bibir Reo maju beberapa senti.
"Kalau kau masih tidak mau keluar, aku akan menelepon Niji—"
"Kau mau menelepon siapa, Reo?"
Hawa dingin menguar. Pertanda bangkitnya Pangeran Iblis dari peraduan, mungkin itulah yang melintas di pikiran para maid dan buttler di mansion Akashi. Padahal, faktanya tidak sejauh itu. Karena yang muncul dari balik pintu hanyalah seorang pemuda tampan berusia 17 tahun, dengan tatapan dingin dan gunting di tangan.
Ups.
"Hai, Sei-chan. Kau sudah bangun rupanya."
"Jangan berlagak bodoh, Reo. Coba ulangi ancamanmu tadi."
Perintah Akashi bersifat absolut, harus dan pasti. Namun dengan berbekal keberuntungan, Reo tak selalu terpengaruh. Mungkin, sangat sedikit (jika tak mau dibilang sama sekali tidak ada) orang di dunia ini yang berani mendebat Akashi Seijuuro. Dan ia bertekad untuk menjadi salah satunya.
"Sei, makan malam sudah siap. Kau akan makan di rumah lagi, kan?"
"Jika kau hanya ingin membangunkanku, tidak perlu sampai menjadikan meja kesayangan ayah sebagai korban. Kau harus ganti dengan yang baru."
Satu cengiran terpahat apik di wajah Reo. Ia pun melompat turun dan menggeser meja; memberi jalan bagi sepupunya untuk lewat.
Satu hela napas pendek dihembus. Seijuuro tahu Reo tak sepenuhnya bersalah. Bagaimana pun, pemuda berambut hitam itu bertanggung jawab sebagai pengganti orang tuanya yang jarang di rumah.
"Lain kali, jangan membuat kegaduhan. Kau hanya mengganggu ketenanganku saja."
"Kau terlalu tenang, Sei-chan. Makanya aku khawatir."
"Kau berisik, Reo. Diamlah, atau aku akan melarangmu datang ke sini lagi."
"Ya, ya, ya, baiklah."
Jarak menuju ruang makan dihiasi suara jejak kaki. Sampai kemudian inisiatif muncul dari Si Sulung Mibuchi.
"Dua hari ini kau tidak keluar malam, Sei. Kenapa?"
"Tidak berminat."
Reo mengangguk curiga. Ujung bibirnya membentuk sedikit kurva.
"Ngomong-ngomong, temanku punya adik perempuan yang pintar, cantik dan sopan. Mau kukenalkan dengannya?"
"Tidak, terimakasih."
"Eh? Kenapa?"
Umpan telah dilempar. Dan Mibuchi Reo menunggu kailnya disambar dengan sabar.
"Aku tidak mau."
Binggo!
"Duh! Aku jadi meragukan orientasi seksualmu, Sei-chan."
Seijuuro diam; memilih mengabaikan ocehan kosong sepupunya. Sementara pihak yang diabaikan justru tertawa kecil. Nampak sangat senang hingga bijih obsidian di rongga matanya berbinar-binar.
Aku benar, ia bersorak dalam hati.
Hari keempat belas
Melintasi rute familiar bukan hal yang terlalu menyenangkan bagi Akashi Seijuuro. Setelah seharian disibukkan oleh setumpuk kegiatan, fokusnya terpaksa menyatu pada hal yang empat hari terakhir ia abaikan.
Dusta jika Seijuuro tak mau mengaku. Ia bahkan bisa menghitung dengan tepat; dibutuhkan berapa detik sampai mobil yang membawanya menyapa gerbang tempat itu—
—taman yang memberinya kenangan buruk.
Oh, anggaplah mood Sang Akashi belum sepenuhnya membaik. Laju roda yang seperti terpengaruh efek slow motion, seakan memberi alasan bagi satu dorongan kuat. Mati-matian Seijuuro menahan; toh kepalanya tetap bergerak tanpa komando.
Sang Pewaris tahta Akashi menoleh. Tepat ketika seleret aqua marine menyambangi mata.
Dia ada di sana.
Duduk di tempat Seijuuro biasa memaku diri. Hanya dengan sebongkah biola murah sebagai teman. Surai langitnya menari di bawah sorot lampu; mempercayai hembus angin malam sebagai guru.
Setitik rasa menggelitik. Rahang Seijuuro terkatup erat. Ia tahu Si Biru menanti—
—dalam ilusi.
Semua realita berubah kosong saat Seijuuro mengerjap. Yang terhampar hanya siluet taman kosong tanpa penghuni. Tak ada siapa pun di sana.
Apa-apan itu? Fatamorgana? Kenapa bisa?
Sayang, Seijuuro terlalu angkuh. Sekalipun kilat rindu memanipulasi matanya; tak ada toleransi di benaknya.
Satu doktrin kuat mengakar telah jadi pondasi. Tentang bagaimana pola pikir seorang Akashi mengkastakan posisi.
Sadari tempatmu.
Bersikeras mengacuhkan bisikan hati yang meronta ingin waktu berhenti; Seijuuro memalingkan wajah dan tak pernah menoleh lagi.
Hari kelima belas
Reo sangat berisik siang ini. Ribut lapar, ribut gerah, ribut apa saja. Seijuuro mengancam akan membunuhnya dan mengubur mayatnya di kebun belakang jikalau Reo tak mau diam.
Keduanya Kini tengah menapaki teraso putih, menuju satu ruangan di balik dinding. Aroma karbol menyengat adalah ciri khas tempat yang tak pernah disukai Akashi Seijuuro. Sejak dulu hingga sekarang.
Tempat ini—
Seijuuro nyaris terlena euforia masa lalu. Di mana slide-slide gambaran peristiwa bermunculan tanpa diminta; sementara langkahnya berkejaran menimpa lantai yang sama; lengkap dengan air mata berurai penanda duka.
Saat itu, Akashi Seijuuro menjajal pahitnya kehilangan pertama.
"Sei-chan."
Sihir kenangan telah berakhir. Lautan rubi yang nyaris hampa kembali terisi cahaya. Reo telah menariknya keluar.
"Kau melamun?"
"Tidak. Hanya teringat sesuatu."
Mulut Reo membulat. Tak lagi bertanya hingga keduanya tiba di tujuan.
Si Surai Hitam meraih handle pintu, hampir membukanya saat terdengar sepenggal dialog dari dalam ruangan.
"Pikirkan baik-baik. Ini kulakukan demi keselamatannya."
"Aku ragu dia akan menuruti ide ini."
"Paksa saja."
"Kau akan menyesal, Nijimura."
"Aku akan lebih menyesal jika gagal menyelamatkan pasienku."
Sulung Mibuchi tertegun sejenak, lalu melirik sosok di sampingnya; hendak meminta persetujuan apakah mereka harus masuk atau menunggu. Karena dialog yang berlangsung di dalam sepertinya cukup serius.
Seijuuro hanya berisyarat untuk menepi. Reo langsung mengerti.
Tak sampai lima menit, pintu ruangan terbuka dari dalam. Sosok bertubuh tinggi—nyaris menyamai Daiki—terpapar dalam ruang pandang.
Rambut merah berpangkal hitam. Alis tebal bercabang. Sorot mata yang tajam, namun tak fokus. Keberadaan Reo dan Seijuuro di sisi pintu terabaikan lantaran sosok itu terlalu sibuk dengan ponselnya. Tetap begitu sampai ia melangkah; tanpa menyadari bahwa sebaris kalimat dari bibirnya mampir ke ruang dengar Seijuuro.
"Bisakah malam ini kau tidak pergi? Kita perlu bicara, Kuroko."
Panggilan Reo memecah perhatian Si Tuan Muda dari sosok yang telah lenyap di ujung koridor. Seijuuro bergegas mengikuti sepupunya, sembari berusaha menentramkan gejolak aneh yang terasa sejak satu nama asing melesak ke telinganya.
Kuroko.
Hari keenam belas
Akashi Seijuuro tak pernah menuntut kebebasan pribadi. Sejak kecil ia dibesarkan untuk menaati peraturan. Hanya ada satu syarat yang ia ajukan sebagai ganti dari kepatuhan mutlaknya.
Basket.
Selama basket tidak direbut paksa, maka Akashi Seijuuro tidak akan melakukan kudeta.
Dan malam ini, Si Merah cukup kesal pada dirinya.
Ketika bosan menyapa, kenapa ia tidak bermain basket saja di halaman belakang? Kenapa kakinya harus menuntunnya untuk datang lagi ke sini-ke tempat ini ?
Hembus napas lelah menguap. Seijuuro nyaris berbalik arah ketika mendapati dirinya terpaku di depan gerbang besar bertuliskan Taman Kota.
Apa-apaan ini?
Guguran daun kering bergemerisik. Seijuuro menarik mantelnya lebih erat; berusaha menahan angin malam yang cukup menggigit. Tak ada gunanya ia melanjutkan tujuan. Sudah hampir pukul 10 malam. Tak akan ada apapun di sana selain hewan malam dan pepohonan.
Tak akan ada siapapun di dalam sana.
Namun, satu suara yang kemudian terdengar samar bukanlah buaian. Sepasang rubi kini sedikit terbelalak.
Tidak. Ia tidak salah. Ini bukan lagi ilusi seperti tempo hari.
Ya, benar.
Ini sebuah kenyataan.
Karena saat Seijuuro tiba di lokasi sumber suara, ia seratus persen yakin matanya tak lagi berdusta.
Dia ada di sana; di tempat biasa ia menjual melodi sumbangnya. Rumah biola terbuka, menampakkan jejeran 6 kotak penanda jumlah pertemuan mereka. Sementara biola kayu di bahunya terus menjerit lara.
Entah kenapa suara itu, suara biola itu, membuat Seijuuro merasakan sensasi ganjil.
Apa ini?
Kenapa tiba-tiba muncul rasa khawatir ?
Kenapa tiba-tiba datang rasa takut kehilangan?
Kenapa...rasanya seperti...sosok biru itu akan segera lenyap...bersatu dengan malam?
Seijuuro tersentak.
Pemikiran macam apa itu ?
Permata rubi pun tak menunggu waktu sampai berhadapan dengan bola biru yang selalu merefleksikan teduh lautan. Sekuat tenaga, Sang Akashi Muda berusaha untuk tidak tenggelam di dalamnya.
"Doumo. Konbanwa."
Sungguh. Ada yang salah di sini. Bagaimana mungkin sebuah sapaan singkat bisa terdengar begitu merdu ?
"Maaf, Tuan-"
Bibir tipis itu mengucap ragu. Manik lazuardinya bergulir kanan kiri, serba salah.
Dan Seijuuro sudah bosan untuk berpura-pura. Segera ia langkahkan kakinya semakin mendekat, hingga jarak di antara mereka melebur; tersisa beberapa meter belaka.
"Akashi—", ada jeda sejenak, "—Seijuuro."
"Saya—", sebuah kelegaan terpancar dari safir muda, "—Kuroko Tetsuya."
Eh? Kuroko?
Kerutan kening tercipta di wajah tampan Seijuuro. Namun, segera teralih saat Sang Safir kembali bersuara.
"Yoroshiku, Akashi-kun."
Senyuman manis, tatapan hangat dan panggilan lembut. Seijuuro tak pernah mengira nama keluarganya bisa terdengar seindah malam ini.
Tampaknya, seseorang telah ditakdirkan untuk meluluhkan ego seorang Akashi.
Hari ketujuh belas
Shintaro kembali mendapatkan ajakan untuk bermain shogi. Awan kelabu yang sempat bergelayut di wajah Akashi Seijuuro sudah bergeser. Dari binar mata yang kembali cemerlang, Shintaro tahu bahwa kaptennya telah kembali pada mood normal.
Ah, Oha-Asa memang tak pernah meleset.
"Hari ini Sagitarius berada di urutan pertama-nodayo. Dan kebetulan aku membawa benda keberuntunganmu."
Jemari lentik Shintaro menepuk buku catatan yang tergeletak di samping papan shogi.
"Eh? Benarkah?" Seijuuro tersenyum kecil. "Padahal kupikir benda keberuntunganku hanya secarik kertas lusuh bertuliskan Kuroko Tetsuya," senyuman kecil yang tadi masih ada telah berganti seringai tipis.
Shintaro menaikkan bingkai lensa dengan ujung jari.
Tak perlu banyak tanya, Si Hijau yakin nama tadi telah menjadi harta.
Menit berikutnya, terpaparlah sebuah kisah klasik tentang janji yang dianggap telah diingkari secara sepihak. Hingga pihak tersebut merasa sangat bersalah dan rela menanti selama lima malam berturut-turut. Melawan dingin demi sebuah pertemuan. Tak peduli melodi sumbangnya tak dihargai. Tak peduli jika keputusannya berakhir sia-sia.
.
.
.
"Mau sampai jam berapa kau bertahan di sini?"
"Sampai kau datang, Akashi-kun."
"Bagaimana kalau aku tidak datang?"
"Aku akan tetap menunggu. Mungkin sampai dua atau tiga jam kemudian."
Sepasang rubi terbelalak mendengar penuturan polos yang diucapkan tanpa beban. Sebuah kenyataan yang tak pernah terlintas dipikirannya mengenai penantian yang dibingkai apik oleh kesabaran.
"Jadi, Tetsuya-kau?"
"Maafkan aku, Akashi-kun.
Safir muda dan merah darah bertatapan. Ada jalinan rasa menyambangi ketika kontak mata tak juga diakhiri. Di dalam warna langit musim panas itu, Sang Pewaris menemukan kejujuran.
"Aku...benar-benar merasa bersalah hari itu, Akashi-kun. Aku tak bisa mengabarimu. Dan saat kupikir Akashi-kun mungkin saja membenciku, aku—"
Tak bisa menerimanya.
Tanpa perlu diucapkan, Seijuuro seperti dapat mendengar kata yang tergantung diujung lidah. Detik itu juga, ia sebutkan alamat email beserta nomor ponselnya.
.
.
Midorima Shintaro bukan peramal. Kisah yang didengarnya pun hanya sepenggal curahan hati teman baik yang sedang dilanda euforia manis sebuah pertemuan.
Tapi, justru di sanalah benang merah terurai.
Dari cara Seijuuro menganggap dirinya dikhianati; atau dari cara Si Biru yang bernama Kuroko Tetsuya tegar menunggu seorang diri; itu saja cukup meyakinkan Shintaro bahwa hubungan yang tengah terjalin ini berpotensi untuk terus berlanjut.
Hari kedelapan belas
Akashi selalu benar.
Akashi selalu menang.
Akashi tak mengenal kekalahan dalam setiap pertaruhan.
Dan malam ini, terbukti, Si Biru mampu mencapai ekspektasi seorang Akashi.
Senyum Seijuuro terkembang mengamati sosok pemuda biola yang tengah larut dalam permainan. Tak pernah sedikit pun manik rubi Si Surai Api teralihkan. Kemauan keras Tetsuya membius melalui alunan sonata biola No.6 milik Niccolo Paganini.
Suguhan yang tetap memukau kendati penuh perhitungan.
Seijuuro sengaja mengganti sonata yang semula ia ingin Tetsuya mainkan. Karena sesungguhnya, ia ingin Tetsuya merasakan. Sebutlah ia kejam; Akashi Seijuuro hanya ingin goresan kekecewaan yang masih tersisa di sudut hatinya dapat tersampaikan.
Dan sonata ini cukup untuk mewakili apa yang Si Merah inginkan. Karena dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat setetes bulir bening meluncur dan jatuh di ujung dagu Kuroko Tetsuya.
Kau dan aku—sekarang kita telah merasakannya.
Suara biola terhenti beberapa saat kemudian. Sunyi senyap kembali turun ke bumi. Seijuuro menghampiri Kuroko Tetsuya yang masih tegak berdiri, jelas berusaha menetralkan emosi yang terbawa suasana.
Dengan jemari tangannya sendiri, Seijuuro memagari pipi putih Si Violis Manis. Perlahan, ia menghapus jejak air di wajah berekspresi datar yang kini terluka oleh rangkaian nada.
"Sonata ini...kejam, Akashi-kun."
Seijuuro hanya tersenyum kecil, merasakan genggaman jari-jari mungil yang mendarat di punggung tangannya.
"Permainanmu bagus, Tetsuya."
Saat kedua tangan itu berpagutan, ada getar aneh yang mulai menjalar. Seperti sebuah sengat yang merambat melalui ujung syaraf dan pembuluh nadi.
Getaran yang terasa nyaman, ibarat duduk di tengah padang bunga luas berteman hembusan angin musim semi.
Hangat. Sejuk. Menenangkan.
Seijuuro dan Tetsuya masih terlalu muda untuk memahami arti gejala yang terasa. Tanpa melepaskan genggaman tangan mereka, senyuman semakin berakar kuat di paras tampan Sang Tuan Muda. Sementara wajah manis Tetsuya semerah surai pemuda di hadapannya.
Hari kesembilan belas
Kedekatan dengan seseorang seringkali menjadi penyebab utama semakin banyaknya hal yang akan dibagi bersama.
Dan kebenaran dalam statement itu telah dibuktikan sendiri oleh Akashi Seijuuro yang mulai berani menyita waktu Kuroko Tetsuya di luar kebiasaan. Kali ini, diajaknya pemuda biola itu untuk ikut ke lapangan basket di belakang sekolah. Ia dan timnya akan bermain street basketball di sana.
Semua berawal saat obrolan mereka kemarin malam mengarah pada hobi. Ternyata, Seijuuro dan Tetsuya memiliki hobi yang sama—basket.
"Suatu hari, aku ingin bisa bermain bersama Akashi-kun dan team-mu juga," Tetsuya menutup penjelasan Seijuuro tentang basket Teiko dan tim yang dipimpinnya.
Hari itu, Tetsuya mendapat kesempatan untuk bersinggungan langsung dengan bagian kecil kehidupan seorang Akashi Seijuuro. Berkenalan dengan warna lain selain merah : hijau, ungu, kuning dan navy blue.
Ryota tak henti-henti melambungkan 'Kurokocchi~' (nama panggilan bagi Si Biru) sebagai bentuk penerimaan yang bersahabat.
Daiki tak mau kalah, pemuda berkulit eksotis itu menunjukkan sikap friendly dengan mengajari Si Pendatang Baru teknik dalam bermain basket.
Atsushi bahkan merelakan sebungkus maiubo keramatnya sebagai hadiah penyambutan. Hanya Shintaro yang menunjukkan sikap tak terlalu peduli setelah berdiplomasi singkat :
"Oha-Asa bilang Cancer tidak cocok dengan Aquarius. Jaga jarakmu denganku, minimal dua meter. Aku tak mau terkena sial karena seharian berdekatan denganmu," dalihnya.
Padahal tiap kali Ryota mulai berlebihan dengan main peluk Si Biru sesuka hati, justru Si Hijaulah yang paling rajin mengomeli. Seijuuro hanya mengamati dalam diam, terlalu sibuk meyakinkan diri bahwa ia memang sedang melihat pelangi.
Menjelang sore, bola basket orange baru berhenti menggelinding ke sana kemari. Keenam remaja berbeda surai pun bersiap-siap untuk pulang.
"Yo, Tetsu, lain kali bermainlah bersama kami lagi."
"Benar, Kurokocchi. Bermain basket denganmu sangat menyenangkan-ssu."
"Kurochin, besok giliran kau yang harus mentraktirku maiubo, ya. Jangan lupa."
"Lain kali bawa benda keberuntunganmu, Kuroko. Supaya kau tidak kalah telak seperti tadi-nanodayo."
Perpisahan itu melahirkan senyum tipis di wajah datar Tetsuya. Seijuuro mengantarnya sampai halte bus terdekat. Tetsuya bilang dia sudah di jemput.
Seijuuro ingin bertanya lebih lanjut; tentang mengapa Tetsuya sampai harus dijemput; namun batal. Pihak yang dimaksud Si Biru telah menunggu.
"Kagami-kun, Furihata-kun, maaf sudah merepotkan kalian."
Satu orang berambut merah, satu orang berambut coklat. Yang berambut merah dengan alis bercabang bertampang serius, sedangkan yang berambut coklat dan lebih pendek tersenyum tipis.
"Dan ini, Akashi-kun, yang sering kuceritakan."
Seijuuro menerima tatapan meneliti dari Si Alis Bercabang. Ia membalasnya separuh mengintimidasi, yang justru membuat sosok ketiga meringis ngeri.
"Perkenalkan, aku Kagami Taiga."
"Aku Furihata Kouki. Salam kenal."
"Akashi Seijuuro."
Dengan itu, Kagami Taiga menarik Tetsuya mendekat.
"Ayo kita pulang, Kuroko."
Dari jauh, crimson Seijuuro tak lepas menekuni sosok kurus Tetsuya diiapit penuh proteksi. Entah mengapa, gesture itu tampak terlalu membatasi. Membuat Si Biru terkesan jauh untuk digapai.
Seijuuro sama sekali tidak menyukainya.
Hanya lambaian tangan Tetsuya yang sedikit menentramkan Sang Akashi Muda. Itu pun dari balik jendela bus, beberapa detik sebelum siluet pemuda biola itu dibawa pergi.
Seijuuro mendadak ingin meremukkan sesuatu dengan kepalan tangannya.
Hari keduapuluh
"Ini―apa?"
"Osteosarkoma. Stadium tiga."
Kerutan kening diumbar Nijimura Shuuzo. Air muka Seijuuro membuatnya heran bukan kepalang.
Tidak mungkin putra semata wayang Akashi itu tak pernah mendengar istilah yang baru saja diucapkan barusan. Pemuda merah itu jenius, bahkan lebih jenius dari Shuuzo yang kini telah menyandang gelar dokter.
Jadi, kenapa terkejutnya berlebihan ?
Kunjungan hari itu pun berujung galau. Seijuuro pulang tanpa alasan. Shuuzo hanya tahu ada sesuatu dalam status pasien di genggamannya, yang membuat pemuda tampan bersurai merah itu pucat seketika.
Tepat saat tatapan penasaran Sang Dokter Muda jatuh di atas sederet nama, ia pun mendesah lelah.
"Dasar, Haizaki memang tak becus kerja!"
Sejenak, Putra Sulung pemilik Nijimura Central Hospital itu tertegun, mengetuk-ngetukan ujung jarinya di atas meja. Ia tengah memutar otak, mengobrak-abrik memori, berharap ada satu petunjuk yang mungkin terselip.
Ah, rasanya dia ingat sesuatu. Reo pernah mendiskusikan hal itu.
"Nijimura, ini file yang―"
Kebetulan sekali.
"Kau cukup bernyali juga untuk menunjukkan muka di depanku setelah membuat kesalahan fatal, Haizaki-kun."
Sufiks di akhir namanya mengandung ancaman. Haizaki Shougo memaki dalam hati.
Sial, keteledoran apa lagi kali ini?
"Jangan pernah mengemis padaku dan minta dibebaskan, jika suatu saat kau dijebloskan ke penjara, ya."
Pemuda surai abu yang masih tertegun berdecak malas. Diraihnya status pasien yang teronggok di atas meja.
"Memangnya gara-gara siapa aku bisa sampai salah menyortir, hah?"
"Berani sekali kau mendebatku, Shougo-kun."
Penekanan dalam namanya tak membuat Haizaki Shougo meringkuk ketakutan. Dia bukan tipikal orang yang langsubg gemetar karena ancaman.
"Aku tak pernah takut padamu, Nijimura."
"Rupanya kau perlu dihukum," Shuuzou melukis senyum tipis di ujung bibirnya. "Tapi, sekarang ada yang perlu kau urus lebih dulu. Coba saja tolak perintahku kalau kau mau jadi mainan Imayoshi di ruang autopsi."
Dialog singkat antara dokter dan part timer di ruangan itu berakhir dengan decihan.
.
.
.
*Tbc*
Halo, readers..
Relya's here...
Maaf, update-nya terlalu lama. Saya sedang galau mencari sonata biola buat dimasukkin di fic ini. *alasan*
Ada yang punya rekomendasi? :-)
Terimakasih buat semua readers yang telah mem-follow dan mem-fave, juga meluangkan waktu untuk melirik ke fic abal ini.
Untuk Freyja Lawliet, , shota nogami, , Bona Nano, Kurotori Rei, , miss horvilshy, kaiirin, KazukiNatsu yang mau login tapi gagal mulu, candyAme, AzurA, yolanda. Semua review yang masuk telah menjadi cambuk kecil bagi saya untuk tetap semangat dalam menulis. Dan untuk S. Hanabi, meskipun belum ketemu yang aku cari, tapi tetep, terimakasih banyak atas bantuannya... (^_^)
Hontou ni arigatou, minna-san...
Yosh, sampai jumpa di chapter berikutnya...
Jya nee~
Preview :
Thirty Days
By
Relya Schiffer
Chapter 3 : The Twenty First Until The Thirtieth
.
.
.
"Akashi-kun, apakah pernah jatuh cinta?"
.
.
"Aku harap kau sadar bahwa kau jatuh cinta pada seorang pemuda, Seijuuro."
.
.
"Biola ini milik Ogiwara-kun."
.
.
"Dan kau menyayanginya, kan?"
.
.
"Hentikan, Kuroko."
.
.
"Kenapa? Kenapa tidak bisa?"
.
.
"Karena yang terpenting adalah kebahagiaanmu."
.
.
"Kalau aku bilang, aku mencintaimu, apa kau percaya ?"
.
.
"Itu―bohong, kan?"
.
.
"Ikutlah denganku, Tetsuya."
.
.
"Sayonara."
(^_^)/
