Dear, SOO (CentricSoo)
Rating : Teen
Genre : Romance/Drama
Pairing : Hunkai, ETC
WARNING : Kyungsoo Centric, CRACK PAIR, MalePreg, BL, OOC, AU, NO BASH, ALUR CEPAT, GAJE
ALL CHARA ARE NOT BELONG TO ME, but STORY IS MINE
Summary :
Hanya sudut pandang seorang Kyungsoo yang menceritakan kisah cinta orang-orang disekitarnya yang penuh dengan lika-liku, drama, dan airmata, serta perjuangan untuk mendapatkan kebahagian.
.
.
.
.
Prolog
USIAKU sudah 17 tahun. Dimana hidupku sudah berubah untuk selamanya dan tidak lagi dikatakan anak-anak. Aku sudah memasuki usia remaja.
Orang-orang akan menatapku heran, seakan mencoba membayangkan apa yang akan terjadi ketika seorang anak memasuki usia 17 tahun. Karena selama aku hidup, aku sudah harus mengerti bagaimana kondisi keluargaku.
Ayah dan Ibu bercerai, dan ibu membawaku ke Haeundae saat usiaku 5 tahun.
Ayahku seorang pewaris muda keluarga kaya raya yang terlalu sibuk dengan bisnisnya. Sementara ibuku hanya ingin dimengerti dan dicintai sebagai layaknya seorang istri.
Hidupku tak pernah seistimewa anak-anak orang kaya kebanyakannya. Aku selalu hidup sederhana bersama ibuku dan tidak peduli dengan bagaimana orang lain memandangku.
SEOUL, aku tidak pernah membayangkan bagaimana hidup di sebuah kota metropolitan sebagaimana ayah yang sudah terbiasa hidup di sana. Apalagi saat ayah mendaftarkan aku ke sekolah khusus namja elite dan bertemu banyak teman di sana.
Aku juga bertemu teman lamaku di sana. Teman masa kecilku yang sama sekali tak ku ingat bagaimana kami menjalani kehidupan bahagia kami bersama.
Banyak hal yang belum pernah ku ketahui, seperti tabir yang belum pernah terkuak selama aku hidup.
Seperti yang dikatakan Bill Keane, "Yesterday is history, tomorrow is a mistery. Today is a gift of god, which is why we call it the present"
.
.
.
Rumah Ayah
.
.
Ibuku dan kekasihnya mengantar ke stasiun kereta, jendela mobil yang kami tumpangi dibiarkan terbuka begitu saja. Langit sangat cerah, dengan birunya awan, dan sepoi angin yang menyejukan.
Busan..
Itu adalah sebuah kota pelabuhan dan metropolitan yang terletak di sebelah tenggara Korea Selatan. Kota kedua terbesar setelah Seoul. Dan terletak di muara Sungai Nakdong yang mengalir sepanjang 700km dari pedalaman semenanjung Korea.
Distrik Haeundae, kami tinggal di sana.
Di sebelah timur kota Busan dimana ibu merawatku hingga kini usiaku sudah beranjak 17 tahun. Bayangan kelam dimana ibuku melarikan diri bersamaku ketika aku baru berusia 5 tahun.
Ibu adalah seorang single parent yang memutuskan untuk tinggal dan mengasuhku seorang diri setelah perceraiannya dengan seorang konglomerat asal Seoul. Keputusan yang tegas ibu menyebutnya. Karena ayahku adalah sosok yang egois dan tak pernah peduli pada kehidupan kami.
Aku mencintai Haeundae, begitupun dengan pantainya. Matahari yang terbenam di ufuk barat pantai Haeundae akan terlihat begitu cantik—dan itu adalah salah satu momen yang sangat ibuku sukai—aku pun juga begitu.
"Kyungsoo" ibuku memanggil namaku. Dari jok penumpang belakang, bisa ku lihat ibuku tengah tersenyum manis padaku. Disampingnya ada Lee Seunghyun, pacar ibuku yang tengah sibuk mengemudi.
Mereka bilang wajah ibu yang manis dan nyaris terlihat cantik itu menurun padaku. Kecuali dengan tubuh ramping, kulit tan, dan semampainya yang sering kali dielu-elukan oleh banyak orang. Ibuku seorang guru tari, sementara aku tidak terlalu suka menari. Mungkin itulah sebabnya ibu memiliki tubuh ramping yang indah.
"apa kau siap?" tanyanya.
Ku putar musik dari iPod berlogo apel kroak pemberi ibuku saat ultahku yang ke 17, bulan lalu. Aku mengangguk pelan. Bisa ku lihat kekhawatiran di wajahnya. Inginku adalah tetap di Busan, hidup berdua bersama ibuku, di flat sederhana kami.
Memutar lagu keras-keras sudah menjadi kebiasaanku. Kulitku putih nyaris pucat seperti ayahku, tidak seperti kebanyakan warga pantai Haeundae yang memang memiliki kulit tubuh eksotis yang indah dan sexy.
"sudahlah, sayang. Kyungsoo sudah besar, dan bisa menjaga dirinya dengan baik" sayup-sayup ku dengar paman Seungri berkata.
Ku lirik sekilas wajah ibuku yang terlihat tak baik.
"aku hanya tak bisa melepasnya begitu saja, hyung" kata ibu.
Paman Seungri mengusap lembut pipi ibu.
Heol, tak bisakah mereka menghentikan adegan sok romantis itu?
...
"Kyungsoo" sekali lagi ibu memanggilku.
Kami berdiri di pinggir peron kereta—menunggu kereta yang akan membawa ku ke Seoul tiba.
Aku merasa sedikit panik saat menatap mata sayu ibuku. Bagaimana bisa aku meninggalkan ibuku yang penuh kasih, labil, dan konyol ini seorang diri? Meskipun ada Seungri di sampingnya, perasaan berat menyeruak masuk ke dalam relung jiwaku.
"aku akan pergi" aku berbohong, entah kebohongan keberapa yang telah ku ucapkan. Tapi aku tak pernah bisa berbohong, dan ibuku tahu itu.
"sampaikan salamku pada Oh Sehun" ucapnya.
Ibu mengusak lembut rambutku. Seungri membantu mendorong koperku. Ku ucapkan terimakasih padanya, dan memintanya untuk menjaga ibuku yang labil itu.
"pasti"
"Kyungsoo" sekali lagi ibu memanggil namaku.
"aku akan baik-baik saja, bu" ucapku, meyakinkan.
"Oh, Kyungsoo" ia memeluk erat tubuhku. Menangis sesunggukan dan seolah sulit untuk melepaskan kepergianku. Hanya untuk waktu 2 tahun aku akan menghabiskan waktuku di Seoul bersama ayahku.
Seungri hanya menatap kami maklum. Dia akan menjadi calon ayah tiriku dalam waktu dekat, dan aku yakin itu.
"jaga diri baik-baik, Kyungsoo-ah" Seungri berkata.
Aku mengangguk pelan.
Dua orang dewasa ini sangat menyayangiku. Dan akan sangat sulit untuk melupakan mereka. Ibu mengecup pipiku, dia mungkin tak akan menyangka jika pada akhirnya anak semata wayangnya ini sudah tumbuh dewasa sementara ia begitu sibuk dengan pekerjaannya dan juga Seungri.
"jangan khawatirkan aku, bu" pintaku. "semua akan baik-baik saja. Aku sayang ibu"
...
2 jam waktu yang harus ku tempuh.
Dan kini aku sudah tiba di Seoul. Melewati waktu 2 jam perjalanan darat Busan-Seoul bukanlah suatu perkara yang perlu ku besar-besarkan. Tapi entah mengapa baru 30 menit berada di mobil yang sama dengan ayahku yang agak membuat pikiranku terusik.
Mungkin inilah yang sering kalian sebut The Awkward Moment. Dan Ya ampun, aku benar-benar terjebak di sini. Ayahku lumayan baik, meskipun wajahnya sedatar tembok apartment kami di Busan, tapi ku lihat dia begitu tulus menyambut kedatanganku untuk pertama kalinya aku tiba di Seoul.
Ia sudah mendaftarkan aku ke SMA terbaik di Seoul. Dia bahkan membelikan ku sebuah mobil mewah untuk bepergian. Tapi ku katakan No, Thanks, karena ibu tak pernah membiarkan aku menyetir mobil ke sekolah sendiri.
Situasi bersama ayah begitu canggung. Kami sama-sama tipe yang bicara seperlunya dan aku juga tidak tahu harus berkata apa.
"senang bisa bertemu denganmu lagi, Kyungsoo" dia berkata lagi. Dia bahkan sudah mengatakannya sekali saat menyambutku turun dari kereta. "kau sama sekali tidak berubah. Bagaimana dengan Jongin?"
"ibu baik-baik saja. Aku juga senang bisa bertemu ayah lagi" aku berusaha untuk tersenyum.
Namja tampan itu adalah ayahku. Ibu benar, ayah memiliki kulit yang putih tanpa cacat seperti halnya aku. Dia sosok yang pendiam, dan jarang bicara. Aku jadi tahu bagaimana perasaan ibu saat menghadapi orang-orang irit bicara seperti aku dan ayah.
Ibu tak mengizinkan aku untuk memanggilnya Sehun jika bertatap muka. Yah, hanya dengan ibuku saja aku memanggilnya Sehun tanpa embel-embel ayah.
"ku dengar dia akan segera menikah" ayah berkata. Wajahnya menatap lurus jalanan macet di depan sana.
Well, aku tidak terlalu menyukai pembicaraan seperti ini. Pernikahan antara ibu dan Seungri itu sama sekali bukan masalah bagiku. Tapi hanya saja, aku Cuma tidak mau membicarakan hal ini berulang kali.
"ayah, bisa ganti topik?" tanyaku.
Ayah menoleh, lampu sudah berganti hijau. Dan mobil kembali berjalan.
"maaf" ucapnya. "kau pasti canggung ya" seolah bisikan lirih yang nyaris tak terdengar.
'Sehun adalah orang yang menyebalkan' begitulah yang pernah ibuku katakan. Aku tidak tahu seberapa menyebalkannya dia, tapi mungkin wajahnya yang datar itu masuk ke dalam list orang-orang menyebalkan versi ibuku yang memang selalu menyebut orang lain dengan kata menyebalkan.
"Kalau begitu" ayah menjeda. "bisa ceritakan tentang dirimu?"
"untuk apa?" aku membetulkan posisi dudukku. Jujur saja, aku tidak terlalu suka menggunakan sabuk pengaman.
Ayah berdehem pelan.
"apa seorang ayah tidak boleh mengetahui apa saja mengenai putranya?"
Ayah sebenarnya tak perlu berkata begitu kan?
Aku paham dibagian mana ibuku menyebutnya menyebalkan.
"Aku Kim Kyungsoo, 17 tahun. Asal Busan"
"margamu itu Oh, Kyungsoo" ayah mengoreksi perkataanku.
"Ok, aku Oh Kyungsoo"
Ayah tersenyum simpul. "apa Jongin tak pernah mengatakan hal sesederhana ini, Kyungsoo?"
Aku menggeleng.
Ibu memang pernah memberitahukan aku soal namaku. Ya, namaku Oh Kyungsoo, bukan Kim Kyungsoo. Karena ayahku namanya Oh Sehun. Ok, aku memang tidak bisa menyangkal ini.
...
Aku memandang pantulan wajah pucatku di cermin.
Inilah wajah perpaduan ayah dan ibuku. Mata coklat dan bulat milik ibu. Hidung mancung, dan kulit putih pucat mirip ayah.
Kemudian pemikiran mengenai lingkungan sekolah baru mengusik otakku. Aku menghela napas pelan. Bagaimana bisa aku memiliki seorang teman? Maksudku, yah, ayah bilang aku akan sekolah di sekolah Elit. Ini agak menyebalkan.
Sekolah reguler saja aku masih belum bisa memiliki banyak teman. Bagaimana jika nantinya aku sekolah di sekolah elit? Dimana murid-muridnya adalah calon-calon mahasiswa luar negeri dan sedikit banyak yang ku tahu jika beberapa diantara mereka adalah orang-orang egois dan menyebalkan.
Kamarku yang luas ini, dengan desain vintage favoritku. Ayah memang mendesainnya begitu apik. Dia memang selalu bertanya pada ibu tentang kesukaanku, seolah memang tak ingin ketinggalan apa-apa saja yang ku sukai. Kamar ini lebih besar dari kamarku di Busan. Air mata menetes—tak terasa, karena aku begitu merindukan Busan dan juga ibu.
Gila jika aku bilang aku rindu rumah. Karena nyatanya di Seoul juga rumahku.
...
"Aku Oh Kyungsoo" kataku. Ku lihat mata beberapa siswa di kelasku terus menatap ke arahku. Tak diragukan lagi, mereka baru saja bertemu dengan calon pewaris tunggal keluarga Oh setelah ayahku, Oh Sehun.
"kau putra Oh Sehun?" salah seorang siswa bertanya padaku. Aku mengangguk pelan.
Ibu bilang aku akan menjadi anak paling beruntung. Mau sekolah saja sampai harus dibuatkan sebuah sekolahan yang elit. Ah, berlebihan memang.
"sstt..panggil dia Tuan" teman di sampingnya berbisik.
Aku hanya diam, masa bodo amat apa yang akan mereka katakan. Toh, aku juga tidak terlalu mengerti apa yang mereka katakan.
Mr Cha memintaku untuk duduk di kursi kosong. Dan aku menemuinya. Paling belakang di ujung, dan aku merasa beruntung. Karena jujur saja, aku suka duduk di belakang. Meskipun saat di Busan aku selalu mendapatkan kursi di baris depan—dan itu sungguh menyebalkan menurutku.
"Pssstt..namaku Byun Baekhyun" dia memperkenalkan namanya. Namja itu duduk persis di depanku.
"Oh Kyungsoo" aku memperkenalkan diriku pada namja berwajah cantik itu. Matanya sipit, dan segaris eyeliner nampak menghiasi garis matanya.
Aku berharap dia bisa menjadi teman baik untukku. Jujur saja, selama di Busan aku tak pernah memiliki banyak orang teman yang benar-benar selaras atau pun sepaham denganku. Ini menyebalkan, ibu bilang mungkin akulah yang egois.
Pernah sekali aku menerka, seperti bagaimana pandangan orang lain terhadap dunia. Apakah sama seperti diriku yang memiliki sudut pandang tersendiri? Aku memiliki caraku sendiri dalam memandang dunia. Ku rasa bukan hanya aku, tapi semua orang pun sama.
"ada banyak peraturan di sekolah ini" Baekhyun berkata. Ia menyendokan nasi ke dalam mulutnya.
Suasana kantin tidak terlalu riuh. Semua tertata sesuai aturan. Tidak seperti sekolah lamaku yang ricuh seperti pasar ikan. Bukan bermaksud membandingkan, tapi memang begitu kenyataannya.
"setiap sekolah punya peraturan kan" sahutku. Aku duduk berhadapan dengannya. Nampan berisi lauk pauk, desert, dan sekotak susu UHT adalah menu makan siang kami. Baekhyun bilang makanan-makanan di tempat ini selalu memiliki jadwal hariannya sendiri.
"peraturan di sini terlalu ketat" kata Baekhyun, mulutnya penuh dengan makanan. "dan banyak sekali yang melanggarnya. Aku termasuk"
Aku terkekeh pelan mendengarnya. "lagipula The Rules for broken" sahutku. Kami berdua tertawa setelahnya. Well, Baekhyun orang yang ramah dan cerewet. Aku tidak mempermasalahkan itu, setidaknya aku senang memiliki teman baru yang mau menerima sifat irit bicaraku ini.
...
Makan malam bersama Oh Sehun berlangsung hening. Sesekali ia berbicara dan mendoakan aku supaya aku betah dan memiliki banyak teman di sini.
Diusia 5 tahun aku sudah harus berpisah dengan ayahku. Sedikit ku ingat rumah ini sama sekali tidak berubah tata letaknya. Bahkan kamarku—setidaknya hanya Background dan ranjang queen size yang menggantikan ranjang masa kecilku.
"Apa kau ingat keluarga Wu?" Sehun memecah keheningan. Aku mendongakan kepalaku dan menatap wajah ayahku.
Aku terdiam, dalam hati bertanya-tanya tentang keluarga yang dimaksud ayahku.
"Tidak ya? Aku sudah menduganya" dia tersenyum simpul. Ayah tak akan pernah marah-marah dan memaksa seperti ibu. Inilah yang aku suka dari ayahku. Namja itu selalu memberikan banyak waktu luang untuk diriku sendiri, tidak seperti ibu yang cerewet dan bertanya-tanya soal apa yang terjadi seharian itu—disekolah lebih seringnya.
"kalau keluarga Park?"
Lagi-lagi aku menggeleng.
"tapi ku yakin kau ingat Paman Luhan kan?"
Aku mengangguk.
Bagaimana aku bisa lupa dengan kakak tiri ayahku itu? bahkan aku masih ingat dengan bibi Minseok—istrinya paman Luhan yang pernah menghadiahi aku sebuah jumper-pullover dengan huruf K besar berwara merah di malam natal—saat usiaku 9 tahun.
"mereka akan kemari tadi" kata Sehun. "tapi pamanmu itu terlalu sibuk akhir-akhir ini"
"Oh, iya" aku mengangguk lagi.
"kau harus melihat mereka" Sehun beranjak dari kursi menuju lemari es.
Aku tak berminat untuk menerka-nerka apa yang akan dilakukan oleh ayahku itu. Aku kembali menikmati makan malamku yang lezat ini. Terimakasih untuk paman Nam yang sudah membuatkan makan malam lezat untuk kami.
Ayahku membawa seloyang cake warna-warni dengan olesan krim putih dan hiasan di atasnya yang membuat ku mengernyitkan alis.
"Oh ini" ayah meletakan cake itu di hadapanku. Dia tertawa salah tingkah. "ini rainbow cake pemberian keluarga Wu. Putranya yang mengantar ini, maklum saja kalau agak errr—berantakan"
Ayah semakin bercerita. Tentang putra tunggal keluarga Wu yang pernah menjadi teman masa kecilku (yang sama sekali tidak ku ingat). Ayah bilang dia anak yang baik, tapi agak jahil karena dulu anak itu suka sekali membuat teman-temannya nangis.
Aku mencoba mengingatnya. Ada dua anak kecil yang sempat ku ingat. Tapi aku lupa, yah, lupa itu wajar saja kan. Lagipula usiaku saat itu belum genap 6 tahun. Jadi wajar saja kalau aku lupa.
...
Buku..
Buku adalah sesuatu yang ku sukai selain pantai Haeundae. Aku suka membaca, seperti novel, dan ensiklopedia, maupun kamus bahasa inggris yang tak pernah keluar dari tasku.
Rasanya mustahil jika hidup tanpa buku. Aku memang nerd. Jauh sekali dengan penampilan ibuku dan ayahku. Aku punya banyak koleksi buku-buku bacaan di Busan. Itu pemberian paman Jongdae, kakak ibu yang menikah dengan seorang dokter asal negeri Changsa-China.
Perpustakaan sekolah baruku terlihat besar dan buku-buku tertata rapih di rak-rak raksasa yang mungkin 3 atau 4 kali tinggi badanku. Ok, aku memang terbilang mungil untuk remaja sebayaku.
"sebenarnya kau bisa meminjam tanpa harus menggunakan ID Card" penjaga perpustakaan berkata ramah padaku.
Aku menggeleng pelan. Aku mulai tidak menyukai lingkungan sekolah baruku yang terlalu mengelu-elukan statusku sebagai anak dari pemilik sekolah elit ini. Kehidupan sederhana yang ku jalani di Busan itu berbeda sekali dengan kehidupan glamour ayahku di Seoul. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku di depan sana, tapi aku yakin akan lebih berat dan menyebalkan dari ini.
"Tidak, terimakasih" ucapku. "aku hanya ingin mengikuti prosedur yang dibuat di sekolah ini untuk murid-muridnya"
Yeoja bernama Kim Seohyun itu tersenyum simpul. "ku pikir kau akan seperti anak-anak konglomerat yang menyebalkan" kata yeoja itu. tapi aku tidak berpikir itu adalah sindiran, karena dua hari sekolah di sini membuatku paham bagaimana para murid memperlakukan guru-guru mereka dengan predikat anak-anak konglomerat.
"ibuku benci sekali dengan anak-anak konglomerat yang sombong" aku mengulas senyum, berusaha untuk terlihat biasa saja.
"ibumu orang yang bijak" ujar Nyonya Seohyun. "kartu pelajar?"
"oh" aku segera membuka dompetku dan mengambil sebuah kartu pelajar yang sempat dibuat saat aku masih di Busan.
"hmm..Oh Kyungsoo, putra Tuan Oh Sehun" gumamnya.
...
"Kyungsoo.. kau? Oh Kyungsoo?"
Seseorang memanggil namaku. Aku menoleh dan mendapati sosok tinggi berlari—agak tergopoh-gopoh ke arahku.
Dia tersenyum simpul.
Mata bulatnya yang kekanakan menatapku. Aku bertaruh, pasti dia termasuk ke dalam daftar siswa flower boys yang paling diminati di sekolah ini.
"kau mengenalku?" tanyaku.
Dia menarik napas pelan. Dengan masih mempertahankan senyum tiga jari itu ia pun mengangguk. "tentu saja" katanya. "kita kan teman".
"teman?"
"kau lupa?" namja itu malah balik bertanya padaku. Seharusnya ia menggunakan blazer, tapi dia malah menggunakan hoodie berwarna hitam sebagai pengganti blazer sekolah kami. Dia pasti murid-murid yang sering melanggar peraturan di sekolah.
"maaf aku tidak ingat" ujarku. Lorong dibagian Timur sekolah kami memang tidak begitu ramai. Tentu saja, mana ada siswa jaman sekarang yang mau mengunjungi perpustakaan dan menghabiskan waktu istirahat mereka dengan membaca buku? Paling-paling hanya menumpang tidur.
"itu sudah lama sekali" dia berkata. Langkah kedua tungkai panjangnya bersejajar dengan langkah kaki-kaki pendekku. "Aku Park Chanyeol"
"Oh"
"hanya Oh?"
Aku memeluk erat buku pinjamanku.
"Kyungsoo~"
Suara itu..
Kami berdua menoleh, mendapati Baekhyun yang berjalan ke arah kami dengan senyum riangnya. Mau tak mau aku pun membalas senyumnya.
"kau seharusnya bilang kalau mau ke Perpustakaan" dia berkata, seraya mencubit kedua pipiku.
"Maaf" ucapku. "ku pikir kau sibuk, dan tidak ada waktu untuk mengantarku ke sini"
Baekhyun terkekeh pelan.
Aku hanya menatapnya dengan kedua mata bulatku. Semburat merah jambu terlihat jelas di wajahnya. Apa yang ia rasakan? Aku berpikir, di sampingku Park Chanyeol hanya tersenyum saja melihat tingkah kami.
"Baiklah, Kyungsoo" Suara berat Chanyeol mengalihkan pandangan kami. "aku akan berkunjung ke rumahmu sepulang sekolah nanti. Aku duluan, ya" pamitnya. Aku mengangguk pelan. Mungkin sepulang sekolah nanti Chanyeol akan menceritakan apa-apa saja tentang masa kecil kami. Jujur saja, aku tidak mengingat apapun selain kenangan masa kecilku saat berada di Busan.
"Kau mengenal Park Chanyeol?" Baekhyun menatapku tak percaya.
Aku balas menatapnya. "entahlah..aku juga tidak tahu"
Baekhyun mulai menceritakan namja bernama Park Chanyeol itu. Tentang Chanyeol yang bisa bermain gitar, menulis lagu, dan seorang main rapper dari club musik sekolah kami. Kelihatannya Baekhyun sangat excited saat ia menceritakan sosok Park Chanyeol padaku. Diam-diam aku mulai mengagumi teman baruku ini. Bagaimana bisa ia menceritakan orang lain dengan begitu jelas? Seolah ia benar-benar mengerti seperti apa Park Chanyeol itu.
"sepertinya kau banyak tahu" ujarku.
Baekhyun tertawa geli mendengarnya. "Aku kan anak musik" sahutnya.
...
"Oh—Hallo" aku menyapa kikuk sosok namja lain yang tengah berdiri di hadapanku kini.
Dia berdiri dengan sebuket bunga mawar jingga di tangannya.
"Dimana paman Oh?"
Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia bukan Park Chanyeol, namja yang berjanji akan berkunjung ke rumahku sore ini.
Namja ini terlihat menyeramkan. Lingkar panda dan tubuh jangkungnya, serta wajah sangarnya membuatku sedikit menjadi paranoid.
"Ayah..ayahku sedang berada di kantornya" jawabku.
Namja itu menyerahkan buket bunga itu padaku. Aku hanya memperhatikan saja, tak berniat untuk mengambilnya.
"Maaf, aku alergi" kataku.
"Oh, maaf" ucapnya. Dia meletakan buket mawar itu di atas meja kecil di teras rumahku.
"ibu menyuruhku untuk memberikan mawar itu untukmu" katanya, sambil tersenyum. "tapi kau alergi bunga ternyata" dia menggaruk tengkuknya, sepertinya kikuk.
"tidak apa-apa, aku mengerti kok" aku membalas senyumnya.
Ku persilahkan ia untuk masuk ke dalam. Sebagaimana seorang pemilik rumah yang bersikap ramah dan sopan kepada tamunya. Mungkin aku harus menjamunya seperti ibu yang sering menjamu Seungri, saat namja itu datang ke apartment kami.
"Kyungsoo"
Aku membatu saat ia menyebut namaku.
"kau ingat aku? Aku Zitao" katanya.
Aku menggeleng. "maaf, aku tidak ingat"
Wajahku merah padam, aku takut jika namja itu mengira aku adalah pribadi yang sombong dan mudah melupakan orang lain.
"Tidak apa-apa" katanya. "tapi aku harap kita bisa berteman lagi seperti dulu" ia terdengar berharap.
"itu pasti" sahutku. Seraya melenggang pergi ke dapur dan membuat kudapan untuknya.
...
"Ayah"
Sehun menoleh ke arahku yang baru saja memanggil namanya.
"hm?"
Aku memainkan jemariku—gugup.
"apa ayah mengenal Zitao?" tanyaku.
Sehun mengangguk pelan, lalu tersenyum ke arahku. "dia anak tunggal keluarga Wu" jawabnya. Seraya memasukan potongan daging ke dalam mulutnya.
Meja makan kami tak pernah penuh makanan sejak paman dan bibi Nam tahu kalau aku tidak menghabiskan makanan yang sudah mereka masak. Dan tentu saja Sehun meminta suami istri Nam itu untuk memasak dengan porsi sedikit untuk makan malam kami.
"dia teman bermainmu saat kalian masih kecil" katanya lagi.
"Oh..Kyungsoo" ayah menyebut namaku.
Keheningan terjadi setelah ayah mengatakan jika Zitao itu adalah teman masa kecilku. Aku hanya fokus dengan kentang panggang yang tengah ku kunyah.
"Apa kau sudah menghubungi ibumu selama 3 hari kau di sini?"
Astaga..
Apa yang aku lupakan?
Aku bahkan lupa mengirimi pesan untuk ibuku di Busan selama aku berada di sini. Aku tak punya ponsel, aku lebih memilih iPod dibandingkan sebuah ponsel.
Ibu mengirimi ayah pesan.
Seperti ini :
From : Kim Jongin
Sehun, bagaimana keadaan putraku?
Tolong sampaikan padanya jika aku sangat merindukannya. Oh, berikan ia ponsel! Karena selama ini dia tak pernah mau memiliki satu buah ponsel dan hanya memiliki iPod.
Aku tertawa kecil membacanya.
"dia sempat mengira aku melarangmu untuk menghubunginya" Sehun berkata kalem.
Aku menekan tombol dial, dan tak lama kemudian tersambung dan ku dengar suara ibu yang bisa ku tebak, pasti dia tengah memasak makan malam bersama kekasihnya itu.
Ibu terdengar bahagia sekali, dia mulai menceritakan betapa rindunya ia padaku. Dia juga bilang, mungkin libur musim panas nanti ia akan berkunjung kemari untuk menemuiku. Tentu saja Seungri tidak ikut, namja itu kan sibuk. Dan ku harap Seungri tidak datang menemani ibuku saat berkunjung kemari.
"Kyungsoo" panggil ayahku, ketika aku tak lagi berbicara dengan ibu dari ponselnya.
"Jongin bilang dia akan berkunjung kemari saat liburan nanti"
Aku menganggukan kepalaku pelan.
"Apa pacar ibumu juga ikut?" tanyanya. Ada rasa was-was saat ayah bertanya mengenai Seungri.
Wajah tampan ayah terlihat lesu.
Aku jadi tidak tahu harus menjawab apa. dari yang pernah aku tahu, Seungri tidak pernah menduakan ibu dengan kesibukan-kesibukannya. Malahan dia selalu mengutamakan ibuku seolah ibu benar-benar yang paling penting dalam hidupnya.
"Mungkin" jawabku.
Ayah menghela napas berat.
"Apa kita perlu menjemputnya?"
Aku menggelengkan kepala. "Seungri akan pergi naik mobil. Jadi kita tak perlu menjemput mereka"
"Ayah"
Ayahku meletakan ponselnya di atas meja.
"Seungri pacar ibu" kataku. "cepat atau lambat mereka akan menikah"
Ayah mengulas senyum padaku. Namun senyumnya terkesan dipaksakan dan membuatku semakin tak enak hati dan bersalah telah berkata begitu padanya.
Sejak datang ke rumah ini—untuk yang kedua kalinya sejak terakhir aku meninggalkan rumah. Semua memang terlihat tidak berbeda. Bahkan saat tak sengaja masuk ke ruang kerja ayah, di sana terpajang rapih foto-foto kenangan ayah dan ibu saat mereka masih bersama. Bahkan di kamarku juga ada foto saat aku masih bayi, ibu tengah menggendongku dengan latar belakang rumah sakit. Dan beberapa foto-foto kami lainnya yang masih ayah pajang di kamarku.
Itu sudah menunjukan jika ayah masih belum bisa lepas dari masa lalunya. Ayah belum melupakan ibu. Aku tahu itu. dibalik wajah datar tak berekpresinya, ayah tetaplah seorang manusia yang bisa mencintai seseorang. Dan orang beruntung itu adalah ibuku, dan hanya akan ibuku seorang saja yang akan selalu ia cintai.
.
.
.
Kelas Musik
.
.
"Kyungsoo"
Aku menoleh, dan untuk yang kedua kalinya aku bertemu dengan namja yang kata ayah adalah teman masa kecilku saat aku di Seoul.
"Oh, hallo" aku membungkuk hormat.
Zitao berdecak sebal dan mengomentari betapa formalnya aku. Dari seragam yang ia kenakan, sepertinya ia juga bersekolah di SMA yang sama denganku.
"Ibu bilang kita satu sekolah" katanya. Sifatnya yang childish itu jauh sekali dari kata bad boy yang nampak jelas saat pertama kali aku melihatnya.
Sepertinya Zitao orang yang menyenangkan—ku harap. Karena kata ayah, Zitao adalah anak yang menyebalkan dan selalu membuatku menangis saat kecil dulu.
...
"kau serius?" Baekhyun sedikit berbisik.
Matanya yang sipit itu menatap serius padaku.
Sementara Zitao yang ternyata adalah teman sekelasku entah berada dimana saat ini.
"Apa?"
"kau serius berteman dengan Zitao?" tanyanya. Seolah tak yakin dengan keputusanku untuk menjadi teman Zitao—sekaligus Chairmate-nya.
Aku menatapnya penuh tanya.
"Kyungsoo, dia itu preman di sekolah ini" Baekhyun berkata pelan.
Aku sedikit terkejut mendengarnya.
Aku baru ingat saat aku dan Zitao masuk ke kelas, para murid di dalam kelas kami menatap aneh ke arah kami. Seperti, terkejut? Terkesan? Entahlah, aku juga tidak tahu. Pokoknya mereka seolah tidak menyangka kalau aku dan Zitao berteman.
"Tapi dia baik" aku memainkan penaku.
Baekhyun menepuk pelan dahinya. "yang benar saja" gumamnya. "Kyungsoo, dia bahkan pernah mengalahkan 10 orang musuh hanya dengan tangan kosong"
Berlebihan, pikirku.
Memangnya Zitao itu siapa?
Dia manusia, bukan keturunan vampire atau yang paling masuk logika—dia adalah keturunan mafia-mafia terkenal yang pernah ku lihat di Tv-Tv.
"Dia orang yang baik, Baek" kataku. "dan selama dia tidak berlaku kasar padaku aku tak masalah untuk menjadi temannya"
Baekhyun menarik napas pelan.
"Fine" ujarnya, final. "kalau dia melukaimu katakan saja padaku" Baekhyun menepuk pelan bahuku.
Dan kemudian yang dibicarakan Baekhyun adalah klub musik dan juga Park Chanyeol, si The Best Rapper di sekolah ini. Ku pikir Baekhyun menyukai Chanyeol, dilihat dari matanya yang selalu berbinar saat membicarakan namja bermarga Park itu.
...
Aku tahu ada orang-orang lingkungan sekolah ini yang selalu menatapku penasaran saat aku memperkenalkan diri sebagai Oh Kyungsoo, si murid baru asal Haeundae, Busan. Dan satu lagi fakta yang mungkin saja membuat mereka tercengang, bahwa aku adalah putra tunggal Oh Sehun, yang kembali lagi ke Seoul setelah lama menghabiskan masa kecilnya di Busan.
Aku jarang sekali menjelaskan mengapa ayah dan ibuku berpisah. Karena aku tidak mau orang lain tahu banyak atau malah semakin banyak bertanya mengenai keluargaku.
Aku pun juga merasa tidak perlu menjelaskan kecuali kalau aku mau dan itu pasti akan menyita waktu lebih lama daripada yang akan disisihkan oleh kebanyakan orang.
Kisahku tak cukup hanya dengan kalimat 'Hey, aku Oh Kyungsoo. 17 tahun, pindahan dari Busan' atau kalimat 'Aku Oh Kyungsoo, putra dari Oh Sehun dan istrinya Kim Jongin yang bertingkah'. Tidak dapat dikemas secara ringkas dan sederhana hanya untuk orang lain yang mencoba memahaminya.
Aku tak ingat apapun.
Kecuali fakta perceraian ayah dan ibu, serta kepindahan kami ke Haeundae 12 tahun yang lalu. Aku pernah sekali berkunjung ke Seoul saat usiaku 10 tahun. Itu pun juga hanya sekali, selebihnya tidak pernah.
Ayahku sendirilah yang akan berkunjung ke Busan dan membawakan banyak hadiah untukku. Sampai sekarang hadiah-hadiah itu masih terkemas apik di dalam kemasan karena ibuku tidak suka jika aku lebih banyak bermain ketimbang belajar.
Dan saat aku kembali ke Seoul, aku harus mengetahui fakta lain tentang ayahku yang masih menyimpan perasaannya pada ibuku. Terlihat jelas dengan bagaimana ayah yang begitu merawat foto-foto ibu dan keluarga kecil kami meskipun sudah 12 tahun lamanya mereka berpisah.
"Tuan muda, ada Tuan muda Park di bawah" bibi Nam mengetuk pintu dan berbicara dari luar.
Aku sedang mengerjakan PR matematika untuk hari Rabu besok. Ku lirik jam di dinding yang baru menunjukan pukul 4 sore.
Aku bergegas turun setelah mengenakan sweater biruku dan sandal rumah bermotif kepala mickey mouse yang dibelikan ibu saat usiaku 14 tahun. Lucu sekali, bahkan kakiku saja kecil seperti telapak kaki gadis remaja.
"Oh—hallo"
Chanyeol menoleh ke arahku. Kemudian berdiri saat melihatku sudah menuruni anak tangga terakhir.
"maaf, baru berkunjung" katanya. Dia memberikan sebuket mawar padaku.
Aku menggeleng, "Aku alergi bunga" kataku halus.
Dan apa yang kami lakukan adalah mengobrol. Chanyeol juga membawa buku album masa kecil kami dan menunjukan kelucuan tingkah kami saat itu. Aku tetap yang paling kecil, bahkan sampai sekarang pun juga.
Dia mulai bercerita jika ia belajar bermain gitar saat kelas 6 SD. Aku menatapnya takjub, dia juga bercerita tentang perjuangannya berlatih rapper selama 4 tahun lamanya. Bahkan kalau bisa dia ingin berlatih menari supaya bisa mahir menari seperti ibuku. Ah, aku jadi tidak enak. Karena dia masih mengingat jelas mengenai aku sementara aku yang bahkan sudah tidak mengingat apa-apa lagi.
"kau kenal Byun Baekhyun?" tanyaku.
Chanyeol menautkan kedua alisnya. "Kenal" sahutnya. "yang bisa nyanyi itu kan?"
Aku mengangguk pelan.
Baekhyun memang bisa bernyanyi, aku pernah mendengar suaranya saat pelajaran seni—saat itu Mrs Geum menyuruh kami untuk menyanyi lagu nasional, dan Baekhyun menyanyikan lagu dengan sangat fasih dan merdu.
"kapan-kapan kau harus berbicara dengannya. Dia anak yang baik" aku meyakinkan namja itu.
...
"Baek" aku mulai sedikit merengek, tetapi Baekhyun terus menarik pergelangan tanganku—lebih tepatnya menyeret untuk menemui Mrs Kang, si guru musik untuk mendaftarkan diri ke klub musik—klub yang sama yang diikuti oleh namja Byun ini.
"Kau punya suara yang bagus" dia berkata. "sayang sekali kalau tidak dilatih" matanya yang sempit itu menyipit seperti bulan sabit.
Kami berdua tertawa kecil, beberapa murid menatap kami dengan tatapan, ah, entahlah aku juga tidak mau tahu bagaimana cara mereka menatap kami.
"minggir..minggir..anak kelas tiga mau lewat" kata Baekhyun, dengan suara yang jenaka.
Mereka semua berdecih pelan.
Wow..
Nyatanya jarang ada yang suka dengan tingkah senioritas seperti ini ya? Tapi pernah dua kali aku memergoki ada seorang senior yang membully juniornya di sekolah ini. Kalau soal tata krama d an sopan santun, Haeundae lebih ku sukai dibandingkan sekolah khusus namja terelit di kota ini.
Mrs Kang dengan senang hati menerima ku sebagai anggota baru di klub musik. Dia terus-terusan memujiku sampai membuatku tak enak hati pada anggota lainnya. Ini seperti tak adil saja. Karena nyaris satu sekolah tahu siapa aku ini.
...
"Kyungsoo"
Suara riuh murid-murid saat pulang sekolah, masih bisa ku dengar dua suara yang baru saja memanggil namaku dengan suara khas mereka.
"Oh, hey" aku menyapa keduanya.
Baekhyun di sampingku nampak tak nyaman. Apalagi ada Zitao, preman sekolah yang begitu ia takuti sampai-sampai nyaris tak pernah ia mengajak Zitao untuk berbicara.
"Kyungsoo aku punya—"*berkata bersamaan.
Zitao menghentikan ucapannya dan diam, seolah mempersilahkan Chanyeol untuk berbicara.
"Kyungsoo aku punya tiket nonton bioskop, kau mau ikut?" tanya Chanyeol padaku.
Tak sengaja ku lihat Baekhyun yang menatapku dengan tatapan aneh. Seperti ada sesuatu yang hendak ia katakan, namun kesulitan untuk ia katakan.
"maaf, Chanyeol-ssi" ucapku. "aku harus segera pulang, mungkin Baekhyun mau"
Baekhyun menatapku lagi.
Aku tersenyum padanya. Seolah menyiratkan kata tidak masalah, karena aku bisa mengerjakan tugas kelompok kami.
Aku menyadari, jika ada rasa ketertarikan Baekhyun pada namja jangkung ini.
"Ayo, Kyungsoo" Zitao menarik pergelangan tanganku dan menyeretku pelan. "kau harus segera pulang! Kalau kesorean bisa diculik" bisiknya.
...
Aku terkagum-kagum, menatap rumah minimalis dengan pekarangan rumah yang tertata rapih. Rumah ini tidak seperti sebuah mansion, tapi halamannya yang ditumbuhi berbagai macam bunga, termasuk Bluebells membuatku tak henti-hentinya berdecak kagum.
"ini rumah ibu" kata Zitao, dengan tawa jenakanya.
Dia bilang ibunya membeli rumah ini saat Zitao masih kecil. Berbagai macam foto Zitao dari saat masih bayi, balita, kanak-kanak, dan remaja, bisa ku lihat berderet di sepanjang dinding ruang tamu yang kami lewati.
Dia bercerita banyak tentang ibunya yang suka bunga, dan usaha kuenya yang sudah digeluti oleh sang ibu sejak masih muda. Aku berusaha menyimak, karena uraiannya cukup menarik. Ini adalah kali pertamanya aku bermain ke rumah teman sekolah selama di Seoul. Rumahnya pun tak jauh dari rumahku, terpisah hanya beberapa blok dan masih bisa ku tempuh dengan berjalan kaki.
"tunggu di sini, ya" Zitao meminta. Kami tiba di ruang keluarga. Ruangan yang cukup nyaman dengan berbagai macam hiasan dinding yang kebanyakan adalah foto selca Zitao saat ia masih kecil. "Ibu..Ibu" namja itu mulai memanggil ibunya.
"kau sudah pulang?" seorang namja bertubuh mungil tiba di ruang keluarga dengan senyum angelic yang menenangkan hati.
Zitao tersenyum, "tentu saja!" katanya. "coba tebak siapa yang ku bawa" Zitao terkekeh, dan membuat namja itu menoleh ke arahku.
"Omo, Kyungsoo"
Aku terkejut saat namja dewasa berparas manis itu menyapa ku ramah.
"kau sudah besar rupanya" Bibi Wu berjalan ke arahku. Tubuhnya tak jauh berbeda dariku. Kami sama-sama bertubuh mungil. Begitu-begitu Bibi Wu masih terlihat muda, bahkan tidak nampak seperti seorang ibu beranak satu.
Kami pun mulai mengobrol.
Bibi Wu, ani, atau ku sebut saja Mama Wu, atau nama lengkapnya Wu Junmyeon ini adalah ibu dari Zitao. Dia namja yang baik hati dengan senyum angelic yang penuh kasih sayang. Aku merasa nyaman berada bersamanya, dia bilang dulu saat kami masih kecil. Aku selalu memanggilnya Mama dan mama Wu sendiri pun juga sudah menganggap aku adalah putranya setelah Zitao.
...
'Apa kau baik-baik saja? Bagaimana dengan Sehun? Apa dia memperlakukan dirimu dengan baik?'
Video call bersama ibu.
Bisa ku lihat ibu menatapku penuh rindu dan deru hujan sedikit membuat suara ibu putus-putus. Haeundae kalau hujan memang cukup deras, bahkan tak jarang sampai mati lampu.
Kalau sudah begitu ibuku pasti akan memintaku untuk menemaninya tidur di kamarnya. Tapi aku yakin, Seungri selalu hadir dan siap kapanpun ibuku membutuhkan dirinya.
"tentu saja"
Ibuku nampak manis dengan kemeja longgar berwarna putih. Aku ingat, itu milik mantan pacar ibu yang tampan itu. siapa sih namanya? Aku juga lupa. Choi..Hm..Choi..Ah, iya, Choi Siwon namanya. Dia dewasa sekali kalau mau tahu.
'dimana dia?'
"bekerja. Apa ibu merindukannya?" tanyaku, sedikit menggodanya.
Wajahnya memerah.
Nah lho, ketahuan kan.. pikirku.
"Kyungsoo, jangan menggoda ibumu" suara berat ayah membuatku kaget.
"Ayah? Sejak kapan?" menatap ayahku dengan tatapan, err—ya agak malu karena ketahuan mencatut namanya untuk menggoda ibu.
Ayah duduk di sampingku. Kami duduk di sofa panjang di ruang keluarga. Ayah memang selalu mengingatkan aku untuk menghubungi ibuku tepat waktu. Aku menurut, lagipula aku tak mau ibu mengira jika ayahku melarangku untuk menghubunginya. Ayah tidak begitu, dan ayah bukan orang yang menyebalkan bagiku.
"Hey, Jongin" ayah menyapa ibu. Lengan kemeja berwarna birunya disingsing sebatas lengan. Dua kancing teratas dibuka. Dan, yah, ku pikir ayahku memang namja tertampan yang pernah ku lihat. Well, tak heran jika para yeoja di kantornya selalu memandang lapar ke arahnya. Ayahku tampan, ibuku sexy, tapi itu semua hanya tinggal kenangan saja.
"Oh hey, Sehun"
Ayah tersenyum simpul.
"Bagaimana kabarmu?" tanya ayah.
Aku hanya menatap keduanya dalam diam.
Ayahku menatap sendu ke arah layar laptop yang menampilkan wajah manis ibuku.
'tidak lebih baik tanpa Kyungsoo' ibu menjawab dengan senyumnya.
"kau merasakan apa yang ku rasakan"
'iya, aku merasakannya'
Aku tidak mengerti..
"dia putra kita"
'ya, putra kita'
Ibu punya tatapan yang menjerat. Iris hitam kecoklatannya yang selalu punya pesona sendiri hingga membuat ayahku yang keras meleleh seperti keju.
'Tolong jaga dia, Sehun'
"Pasti, Jongin..Pasti"
Ku lihat ibu tersenyum. 'Seungri hyung menumis sambal' katanya, seraya mengucek matanya.
...
"Aku tidak tahu mengapa kita harus menghapal rumus-rumus menyebalkan seperti ini" Baekhyun ngedumel, sejak tadi ia hanya membolak-balik lembar halaman tanpa ada niat untuk membacanya.
Zitao sudah hilang entah kemana.
Dia memang begitu, selalu membolos di pelajaran yang notabene diajar oleh guru-guru killer dan menyebalkan.
"tentang kehidupan nyata, dan bagaimana rumus-rumus ini bermanfaat saat melamar kerja nanti" Baekhyun berkata lagi, kali ini diselingi tawa.
Aku duduk disebelahnya, sementara teman sebangku Baekhyun sakit dan tidak hadir hari ini. Rasanya ingin tertawa saat mendengar ocehan-ocehan, serta komplain Baekhyun tentang rumus-rumus matematika yang panjang dan sulit sekali untuk dimengerti.
Apalagi Mr Jang, si guru matematika yang menyebalkan dan selalu mengharapkan murid-muridnya pintar, padahal kami (para murid) susah menghafal semua rumus dan angka-angka yang panjang, apalagi untuk menjabarkannya dengan benar. Konteks-nya sama sekali tidak bisa kami cerna dengan otak minim kami. Oh..Matematika~
"kau bisa?" tanyanya.
"Bisa" kataku.
"Bisa gila aku lama-lama begini" Baekhyun menundukan kepalanya di atas meja.
"yang penting kau hafal perkalian, itu sudah sangat dasar sekali" kataku. "atau paling tidak 1 sampai 10, itu yang paling simple"
"kau sih enak" Baekhyun mengerucutkan bibirnya. "sudah pintar"
"aku tidak begitu" aku juga tidak bisa matematika. Asal tahu saja, aku selalu mengerjakan asal tugas-tugas Matematika yang diberikan guru Matematika padaku. Yang penting dikali, dibagi, ditambah, dikurang, ada hasil, yang bagiku itulah hasilnya *lol.
"Oh"
Aku menoleh ke arahnya.
"Kemarin kami menonton Bioskop"
Aku tahu siapa yang ia maksud dengan kami. Itu pasti Chanyeol, ya, dia selalu membicarakan Chanyeol. Tiada henti jika Baekhyun sudah mulai membicarakan namja telinga peri itu.
Dia mengangguk malu-malu.
"kau menyukainya" tebakku.
"hey" Baekhyun menyikutku agak keras.
"Ochh" pekikku. "sakit, Baek" menatapnya kesal.
"Ahh, Kyungsoo. Jangan asal menebak aku menyukainya, tentu saja tidak" Byun Baekhyun, kau Tsundere sekali.
Aku menarik napas pelan. Aku ingat, Sehun ah, maksudku ayahku membelikanku sebungkus roti rasa melon karena kami terburu-buru dan tak sempat sarapan.
Pagi itu bibi dan paman Nam harus pergi ke Ulsan untuk mengunjungi putra mereka yang sedang meraih gelar S1 nya. Tentu saja tak ada yang membangunkan kami. Apalagi semalam aku tidur malam sekali, dan mengharapkan ayah untuk bangun di pagi hari itu mustahil rasanya.
"Kau mau?" tanyaku padanya.
"no, thanks! Aku tak mau Mr Jang melihatku makan di kelas untuk yang kesekian kalinya"
"terserah" kataku, seraya menggigit ujung rotiku.
Ku kunyah rotinya sambil menulis angka-angka yang tertera di layar kalkulator miniku. Ku sembunyikan di bawah meja, kalau Mr Jang tahu, bisa mengomel nanti.
"tapi Chanyeol tinggi dan tampan"
Aku mengangguk membenarkan.
"kenapa tidak kau coba untuk mengenalnya lebih dekat?" tanyaku.
Baekhyun nampak berpikir, kemudian menggeleng dengan semburat di wajahnya. Aku yakin, dia pasti pernah berpikiran untuk mendekati namja itu. Tapi kalau diingat lagi, Baekhyun ini orang yang lain di mulut, lain pula di hati.
"aku tidak yakin" katanya. "dia pasti punya pacar yang lebih baik dibandingkan diriku"
"memangnya kau tahu darimana?" tanyaku.
Aku juga tidak yakin.
Chanyeol orang yang mudah ramah dengan siapa saja. Pasti akan ada para gadis maupun namja manis lainnya yang menyukai kepribadiannya. Ditambah fisiknya yang oke, maka pantaslah Chanyeol disebut Flower Boys, siapa yang akan menolak pesonanya?
"Tentu saja tahu" jawabnya.
"dia teman masa kecilku" kataku.
Maniks hitam Baekhyun menatapku tak percaya.
Aku jengah sekali kalau ditatap begitu.
"tapi aku sama sekali tidak ingat dia gimana" aku menghabiskan potongan rotiku yang tinggal sedikit—buru-buru supaya Mr Jang tidak melihat ku sedang makan di sini.
"benarkan kalau kau menyukainya"
"Soo" matanya menatap sebal padaku.
"Ok..ok..aku tidak akan menggodamu lagi"
...
ULANG TAHUN AYAH
Sekarang tanggal 12 april, dan yang ibu bilang adalah hari ulang tahun ayah yang ke 35 tahun. Aku memandang sekelilingku saat meninggalkan rumah. Langit tampak agak gelap dan kelabu.
Namun sewaktu aku menyusuri jalanan, aku bisa melihat beberapa tanaman dan bunga-bunga bermekaran. Aku menaikan resleting jaketku sedikit. Udara terasa agak dingin, meskipun aku tahu dalam waktu beberapa minggu lagi cuaca akan sangat menyenangkan.
Aku melirik jam di tanganku. Pukul 7 malam, dan aku menghela napas seraya menjinjing paper bag berisi kado untuk ulang tahun ayahku.
Aku merogoh dompetku, memeriksa uang receh sisa membeli kado untuk ayahku. Aku tersenyum miris. Dompetku terasa berat, namun bukan uang kertaslah yang ku temukan. Hanya koin-koin yang akan bersuara gemerincing bilamana aku tak sengaja menjatuhkan dompetku.
Hatiku bertanya, ini sungguh-sungguh anak orang kaya? Lalu tertawa dalam hati menghina diriku sendiri. Bilamana anak-anak sekolah elite itu mengetahui isi dompet seorang Oh Kyungsoo pasti mereka akan tertawa menghina.
...
"Aku pulang" ucapku memberi salam.
Bibi Nam menyapaku ramah dengan senyumnya. Dia bilang ayah juga sudah pulang—tumben sekali, pikirku. Dan ayah sedang menantiku di ruang makan.
Aku segera melangkahkan kedua kakiku ke ruang makan. Kemudian mendapati dua orang dewasa tengah mengobrol serius dan membuatku jadi semakin merasa bersalah—telah hadir diantara mereka.
"Hallo, Kyungsoo" yeoja itu menyapaku.
"Ha..Hallo" aku balas menyapa.
Itu bibi Jessica, kakak sepupu ayah yang desainer itu. dia cantik, tapi belum juga menikah diusia 37 tahun.
"kau manis sekali" pujinya. "ayo duduk"
Ayah tersenyum melihatku.
"Ayah, selamat ulang tahun" ucapku, seraya berjalan ke arahnya dan memeluk tubuh jangkungnya.
"Oh, Kyungsoo manisku" pujinya.
Bibi Jessica tertawa-tawa melihat ayahku yang merona. Menggoda ayah dengan mengatakan jika ini adalah kali pertama ayah mendapatkan sebuah pelukan dari putra tunggalnya. Tapi kemudian aku menyerahkan kado untuknya. Ayah mengecup sayang pucuk kepalaku.
Mungkin sweater yang ku beli bukan apa-apa untuk seorang Oh Sehun yang kaya itu. Tapi ayahku tetap menerimanya, dan berjanji akan menggunakannya setiap ia merasa kedinginan.
"Apa aku terlambat" suara yeoja lainnya membuat kami menoleh.
Seorang yeoja cantik berjalan ke arah kami (Ayah dan aku). Kemudian mengucapkan selamat ulang tahun dengan ciuman di pipi.
Aku menatapnya datar, siapa wanita ini? Mengapa ia mengecup pipi ayah seakan dia adalah istri ayahku?
"tidak, Irene. Kyungsoo baru saja datang" bibi Jessica berkata. Bibi menyambut yeoja bernama Irene itu seperti layaknya teman wanita.
Ayah tertawa kecil.
Aku tak tahu apa yang ada di kepalanya. Namun bisa ku lihat ayah salah tingkah saat yeoja itu kembali mengecup ujung bibirnya.
"Ayo makan malam! Aku sudah lapar" ujar bibi Jessica. Ia menepuk pelan bahuku.
Aku tidak lapar.
Malahan ingin segera ke kamar dan menghubungi ibuku—kemudian mengadukan hal ini padanya.
"tidak, bi" kataku. "aku sama sekali tidak lapar"
"tapi kau harus makan, Kyungsoo" bibi Jessica berkata.
Aku menolak halus.
Aku tidak mau melihat mereka berlovey dovey lagi. Aku tidak suka. Karena memang aku tidak pernah suka melihat ibu ataupun ayahku bermesraan dengan orang lain.
...
Sejak kejadian itu aku tak lagi banyak bicara dengan ayah.
Seolah memang tak mau, atau sengaja mengunci mulutku saat berhadapan dengan mantan suami ibu.
Bibi Jessica bilang aku akan mengerti, mengapa ayahku memilih untuk terus-terusan bersama yeoja bernama Irene itu. Aku juga tidak tahu mengapa bibi berkata itu padaku.
Padahal aku tidak berminat untuk bertanya-tanya lebih mengenai Irene setelah melihat yeoja itu mencium bibir ayahku. Itu perbuatan bar-bar, dan aku tidak suka.
Malam itu Baekhyun mengajakku untuk pergi ke taman kota. Aku sudah mendapatkan ponsel baru dari Oh Sehun beberapa hari yang lalu—ia juga mengisi rekening bank-ku dengan nominal angka yang tidak bisa dikatakan sedikit. Seharusnya aku berterimakasih padanya, tapi nyatanya bibi Jessica lah yang memberitahukan hal ini padaku. Oh Sehun juga terlihat tak ingin bicara padaku. Lebih baik ku simpan saja kata 'Terimakasih' ku padanya.
Sekali lagi..
Sehun tidak seperti ibu yang melarangku keluar di malam hari. Karena selain dia yang selalu sibuk—akhir-akhir ini. Orang yang ku sebut ayah itu juga tidak mau terlalu mengekang ku. Aku tidak tahu harus bagaimana, apa aku harus memeluknya? Lalu berkata, ayah, aku sayang ayah..
"baru pulang"
Suaranya yang rendah itu mengejutkan aku yang hendak menaiki anak tangga—mencapai kamarku yang terletak di lantai dua.
Sepertinya Sehun sudah pulang, karena akhir-akhir ini dia akan pergi bekerja sebelum aku bangun dan pulang selagi aku tidur. Kami sudah jarang sekali bertemu di meja makan seperti sebelumnya.
"Ah..I—iya" sahutku.
Aku menunduk, merasa bersalah mengingat jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Andai ibu tahu, ibu pasti akan marah besar.
"Kau tahu ini jam berapa?" tanyanya.
Oh Sehun beranjak dari sofa. Ia menggunakan sweater pemberianku dengan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya. Ayah habis membaca buku—bisa ku lihat buku tebal yang berada di atas meja.
"jam 11 lewat 15 menit" aku menelan ludahku, seakan kerongkongan terasa kering.
Aku menerka-nerka, apa yang akan ia lakukan padaku. Ku pikir dia akan menamparku, tapi tidak.. Ayah tidak melakukannya, dia malah mengusak rambutku dengan senyum di wajahnya.
"jangan diulangi lagi!" katanya. "jika ibumu tahu dia akan memintamu kembali ke Busan"
Aku mengangguk pelan.
"Aku tidak mau mendapat predikat ayah yang buruk untuk anakku" lagi dia berkata, perlahan. "Apalagi dari mantan istriku"
...
(IBU DATANG)
"Kyungsoo"
Ku rasakan dekapan hangat ibu setelah nyaris 3 bulan kami berpisah. Ia mengecupi keningku berkali-kali, aku tahu, pasti ibu sangat merindukanku.
Tak jauh dari kami, ayah sedang berdiri di depan pintu dengan sebuah nampan di tangannya. Bisa ku lihat koper besar milik ibuku yang diletakan di dekat sofa.
Ibu pasti ada masalah, batinku.
Ibuku orang yang labil, seperti anak ABG yang tengah dilemma cinta. Dia juga orang yang konyol, tapi aku tetap menyayanginya.
Aku baru pulang sekolah, bahkan belum melepas tasku.
"kau sudah pulang?" tanya ayah, seraya meletakan nampan di atas meja.
"Sudah..tumben ayah sudah pulang?"
Ayah tersenyum simpul.
"Ibumu meminta ayah menjemputnya di stasiun" kata ayah.
Ibu merona mendengarnya. "Oh Sehun!" seru ibu, kesal.
Lalu ibu menyeretku untuk duduk di sofa. Wajahnya yang manis terlihat lelah. Itu wajar, karena pasti ibu lelah setelah menempuh perjalanan selama 2 jam lamanya.
Ibu mulai memberondongiku dengan pertanyaan-pertanyaan selama 3 bulan hidup di Seoul. Mulai dari sekolah, teman-teman, dan juga jadwal makanku. Aku bilang sangat baik, meskipun aku tak yakin dengan pertanyaan yang menyangkut jadwal makanku. Nyatanya ibu bilang pipiku agak tirus dari terakhir kali ibu menciumnya.
"Ibu" ku panggil namanya.
Kami sedang di atas kasur queen size, dengan ibu yang memeluk erat tubuhku. Ibu menginap di sini, sementara di bawah sana ada Irene yang tengah bercengkrama dengan ayahku. Mungkin dia akan menginap, karena sempat ku dengar ia bertanya; 'apa kamar tamu masih kosong?'
Karena ia sempat melihat ibuku sedang mencuci piring di wastafel. Ibu selalu memperlakukan aku seperti anak kecil, aku memang tidak mempermasalahkan ini. Tapi jika Baekhyun tahu pasti dia akan menggodaku anak mami berwajah datar.
"hm?"
"mengapa ibu datang kemari?" tanyaku.
Ibu mengusap lembut rambutku.
"memangnya ibu tak boleh menemui putra ibu ya?"
Aku menggeleng..
"apa ibu ada masalah dengan paman Seungri?" Aku bertanya, perlahan.
Ibu menghentikan usapannya pada rambutku. Aku tak bisa memikirkan reaksi apa yang tengah ibu berikan saat mendengar pertanyaanku itu.
"bisa dikatakan begitu" ibu berkata lemah.
Aku mengerti..
Kalau sudah begini, yang ibu butuhkan hanya telinga, bukan advice yang keluar dari bibirku. Ibu selalu meminjam telingaku. Bercerita tentang masalahnya sampai malam. Meskipun aku tertidur, ibu takkan berhenti bercerita. Selama aku masih punya telinga, dan ia pikir ceritanya masih panjang. Maka ia akan terus bercerita.
"Oh, Kyungsoo" ibu melepaskan pelukannya dariku.
Ia menatap sendu langit-langit kamarku.
Kalau sedang meneteskan airmata, ibu memang tidak akan membiarkan aku untuk melihatnya.
"dia bilang hubungan ini tak bisa dilanjutkan lagi" ibu mulai bercerita. "Sudah seharusnya kau mendengar, meskipun ibu tahu usiamu masih 17 tahun"
"ibu, jaman sekarang usia 17 tahun itu legal"
"21 tahun, Kyung.. 21 tahun"
"itu ibu yang mengaturnya" aku menghela napas pelan. Wajahku cemberut mendengarnya.
"hanya dengarkan saja, oke" ibu menoleh, memandangku penuh harap.
Aku bergumam; 'baiklah' dan membiarkan ibu melanjutkan ceritanya. Aku tidak terlalu fokus dengan ceritanya. Yang tertangkap di telingaku hanya; 'dia bosan dengan hubungan ini, dia membutuhkan apa yang orang dewasa butuhkan. Tapi nyatanya aku tak bisa, aku tidak bisa, soo'
Aku mendelik tajam. Mataku yang ngantuk, langsung melotot—terkejut mendengar ucapan ibu. Aku ingin meminta penjelasan atas apa yang baru saja ku dengar. Aku mulai mengerti, Seungri menginginkan ibu, maksudku menginginkan sesuatu yang hanya orang dewasa saja yang boleh melakukannya. Kalian pasti tahu itu.
"alasan yang sama seperti Tuan Choi"
Ibu menoleh ke arahku. "kau benar"
"Apa cinta itu hanya sebatas kepuasan di atas ranjang saja? Apa itu yang dibutuhkan orang dewasa?" tanyaku.
Ibu mendelik tajam ke arahku.
"darimana kau belajar kata-kata seperti itu?"
"Tidak tahu" sahutku. "tapi apa ciuman itu juga termasuk kepuasaan?"
"Kyungsoo" ibu menyebut namaku. "ibu tak mau mendengar kalimat menyeramkan itu dari mulutmu lagi"
Aku menggeleng.
"ibu, aku bukan anak kecil!"
"lagipula aku pernah melihat Irene mencium Sehun"
"APA?"
Aku menutup mulutku yang lancang.
"OH SEHUN" ibu terlihat geram.
...
Ibu menutup kedua mataku saat kami tiba di ruang makan untuk sarapan bersama. Aku mencoba melepaskannya, tapi ibu lebih kuat.
Tak sampai 1 menit ibu sudah melepaskan tangannya dari mataku. Dan bisa ku lihat ayah dan Irene yang berdiri di meja makan menatap canggung ke arah kami.
Aura tak mengenakan mulai ku rasakan.
Ibu menatap tajam dua orang itu.
"Oh Sehun, aku butuh penjelasanmu" katanya.
...
(Malam hari)
"hanya jawab pertanyaanku, Oh Sehun!" Ibu berseru. Aku berusaha menenangkannya.
"Jongin, ini tidak seperti yang kau lihat!" kata ayah.
Aku menduga diriku memang aneh. Terlahir di keluarga yang aneh, sehingga merasa malu telah menjadi seorang remaja yang paling aneh diantara remaja aneh lainnya.
"apa kau sering berciuman mesra di depan Kyungsoo?" ibu bertanya lagi.
Kesannya menuntut.
"Jongin, dengar! Aku tidak—"
"Aku tidak percaya ini, hun" ibu mengusap pelan wajahnya. "bereskan pakaianmu, Kyungsoo. kita kembali ke Haeundae!"
Aku terkejut mendengarnya. Ayah pun juga, ayah menatap tak percaya ke arah ibu. "Jongin, ku mohon, dengarkan aku" pinta ayah.
Ibu menarik pergelangan tanganku.
"Ibu tak berhak berlaku seperti itu pada ayah!"
Ibu menghentikan langkahnya, dia seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ku katakan.
"Ibu juga pernah mencium Seungri dan Tuan Choi kan? Mengapa ibu begitu?" tanyaku.
"Kyungsoo"
"itu tidak adil!" kataku. "bahkan ayah baru kali ini berciuman dengan Irene"
"Aku benci berada disini" Aku memekik keras, menghentak tangan ibu dan berlari ke luar rumah.
Kemana saja, kemana pun kedua kakiku melangkah.
...
"kau pasti kabur dari rumah" Zitao berhasil menebak apa yang terjadi padaku.
Kebetulan aku bertemu dengannya di jalan. Dia bilang, dia habis bekerja di toko ibunya. Sementara ibunya harus pergi ke Ulsan mengunjungi nenek Kim.
Sambil menuntun sepedanya kami berjalan memasuki taman yang sepi. Ini sudah malam, pukul 10 malam. Dan Zitao memang selalu pulang malam seperti ini.
Dia tidak takut preman, tapi ibunya bilang Zitao itu takut hantu. Aku ingin tersenyum kalau mengingatnya, tapi kemudian aku ingin menangis jika ingat bagaimana keadaan rumah yang menjadi alasan mengapa aku pergi dari sana.
"kau bahkan hanya memakai piyama dan sandal rumah saja" Zitao menatapku dari atas ke bawah. "apa tidak dingin?"
Tentu saja dingin. Aku baru merasakannya dan memang sangat dingin rasanya.
Zitao melepas jaketnya dari tangan kirinya, kemudian menarikku dan memintaku untuk memakai lengan jaket yang tidak ia pakai. Aku menurut, keras kepala hanya akan membuatku terkena hipotermia akibat suhu dingin di malam hari.
"kau bisa percaya padaku" Zitao tersenyum, sambil menarik napas pelan. Ku dengar ia bergumam tentang kopi hangat yang mungkin akan terasa nikmat kalau diminum dingin-dingin begini.
"aku bukan seorang pencerita yang baik sebenarnya" Aku berkata pelan. Mungkin dia akan tertawa melihat wajah sembabku saat ini.
Zitao mendesah pelan. "aku tahu" katanya. "kau pasti pendengar yang baik" bibirnya mengatup membentuk ekpresi hati-hati.
"Ya" aku menyahut singkat.
Ia berpaling, sengaja. Zitao pasti malas berbicara dengan orang irit bicara seperti aku. Dari yang pernah ku dengar dari anak-anak sekelas. Zitao adalah jagoan di sekolahku, dia jarang sekali bicara. Mungkin karena wajahnya yang garang, serta predikatnya itu membuatnya ditakuti teman-teman. Padahal jika mengenalnya lebih dekat, Zitao akan bicara terus-terusan tanpa berhenti. Aku tahu itu, apalagi saat bersama Mama Junmyeon, dia akan bertingkah manja pada ibunya.
"tapi ada saatnya kau berbicara" kata Zitao. "membagi kisahmu pada dunia" sambil tersenyum ia berkata lagi.
"Aku tak yakin kau mau mendengarnya" Aku menunduk. Hatiku masih kacau. Pikiranku masih pada pertengkaran kedua orangtuaku di rumah.
Setiap orang punya masalah.
"aku akan di sini sampai kau bicara"
Aku menarik napas sejenak. "kau pasti sudah dengarkan bagaimana rumah tangga kedua orangtuaku" aku tidak menyelesaikan kalimatku. Berusaha melihat bagaimana ekpresi namja itu.
"Kyungsoo, sebenarnya ada baiknya kita tidak terlalu ikut campur urusan mereka"
"iya sih" gumamku.
"Lalu apa yang kau khawatirkan?" tanyanya.
"ibu melihat ayah berciuman dengan pacarnya" jawabku. "ibu tak suka aku melihat adegan dewasa. Padahal aku pernah melihatnya berciuman dengan pacarnya saat di Busan"
"kau?" menatapku sanksi.
"I..itu.. aku kan tidak sengaja" ku rasakan pipiku memanas dan tak berani melihat ke arahnya.
"ibumu benar" sahut Zitao. "seharusnya ayahmu bisa lebih berhati-hati lagi kan"
Aku mengangguk.
"tapi ibu tak harus memarahi ayah seperti itu! seolah dia yang paling bersih"
Zitao tersenyum simpul. "ibumu marah karena dia masih mencintai ayahmu" katanya. "mungkin" bagai gumaman ku dengar dari bibirnya.
"orang dewasa sulit dimengerti" Zitao kemudian tertawa kecil mendengar apa yang baru saja ia katakan.
"Wah, aku tak menyangka aku bisa berkata sebijak ini" candanya.
Aku pun tersenyum mendengarnya.
"aku harus jadi dewasa, bijak, kuat, dan bisa melindungi orang-orang yang ku sayangi—terutama ibuku" ia berujar bangga.
...
Saat aku mulai membuka kedua mataku. Yang pertama ku lihat adalah wajah ayah yang menatap cemas ke arahku.
Aku mengernyitkan dahiku. Berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi padaku. Aku ingat, semalam saat Zitao bercerita tiba-tiba saja kepalaku terasa berat dan tak sanggup lagi untuk bertahan. Tapi setelahnya gelap, dan aku tak ingat apa-apa lagi.
"Kyungsoo"
"ungghh..Ayah" suaraku terdengar serak.
"syukurlah..tetaplah di sini! Tidak apa-apa! ayah sudah menghubungi gurumu bahwa kau tidak masuk hari ini" kata ayah.
Aku berusaha bangkit, mencoba untuk bersandar pada dashboard tempat tidurku. Ayah memberikan ku segelas air putih. Aku meneguknya—dibantu ayah, pastinya.
"i..ibu"
"Ayah, dimana ibu?"
"ibumu menginap di apartment-nya" kata ayah. "kemarin dia hanya berkunjung"
Aku menggigit bibir. Aku merasa bersalah telah berteriak kasar di depan ibu. Pasti ibu tidak percaya jika anak yang ia kasihi itu berani berteriak di hadapannya.
"Kyungsoo, ayah minta maaf atas apa yang pernah terjadi" ucap ayah, wajahnya terlihat menyesal.
"Ayah, ayah tidak harus minta maaf"
Ya, ayah..
Ayah tidak harus minta maaf. Karena ayah seorang lajang, mencium siapa saja itu adalah tindakan yang wajar. Karena tidak ada hubungan yang mengingat ayah. Aku pikir begitu juga dengan ibu.
"tak ada larangan bagi ayah untuk mencium Irene"
Ayah menggeleng, "bukan itu, Kyungsoo" katanya. Ia menundukan kepalanya, nampak berpikir.
"sudah terlalu sering aku melukainya" matanya yang tajam itu melembut.
Aku tidak akan menertawai ayah.
Aku tahu siapa yang ayah bicarakan. Itu Kim Jongin, ibuku.
"dia selalu bersabar, bersabar, dan selalu itu yang dia lakukan"
"Ayah"
"dan saat aku sadar dia sudah pergi, dia tak mau mendengarkan kata maaf dariku"
"seburuk itukah?"
"ya, jauh lebih buruk dari yang kau lihat, Kyungsoo"
Aku menunduk memandang tanganku. Jadi aku tak bisa melihat raut wajahnya yang pasti begitu sendu.
"Aku tak tahu bagaimana memulainya kembali" akunya. "dia begitu jauh dari yang pernah ku kira"
"yang ayah lakukan hanya diam dan menunggu" sahutku.
"karena sudah terlambat untuk memperbaikinya, soo"
"tidak!"
Aku mengepalkan kedua tanganku.
"apa ayah pernah berpikir untuk mencobanya?" tanyaku. Aku memberanikan diri untuk bertanya, menatap wajahnya yang sendu itu. Ayah tampak bingung.
Aku tahu, ayah tak pernah mencobanya. Aku tahu itu!
"ayah tidak akan pernah tahu jika ayah belum pernah mencobanya"
Ayah tersenyum, ia duduk di sampingku dan menarikku ke dalam dekapannya. "Maafkan ayah, ayah terlalu egois saat itu" ucapnya.
"ibu sedang mengalami masa sulitnya"
"Ayah tahu"
Ayah mengecup pucuk rambutku. Dia sama seperti ibu, terlalu menyayangiku.
"Seungri meninggalkannya karena merasa lelah pada ibu"
"lelah?"
"mungkin ibu juga sama seperti ayah" ujarku. "masih belum bisa melupakan ayah dari hidupnya"
.
.
.
END For This Chapter..
.
.
.
A/N:
Oke, Aku Cuma mau bilang kalo fic ini adalah Fic SPESIAL SERIES jadi ceritanya memang gantung. Dan Soal Sequel? Aku pikirkan itu Next Time. Aku Harap Ini gak mengecewakan buat kalian ya:( Dan Aku sempat tanya para readers soal Pairing. Ternyata Masih ada yang minta Hunkai hehehe..Besok deh ya Xiuhan. Di sini ada yg suka Luhan x Minseok kan ya?
Oh iya, buat kamu yang kemarin marah-marah dan menghina seorang Hunkai Shippers. Add Line ku aja ya, kita berantemnya di Line aja. Aku kurang suka menodai akun FF ku dengan kata-kata kasar*Lol
Jyofaren25 silahkan di add!
