Summary: Sakura adalah seorang murid cantik, cerdas dan enerjik. Tak heran kalau semua murid, termasuk Sasuke si jenius jatuh hati padanya. Yang Sasuke tidak tahu, adalah setiap 'permata' pasti dijaga dengan ketat. Apakah Sasuke dapat melewati semua halangan untuk memenagkan hati Sakura?

Warning: AU dan OOC, terutama Ino ama Hinata. Kyuubi bakal jadi kakak Naruto. Juga ada beberapa OC buat perkembangan cerita

Hai!!! Seishiro disini…!!!

Chapter 2!!!!!

Ga nyangka, responnya bagus~ *nangis*

Anyway, makasih buat komen en kritiknya…

Oh iya, buat yang komen yang ga ada link-nya, ini jawaban dari saya:

Misa UchiHatake: salam kenal juga… thanks for reading… Saya usahain cepet update.

Naru-mania: salam kenal juga… buat triangle love, kayaknya ga deh… soalnya saya bukan tipe yang jago bikin kisah romance… hehehe… yang mancing mah bukan Naruto… baca ya kalo mau tau… pokoknya, jawaban semuanya ada di chap ini, ato chap berikutnya…

Oke, balik ke cerita…!!!!!

Baka Tantei: Seishiro Amane present…


FALLING FOR CHERRY BLOSSOM

CHAPTER 1: THE BAIT AND THE FAMILY


Sebelumnya…

"Tenang, kita takkan menunggu lama."

"kenapa? Ah, jangan-jangan…"

"Aku akan jadi umpan."

"Menyusahkan… Aku tak akan bertanggung jawab kalau ada apa-apa."

"Tenang… Aku tahu harus bagaimana."

"Ini akan semakin seru."


Seiji sedang membuka buku infonya, mencatat data dari hasil pengamatannya. 'Sasuke Uchiha, perkiraan tinggi sekitar 175 cm. Perkiraan berat sekitar 60 kg kalau ditinjau dari tubuhnya. Pendiam, agak angkuh. Dilihat dari seleranya, dia tipe yang menjaga pola makannya. Anak ke-2 dari 2 bersaudara. Anak dari pemilik Uchiha Corp. yang lingkup usahanya mencapai hampir seluruh aspek lapangan. Dia…' seseorang mencolek bahunya. "Itsuki Kotaro?"

Kotaro duduk di sebelahnya. "Laki-laki Uchiha itu mencari info tentang Sakura kan?" dia berkata dengan sangat pelan.

"Bagaimana kau tahu?" tanya Seiji. Kotaro tersenyum tipis.

"Kau itu data bank perguruan ini. Dan aku melihat Uchiha memberikan uang padamu. Lalu dia menunjuk Sakura. Itu sudah cukup untuk jadi bukti," Kotaro menjelaskan. Seiji membuka halaman lain dari bukunya.

"Daya observasi luas dan mata yang tajam… Tak heran kau menjadi satu-satunya lawan sepadan si jenius pemalas Shikamaru Nara, Kotaro Itsuki si jenius yang angin-anginan…" Seiji menutup bukunya. "Lalu? Ada perlu apa?"

"Beri tahu semua yang kau beri tahu pada Uchiha." Perintah Kotaro.

"Ada bayarannya… Apa yang akan kau berikan? Atau berapa yang kau berikan, tapatnya…" Seiji memasukkan bukunya ke tas.

Kotaro berpikir sesaat. Dia menghela napas, "Aku akan memberikan informasi tentang sepupu Sakura." Seiji langsung tersenyum lebar. Dia mengeluarkan catatannya lagi.

"Gosip bahwa kau suka Sakura itu benar ya?" Godanya.

"Tidak benar."

"Lalu kenapa hanya kau bersikap seperti ini setiap ada orang mendekati sakura? Yang lain tidak…"

"Kalau aku membiarkan Sakura didekati sembarang orang, aku bisa dibunuh saudaranya…" Kotaro menghela napas. "Lagi pula, aku satu-satunya yang masih single."

"Oh iya… Naruto pacar Hinata, dan Shikamaru pacaran dengan Ino kan? Cuma kau dan Sakura yang masih single…" Gumam Seiji. "Tapi bukan cuma karena itu kan?"

"Ya… Kami ada rencana," Seiji mendekatkan diri pada Kotaro. "Memang ada tanda-tanda Uchiha suka pada Sakura, tapi masih dalam batasan pasif. Kami berencana memancingnya."

"Kabar bahwa kau ini usil itu benar ya… Data baru…" Seiji menulis info itu ke buku sakunya. "Jadi, bgaimana dengan data tentang sepupu Sakura?"

"Jangan sekarang. Sabtu nanti akan kuberikan," Seiji bermaksud protes, saat Kotaro menambahkan, "Kau ingin lihat reaksi Uchiha kan?"

Seiji berpikir sesaat. "…Ya. Aku ingin lihat kejailanmu. Juga reaksi Uchiha."

"Kalau begitu, aku ingin kau lakukan satu hal…" Kotaro membisiki Seiji sesuatu. Seiji terkejut.

"Wah, bagaimana ini… Aku tak bisa menyebarkan berita bohong… Reputasiku…" Kotaro menepuk bahunya.

"Tenang. Ini bukan bohong. Aku jamin itu. Nah, bagaimana?"

"…Oke. Aku percaya kata-katamu. Aku akan mengabari dia soal ini. Tapi apa dia akan terpancing?"

"Kalau Uchiha itu memang suka pada Sakura, dia pasti terpancing."

"Hehe.. Menarik. Oke! Aku ikut."

"Thanks."


SEPULANG SEKOLAH

Sasuke sedang mengumpulkan bukunya saat Seiji berdiri di lokernya.

"Hei." Sasuke menengok. Seiji terlihat kelelahan.

"Ada apa?"

Seiji mengambil napas. "Ada kabar baru. Kau pembayar termahalku, jadi aku memberi tahu ini kepadamu. Ini tentang Sakura Haruno. Ini telah terbukti kebenarannya." Sasuke langsung membalik badannya, mendengarkan.

"Ada info mengatakan, bahwa ada seorang yang mendapat izin untuk mendekati, bahkan berpacaran dengan Sakura oleh kakak-kakaknya." Seiji melihat Sasuke setelah menyelesaikan kalimatnya.

Mata Sasuke melebar. "Siapa? Siapa dia?" Suaranya terdengar marah.

Seiji menelan ludah. "Err… Salah seorang temannya yang bernama Kotaro Itsuki." Pikiran Sasuke kembali pada kejadian di kantin.

"Dia… Yang dikepang itu kan?" Seiji mengangguk.

"Sebenarnya, Naruto dan Shikamaru juga mendapat izin, tapi mereka sudah punya pacar… Jadi tinggal Kotaro saja yang tersisa. Dia bisa mendapat izin itu karena katanya kakak-kakak Sakura sudah mengenal Baik Kotaro. Dia teman Sakura sejak TK sih…"

"Sakura!!!" Seiji dan Sasuke menengok. Naruto cs mendatangi Sakura yang sedang membuka lokernya.

"Hei!!! Kalian akhirnya datang…" Panggil Sakura.

'Jadi dia Kotaro Itu…' pikir Sasuke saat melihat Kotaro.

'Kena…' pikir Seiji. 'Hehehe… Ini menarik.'

"Ada apa, Sakura?" Tanya Kotaro ramah. Sasuke terlihat tenang, tapi dia mengepalkan tangannya.

"Kak Nadeshiko tiba-tiba mengatakan akan pergi malam ini. Aku bermaksud mengundang kalian makan malam di rumahku." Kata Sakura sambil memasukkan buku ke tasnya.

"Maaf Sakura… Aku ada janji dengan Hinata." Naruto menggaruk kepalanya

"Ino bakal marah besar kalau aku membatalkan kencan hari ini… Menyusahkan…" Shikamaru menerawang.

"Aku bisa." Kotaro berkata. Sasuke menatap mereka. Matanya melebar. 'Kena!!!' Kotaro dan Naruto berpikir sama.

"Wah… Kalau begitu, ayo!! Kita belanja dulu." Sakura bermaksud mengangkat tasnya, namun Kotaro mengambilnya duluan.

"Biar aku saja." Kotaro tersenyum. Sakura tertawa kecil.

"Kau masih tetap sama ya… Seorang gentleman," Kotaro tertawa. "Tapi agak sepi yaa… berdua saja… Ah!!! Seiji-san!!" Sakura memanggil Seiji.

"Ya?" Seiji agak bingung. Tiba-tiba terlibat.

"Kebetulan aku ingin menanyakan sesuatu padamu… Kau mau ikut makan malam dirumahku?" Sakura bertanya.

"Anu… Aku… Dia…" Seiji menunjuk Sasuke.

"Oh… Kau ada perlu dengannya ya…" Sakura agak kecewa.

"Dia juga bisa ikut. Tak apa kan, Sakura?" Seiji berkata.

Sasuke memandang Kotaro, antara mau menolak dan ingin ikut. Sakura tersenyum.

"Boleh juga. Sasuke, kau mau ikut?" Sasuke akhirnya kalah. Dia mengangguk. "Baik!!! Kita ke supermarket dulu." Sakura mengajak mereka pergi. Mereka pun mengikuti Sakura ke arah gerbang sekolah.

"Sayang sekali… Padahal kalau kita ikut, kita bisa lihat reaksi Sasuke." Naruto berbicara setelah mereka pergi.

"Huh… Menyusahkan." Gumam Shikamaru.


Mereka sedang di supermarket. Sakura sedang memilih bahan makanan, Kotaro mendorong troli mengikuti Sakura, dibelakang mereka ada Sasuke yang memandang tajam Kotaro dan Seiji yang memandang takut pada Sasuke dan kagum pada Kotaro yang tetap cuek dipandangi seperti itu.

"Aku akan masak kare hari ini… Kau mau Diisi apa?" Tanya sakura ramah.

"Terserah padamu. Aku akan makan apa saja yang kau masak." Jawab Kotaro, membuat Sasuke makin panas. Seiji terpana dengan cara Kotaro memancing Sasuke. 'Julukan jenius memang pantas untuknya.' Pikir Seiji.

"Bagaiman dengan kalian?" tanya Sakura. "Ah!! Terserah kamu Sakura." Jawab Seiji. "Hnn. Terserah…" jawab Sasuke. Mereka menuju tempat daging. Saat Sakura sedang melihat-lihat daging, ada yang memanggil mereka.

"Sakura, Kotaro? Kalian sedang apa?" seorang wanita memanggil mereka. Seorang wanita, berumur sekitar 19 tahun memanggil mereka. Rambutnya berwarna pink pucat, dengan garis putih di beberapa bagian. Dia mengenakan kaos hitam dengan sweater putih diluarnya. Dia memakai celana jeans hitam dan sepatu kets putih.

"Kak Yuri!! Kami sedang belanja untuk makan malam." Kata Sakura. Kotaro mengangguk. "Mereka juga?" Yuri menunjuk Sasuke dan Seiji. "Iya… Perkenalkan, Ini kakakku Yuri Haruno." Yuri menjabat tangan mereka. "Seiji Kuromine." "Sasuke Uchiha."

Kotaro membisikkan sesuatu pada Sakura. Sakura tertawa. Ini membuat Sasuke makin panas. "Kota, ada yang ingin kubicarakan." Yuri mengamit lengan Kotaro. "Kupinjam Kotaronya ya…" Dia menghilang bersama Kotaro. "Yah… Dasar kakak…" Sakura akan mendorong trolinya saat Sasuke mengambil alih tugas itu. "Biar aku saja." Sakura memandang Sasuke, lalu tersenyum, "Terima kasih, Sasuke."

'Dia benar-benar kena pancingan Kotaro.' Pikir Seiji. "Seiji-san? Kau melamun…" Sakura bertanya. "Oh!!! Tak apa, aku cuma melihat-lihat…" Kata Seiji. "Ayo kita ke kasir…" Kata sakura. Dia menuju kasir, diikuti Sasuke dan Seiji.


Yuri membawa Kotaro sampai jauh dari Sakura. Setelah memastikan mereka aman, Yuri bertanya pada Kotaro. "Ada apa? Aku tahu kamu merencanakan sesuatu." Kotaro tertawa, "Cuma memancing seseorang… Sepertinya sukses…" Yuri memandang Kotaro. "Yang mana yang tertarik pada Sakura?" Kotaro menghela napas. "Yang berambut hitam. Yang berkacamata ikut terlibat dalam rencana ini… Kenapa?" Yuri memandang Kotaro, kesal. "Kau ini… Selalu saja melakukan hal-hal bandel." Kotaro menyeringai. "Kau khawatir padaku, Yuri?"

"Kalau iya?" mereka saling pandang sesaat. "Tenang… Aku tahu apa yang kulakukan, Yuri. Tak perlu cemas." Kotaro bicara. Yuri tetap diam, namun mengangguk. "Hei… Bagaimana kalau kau juga ikut? Bakal makin seru kalau kau ikut." Kotaro bertanya. Yuri berpikir sebentar, lalu tersenyum. "Sepertinya menarik." Kotaro tertawa kecil.

"Ayo. Sakura pasti menunggu kita." Kotaro mengajak Yuri. Mereka pergi keluar supermarket, mendapati Sakura dan Sasuke sedang melihat-lihat barang di toko antik. "Hei!!! Dari mana kalian?" Sakura memanggil. "Mana Seiji?" tanya Kotaro. "Seiji-san bilang dia teringat kalau ada urusan. Jadi dia pulang duluan," Kata Sakura. "Lalu kakak mau kemana?"

"Aku tadinya mau nonton film, tapi teman-temanku tiba-tiba membatalkannya." Kata Yuri mengangkat bahu. "Makan saja dirumah!!! Aku mau buat kare nih…" Sakura berkata. "Boleh juga, dari pada makan sendirian…"

Mereka pergi melewati daerah pertokoan. "Hei, apa tak apa-apa?" Bisik Yuri pada Kotaro. "Kita cuma memancing dia bertindak. Sisanya serahkan saja pada mereka." Yuri berpikir sejenak. Dia melihat Sasuke mencuri pandang sekilas pada Yuri, lalu pada Kotaro. Dia berbisik pada Kotaro. "Kota… Sebaiknya sudahi saja pancingan ini. Dia sepertinya tipe yang cukup beradab." Kotaro berpikir sesaat. "Baiklah, sepertinya aku agak berlebihan… Hei!!!" Yuri mengamit lengan Kota. "Kau ini… Sengaja ingin menyudahi ini ya…" kotaro menghela napas. Yuri tertawa.

Sasuke dan Sakura melihat kejadian ini, Sakura menggelengkan kepalanya, sedangkan Sasuke mengangkat sebelah alisnya. "Mereka ada hubungan apa?" tanya Sasuke. "Oh… Bisa dibilang mereka itu pasangan tanpa status… Sangat dekat, bahkan sering dikira sepasang kekasih bahkan pernah dikira pengantin baru. Tapi mereka tak pernah bicara romantis atau semacamnya." Kata Sakura. 'Ternyata…' Sasuke tersenyum.

"Ada sesuatu yang bagus ya?" Sakura melihat ke arah yang dilihat Sasuke. "Ah, ehm… Bukan, hanya teringat sesuatu." Kata Sasuke, agak panik.

"Saatnya kita dorong dia…" kata Kotaro. Yuri mengangguk. "Hei… tunggu kami!" Mereka mengejar Sakura dan Sasuke. "Kok meninggalkan kami?" tanya Yuri saat mereka mendekat. "Maaf… Aku cuma tidak enak… Habis kalian terlihat ingin berdua sih." Kata Sakura. "Hoo… Hei Sakura, Sabtu nanti kau jadi ke festival Universitas Leaf kan? Yuri buka stand disana." tanya Kotaro.

"Oh iya! Kau mau menemaniku?" Tanya Sakura. "Wah… Aku tidak bisa… Yuri tak mau Aku kemana-mana hari itu. Dia ingin aku membantunya." Kata Kotaro. "Yah… Bagaimana ini? Cuma kamu yang tahu tempat itu…" Sakura kecewa. 'Ini kesempatan…' pikir Sasuke. "Aku akan menemanimu. Kakakku dulu kuliah disana. Aku tahu tempat itu."

"Benarkah? Terima kasih Sasuke!!!" Sakura memeluk Sasuke. Sasuke tak dapat menyembunyikan semburat merah di pipinya. "Oh!!!! Maaf…" Sakura salah tingkah. Kotaro tertawa. "Ah… Masa muda memang menyenangkan…" Katanya. "Heh, kau juga masih muda…" Yuri menyahut ucapannya.

"A..Ayo kita pulang…" Sakura mengalihkan pembicaraan. "Oke-oke…" Kotaro menjawab. Mereka berjalan dalam diam. Sakura mendekati Sasuke. "Maaf… Soal tadi…" Sasuke kembali dalam mode tenangnya. "Tak apa." Jawabnya. Sakura kembali tersenyum. Mereka kembali bicara, sekedar mengakrabkan diri.

"Ah… Aku lupa…" Yuri menepuk keningnya.

"Apa yang lupa?"

"Mereka akan datang ke rumah…"

"...Aku berdoa untuk keselamatanmu, Sasuke."


Mereka sampai dirumah keluarga Haruno. Rumah bertingkat 2 dengan dekorasi biasa, namun nyaman. Saat Sasuke masuk, dia menyadari bahwa rumah itu memiliki banyak foto. Matanya tertuju pada foto keluarga berukuran besar di dinding. Disana ada Sakura dan Yuri, berumur sekitar 12 dan 14 tahun. Di sebelah mereka ada wanita muda yang terlihat berumur 19 tahun, berambut pink yang memucat ke arah bawah rambut, sedang memegang kepala Yuri. "Itu kak Nadeshiko." Kata Kotaro. Dibelakang mereka ada orang tua Sakura, sedang tertawa.

"Ayo segera masak!!" Suara Sakura terdengar dari arah dapur. "Ayo. Sebaiknya kita ke dapur." Ajak kotaro. Mereka memasuki, dapur. Sakura, mengenakan celemek warna hijau sedang memotong daging. Dia memakai kaos jingga dengan rok pendek hijau gelap. Sasuke terpana, dia langsung salah tingkah.

"Wah… Kau sudah pantas jadi istri rupanya. Semua orang yang melihatmu pasti berharap jadi suamimu." Goda Yuri. Dia baru saja mengganti bajunya dengan kaos putih dan celana cokelat pendek. "Kakak!!! Jangan bicara seperti om-om dong!!!" Sakura kesal. Yuri tertawa, dia mengenakan celemek hitam dan membantu Sakura.

Kotaro mencolek bahu Sasuke. "Menikmati apa yang kau lihat?" bisiknya. Sasuke panik, berusaha mencari alasan. "Tak apa… Karena aku juga menikmatinya. Ayo, mengaku saja…" Sasuke akhirnya menghela napas, tahu alasan apapun tak akan dipercaya oleh Kotaro. Dia mengangguk, malu.

"Kau punya hubungan apa dengan kakak Sakura?" Sasuke mengalihkan perhatian. "Lebih dari sekedar pacaran, pastinya." Kotaro menjawab. "Tapi, Sakura bilang kalian…" Kotaro memotongnya. "Ya. Aku tak pernah menyatakan apapun padanya. Tapi dia pernah bilang bahwa dia bersyukur aku tak pernah bilang apa-apa padanya."

"Kenapa?" Sasuke bingung. Kotaro merebahkan diri ke kursi. "Karena, dia bilang kalau aku menyatakan cinta dan dia menerima, maka kami harus mulai dari awal lagi. Dan dia takut, kalau harus mengulang lagi akan ada perubahan yang justru menjauhkan kami."

Sasuke melihat Kotaro, bingung.

"Manusia selalu berubah-ubah. Belum tentu mereka akan memilih jawaban yang sama saat diahadapkan pada masalah yang sama. Yang dia takutkan, saat kami memulai segalanya dari awal lagi, aku akan memilih sesuatu yang berbeda, dan membuat kami berpisah." Kotaro menjelaskan.

"Aku… Tidak terlalu mengerti tentang hal ini." Kata Sasuke. "Yah, tak perlu dipikirkan terlalu jauh." Kata Kotaro. "Hubungan kalian Rumit." Kata Sasuke. "Banyak yang bilang begitu." Sahut Kotaro. Mereka terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.

"Hei, kenapa melamun??" Tanya Sakura. Mereka tersentak dari pikirannya. "Oh… Cuma agak capek." Kata Sasuke. "Kota… Kamu tidak sakit kan?" Yuri menghampiri. "Tidak… Cuma banyak pikiran." Sakura berdehem. "Ayo makan!!!" Dia menempatkan kare ke semua orang.

"Enak…" Kata Sasuke kagum. "Hehehe… terima kasih…" Sakura tersipu. Mereka diam selama beberapa saat. "Sakura, ada urusan apa dengan Seiji? Kau tadi bilang ada keperluan kan?" Tanya Kotaro. "Oh… Dia pernah bilang kalau dia mencoba menekuni bidang fotografi. Aku mau sewa dia untuk ambil gambar restoran baru kak Nadeshiko. Soalnya kak Nadeshiko minta tolong padaku." Jawab sakura. Kotaro menghela napas. "Dia tetap suka merepotkan orang…"

"Siapa?" sebuah suara datang dari pintu ruang makan. Sasuke melihat wanita yang dia lihat di foto tadi, hanya dalam versi lebih dewasa. Dia mengenakan sweater lengan panjang, memperlihatkan lekuk tubuh indahnya dengan jelas. Dengan jeans cokelat tua. "Kak Nade? Katanya pergi ke luar karena ada acara?" Tanya Sakura. Nadeshiko menghela napas, kesal. "Mestinya begitu… Aku ada blind date hari ini. Dia orang baik… Sampai dia mencoba meremas dadaku dan mengajakku ke hotel." Kotaro dan Sasuke tersedak.

"Ha.. Haba?" Kotaro kaget. Dia bermaksud berkata 'apa', namun hidungnya yang kemasukan air dan batuk tanpa henti membuatnya tak mampu berkata dengan jelas. Sasuke, walau tidak bicara apa-apa tapi mengalami keadaan yang sama. Nadeshiko tertawa. "HAHAHAHAHA… Tentu saja bohong, bocah."

Sakura melotot pada Nadeshiko, sedangkan Yuri Memberi tatapan 'sudah-aku-duga'. "Kakak!!! Lihat, mereka tersedak!!! Jangan bercanda semacam itu kenapa sih?!!" Nadeshiko tertawa, lalu mendekati Sasuke. "Cowok cantik… Siapa namamu?" Kata Nadeshiko, mengejek. Sasuke masih terbatuk-batuk, namun terlihat kesal.

"Kakak…" Sakura hampir habis kesabarannya. "Hehe. Aku keatas dulu." Nadeshiko berjalan ke arah tangga. "Maaf… Kak Nade memang suka usil. Dia sering sekali mengerjai orang." Kata Sakura, memberikan lap pada Sasuke. "Sial…" gumam Kotaro, Mengelap wajahnya. "-uhuk-…Dia…-uhuk- kakakmu?" tanya Sasuke. "ya… Namanya Nadeshiko. Kakak tertua kami."

"Yap. Aku anak tertua keluarga Haruno," Nadeshiko muncul lagi. Dia telah mengganti pakaian dengan tank top hitam dan celana pendek dengan warna sama. "Jadi… Siapa kau, kirei-san(1)?" Alis Sasuke mengerut. "Sasuke uchiha." Jawabnya, kembali pada mode stoic-nya. Kotaro berusaha untuk tidak tersenyum. 'Dia bakal kena dikerjai.'

Mata Nadeshiko terbelalak. Dia terdiam beberapa saat. 'Dia tahu siapa aku, dia tak akan macam-macam padaku.' Pikir Sasuke, merasa menang. Nadeshiko memperhatikan dengan seksama. Lalu dia beranjak dari meja makan, mengambil gelas dan mengisinya. 'Mau apa dia?' semua berpikiran sama.

Dia mendekati Sasuke dan dia menumpahkan air itu kepada Sasuke. Ke kepala Sasuke. Semua yang ada disana kaget. "Hmm… Tidak mengeluarkan percikan api..." Gumam Nadeshiko. "APA YANG KAU LAKUKAN PADA TEMAN SEKELASKU?!!!" Sakura marah. "kukira dia mesin, habis tak ada ekspresinya…" Kata Nadeshiko simpel. Kotaro membisiki Sasuke saat Sakura sedang menceramahi (dan diacuhkan) Nadeshiko. "Jangan jadi mencolok di hadapannya atau kau akan makin dikerjai."

Sasuke menggeram pelan. Tak ada seorangpun yang pernah melakukan itu padanya. 'Tenang… Dia kakak Sakura… Kau harus tenang…' pikirnya. Nadeshiko bertanya pada Sasuke saat Sakura pergi ke atas. "Jadi… Kau tertarik pada bunga kecil kami, Sasu-kirei?" Sasuke kaget, namun tetap berusaha tenang. "Apa maksudmu? Siapa bunga kecil itu?" Dia mencoba untuk terlihat bingung.

"Usaha yang bagus, Sasu-kirei… Namun tak akan berhasil… Kau tahu siapa dan maksud pertanyaanku… Atau kau memang bodoh…?" jawab Nadeshiko. 'Cukup. Tak ada yang boleh mengatakan aku bodoh.' Pikir Sasuke, dia mengepalkan tangannya. "Aku tidak tertarik pada Sakura." Semua orang yang ada disitu tahu Sasuke marah. Namun Nadeshiko malah menyeringai. "Hoo… ternyata kau bisa berekspresi ya… Sasu-kirei?" Kotaro yang ada dihadapan Sasuke menyeringai. Sasuke menghela napas, teringat kata-kata Kotaro sebelumnya. Dia memberi Kotaro tatapan 'kau-tak-membantu', lalu berkata. "Aku hanya temannya."

Nadeshiko tersenyum nakal. "Ah… Masa? Atau kau lebih tertarik pada kakak?" Godanya. Dia mendekatkan tubuhnya ke punggung Sasuke. Yuri dan Kotaro menyeringai. Dia memeluk Sasuke yang lengah dari belakang. "Kau lebih suka kehangatan wanita yang matang ya, Sa. Su. Ke.-kuun~" Dia berbisik di telinga Sasuke. Kotaro terpana dengan apa yang dia lihat. Sasuke tetap tanpa ekspresi. Dia melepas pelukan Nadeshiko dengan tenang.

"Kau akan tetap menggangguku kalau aku tidak menjawab dengan jujur kan?" Nadeshiko menyeringai. "Aku tahu kau akan bilang begitu. Jadi?" Sasuke mengambil napas panjang, lalu menatap Nadeshiko. "Ya. Aku tertarik pada Sakura." Wajahnya agak memerah. "Bodoh… Sudah kubilang jangan terpancing." Kata kotaro. Sasuke bingung sesaat, lalu mengerti saat melihat perekam kecil yang dipegang Nadeshiko. Dia mengulang isi rekaman itu.

Kata-kata 'Ya. Aku tertarik pada Sakura' terdengar jelas dari speaker perekam itu. Ruangan itu sunyi. "Ada apa?" Sakura yang telah kembali bertanya. Nadeshiko tersenyum. "Kami menunggumu, sakura. Aku lapar, ayo kita makan." Dia menyimpan perekam itu di sakunya. Mereka pun mulai makan. Sakura tidak sadar akan suasana aneh yang ada di ruang makan. Tiba-tiba, bel berbunyi. "Aku saja." Sakura bangkit dari kursinya.

"Oh iya!!!" Yuri terperanjat.

"Kenapa?"

"mereka datang hari ini…"


Bagaimanakah nasib Sasuke selanjutnya? Cobaan macam apa yang harus dihadapi?

Tunggu chap 2 yaaa…

Ja ne~!!

Baka Tantei: Seishiro Amane sign out.