Naruto © Masashi Kishimoto

"Si Putri Pelupa"

Warning: AU, Misstypo(s), OOC, dll.

Main Character: Uchiha Sasuke x Hyuuga Hinata

-Chapter 2: Mengenal-

Mata onyx bertemu permata putih. Keduanya terdiam cukup lama, saling bertukar pandang. Sampai-sampai tak menyadari menjadi pusat perhatian kelas yang mendadak hening.

"Maaf anak-anak." Pintu geser kelas terbuka, tapi perhatian manusia-manusia dalam kelas tetap tertuju pada dua kepal yang masih saling pandang, "yaaah, aku terlambat lagi. Kalian tau...?" Kakashi yang baru datang melihat keanehan kelasnya yang tidak biasa hening.

Guru itu hanya menghela nafasnya berat. Merasa kehadirannya tak dihiraukan dan lebih memilih memperhatikan dua sejoli yang saling adu tatap.

"Ehm!" Kakashi berdehem di balik maskernya, berhasil. Semua tersentak dan langsung membenahi posisi duduk dan posisi mata. Begitu pula Sasuke dan Hinata –terlebih Hinata, gadis itu langsung membuang muka. Ada semburat merah di wajahnya, meski tipis.

'Terpesona eh?' Sasuke membatin senang sambil menarik kecil sudut bibirnya ke atas –nyaris tak terlihat. Entah kenapa, ia merasa senang melihat guratan malu itu. Reaksi yang belum pernah dilihatnya dari gadis di sampingnya itu.

"Ah... kau uchiha itu ya?" Kakashi tiba-tiba menegurnya, pria itu mengamati sasuke dengan mata lelah dan mengantuk khasnya.

"Hn..." Sasuke bergumam tidak jelas bersama ekspresi wajahnya yang datar sebagai jawaban.

"Selamat bergabung," Kakashi membalas malas. Dia kembali melihat seluruh kelas, "Baiklah, kita mulai pelajarannya," lalu menatap ke jam, "wah, sepuluh menit lagi. Tak terasa ya hehe..." ujar Kakashi menggaruk tengkuknya sambil tersenyum tak berdosa di balik maskernya. Semua murid dalam kelas langsung bersweatdrop ria melihat kelakuan guru mereka.

.

Istirahat terasa sungguh sulit untuk Hinata. Bukannya meingistirahatkan tubuh dan pikiran dia malah terjebak di antara keramaian antah berantah yang terjadi di kelasnya. Gadis itu meracau kesal karna kesulitan keluar dari manusia-manusia bernama perempuan #loh dia apa dong?# yang jadi momok utama pembuat sesak kelasnya. Kelas sekaligus kamar tidurnya yang kesekian.

"Hu... ah... hu... ah," Hinata menepuk-nepuk dadanya yang mengalami sekarat oksigen setelah sampai di depan pintu kelasnya. Sedang sasuke? Jangan ditanya, si titik magnet yang menarik perhatian para perempuan itu sedang memasang deathglare mematikan, terlebih pada kedua gadis yang memeluk kedua lengannya dengan erat tanpa tahu permisi.

"Kamu Uchiha Sasuke ya? Kenalkan aku Shion. Kelas kita sebelahan loh!" Si pirang yang mengampit lengannya manja berujar.

"Hey shion minggir kau!" sentak seorang perempuan pirang lainnya yang menarik gadis bersurai pirang itu dalam satu gerakan. Kuat. Mengganti posisinya sebagai pemeluk lengan kiri sasuke. "Kau juga Haruno. Lepaskan lengan kanan sasuke," teriaknya lagi.

"Enak saja.." keduanya saling beradu deathglare. Sedang gadis-gadis lain sibuk ber-KYAAA-KYAAA melihat ketampanan si bungsu uchiha yang murid baru.

Hinata yang sudah selamat sehat wal'afiat di luar kelas merogoh saku roknya mencari sebuah kertas. Tapi yang ia dapat hanya note kecil. Yang dicarinya tidak ketemu. Ia kesal.

Bagaimana mau berkeliling? Batinnya merana. Sang penunjuk jalan alias peta, menghilang dari sakunya –ketinggalan di rumah sebenarnya. Hinata menghela napasnya, jujur, di sekolah besarnya itu, ia sedikit takut tersesat seperti anak hilang. Kalau di luar masih mending ada pok polisi, kalau di sekolah, Hinata kan malu harus bertanya pada siapa...

Puk!

Tepukan lembut di atas kepalanya. Hinata menoleh dan mendapati seorang lelaki tampan yang mungkin pujaan sekolah. Dan mungkin peringkatnya menurun karana keberadaan si Sasuke Uchih di kelasnya.

"Hai!" pemudai itu menyapanya ramah, "kenapa kelihatannya bingung?" tanya lelaki itu lagi.

Hinata menunduk malu-malu. Dia memang bingung. Bingung mau kemana, bingung harus bagaimana, dan bingung karena tidak mengenal laki-laki dihadapannya yang terlihat amat mengenalnya, terlihat jelas dari gaya bicara yang halus dan hangat itu.

"Hmm, A-aku mau jalan-jalan," jawab Hinata terbata. Laki-laki di depannya itu tersenyum lembut melihat wajah polos hinata yang seperti anak kecil tersesat.

"Baiklah, ayo!" Laki-laki itu menautkan jemarinya pada jemari tangan Hinata yang mungil.

Blush...

Pipi Hinata merona, malu.

Entah kenapa Hinata tak mampu menolak kehangatan yang ditawarkan dari tangan besar laki-laki itu.

Di lain sisi, laki-laki itu membatin nyeri menyadari sikap sang kekasih hati, Seminggu sudah kita pacaran Hinata...

Hinata masih diam di tempatnya, entah kenapa ia sedikit ragu-ragu. Laki-laki itu menolehkan kepalanya dan tersenyum hangat dengan sayang, dia mengusap surai indigo Hinata yang lembut bak sutera. Ah, lagi-lagi Hinata blushing, lebih merah tentunya. Alhasil, mata lavendernya tak kuat berlama-lama menatap mata kelam itu. Jadilah ia memilih membuang mukanya ke arah lain.
deg!

Sasuke. Matanya malah mengarah ke arah murid baru itu.

Pemuda itu tengah menatap kebersamaan Hinata dan laki-laki di hadapannya dengan sorot dingin dan menusuk.

Lama Hinata mengamati Sasuke sambil memasang raut bingung. Kenapa dia menatapku begitu dingin? Apa salahku?batinnya.

Laki-laki di depan Hinta mengernyit, sadar gadis yang digandengnya menatap ke arah lain. Dia ikut menoleh ke arah yang dilihat oleh gadisnya karena penasaran juga apa yang dilihat sang kekasih.

Oh, " –Sasuke! Ehey, baka otoutou!" itu adiknya yang sedang diserbu fans mendadak.

Sasuke sweetdrop pada sapaan kakak jeniusnya itu. Kesal, karena peringatan yang ia berikan ternyata sia-sia. Suara lelaki itu sukses menggema di lorong kelas dan di ruangan kelas hinata.

Hening.

Dan jadilah semua tatapan mengarah pada sumber suara. Timbul malapetaka yang tidak diinginkan. Pertama, idola sekolah, senior tingkat tiga, sedang berkeliaran tanpa ada fans yang sadar. Kedua, dia punya ADIK!

"KYAAAA! ITACHI-SENPAI!"

"KYAA! ITACHI-SENPAI SAMA SASUKE-KUN KAKAK-ADIKK!"

"KYAAAA! PRINCE-SIBLING!"

dan kyaa-kyaa lainnya.

Itachi menghela napas berat. Sadar akan kebodohannya. Akibatnya ia harus ikut dikerubuni fans dari lorong kelas dan sebagian dari kelas Hinata.

Omong-omong soal Hinata, pegangan Itachi lepas karena direbut secara paksa. Kehangatannya langsung hilang seketika. Tapi apa daya gadis itu tak bisa berbuat apa-apa. Entah kenapa rasanya tidak rela. Hinata memutuskan berjalan sambil sesekali menunduk dan menghela napas.

"Jadi yang semeja denganku bernama Sasuke. Marganya Uchiha, punya kakak yang benar-benar mirip, namanya Itachi. Yang membedakan itu gaya rambutnya. Yang satu pantat ayam yang satu lagi ekor kuda dan punya kerutan. Ops." Hinata sibuk menggambar chibi kedua uchiha itu di dalam note kecilnya sambil berceloteh ria.

"Dan lagi, sikapnya beda jauuuh!" ujar Hinata sambil mengerucutkan bibirnya. Mengingat pertemuannya dengan si adik dan gandengan hangat si kakak.

Ah, kenapa ia harus ingat sih!

Tenggelam dalam kegiatannya menggambar dua chibi Uchiha itu, Hinata baru sadar kalau dia sudah melangkah jauh meninggalkan kelas. Tempat dimana dia berhenti sekarang ini cukup membuatnya panik. Ia tidak tahu menahu tempat ini. Hinata menoleh kiri kanan. Tak ada siapapun. Hanya ada pohon-pohon besar. Salah satu pohon itu akhirnya tertunjuk untuk menjadi tempat ia mengistirahatkan tubuhnya. Tanpa tidur. Hanya menyender.

"Di-dimana ini?" Raut wajahnya ketakutan. Hinata bangkit dari posisi duduknya nekat dan berjalan menjauhi taman itu.
Tapi yang ada ia semakin jauh kedalam. Makin tersesat. Kepanikannya semakin menjadi-jadi. Ia merasa selalu melewati tempat yang sama berkali-kali. Ingin menangis rasanya.

Dug!

"AH –Itt -ittai..." Gadis bermarga Hyuuga itu menggumam sakit. Hinata mengelus-elus kepalanya yang dirasa menabrak sesuatu. Matanya terperanjat waktu membuka.

"Hey! Apa itu sakit?" Seorang pemuda berdiri di depannya. Hinta membelalak.

Di sisi lain, entah kenapa pemuda itu takut melihat gadis dihadapannya menangis tiba-tiba karena melihat dirinya.

Tapi nyatanya tidak. Seperti anak kecil, Hinata menggeleng cepat, dan tanpa ba-bi-bu, ia menghambur memeluk orang di depannya.

"–apa yang..?" kaget si pemuda. Tapi kata-katanya putus.

Hangat. Pelukan yang benar-benar nyaman. Seperti puzzle yang baru disatukan, benar-bena r cocok dan pas. Orang itu menyerah, membiarkan Hinata memeluknya dan perlahan kedua tangannya membalas pelukan itu.

Ini untuk pertama kalinya ia memeluk seorang gadis. Biasanya hanya dipeluk tanpa membalas. "Pelajaran sudah dimulai 10 menit yang lalu," ujarnya kalem.

"A –aku, aku lupa jalan menuju kelas... denahnya tertinggal..."

Orang yang dipeluknya itu mengernyit, Denah? batinnya. "Hei... kau kan,"

-To Be Continued-

Cliffhanger~ cliffhanger~ :D Gomen kalau masih ada kesalahan dalam EYD dan ketikan, aku masih tahap belajar, mohon bantuannya dari semau!

Dan, terimakasih untuk semua yang sudah membaca, me-review, fav, dan follow-nya, Minna-san!

Sampai ketemu di chapter tiga! Jangan lupa tinggalkan review :)