Chapter I – Selamat Datang di Jepang, Selamat Datang di Gensokyo.

Part 1

Lafka dan Aldey kemudian menaruh koper-koper tersebut ke dalam kereta kuda yang sudah menanti di depan gerbang dermaga. Diangkatnya satu per satu koper tersebut menuju ke kereta kuda, kemudian kembali mengambil koper lain, dan kembali lagi menuju ke kereta kuda hingga akhirnya semua koper sudah masuk ke dalam kereta kuda tersebut. Tuan Vacille kemudian memerintahkan kusir dari kereta kuda tersebut untuk berangkat menuju ke kediamannya.
Kereta kuda yang berisikan koper-koper tersebut pun mulai berjalan meninggalkan dermaga, menyusuri jalanan kota Matsue. Bersamaan dengan perginya kereta kuda tersebut, datanglah kereta kuda lain yang terlihat sedikit lebih besar dari kereta kuda yang sebelumnya. Kereta kuda tersebut kemudian berhenti tepat di depan gerbang dermaga dimana Lafka dan rombongannya berada.

Setelah berhenti, kusir kereta kuda tersebut langsung turun dan membukakan pintu kereta kuda tersebut, mempersilakan mereka naik. Tuan dan nyonya Vacille naik terlebih dahulu, disusul dengan Lafka dan Aldey. Setelah mereka semua naik, sang kusir pun menutup pintu kereta tersebut dengan rapat. Tuan Vacille langsung memerintahkan sang kusir untuk segera berangkat. Beberapa saat kemudian kereta kuda tersebut pun mulai bergerak, meninggalkan dermaga, menyusuri jalanan kota Matsue yang masih terlihat sedikit lengang dimana hanya ada beberapa orang yang nampak sedang beraktivitas di dekat dermaga, bisa jadi mereka nelayan atau petugas dermaga.

Tidak lama kemudian, mereka memasuki pusat kota Matsue, bangunan-bangunan rumahnya masih terkesan tradisional khas Jepang, namun mampu untuk bercampur dengan kebudayaan modern. Menimbulkan kesan yang khas. Di sini mulai terlihat banyak orang yang berlalu lalang menjalankan aktivitas mereka.
Sementara itu, di saat Aldey tampak bercakap-cakap dengan tuan dan nyonya Vacille dengan santai, sepanjang perjalanan Lafka hanya terdiam memandangi pemandangan kota Matsue melalui jendela kereta kuda yang dia naiki, memikirkan tentang apa yang sebelumnya dilihat oleh matanya. Sebuah hal yang mungkin tidak masuk logika. Dia mencoba menerka-nerka apa yang dilihatnya berdasarkan pengetahuan yang dia miliki. Dia juga merasakan bahwa aura mistis di kota tempat dirinya berada sekarang ini sangatlah besar.

Lafka memang tertarik akan hal-hal aneh, terutama hal-hal mistik dan supranatural. Dia juga sempat merasakan bahwa dirinya bisa melihat peristiwa-peristiwa supranatural sejak kecil. Tetapi baru kali ini dia melihat sebuah peristiwa tak masuk akal secara jelas dan cukup lama. Sebelumnya dia hanya bisa merasakan dan melihat sekilas. Dia sempat bertanya kepada kedua orang tua nya mengenai kemampuan ini. Namun, orang tua nya meninggalkannya terlebih dahulu sebelum sempat menjelaskan tentang kemampuan yang dimilikinya. Yang dia ingat hanyalah pada saat ayahnya mengatakan bahwa dia belum cukup dewasa untuk mengetahuinya.
Ratusan pemikiran dan teori berputar di otaknya. Jiwa penulis dan rasa ingin tahunya meluap, hingga tiba-tiba itu semua buyar ketika tuan Vacille menyebut namanya.

"Lafka?"

Tersadar dari pemikirannya, dia mengalihkan pandangannya dari pemandangan kota diluar menuju ke arah tuan Vacille, yang duduk di sebelah nyonya Vacille yang berada di depannya. Lafka masih tetap terdiam. Namun, sorot matanya dengan jelas menjawab panggilan tuan Vacille, seolah-olah menanyakan ada apa sehingga tuan Vacille memanggilnya.

"Sebentar lagi kita akan sampai di kediamanku, sedari tadi jika aku perhatikan kau hanya diam dan memandangi pemandangan di luar. Bukankah kau begitu bersemangat sebelumnya?" tanya tuan Vacille sambil mengacungkan jari telunjuk tangan kanannya dan sedikir memiringkan kepalanya ke kiri, menunjukkan rasa penasaran.

Sementara itu, nyonya Vacille dan Aldey hanya diam, menanti jawaban Lafka.

"Ah.. Aaaahh... Tidak, saya hanya merasakan aura mistis di Matsue sepertinya besar dan begitu.. umm, menekan.. Ahahaha.." jawab Lafka sambil menggaruk-garuk kepalanya dan tertawa kecil.

"Kali ini apa lagi, Lafka? Jangan menakut-nakuti kami..!" ucap Aldey secara tiba-tiba dengan sedikit panik.

Aldey, meskipun memiliki postur tubuh yang cukup mengintimidasi bagi siapa yang melihatnya, dia tetap saja takut ketika mendengar tentang hal-hal mistis, apalagi jika datangnya dari Lafka, sahabatnya yang memang dia sendiri sudah tahu bahwa kemampuan yang dimiliki Lafka bukanlah main-main. Dia dulu pernah berurusan dengan hantu. Ya, hantu sungguhan, ketika Lafka memintanya untuk menemaninya pergi ke pemakaman di dekat kampung halamannya dulu. Pada waktu itu Lafka mengatakan bahwa dia melihat malaikat kematian mendatangi makam orang yang baru saja dimakamkan selama dua hari. Namun, pada akhirnya dia dan Lafka justru bertemu dengan hantu penjaga makam. Meskipun hanya sekilas, namun wujud dari hantu tersebut sudah membuatnya trauma akan hal mistis hingga sekarang.
"Ohohoho. Kau tidak salah, Lafka. Kemampuanmu tidak membohongimu. Matsue ini berada di Perfektur Shimane, yang dulunya merupakan tanah para dewa." ucap tuan Vacille menanggapi ucapan Lafka.

"Eh!? Benarkah!? Kenapa anda tidak bilang sebelumnya, Tuan Vacille!?" ucap Aldey dengan cepat sambil terlihat sedikit terkejut.

"Tenanglah, meskipun Lafka mengatakan bahwa Matsue memiliki aura mistis yang kuat, disini adalah tanah para dewa, jadi makhluk mistis ataupun kekuatan supranatural yang ada disini pasti lebih banyak yang baik daripada yang buruk, Aldington.." ucap nyonya Vacille menyambung percakapan yang sedang terjadi sambil tersenyum.

"Kau masih trauma dengan kejadian waktu itu rupanya.." ucap Lafka dengan datar sambil meletakkan sikunya tangan kirinya di sudut jendela kereta kuda dan kemudian bertopang dagu.

"Tentu saja! Justru aku heran kau sama sekali tidak merasakan ketakutan apapun! Yang ada kau malah berteriak-teriak kegirangan..! Dan bukankah gara-gara itu pula mata kirimu menjadi buta!?" balas Aldey dengan cepat.

"... Eheheh. Mau bagaimana lagi, itu pertama kalinya aku melihat makhluk mistis yang selama ini hanya bisa aku rasakan dan lihat sekilas, dan sebenarnya, di saat bepergian pun aku sering melihat hal-hal aneh, namun tidak kuceritakan, karena aku tahu kau pasti akan ketakutan.. Dan lagi, mata ini memang buta, tapi entah mengapa aku bisa melihat sesuatu, seperti batas-batas antar dimensi.." ucap Lafka sambil tersenyum remeh kepada Aldey. Dia lalu mengarahkan pandangannya kembali ke luar jendela kereta kuda.

"Kau tahu, satu kota sempat panik karenanya.. Bayangkan saja ketika ternyata ada orang lain selain kita yang melihatnya! Bahkan orang tuamu panik ketika mengetahui matamu yang terluka itu berubah warna menjadi ungu!" tambah Aldey.

"Justru itulah yang membuatnya semakin asik! Ternyata mereka ada dan bukan halusinasi kita berdua saja! Dan mata ini hanya akan berubah ketika aku menggunakannya saja! Ayah dan Ibu sudah mengetahuinya sesaat setelah warna mata kiri ku ini kembali normal!" balas Lafka sambil tersenyum senang dengan pandangannya yang masih terarah ke pemandangan kota di luar tempat dia berada.

"Kau ini... Aku tidak mengerti apa yang ada di pikiranmu. Tapi tolong sudahi pembicaraan hal mistis ini!" ucap Aldey sambil menatap semua yang ada di dalam kereta tersebut dengan tatapan memelas.

Semuanya sempat tersenyum kemudian tertawa kecil sambil memalingkan pandangan mereka masing-masing dari Aldey.

"Hei..!" teriak Aldey.

Dan perjalanan mereka pun berlanjut..

Sekitar 15 menit kemudian...
Kereta kuda yang Lafka tumpangi perlahan mulai berhenti.
"Ah? Apakah kita sudah sampai?" ucap Lafka secara spontan setelah mengetahui kereta kuda yang dinaikinya sudah benar-benar berhenti.
Kereta kuda tersebut berhenti di sebuah jalan di pinggiran sungai yang cukup lebar, dimana di sebelah kiri kereta kuda tersebut terdapat sebuah rumah yang cukup besar. Rumah ini berarsitektur Jepang kuno yang khas, terdapat pula kebun di dalamnya. Di sinilah kediaman keluarga Vacille, yang menampung Lafka dan Aldey dalam tugas mereka.

"Ya, kita sudah sampai, Lafka." Jawab nyonya Vacille sambil sedikit merapikan gaunnya dan bersiap untuk turun.
Kusir dari kereta kuda yang mereka tumpangi dengan sigapnya turun dari kursi kemudinya dan kemudian membukakan pintu kereta kuda, mempersilakan para penumpangnya untuk turun.

"Baiklah, mari kita turun dan melihat rumah baru bagi kalian berdua.." ucap tuan Vacille sambil beranjak dari tempat duduknya dan turun dari kereta kuda diikuti dengan istrinya, nyonya Vacille.

Aldey turun terlebih dahulu, Lafka turun terakhir. Seketika dia telah turun dari kereta kuda, matanya takjub dengan sebuah bangunan yang berada di depannya. Sebuah kastil yang megah dan kokoh yang cukup tinggi berada tepat di batas pandangannya. Kemudian Lafka pun langsung mencari tahu tentang kastil tersebut kepada tuan Vacille.

"Tuan, Tuan! Kastil apakah itu? Indah sekali!" tanya Lafka dengan penuh semangat.

"Oh.. Kau cepat sekali menangkap pemandangan sekitar, Lafka. Kastil itu adalah Kastil Matsue, kastil kedua terbesar, ketiga tertinggi dan keenam tertua dari dua belas kastil kuno yang tersisa di seluruh Jepang. Julukannya adalah "Kastil Hitam". Dibangun pada tahun 1607 dan selesai pada tahun 1611. Dulunya digunakan sebagai salah satu cabang dari klan Tokugawa." jawab tuan Vacille sambil mendekati sang kusir kereta kuda.

"Umm, Tuan, lalu apakah yang kira-kira ada di... depannya? Seperti kuil..?" tanya Lafka dengan sedikit ragu.

"Hei, Lafka berhentilah bertanya, kita lebih baik segera mengangkuti barang-barang kita." ajak Aldey menyela ucapan Lafka sambil memegang pundak Lafka.
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa.. barang-barangnya sudah diangkut menuju ke dalam oleh para pelayan." jawab tuan Vacille yang kemudian berpaling menjauhi kusir kereta kuda, berniat menjawab pertanyaan Lafka.

"Itu adalah kuil Fumon-in. Aku tidak tahu banyak tentang Fumon-in tapi disana ada tempat yang mengadakan upacara minum teh khas Jepang." lanjut tuan Vacille.
"Wow! Baiklah setelah selesai berbenah aku akan segera menuju ke sana!" ucap Lafka dengan antusias.

"Ahaha.. Kau bebas pergi kemanapun, tapi ingat 1 bulan lagi kau akan mulai mengajar di Sekolah Menengah Umum Perfektur Shimane bersama Aldey. Bukankah tujuan kalian berdua ke Jepang untuk mengajar sastra dan menjadi asistenku?" ucap tuan Vacille.

"Ya, Tuan!"
"Nah baiklah, mari kita masuk.." ajak nyonya Vacille setelah semua selesai berbicara.

"Ah tetapi, sebelumnya saya ingin berterima kasih kepada Tuan dan Nyonya yang sampai menyempatkan diri untuk menjemput kami dan ikut berlayar hingga kemari padahal anda sekalian bisa saja menunggu di dermaga di hari kedatangan kami." ucap Lafka sambil menundukkan badannya.
Mendengar ucapan Lafka, tuan dan nyonya Vacille hanya tersenyum.

Sore harinya, Lafka memutuskan untuk pergi melihat-lihat Kastil Matsue dan Kuil Fumon-in. Dari kediaman keluarga Vacille, dia berjalan kaki hingga akhirnya tiba di depan Kuil Fumon-in, namun dia memutuskan untuk melihat Kastil Matsue terlebih dahulu.

Setibanya di depan Kastil Matsue, Lafka langsung melihat-lihat keadaan sekitar. Kebun di sekitar kastil terdiri dari beberapa pepohonan dan bambu-bambu yang tertanam rapi. Di belakang kastil, terlihat sebuah kolam, namun Lafka tidak melihatnya secara jelas. Sepintas, jika dilihat sepertinya kastil ini memiliki lima tingkat. Lafka sebenarnya ingin melihat ke dalam, namun tidak jadi karena dia juga harus kembali sebelum malam, ditambah lagi dengan tujuannya yang lain Kuil Fumon-in, yang belum dia kunjungi.

Akhirnya Lafka pun kembali ke Kuil Fumon-in. Namun, kali ini dia melihat keanehan dalam perjalanannya. Jalanan yang tadinya ramai oleh orang perlahan mulai menjadi sepi, dan muncul kabut yang cukup tebal. Awalnya Lafka tidak peduli, dia terus melangkahkan kakinya hingga tiba-tiba dia melihat sosok yang sangatlah mirip dengan apa yang dilihatnya di dermaga ketika dia datang di depan gerbang kuil. Hanya saja kali ini hanya sesosok wanita berpayung lah yang diihatnya. Sosok wanita bertelinga rubah dan berekor banyak tidak dilihatnya dimanapun.

Lafka perlahan mencoba mendekati sosok tersebut. Namun tiba-tiba sosok tersebut berbicara dengan cukup keras.

"Suika? Bagaimana? Apakah disini ada Youkai yang berminat untuk ikut?"

Lafka terkejut mendengar ucapan tersebut. Youkai? Makhluk aneh dan supranatural dari mitologi Jepang? Ada apa ini? Lafka mencoba mempercepat langkahnya mendekati sosok wanita berpayung tersebut. Akan tetapi, sosok tersebut menyadari kehadiran Lafka.

"Suika! Cukup untuk hari ini, sepertinya ada manusia yang menyadari kehadiran kita!" ucap sosok tersebut.

"Eh? Kau yakin, Yukari?" tiba-tiba gumpalan kabut yang menyelimuti area kuil berbicara. Lafka pun semakin terkejut dan tiba-tiba mata kirinya merasa sakit.

"Apa? Disini ada batas dimensi?" ucap Lafka dalam hati sambil memegangi mata kirinya.

"Suika! Ayo cepat!" ucap sosok wanita berpayung itu lagi.

"Iya! Iya!" jawab gumpalan kabut yang tiba-tiba mengumpul dan berubah menjadi sosok gadis kecil dengan dua tanduk panjang di kepalanya yang muncul tepat di depan Lafka.

"Ah..!" ucap Lafka dan gadis kecil tersebut bersamaan.

"Gawat, aku muncul di tempat yang salah!" ucap gadis tersebut dan kemudian dia pun berlari ke arah sosok wanita berpayung yang kini sudah berada di dalam area kuil.

"Buka celahnya, dia mengejarku!" teriak si gadis kecil.

"Yang benar saja! Kau itu oni! Kenapa malah kau yang dikejar!?" balas sosok wanita berpayung tersebut sambil mengibaskan tangannya dan menciptakan sebuah celah hitam yang cukup besar dengan pita di kedua ujungnya yang mengambang di atas tanah kuil.

Lafka pun terkejut mendengar ucapan dari sosok wanita berpayung tersebut. Oni? Iblis Jepang? Seketika Lafka pun menghentikan langkahnya tepat di depan gerbang kuil. Gadis kecil tersebut kemudian berlari memasuki celah yang diciptakan oleh sosok wanita berpayung sebelumnya dan menghilang. Lafka pun semakin terkejut. Di tengah rasa terkejutnya, tiba-tiba sosok wanita berpayung tersebut menghilang dari hadapannya.

Lafka melihat ke sekelilingnya dengan perasaan panik dan penasaran yang bercampur aduk. Tiba-tiba dia merasakan sebuah kehadiran seseorang di belakangnya. Belum sempat Lafka membalikkan badannya, sebuah bisikan terdengar di telinganya.

"Selamat bermimpi indah, Tuan Manusia."
Mendadak Lafka merasakan kesadarannya mulai menghilang. Semuanya pun menjadi gelap...