Gintama (c) Hideaki Sorachi

.

Warning : totally out of character, drama

.

.

Chapter 2

.

.

Kapan terakhir kali ia bertemu dengan Yorozuya?

Hijikata memijat kening. Pria yang menjadi tangan kanan Shinsegumi itu menghela napas berat. Belakangan ini ia susah sekali untuk fokus dan sering melamun. Penyebab utamanya hanya dua, namun saling berhubungan dan menyisakan tanda tanya.

Pertama; Hijikata tidak lagi bertemu dengan sosok pemalas berambut perak yang diam-diam ia rindukan,

Kedua; Okita Sougo berhenti mengganggunya.

Jelas ada yang salah. Hijikata sadar, bahwa Sougo telah mengetahui hubungannya dengan sang Yorozuya. Hijikata tidak pernah menyangka bahwa adik dari mendiang Mitsuba itu akan menyerah untuk mencelakainya. Bahkan Kondo Isao pun mulai bertanya-tanya, heran karena tidak lagi menemukan perang antara keduanya.

Namun yang paling membuat Hijikata susah fokus adalah Yorozuya. Lebih tepatnya, Gintoki Sakata, yang tidak pernah lagi menunjukkan muka setelah sekian lama. Rindu, Hijikata tahu itu. Rasanya begitu hampa, tidak ada lagi sosok menyebalkan yang menggoda atau merengek kepadanya. Momen ketika pria bermata sayu itu memaksa tidur di pangkuannya tiba-tiba sering terbayang, atau ketika bibir Hijikata dicium lamat-lamat penuh keraguan.

Ya, Hijikata masih ragu.

Menerima fakta bahwa ia menyukai Gintoki sudah cukup susah buatnya. Pun Gintoki yang ternyata mempunyai perasaan serupa, namun Hijikata tidak bisa senang begitu saja. Okita, ia memikirkan Okita. Pemuda sadis itu jelas akan tersinggung bila mengetahui bahwa pria yang telah membuat mendiang kakaknya menderita itu bisa jatuh cinta untuk kedua kalinya. Posisi Gintoki sebagai seorang danna yang dihormati Okita juga memperkeruh suasana, Hijikata tidak sampai hati bila pemuda berambut cokelat itu merasakan kekecewaan yang luar biasa terhadap mereka berdua.

Hijikata terus gundah. Gintoki makin lama makin tak bisa membendung hasratnya, ingin mengklaim Hijikata sebagai miliknya seorang. Hijikata jelas tidak keberatan, karena untuk pertama kali dalam seumur hidup, pria penggemar mayones itu merasakan rasa senang yang melengkapi hidupnya. Namun sekali lagi, Hijikata tidak bisa senang begitu saja. Ia ingin menghormati mendiang Mitsuba, menjaga perasaan Sougo, dan harus ada yang dikorbankan untuk itu semua.

Haruskah ia mengorbankan cintanya terhadap Gintoki?

Atau menjadi seorang bajingan yang mengkhianati perasaan orang mati?

Ketidaktegasan Hijikata dalam memutuskan masalah terlihat jelas sekarang. Kondisi membingungkan ini adalah akibatnya, bahkan sudah membengkak hingga tahap Okita dan Gintoki yang mengabaikannya. Hijikata frustasi, mendadak benci diri sendiri. Apa yang harus ia lakukan?

Besok adalah hari liburnya, juga Sougo. Hijikata harus menyelesaikan ini semua, bagaimanapun caranya. Pria itu mempertimbangkan hal yang sekiranya bisa menjadi keputusan terbaik untuk kondisi sekarang.

.

.

.

"H –Hijikata?"

Gintoki tahu hari ini akan tiba.

Hari dimana Hijikata menggedor pintu rumahnya di pagi-pagi sekali, dengan wajah yang terlihat frustasi bahkan ingin menangis. Pria berambut perak itu mati-matian menahan hasrat untuk segera merengkuh dan menciumi rambut hitam sang kekasih. Ia hanya memasang wajah kaget yang kental dengan rasa kantuk, tidak langsung membawa Hijikata masuk.

"kita perlu bicara."

Jelas, Gintoki sudah menghindari pertemuan keduanya lebih dari tiga minggu.

Pria bermarga Sakata itu membiarkan Hijikata masuk, sementara ia menutup pintu dengan pikiran yang kusut. Jantungnya berdebar cepat, Hijikata akan mengakhiri semua. Gintoki paham betul watak pecinta mayones itu. Antara perasaan orang terdekat atau perasaannya sendiri, pilihan Hijikata sudah bisa ditentukan.

"kau ingin minum sesuatu?"

Sebuah tangan menahan pakaian tidur Gintoki dari belakang. Pria berambut perak itu menoleh, Hijikata menunduk dengan napas yang terdengar berat.

"duduk saja di sini."

Tangan Hijikata yang lain menepuk tempat di sebelahnya. Gintoki tersenyum sendu.

"aku mengerti."

Sebenarnya, Gintoki terbelah antara berdebar karena pembicaraan yang akan Hijikata bawa, atau posisi Kagura yang masih tidur yang bisa saja menginterupsi mereka berdua. Hubungan percintaan ini masihlah rahasia, belum sempat terpublikasikan tapi sepertinya akan kandas saat ini juga. Gintoki mendadak sedih dan mengusap wajahnya.

Hijikata menarik napas.

"apa yang kau lakukan, brengsek?"

Gintoki tertawa pelan, menggaruk kepalanya sungkan.

"ah ya. Kau tahu, semacam itu, itu lho . . hibernasi? Haha, aku tidak pernah bilang padamu –"

"Gintoki!"

Persetan!

Hijikata terkejut ketika sebuah lengan memeluk leher dan pingganggnya. Debar jantung Gintoki yang melunjak-lunjak membuat pria bernama depan Toushiro itu merona, tanpa sadar kian membuat kepalanya terasa berat dan akhirnya ia menangis. Gintoki sendiri memejamkan mata, mencium helai hitam beraroma shampo murah khas Shinsegumi. Ia memeluk tubuh orang terkasih itu erat-erat, karena ia tidak tahu kapan ia bisa melakukan ini untuk sekarang dan seterusnya.

"aku minta maaf. Okita sudah tahu semua."

Itu benar. Gintoki benar-benar mengenal Hijikata. Maka ia tidak perlu berkata apa-apa, menangis di pangkuannya sudah lebih dari cukup buatnya.

Suara tangis yang berat juga decap basah kecupan bibir membuat Kagura terjaga. Gadis itu diam dan membatu di tempat tidurnya, berpikir tentang apa yang harus dilakukannya.

.

.

.

.

Okita tengah bersantai di depan sebuah sungai ketika Kagura tiba-tiba datang dan menendang tulang keringnya.

Pemuda sadis itu berteriak tidak terima, balas menendang bahkan menjambak gadis china keturunan Yato itu. Yang benar saja, di pagi-pagi begini, di hari liburnya, kenapa hal yang pertama ia dapatkan adalah tendangan menyakitkan? Belum lagi problema Hijikata dan Danna yang membuatnya susah bersantai, Kagura malah memperburuk suasana.

"apa yang kau lakukan?!"

Mereka berdiri dengan jarak yang cukup dekat, Kagura menatap tajam terlihat benar-benar marah dan tidak terima.

"harusnya aku yang bertanya-aru! Apa yang kau lakukan pada Gin-chan aru?!"

Danna?

Okita menarik napas, menegakkan badan dan mengusap-usap tempat ia ditendang.

"sesuatu terjadi pada Danna?"

"Gin-chan terlihat sangat sedih! Dia bahkan tidak mau makan manisan! Pria mayo itu datang pagi-pagi dan menangis pada Gin-chan!"

Iris cokelat Okita melebar, seketika lidahnya kelu untuk bicara.

"H-Hijikata –san?"

"Itu benar-aru! Kau menghancurkan hubungan mereka –aru! Kenapa kau tega memisahkan Gin-chan yang bahkan tidak pernah melakukan kesala –"

Okita menerjang gadis berlogat aneh itu dalam sekali lompatan. Kagura berontak, berusaha menonjok wajah pemuda yang diam-diam ia suka itu. Tangan Okita yang bergetar berusaha membungkam mulutnya, sementara tangan lain memegangi lengan Kagura agar berhenti meronta.

"pppfmm, hmm !"

"diam kau."

Rontaan Kagura berhenti ketika bulir-bulir air jatuh membasahi wajahnya. Okita menangis, bibirnya bergetar hebat. Kagura merasakan desir aneh ketika melihat pemuda yang biasanya sadis itu kini menangis di hadapannya. Okita melepaskan tangannya, tahu bahwa gadis di bawah kuasanya itu akan diam saja.

"kau pikir aku mau melakukanya?"

Kagura diam. Ia tidak paham.

"kau pikir aku mau memisahkan mereka?! Membuat Hijikata-san kembali menderita dan kesepian dengan perasaannya?! Kenapa, kenapa bukan aku saja?! kenapa yang dia sukai bukan aku?!"

Kagura membelalak kaget. "k –kau . . "

"Ya! aku menyukai Hijikata-san! Aku tidak mau dia bahagia bersama Danna! Aku menyukainya!"

Sepertinya, dugaan Okita bahwa ia menyukai Kagura salah sasaran. Itu hanya peralihan, dari rasa tidak terima terhadap fakta bahwa ia sudah menyukai Hijikata sejak sekian lama.

Pagi itu, Kagura membiarkan wajahnya dihujani air mata. []

.

.

.

.

.

.

Chapter 3 will be the last part.

Danke, Tchüß!

Ore