Hai~ Ucchan balik lagi nih~! Kali ini membawa chapter 2! PANJANG BUANGET!
Mm, kayaknya ada banyak alur yang memaksakan diri. Jadi tolong review ya, Ucchan mau tahu pendapatnya! Kkk~~
Oh ya, disini mungkin ribet bacanya. Kalau iya, mian… Ucchan masih pemula… Geegee, Ucchan lebih jago baca daripada nulis! #PLAK!
Hem, hem~ makasih banyak review dan bantuannya! Ucchan akan berusaha semakin memperbaiki! Uuugh~ endingnya udah dapet… tapi jalan ceritanya Ucchan masih bingung… jadi maaf ya, kalau Ucchan ngelanggar janji. Bukan fourshoot lagi! Tapi multichapter… Ucchan usahain agar cepat kelar!
Dan yang 'Can I Replace Him?' itu agak macet. Soalnya kepala Ucchan blank sih… jadi mian bagi yang nunggu. Ucchan akan usahakan secepatnya!
Ne, RnR pleease~~!
Ucchan persembahkan:
A Deathly Bet
Pair: HanChul, Other SuJu Pair
Rated: T~
Genre: Romantic, Hurt/Comfort, General
DISCLAIMER: Tuhan, ayah ibu mereka, SMEnt, Elf (Jadi mereka punya Ucchan juga~*PLETAK!*)
WARN: Gaje, alur membingungkan, bahasa Korea yang minim kebenarannya, plot rumit, YAOI, BL!BOYSLOVE!
DIDN'T LIKE? DON'T READ!
Happy Reading, chinguu~
HANGENG POV
Aku berjalan dengan santai ditengah ramainya jalanan Seoul malam itu. Aku diminta ummaku untuk membeli roti. Dengan senang hati kulakukan. Aku sangat sayang pada ummaku. Appaku sedang bekerja di luar kota, tepatnya di daerah Cheonan. Jadi hanya aku dan ummaku yang tinggal di Seoul.
Pikiranku sedang kalut. Ya, besok adalah giliranku mendekati Cinderella–atau begitu nama yang kudengar. Ketiga temanku telah gagal dengan sukses. Menyisakan aku. Ommo… aku tidak selucu (?) Donghae, sekeren Eunhyuk, ataupun setampan Kyuhyun! Sudah dipastikan besok aku akan mati gaya. Siapa saja! Tolong aku! Bukan mauku untuk ikut-ikutan sama taruhan gaje begini! Cuma gak sengaja… andai kutolak sejak awal…
Akhirnya aku hanya bisa mendengus kesal. Setelah sampai didepan sebuah toko roti yang cukup murah, aku segera masuk untuk membeli roti pesanan ummaku. Hmm~ beli roti yang mana ya? Roti prancis untuk umma, roti sosis untukku, dan roti gandum untuk kami berdua, kurasa cukup baik.
Selesai membayar, aku melesat keluar. Sial. Hujan turun dengan luar biasa deras. 'Untung aku bawa payung…' batinku sambil mengeluarkan payung hitam bercorak tengkorak berwarna merah darah. Dengan santai aku berjalan pulang sambil menenteng tas plastik berisi roti. Udaranya menjadi luar biasa dingin. Aku merapatkan jaketku untuk menghangatkan tubuhku yang mulai menggigil.
Langkahku terhenti saat mendengar sumpah-sumpah serapah. Kulirik. Ha? Bukankah itu… Heechul…? Si Cinderella itu?
HEECHUL POV
"Hujan brengsek! !#!% #^ $## &*!" pekikku frustasi.
Sial! Kenapa turun hujan deras begini! Ck! Terjebak dibawah pohon saat hujan besar begini?! Benar-benar menyebalkan! Kalau begini aku bisa terlambat pulang dan dimarahi appa lagi! Sheesh… apa kuterjang saja ya…
"Ano… kau Heechul sunbaenim 'kan…?" aku mendongak. HA?! Itu 'kan murid baru nggak tahu diri yang menabrakku dulu?!
"MWO?!" bentakku kesal.
"Ah, ani. Saya hanya ingin menawarkan payung." Jawab namja itu. tampak tidak takut sama sekali padaku, tapi tetap sopan. Hmm…
"Shirreo! Aku tidak mau menerima payung murahanmu itu, dasar brengsek!" tolakku dengan kasar. Setelah mendapat teriakan kasarku tadi, pasti namja ini akan langsung meninggalkanku!
"Hajiman… sunbaenim akan kehujanan." balas namja itu memaksa. Tampak tidak memperdulikan kata-kata kasarku tadi.
"MWO?! Kau berani memaksaku?! Lagipula, aku ini-"
KRUYUUUK~~~
Sial! Aku memang belum makan dari tadi! Geez! Tapi kenapa harus disaat seperti ini?! Perut nggak bisa diajak kompromi! Wajahku memerah karena malu. Aku langsung menunduk.
"…" hening, aku mengangkat kepalaku untuk melihat ekspresi namja tadi.
"MWO?! Berani sekali kau tersenyum mengejek begitu, brengsek!" bentakku kesal.
Namja itu hanya tertawa kecil, lalu mulai membuka kantung plastik ditangannya. Diambilnya sebuah roti sosis yang tampaknya masih hangat. Tanpa sadar, aku menelan ludahku.
"Ini, buat sunbaenim," ujarnya sambil menyodorkan roti itu kehadapanku.
"MWO?! Shirreo! Aku tidak lap-"
KRUYUUUUK~~!
"AIISH! Menyebalkan!" jeritku frustasi saat perutku sekali lagi mengkhianatiku.
"Hahaha, sudah tidak apa-apa. Ambil saja," aku menatap dark chocolatenya, berusaha menemukan akal bulus dalam mata itu. Tapi yang kulihat hanya… ketulusan…
Ahirnya dengan ragu, aku mengambil roti yang tadi disodorkannya. Kubuka bungkusannya, dan tanpa basa-basi langsung melahapnya. Enak~
Namja itu memandangiku dengan senyum manis. "Ya sudah. Saya pulang dulu, sunbaenim. Ini payungnya," ucapnya sambil memberi paksa payungnya padaku.
"Ehg?! Chawkummah!" (Read: Eh?! Chakumma! *Kalau nggak salah artinya 'Tunggu!'*) aku hendak menahannya, tapi namja itu sudah lari menjauh ditengah derasnya hujan. Lagipula aku kerepotan. Tangan kananku memegang roti sosis yang tinggal setengah, sementara tangan kiriku memegang payungnya. belum lagi mulutku sedikit penuh dengan roti sosis yang belum sempat kukunyah. Aku menatap payung namja tadi dengan pandangan yang aku sendiri tidak mengerti…
READER POV
Pagi hari di SM HS. Tapi sesosok namja cantik siswa kelas tiga telah mondar-mandir disekitar lorong kelas satu. Ditangannya ada sebuah payung hitam bercorak tengkorak merah. Tampaknya dia sedang mencari seseorang. Wajahnya gelisah.
"Ck! Dimana sih namja itu?" desisnya kesal. Dipelototinya setiap anak kelas satu yang dia lihat. Tak ayal itu membuat banyak murid lebih memilih cabut dari situ, daripada bermandikan tatapan menyeramkan Heechul –nama namja cantik itu.
"Ah? Bukankah kamu Heechul sunbaenim?" sebuah suara bass terdengar. Heechul menoleh. Didepannya berdiri namja yang sedari tadi ditunggunya! Namja itu menatapnya heran dengan sebuah tas selempang berwarna hitam melingkar ditubuhnya.
"AAH! Kamu! Datang juga! Aku sudah menunggumu dari tadi tahu!" sungut Heechul kesal. "Ini, payungmu. Gamsa!" Heechul mengulurkan payung itu sambil membuang muka.
"Eh…? Ah, tidak perlu sunbaenim. Simpan saja, " ujar namja itu sambil tersenyum manis.
"Hah?! Kau pikir aku semiskin itu hingga untuk beli payung saja nggak bisa?! Heh! Enak saja! Kau in-"
"Saya tidak berpikir begitu kok. Sunbaenim… saya hanya berharap sunbaenim mau menyimpannya. Anggap saja permintaan maaf saya karena pernah menabrak sunbaenim."potong namja itu cepat.
"…" Heechul memandang namja didepannya dengan tatapan tidak percaya.
"Ne, kalau begitu saya permisi dulu, sunbaenim. Annyeong," namja itu menunduk hormat, lalu berjalan melewati Heechul yang masih terpaku.
Saat namja itu hampir menghilang, Heechul berteriak tanpa bergeming dari posisinya, "Siapa namamu…?"
Namja itu menoleh. Senyum mengembang dibibirnya –yang tentu saja tidak dilihat Heechul, "Hankyung. Je ireumeun Hankyung imnida." jawab Hankyung sebelum benar-benar berlalu.
"Hankyung ya…" Heechul menatap payung ditangannya. 'Yunho ah… perasaan apa ini…?
"Hankyung ah… apa yang terjadi?" tampak dua orang namja yang tengah mengintrogasi Hankyung. Hankyung tersenyum kecil. Baru saja dia masuk kekelasnya, dia sudah disuguhi pelototan dua namja yang merangkap sebagai temannya ini. Kelas sunyi. Sepertinya yang lain sedang berkeliaran diluar kelas –tentu karena tatapan penuh cinta Heechul.
"Mwoya?" tanyanya pura-pura tidak tahu.
"Kenapa kau bisa tampak akrab dengan si nenek sihir itu?!" Kyuhyun menatapnya dengan pandangan heran.
"Hush! Tidak sopan! Eh iya. Kenapa Heechul sunbaenim menemuimu tadi?!" Tanya Eunhyuk setelah menjitak Kyuhyun.
"Entahlah," Hankyung hanya tersenyum manis. Awww, pengen Ucchan bawa pulang deh!#PLAKK!
"Geez, pura-pura tidak tahu! Oya, si Donghae mana?" Tanya Kyuhyun sambil celingukkan.
"Iya, biasanya dia sering datang pagi. Tumben jam segini belum datang. Apa dia ketiduran ya?" Eunhyuk membenarkan ucapan Kyuhyun.
Hankyung hanya mengedikkan bahu. Ketiga namja itu menatap sebuah bangku kosong, yang harusnya telah ditempati oleh namja manis itu. Lee Donghae…
BRAK!
"Waa, Hae! Jangan bikin kaget gitu dong! Kau in– ?... Hae, kau baik-baik saja…?" Eunhyuk kaget melihat keadaan sahabatnya itu.
Donghae tidak menjawab. Masih mencoba mengatur napasnya. Matanya membulat, dan keringat dingin mulai mengucur. Rambutnya acak-acakkan. Wajahnya memerah.
"Hae? Gwenchanayo…?" Hankyung menghampiri Donghae dengan khawatir. Kyuhyun dan Eunhyuk hanya menatapnya dengan cemas.
"…Ani… gwenchana…" jawab Donghae berat. Ommo, anak sd juga tahu, dia tampak tidak baik-baik saja!
Tiba-tiba Donghae langsung memeluk Hankyung sambil menangis.
Hankyung hanya terdiam. Dia tidak mau bertanya. Takut salah bicara. Tangannya mengelus rambut Donghae, sementara kedua temannya yang lain mulai mendekati mereka.
Sebenarnya ada apa dengan Hae? Ayo. Kita kembali ke 10 menit yang lalu…
DONGHAE POV
Aku berjalan dengan tergesa-gesa. Gaswat! Aku belum bikin pr Matematika! Mampus, mana jam pertama lagi! Sheesh, kenapa harus bangun kesiangan disaat seperti ini?!
Aku melangkahkan kakiku memasuki gerbang. Tiba-tiba langkahku terhenti, saat seseorang menahan tanganku. Aku menoleh.
OMMO! Siwon! Choi Siwon! Namja yang selama ini selalu menarik perhatianku. Awww, dia tampan sekali… wajahku memanas.
Eh? Tapi kenapa dia menahanku? Lebih tepatnya, kenapa dia MENCENGKRAMKU?! Aiigoo! Aku lupa! Dia ini temannya si Heechul! Tuhan, sampai sinikah umurku…?
"Sunbaenim, lepas…"
"Ikut aku!" desisnya dengan wajah dingin. Sontak itu membuat nyaliku ciut.
Tuhan, Tuhan… Hae janji nggak bakal nakal lagi. Akan jadi anak baik yang penurut. Juga rajin belajar, dan nggak bakal kabur setelah neken bel rumah Lee So Man Ahjussi lagi. Jadi tolong selamatkan Hae! Aku komat-kamit membaca segala macam doa yang kutahu. Aku hanya bisa pasrah mengikuti sunbaenimku yang cakep ini. Sayang, dia terlihat sangat menyeramkan sekarang!
BRUGH!
"Ukh!" rintihku saat punggungku beradu dengan dinding beton. Ha? Ini… bukannya ruang OSIS ya? Ugh, aku tidak bisa berontak! Tanganku dikunci oleh Siwon! Yikes! Kalau aku mati disini sekarang juga, takkan ada yang percaya kalau sunbaenim lah yang membunuhku! Kalau gini caranya, aku bakal jadi arwah penasaran! Nggak bakal pulang-pulang ke alam baka! Umma~~~
Caramelku bertemu dengan chocolatenya yang menawan. Aku langsung memalingkan wajahku dengan wajah merona karena malu.
"Lee Donghae,"
Aku mendongak. Dari mana dia tahu namaku?
Seakan mengerti arti pandanganku, Siwon berkata, "Aku tahu namamu dari surat 'cinta'-mu itu,"
Ooh, aku hanya mengangguk mengerti. Siwon memandang intens wajahku. Hal itu semakin membuatku gugup. Dan, kejadian berikutnya mampu membuat jantungku serasa berhenti berdetak.
Bagaimana tidak? Sunbaenim menciumku! Tepat dibibir!
"Um!" Siwon mulai melumat bibirku yang sudah memerah.
"Eungh, mh…" desahku, saat Siwon mulai menggigit bibirku yang membengkak.
Aku menutup mulut rapat. Tidak mengijinkannya untuk masuk. Enak saja! Biarpun tampan, tapi dia telah dengan seenaknya mengambil first kissku! Ah bukan. Ini ciuman keduaku. Ciuman pertamaku dengan seorang anak laki-laki saat umurku 4 tahun. Btw, aku bukan namja murahan!
Sadar aku tidak akan mau membuka mulutku, Siwon dengan sadis memencet hidungku, sehingga aku tidak bisa bernapas. Kucoba untuk melawan, sayang. Tenaganya lebih besar!
"Aah! Umph!" akhirnya aku membuka mulutku karena kehabisan oksigen. Langsung saja Siwon menyerangku. Dia memasukkan lidahnya dan memainkannya dalam mulutku.
Ommo… dia hebat… pasti dia sudah sering melakukannya dengan orang lain…
Tanpa sadar, aku mulai terbawa suasana. Aku memulai perang lidah dengannya. Sayang, sekali lagi. Siwon lah yang menang. Aku meremas kemejanya, sementara tangan Siwon melingkar dipinggangku. Semenit berlalu dengan ciuman panas itu.
"Ummph!" aku hampir kehabisan oksigen! Segera kupukul-pukul dadanya. Ommona! Dia masih serius memainkan lidahnya didalam mulutku! Dasar tidak peka!
"S-sunbmh… napash…" aku berusaha menjelaskan padanya, dan syukurlah. Siwon pun akhirnya melepaskan ciumannya. Segera aku berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Sementara itu, Siwon tetap memandang wajahku. Oh Tuhan. Inikah perintah si Cinderella itu?! Merapeku?! Sialan!
Mataku memanas, wajahku juga pasti memerah. Bukan karena tersipu. Aku marah! Dengan sekuat tenaga, aku mendorong Siwon hingga terjatuh. Tak kusia-siakan kesempatan itu. segera aku berlari keluar tanpa menoleh. Aku takut!
Aku berlari kearah ruang kelasku. Tidak peduli pada puluhan pasang mata yang memandangku. Aku sudah terlalu takut!
READER POV
Ya, kira-kira begitulah kejadian yang menimpa uri cutely fishy ini. Sayangnya, ketiga temannya ini masih innocent alias nggak tahu apa-apa.
"Hae… tenanglah. Uljimma…" bujuk Eunhyuk.
"Tapi… tapi… hiks hiks," tangisan Donghae menjadi-jadi. Liquid bening itu mengalir secara deras dari pelupuk matanya. Sungguh! Kejadian tadi itu benar-benar membuatnya trauma! Heechul benar-benar hebat… kalau Donghae bertemu lagi dengan Cinderella itu, Donghae akan berteriak tepat diwajah cantik namja itu –itu juga kalau dia berani!
Akhirnya, ketiga sahabat itu hanya menenangkan Donghae sampai guru Matematika mereka, pak Dragon masuk. Ya, tentu saja pak Dragon kaget melihat penampilan Donghae. Akhirnya Donghae disuruh pak Dragon untuk beristirahat di ruang kesehatan, diantar Eunhyuk.
TREENG TEREEENG~ (Belnya itu bel listrik!#PLAK!)
Saatnya istirahat~! Peristiwa itu disambut dengan suka cita oleh seluruh siswa. Saatnya merilekskan otak, dan melupakan itu segala macam buku-buku sial!
Kyuhyun sedang berjalan santai menuju kantin. Sendirian. Ya, Eunhyuk sedang pergi ke ruang guru untuk mengantar dokumen-dokumen yang diperintahkan oleh TOP Songsaengnim. Sementara Hankyung menemani Donghae yang kelihatan sangat ketakutan kalau ditinggal sendiri.
Kyuhyun melintasi depan ruang tata usaha. Langkahnya terhenti saat seorang guru bernama Dara menahannya.
"Cho Kyuhyun, saya sudah mendengar suaramu. Suaramu sangatlah indah. Bagaimana kalau kau ikut klub musik?" tawar wanita cantik itu dengan senyum mengembang. Dara songsaengnim adalah guru seni musik yang sangat cantik!
"Mianhamnida. Tapi saya tidak tertarik." tolak Kyuhyun dengan wajah datar.
"Begitu ya," terlihat raut kecewa diwajah wanita itu. "Tapi, silahkan kau lihat dulu, ruang klub musik ada di lantai 3 lorong practice. Kalau tertarik, daftarkan dirimu pada Yesung ya," ujar wanita itu, lalu berlalu.
Kyuhyun membulatkan matanya. 'Yesung…? Maksudnya Kim Yesung temennya Heechul sunbaenim ya?' pikir Kyuhyun.
Namja itu memang jarang bertemu sunbaenimnya itu. Kalaupun bertemu, Kyuhyun akan langsung menjauh dari situ. Ya, dia tidak pernah memperhatikan wajah namja yang ternyata manis itu, karena sering mendengar berita miring tentangnya.
Sebuah seringai setan terukir manis dibibir Kyuhyun. Dengan langkah ringan, Kyuhyun mulai melangkah kearah tangga. Tujuannya? Ruang musik, dilantai 3!
"Ini ya?" Kyuhyun menatap plat nama disamping sebuah ruangan itu. 'KLUB MUSIK' begitulah nama yang terpampang.
TING TING TING~
Suara denting piano mengalihkan perhatian Kyuhyun.
'Bunyinya indah sekali…' batin Kyuhyun. Dengan penasaran, Kyuhyun mengintip kedalam ruang itu. Tampak seorang namja manis yang sedang memainkan piano.
Sebuah suara merdu meluncur dari bibir cherrynya, tampaknya dia sedang menyanyikan sebuah lagu. 'Indah sekali suaranya…' batin Kyuhyun. Dia seolah terhipnotis oleh suara indah Yesung. Perlahan dia menutup matanya, menikmati setiap bait lagu yang keluar dari bibir namja manis itu.
Tapi tiba-tiba, suara piano itu berhenti. Kyuhyun membuka matanya dengan heran, 'Kenapa dia berhen-'
Oh tidak. Yesung sedang menatap Kyuhyun dengan sorot yang ketakutan.
"Emmm… mianhamnida, sunbaenim. Kyuhyun imnida." Kyuhyun buru-buru memperkenalkan dirinya.
"A-ah, ne. Yesung imnida," Yesung tersenyum canggung. Tapi tetap saja, senyumnya sangat imut! Pipi Kyuhyun sedikit merona.
"Kalau saya boleh tahu, lagu apa yang tadi dinyanyikan sunbaenim?" tanya Kyuhyun berusaha mencairkan suasana sambil berjalan mendekati Yesung.
"Ah, ini lagu buatanku sendiri. Tapi… aku masih bingung soal nada dan temponya…" jawab Yesung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan berjalan beberapa langkah kebelakang dengan kikuk.
"Oh ya? Boleh saya tahu judulnya?" Kyuhyun masih gencar melancarkan siasat SKSD (Sok Kenal Sok Deket)!
"Coagulation," jawab Yesung setelah sedikit berpikir. "Lagu ini tentang seseorang yang menangis karena harus melepas orang yang dicintainya…" ada nada sedih dalam suara Yesung. Namja itu sedikit menunduk. Kyuhyun menatapnya dengan sorot penuh kesedihan. Dia ingin memeluk Yesung. Tapi? Dia bukan siapa-siapa.
"Ah, mianhamnida. Kau jadi mendengarkanku. Ada apa kemari? Kau butuh sesuatu?" Tanya Yesung sambil tersenyum manis. Terlalu manis! Wajah Kyuhyun merona dengan sempurna.
"A-ano, saya mau masuk ke klub musik," Jawab Kyuhyun setelah mendapat kembali kontrol wajahnya.
"Ne? Tentu kau bisa. Suaramu sangat indah!" ucap Yesung sambil terkekeh pelan. Dia teringat kejadian kemarin, saat Kyuhyun menyanyikan lagu zaman dahulu kala. Sungguh tidak cocok dengan umurnya! Syukurlah, yang dinyanyikan Kyuhyun lagu yang enak di dengar anak zaman sekarang.
"Sunbaenim…"
"Panggil aku hyung saja." titah Yesung saat Kyuhyun memanggilnya sunbaenim.
"Ah, ne. Hyung, bagaimana kalau aku membantumu mengaransemen lagumu itu?" tawar Kyuhyun.
"Eh?" Yesung tampak kaget.
"Ah, saya tidak bermaksud lancang. Kalau hyung tidak mau, saya tidak keberatan…" ucap Kyuhyun sambil memasang wajah –pura-pura– kecewa.
"Ah! Ani, hyung tidak keberatan kok! Kajja! Kita lakukan!" Yesung tersenyum senang. Ditariknya Kyuhyun untuk mendekati piano itu. Kyuhyun hanya senyum-senyum sendiri.
"Kau bisa main piano, Kyuhyunsshi?" Tanya Yesung. Kyuhyun mengangguk. Segera dia mengambil tempat dikursi piano itu. Sementara itu, Yesung sibuk memilah-milah kertas lagu. Jumlahnya yang cukup banyak tampak membuat Yesung repot.
"Ah, ini dia lagunya!" Yesung menarik secarik kertas yang kelihatannya baru, kemudian menunjukkannya pada Kyuhyun.
"Oh, ini ya…" Kyuhyun langsung mencermati lagu itu.
"Jadi?"
"Hnggg… Kurasa genre yang cocok untuk lagu ini ada Ballada dan Pop!" jawab Kyuhyun. Diletakannya kertas lagu itu di atas piano, dan mulai mencari nada yang cocok.
"Boleh aku menambah sedikit liriknya?" Tanya Kyuhyun. Yesung mengangguk menyetujui.
Ting, ting, titing, triiing… (?)
Suara piano mulai mengalin dengan lembut. Secara Ballad, Kyuhyun mulai menyanyikan lagu itu. sedikit merubah nada dan temponya. Yesung menutup matanya. Mencoba mendengar suara charming Kyuhyun. Sungguh, suara ini mampu membuatnya merasa rileks.
Kyuhyun menambah dan mengoreksi sedikit lirik lagu itu, sehingga terasa pas. Lalu sesekali menuliskannya diselembar kertas lain.
Alunan piano yang lembut itu akhirnya berhenti. Kyuhyun telah selesai mengaransemen semua nada dan tempo lagu Yesung. Benar-benar jenius!
Yesung melongo tidak percaya. Dia membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mencari nada dan tempo yang pas –itupun belum selesai! Sekarang Kyuhyun dengan mudahnya mengaransemen lagu itu dalam waktu singkat!
Tanpa sadar, Yesung memeluk Kyuhyun saking bahagianya. Kyuhyun yang kaget, langsung balas memeluk sambil tersenyum senang. Beberapa saat mereka habiskan untuk berpelukkan. Menyalurkan kehangatan dan kesenangan yang tengah dirasakan.
Yesung tersadar, dengan wajah memerah Yesung melepaskan pelukannya. "M-mianhae, Kyuhyunssh-"
"Hyung tidak perlu terlalu formal padaku," Kyuhyun menatap manik mata Yesung. Obsidian dan caramel itu bertemu.
"Ah, n-ne. Kyuhyun ah…" Yesung tampak tidak nyaman dengan panggilan itu.
"Hyung…"
"Mwo?"
"Sarangheyo,"
"Ne– MWOO?! Apa tadi kau bilang?!"
"Jeongmal sarangheyo," setelah itu, Kyuhyun langsung memeluk tubuh mungil Yesung dengan erat. Takut, dia akan harus melepaskannya…
EUNHYUK POV
"Aiiisshhh~! Dasar guru pemalas! Seenak jidatnya menyuruh-nyuruh anak muridnya untuk membawakan barangnya! Keterlaluan!" cicit ku kesal. Kini aku sedang menuju ruang guru. TOP songsaengnim dengan kurang ajarnya, langsung memerintahkanku membawakan dokumen-dokumennya yang berat ini tepat saat melihat tampang cakepku ini (Hyukkie oppa narsis!), sementara dia pergi makan di kantin! Kusumpahin moga-moga dia kesedak!
BRUGH!
"Akh," aku menabrak orang. Ya, mungkin karma dari TOP songsaengnim ya… dokumenku –ralat dokumen songsaengnim berjatuhan. Aish, berantakkan sekali!
"Mianhamni-" suaraku tercekat. Mataku membulat. Ya, orang yang kutabrak tadi adalah Kibum sunbaenim! Oke, kami memang seumuran. Tapi tetap saja! Dia itu kelas 3!
Aku hendak bersujud memohon ampun, tapi namja tampan itu langsung menahanku.
"Tidak perlu seperti itu." ucapnya dengan wajah datar. Segera dia berlutut mengumpulkan dokumen-dokumen itu. aku cengo. Terpaku ditempat. Tidak bisa bicara apa-apa.
"Ini," Kibum menyerahkan dokumen itu padaku.
"A-ah, ne. Kamsahamnida, sunbae…"
"Panggil aku Kibum ah. Jangan sungkan. Kita seumuran bukan?" potongnya sambil tersenyum manis. Ommo, imut sekali dia! Wajahku memerah dengan sukses.
"A-ah, ne. Kamsahamnida Bummie ah," balasku sambil ikut tersenyum manis.
"Bummie ah…?" ulangnya dengan ekspresi aneh.
Ommona! Apa aku salah bicara?! "Ah, maaf, Kibum ah! Saya lancang," buru-buru aku mengoreksi namanya.
Dia tersenyum. Aku melongo.
"Tidak apa-apa. Kau hanya mengingatkanku pada seseorang. Kajja, akan kubantu kau membawa dokumen-dokumen ini," ucapnya sambil membagi dua dokumen yang jumlahnya bejibun itu. Lalu dia mulai melangkah meninggalkanku. Buru-buru aku mengejarnya.
Tuhan… kenapa jantungku berdetak lebih kencang…?
READER POV
"Hae ah… kau yakin tidak apa-apa…?" Hankyung menatap sahabatnya itu dengan tatapan khawatir. Donghae hanya mengangguk kecil.
"Aku sudah tak apa-apa. Gamsa sudah mau menemaniku, kembalilah kekelas sebelum bel berbunyi!" perintah Donghae sambil berusaha tersenyum.
"Jinjjayo? Kau tidak terlihat baik-baik saja…" ungkap Hankyung cemas.
"Aiii~sh, ne. aku tidak apa-apa. Kembalilah!" sungut Donghae.
"Arraseo~. Tapi kalau ada apa-apa… panggil dunnim saja ya?" Hankyung menatap manik mata Donghae. Donghae mengangguk sambil nyengir. Merasa sangat berharga (ck, ck).
"Dunnim, saya permisi dulu," ucap Hankyung sambil membungkuk hormat pada penjaga ruang kesehatan. Wanita itu hanya mengangguk sambil tersenyum. Kemudian kembali berkutat pada kertas dokumennya.
Akhirnya, Hankyung keluar dengan berat hati.
Sepeninggalan Hankyung, Donghae kembali berbaring di atas kasur ruang kesehatan yang tidak bisa dibilang empuk, tapi cukup untuk membuat Donghae tenang.
"Hae ah. Saya mau ke ruang guru dulu ya. Kamu tidak apa-apa 'kan sendiri?" wanita itu menghampiri Donghae dengan beberapa kertas dokumen ditangannya. Donghae mengangguk ragu. Jujur, dia sangat tidak nyaman ditinggal sendiri. Tapi… dia tidak boleh egois 'kan?
Akhirnya wanita itu keluar dari ruang kesehatan. Suara langkah yang semakin menjauh membuat Donghae tambah dag dig dug. Ommona… moga-moga tidak terjadi hal buruk…
Krieet…
"Permisi…"
Donghae menoleh. Dan matanya kemudian terbuka lebar. SIWON?! Choi Siwon! Namja yang membuatnya harus masuk keruang kesehatan! Kenapa pula namja ini ada disini?! Mau memperkosa Hae?!
DONGHAE POV
Aigooo… Tuhan senang sekali mempermainkankuu~
"Ah, mian. Aku tidak bermaksud mengganggu istirahatmu. Kudengar kamu masuk ruang kesehatan. Kurasa itu karena kesalahanku…" Siwon menatapku dengan sorot penuh penyesalan. Ommo! Dia kira aku akan percaya begitu saja?!
"An-ani. Aku tadi hanya terpeleset sedikit," dustaku. Padahal kenyataannya aku masuk ruang kesehatan ini memang karena namja tampan dihadapanku ini!
Siwon berjalan mendekatiku. Refleks aku berusaha menjauh. Semakin dia mendekat semakin aku menjauh. Aku turun dari kasurku dengan wajah horor. Terus, terus berjalan mundur.
DUK
Aiish! Layaknya cerita-cerita lama, punggungku bertabrakan dengan dinding. Aigooo… kenapa hal seperti ini terjadi padaku…?
"Kau bohong," Siwon menghimpitku diantara dinding. Dia memajukan wajahnya. Dia mau menciumku –lagi?! Aku takut! Aku menutup mataku dengan ketakutan. Kalau begini caranya, bagaimana aku mau berteriak?! Lidahku terlalu kelu karena gugup!
…? Ha?! Kenapa dia tidak juga menciumku? Kayaknya udah semenit lewat deh…?
Kubuka mataku. Ommo, namja itu sedang memandangiku! Aku memalingkan mukaku. MALU! Dia membuatku tampak seperti pihak yang menginginkan ciumannya!
"… kau lupa ya, Hae ah…?" suara Siwon bergetar. Aku menoleh, dan mataku langsung membulat.
"Siwon sunbaenim…?" aku menatap manik matanya yang tengah tertutup, "Kenapa kamu menangis…?" tanyaku nyaris berbisik.
Ya, sunbaeku ini, kini tengah menangis. Menangis dalam diam…
HANKYUNG POV
Aku berjalan santai kearah kelas. Sesungguhnya, aku tidak mau meninggalkan Donghae sendirian. Dia tampak sangat kacau tadi pagi. Tapi Donghae memaksaku jadi ya… oh ya! Aku lupa! Jam kelima nanti, ada pelajaran Ketrampilan, dan sialnya aku lupa bawa kertas karton! Ommona~ mana teman-temanku pelit semua lagi! Akhirnya aku mengurungkan niatku kekelas dan lebih memilih pergi ke toko buku didekat sekolahku. Siapa tahu ada yang jual kertas karton!
Akhirnya setelah mengiming-imingi pak satpam dengan uang 2000-an, aku berhasil mendapat ijin keluar gerbang. Sungguh polos pak satpamku ini! Tidak curiga sama sekali kalau aku akan melanggar janji! Kkk~
Aku dengan terburu-buru, berjalan ketoko buku diseberang. Setelah selesai, aku keluar dengan menenteng kertas karton berwarna biru ditanganku. Senyum puas tersungging di bibirku.
Saat hendak menyeberang, aku melihat ada bocah yang hendak menyeberang, sama sepertiku. Anak tk? Kulihat seragamnya. Ada perlu apa anak tk di depan sekolah Senior High School ini? Tampaknya dia menunggu seseorang. Kakaknya?
Tak sabaran anak itu menyeberang. OH TIDAK! Dari arah kanan, sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi! Segera aku berlari kearah anak itu.
"HEI! Awas-"
TIIINNNN!
...
"Pabbo!"
"Aww…" aku meringis karena dijitak oleh Heechul.
"Bodoh sekali kamu dengan seenak jidat menyeberang begitu!" omelnya lagi. Aku hanya tersenyum sedikit.
Kini aku sedang bersama Heechul dirumah sakit. Ya, aku terserempet mobil saat menyelamatkan adik Heechul. Walau tidak parah, tapi satpam –selaku saksi mata, menyuruhku kerumah sakit. Heechul yang mengetahui aku terluka karena menyelamatkan adiknya, tanpa basa-basi menyeretku kerumah sakit yang tidak jauh dari sekolah. Dengan panik tentu saja! Kkk~
Disamping Heechul, ada bocah yang tadi kuselamatkan. Wajah manis yeoja itu tampak ketakutan. Aku menatapnya dengan senyum mengembang.
"Tidak apa-apa. Jangan pasang wajah ketakutan begitu dong-" ujarku. Saat hendak mengulurkan tangan ingin membelai rambut yeoja itu, tangan Heechul sudah menepisku.
"JANGAN MAIN SENTUH ADIKKU!" bentaknya kesal. Aku hanya tertawa kecil.
"Ah, iya. Mianhamnida,"
"Tapi… gamsa karena sudah menyelamatkan adikku," ringis Heechul sambil membuang muka –lagi.
"Ah, tidak apa-apa. Aku senang kok, bisa menyelamatkan bidadari semanis ini~" goda Hankyung sambil menatap adik Heechul. Heechul mendelik.
"Oppa, siapa namja ini?" yeoja kecil itu menatap kakaknya dengan tatapan polos.
"Ah, Hankyung imnida. Salam kenal, siapa namamu?" potong Hankyung sambil mengulurkan tangan hendak mengajak yeoja kecil itu bersalaman.
"YA! Jangan sok akr-"
"Jessica! Namaku Jessica! Salam kenal oppa!" yeoja kecil bernama Jessica itu langsung maju memeluk Hankyung. Hankyung dan Heechul terbelalak kaget.
"Heehee, Jesicca ya? Nama yang manis semanis orangnya~. Beda dengan kakaknya…" Hankyung mengacuhkan tatapan membunuh Heechul dan melepas lembut pelukan yeoja manis itu. "Ada perlu apa kamu kesini? Mencari oppamu?"
Jessica mengangguk. "Hari ini Sica ulang tahun! Oppa sudah berjanji akan mengajak Sica jalan-jalan!" jawab Jessica. Matanya berbinar-binar.
Hankyung tersenyum melihat Jessica. Ingin sekali dia punya adik kecil yang manis seperti Jessica!
"Sica punya ide! Bagaimana kalau Hanppa ikut kami jalan-jalan?" tawarnya ceria.
"EEH?!" Heechul dan Hankyung kaget.
"ANI! Dia tidak bisa!" tolak Heechul mentah-mentah. Hankyung hanya nyengir maksa.
"Waeyo?!" Sica dengan kaget menatap oppanya itu.
"Eh, itu. Dia hanya tidak bisa. Pokoknya nggak bisa!"
"Ha-hajiman…" Sica pun mengeluarkan jurus tatapan imutnya. Heechul agak kewalahan menghadapi tatapan itu. Kkk~ kyeopta…
"Ah, oppa tidak bisa. Mianhae," ucapku berusaha membantu Heechul. "Tapi, saengil cukha hamnida Sica~! Oppa janji akan bermain lagi denganmu! Tapi hari ini oppa tidak bisa, mianhae." aku mengelus rambut pirang Jessica. Jessica hanya merengut kesal.
"Nah, Heechul sunbaenim. Pergilah, aku akan menyelesaikan sedikit masalah rumah sakit dulu, baru aku pulang. Kau ajak Sica jalan-jalan saja." Ucapku sambil menatap Heechul. Namja itu tengah memandangku dengan shock.
Hening… Heechul tetap diam. Ommo, apa aku salah bicara? Aku ikut-ikutan diam. GUGUP!
"Uuu~ Sica nggak mau! Sicca mau nemenin Hanppa!" tolak Jessica sambil memeluk lenganku.
Aku hanya tertawa kecil, "Hahha, memangnya kamu mau menghabiskan waktu ulang tahunmu dirumah sakit?"
"Hajimaan~ Sica mau menemani Hanppa~!" Jessica mempoutkan bibirnya lucu.
"Tapi, oppamu-"
"Arraseo!" aku menaikkan alisku. "Sica! Kita temani orang gila ini ya!" Heechul menatap Sica dengan pandangan lembut. Sica mengangguk kegirangan. Aku tersenyum senang. Heechul mencondongkan badannya sedikit kearahku.
"Jangan kege-eran ya! ini semua demi Sica, kau tahu!" bisik Heechul ditelingaku. Aneh, ini cuma perasaanku saja, atau… wajahnya memerah? *smirk*
"Ah, oppa tidak bisa. Mianhae"
"Tapi, saengil cukha hamnida Sica~! Oppa janji akan bermain lagi denganmu! Tapi hari ini oppa tidak bisa, mianhae."
"Annyeong, Heechul ah. Mianhae. Kau pasti masih marah padaku…"
"Kuharap kau mau memaafkanku…"
TBC
Hhhehhehe *Ketawa gaje*
Tangan keasyikkan ngetik… sampai jadi sebanyak ini… mian kalau ribet bacanya ya! *bow*
Geez… Ucchan setress… sebentar lagi UTS… mampus dah. Ada Matematika, Fisika, sama Agama juga. Eits! Jangan salah! Bukannya Ucchan bego pelajaran Agama! Hanya belum bisa mengaji dengan baik dan benar. Maklum… masih Iqra…
Ne, lanjut? Or delete?!
Terserah chinguu~~
Yosh! Review Pleasee~~ *Turtle eyes no jutsu!*
