Terima kasih banyak buat yang udah mau menyempatkan diri untuk membaca fic ini, terima kasih juga yang udah baca chapter 1 baik yang review maupun yang tidak, semoga bisa memuaskan. RnR please..
Avatar: The Last Airbender © Nickelodeon
"Kenapa Zuko lama sekali.. jangan-jangan dia tidak berhasil membawa Toph kesini!" kata Sokka sambil melihat-lihat ke langit.
"Tenanglah, Sokka. Mereka pasti akan segera datang. Aku yakin Zuko bisa melakukan tugasnya dengan baik." Kata Aang menenangkan Sokka.
"Hei, Sokka, daripada kau hanya menggerutu disitu lebih baik membantu menyingkirkan salju-salju dari tempat ini." Kata Katara sambil menunjuk ke arah tumpukan salju didepannya.
"Kau kan bisa menggunakan pengendalian airmu untuk melakukannya!" kata Sokka dengan malas.
"Aku sedang sibuk, Sokka. Tidakkah kau melihat aku sedang memasak!" kata Katara yang sedang sibuk memasak bersama Mai, Ty Lee dan Suki.
"Huh, Aang, kalau begitu kau saja!" Sokka menengok kearah Aang.
"Aku juga sedang sibuk mencari kayu untuk membuat api unggun nanti malam." Kata Aang yang juga akan berangkat mencari kayu.
"Haaah, sebentar lagi aku kan akan menjadi kepala suku, kenapa harus melakukan pekerjaan seperti ini. Aku tidak pantas mengerjakan pekerjaan ini." Sokka pun berjalan dengan lesu.
"Sudahlah, Sokka, kerjakan saja. Anggap saja itu sebagai bentuk latihan pengabdianmu kepada masyarakat. Emm, atau mungkin kau mau meminta bantuan Momo." Kata Katara sambil tertawa kecil.
"Hmm, baiklah, Sokka, aku akan membantumu. Lagi pula aku pun tidak terlalu bisa memasak." Ty Lee menawarkan bantuan kepada Sokka.
"Hah, benarkah!" Sokka terlihat senang, matanya berbinar-binar.
"Tentu saja, dengan senang hati.." kata Ty Lee dengan mata yang juga berbinar-binar.
Katara, Suki, dan Mai pun heran melihat 'drama' dihadapan mereka.
"Mereka berlebihan." Kata Mai dingin.
Kemudian mereka pun melakukan perkerjaannya masing-masing. Katara, Suki, dan Mai masih sibuk memasak, Aang dan Momo mencari kayu, sedangkan Sokka dan Ty Lee membersihkan salju yang sekiranya terasa mengganggu.
"Ty Lee, kau bersihkan yang sebelah sana." Kata Sokka sambil menunjuk ke arah tumpukan salju disebelah kanannya.
"Baiklah…!" kata Ty Lee gembira.
Ty Lee mengerjakan tugasnya dengan menggunakan keahlian akrobatiknya. Namun karena terlalu bersemangat, tanpa sengaja kaki Ty Lee menendang tumpukan salju didekat Sokka, sehingga salju itu jatuh menimpa Sokka, dan mengubur Sokka hidup-hidup.
"Hey, Ty Lee, apa yang kau lakukan, haaah aku harus membersihkan ulang tempat ini." Sokka menggerutu setelah berhasil mengeluarkan diri dari tumpukan salju.
"A ha ha, maaf, Sokka, aku tidak sengaja. Aku bersedia membantumu kalau kau mau." Kata Ty Lee dengan muka tanpa dosa.
"Huft, baiklah, baiklah, cepat bantu aku."
Sementara itu, Katara dan Suki tertawa sedangkan Mai hanya tersenyum melihat kejadian itu. Tanpa banyak bicara Ty Lee segera menghampiri Sokka dan membantunya.
xxx
Sudah beberapa menit perjalanan, Zuko dan Toph hanya berdiam diri tanpa mengeluarkan satu katu pun. Akhirnya Toph memecah keheningan,
"Hey, Zuko, kenapa kau hanya sendirian?" tanya Toph.
"Apa maksudmu?" jawab Zuko dingin tanpa mengalihkan pandangannya dari depan.
"Maksudku, kenapa kau hanya menjemputku sendirian, kenapa kau tak bersama emm Mai misalnya!" kata Toph, namun Toph agak canggung menyebutkan nama Mai.
"Tidak apa-apa, mereka semua sedang sibuk!"
Toph hanya ber'oh' ria mendengarkan perkataan Zuko.
Tak lama kemudian rumah Katara dan Sokka mulai terlihat, Appa bersiap-siap mendarat.
"Teman-teman, itu mereka datang!" kata Suki sambil menunjuk ke arah Zuko dan Toph.
"Syukurlah, dia berhasil membawa Toph." Kata Aang lega.
Mereka berdua pun turun, kemudian Toph memeluk lengan Zuko karena dia tidak bisa melihat. Lalu mereka berdua mendekati teman-temannya yang sudah berkumpul.
"Hai, Toph, kami senang kau bisa datang." Kata Katara sambil memeluk Toph.
"Aku juga senang bisa berkumpul dengan baik. Tapi berterima kasihlah pada Zuko yang telah membujuk ayahku sehingga aku diizinkan kesini." Kata Toph ceria.
"Kerja bagus Zuko." Kata Aang sambil merangkul Zuko
"Ah, itu tidak masalah." kata Zuko malu-malu karena perkataan Toph tadi.
Kemudian mereka masuk kedalam rumah, sekarang Katara yang membantu Toph berjalan. Saat berjalan, Sokka membisikkan sesuatu pada Zuko.
"Apa yang kau katakan pada Toph dan ayahnya, sehingga hatinya bisa luluh?" tanya Sokka penasaran.
"Tidak, bukan apa-apa. Lebih baik kita segera masuk kedalam." Zuko mengalihkan perhatian.
"Haaah, Zuko benar-benar aneh." Kata Sokka.
xxx
Sekarang mereka semua berada diluar rumah, mereka akan mengadakan lomba berseluncur pinguin.
"Teman-teman, bagaimana kalu kita lomba seluncur pinguin?" kata Sokka.
"Aha, aku suka seluncur pinguin, aku jadi ingat waktu pertama kali bertemu dengan Katara dan Sokka. Hmm aku pasti bisa menang seperti dulu." Aang terlihat senang dengan ide tersebut.
"Hey, kita semua kan kan sudah dewasa, masa kita mau melakukan permainan anak-anak!" kata Suki.
"Sudahlah, Suki, sekali-kali bernostalgia kan tidak apa!" kata Sokka.
"Haaaah, terserah kau saja, CALON KEPALA SUKU!" kata Suki sambil memberi penekanan pada kata-kata terakhirnya.
"Bagaimana aku bisa mengikuti lomba ini, sedangkan aku tidak bisa melihat!" kata Toph yang heran dengan ide Sokka itu.
"Emm, rutenya lewat sebelah sana saja." Kata Katara sambil menunjuk terowongan yang ada disebelah kirinya.
"Setahuku terowongan itu tidak bercabang dan akan berakhir di daratan yang sangat luas. Jadi kukira itu aman." Katara melanjutkan.
"Hmm, ide bagus Katara. Dan kau, Toph, kau hanya perlu memeluk erat pinguin ini dan jangan lepaskan pegangannya sebelum kita sampai di daratan itu." Kata Sokka sambil menepuk pinguin yang ada didepannya.
Sekarang semua sudah bersiap dengan pinguin masing-masing. Semua tampak begitu tenang dan santai kecuali Toph, dia tampak tegang dan benar-benar memeluk erat pinguinnya.
"Huuh, menyebalkan!" gerutu Toph.
"Ok, semua siap! 1.. 2.. 3.. Mulai..!" Aang memberi aba-aba.
Kini satu persatu dari mereka pun meluncur dengan cepat. Aang berada pada posisi pertama, disusul Sokka, kemudian Katara, Suki, Zuko, Ty lee, Mai, dan Toph.
"Haha aku pasti akan menang!" teriak Aang.
"Hah, lihat saja Aang, aku pasti akan menyusulmu.." balas Sokka.
Saat tengah asyik meluncur, Aang tidak menyadari bahwa didepannya ada batu, sehingga Aang pun menabrak batu tersebut dan terpental kedinding gua yang mengakibatkan retaknya didinding tersebut. Dibelakang Aang, Sokka juga mengalami hal serupa, sehingga Sokka menabrak Aang.
"Aww, kenapa ada batu sebesar ini disini!" gerutu Aang.
"Hah, sudahlah sebaiknya kau singkirkan saja batu itu supaya tidak mengganggu yang lainnya!" kata Sokka.
Akhirnya, Aang menyingkirkan batu itu ke dekat dinding menggunakan pengendalian buminya, namun karena terlalu keras, maka dinding itu pun berlubang, namun mereka berdua tidak menyadari hal tersebut. Mereka langsung saja melanjutkan perlombaan tersebut.
"Haha, Aang, aku menyusulmu…." Teriak Sokka senang karena berhasil mendahului Aang.
"Huh, sialan aku terkejar.. Aku tidak akan kalah darimu Sokka!" balas Aang.
Mereka pun melanjutkan seluncur pinguin tanpa ada halangan, beberapa menit kemudian mereka pun sampai.
"Yeah, aku menang, aku mengalahkanmu Aang!" Sokka tampak sangat bergembira.
"Baiklah, kali ini aku mengaku kalah…" kata Aang dengan sedikit lesu.
Tidak lama kemudian yang lain pun sampai, mulai dari Ty Lee, Suki, Katara, Zuko, dan Mai.
"Hei, dimana Toph?" kata Suki.
"Mungkin dia masih didalam, kita tunggu saja sebentar!" kata Ty Lee.
Namun setelah agak lama mereka menunggu Toph tidak sampai juga. Mereka mulai gelisah dan saling menyalahkan diri sendiri.
"Kenapa Toph tidak sampai juga.." kata Ty Lee
"Atau mungkin dia hilang!" kata Mai
"Tapi bagaimana mungkin dia bisa hilang, gua ini hanya memiliki satu jalur!" kata Katara
"Aaah, ini semua salahku, aku yang menyuruhnya ikut, padahal keadaannya memang tidak mendukung!" kata Sokka sedih.
"Emm, tunggu dulu apa mungkin gara-gara batu tadi!" kata Aang serius. Dia tampak sedang mengingat-ingat kejadian tadi.
"Apa maksudmu, Aang?" tanya Sokka.
"Tadi kita menabrak batu dan menbentur dinding, aku rasa akibat benturan itu dindingnya menjadi retak, aku tadi mendengar suara retakan!"
"Kemudian kau tadi menyingkirkan batu itu dan mengenai dinding, apa mungkin dindingnya menjadi berlubang dan membuat jalur baru?" Sokka menerka-nerka.
"Kalau benar begitu, kemungkinannya hanya ada satu, Toph tidak sengaja memasuki lubang tersebut dan keluar entah dimana!" kata Suki
"Aargh, ini salahku, seandainya aku tadi tidak ceroboh saat menyingkirkan batu itu, Toph pasti sudah bersama kita disini." Aang merasa bersalah.
"Aku juga tidak bisa menjaga keselamatan Toph, padahal aku sudak berjanji pada Ayahnya, bahwa aku yang menjamin keselamatan Toph selama berada dikutub selatan!" Zuko juga ikut panik
"Jadi kau bilang seperti itu kepada ayahnya agar Toph bisa diizinkan kesini?" tanya Ty Lee
"Ya!" jawab Zuko.
"Sudahlah, dari pada kita semua saling menyalahkan diri sendiri lebih baik sekarang kita berpencar untuk mencarinya!" kata Katara.
Mereka pun berpencar, sementara yang lain mencari diluar gua, Aang dan Zuko menyusuri gua dan menemukan sebuah lubang yang cukup besar. Kemudian mereka berdua memasuki lubang itu, setelah berjalan beberapa menit akhirnya mereka berdua juga harus berpencar, karena jalan dihadapan mereka bercabang. Aang mengambil jalan sebelah kanan dan Zuko mengambil jalan kiri.
xxx
"Aw..!" Toph berteriak saat terjatuh dari pinguin yang tadi ditumpanginya.
"Teman-teman, kalian sudah sampai?" Toph mengira bahwa dia sudah sampai ditempat tujuan. Namun tidak ada suara yang menjawab.
"Teman-teman kalian dimana? Kenapa diam saja!" Toph mulai gelisah.
"Oooh tidak, sepertinya aku tersesat, bagaimana ini? aku tidak bisa melihat, semuanya gelap..!" Toph bertambah gelisah saat menyadari bahwa dia benar-benar tersesat dan terpisah dari teman-temannya.
"Teman-teman… Kalian dimanaaaa?" teriak Toph sambil berjalan tanpa arah.
Namun berkali-kali Toph berteriak tidak ada satu pun yang menjawabnya, dia pun berjalan tanpa arah, berharap akan bertemu dengan teman-temannya. Gelap.. hanya itu yang ada dalam pandangannya, namun dia terus berjalan walau pun dia tak tahu kemana kakinya melangkah. Dan tiba-tiba..
BYUURR!
Toph tercebur kedalam air, air yang sangat dingin.
"Tolooong… Emph.. Hahh haahh.. Tolooong, Aku tidak bisa berenang.. emph hahh, Tooloong…!" Teriak Toph.
Namun tetap saja tidak ada sahutan. Dia mulai menggigil, dia tetap berusaha agar bisa bernafas, akhirnya tangan Toph meraih sesuatu yang padat dan mengapung. Dia pun meraihnya agar tidak tenggelam. Dingin.. benda itu dingin, ya karena benda itu adalah bongkahan es, namun kali ini dia tidak perduli, yang penting dia bisa bertahan selama mungkin sampai ada seseorang yang menemukannya.
"Brrrh…. Dingiiin… teman-teman cepatlah datang.. aku sudah tidak tahan lagi!" kata Toph dengan suara menggigil yang amat pelan.
"Z Zuko.. Zuko..!" hanya ada Zuko yang ada dipikirannya saat ini, dia membutuhkan Zuko saat ini. Toph teringat saat dia hampir tenggelam dan Sokka berusaha menyelamatkannya, tetapi dia kecewa saat mengetahui penyelamatnya bukanlah Sokka, tetapi Suki. Kini dia mengubur harapannya pada Sokka dalam-dalam, saat ini hanya Zuko yang mengisi hatinya. Toph mulai tak mampu menjaga kesadarannya. Seluruh badannya dingin, menggigil, wajahnya pun sudah sangat pucat, bibirnya membiru. Perlahan matanya pun tertutup. Toph kehilangan kesadarannya.
xxx
"Toph… Toph… dimana kau… Toph… jawab aku..!" teriak Zuko saat sampai di daratan es yang luas. Dia melemparkan pandangannya ke kiri dan ke kanan.
"Ohh tidak, aku tidak bisa menepati janjiku, aku harus bisa menemukan Toph sebelum terjadi sesuatu yang buruk padanya.." Zuko berbicara pada dirinya sendiri.
Zuko pun berjalan sambil melihat-lihat sekelilingnya. Ketika didepannya terdapat sebuah danau yang luas, ia melihat sesuatu. Perlahan ia mendekati tepi danau itu agar bisa melihatnya dengan jelas. Matanya membulat sempurna saat ia mendapati Toph sedang pingsan dengan berpegangan pada es. Zuko segera melepas mantel yang ia gunakan dan langsung terjun kedanau untuk membawa Toph ke tepi.
"Toph.. bertahanlah, aku disini!" kata Zuko saat berada disamping Toph.
Ia pun segera membawa Toph ke tepi. Keadaannya sudah sangat buruk, seluruh tubuhnya pucat, dia pasti mengalami hipotermia akibat terlalu lama didalam air dingin. Lalu Zuko berusaha mengeluarkan air yang banyak tertelan Toph. Namun Toph tak kunjung sadar. Akhirnya Zuko memberikan nafas buatan pada Toph. Dengan cepat dia menempelkan bibirnya ke bibir Toph untuk mengalirkan udara pada Toph. Toph pun terbatuk dan mengeluarkan air dari mulutnya. Tanpa disadari oleh Zuko ada sepasang mata yang menyaksikan kejadian itu.
"Toph… kau sudah sadar!" Zuko telihat lega.
"Ugh.. Z Zuko!" Toph berkata lirih sambil tersenyum. Namun tak lama kemudian Toph pingsan kembali.
"Toph,, apa kau baik-baik saja!" Zuko mengguncang-guncangkan bahu Toph.
Namun Toph tak sadar juga. Dengan cepat Zuko melepas mantel yang dikenakan Toph dan menggantinya dengan mantel miliknya tadi untuk mengurangi rasa dingin. Lalu Zuko menaikkan Toph ke punggungnya, dia menggendongnya menuju rumah Katara dan Sokka.
"Toph, maafkan aku. Aku tidak bisa menjagamu. Aku gagal melindungimu. Aku tidak bisa menepati janjiku pada ayahmu.. maafkan aku, Toph..!" kata Zuko marah pada dirinya sendiri.
xxx
Aang, Katara, Sokka, Suki, Mai, dan Ty Lee sudah berkumpul di halaman rumah Katara dan Sokka, mereka tidak berhasil menemukan Toph, hanya Zuko yang menjadi harapan terakhir mereka.
"Semoga Zuko berhasil menemukan Toph!" kata Suki lirih.
"Ya!" hanya kata itu yang bisa diucapkan Sokka saat ini.
"Tenang saja, Zuko pasti berhasil menemukan Toph!" kata Mai dengan tenang.
"Hey, bagaimana mungkin kau menyuruh kita untuk tenang sedangkan kita tidak tahu bagaimana keadaan Toph diluar sana!" kata Suki sedikit marah.
"Sudah, Suki, daripada bertengkar lebih baik kita berdoa untuk keselamatan Toph!" kata Katara sambil memegang bahu Suki untuk menenangkannya.
"Sebentar lagi Zuko pasti datang dengan membawa Toph!" kata Mai dingin
"Ya, aku harap begitu." Kata Ty Lee.
~TBC~
Maaf kalau jelek, aku juga sedang tidak konsen buat nulis fic, soalnya lagi sibuk *sok sibuk*
Pokoknya review aja deh, aku juga belum tau nih endingnya gimana. Ada yang punya saran? Tapi yang pasti Zuko sama Toph. Hey, gimana nasib Mai? Yah lihat saja nanti *plakk*
Review please….
R
E
V
I
E
W
