Hai, minna-san….Ryu update ni, Kecepetan atau kelamaan ya updatenya, hehehe…:D (diceburin ke sungai ni ma minna-san)
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : AU, miss typo maybe, OOC maybe, …..etc
Chapter ini agak sedikit lebih panjang dari chapter sebelumnya
SOMETIMES, Chapter 2
SHOCKED
~SELAMAT MEMBACA, SEMOGA SUKA~
.
.
.
.
Hinata duduk di tepi ranjang dekat dengan lemari yang menjadi alas lampu tidur, Hinata menatap kedua bingkai photo yang berada di depan lampu tersebut.
Kemudian memegang salah satu bingkai photo dan berujar "Keluarga baru" pada bingkai yang dipegangnya yang berisi gambar Kazekage, Temari dan suaminya Shikamaru, dan Kankuro yang tersenyum. Juga ada Gaara dan Hinata yang memakai baju pengantinya. Gaara dengan kursi roda dan ekspresi datarnya, sedangkan Hinata dengan ekspresi malu-malu.
Kemudian pandangan Hinata beralih pada bingkai satunya dan menyentuh gambar pada bingkai tersebut. Gambar yang di dalamnya ada mendiang ayah, ibu dan adiknya "Kalian akan selalu ada di hatiku".
"Hahhh" Hinata menghembuskan napas pelan dan menundukan kepalanya sebentar. Pandangannya kemudian tertuju pada gambar sesosok pria yang berekspresi datar dalam photo keluarga barunya. Hinata menyentuh gambar wajah pria tersebut "Gaara-san".
Hinata teringat akan kejadian sore tadi, saat Gaara menyuruhnya tidur di kamar lain. Ya, Hinata saat ini tepatnya malam ini telah tidur di kamarnya yang terpisah dengan Gaara. Kamar yang ditempati oleh Hinata berada tepat di depan kamar Gaara. Sedangkan kamar pembantu ada di dekat dapur dan kamar tamu ada di dekat ruang tengah.
Saat Gaara menyuruhnya tidur di kamar lain, awalnya Hinata kaget tetapi kemudian dia menyetujuinya. Mungkin Gaara tidak nyaman, itulah pikirnya. Gadis berambut indigo itu tidak terlalu menuntut untuk masalah ini.
"Ba-baiklah" saat tak ada respon apa pun dari Gaara "Ka-kalau begitu sa-saya permisi, Sa-Sabaku-san" Hinata membalikan badannya dan menuju arah pintu.
Saat Hinata beberapa langkah lagi mencapai pintu "Tunggu !" perintah Gaara.
Otomatis Hinata membalikan tubuhnya dan menghadap Gaara kembali. "A-ada apa ?"
"Sampai kapan kau akan memanggilku seperti itu ?" Hinata memang selama ini selalu memanggilnya seperti itu, hanya nama keluarga Gaara. Padahal nama itu sudah disandang oleh Hinata juga kini. Hinata tidak berani memanggil nama Gaara, dia masih merasa canggung dan apalagi dia takut sikapnya itu salah kalau memanggil hanya nama Gaara saja.
Hinata terdiam tidak menjawab pertanyaan Gaara, karena dia bingung harus menjawab apa. Dia tidak mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya. "Panggil aku Gaara !" itu adalah perintah.
Hinata ragu tapi kemudian "Ba-baiklah Ga-Gaara-san"
Seandainya saja Gaara melupakan sifat dasarnya yang stoic itu. Dia ingin sekali menepuk dahinya, entahlah apa yang terjadi dengan hatinya. Dia ingin Hinata memanggilnya dengan "Gaara-kun" sekali pun Hinata terbata mengucapkannya. Tapi Karena Gaara tidak melupakan sifat stoicnya, dia hanya membiarkan saja Hinata memanggilnya seperti itu.
.
.
.
.
Anak kecil yang berjenis kelamin laki-laki berusia 8 tahun dengan rambut merah maroonnya dan mata yang berwarna jade indah berusaha menyembulkan kepalanya ke atas air dan kedua tangannya bergerak tak karuan. Dia berusaha bernapas, Anak itu sedang tenggelam di kolam renang.
Remaja berusia 14 tahun dengan seragam sekolah Junior High Schoolnya terjatuh berguling-guling di tangga. Kepalanya berdarah saat dirinya sudah berada di lantai dan kemudian jadenya tertutup.
Remaja berusia 17 tahun mengendarai motor besarnya yang berwarna merah seperti rambutnya. Dia mengebut kala itu dan terjatuh di belokan.
Pria itu terjebak di dalam pengapnya lift, hanya dia yang sendirian di dalam lift tersebut. Dia menunggu dan terus menunggu ada orang meyelamatkannya. Tapi semakin lama dia kesulitan bernapas, Keringat sudah mengucur deras dari tubuhnya karena hawa panas, tattoo 'Ai' nya tak henti-hentinya dibasahi oleh keringat yang mengalir. Napasnya kian tercekat dan dia memegang lehernya, "Kaa-san" ucapnya.
Seorang pria mengemudikan mobil sport berwarna merahnya, entahlah dia suka sekali dengan warna merah. Mobil itu melaju sangat kencang di jalanan yang sepi. Ya, pria itu mengebut. Dia menuju makam ibunya. Tetapi terjadi sesuatu pada mobilnya yaitu remnya blong. Saat itu ada truk yang datang dari arah berlawanan.
Pria itu berusaha menghindari truk tersebut. Dan memutar stir mobilnya kepinggir jalan. Tetapi justru kemudian mobilnya menjadi terbalik dan menampakkan pria itu yang sedang berusaha mengeluarkan kakinya dari dalam mobil tersebut.
Pria itu bersimbah darah. Sangat sulit mengeluarkan kakinya, dengan susah payah dia melakukannya. Dia memandang langit dan kemudian kedua iris jade nya tertutup.
Pukul 1.30 dini hari, Hinata keluar kamarnya. Dia terbangun dan merasa haus, Hinata keluar kamar untuk menuju dapur dan mengambil air minum untuk dirinya. Ketika Hinata melangkahkan kakinya, terdengar suara dari kamar Gaara "Tidak…..tidak" itulah bunyi suara tersebut.
Gaara masih tertidur, keringat membasahi wajah tampannya, dan dia meneggeleng-gelengkan kepalanya walaupun tidak berlebihan. Itulah yang dilihat Hinata saat dia memberanikan diri masuk ke kamar Gaara, untung tidak dikunci.
Hinata menggoyang-goyangkan bahu Gaara "Ga-Gaara-san, Ga-Gaara-san bangunlah" kemudian Gaara membuka matanya dan Hinata melepaskan tangannya dari bahu Gaara. Gaara berpikir kenapa Hinata ada di kamarnya.
"A-apa a-anda baik-baik saja ?" Tanya Hinata kepada Gaara.
Gaara mendudukan dirinya dan mengelap keringat yang ada di dahinya dengan punggung tangannya "Aku tidak apa-apa, hanya mimpi buruk" ya bayangan-bayangan mengerikan tadi adalah mimpi Gaara "Kembalilah ke kamarmu !" perintah Gaara.
Hinata pergi dari kamar Gaara dan tak lama kembali dengan membawa segelas air putih. Gaara masih terduduk saat Hinata datang kembali.
"Minumlah Ga-Gaara-san" Hinata menyodorkan air kepada Gaara. Gaara menerimanya dan meminum air putih itu setengahnya. Kemudian Gaara memberikan kembali gelas tersebut kepada Hinata.
Hinata tidak beranjak dari posisinya yang masih berdiri di samping ranjang Gaara. Gaara sendiri aneh dengan apa yang dilakukan Hinata. "Kembalilah ke kamarmu !" perintah yang sama untuk yang kedua kalinya diucapkan Gaara.
"Sa-saya akan pe-pergi setelah Ga-Gaara-san kembali tidur" Hinata tahu dari Temari ketika Hinata sebelum menikah dengan Gaara, Temari memberitahu mengenai insomnia Gaara yang akut. Maka dari itu Hinata takut Gaara tidak kembali tidur karena ini.
"Aku akan tidur, jadi kembalilah"
Hinata tak bergeming, Gaara yang melihat hal itu "Kau keras kepala, eh ?" dan Gaara merebahkan diri kemudian menarik selimutnya sampai ke sebatas dadanya.
Gaara memejamkan turquoise nya, Hinata terdiam sebentar kemudian menaruh gelas berisi air putih yang tinggal setengahnya di atas lemari kecil berlaci di samping tempat tidur Gaara.
Hinata duduk di tepi ranjang Gaara dan tangannya refleks meyentuh dahi Gaara dan mengusap rambutnya. Setelah tiga kali usapan, Gaara membuka matanya dan Hinata otomatis menarik tangannya dari apa yang dilakukannya tadi.
"Apa yang kau lakukan ?"
Hinata gugup "Go-gomenasai, ka-kaa-san sering me-melakukan itu ka-kalau saya mimpi bu-buruk" ya Hinata tidak berbohong. Hinata juga tidak tahu kenapa dia sangat berani melakukan itu kepada Gaara. Mungkin agar Gaara bisa tidur dengan nyaman.
"Hm, lakukanlah !" itu perintah tapi Hinata kaget. Gaara memejamkan matanya kembali, Hinata mengusap kembali rambut dan kening Gaara dengan perlahan nan lembut, membawa sebuah kenyaman bagi yang merasakannya. Gaara tidak memprotes lagi sekalipun Hinata kemudian menepuk-nepuk dadanya pelan.
Selang beberapa lama, terdengar hembusan napas teratur dari Gaara. Hinata menyadari hal itu dan menarik selimut Gaara lebih ke atas tubuh Gaara sampai dekat bahunya.
Hinata pun bangkit dari ranjang Gaara dengan perlahan dan mengambil gelas bekas Gaara minum tadi, kemudian meninggalkan kamar Gaara dan menutup pintunya perlahan.
Gadis dengan mata lavender itu sudah ada di dapan pintu kamar Gaara dan tiba-tiba rasa hausnya datang kembali. Bukankah memang dia terbangun dan ingin minum tadi, tetapi karena kejadian tadi, dia menjadi lupa akan niatnya dan sekarang rasa haus itu datang kembali.
Hinata meminum sisa air yang diminum Gaara tadi. Setelah air itu habis dan lega akan rasa hausnya yang hilang. Hinata kaget "Eh ?" apa yang dia lakukan. Hinata tidak sadar meminum air itu dan dia jadi teringat akan perkataan teman pink nya, Sakura. Sakura pernah berkata bahwa kalau kita meminum air di gelas yang sama dengan orang lain, maka kita berciuman secara tidak langsung.
Rona merah muncul di pipi Hinata, yang sudah lama bersembunyi selama ini. Hinata merutuki dirinya dalam hati 'Apa yang kau pikirkan Hinata, ini kan hanya air'
.
.
.
.
Yuhiko, pembantu wanita di rumah Gaara dan Hinata membawa semangkuk besar sup ayam dan menaruhnya di meja makan.
Di meja tersebut sudah ada Gaara dan Hinata, Gaara yang menunggu makanan dengan membaca buku. Ke meja makan saja, membawa buku. Sedangkan Hinata hanya duduk di sebelah Gaara, dengan canggung, kejadian dini hari tadi masih terekam dalam ingatannya.
Yuhiko pamit kepada Gaara dan Hinata dengan menundukan badannya, ya tugasnya membawa makanan sudah selesai.
Ini kali kedua Hinata dan Gaara duduk satu meja, tadi pagi untuk sarapan dan saat ini saat makan siang. Kemarin mereka tiba di sore hari dan tidak makan malam, karena sudah makan sebelumnya di rumah keluarga Sabaku sebelum berangkat ke rumah baru mereka.
Lagipula bukankah pindahan itu repot, sekalipun semua barang telah tersedia di sana. Hinata membereskan pakaiannya ke lemari di kamarnya dan kalau pakaian Gaara tentu Yuhiko yang membereskannya di lemari.
Setelah Yuhiko pamit, walau canggung tapi Hinata dengan telaten menuangkan sup ayam itu ke dua mangkuk kecil untuk Gaara dan dirinya.
Gaara menutup bukunya dan menaruhnya di meja. "Itadakimasu" ucap Gaara dengan datar. Kemudian Hinata pun mengikuti.
Mereka makan dalam diam, jujur Hinata tidak tahu apa Gaara menyukai masakan buatannya. Ya semua makanan itu dia yang memasak. Tadi pagi mereka hanya sarapan dengan roti tawar dan selai saja yang dibeli dalam perjalanan menuju kemari kemarin. Saat tadi pagi pun Hinata justru lebih ingat dengan kejadian dini hari dan lebih merasa canggung disebanding sekarang.
Saat mereka sarapan tadi pagi, Yuhiko berbelanja dahulu ke pasar dekat rumah mereka, yang menempuh jarak 1 km dan bisa pergi dengan jalan kaki sambil menikmati udara dan pemandangan jalan yang sepi dengan ditumbuhi rindang pohon di sekelilingnya, walaupun ini musim panas, tentu di pagi hari yang cerah untuk berbelanja sangat membawa semangat.
Setelah beberapa lama terdiam, Hinata memberanikan diri bertanya "Ga-Gaara-san, apa a-ada makanan yang Ga-Gaara-san tidak sukai ?" Hinata menggigit bibir bawahnya. Agar nanti dia tidak salah memasak.
Gaara berhenti sebentar dari kegiatannya, menyantap makanan "Aku makan apa saja, asal tidak mematikan" dan kemudian Gaara menyendok nasi untuk dikunyahnya.
Hinata menundukan kepalanya, jadi dia akan memasak apapun nantinya, itulah kesimpulan Hinata.
.
.
.
.
Pukul 8 pagi
Tok….tok….tok….
Hinata mengetuk pintu kamar Gaara, "Hn, masuklah !" terdengar dari kamar Gaara.
Hinata membuka pintu itu dan terlihat Gaara sedang membaca buku dengan posisi duduk di kursi rodanya. Ia sedang berada di depan tempat tidurnya.
"Ada apa ?" tanya Gaara saat Hinata sudah berada di dekatnya.
"A-ano, sa-saya ingin mengambil pa-pakaian kotor an-anda"
"Ada di kamar mandi" dan Hinata langsung pergi ke kamar mandi untuk mengambil pakaian kotor Gaara setelah mendengar jawaban Gaara.
Memang kamar Gaara dan Hinata mempunyai kamar mandi masing-masing di dalamnya.
Setelah Hinata keluar dari kamar mandi dengan pakaian kotor Gaara di tangannya, Hinata bertemu dengan Gaara "Kenapa kau yang mengambilnya ?" ya kenapa, bukankah itu tugas Yuhiko, kemarin pun dia yang melakukannya.
"A-anak Yuhiko-san sa-sakit, dia minta izin pu-pulang ke kampungnya un-untuk beberapa ha-hari" jelas Hinata. Ya tadi setelah sarapan, Yuhiko meminta izin pulang kepada Hinata karena anaknya yang berusia 8 tahun sakit. Anak itu dititipkan di rumah orang tuanya di kampung selama dia bekerja.
Gaara menutup bukunya "Dan kau mengizinkannya ?"
"Go-gomenasai, sa-saya tahu saya tidak be-berhak, ta-tapi….." Hinata meremas pakaian kotor Gaara yang tidak banyak itu dengan tangannya.
"Ambilkan ponselku di atas meja itu !" perintah Gaara kepada Hinata. Meja itu seperti meja belajar yang letaknya berada di dekat jendela kaca yang besar.
"Ba-baiklah" Hinata mengambilnya dan menyerahkannya kepada Gaara.
Gaara menerima ponselnya dan mencari kontak di ponselnya "Aku akan menyuruh pelayan di rumahku untuk menggantikannya sementara".
"Ja-jangan" Hinata mengangkat sebelah tangannya dan menggoyangkannya.
Gaara menghentikan kegiatannya, padahal dia sudah menemukan kontak rumahnya dan tinggal menghubunginya.
Gaara langsung menatap Hinata "Sa-saya bisa mengerjakan se-semuanya" maksud Hinata yaitu menggantikan pekerjaan Yuhiko untuk sementara.
"Kau benar-benar keras kepala" tukas Gaara.
"Terserah" ucap Gaara selanjutnya dan menyerahkan ponsel itu kepada Hinata untuk disimpan kembali di atas meja.
Hinata menerimanya dan menyimpan ponsel itu di tempatnya kembali. Hinata melihat gorden yang agak tertutup di jendela kaca Gaara yang dekat dengan meja itu. Kemudian Hinata menyingkap gorden itu dan mengaitkan talinya ke pinggirnya.
Hinata melakukan itu dengan sebelah tangannya, karena tangan yang satunya digunakan untuk memegang pakaian kotor Gaara yang tak banyak.
Hinata melakukan itu agar cahaya matahari lebih masuk ke dalam kamar Gaara. Cahaya matahari di jam segini juga masih bagus untuk kesehatan. Agar Gaara terkena sinar matahari pagi yang cerah ini.
Sedangkan Gaara kembali dengan kegiatannya tadi, membaca buku setelah Hinata menyimpan ponselnya di atas meja. Dia tidak menanggapi yang dilakukan Hinata yaitu menyingkap gorden berwarna hijau itu.
Saat Hinata berbalik, tak sengaja matanya menangkap sesuatu yang ada di meja Gaara yang membuat dirinya merasakan bukan laptop ataupun ponsel Gaara yang berada di meja itu yang menarik perhatiannya. Dia juga merasa aneh, kenapa dari tadi dia tidak melihatnya, padahal dia beberapa kali menatap meja itu.
Hinata melihat Gaara "A-ano Ga-Gaara-san"
"Hm ?" hanya itu tanggapan Gaara.
"Bo-bolehkah saya pi-pinjam buku itu ?" Gaara pun melihat arah mata Hinata yang tertuju pada buku kuning kecoklatan yang cukup tebal. Buku yang terpisah sendiri dengan tumpukan buku Gaara lainnya yang berada di atas meja itu.
"Untuk apa ?"
Hinata menggigit bibir bawahnya. Buku kan gunanya untuk dibaca. Buku itu berjudul "Ekonomi Bisnis Dunia". Buku yang paling penting untuk jurusan ekonomi ataupun bisnis. Hinata ingin membacanya. Tapi Hinata tak kunjung menjawab pertanyaan Gaara. Dia justru makin erat memegang pakaian kotor Gaara.
.
.
.
.
Gadis berambut indigo itu, lavendernya tak sesendu beberapa waktu lalu dan sedikit menampakan cahaya di dalamnya. Dia menyunggingkan sedikit bibirnya sambil menuang sabun ke dalam mesin cuci.
Penyebab semua itu adalah kejadian di kamar Gaara tadi. Buku itu, buku dengan judul Ekonomi Bisnis Dunia yang ada di meja Gaara adalah buku yang ingin sekali dia beli semenjak kuliah karena di buku itu sangat penting dan luar biasa berpengaruh dalam dunia ekonomi dan bisnis.
Namun karena harga 25 ribu yen yang menurut Hinata begitu mahal, membuat Hinata harus menabung dahulu untuk membeli buku itu. Dia tidak mau meminta kepada ayahnya, karena dia tidak ingin menambah ayahnya kerepotan.
Memang uang tabungan Hinata untuk membeli buku itu telah cukup, rencananya liburan musim panas ini dia ingin membeli buku itu, tetapi dengan semua kejadian yang dia alami membuatnya melupakan keinginannya itu.
Dia jadi rindu akan kuliahnya, walau ini liburan musim panas dan dia sudah tidak kuliah lagi. Bahkan alasan dia untuk kuliah sudah tidak ada lagi (memperbaiki ekonomi keluarga dan kini keluarga tercintanya sudah tidak ada).
Tapi jujur Hinata sangat menyenangi belajar ekonomi, jadi ketika melihat buku itu. Dia jadi teringat kembali dengan keinginannya untuk membeli buku itu dan mempelajarinya.
Entah kenapa dia mempunyai keberanian untuk meminjam buku itu kepada Gaara. Tadinya kalau Gaara tidak mengizinkannya, dia mungkin akan membeli buku itu nanti, ya walaupun dia sudah tidak kuliah lagi. Bukankah belajar itu tidak harus dengan jalan menempuh pendidikan saja ?
Tapi Gaara benar-benar mengizinkannya meminjam buku itu.
Hinata masih terdiam dan kepalanya tertunduk tidak menjawab pertanyaan Gaara untuk apa Hinata ingin meminjam buku itu. Setelah beberapa lama "Ambilah, kau boleh meminjamnya" itu izin dari Gaara.
Hinata mendongakan kepalanya dan menatap Gaara "Be-benarkah ?"
"Ya" Gaara meyakinkan Hinata
Hinata mengambil buku itu dan menempelkannya di dadanya. "Arigatou gozaimasu, Gaara-san" dan membungkukan badannya berkali-kali. Terkadang Hinata memang suka berlebihan.
Hinata pergi setelah itu. Gaara melihat kepergian Hinata dan sejujurnya Gaara sadar bahwa Hinata tidak tergagap ketika mengucapkan terima kasih dan namanya, mungkin karena saking senangnya.
.
.
.
.
Hinata menarik napas dalam-dalam, dia memegang tumpukan pakaian Gaara yang telah dicuci dan disetrikanya. Saat ini Hinata sedang berada di depan pintu kamar Gaara.
Hinata ragu untuk mengetuk pintu, ini sudah malam dan waktu menunjukkan pukul 9 malam. Padahal dia bisa mengantarkannya besok pagi, sayangnya pikiran itu baru muncul saat dia berada di depan pintu kamar Gaara.
Hinata berbalik lagi menuju pintu kamarnya, besok saja pikirnya. Tapi kemudian dia berbalik lagi menghadap pintu kamar Gaara. Sudah terlanjur pikirnya.
Hinata mengetuk pintu dengan ragu
Tok…tok..tok..
"Masuk"
Hinata masuk ke kamar Gaara. Gaara tidak sedang melakukan apa-apa, hanya duduk diam di kursi rodanya depan tempat tidurnya.
Hinata mendekat kepada Gaara "Pe-permisi, saya me-mengantarkan pakaian an-anda."
"Taruh saja di lemari !" Hinata pun langsung pergi ke arah lemari dan menyimpan pakaian Gaara dengan telaten.
Setelah selesai Hinata permisi pergi kepada Gaara, ketika dia di dekat Gaara dan badannya sudah mengahdap pintu keluar kamar Gaara, Hinata membalikan badannya dan menghadap Gaara.
"A-ano Ga-Gaara-san, kenapa tidak mau te-terapi ?" Hinata mengetahui tentang Gaara yang tidak mau terapi dari Temari sebelum Hinata dan Gaara menikah.
"Kenapa ? Kau tidak suka mempunyai suami lumpuh sepertiku ?"
Hinata tersentak "Bu-bukan begitu ma-ksud saya, ka-kalau Ga-Gaara-san terapi, Ga-Gaara-san bisa sembuh."
Gaara tidak menanggapi Hinata, Hinata berbalik lagi menuju pintu kamar Gaara, tapi sebelum Hinata melangkahkan kakinya, Hinata justru membalikkan badannya kembali menghadap Gaara.
"Ga-Gaara-san cobalah ja-jalan-jalan, disini u-udara dan pe-pemandangannya ba-bagus. Kyaaaa…." Hinata memekik karena kaget ketika Gaara tiba-tiba menarik tangannya dan membuat dia jatuh terduduk di atas pangkuan Gaara.
Gaara mengunci Hinata dengan memeluk pinggang Hinata. Hinata menggeliatkan badan dan tangannya berusaha melepaskan perangkap tangan Gaara di pinggangnya. Tapi tetap tidak bisa, karena tangan Gaara begitu kuat.
"To-tolong lepaskan sa-saya !" Gaara tidak menggubris permintaan Hinata. Justru dia mendekatkan wajahnya dengan wajah Hinata. Mereka hanya berjarak 15 cm kini.
"Kau terlalu berani, Hinata" berani mencampuri urusanku.
Gaara menyentuh tulang rahang Hinata dan bergerak ke pipinya dengan tengannya. Hinata menunjukkan ekspresi tidak nyamannya dengan posisi seperti ini dan dia takut.
Gaara semakin mendekatkan wajahnya dengan jarak sudah mencapai 10 cm dari wajah Hinata.
"Kenapa ? Kau takut ? Bukankah aku suamimu, hm ?" Hinata menundukan wajahnya yang sudah matang.
Gaara menunduk dan memiringkan wajahnya, tujuannya adalah bibir Hinata yang berwarna pink alami. Oh, shit sudah sampai 3 cm jarak diantara mereka.
Ting….tong….ting tong….
Suara bel itu membuat Gaara menarik kembali wajahnya dan agak menjauh dari wajah Hinata walau belum melepaskan perangkapnya (tangannya) dari pinggang Hinata.
"To-tolong lepaskan sa-saya, saya ingin me-membuka pintu" ya siapa lagi kalau bukan Hinata yang akan membuka pintu itu. Kan Yuhiko tidak ada disini sekarang.
Mau tidak mau Gaara melepaskan Hinata dan Hinata pun langsung melesat pergi menuju pintu depan
Siapa sih tamu yang berkunjung pada jam segini, tidak sopan.
Gaara mengikuti kemana Hinata pergi, karena ia ingin tahu siapa tamu itu.
Hinata membuka pintu dan menampakan seorang pria yang bertubuh tegap dan berambut panjang berwarna hitam kecoklatan dan memilki warna mata yang persis seperti Hinata.
Pria itu berusia 23 tahun, kata orang pada usia seperti itu pria sedang tampan-tampannya dan pada kenyataannya pria tersebut memang tampan dengan rahangnya yang tirus dan kelihatan jenius.
Hinata kaget melihat pria tersebut, mereka berpandangan sebentar dan tanpa ba bi bu, pria itu langsung memeluk Hinata.
Hinata kaget dipeluk tiba-tiba seperti itu namun dia tidak berusaha melawan "Akhirnya aku menemukanmu" ucap pria tersebut.
Tentu Gaara melihat adegan tersebut, karena posisinya yang tidak begitu jauh dari mereka.
Gaara menatapnya tidak suka, siapa lelaki ini, untuk apa datang kesini, Hinata bahkan tidak melawan ketika dipeluk oleh pria tersebut sedangkan oleh Gaara justru Hinata berusaha untuk melepaskan diri.
.
.
.
.
Hinata pun duduk setelah menaruh cangkir teh itu. Sedangkan Gaara berada di dekat sofa yang diduduki Hinata. Neji duduk di sofa yang satu lagi.
Dari tadi Hinata belum memperkenalkan mereka satu sama lainnya.
"Nii-san, ini Gaara-kun, su-suamiku".
'Gaara-kun' batin Gaara dan menatap Hinata dengan bingung. Kenapa panggilan Hinata berubah kepadanya. Walaupun wajahnya masih datar, namun matanya menyiratkan tanda tanya siapa lelaki ini.
Gaara menganggukan sedikit kepalanya tanda memberi hormat, walaupun dalam benaknya dia bertanya-tanya kenapa fisiknya sedikit mirip dengan Hinata. Apa…
"Ga-Gaara-kun, ini Hyuuga Neji, ka-kakak sepupuku".
Neji pun menyapa dengan menundukan kepalanya sedikit persis dengan apa yang dilakukan Gaara tadi, dasar two stoic man. Sigh…..
'Sepupu…., pantas' batin Gaara.
"Bagaimana nii-san tahu aku disini ?"
Gaara menatap Hinata
"Otou-sanku sudah mengetahui tetang kepergian otou-sanmu , beliau meyuruhku untuk mencarimu" Neji berbicara dengan nada tenang.
"Untuk apa mencariku ? Bukankah….."
"Sudahlah, beliau sudah menyesal dan dia ingin menebus kesalahannya dengan merawatmu" Neji menatap Hinata dan lavender bertemu satu sama lain.
"Terima kasih untuk itu, tapi aku sudah mempunyai kehidupanku sendiri, aku sudah menikah, jadi tidak usah mengkhawatirkanku." Sejujurnya kalimat-kalimat yang dikatakan Hinata terdengar kejam, tapi Hinata ingin menunjukkan kalau dirinya tegar dan memang dia tidak mau merasa direpotkan.
Gaara yang mendengar semua ini, merasa ada sesuatu yang sebenarnya terjadi pada keluarga mereka, Hinata dan Neji.
"Hahhh" Neji menghembuskan napas pelan. "Aa, tapi kita tetap keluarga, Hinata. Tidak masalah merasa khawatir kepada sesama anggotanya".
Sesungguhnya yang dikatakan Neji benar, tapi dia merasa sedih akan apa yang terjadi dengan keluarga ayahnya terdahulu. Selama ini bahkan keluarga Neji dan Hinata mempunyai hubungan yang buruk, jadi sepertinya rasa khawatir itu agak tidak mungkin untuk keluarga mereka.
Tapi hati orang siapa yang tahu, walaupun hubungan keluarga mereka buruk, mungkin di dalamnya ada rasa rindu begitu pula dengan rasa khawatir, ya karena mereka keluarga.
"Nii-san, silahkan diminum tehnya" Karena dari tadi Neji belum menyentuh tehnya.
"Aa" Neji meminum teh itu. Ya rasanya enak.
Setelah Neji meminum sedikit teh itu dan meletakan cengkirnya di meja "Hinata, aku ingin menginap disini malam ini"
Hinata otomatis kaget "Me-menginap ?" dan membelalakan matanya.
Gaara pun membelalakan matanya 'orang ini' batinnya.
"Ya, perjalanan dari Konoha ke Suna cukup jauh. Aku lelah dan tidak sanggup lagi menyetir"
Orang ini sopan tapi terkadang tidak tahu malu.
Tapi tentu perjalanan dari Konoha ke Suna memang cukup jauh, bahkan menempuh perjalanan 7 jam menngunakan mobil. Ditambah lagi Neji sebelum berangkat ke sini setelah mengetahui keberadaaan adik sepupunya itu dari informannya yang sudah disuruhnya mencari Hinata beberapa hari ini karena Neji kehilangan jejak Hinata dari rumah Hinata yang lama, dia langsung meninggalkan pekerjaannya yang menumpuk itu dan melesat ke sini.
Neji juga sudah tahu bahwa Hinata sudah menikah dari informannya, informannya memang hebat, bagaimana tidak, pernikahan Hinata dan Gaara kan tidak diketahui oleh sembarang orang.
Tapi Neji tetap harus menemui Hinata, maka dari itu sekarang dia berada di sini.
Hinata gugup, bagaimana ini. Bagaimana kalau Neji tahu dia dan Gaara bahkan tidak menempati satu kamar. Ucapannya yang bilang bahwa tidak usah mengkhawatirkannya akan menjadi hal yang sia-sia.
"Ehm, Neji-nii aku lupa sesuatu. Aku menghangatkan makanan tadi, mungkin sudah matang. Neji-nii sudah makan belum ? Nanti aku siapkan"
"Aku sudah makan dalam perjalanan kemari"
"Oh, baiklah tapi aku harus pergi dulu ke dapur sebentar ya. Nikmati tehnya ya !" Sesungguhnya Hinata mengucapkan itu dengan gelagapan.
Gaara sendiri merasa Hinata bukan dirinya yang biasanya
"Ga-Gaara-kun bisa ba-bantu aku !"
Gaara mengernyitkan dahinya, apa yang bisa ia bantu di dapur. Bukankah selama ini Hinata dapat mengerjakan semuanya. Walau begitu Gaara tetap mengikuti Hinata menuju dapur.
Neji sendiri benar-benar menikmati teh buatan Hinata, dia benar-benar lelah dan teh itu dapat menenangkan dan menyegarkan dirinya.
.
.
.
.
Gaara dan Hinata kini berada di lorong dekat dapur. Hinata berbohong tentang menghangatkan makanan itu. Ia justru terlihat sedang memohon kepada Gaara dengan menyatukan kedua telapak tangannya di depan dadanya dan memejamkan matanya.
"Ga-Gaara-san, saya mo-mohon" panggilan dengan akhiran "kun" itu menghilang lagi dan kata "saya" pun datang kembali diucapkan oleh Hinata.
Hinata memohon kepada Gaara agar megizinkan Neji menginap malam ini dan juga agar Hinata diizinkan satu kamar dengan Gaara, takut Neji mengetahui kebenaran hubungan mereka yang masih canggung.
Gaara menghela napasnya "Baiklah".
"A-arigatou"
"Hm" itu tanggapan Gaara.
.
.
.
.
Hinata berdiri di dekat Neji yang duduk di ranjang, mereka sedang berada di kamar tamu. Hinata telah menyediakan yukata tidur dan handuk bersih di kamar ini yang sudah digantungnya di pintu.
"Kalau nii-san mau mandi, ini handuknya dan nii-san bisa menggunakan yukata tidur ini. Ini masih baru" Ya kamar tamu itu juga dilengkapi kamar mandi di dalamnya.
"Aa, arigatou"
Hinata permisi menuju pintu keluar kamar "Hinata" panggil Neji ketika Hinata sudah membuka pintu itu.
Hinata menghadap Neji "Ada apa, nii-san ?"
"Kau tidak akan bahagia bersama pria seperti itu, pria yang tidak sempurna"
Hinata tersentak "Walau bagaimana pun dia tetap suamiku, nii-san tidak berhak berkata seperti itu"
Hinata menunduk dan mengangkat kepalanya kembali "Go-gomen, aku harus pergi, Gaara-kun sudah menungguku" walaupun Hinata tahu mungkin Gaara tidak sedang menunggunya.
Hinata berbicara seperti itu untuk menghindari pembicaraan ini. Hinata pun pergi dari kamar Neji.
.
.
.
.
Saat ini Hinata dan Gaara berada di dalam kamar Gaara, Hinata datang ke kamar Gaara tadi ketika Gaara sedang duduk di ranjangnya. Hinata merasa sangat malu dan canggung saat ini apalagi dengan kejadian yang terjadi kepada mereka sebelum Neji datang tadi.
Hinata menuju sofa dekat meja Gaara, Ya di kamar Gaara memang ada sofa berwarna putih.
Hinata duduk di sofa itu. Dia berniat untuk tidur di sofa yang didudukinya saat ini. Gaara yang melihat Hinata masih berdiam diri di sofa "Kenapa tidak kemari ?" tanya Gaara.
"Sa-saya tidur disi-sini saja" Hinata berpikir mungkin Gaara tidak merasa nyaman tidur dalam satu ranjang dengan Hinata. Mungkin itu alasan Gaara menyuruhnya tidur di kamar lain.
"Tidurlah disini" perintah Gaara "Aku tidak akan nyaman melihatmu tidur di situ"
Tadinya Gaara akan membiarkan Hinata tidur di sofa itu. Tapi entahlah kenapa justru itu yang keluar dari bibir Gaara.
Hinata dengan ragu menghampiri tempat tidur Gaara, dan kemudian duduk. Gaara memperhatikan tingkah Hinata. Dengan perlahan Hinata membuka selimut yang menutupi tubuh Gaara. Hinata membaringkan badannya dan menarik selimut itu sampai sebatas dadanya. Gaara ikut membaringkannkan badannya.
Mereka belum ada yang tidur, mereka berdua hanya menatap langit-langit kamar. Hinata masih canggung dan teringat akan kejadian di kamar ini sebelumnya. Gaara membuka pembicaraan karena mengetahui Hinata belum terpejam "Kenapa kau melakukan ini semua ?" maksud Gaara perilaku Hinata yang berubah pada saat ada Neji.
Hinata mengerti "Sa-saya hanya ti-tidak ingin me-membuat mereka khawatir". Gaara tentu tahu bahwa hubungan mereka tidak seperti pasangan suami istri pada umumnya.
"Teruslah seperti itu" perintahnya namun Hinata kali ini tidak mengerti, Hinata memiringkan sedikit badannya dan melihat Gaara. "Se-seperti apa ?" tanya Hinata tidak mengerti.
"Memakai "kun" pada namaku dan hilangkan kata "saya" mu itu, aku tidak suka"
"E..eh..?" Hinata merona, bukan karena takut tapi karena dirinya malu. Kemudian Hinata menganggukan sedikit kepalanya, tanda dia setuju.
"Apa yang terjadi antara dirimu dengan keluarga sepupumu ?"
Hinata menelentangkan posisi, dia sangat sulit menjawa pertanyaan itu "A-ano…." Suara Hinata mulai bergetar. Gaara menyadari hal itu "Sudahlah, sekarang kau tidur lah" Gaara tahu Hinata tak mampu menjawab pertanyaannya maka dia menyuruh Hinata tidur.
Hinata segera membalikan badannya dan menghadap arah yang berlawanan dengan Gaara. Tubuh Hinata bergetar dan air matanya yang mulai keluar.
Gaara mengetahui Hinata menangis walau gadis itu menangis dalam diam tapi tubuhnya yang bergetar dan terlihat oleh Gaara sudah cukup untuk Gaara untuk mengetahui kalau gadis itu sedang menangis. Gaara melihat itu hanya diam dan terus memperhatikan Hinata dari posisinya.
Hinata menangis karena teringat keluarganya, Hinata ingat saat usianya 7 tahun, dia digandeng oleh ayahnya memasuki rumah yang sangat besar. Rumah itu adalah rumah neneknya, sebenarnya Hyuuga Hiashi adalah orang kaya namun karena menikahi seorang wanita yang miskin, dia diusir oleh ibunya.
Hanabi yang masih berusia 2 tahun dan istrinya di rumah tidak diajak, Hinata disuruh menunggu di depan sebuah ruangan yang kemudian dimasuki oleh Hiashi.
Dari arah luar, di depan pintu itu Hinata dapat melihat seorang wanita paruh baya yang memakai kursi roda dan seseorang yang mirip dengan ayahnya, ya kakak kembar Hiashi, Hyuuga Hijashi.
Hiashi datang ke rumah ibunya itu karena ibunya menginginkan dia datang karena ibunya sakit parah, Sementara itu Hinata yang berada di luar ruangan itu dihampiri oleh seorang anak laki-laki yang berusia beberapa tahun lebih tua darinya, anak itu berambut hitam kecoklatan.
"Kau siapa ?" tanyanya. Hinata kaget tapi dia menjawab "Hyu-Hyuga Hinata".
"Hyuuga….apa kau bersaudara denganku ?" Hinata bingung tapi dia menunjuk orang yang ada di dalam ruangan itu "I-tu otou-san sa-saya"
"Ah, aku tahu sekarang, berarti kau adalah sepupuku, panggil aku nii-san"
"E..eh" Hinata masih bingung "Aku Hyuuga Neji" kata anak laki-laki itu.
Neji tahu ayahnya punya saudara kembar dan tapi baru mengetahui kalau pamannya itu sudah punya anak karena mereka baru pertama kali bertemu.
"Karena aku adalah kakak, maka aku akan menjagamu" kata Neji.
Sementara itu di dalam ruangan, ibu Hiashi menyuruhnya meninggalkan istri Hiashi dan menikahi wanita pilihan ibunya. Tentu Hiashi tidak setuju dan justru melenggang pergi.
Tiba-tiba jantung ibunya sakit, ibunya memanggil-manggil nama Hiashi tapi pria itu tetap tidak bergeming. Hijashi memegang pundak ibunya, "Hiashi kembali kau, atau kalau tidak, aku tidak akan pernah peduli padamu dan kau keluar dari keluarga ini" itulah ucap pria itu.
Tapi Hiashi tidak bergeming dan meninggalkan ruangan itu kemudian menarik Hinata pergi dari situ. Hinata melihat semua kejadian di dalam ruangan itu karena memang pintunya tidak tertutup. Hinata pergi dan menoleh kepada Neji.
Ibu Hiashi meninggal dunia, dan itu membuat Hijashi benar-benar tidak mau berhubungan lagi dengan adik kembarnya itu. Tapi di balik itu semua, sejujurnya mereka berdua sama-sama mengkhawatirkan satu sama lain beserta keluarganya dan ada kerinduan di dalamnya.
Hinata tahu bagaimana wajah Neji sekarang karena dia pernah melihatnya di majalah ekonomi bisnis. Ya Neji sekarang menjadi pengusaha muda yang hebat. Dia juga tidak tergagap saat bertemu dengan Neji tadi, karena di dalam hatinya Neji bukanlah orang asing baginya.
Mereka memang tinggal dalam satu kota yang sama, tetapi tidak pernah bertemu lagi sejak kejadian di rumah neneknya Hinata.
Hinata terlelap setelah tangisannya berhenti dan Gaara menyadari itu. Ada raut wajah yang sulit diartikan pada diri Gaara kala itu.
.
.
.
.
Esok hari, Hinata dan Gaara mengantar Neji sampai ke depan pintu rumah, Neji akan kembali ke Konoha setelah tadi sarapan bersama mereka. Hinata memuatkan bento untuk dimakan Neji saat perjalanan nanti.
Neji memeluk Hinata dan berbisik "Kalau terjadi sesuatu kepadamu, datanglah ke rumah kami"
Neji melepas pelukannya dan membungkuk kepada mereka berdua, Gaara dan Hinata.
.
.
.
.
Setelah kepulangan Neji, Hinata pindah lagi ke kamarnya tetapi panggilannya kepada Gaara berubah sesuai permintaan Gaara. Tanpa Yuhiko di rumah ini, Hinata menjadi sibuk. Dia harus berbelanja di pagi hari dengan berjalan kaki, tapi Hinata menikmatinya. Mencuci dan menyetrika pakaian Gaara tapi tidak mengantarkannya pada malam hari, Dia lebih memilih besok pagi saja untuk melakukan itu. Dia juga membersihkan rumah dan menyediakan makanan untuk tukang kebun yang datang 3 x seminggu.
Tapi kemudian Yuhiko kembali setelah satu minggu pulang kampung dan Hinata kembali kepada tugasnya yang hanya memasak, dia jadi mempunyai waktu untuk membaca buku yang dipinjamnya dari Gaara.
Hari itu, paman Gaara, Yashamaru mengunjungi Gaara, duda bercerai dan sedangkan mantan istri beserta anaknya berada di Amerika.
Yashamaru duduk di sofa tamu "Ma'af ji-san tidak hadir di acara pernikahanmu" ucapnya pada Gaara. "Tak apa" jawab Gaara. Yashamaru menatap Hinata yang duduk di sofa "Istrimu cantik ya ?" Yashamaru melirik Gaara. "Hm" hanya itu jawaban Gaara. Hinata merona.
Yashamaru tidak hadir karena perusahaannya sedang sangat sibuk-sibuknya dan dia harus pergi ke luar negeri kala itu.
Hubungan Yashamaru dengan Gaara sejujurnya dekat "Kau tahu, pernikahan itu sangat indah, ehm tapi sayang terkadang keindahan itu harus berakhir dengan perpisahan"
"Seperti diriku" dia melanjutkan.
Hinata dan Gaara yang sama-sama mendengarkannya merasa iba, untuk apa mereka iba padahal hubungan mereka berdua pun tidak seperti pasangan pengantin baru pada umumnya yang bahagia.
.
.
.
.
"Hai, adik ipar. Apa kabar ?" suara itu terdengar dari sambungan telepon yang sedang didengar Hinata di telinganya.
"Ba-baik, nee-chan"
"Gomen ne, aku belum berkunjung ke rumah kalian. Aku harus menyiapkan fashion show untuk promo baju musim panas butikku" ya walaupun Temari bukan desaignernya tapi tetap saja dia pemilik butik itu, jadi dia sibuk.
"Tak apa, nee-chan bo-boleh aku bertanya sesuatu ?"
"Ehm tentu"
Hinata menggigit bibir bawahnya "A-apa ma-makanan kesukaan Gaara-kun ?"
.
.
.
.
Hinata menuangkan botol yang berisi cairan berwarna ungu pekat ke dalam gelas, Yuhiko sedang sibuk mencuci piring. Hinata membeli minuman itu ketika dia ke pasar beberapa hari lalu, dia ke apotek yang ada di pasar itu.
Karena mendengar ibu-ibu yang berbelanja membicarakan masalah kelumpuhan dan obatnya, obat herbal. Ternyata apotek itu menjual obat itu. Hinata harus mencoba memberikan obat herbal yang terbuat dari sari buah mengkudu itu kepada Gaara.
Hinata akan berusaha membujuk Gaara minum minuman itu, bukannya dia tidak menerima kondisi Gaara, tetapi dia ingin Gaara sembuh. Walaupun Gaara marah nanti, dia akan memasak empedal ayam makanan kesukaan Gaara nanti, yang ia ketahui dari Temari tentang makanan kesukaan Gaara.
Sedangkan Gaara sedang berpikir keras di kursi rodanya, Dia mengangkat tangannya untuk meregangkan ototnya yang kaku. Kemudian bangkit berdiri dan mondar-mandir sambil berpikir keras.
Prangggg …..
Terdengar suara pecahan kaca, dan itu membuyarkan pikiran Gaara. Gaara melihat Hinata berada di depan pintu kamarnya dengan pecahan kaca, obat herbal yang ingin diberikan Hinata kepada Gaara pun nasibnya sudah ada di lantai itu. Hinata menutup mulutnya tak percaya.
Yuhiko berlari ke arah suara yang ia dengar dari dapur, dan ketika sampai di depan kamar Gaara. Yuhiko melihat pecahan beling dan nampan di lantai. Tapi tidak ada siapa-siapa di situ, lalu kemana Gaara dan Hinata. Yuhiko memungut pecahan beling itu.
.
.
.
.
Tadinya Hinata mengetuk pintu kamar Gaara tetapi lama dia menunggu, Gaara belum juga bersuara untuk memperbolehkan dia masuk. Dia memberanikan diri membuka pintu kamar Gaara dan melihat pemandangan itu. Gaara yang berjalan mondar-mandir dengan begitu lancar bergerak.
Saat ini Hinata dan Gaara sedang berada di kamar mandi di kamar Gaara. Saat mendengar langkah Yuhiko dari arah dapur, Gaara langsung menarik Hinata dan membawanya ke kamar mandi. Dan menutup mulut Hinata dengan tangannya, posisi Hinata yang menekan tembok kamar mandi dan Gaara di depannya dengan jarak beberapa cm saja membuat jantung Hinata deg degan.
Ketika terdengar suara langkah kaki Yuhiko yang menjauh, Gaara mmelepaskan tangannya dari mulut Hinata.
Gaara menekan kedua tangannya ke tembok di samping kepala Hinata dan menatap Hinata, mereka saling bertatapan.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
Terima kasih buat alice9miwa, Deshe Lusi, Yurayuki, Mine, Guest, Hazena, Flower, Hasegawa Michiyo Gled. , Amylee, dan Rei Ai
Yang log in udah Ryu bales ya, ni balasan review buat selanjutnya :
Mine : Makasih, ini udah lanjut n semoga yang di atas itu termasuk romance ya n smoga suka, untuk ending, ehm masih rahasia n makasih buat semangatnya
GH n Guest : Makasih ni nyuruh lanjut n nunggu chap berikutnya
Flowers : Iya dipersembahkan buat kamu juga, Ryu udah update kilat ni, eh tapi 2 minngu itu kilat ga sih ?
Hazena : Wah makasih banget ya buat semangat n semuanya, ni udah chapter berikutnya, semoga romance di chapter ini kamu suka ya…;)
Amylee : Makasih ya, ini udah update, makasih juga buat semangatnya
Rei Ai : Makasih udah nunggu n juga buat semangatnya…
Thanx juga buat yang udah baca fic ini….
.
A/N : Chapter 2 ini butuh perjuangan buat nyelesainnya, terjadi sesuatu sama komputer Ryu n real world Ryu. Tapi syukur de bisa selesai.
Di sini Ryu ngebuat kehidupan Neji dan Hinata terbalik dengan yang di canonnya.
Btw, kamar mandi di rumah Gaahina banyak ya….hehehe…sengaja.
Kenapa di chapter ini, Ryu kasih judul "Shocked" karena kejutannya adalah Gaara yang ternyata berpura-pura lumpuh selama ini. Tapi ini adalah inti cerita dari fic ini.
Masalah obat herbal jus sari buah mengkudu, itu Ryu dapet dari internet katanya untuk terapi kelumpuhan. Tapi Ryu ga nyebutin mereknya, emang lupa juga sih.
Makanan kesukaan Gaara empedal, itu juga dapet info dari internet, ngomong-ngomong Ryu suka juga ama empedal (ati ampela).
Untuk judul buku "Ekonomi Bisnis Dunia" itu Ryu ngarang banget, Ryu bukan jurusan ekonomi.
Oh iya, di chapter 1 itu utang ayah Hinata berjumlah 10 juta, nah maksudnya itu dalam yen. Sebenernya Ryu mikir, kegedean gak ya 10 juta yen, tapi setelah Ryu tahu biaya kuliah di Jepang itu per tahun 1 juta 400 ribu lebih, jadi Ryu pikir 10 juta pas de.
Nanti di chapter 3, bakalan dijelasin kenapa Gaara berpura-pura lumpuh. Terus, buat chapter 3 Ryu updatenya sebulanan lagi de. Atau April de. Kalau gak ada halangan yang malang melintang. Alesannya si real world nya Ryu.
Di chapter depan, romance Hinata n Gaara akan lebih muncul.
Apa pun pendapat kalian tentang fic ini ungkapin lewat review ya,,,,,,
Buat para minna-san n para senpai, Ryu minta kritikan donk buat karya Ryu ini, apa sih kekurangan n kelebihan fic ini. Ryu pengen tahu banget
Review please ya….:)
Thanx
