.
Kedua alis Antonio bertautan, dan peluh membanjir di wajah tampannya. Hembusan napasnya terdengar pasrah dan tak berirama sama sekali. Lelaki Spanyol itu terduduk di atas gentong persediaan air di lambung kapal, merenungkan mimpi-mimpinya yang akhir-akhir ini cukup menakutkan. Dimulai dari mimpinya jika Alejandro terbakar, lalu melompat pada kemarahan sang dewi lautan, Calypso, yang tiba-tiba membuat lambung galleonnya pecah dan semuanya hancur berantakan. Namun, satu yang paling diingat Antonio, karena itu adalah mimpi paling mengerikan yang pernah muncul di malamnya.
Eksekusi mati William Kidd.
Antonio akui, sebenarnya dia cukup senang mendengar salah satu bajak laut antagonis itu mati, dan ikut merayakan kematiannya dengan suka cita. Namun, wajah William yang selalu menyambanginya setiap Antonio tertidur cukup membuat lelaki berambut cokelat tua itu lelah dan penat, dan tanpa sadar, ia mulai termakan ketakutan yang berlebihan.
Sesekali ia menatap kompas yang setia berada dalam genggaman tangannya, menunjuk ke arah barat. Antonio tahu, ia semakin dekat dengan tanah harapan. Dunia baru, menjauh dari musuh-musuh lamanya untuk sementara. Terutama pria Inggris beralis tebal dengan rambut pirangnya yang kadang menyilaukan.
Siapa lagi? Antonio tersenyum keji.
Kirkland satu itu.
Arthur Kirkland.
.
Infierno
Hetalia Axis Powers © Hidekaz Himaruya
Infierno © Nanami-Kun
I don't own the characters, i just own the idea and the plot of the story.
.
Warning: Rate M, bahasa yang kasar, OOC, OCs, sejarah yang bakal saya belak-belokkan demi keselarasan cerita, yaoi/ yuri mungkin bakal lewat, hal-hal yang complicated, dan mungkin pindah-pindah setting.
.
The Rumors
.
.
Pagi datang, dan seperti biasa, para kru Alejandro sedang melakukan tugas masing-masing. Mulai dari Doroteo yang sedang sibuk membersihkan mulut meriam hingga mengkilap (dan terlihat sangat bangga karenanya), Diego dan beberapa awak lain yang membersihkan lantai geladak dengan kain kusam sambil melontarkan sumpah serapah menggunakan bahasa Portugis yang (paling tidak) cukup dimengerti Antonio, seorang remaja bernama Tito yang sedang memeriksa simpul mati tali tambang yang mengikat tiang utama Alejandro, serta banyak kegiatan lain yang sudah biasa ditemui jika sedang melakukan pelayaran.
Antonio melangkah menaiki tangga dengan perlahan, lalu menuju tangga paling atas dan berhenti untuk duduk sejenak. Matanya yang berwarna hijau cemerlang menatap para anak buahnya dengan senang, dan tanpa sadar, sebuah senyuman terukir di wajahnya. Lelaki itu bangkit dan berbalik, lalu berjalan terseok-seok menuju kamarnya.
Seakan tersadar jika ia memiliki tanggung jawab, tangan Antonio segera merogoh saku celana dan membentangkan sebuah peta pada abad itu di atas meja kerja. Antonio menatap peta yang sudah kusam dan lecek itu dengan seksama. Mulai dari garis pantainya, lalu lautan biru yang semakin lama nampak makin gelap― menandakan jika lautnya semakin dalam― di tengah-tengah.
Antonio sadar sepenuhnya, dunia baru yang ia tuju tidak benar-benar baru. Dan kini, ia putuskan dengan ringan hati di mana mereka akan melempar jangkar.
.
.Infierno.
"Kau yakin jika kita akan mendarat di Hispaniola?" Suara canggung Lopez menyeruak ketika mendengar tujuan sang kapten. Sang juru kemudi kapal itu menyangga tubuhnya pada pagar galleon sambil menatap peta yang Antonio sodorkan.
"Ada yang salah dengan itu?" Sang kapten balas bertanya sambil ikut menatap peta kusam yang dipegang juru kemudi galleonnya. Lopez menggaruk batang hidungnya yang sebenarnya tak gatal dan menghembuskan napas perlahan.
"Bukan bermaksud lancang, Antonio, tapi… Hispaniola dikuasai oleh angkatan laut Spanyol, dan di sisi lain pulau, yaitu St. Domingue, dikuasai oleh pihak Perancis. Kau tak akan suka bertempur melawan mereka. Plus, prajurit-prajurit itu pasti tidak memiliki barang berharga." Lopez menerangkan dengan berhati-hati, sedangkan jemari dengan kuku tumpulnya menari-nari di atas peta, menunjukkan tempat yang menjadi tujuan dan apa saja yang akan ditemui selama perjalanan.
"Dan uhm, jika kau ingin tahu, Antonio… kita pasti akan terkepung oleh beberapa pasukan Royal Navy yang berjaga di perbatasan, mengingat jika kita harus melewati beberapa daerah kolonial Inggris. Hispaniola bukanlah lokasi strategis untuk mendarat. Kalau aku boleh menyarankan, sebaiknya kita turun di Kepulauan Bahamas saja."
Lalu Lopez menjelaskan dengan lebih rinci lagi, lebih mendetail, lebih panjang dari apa yang Antonio harapkan darinya. Sang kapten menimpali dengan beberapa anggukan ketika Lopez sesekali menatapnya, seakan memohon respon dari Antonio. Dan akhirnya, waktu yang Antonio tunggu-tunggu telah tiba: Lopez akhirnya menyelesaikan penjelasan panjang lebarnya.
"Jadi, kita tarik kesimpulan," Antonio berujar dengan senyum secerah matahari nampak di wajahnya, dan tangannya memijat kening samping, "kita akan melempar jangkar di Kepulauan Bahamas?"
"Itu adalah ide terbaik yang dapat kuberi, Antonio," ujar Lopez sembari mengulurkan peta milik Antonio, yang segera saja disambut dengan senang hati oleh sang kapten.
"Yah, itu yang terbaik, kan?"
Lopez mengangguk sambil tersenyum puas, matanya seakan berteriak: sudah kupastikan hal itu! dan tangannya memilin rambut pada janggutnya yang sudah nyaris memutih seluruhnya― menandakan jika ia senang dengan keputusan yang diambil oleh kaptennya.
"Arahkan pada Kepulauan Bahama, Kapten?"
Antonio tertawa renyah.
"Aku tak punya pilihan lain, bukan?"
.
.Infierno.
Sebuah frigate terlihat gagah dengan tampilannya yang didominasi warna gelap yang begitu jauh berbeda dengan sinar mentari di langit dan lautan biru hijau yang bening. Kapal itu terlihat begitu mencolok, begitu pula dengan keadaan di sekitarnya. Banyak orang yang berada di atas geladak kapal itu dengan tangan penuh dengan karung dan gentong, serta beberapa barang bawaan lain, seakan baru saja terjadi pemecatan besar-besaran.
Pada ujung layar utama frigate tersebut berkibar dengan megah sebuah bendera hitam dengan tengkorak dan dua pedang yang menyilang. Satu-satunya yang membuat bendera itu terlihat aneh adalah sebuah bulatan kecil yang memiliki paruh di atas kepala sang tengkorak. Yang pasti, itu adalah bendera Jolly Roger. Bendera milik para perompak. Frigate itu, tak salah lagi, merupakan kapal bajak laut. Dan apapun yang sedang para perompak itu lakukan, secepat atau selambat mungkin, pasti akan berujung pada kedatangan tamu tak diundang; angkatan laut, atau siapapun yang tunduk pada hukum yang ditegakkan negara.
"Baiklah teman-teman, lebih baik kalian mengantre dan tidak saling berdesakan!" Suara seorang pria (yang terbilang cukup anggun dengan aksennya yang unik, karena terdapat sengau) melengking di udara, yang sayangnya tak dapat membuat kerumunan orang itu bungkam.
"Ya, ya. Kau, Pak, terlalu tua untuk mengikuti pelayaran ini," Lelaki berambut pirang itu menunjuk pria di depannya dengan senyum dipaksakan, sebelum akhirnya memutar badan dan melambaikan tangan pada kerumunan wanita, "hei, gadis manis! Lihatlah kemari, sayangku!"
Suasana gaduh itu tidak mau berhenti juga, dan Francis Bonnefoy― pria dengan suara melengking dan rambut pirang yang dikucir kuda di bawah yang (rupanya) baru saja memberikan isyarat cium pada gadis belia di bawah tiang kapal― terlihat cukup kewalahan menghadapi banyaknya orang di atas frigate.
"Nah, Arnaud, bisakah kau menggantikanku sejenak di sini? Sepertinya aku membutuhkan segelas penuh rum," Francis berujar pada pemuda berusia belasan di sampingnya sambil mengusap peluh. Arnaud segera mengangguk dan dengan senang hati berpindah tempat.
Dari jauh, anak lelaki itu berteriak nyaring, "Pergilah ke Ambrose! Kapten sedang beristirahat di sana!"
Francis segera mengangguk senang dan melambaikan tangan pada Arnaud, tak menyadari jika bocah itu sedang kewalahan menghadapi kawanan orang.
.
.Infierno.
Ambrose merupakan bar paling besar bagi para bajak laut untuk berkumpul dan memetik buah kehidupan yang ranum. Tempat itu menyediakan berbagai macam jenis rum, mulai dari rum kacangan hingga yang bernilai setingkat dengan emas murni. Selain menyediakan rum, Ambrose juga menyediakan banyak wanita yang siap membuat mabuk kepayang, dan tak ketinggalan, makanan dan barang-barang yang diperlukan untuk perjalanan.
Francis menjejakkan kaki ke dalam bar, dan menemukan rasa rindu pada tempat itu. Bahkan setelah tiga tahun pelayaran, tak ada yang berubah dari Ambrose. Wanginya― perpaduan antara rokok, rum, prafum wanita, dan laut― tidak lagi semenyengat saat ia pertama kali datang. Tempat itu sama menyenangkannya dengan saat Francis terakhir kali mampir.
"Bonjour, Francis." Seorang pria tambun dengan rambut palsu berwarna perak menyambangi Francis dengan senyum lebar mengembang di wajah.
"Augustin," Yang disapa segera memeluk sahabat lamanya dan tertawa-tawa, "aku merindukanmu, kawan." Francis melanjutkan sambil menepuk pundak pria paruh baya di sampingnya berkali-kali.
"Bagaimana dengan Burkhard?" Augustin bertanya sambil menyodorkan segelas penuh rum kepada Francis, seakan dapat membaca pikiran lelaki itu. Francis meraih white rum itu dengan senang hati dan menenggaknya perlahan, sambil beberapa kali mengucapkan terima kasih.
"Gilbert merusak gagang kemudinya saat kami terjebak dalam badai," ujar sang lelaki berambut pirang sambil tertawa-tawa mengingat kejadian yang telah terjadi dua bulan yang lalu. Augustin mendengarkan dengan wajah terkaget-kaget, lalu meledak menjadi tawa ketika membayangkan kapten berkebangsaan Prusia itu memutar kemudinya dengan sangat keras.
"Ah, padahal Burkhard adalah salah satu frigate tertangguh yang pernah kutemui," ujar Augustin, tangannya memelintir rambut palsu yang ia kenakan. "Semoga dapat segera diperbaiki, Francis,"
"Omong-omong…" Francis menengok dan menatap sang lelaki berusia setengah abad di sampingnya dengan serius, "ou'est-ce qu'il se passé?[1]" tanyanya dengan menggunakan bahasa ibu mereka berdua, berhati-hati karena takut jika ada yang mendengar.
"Di mana? Di sini?" Augustin balas bertanya, dan Francis mengiyakan dengan anggukan mantap.
"Yah, Francis, kau tahu…" Suara yang keluar dari mulut Augustin terdengar resah, "beberapa kali terjadi kerusuhan di sini, terutama ketika tiga orang angkatan laut Spanyol yang mabuk masuk ke sini dan menembak beberapa pelangganku,"
"Ya, aku sudah dengar hal itu," Francis menimpali sambil melirik ke kanan kiri dengan perlahan, memastikan suasana masih sekondusif tadi, "lalu? Maksudku, mengenai Kirkland itu…"
Wajah Augustin seketika menjadi pucat. Mulutnya bergetar dengan hebat dan giginya tak mau berhenti bergemeletuk. Kedua bola mata birunya membelalak lebar, keringat meluncur dari dahi hingga ujung jemarinya, dan napasnya menjadi tak teratur.
"Ya, ya," Augustin berujar sambil menenggak dark rumnya, berusaha untuk menenangkan diri, lalu menghempaskan pantatnya pada kursi kayu. "Jelas saja aku masih ingat,"
Salah satu alis Francis naik. Ia mulai tertarik dengan percakapan satu ini.
"Jadi semua rumor tentangnya itu benar?"
Tanpa menunggu lama, ia mendapatkan jawabannya hanya dengan melihat respon fisik Augustin yang menjadi lebih buruk dari sebelumnya.
Pupil Francis melebar dan ia sadar jika ia telah memancing Augustin dalam percakapan yang bisa dibilang sangat rahasia, yang apabila bocor dapat membahayakan banyak pihak.
"Bisa kau ceritakan padaku?" Francis menepuk pundak lelaki tua di sampingnya dengan was-was.
"Berjanjilah tak memberitahukan pada siapapun, Bonnefoy. Aku sangat membutuhkan janjimu itu untuk memastikan jika berita ini tidak bocor ke tangan yang salah,"
"Aku berjanji," kata Francis. "Bisa kita lanjutkan?"
Augustin menengadah dan menemukan jika tak ada jalan lain selain menceritakan semua rentetan kejadian yang terjadi malam itu. Mulailah ia bercerita sebagaimana adanya dengan wajah yang tak dapat menyembunyikan ketakutan yang sangat besar.
"Saat itu sudah larut malam dan aku hendak mematikan lilin," Augustin bercerita dan matanya melirik lilin di meja. "Kupikir tak akan ada pembeli yang datang. Apalagi malam itu sedang terjadi badai,"
Francis menatap lekat-lekat Augustin. "Lalu aku keluar dan di pelabuhan aku melihat…" Lelaki tua itu menarik napas sambil menyeka peluh di dahinya, "Man of war. Sungguh megah. Kapal itu benar-benar besar dan terlihat gagah, terutama saat terkena hempasan ombak. Seakan kapal itu tak akan goyah barang sedetikpun,"
"Dan, dan, kau tahu apa? Di bagian paling depan kapal, terdapat patung kayu yang sangat besar, mungkin lebih dari dua meter. Patung itu terlihat seperti seorang gadis yang membawa sebuket bunga,"
"Lady in Black?" tanya Francis dengan hati-hati. Augustin seketika mendongkak dan menatap Francis dengan mata yang dipenuhi oleh ketakutan.
"Oh, sial, Francis!" Tangis sang lelaki tua pecah karena ketakutan yang melahap habis dirinya. Sama sekali tak ada yang menggubris tangisan sang pemilik bar Ambrose karena sibuk pada kesenangan masing-masing.
"Tenang, Augustin," Yang lebih muda menghibur sambil mengusap-usapkan kedua tangannya pada punggung yang lebih tua. "Tidak akan ada masalah serius," Francis berujar dengan pasti, meski dalam hatinya timbul keraguan besar.
"Tidak akan ada masalah serius? Lalu bagaimana dengan permusuhannya dengan Blackbeard yang nyaris membuat dunia ini kiamat?" pekik Augustin sambil mengusap kedua matanya dengan sapu tangan putih berenda rumit. "Lelaki itu adalah kutukan dari laut. Keberadaannya merupakan gangguan dan dia layak dimusnahkan!"
"Lalu apa lagi yang kau lihat?" tanya Francis yang akhirnya ikut duduk di samping Augustin. "Kau melihat awaknya? Apakah mereka masuk ke dalam bar?"
"Tidak," Augustin menggelengkan kepala dengan mantap. "Aku sama sekali tidak melihat anak buah Kirkland turun dari kapal, barang satu detikpun. Yang kulihat hanyalah kapalnya yang tertambat di dermaga, dan beberapa saat kemudian mereka segera menarik jangkar dan pergi berlayar,"
"Ke mana?" tanya Francis lagi, dan matanya enggan berhenti memandangi keadaan sekitar.
"Andai aku tahu. Hanya beberapa detik setelah berlayar, kapal itu tak terlihat lagi karena tertutup oleh badai,"
"Dasar sinting," ujar awak yang paling dipercaya oleh kapten kapal Burkhard itu. "Berlayar dalam badai? Ide yang bagus kalau kau mau mati di laut."
"Ah, entahlah, Francis. Arthur tak dapat ditebak sama sekali. Terkadang, bahkan dalam keadaan sedarurat apapun ia tetap dapat lolos. Buktinya adalah saat ia lolos dari amukan Blackbeard yang sedang membabi buta di New Providence. Kudengar Arthur mendapat luka cukup parah akibat enam pistol berbahaya milik Blackbeard, tapi dia tetap selamat."
"Ya," Francis mengangguk-angguk tanpa sadar. "Sejak saat itu Lady in Black tak pernah terlihat lagi di perairan yang sering dilewati sebagai jalur perompakan atau perdagangan. Bahkan selama tiga tahun ini aku tak mendengar kabar apa pun."
"Ah, Francis. Kini dia kembali. Apa yang harus kita lakukan?" Augustin bertanya dengan wajah sendu setelah air matanya habis karena sejak tadi sudah dikuras. "Ia diburu oleh angkatan laut dan perompak lain, jadi… apa tidak mungkin jika kalian beraliansi?"
Mendengar pertanyaan itu membuat Francis menyemprotkan white rumnya keluar dari mulut. Kemudian ia tertawa-tawa hingga sakit perut, sedangkan Augustin di sampingnya terlihat sungguh resah dan ketakutan.
"Beraliansi dengan angkatan laut? Itu adalah tindakan terendah yang pernah seseorang katakana padaku," ujar Francis di sela tawanya. "Tidak mungkin. Ide itu pasti ditolak oleh banyak pihak. Lagipula, angkatan laut berisi orang-orang berlidah licin dengan janji-janji mematikannya."
Kedua bola mata tua milik sang pemilik bar segera mengerjap-erjap begitu ia menyadari ide bodohnya. "Kau benar. Lebih baik selesaikan sendiri saja, kan?" Francis menimpalinya dengan anggukan yang sungguh mantap.
"Lagipula, musuh terbesar Arthur saat ini adalah Antonio,"
"Oh!" Augustin memekik dan menunjukkan perubahan drastis di wajahnya. "Pria Spanyol itu? Dia memang hebat! Aku memang baru melihatnya sekali, saat kalian bertemu tiga tahun lalu di sini, bukan?" Yang ditanya tertawa dan memberikan anggukan kecil. "Ya, ya. Pria berambut cokelat yang diikat pita merah itu, oh, aku ingat dia. Kudengar dia memiliki relasi dengan Henry Morgan?"
"Sepertinya begitu," ujar Francis yang rumnya telah hilang tiga perempat.
"Pria hebat. Terakhir kali kudengar, dia sedang menyiapkan pelayaran menuju dunia baru. Benarkah itu?" tanya Augustin seraya meraih gelas rum Francis dan meminta pelayan wanitanya untuk segera mengisi penuh gelas itu kembali― membuat Francis terkekeh dan bersyukur karena bisa mengenal salah satu penyedia rum terbaik di dunia.
"Ya. Mungkin kita tak dapat bertemu dengannya dalam waktu dekat,"
"Kau benar." Sang lelaki tua menyodorkan segelas white rum lagi pada Francis. "Omong-omong, jika kau ingin bertemu dengan Gilbert, dia ada di tempat penyimpanan rum."
Francis segera tersenyum dan meraih gelas rumnya. "Baiklah, senang berbicara denganmu, Augustin."
"Aku juga senang berbicara lagi denganmu. Jangan ceritakan pada siapapun mengenai percakapan kita tadi,"
"Baiklah,"
"Dan, oh, katakan pada Gilbert, ia harus membayar rum yang kau minum!" Lalu lelaki tua itu tertawa dan berbalik menuju ke ruang kerjanya.
Mendengar perkataan terakhir Augustin membuat sebagian hati Francis ikut bersimpati pada sahabatnya karena akan segera kehilangan banyak uang, mengingat white rum yang ia tenggak rupanya cukup mahal. Sebagian lagi? Tentu saja mentertawakan dan merasa penasaran dengan reaksi Gilbert begitu mengetahui mengenai kemalangan yang akan segera menimpanya.
.
.
.
Chapter 2: end
-Pieces of Eight-
[1]Qu'est-ce qu'il se passé? (French): Apa yang terjadi?
Frigate, galleon, man of war: Ketiga-tiganya itu jenis kapal. Serius, saya susah jelasinnya ueheheh. Silakan dicek di google untuk penjelasan lebih lanjut dan body kapalnya :3
A/N: Oh, saya belum cerita soal nama-nama kapalnya, ya? :3 Kalau pada pengen tahu artinya, silakan dibaca, ok?
Burkhard: Nama frigate milik Gilbert, artinya berani dan kuat.
Alejandro : Nama galleon milik Antonio, artinya penjaga umat manusia.
Lady in Black: Oke, kalian pasti tahu sendiri, kan?
Fuah, chapter 2 udah diapdet eheheh~ Akhirnya saya bisa ngelanjutin ini, meski baru satu chapter. Saya risetnya ke mana-mana lho, mulai dari mengcopy-paste jenis-jenis kapal, jenis-jenis rum, nama-nama bajak laut yang terkenal, lalu lokasi yang sering disambangi oleh para perompak saat Golden Age of Piracy. Cerita awalnya berubah total dengan Infierno sebelumnya, tapi dari tengah hingga akhir bakalan sama. Seperti pada warning, bakal ada banyak nama asing (bukan karakter APH) yang keluar. Ya, harus dilakukan sih, mengingat keterbatasan jumlah karakter dalam APH #nangis. Meski saya riset berkali-kali, belum tentu semua hal di dalam fic ini mutlak kebenarannya, lho ya. Lagian kan ada beberapa bagian yang saya uhukbuatuhukjadiuhuklebihuhuknistadarikenyataannyauhuk. Mungkin ada yang bingung sama chapter 1, ya? Ijinkan saya minta maaf, ok? Biar saya jelasin secara pendek: Antonio sering mimpi buruk tentang kematian William Kidd. Potongan percakapannya dengan Henry Morgan itu semacam flashback. Ada yang mau bantu saya ngeriset? #dihajar. Dan, em, yah, mungkin setelah chapter 2 ini, fic Infierno bakal berhenti apdet mengingat authornya sibuk dengan ujian sekolah dan tugas-tugas yang entah kenapa nggak berkurang sama sekali, malah nambah. Nyak, bantu anakmu ini~
Oke, kalau ada saran dan kritik buat fic ini silakan dilontarkan dalam kolom 'review'. Misalkan ada yang salah di fic ini, silakan dikatakan, ok? Mau secara pribadi (PM) atau secara buka-bukaan (review), yang manapun boleh. Buat yang mau tanya lebih lanjut, monggo~ Buat yang mau ngeflame, saya oke-oke aja, asalkan flamenya bermutu.
Wah, A/N ini sungguh panjang :3 #dihajar. Oke, selamat bertemu di chapter selanjutnya (yang enggak tahu mau dipublish kapan)!
