Kriing.. Kriing.. Kriing.. Krii─
─Pip.
Pagi hari yang cerah di musim panas, bunyi dari jam alarm yang sudah diatur adalah pemicu terbukanya kedua mata baby blue si pemilik surai biru langit. Kuroko mengerjapkan beberapa kali matanya untuk mengatur fokus pandangannya yang masih mengabur. Merasa sudah terkumpul nyawanya dan fokus pandangannya pun normal kembali, selimut yang menutupi tubuh ramping Kuroko disibak olehnya dan mengambil posisi duduk disisi kasur.
Manik baby blue Kuroko melirik jam alarmnya yang masih menunjukkan pukul enam pagi, berarti ia masih memiliki waktu dua jam untuk mandi dan sarapan. Kuroko adalah anak tunggal, ia melakukan semuanya sendiri. Kedua orang tuanya sudah meninggal saat dia berusia sepuluh tahun.
Ayah dan ibunya meninggal akibat kecelakaan saat mereka ingin menjemput Kuroko yang sudah pulang dari kegiatan study tour bersama sekolahnya. Mengingat kejadian itu Kuroko sudah berjanji akan melupakannya karena jika terus diingat tidak akan ada gunanya. Ia tahu meskipun kedua orang tuanya sudah tidak ada tapi Kuroko selalu merasakan mereka ada di dalam dirinya.
Tidak ingin membuang waktu, Kuroko langsung beranjak dari posisi duduknya untuk membawa langkah kaki pucatnya ke dalam kamar mandi yang berada di luar kamar tidurnya.
.
Hanya menghabiskan lima belas menit untuk mandi dan berpakaian, sekarang Kuroko sudah bisa dikatakan siap berangkat ke pantai bersama teman-temannya.
"Tapi ini masih terlalu pagi." Gumamnya setelah melirik jam alarm yang ada di atas meja kecil disamping tempat tidurnya. Sebenarnya Kuroko sudah selesai merapikan barang-barang yang harus dibawa untuk liburan ke pantai. Karena masih memiliki waktu yang cukup, Kuroko memutuskan untuk membuat sarapan agar tidak kelaparan saat dalam perjalanannya.
.
.
.
Kuroko No Basuke © Tadatoshi Fujimaki
Summer in Love © nyancatfangirl
AKAKURO | AOKISE | DUO JONES MURA & MIDO
Fanfiksi pertama di kawasan Kuroko No Basuke
For this chapter: T
Genre: Gado-gado (Romance, Drama, Humor yang renyah dan gosong)
Mereka semua masih kelas satu tingkat SMA. Mungkin rate bisa berubah menjadi M jika kuat membuatnya.
Warning: Typo(s) everywhere, just for fun, meningkatkan AkaKuro shipper, dan lain-lain.
Tidak ada tim basket. Mereka semua menyukai olahraga.
Bila ada kesamaan dalam cerita, judul maupun kawan-kawannya, itu semua adalah ketidaksengajaan. Mencuri karya orang lain tidak akan ada untungnya, kecuali ada kesepakatan antara kedua belah pihak. (Plis ini apaan)
Kereta api yang ditumpangi oleh lima pemuda bersurai unik melaju dengan kecepatan stabil. Keadaan di dalam kereta api tidak terlalu padat, mengingat bulan ini telah memasuki musim panas tentu saja keadaan kereta api lumayan lowong.
Kuroko bersama keempat teman-temannya memutuskan untuk berangkat bersama agar lebih efektif. Kalau salah satu di antara mereka ada yang telat, bisa-bisa Akashi menghukum, kecuali untuk Kuroko yang posisinya paling utama diantara lainnya.
Selama perjalanan, Murasakibara duduk anteng bersama camilannya yang bisa dikatakan terlalu banyak, karena dia membawa dua kantung plastik. Sedangkan duo rapet─Aomine dan Kise─tidak mungkin tidak membuat masalah. Dimana pun mereka berada, keributan selalu menjadi pihak ketiga diantara mereka berdua.
Lalu Midorima duduk dengan tenang sambil memangku kipas angin mini sebagai lucky itemnya hari ini. Tapi untuk pertama kalinya mereka berempat bingung dengan Kuroko. Pasalnya yang selalu membawa barang-barang aneh itu hanya Midorima, tapi untuk saat ini mereka berempat melihat Kuroko membawa boneka kelinci putih yang ukurannya hampir sama seperti bantal tidur.
"Hoi, Tetsu, apa kau kena virus lucky item seperti Midorima?" Aomine tiba-tiba bersuara, si empu yang disinggung protes dengan kalimat 'virus' yang diucapkan Aomine.
"Tidak, Aomine-kun."
"Lalu kenapa kau membawa boneka kelinci, Tetsu? Tidak biasanya kau membawa barang selain buku, vanilla milkshake dan Nigou."
"Entahlah, Aomine-kun. Hanya saja aku ingin membawanya, boneka ini sangat empuk sekali." Kuroko memeluk erat boneka kelinci putih penuh protektif dan menggesekkan pipi tembamnya di wajah boneka kelinci yang sedang menyeringai. Di mata Aomine, ia seperti melihat seseorang yang tidak asing.
"Jangan-jangan itu boneka dari Akashicchi?"
Kuroko mengangguk sebagai jawaban.
"Ya, ini pemberian dari Akashi-kun."
'Sudah kuduga.' Batin mereka berempat. Akashi memang menyukai Kuroko meskipun tidak mengatakan 'aku menyukainya' kepada teman-temannya. Lagipula gerak-gerik dari Akashi terhadap Kuroko itu berbeda. Akashi menjadi lebih lembut dan sabar walaupun Kuroko tipe yang tidak peka.
Midorima yang bisa dikatakan seperti asisten Akashi pernah meminjam buku catatan sejarah milik Akashi untuk disalin, sebab dia pernah izin tidak sekolah karena sakit.
Membalik beberapa lembar kertas untuk mencari catatan sejarah BAB dua, tiba-tiba saja pencarian Midorima berhenti di tengah lembar kertas. Ia sedikit terkejut saat kedua matanya menangkap goresan pena nama seseorang.
'Kuroko Tetsuya' dengan bentuk love sebagai penghias. Midorima terkekeh geli, Akashi yang bisa dikatakan tidak tertarik dengan cinta pun bisa melakukan hal ini. Dari kejadian itulah Midorima semakin yakin bahwa Akashi sudah jatuh ke dalam warna biru langitnya Kuroko.
"Tidak disangka dia melakukannya, nanodayo."
"Akashi-kun baik, Midorima-kun sangat pelit." Kata-kata dari Kuroko dengan nada datarnya membuat perempatan di pelipis Midorima.
Kise dan Aomine tertawa mendengarnya, mereka membayangkan jika ada Akashi mungkin dia sudah menyeringai penuh kemenangan dan kesombongan. Tapi hari ini dia sedang beruntung karena harga dirinya tidak diinjak-injak oleh Akashi.
Ketika Midorima ingin protes, tiba-tiba saja bel tanda pemberhentian kereta api berbunyi. Kise berteriak kegirangan, Aomine menjitak kepala si surai kuning, Murasakibara mengangkut dua plastik miliknya, Kuroko menghela napas sambil memeluk boneka kelincinya, sedangkan Midorima mengelus dadanya─nyesek karena ucapan Kuroko.
Pintu kereta api pun bergeser, memberi akses untuk para penumpang keluar. Sekarang mereka berlima berada di luar stasiun kereta api dan berjalan ke arah halte. Tinggal menunggu bus yang akan membawa mereka ke tempat tujuannya.
Akashi sudah stand by di depan pintu hotel berbintang lima. Ya, Akashi menyewa hotel berbintang lima untuk teman-temannya, mengingat dia adalah anak dari pengusaha yang terkenal di Tokyo mana mungkin kesulitan untuk mengeluarkan biaya yang nominalnya besar.
Diliriknya jam tangan yang melingkar di lengan kanannya. Tinggal satu menit lagi sebelum tepat jam delapan, Akashi sudah merencanakan hukuman untuk mereka semua kalau terlambat satu menit saja.
Namun sepertinya dia tidak akan melakukannya karena mereka berlima sudah datang sambil terengah-engah. Akashi yakin mereka semua berlari saat di halte bus yang jaraknya lumayan jauh. Tapi tidak masalah, itu semua mereka lakukan agar hukuman yang bisa dikatakan menyeramkan dari Akashi terhindar.
"Tepat jam delapan. Beruntung sekali, hukuman yang sudah aku rencanakan telah di gagalkan oleh kalian." Akashi menyeringai, mungkin sedikit kecewa tapi dia juga senang karena teman-temannya tidak membuang-buang waktu sedetik pun.
Mereka berlima menghela napas, usahanya tidak sia-sia. Berkat ide Midorima mereka semua terselamatkan. Midorima bangga karena idenya berhasil. Lucky itemku memang hebat, batinnya.
Manik heterokrom milik Akashi tidak sengaja menangkap bulatan putih yang sedang dipeluk Kuroko. Sedangkan Kuroko yang menyadari tatapan dari Akashi membalas senyum.
"Akashi-kun, terima kasih untuk hadiahnya. Aku terkejut saat membuka pintu rumah dan menemukan ini." Kuroko mengangkat boneka kelinci di depan Akashi.
"Sama-sama, Tetsuya. Lain kali aku akan memberikan yang ukurannya besar untukmu."
Tiba-tiba saja Kise mencolek lengan Aomine, meminta perhatian.
"Aominecchi, aku juga mau boneka-ssu."
"Ya, nanti akan kubelikan boneka yang penuh dengan seringai sedang menggenggam pisau."
"Eh?! Aku tidak mau boneka chucky-ssu! Aominecchi jahat!" Kise nangis bombay. Aomine tidak peduli, sekarang yang ada dipikirannya hanya pantai dan pantai. Lagipula siapa dia? Hanya teman. Tidak lebih.
Ya. Hanya teman.
"Akashi, aku sudah tidak sabar ingin berenang."
Aomine yang sedari tadi memang tidak sabar ingin mencium air laut pun berbicara.
"Baiklah, barang bawaan kalian bisa ditinggalkan disini," Akashi menunjuk papan beroda disampingnya. "Kalian bawa saja barang yang akan diperlukan saat dipantai."
"Aka-chin, apa aku boleh membawa makanan?"
"Tentu saja, Atsushi. Tapi kau tidak boleh membuang sampah sembarangan."
Akashi memperingatinya, karena dia adalah orang yang tidak suka melihat sampah bertebaran dimana-mana. Murasakibara mengangguk paham.
"Ayo, kita mulai liburan musim panas ini dengan air laut."
"Yosh!"
.
.
Terik matahari di musim panas tidak mematahkan semangat mereka. Suasana pantai yang ramai tidak menjadi hambatan mereka untuk tetap melanjutkan aksinya. Ini adalah musim panas, tentu saja pantai menjadi salah satu tempat favorit yang harus dikunjungi.
Hamparan laut pantai yang indah membuat Aomine dan Kise senang. Hanya mereka berdua saja yang tidak sabar ingin menenggelamkan tubuh dengan air laut. Tapi mereka semua masih memakai pakaian yang sebelumnya dan berbalutkan celana pendek selutut.
Sebelum masuk ke dalam air laut, mereka semua mencari tempat untuk berteduh. Untung saja ada lahan pasir pantai yang kosong dan tanpa perhitungan lagi mereka langsung memaparkan tikar berwarna oranye serta dua buah payung teduh ditancapkan.
"Akhirnya kita semua bisa liburan ke pantai-ssu!"
"Benar sekali, Kise-kun. Aku sangat senang kita semua bisa berkumpul seperti ini."
"Bukannya aku senang, hanya saja ini tidak terlalu buruk, nanodayo." Midorima membenarkan kacamatanya, dari apa yang dia katakan sebenarnya Midorima senang. Hanya saja dia tipe tsundere. Mereka semua paham maksud dari perkataannya.
"Kalian berisik. Aku mau berenang dulu." Aomine langsung membuka baju, menampilkan tubuh atletisnya.
Disusul oleh Kise, tubuhnya juga tidak kalah dari Aomine walaupun lebih kekar punya Aomine. Mereka berdua berlari dengan kecepatan penuh dan─
BYURR.
Suara air laut yang memberikan percikan air di udara akibat lompatan dari Kise dan Aomine. Murasakibara, Midorima, Kuroko dan Akashi belum bergabung dengan mereka berdua. Murasakibara masih ingin makan dibawah teduhnya payung. Midorima harus membuka balutan kain di jari kirinya. Sedangkan Kuroko dan Akashi hanya duduk santai dibawah payung yang mereka tancapkan.
"Tetsuya, kenapa tidak ikut bergabung dengan mereka?"
"Aku ingin memakai sunblock dulu, Akashi-kun. Kulitku tidak kuat dengan sinar matahari."
Akashi memperhatikan lama botol sunblock yang ada di tangan Kuroko. Seperti bola lampu yang muncul di atas ubun kepalanya, Akashi menemukan ide modusnya.
"Kulit Tetsuya memang harus dilindungi. Mau aku bantu mengoleskannya dipunggung Tetsuya?"
Kuroko yang pada dasarnya tidak peka hanya mengangguk sebagai persetujuan, lagipula mengoleskannya dipunggung harus meminta bantuan. Dirinya tidak tahu ada rencana terselubung dari Akashi. Murasakibara─dan Midorima yang pura-pura tidak tahu─sebenarnya tahu. Tapi biarkan saja toh, Akashi sedang berusaha di masa pendekatan.
Kuroko membuka bajunya, Akashi yang berada di sampingnya menahan napas saat melihat lekuk tubuh yang putih dan rupawan. Meskipun tidak memiliki tubuh se-atletis Aomine, tapi lebih terlihat seperti tubuh wanita. Putih, mulus, bersih dan ramping.
'Tahan, Seijuurou, tahan..' Akashi merapalkan do'a dalam hati agar dirinya tidak menyerang Kuroko secara tiba-tiba.
Setelah Kuroko selesai mengoleskan sunblock di daerah kedua pergelangan dan dadanya, ia memberikan botol sunblock yang berwarna kuning cerah kepada Akashi.
"Akashi-kun tadi menawarkan bantuan kepadaku. Jika tidak keberatan kau bisa melakukannya."
"Dengan senang hati, Tetsuya."
Akashi menerima botol sunblock yang ada digenggaman Kuroko. Telapak tangan kirinya siap menjadi wadah untuk cream yang akan keluar dari permukaan lubang botol sunblock. Tanpa basa-basi lagi Akashi langsung meletakkan telapaknya ke punggung halus milik Kuroko.
Secara perlahan ia mengolesnya, meratakan ke setiap sudut. Akashi menikmatinya, harum vanilla menyapa indera penciumannya, halusnya permukaan kulit Kuroko membuat dirinya tidak mau berhenti mengoles dan menyentuh. Tulang-belulang pundak dan punggung Kuroko pun tidak luput dari telapaknya.
Kuroko merasakan sedikit geli karena jari telunjuk nakal Akashi melintas dari tengkuknya sampai ke ujung pinggang. Reaksi pertama yang dia berikan adalah geliat terkejut.
Tidak mau bermain lama-lama dipunggung Kuroko, Akashi menyudahi acara oles-mengoles terselubungnya. Kuroko berterima kasih dan senyuman dari Akashi sebagai responnya.
Aomine dan Kise masih bermain dengan air laut, keduanya melihat ke tepian pantai. Akashi dan Kuroko sepertinya akan bergabung dengan mereka berdua. Dilihat dari postur tubuhnya Akashi memiliki bentuk tubuh atletis, sama seperti Aomine.
Sebelumnya banyak sekali gadis-gadis yang memandang ke arah mereka dan berbisik-bisik dengan rona merah diwajahnya.
Yang menjadi pusat perhatian mereka adalah Aomine, Kise dan Akashi, sedangkan Kuroko tidak. Tentu saja postur tubuh Kuroko tidak sama, sekalipun disandingkan dengan Kise tetap saja dia tidak memiliki bentuk. Hanya perut yang ramping dan pinggang yang molek─menurut Akashi─seperti perempuan.
Tapi Kuroko tidak mempermasalahkannya karena dia memang tidak peka, atau lebih tepatnya tidak peduli. Akashi bersyukur, sangat disayangkan jika tubuh moleknya akan berubah menjadi atletis.
"Lihat siapa yang akan bergabung."
"Kurokocchi! Ayo kita berenang bersama-ssu!" Kise melambaikan tangannya kepada Kuroko. Memberi undangan untuk bergabung bersamanya.
"Tapi aku tidak mau terlalu jauh dari tepian, Kise-kun."
"Tenang saja, Tetsuya, aku akan menjagamu."
Kise yang mendengarnya sedikit iri. Dia ingin sekali seseorang berkata seperti itu padanya. Seseorang yang selalu ada dalam pikirannya. Seseorang yang selalu menjadi adu mulutnya. Seseorang yang selalu ada di dekatnya. Pandangan Kise menjadi melembut, tanpa sadar ia tersenyum. Entahlah. Mungkin dia sudah dikatakan aneh karena senyum-senyum sendiri.
"Hoi, Kise, kenapa kau tersenyum melihat Kuroko dan Akashi?" Suara Aomine menyadarkan Kise dari lamunannya.
"Memangnya kenapa-ssu? Mereka sangat cocok."
Kuroko tanpa sengaja menangkap kalimat Kise. Cocok? Apanya yang cocok? Kuroko berpikir keras. Ia melihat dirinya dan Akashi. Maksud perkataan Kise itu apa?
Dia sedang tidak memakai baju yang bagus, hanya celana pendek selutut yang sudah tenggelam di dalam air laut. Akashi juga sama sepertinya yang tidak memakai baju bagus. Kuroko tidak mengerti jalan pikiran Kise yang menilainya cocok.
Daripada pusing memikirkannya, lebih baik dia menikmati segarnya air laut bersama Kise, Aomine dan Akashi. Murasakibara hanya memandangnya dari kejauhan sambil melahap camilan kesayangannya. Midorima sudah selesai melepaskan balutan kain di jari kirinya.
"Mido-chin, apa kau berniat untuk membawa lucky item berenang?" Murasakibara bertanya tanpa melihat ke arah Midorima.
Si kacamata menoleh ke arah si surai ungu yang sedang mengunyah.
"Tentu saja, Murasakibara. Aku tidak mau saat berenang di laut terjadi sesuatu, nanodayo."
Murasakibara hanya bergumam dan melanjutkan acara lahap-melahap camilannya. Midorima yang sudah bertelanjang dada melangkahkan kakinya menuju air laut yang sudah dijamah oleh keempat teman-temannya.
"Murasakibara," Tiba-tiba Midorima menghentikan langkahnya. Yang dipanggil hanya bergumam "Hm?"
"Daripada makan dan memperhatikan kami, lebih baik kau juga ikut bergabung." Ucapnya lirih.
Midorima yang membelakangi Murasakibara melanjutkan langkahnya. Murasakibara hanya diam, acara mengunyahnya tidak dilanjutkan. Tubuh besarnya sekarang sudah posisi berdiri dan langsung saja dia membuka bajunya.
"Baiklah. Aku tidak menyangka kalau Mido-chin mengajakku."
"Hei! Aku hanya kasihan melihatmu seperti itu! Bukan berarti aku peduli, nanodayo."
Murasakibara terkekeh geli melihat Midorima dalam mode tsunderenya.
"Murasakibaracchi! Midorimacc─eh?! Kenapa lucky item punyamu dibawa sampai kesini-ssu?"
"Berisik. Aku tidak mau hal buruk terjadi, nanodayo."
"Murasakibara-kun kalau ke tengah-tengah laut tidak mungkin tenggelam sepertinya."
Dan pagi itu, mereka semua menikmati air laut yang menyegarkan. Genangan ombak, cipratan air laut yang disengaja, tawa bahagia, semua itu mengiringi liburan di pantai kali ini. Banyak hal-hal yang menyenangkan dilakukan oleh mereka. Rasanya musim panas kali ini sangat mengesankan untuk mereka semua.
Matahari semakin meninggi. Teriknya membuat tubuh menjadi banjir peluh keringat. Panas dan ingin yang segar. Air laut memang segar, tapi tidak untuk siang ini. Akhirnya mereka berenam sudah berteduh.
Kise dan Murasakibara membawa minuman soda dan ice cream rasa vanilla. Aomine merebahkan dirinya di atas tikar tempat mereka duduk dan berteduh. Minuman soda sudah di teguk. Ice cream rasa vanilla sudah digigit oleh Kuroko.
Sekarang mereka semua tengah duduk menghadap arah laut. Menikmati sentuhan angin yang berhembus menggelitik tubuh. Suara Akashi tiba-tiba saja memecah keheningan.
"Kurasa sudah waktunya kita kembali ke hotel."
"Kau benar, Akashi. Aku lelah sekali ingin tidur siang." Aomine menguap kelelahan.
"Ya, aku juga setuju. Mungkin sudah pukul dua belas siang, nanodayo."
Benar juga apa yang dikatakan Midorima. Sekarang sudah saatnya mereka istirahat dan makan siang. Beranjak dari posisi duduk, mereka bekerjasama melipat tikar dan membawa payung sesuai perintah Akashi.
.
.
"Ini kamarnya. Nomor 301."
Akashi memasukkan card─yang bisa dikatakan sebagai kunci modern masa kini─ke dalam lubang tipis bergaris, seperti memasukkan kartu debit ke mesin ATM.
Pintu besar berwarna cokelat dengan hiasan megah terbuka. Kaki dibawa masuk ke dalam, harum dari pewangi ruangan menyapa indera penciuman mereka. Air Conditioner secara otomatis hidup, memberikan kesejukkan dalam ruangan. Dinding yang dilapisi wallpaper vintage menjadi pemandangan yang indah.
Anehnya, hotel ini sudah seperti apartemen mewah. Di dalam hotel yang luasnya bukan main, ada beberapa ruangan terpisah. Ruang pertama dari pintu masuk kamar adalah ruang keluarga, dimana ada TV LED Samsang 55F80 berwarna hitam ukuran 55 inch, resolusi 1920 x 1080, Full HD dan 3D. Sofa merah marun dengan meja kaca rendah menjadi pelengkap ditengah ruangan.
Ruang kedua ada kamar dengan double bed ukuran king size. Bisa dipastikan satu kasur untuk dua orang─tunggu.
"Kenapa hanya ada double bed? Sedangkan kita ini berenam, nanodayo."
"Shintarou, kau tidak perlu memikirkan hal itu. Sewa satu kamar lagi tidak masalah."
Napas mereka tercekat mendengar kalimat Akashi. Sebenarnya tidak ada yang ragu dengan Akashi untuk menyewa satu kamar di hotel bintang lima. Meskipun begitu, Akashi bukan orang yang sombong. Dia melakukan itu semua untuk kepuasan teman-temannya. Namun tidak ada sedikit pun niat untuk memanfaatkan kekayaan Akashi. Itulah sebabnya Akashi selalu memberikan hal yang mewah kepada teman-temannya.
Setelah memperkenalkan isi dari kamar hotel nomor 301 mereka semua langsung melakukan kegiatan masing-masing.
Lambung Kuroko seketika bergemuruh layaknya gempa bumi. Minta diisi sesuatu ke dalamnya. Kuroko membawa langkahnya ke ruang utama yaitu ruang keluarga. Jangan lupakan bahwa di dalam ruang keluarga ada mini kitchen beserta kulkas. Tujuan Kuroko sekarang adalah membuka kulkas, ingin memeriksa dalamnya.
Tangan sudah mendarat di gagang pintu kulkas bagian bawah. Setelah berhasil membukanya, manik blue baby mencari-cari makanan yang bisa dimakan. Namun hasilnya nihil. Isi kulkas hanya ada sayuran, buah jeruk dan apel serta yoghurt.
'Ternyata tidak ada makanan siap santap.' Batinnya kecewa. Mana mungkin dia harus memasak terlebih dahulu sedangkan lambungnya sudah mau meledak.
Saat Kuroko sibuk mencari makanan di dalam kulkas, manik heterokrom memperhatikan diam punggung ringkih milik Kuroko. Akashi bisa menebak kalau Kuroko lapar. Melihat tingkah lucu Kuroko yang sedang kebingungan membuat hati Akashi kasihan. Ia mulai menghampiri dan menepuk pelan pundak Kuroko.
"Tetsuya, apa yang sedang kau cari?"
"Akashi-kun?" Kuroko sedikit terkejut tiba-tiba saja Akashi bertanya. Namun tidak disangka lambungnya berbunyi seperti pintu reyot yang sudah dihabisi ujungnya oleh rayap nakal.
Malu. Kuroko sangat malu. Lambungnya mungkin ngambek dan sengaja memberi kode kepada Akashi. Kuroko sebal dibuatnya, mengancam dalam hati kelakuan lambungnya yang nakal dan tidak sabaran. Rona merah menjalar di wajah manis Kuroko. Akashi yang melihatnya hanya terkekeh pelan.
"Kau lapar, ya? Tenang saja Tetsuya, aku sudah memesan makanan untuk kita semua."
"Maaf. Aku tidak tahu, Akashi-kun." Kuroko menunduk malu, tidak kuat menatap wajah Akashi karena dia malu. Intinya malu.
"Tidak apa-apa, Tetsuya. Kau tidak perlu malu untuk meminta apapun dariku. Tanpa kau minta pun akan aku berikan. Hanya untuk Tetsuya."
Mungkin untuk orang yang peka langsung merona dan salah tingkah dibuatnya. Namun beda lagi dengan Kuroko yang tidak peka. Menurut dia Akashi terlalu berlebihan. Kuroko tidak mau merepotkan Akashi. Tapi mau bagaimana lagi, menolak tidak ada dalam kamus Akashi Seijuurou.
"Terima kasih, Akashi-kun. Maaf sudah merepotkanmu akhir-akhir ini. Kalau ada apa-apa, kau bisa mengandalkanku, Akashi-kun."
"Merepotkanku? Jangan bercanda. Aku melakukannya dengan senang hati, Tetsuya. Beban apapun tidak ada dalam diriku kalau menyangkut tentang dirimu."
Akashi tersenyum, Kuroko hanya memasang wajah datar. Akashi sadar kalau Kuroko ini tidak peka. Jawaban yang diberikannya saja membuat perutnya geli. Inilah salah satu alasan kenapa Akashi tertarik dengan Kuroko.
Bel dari luar ditekan sengaja oleh seseorang, menimbulkan suara dentingan lembut ditelinga. Akashi menghampiri, Kuroko mengekor dibelakangnya. Pintu dibuka menampilkan pelayan bergender laki-laki membawa trolley yang dipenuhi berbagai macam makanan lezat. Setelah dia menaruh hidangan di atas meja makan, Akashi memberikan tip yang lumayan banyak. Akashi itu orangnya baik, tidak pernah setengah-setengah untuk memberikan sesuatu kepada seseorang, menurut Kuroko.
"Tetsuya, panggil yang lainnya untuk kemari."
Kuroko mengangguk, memutar tubuhnya menuju kamar yang sedang dipakai oleh Kise, Murasakibara, Midorima dan Aomine.
.
.
"Selamat makan."
Hidangan yang ada di atas meja siap disantap. Makanan ini terlalu lezat dan mewah. Dentingan garpu dan pisau menjadi lantunan lagu ditelinga mereka. Tapi itu semua tidak akan bertahan lama. Ingat, duo rapet akan selalu memecah keheningan.
"Aominecchi, makannya berlebihan sekali-ssu."
"Meskipun berlebihan, aku makan dengan rapi. Tidak seperti kau, Kise."
Yang dituduh memasang wajah bingung. Memangnya dia tidak rapi? Buktinya meja yang menumpu piringnya tidak ada remah yang berjatuhan.
"Aominecchi jangan asal bicara-ssu. Aku makan dengan rapi juga."
Aomine geram, tidak terima dengan perkataan Kise. "Kau ini bodoh ya," Jari-jari milik Aomine terangkat mengarah ke wajah sang model bersurai kuning. Kise hanya diam saja saat sentuhan telunjuk dan ibu jari Aomine di pipinya, seperti mengambil sesuatu disana.
"Lihat. Ada remah sayur di pipimu." Dan pada saat itu juga Kise terkejut melihat remah sayur yang ada di pipinya dimakan oleh Aomine.
"Oi, Aomine! Kau jorok sekali, nanodayo!"
Midorima protes melihat tindakan Aomine. Tidak hanya Akashi, Midorima juga manusia ber-etika.
"Kau kira aku makan kotoran, kacamata?"
"Aomine-kun, perkataanmu harus dijaga." Kuroko memperingati. Tidak suka dengan cara bicara Aomine. Bayangkan saja saat ini mereka sedang makan dan mendengar kata-kata seperti itu bisa membuat nafsu makan seseorang menurun.
"Maaf, Tetsu."
"Tidak apa-apa. Lain kali jangan berkata seperti itu, Aomine-kun."
"Kise-chin, kenapa diam saja?"
Sontak saja kalimat Murasakibara membuat Midorima, Aomine, Kuroko dan Akashi menoleh ke arah Kise. Sadar dari lamunan bodohnya, Kise langsung salah tingkah.
"A-Ah. Aku hanya sedang mencerna makanan yang menyangkut di dalam tenggorokan, Murasakibaracchi."
Bohong.
Murasakibara tahu Kise sedang berbohong. Tidak bermaksud untuk bertanya lebih lanjut lagi, Murasakibara kembali melanjutkan kegiatan makannya.
"Ryouta, makan yang benar."
"B-Baik, Akashicchi."
'Sialan kau, Aominecchi!' teriak Kise dalam hati.
Terima kasih untuk yang masih sempat meluangkan waktunya membaca chapter dua dari Summer in Love. Terima kasih banyak bagi yang sudah memberikan Review, Follow dan Favourite fiksi ini!
See u next chapter!
