SEBONG'S MOM

.

.

.

Soonhoon ft. Sebong's mom a.k.a Jeonghan

.

.

.

Melamun. Lagi-lagi soonyoung melamun. Sejak seminggu lalu kerjaan soonyoung hanya melamun—selain membuat koreo tentunya.

Hobi melamunnya ini muncul sejak dia mengenalkan kekasih mungilnya dihadapan teman-teman satu timnya. Memang sejak kejadian itu kehidupan soonyoung normal-normal saja. Tapi dia jadi kepikiran pasal cara mengatakan hubungannya dengan jihoon pada member lainnya.

Itu benar-benar membuatnya pusing, belum lagi deadline koreo yang terus membayanginya.

"Kau terlihat buruk, soonyoung-ah."

Soonyoung tersentak dan baru menyadari ada jeonghan dihadapannya, "ah, hyung , aku baik-baik saja."

Jeonghan masih menatap soonyoung dengan dahi berkerut. Ia yakin soonyoung tidak baik-baik saja. Setelah tinggal bersama bertahun-tahun jeonghan jadi paham bagaimana perasaan membernya meski mereka tidak cerita.

"Aku sering mendengarmu mengigau tiap malam," ucap jeonghan, "dari igauanmu aku tau ada sesuatu yang tidak beres."

Soonyoung sebenarnya ingin cerita karena ia bukan tipe orang yang pintar mengolah kata untuk mengelak dan berbohong. Tapi ia tidak mau jihoon marah seperti malam saat ia mengatakan hubungan mereka pada timnya.

"Sungguh tidak ada. Aku hanya merasa sedikit pusing dengan pekerjaan." Elak soonyoung, tapi ini tidak sepenuhnya bohong karena kepalanya memang hampir pecah karena deadline yang menghantuinya.

"Oke, aku tidak akan memaksa. Tapi aku akan selalu ada kalau kau mau cerita."

Soonyoung tersenyum tulus dan mengucapkan terimakasih. Jeonghan mengangguk dan pamit akan ke studio karena ada jadwal rekaman bersama timnya.

Soonyoung mengangguk. Tapi saat ingat tim jeonghan adalah vocal dan itu artinya ada jihoon disana soonyoung langsung menahan jeonghan.

"Ah hyung, bisa suruh jihoon menghubungiku? Aku menelponnya tapi tidak diangkat."

Dahi jeonghan berkerut, "oke.."

.

.

.

'Jeonghan hyung bilang kau memintaku menelponmu.'

Soonyoung mendesah lega mendengar suara jihoon. Ia pikir jihoon masih mengabaikannya karena seminggu ini jihoon terlalu sibuk dan mereka jarang bertemu bahkan pesannya hanya dibalas dengan jawaban singkat.

"Kenapa baru mengangkat? Aku sudah menghubungimu sejak tadi."

'Aku ada banyak tugas soonyoung.'

Soonyoung mendesah, "iya, aku tau. Tapi setidaknya balas pesanku."

'Iya, maafkan aku..'

Selanjutnya tidak terdengar suara apapun selain helaan nafas dari soonyoung. Jihoon masih diam seolah memberi waktu untuk soonyoung bicara atau sekedar memikirkan apa yang pemuda itu ingin bicarakan.

Soonyoung menahan nafas dan menghembuskannya keras membuat jihoon diseberang bertanya apa yang terjadi. Ia memperhatikan sekitarnya memastikan tidak ada orang yang mendengar percakapannya,

"Belakangan aku mimpi buruk -jangan menyela, dengar dulu. Aku merasa bersalah pada member lain karena tidak mengatakan hal yang terjadi diantara kita."

'Jun dan yang lain pasti sudah cerita.'

"Tidak. Mereka tidak cerita. Aduh, aku tidak akan seperti ini kalau mereka sudah cerita. Kepalaku mau pecah rasanya karena terus mengelak saat member lain tanya apa yang terjadi padaku."

'Ke ruanganku..'

"Huh?"

Jihoon mendesah diseberang, 'ku bilang, ke ruanganku, kita harus bertemu.'

Soonyoung menjauhkan ponsel dari telinganya setelah sambungan terputus, ia berlari kecil keruangan jihoon sampai menabrak wonwoo di belokan.

"Hati-hati, dasar kau hamster."

"Maaf-maaf.."

Wonwoo mengkerutkan dahinya karena biasanya soonyoung akan membalas ejekannya dan mereka akan berdebat sedikit sebelum berpelukan damai.

Dilain sisi soonyoung sampai depan ruang jihoon dengan sedikit terengah, tangannya menekan code yang ia hapal di luar kepala.

Ketika bunyi bip terdengar soonyoung masuk dengan cepat dan menutup pintu kembali. Ia langsung dihadapkan dengan jihoon yang merentangkan tangan kearahnya. Tanpa pikir panjang soonyoung langsung menubrukkan dirinya ketubuh jihoon dan memeluk pemuda mungil itu erat.

"Kau stress sekali ya?" Tanya jihoon sambil mengusap punggung soonyoung.

"Kau tau aku bukan orang yang pintar berbohong. Berbohong itu sulit." Keluh soonyoung. Ia semakin membenamkan wajahnya di tengkuk jihoon.

"Nanti aku bantu bicara ke member lain. Kau tau alasanku menolak kan, aku masih ragu untuk mengatakan pada member lain. Memikirkan respon mereka membuatku sakit kepala."

Soonyoung mengangguk, "maaf membuatmu jadi ikut pusing. Padahal album sudah membuat kepalamu pecah, kan?"

Jihoon terkekeh, "Tidak apa. Ini kan hubungan kita bukan cuma kau yang harus memikirkan."

Pelukan mereka harus berakhir karena dering dari ponsel jihoon.

"Siapa?"

Jihoon menjawab 'jeonghan hyung' tanpa suara sambil mengangkat teleponnya, "ya, hyung?"

"Ah, iya aku akan pulang sedikit sore."

"Pintu studio? Memang aku tutup, aku ingin membuat lagu." Jihoon menutup matanya merasa bersalah karena telah berbohong.

"Oke aku akan pulang secepatnya. Eum.. Aku tutup."

Jihoon mendesah, "apa menurutmu kita harus bilang jeonghan hyung dulu?"

Soonyoung mengangguk, "jeonghan hyung tadi bertanya kenapa aku terlihat buruk akhir-akhir ini."

"Jeonghan hyung memang seperti ibu, perasa sekali. Aku jadi tidak enak membohonginya."

Soonyoung meraih tangan jihoon dan menggenggamnya, "tidakkah kau pikir kita harus bilang pada semua sekaligus?"

Jihoon dengan cepat menggeleng, aduh dia tidak mau dikeroyok orang sebanyak itu. Dia lebih memilih mengatakan pada member satu persatu selain lebih bisa diatur juga meminimalisir kerusuhan, "kita bicara satu per satu saja."

Soonyoung memainkan jemari jihoon dan menatap dalam mata jihoon, "kita mulai dari siapa?"

"Jeonghan hyung bagaimana? Kalau hyung tau terakhir dia akan sangat kecewa."

"Kenapa tidak seungcheol hyung? Dia akan lebih kecewa."

"Seungcheol hyung tidak akan begitu, nanti kita atur saja bagaimana. Aduh, aku tidak siap mengatakan hal ini.." Jihoon merengek, hanya didepan soonyoung dia begini.

Soonyoung terkekeh, ia menarik tubuh jihoon dan membawanya kedalam sebuah pelukan, "kita jalani bersama, oke."

.

.

.

Jeonghan memainkan ponselnya di samping kursi jihoon sementara jihoon sedang sibuk membuat melodi untuk lagu baru mereka. Jeonghan memang dimintai tolong untuk membantu pembuatan lagu baru ini jadilah ia tetap di studio saat yang lain sudah lelap tidur.

"Ji," tiba-tiba jeonghan bersuara.

"Hm?"

"Kau teman dekat soonyoung, kan?"

Gerakan tangan jihoon yang semula menyusun not terhenti, "kenapa?"

"Bukan apa-apa, tapi belakangan soonyoung aneh sekali."

Dahi jihoon berkerut, "aneh bagaimana?"

"Aku sering lewat kamar soonyoung dan lainnya, dan aku sering mendapati soonyoung mimpi buruk. Belakangan dia juga sering melamun, dia tidak cerita padamu?"

Jihoon terdiam sebentar untuk berpikir, mungkin sekarang saatnya, "ada, dia pernah cerita."

Jeonghan menatap antusias, "kenapa? Apa terjadi sesuatu? Apa masalahnya berat?"

"Apa aku boleh ceritakan ini?"

"Tentu saja. Kau ingat aku adalah kotak curhatnya seventeen kan?"

"Hyung tidak akan marah?"

Dahi jeonghan berkerut, "kenapa aku harus marah?"

"Oke.. Aku akan cerita. Tolong jangan menyela."

Jihoon menarik nafasnya dalam dan mulai bercerita.

.

.

.

"Ya! Kwon soonyoung!"

Soonyoung dan performance tim yang sedang berlatih seketika berhenti dan menatap jeonghan yang berkacak pinggang dengan wajah marah.

"Hyung? Ada apa?"

"Kemari kau!"

Soonyoung melangkah mendekat dan selanjutnya ia mengaduh saat pukulan mulai jeonghan layangkan ke berapa bagian tubuhnya.

"Aw! Hyung! Kenapa? Kenapa memukul?"

Tiga anggota performance team lainnya hanya diam memandangi leader mereka yang diamuk sang 'ibu'.

"Hyungg .. Serius, kau kenapa?"

Jeonghan menghentikan pukulannya dan berkacak pinggang menatap soonyoung yang sedang mengusap lengannya yang panas karena sentuhan 'lembut' tangan jeonghan.

"Kenapa kau tidak cerita?"

"Cerita apa?" Dahi soonyoung berkerut.

"Kau dan jihoon."

Mulut soonyoung terbuka, "a-ah.. Maaf hyung sungguh maaf."

"Tidak akan. Sebelum kau janji satu hal."

"I-iya aku akan berjanji."

Jeonghan tersenyum, "kau harus jaga jihoon. Jangan menyakitinya. Janji?"

Soonyoung mengangguk, "janji."

Jeonghan meraih tubuh soonyoung dan memeluknya, "selamat ya.."

"Terimakasih hyung.." Soonyoung membalas pelukan jeonghan, "tolong jangan ceritakan hal ini ke member lainnya, aku dan jihoon yang akan memberitahukan hal ini pada yang lain."

END

Sekian untuk chapter ini...

Kira-kira chapter selanjutnya siapa ya~

Ditunggu next updatenya ya..

Jangan lupa sampaikan kritik dan saran di kolom review di bawah ya ^^

N/b - Shameless promotion again :

Jangan lupa check ceritanya di wattpad (karena wattpad bakal lebih update) di akun shmnlv ^^