A/N : Sesuai vote terbanyak, seharusnya 'Yang Tersembunyi' yang aku post. Tapi karena suatu alasan (tunjuk laptop) harus aku tunda dan lebih mendahulukan 'I Hear U'. Tapi setelah ini aku bakal post kelanjutan 'Yang Tersembunyi'. Maaf membuat kalian menunggu lama dan maaf aku juga ga bermaksud ingkar janji.
Mingyu membawa kotak bekal di tangannya ke belakang sekolah. Ia memandangi kotak bekal itu setelah mendudukkan dirinya di bawah pohon. Tempat biasa ia menyendiri dan menghabiskan waktu istirahatnya.
Mingyu membukanya perlahan. Ia langsung tersenyum melihat makanan di dalamnya. Tidak ada yang mewah, hanya makanan yang sangat sederhana. Nasi kepal, telur dadar gulung, kimchi dan beberapa potong sosis.
"Ini makan siang terenak yang pernah aku rasakan setelah masakan eomma," batinnya sambil mengunyah nasi dan kimchi.
Selama orang tuanya meninggal, semua makanan yang masuk ke mulutnya terasa hambar. Ia sama sekali tidak bisa menikmati semua yang ia rasakan. Meski makanan di pangkuannya tidak seenak makanan di luar sana, tapi ia menikmatinya. Bahkan hatinya menghangat hanya memakan beberapa jenis makanan sederhana itu.
Siswa berwajah tampan itu memakannya dengan lahap. Karena terlalu lahap, ia sampai tersedak. Ia kesulitan menelan karena banyaknya makanan di mulutnya. Mingyu mendesah karena tidak ingat untuk membeli air minum.
Namun ia tersentak saat melihat sebotol air tidak jauh darinya. Ia yakin tidak pernah membawanya. Karena ia sama sekali tidak menjajaki kantin. Dan di belakang sekolah, ia tidak menemukan siapapun.
"Apa mungkin dari orang yang sama?" tanyanya dalam hati.
Tanpa berpikir panjang, Mingyu langsung meraih air mineral itu. Meminumnya beberapa teguk untuk melancarkan pernafasannya.
"Apa itu artinya dia memperhatikanku?" batinnya lagi.
Mingyu berdiri dari duduknya. Memperhatikan sekitar dengan teliti. Ia juga tidak mendengar suara apapun. Biasanya, ia bisa mendengar suara hati meski tidak melihat wajahnya. Dan itu artinya, orang itu sudah tidak ada di sekitarnya. Karena Mingyu tidak akan bisa mendengar suara hati saat orang itu tidak berada di dekatnya.
.
.
Mingyu masuk ke dalam kelas setelah meletakkan kotak bekal itu ke lokernya. Saat akan melangkahkan kakinya ke pintu, ia berpapasan dengan Jeon Wonwoo. Seorang siswa berkulit pucat yang sama sekali tidak pernah bertegur sapa dengannya.
Tanpa memandangnya, Wonwoo menggeser sedikit tubuhnya. Membiarkan Mingyu masuk ke kelas terlebih dahulu. Mingyu sama sekali tidak mendengar suara hati siswa bermata tajam itu. Karena headphone hitam miliknya sudah terpasang di telinga seperti biasa.
Dan seperti hari-hari biasanya, kelasnya tampak ricuh. Guru yang belum memasuki kelas membuat teman-temannya gerah untuk menahan suara dan gerakan.
Mingyu membuka headphone miliknya. Bukan karena ingin tahu apa saja yang teman-temannya simpan. Tapi ia ingin mendengar suara hati yang begitu tulus untuknya. Sama seperti suara hati yang begitu memedulikannya saat ia berada di loker.
"Aku mengantuk."
"Matilah aku! Aku tidak membawa pakaian ganti."
"Semoga saem tidak datang. Aku malas mendengar ocehannya."
"Sepatu Hyukie bagus sekali. Aku juga harus bisa memiliki yang seperti itu."
"Aku bisa gila kalau lama-lama seperti ini. Lagi-lagi eomma memaksakan kemauannya."
Mingyu langsung memasang kembali headphone-nya. Yang ia dengar hanya gerutuan dan keluhan-keluhan lainnya. Ia tidak mendengar suara yang ingin ia dengar lagi.
"Sepertinya dia bukan dari kelas ini. Lalu kelas berapa? Dan bagaimana aku mencarinya?" batinnya frustasi.
.
.
Mingyu termenung di depan lokernya. Melihat foto ayah dan ibunya membuatnya teringat kehidupannya selama ini. Terasa hampa, sendiri, dan dikelilingi manusia penuh kepalsuan.
Ia selalu bertanya untuk apa ia hidup. Untuk apa ia masih bernafas di dunia ini. Tidak ada yang membuatnya semangat menjalani hidup. Rasanya, ia hidup hanya sekedar mengikuti aturan Tuhan.
"Sudah hampir tujuh belas tahun aku hidup seperti ini. Sampai kapan penderitaan ini berakhir. Aku ingin berpura-pura percaya kalau mereka menerimaku. Tapi suara sialan itu membuatku muak. Aku muak mendengar kebusukan mereka semua," batin Mingyu.
Ia meremat pintu loker hingga tangannya memerah. Mengabaikan siswa lainnya yang berlalu lalang. Jam pelajaran yang akan dimulai sepuluh menit lagi, membuat suasana pagi itu berisik seperti biasa.
Mingyu melepas headphone di telinganya saat seseorang menepuk pundaknya. Ia menoleh dan menemukan ketua kelasnya menyerahkan selembar kertas.
"Nilaimu," ucapnya. Setelahnya langsung berlalu begitu saja.
Mingyu memandang kertas di tangannya tidak semangat. Meski mencapai nilai nyaris sempurna, tidak membuatnya puas apalagi merasa bangga. Semua yang ia alami di hidupnya terasa hampa.
"Haaah… aku terlambat. Aku tidak bisa membuatkan bekal untuknya. Dia sudah lebih dulu sampai."
Mendengar suara itu di antara puluhan suara lainnya, Mingyu langsung mengedarkan pandangannya. Ia sangat yakin suara itu ditujukan untuknya.
"Mungkin lain kali aku harus lebih cepat tiba di sekolah."
Mingyu memandang siswa di sana satu persatu. Meski ia tahu sangat mustahil mengetahui suara itu, tapi Mingyu tetap mencobanya.
"Mereka terlalu banyak. Aku tidak bisa menemukannya," keluhnya sambil meremat kertas di tangannya. Ia bingung harus berterima kasih pada ketua kelas mereka atau tidak, karena membuatnya melepas headphone-nya dan kembali mendengar suara itu.
.
.
Jam istirahat, Mingyu tidak berada di tempat biasa ia menghabiskan waktu istirahatnya. Ia lebih memilih berada di kelas. Merebahkan kepalanya di meja dengan beralaskan lengannya. Matanya terpejam sembari mendengarkan musik dari headphone-nya.
Headphone yang sedari tadi bertengger di telinganya ia lepas setelah memastikan kelas kosong. Teman-teman yang berbondong ke kantin membuatnya sedikit tenang. Tidak perlu mendengarkan suara hati yang sama sekali tidak ingin ia dengar.
Mingyu menyadari derap langkah kaki yang memasuki kelas. Tapi Mingyu memilih memejamkan matanya. Tidak tertarikuntuk mengetahui siapa yang tidak berada di kantin saat jam istirahat.
"Mingyu tidak makan siang. Seharusnya aku membawakan bekal untuknya. Dia bisa sakit kalau setiap hari seperti ini."
Siswa bermarga Kim itu mengangkat kepalanya. Ia mendengar suara itu lagi. Suara yang ditujukan untuknya. Namun saat ia membuka mata, tidak ada yang mengisi kelas selain dirinya. Seseorang yang ia yakini berada di kelas sudah tidak tampak.
"Dia baru saja ada di sini? Apa itu dia?" tanya Mingyu penasaran.
Ia berdiri dari duduknya. Berjalan cepat ke pintu kelas. Namun ia tidak menemukan siapapun. Lorong sekolah tampak sepi. Ia mencoba melihat kelas kanan dan kirinya. Dan hasilnya tetap sama, ia tidak menemukan keberadaan siapapun.
"Apa itu artinya dia berasal dari kelas yang sama denganku? Atau hanya sekedar lewat? Tapi aku yakin ada seseorang yang memasuki kelas tadi. Akh… andai saja aku tadi tidak memilih terus menutup mata," batinnya geram. Ia benar-benar merutuki kebodohannya saat ini.
.
.
Mingyu berjalan santai di keramaian koridor kelas. Headphone yang bertengger manis membuatnya merasa tetap tenang. Tatapannya lurus ke depan tanpa ekspresi yang menghiasi wajahnya.
Meski musik mengalun cukup keras di telinganya, namun pikirannya tengah melayang. Memikirkan seseorang yang sampai saat ini tidak ia ketahui identitasnya. Ia hampir terjaga sepanjang malam hanya karena memikirkan bagaimana menemukan orang itu. Rasa penasaran membuatnya hampir frustasi.
Langkah Mingyu terhenti saat seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Mingyu berbalik, dan mendapati seorang siswi berambut pendek. Tangan yang sedari tadi berada di saku ia keluarkan untuk melepas headphone di telinganya.
"Ini milikmu kan? Sepertinya terjatuh sewaktu kau turun dari mobil," ucap siswi di depannya sambil menyerahkan dompet berwarna hitam.
"Terima kasih," balas Mingyu tanpa basa-basi.
Tanpa senyuman, ia langsung berbalik. Namun baru saja membalikkan tubuhhya, ia terkejut saat tubuhnya ditubruk seorang siswa. Ia terdorong beberapa langkah ke belakang. Dompet dan headphone di tangannya langsung terhempas.
Seluruh siswa yang menyaksikan kejadian itu langsung terdiam seketika. Tatapan mereka tertuju pada headphone yang tampak patah karena terinjak. Mereka semua berpikir, Mingyu sangat menyukai headphone. Karena tiada hari tanpa headphone yang menempel di telinganya.
Bisik-bisik mulai terdengar di antara siswa. Sedangkan siswa yang tanpa sengaja menginjak headphone Mingyu, terdiam dengan wajah memucat. Bukan rahasia Mingyu adalah siswa dari golongan atas. Apapun yang ia pakai, sudah tentu barang dengan harga mahal.
"M-Mingyu-ssi, m-maafkan aku. Aku… aku tidak sengaja," ucap siswa bermata sipit itu terbata. Sedangkan siswa dengan dasi tidak terpasang sempurna yang berdiri tidak jauh dari Mingyu juga terdiam. Ia tidak bisa membela diri, karena ia dan temannya berlarian di koridor.
Tangan Mingyu terkepal erat. Matanya terpejam beberapa saat dengan nafas tertahan. Bukan headphone rusak yang ia permasalahkan. Tapi tanpa headphone, ia tidak akan bisa merasakan ketenangan sedikitpun.
"Lupakan saja!"
Suara Mingyu terdengar begitu datar. Seolah mengabaikan kejadian yang merugikannya, Mingyu berbalik. Ia berniat untuk membolos. Bel yang berbunyi tidak menyurutkan langkahnya. Karena ia yakin tidak akan tahan berada di sekolah tanpa headphone.
Langkahnya terhenti untuk kedua kali. Saat akan menuruni tangga, ia bisa melihat para dewan guru yang berjalan ke arahnya.
"Sial," makinya dalam hati.
Mau tidak mau, Mingyu memutar arah. Membatalkan niatnya untuk membolos. Ia tidak ingin berurusan dengan dewan guru. Dan tanpa Mingyu tahu, ada seseorang yang sedari tadi terus memperhatikannya.
.
.
Di dalam kelas yang hanya terdengar suara guru, Mingyu memejamkan matanya erat. Suara yang memenuhi kepalanya membuatnya frustasi. Bukan pertama kali ia melepas headphone saat berada di kelas, tapi kali ini rasanya ia ingin membungkam siapa saja yang berbicara tentangnya. Bahkan di saat pelajaran berlangsung, mereka berulang kali melirik ke arahnya.
Perlahan, Mingyu membuka matanya. Ia mengalihkan kesibukan dengan menggambar di bukunya. Namun hanya coretan yang ia hasilkan. Tangan dan pikirannya sama sekali tidak sejalan.
Mingyu membuang nafasnya frustasi. Pandangannya ia edarkan ke penjuru kelas. Semua temannya sibuk mengerjakan soal yang gurunya berikan. Dan tatapannya terhenti pada seorang siswa yang duduk dekat dengan pintu ke dua.
"Hidupnya pasti sangat membosankan hanya ditemani buku-buku," batin Mingyu. Beberapa detik kemudian, Mingyu tertegun dengan pemikirannya sendiri.
"Ya Tuhan apa yang aku pikirkan?" lanjutnya dalam hati sembari mengalihkan pandangannya. Memilih langit dari balik jendela yang menjadi obyek matanya.
Tepat setelah Mingyu mengalihkan matanya, siswa ber-name tag Jeon Wonwoo memandang ke arah Mingyu. Meski ia sibuk dengan soal dan buku di pangkuannya, Wonwoo tahu Mingyu baru saja memandang ke arahnya. Karena dua siswa yang mengisi bangku di sebelahnya tidak hadir.
Bel berakhirnya pelajaran tidak membuat Mingyu langsung beranjak. Ia lebih memilih merebahkan kepalanya. Menunggu semua siswa meninggalkan kelas dan koridor. Ia ingin pulang dengan lebih tenang.
Setelah yakin semua siswa meninggalkan sekolah, Mingyu berjalan ke loker. Siswa berparas tampan itu membuka pintu lokernya dengan tidak semangat. Pergerakan tangannya terhenti melihat benda asing di dalamnya.
"Apa ini dari dia juga?" batin Mingyu sembari meraih sebuah headphone berwarna biru tua.
Tanpa memedulikan siapa yang memberinya, Mingyu langsung mengalungkan headphone itu ke lehernya. Meletakkan buku dan langsung menutupnya.
Siswa bermarga Kim itu memutar langkahnya. Mobil sedan berwarna hitam dan seorang laki-laki membuatnya memutar arah. Memilih pulang dari arah yang berbeda dan berjalan kaki.
Saat melewati trotoar yang dilalui banyak pejalan kaki, Mingyu mulai merasa tidak nyaman. Lagi-lagi suara-suara yang tidak ingin ia dengar menganggunya. Teringat headphone dari seseorang yang tidak ia ketahui, Mingyu langsung menempelkan di telinganya. Mendengarkan musik untuk mengalihkan semua suara yang hanya bisa didengar olehnya.
Suara petikan gitar menyapa pendengarannya. Suara penyanyi pria yang begitu merdu membuatnya memejamkan matanya beberapa detik. Dan lirik dalam lagu yang ia dengar, membuat pemuda berwajah tampan itu menghentikan langkahnya.
himdeun haruyeossnayo?
Apa harimu nampak begitu sulit?
naegen tujeong buryeodo dwaeyo
Adakah yang ingin kau keluhkan
tto ulkeokhaessdeon iri maemdolgo issnayo
Mungkin kau tak bisa melupakan hal-hal yang baru saja terjadi
gwaenchanhayo nareul bwayo
Tapi tidak apa-apa, coba lihatlah aku
jigeumbuteo se gaji cham joheun geosman saenggak haebwayo
Mulai sekarang coba pikirkan tiga hal baik yang telah terjadi
ttatteushan gonggi
Udara akan menghangat
nunbusin nalssiwa chang bakke nae moseup
Cuaca yang cerah dan tampilan memukauku di jendela
malhaessjanhayo eoduwojyeoya biccnaneun geol bol su issdago
Aku mengatakan padamu, haruslah gelap untuk bisa melihat hal-hal yang gemerlap
byeolbicci moineun gos
Dimana bintang-bintang berkumpul
nan yeogieseo gidarilgeyo
Di sanalah aku akan menunggumu
du nuneul gamgo nara ollayo
Tutup matamu dan terbitlah
naega anajulgeyo
Aku akan memelukmu
(Yesung – My Dear #mf klu ad kslhan lrk dan arti)
Angin yang meniupkan rambutnya dengan lembut seolah menyentuh ke dalam hatinya. Terasa begitu teduh dan menenangkan. Selama ini ia hanya mendengarkan musik keras untuk mengalihkan pendengarannya.
"Ada apa dengan hatiku?"
Mingyu menyentuh jantungnya. Sudah lama ia tidak merasakan perasaan yang begitu hangat. Ia seolah bisa merasakan ketulusan orang itu.
"Apa seperti dalam lagu ini yang kau tujukan padaku? Jadi, siapa kau sebenarnya? Bagaimana caraku agar bisa menemukanmu?"
Mingyu berpikir sejenak. Ia harus menemukan cara agar bisa menemukannya. Siapa dan mengapa orang itu begitu berbeda dengan yang lainnya. Seolah mendapat setitik cahaya terang, Mingyu langsung memandang lurus dengan senyuman yang terpatri di wajahnya.
Keesokan harinya, Mingyu berangkat ke sekolah lebih awal. Bahkan ia sudah berada di sekolah saat jam masih menunjukkan pukul enam pagi.
Kakinya yang jenjang ia langkahkan menuju lokernya. Seolah sedang dikejar waktu, Mingyu melebarkan langkahnya. Dalam hati, ia sudah bertekad harus menemukan seseorang yang membuatnya sulit mendapatkan tidur nyenyak.
Langkahnya yang akan berbelok menuju loker terhenti. Refleks, Mingyu langsung menyembunyikan tubuhnya. Kepalanya sedikit menyembul untuk melihat seseorang yang berjalan di depannya. Menunduk dan tampak seperti menggenggam sesuatu.
Matanya menyipit untuk mengenali orang itu. Namun ia tidak bisa mengenalinya. Selain karena dari belakang, orang itu menutup tubuhnya dengan hodie.
"Apa dia orangnya?" batin Mingyu.
Orang itu berjalan dengan sangart hati-hati. Dan dugaannya tepat, orang itu berhenti di depan lokernya. Namun Mingyu belum bisa mengenali siapa sosok di balik hodie berwarna hitam itu.
"Aku tidak tahu masakanku kali ini enak atau tidak. Tapi semoga Mingyu mau memakannya dan menyukainya."
Mingyu tersenyum tipis, kini ia yakin orang itu adalah orang yang sama. Tidak ingin ada yang terlewatkan, Mingyu terus memperhatikan pergerakan orang itu tanpa ada yang luput dari pandangannya.
"Headphone-nya sudah tidak ada? Apa Mingyu mengambilnya? Apa Mingyu mau memakainya? Headphone itu tidak sebagus miliknya. Tapi setidaknya, ia tidak akan kesepian."
Entah untuk keberapa kali hati Mingyu menghangat dan begitu tersentuh. Saat biasanya ia begitu membenci suara hati orang-orang yang ia dengar, kali ini ia begitu menyukainya. Seolah begitu menyenangkan hatinya.
Mata Mingyu semakin menyipit saat orang itu menyentuh penutup kepalanya. Membukanya perlahan dan mengangkat wajahnya. Dan dengan hati-hati, ia meletakkan sebuah kotak bekal ke dalam loker Mingyu.
"I hear You. Dan kali ini aku mendapatkanmu," batin Mingyu sambil menyeringai saat melihat wajah itu dengan jelas.
TBC
Karena beberapa review, aku sampai maksain diri untuk nonton I Can Hear Your Voice. Aku sama sekali ga menikmati, yang ada aku tertekan selama nonton T.T Rasanya ingin berkata kasar. Aaargghh….. Kalau udah ga suka ma cast-nya, digimanainpun tetap ga suka -_- Tapi karena review kalian, aku paksa untuk nonton.
Dan akhirnya, aku cuma bisa tersenyum setelah selesai nonton. Tapi ya sudahlah ya, pola pikir orang kan beda-beda ya. Aku maklumin pihak-pihak yang hanya menilai dari satu sisi. Perbedaan yang signifikan diabaikan hanya karena sedikit kesamaan. Bahkan sedikit yang sangat-sangat sedikit.
Tapi makasih karena kalian, bertambah satu drakor yang aku tonton. Karena aku sebenarnya kurang hoby nonton drakor. -_-
