Summary : "Tugasmu disini, memasak, cuci baju, menjemur, menyiram bunga, cuci piring, dan yang paling penting, melayani segala sesuatu yang diperlukan Tuan Muda Sasuke." Kata-kata Tenten tadi berhasil membuat mata Sakura hampir meloncat keluar. "APPAAA?! Melayani si rambut ayam??!"
Disclaimer : Naruto punya Masashi Kishimoto
Warning : AU, sedikit OOCness, dan pergantian waktu yang cepat.
"Hei, kau Rambut Ayam!! Bukakan pintu kenapa, sih?!"
-
-
"Aku tuanmu. Tu-an-mu. Bisa kau bersikap lebih kurang ajar dari ini? Pem-ban-tu?"
-
-
die Hausangestellte by dilia shiraishi
CHAPTER ONE
Sakura menyipitkan matanya pada pemuda berambut ayam itu. Pertanda kalau kekesalannya sudah mencapai puncak. Tak bisa dibendung lagi. Memangnya kenapa kalau ia pembantu? Apa salahnya jadi pembantu? Bukankah itu pekerjaan mulia, yang bahkan belum tentu semua orang mau dan mampu melakukannya?
Pemuda itu mendengus melihat tatapan mengancam Sakura, lalu menatap gadis berambut pink itu dingin. Sekaligus tajam.
Sakura menggeram jengah dengan perlakuan pemuda sok cakep di depannya. Ya ya, bukan sok cakep. Dia memang tampan. Tapi kalau kelakuan minus seperti itu, apa Sakura pantas memujinya dengan sebutan 'tampan'? Bagaimana kalau itu diganti saja dengan...
"Rambut ayam!"
.
.
Pemuda dengan mata onyx itu tampak sedikit terbelalak saat Sakura menyebut dirinya seperti itu. Hey, dia selalu menjadi kejaran wanita. Mengapa gadis di hadapannya ini tak mencair juga dengan pesona yang ada pada dirinya?
Pemuda itu termangu sebentar, kemudian menyeringai aneh. Ia baru menyadari ini begitu menarik. Ya, ini akan sangat menyenangkan baginya, bukan?
"Forehead-girl."
.
.
Giliran Sakura yang terbelalak saat mendengar perkataan singkat dari pemuda itu. Membuat aliran darah dan emosinya yang sudah terasa panas, semakin meminta dikeluarkan. Sekarang juga.
"Hih! Dasar. Udah rambut ayam, sok cakep pula! Amit..." seru Sakura dari luar pagar. Kesabarannya memang sudah habis sedari tadi, dimulai saat dia melihat wajah menyebalkan pemuda angkuh dengan bentuk rambut super-aneh itu.
Pemuda itu kembali menyeringai. Sakura hampir memekik perlahan ketika melihatnya. Sungguh menyeramkan. Menyimpan misteri dan... um, mungkin suatu kejahatan terencana?
"Udah, jenong, sok kuasa lagi. Dasar pem-ban-tu."
Dan suara itu membuat Sakura lagi-lagi terbelalak. Antara marah dan kebingungan untuk menyambut kata-kata sinis yang keluar mulus dari mulut sang tuan. Sakura menghela nafas, mencoba menenangkan diri.
Huff, mengapa cobaan terus-menerus melanda dirinya sih? Apa salah yang diperbuatnya hingga harus bertemu dengan orang semenyebalkan si rambut ayam ini??!! Dan orang ini menjadi tuannya pula?!
Sedetik kemudian Sakura sudah siap dengan untaian kalimatnya. Ia baru akan berbicara ketika suara angkuh itu menyela ucapannya. "Buka saja pintunya. Tak dikunci."
Sungguh, hari ini penuh dengan belalakan mata bagi Sakura. Ia lelah harus terus membelalak. Tapi itulah yang dilakukannya sedari tadi. Tak sampai tiga puluh menit, ia sudah terbelalak berkali-kali. Hanya karena semua perlakuan dan ucapan pemuda ini.
Hanya karena itu.
Oh, God.
Sakura pun membuka pagar hitam yang berdiri kokoh menghalangi pandang untuk melihat rumah di dalamnya. Ia sedikit mendengus ketika harus bertemu pandang dengan tuan-ah, pemuda rambut ayam itu.
"Cih, bodoh."
Dan dengan satu patah kata itu, sang pemuda masuk ke dalam rumah mewahnya sambil menyeruput kembali capuccino-nya. Meninggalkan Sakura dengan geraman marah. Amarahnya sudah membuncah kali ini.
Oke, walaupun dia tuan, dia tak seharusnya bersikap begitu kan? Huh. Dia pikir semua pembantu itu bodoh?
Hah, lihat saja nanti.
Hinata mengerjap-ngerjap saat mendengar penuturan Ino barusan. Apa ia tak salah dengar? Sakura? Pergi dari rumah Ino? Jadi pembantu? Hah???
"Hah?" akhirnya tersuarakan juga satu kata sarat makna itu dari bibir Hinata. Mata lavender teduhnya menatap Ino dengan ekspresi tak mengerti.
"Iya, si Saku kerja. Dan masalahnya ya, itu tadi. Kerjanya jadi pembantu." Tanggap Ino sambil mendesah putus asa. "Padahal aku udah ngelarang, yah-setidaknya dia kan bisa ngandalin kemampuan masaknya itu. Jadi koki kek, apalah! Yang penting jangan jadi pembantu!" lanjut Ino lagi. Kekhawatiran nampak lekat di wajah gadis blonde itu.
Hinata mengangguk-angguk mengerti. Wajahnya juga menyiratkan kecemasan, sama halnya dengan Ino. "Hmm... tapi kupikir, mmh.. Sa-Sakura-chan pasti punya alasan sendiri mengapa bersedia menjadi emm...pem-pembantu kan? Lagipula... em, jadi pembantu juga harus punya keterampilan memasak. Ja-jadi.. kurasa, kemampuan Saku-chan terpakai..."
Ino terdiam sejenak, merenungkan kata-kata Hinata tadi. "Yahh... benar juga, sih. Tapi karena sekarang dia jadi pembantu, kita jadi sulit kumpul bersama lagi kan? Aku akan selalu kangen Saku kalo begitu."
Hinata tertawa.
"Iya juga ya?"
.
.
"Selamanya, kita pasti akan selalu kangen Saku. Kecerewetannya itu justru membuat kita makin kangen dia. Atmosfer sekitar selalu hangat kalo ada si jidat lebar itu."
"Yak, mulai hari ini kamu bekerja disini, ya!" Gadis dengan dua cepol itu berujar ramah. "Namaku Tenten, aku sudah satu tahun bekerja disini. Salam kenal ya! Dan umm, namamu siapa?" ia kemudian memandang Sakura yang tengah menyelipkan sehelai rambut pink-nya ke belakang telinga.
"Namaku Sakura. Haruno Sakura. Salam kenal juga!" jawab Sakura seraya ikut tersenyum. Memamerkan gigi-gigi putihnya yang berderet rapi.
Tenten membalas senyumnya lagi, "Jadi, ini kediaman Tuan Uchiha Fugaku dan istrinya, Nyonya Uchiha Mikoto. Mereka punya dua anak lelaki, Uchiha Itachi si sulung, dan si bungsu Uchiha Sasuke. Tuan Muda Sasuke inilah yang tadi bertemu dengan kamu." Ujarnya memulai penjelasan.
Sakura meng-oh sebentar. Ia baru mengetahui bahwa nama si Tuan Rambut Ayam itu Uchiha Sasuke. Huh, namanya aneh, seaneh orangnya.
Tenten menatap Sakura yang sedang sibuk melipat-lipat keningnya penuh emosi sambi tertawa kecil. "Kenapa dahimu itu? Jangan berekspresi begitu Saku, mukamu jadi aneh sekali." Serta merta Sakura segera mengembalikan ekspresi wajahnya seperti semula. Tenten tertawa lagi, "Begini ya, nyapu sama ngepel bukan tugasmu. Tapi tugasku. Tugasmu disini, memasak, cuci baju, menjemur dan segala macamnya, menyiram bunga di balkon depan, cuci piring, dan yang paling penting, melayani segala sesuatu yang diperlukan Tuan Muda Sasuke." Ujar gadis dengan dua cepol itu mulai menerangkan lagi.
Sakura mengangguk-angguk kecil. Mengiyakan semua tugasnya dan menandakan bahwa ia mengerti. Jadi... tugasnya hanya itu. Ia tak perlu menyapu dan mengepel karena yang melakukannya adalah Tenten, gadis bercepol yang berdiri hadapannya sekarang.
Hmm. Hanya masak, itu urusan gampang. Ia memang hobi masak dan bukannya ingin menyombongkan diri, tapi tak sedikit orang yang mengakui kelezatan makanan buatannya. Cuci baju? Gampang juga. Disini ada mesin cuci, jadi ia bisa menggunakannya untuk melakukan pekerjaan satu ini. Menyiram bunga? Dari kecil juga ia selalu mengerjakan hal itu. Cuci piring?? Ya ampun! Anak SD pun dapat melakukannya!
Dan satu lagi, yang justru paling penting... melayani segala macam yang diperlukan si Rambut Ayam... Hmm, akan susah sih. Tapi tak apalah... Eh!
Sakura spontan mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk termenung. Wajahnya terlihat kaget bukan main dilengkapi dengan mata melotot, seakan mengancam akan keluar dari kelopak. "APPAA??!! Melayani si Rambut Ayam-err, maksudku Tuan Muda Sasuke??!"
Tenten terlihat agak bingung dengan pertanyaan Sakura. Namun begitu, ia tetap mengangguk. "Iya. Justru itulah tugasmu yang paling penting. Soalnya aku pulang sore, nggak nginap di rumah ini. Jadi nggak bisa terus-terusan melayani Tuan Muda Sasuke."
Sakura makin terhenyak begitu mendengar pernyataan Tenten itu. Wajahnya yang tadi kaget, kini berubah pucat. "A-apa? Kamu nggak nginep disini, Ten?" Sakura bertanya gemetar. Berharap kalau tadi ia hanya salah dengar. Berharap kalau jawab yang diberikan Tenten sesuai harapnya.
Tenten mengangguk lagi, menatap heran Sakura. "Iya, Saku-chan. Ada apa memangnya?"
Sakura menganga kaget, "ADA APA katamu? ADA APA? Aku harus tinggal bersama si Uchiha-jelek-rambut-ayam-eh! Em, maksudku Tuan Muda Sasuke, berdua saja? Tanpa kamu ataupun orang lain? BERDUA saja??!" seru Sakura setengah berteriak. Ketika Tenten mengangguk kembali, Sakura merasa kakinya tak berpijak lagi di bumi.
"Ya Tuhaaaan...." dan suara serak penuh keputus-asaan Sakura menggema ke seluruh penjuru dapur, tempatnya dan Tenten berdiri sekarang.
Seorang pemuda dengan rambut model ayam menyeringai kecil. Ia buru-buru pergi dari tempat persembunyiannya begitu melihat kedua gadis yang tadi terlibat percakapan, keluar dari dapur. Salah satu dari kedua gadis itu-yang berambut pink aneh- menggerutu sambil menghentak-hentakkan kakinya, menimbulkan suara berisik yang mengganggu konsentrasi. Sementara gadis lainnya sedang tertawa kecil sambil berusaha menghentikan kegiatan si rambut pink itu.
"Sudahlah, Saku... Tuan Muda tak seburuk itu kok. Kamu hanya belum tahu bagaimana sikap aslinya," Sayup-sayup suara si cepol dua, Tenten, terdengar di telinga Sasuke. Membuat pemuda itu kembali menyeringai.
'Tak akan pernah, Tenten... Si Merah Muda itu tak akan pernah tahu bagaimana sifat asliku.'
Dan dengan satu hentakan, sang pemuda mengambil langkah besar keluar rumah mewah yang sepi itu. Berlalu dari pandangan, ketika kedua gadis tersebut tampak di jangkauan penglihatannya.
"Ergh! Dia dengar pembicaraan kita, nggak ya?" Suara Tenten terdengar sayup lagi. Sasuke, sang pemuda itu, mendengus geli.
'Tentu saja.'
Malam sudah menjelang, namun sepasang mata emerald belum juga bisa terlelap di balik selimut tebal yang menyelimuti tubuhnya. Ia mencoba menghalau hawa dingin yang menusuk, namun ternyata tak kuasa. Gadis berambut pink itu lalu memaksa tubuhnya terbangun dari posisi tidur telungkup.
"Uh, apa si Rambut Ayam itu sudah pulang?" Ia meraba-raba sekitar dinding itu hati-hati. Kamarnya diliputi kegelapan sedari tadi. Ia memang tak suka tidur dengan lampu menyala, namun sekarang ia memerlukan cahaya.
Ketika berhasil menemukannya, Sakura segera menghidupkan saklar itu. Membenahi piyama tidurnya yang berantakan dan rambutnya yang sudah mencuat seperti singa.
Ia lalu keluar dari kamarnya, namun tak menemukan tanda-tanda kehidupan di luar sana. "He? Apa si Rambut Ayam itu belum pulang? Atau ia justru sudah tidur? Ah, sebodo amat! Ngapain juga, mikirin dia? Idih, amit..." Dan dengan untaian kalimat sarat kekesalan itu, sang gadis berambut pink masuk kembali ke kamarnya. Membuahkan sebuah senyum tipis dari seorang pemuda.
"Aku sudah pulang, bodoh. Ah, ada tomat!" Sang pemuda kemudian mengambil semua tomat yang ada di kulkas, melahapnya dan menyisakan tiga buah untuk dimakannya sambil membaca tengah malam nanti.
Sakura mengikat rambutnya dengan pita pink dan memberikan bandana pada poninya yang turun menutupi mata. Ia kemudian mengenakan celemek dengan motif bunga sakura-yang ia temukan tergantung sembarang di kursi dapur- di atas blus pink-nya.
"Ten, enaknya hari ini masak apa?" tanya Sakura sambil membalikkan tubuhnya menghadap Tenten.
Tenten berpikir sejenak, "Lebih baik kamu masak sesuatu yang disukai Tuan Muda Sasuke. Umm, sepertinya dia suka roti bakar dengan tuna dan ekstra tomat." Jawabnya setelah mengetuk-ngetukkan telunjuknya ke dagu. Sakura mengangguk mengerti.
"Oke, roti bakar itu gampang sekali." Gumam Sakura sambil menyiapkan dua helai roti tawar, margarin, ikan tuna setengah matang, dan selada. Ia kemudian mencari-cari tomat di kulkas, "Hei, tak ada tomat lagi disini." Ujarnya pada Tenten yang sedang mengambil sapu.
"Eh? Benarkah?" Tenten berjalan ke tempat Sakura berdiri seraya ikut mencari ke dalam kulkas. "Ya ampun. Pasti Tuan Muda yang sudah menghabiskannya. Padahal aku baru saja membeli satu kilo tomat itu kemarin." Keluh Tenten sambil menutup kulkas kembali.
Sakura mengedikkan bahunya, "Ya sudah kalau begitu. Tak usah pakai tomat juga tak apa, kan?"
Tenten segera membelalak, menahan tangan Sakura yang baru saja akan menghidupkan kompor. "Tidak bisa!"
"Eh?"
"Iya, tidak bisa. Percayalah padaku, roti bakar itu tak akan tersentuh sedikit pun bila kamu tak menaruh satu pun lembar irisan tomat disana!" seru gadis bercepol itu.
"Hah? Hanya karena tak ada tomat?" Sakura masih tak habis pikir dengan perkataan Tenten barusan. Namun diluar perkiraannya lagi, Tenten mengangguk yakin.
"Yap! Pokoknya apa pun yang dimakannya harus mengandung unsur tomat." Tenten melanjutkan kegiatan menyapu yang tadi terinterupsi.
"Hoh? Aneh. Tampang seperti dia nggak cocok suka buah tomat. Haha, konyol. Orang datar begitu suka tomat, apa lebih baik aku mulai memanggilnya dengan 'Maniak-tomat'?" Sakura melepas kembali celemeknya sementara Tenten di ujung sana tertawa. "Jadi? Aku harus masak apa nih?"
Hening.
Tampaknya Tenten sedang berpikir lagi. Sakura duduk diam di kursi dapur, menunggu Tenten menjawab pertanyaannya.
"Kau tak perlu masak kalau begitu." Sebuah suara terdengar di telinga Sakura. Membuatnya kembali mengangguk-angguk.
"Yah, baguslah kalau begitu. Aku tak perlu capek-capek masak untuk si Rambut Ayam itu."
"Ya. Tak usah repot-repot masak untukku, Forehead-girl."
Oke, satu suara itu segera menyadarkan Sakura dari kebodohannya. Yang sedari tadi ia ajak bicara ternyata bukan Tenten, tapi si Uchiha menyebalkan. Tuan Muda Sasuke Yang Terhormat.
Sakura menolehkan kepalanya pada pintu masuk dapur, jalan pintas keluar-masuk rumah mewah itu. Seringai kecil muncul di wajah seseorang yang sedang ditatapnya. Membuat Sakura menyesal telah menoleh. Ia lalu memutar bola matanya sambil beranjak dari dapur.
"Hei."
Suara menyebalkan itu menahan Sakura untuk pergi dari tempat yang auranya mulai mencekam tersebut. Perlahaaaaan sekali Sakura berbalik, berharap kalau tampang sok keren itu berubah jadi wajah bersahabat Tenten. Atau kalau bisa, sekalian berubah jadi artis idolanya sepanjang masa.
Tapi semua itu hanya angan-angan Sakura. Nyatanya wajah itu tak berubah, tetap datar dan yeah, menawan. Namun siapa pun yang melihatnya, pasti ingin menonjok wajah itu-jika tak ada kata 'menawan' disini.
"Apa?" tanya Sakura tak minat. Ia sedang capek untuk bertengkar. Sungguh, sehabis melakukan semua pekerjaannya, ia benar-benar merasa sudah tak bertenaga. Dan sekarang ia sudah harus menyiapkan diri untuk bersabar dengan Tuan Muda ini. Apa lagi sih, yang diinginkan si maniak tomat ituuu????!!
"Tolong masakkan makanan."
Mata emerald Sakura segera membeliak, "Hah? Katanya tak usah masak? Plin-plan!"
"Bukan untukku. Jangan ge-er dulu, Bodoh. Ini untuk teman-temanku." Pemuda itu berkata sambil lalu kemudian beranjak dari tempatnya berdiri. Kembali keluar dari rumah senyap nan sepi ini untuk-mungkin menghirup udara segar. Melepas kepenatan, sementara gadis berambut pink tadi memicingkan matanya sebal.
.
.
"Jadi itu sebabnya sekarang kamu minta ditemani belanja..." Tenten berucap sembari memilah-milah paha ayam yang tampak menggoda itu.
"Yah, begitulah. Katanya, teman-temannya akan datang." Sakura menghela nafas.
Tenten memalingkan pandangan dari kegiatan memilih paha ayam, menatap wajah Sakura yang tampak masih emosi. "Saku... kamu marah pada Tuan Muda?"
Sakura memutar matanya, menganggap pertanyaan Tenten sungguh tak penting dan tak perlu ditanya. "Tentu saja!"
Tenten kemudian mendesah perlahan-namun cukup untuk terdengar Sakura. "Kamu betul-betul belum mengenalnya, Saku."
"Heh? Iya, memang. Lagipula untuk apa aku mengenalnya lebih jauh? Hanya akan menghabiskan waktu!" seru Sakura kesal. Ia kemudian mengambil minyak goreng secara asal dan menjejalkannya pada keranjang yang sudah terisi penuh.
Tenten tersenyum penuh arti, "Yah... terserah kamu..." Ia memandang Sakura sejenak sampai tertegun melihat perbuatan si gadis pink selanjutnya. "Hei, jangan menjejalkan sayur ke dalam keranjang penuh! Lihat kamu merusaknya!!"
CHAPTER ONE END.
Hyaaah~ Akhirnya malah ngapdet ini duluan. Dasar saya emang plin-plan.-ditampol- Habisnya, habisnya, habisnya, fic ini pengerjaannya paling asik lho! Tapi jadinya buru-buru dan nggak maksimal karna saya terlalu senang ketika ngetik. Maapkanlah authoress yang payah ini. '-.-
Dan chap ini kependekan ya? Iya, soalnya konflik belom ada tuh. Tapi fic ini memang irit konflik. Paling cuma konflik SasuSaku, saya emang tak pandai membuat konflik seru. Hah...-jeduk jedukkin kepala ke tembok-
Walaupun banyak kekurangan, tetep RIPYU ya? Berikan saran, kritik, komentar, dan bahkan flame pada saya. Saya menerima dengan kaki terbuka kok.-disepak- Arigatou~ ^^
Special thanks :
Inuzumaki Helen (Iya, amit-amit itu UKS. Tanggal 9 ntar, senpai kapan? Nyahaha, tenang. Saku termasuk golongan pembantu kok, bukan pembokat! ^^ TLoF-nya udah kuripyu. Nyaha.. iya, aku juga makin semangat ngetik sih. Tapi kalo pas UKS-nya, enggaaaak~!!! Bisa mati ntar nggak bisa jawab! Makasih ripyu-nya! :d);
Deeandra Hihara (Nggak kok, akhirnya malah fic ini yang duluan apdet. Emang saya plin plan -dirajam- Makasih saran dan ripyunya! Akan selalu saya perhatikan! Yosh! -lebai-);
Mayu (Masa'? Waduuh, makasih banyak yaa! Ini udah di-apdet kan? :p);
kakkoii-chan (Iya nih, ide ngalir terus. Namanya ide kan, muncul dimana aja. -sok bijak mode : on- Ehm, apakah 'itu' bakal terjadi? Entahlah, lihat saja nanti.. khikhikhi -ketawa setan-);
Myuuga Arai (Ah! Neechan berkunjung! Iya, akhirnya fic ini apdet duluan, coba. Neechan juga mau semesteran? Kapan?);
cattleya-neechan nggak payah, sumpah! (Gyaa~!!! Neechan berkunjung! Iya ya? Aku baca ulang chap kemaren, kok banyak banget kata -nya disitu? Yah, maklumlah neechan, kan aku authoress payah... -nangis di pojokan- Ehm, sebenernya sih, kata-kata asing kayak 'mendelik' sama 'sweatdrop' itu aku pake karna nggak mau bahasanya kaku banget. Soalnya ntar bagian tengah-tengah, bakalan rada mirip teenlit yang masih pake kata gaul. Hmm, neechan tau gimana caranya bikin fic nggak terlalu kaku tapi tetap pake bahasa baku? -.-);
The Law Of Gege (NaruHina? Ada kok, disini banyak pair. Lihat saja di chap depan ntar. Iya ini apdetannya~! :d);
Nakamura Arigatou (Aku sering buat SasuSaku kok. Cuma ini pertama kalinya multichap :p Iya, ntar XXX bakal kuripyu, tapi belum sempet nih... -ngelirik buku yang bertumpuk-);
Ana-cHan (Aduh, dear... Maap kalo banyak fic-ku yang menggantung, aku memang begitu. Sering meninggalkan fic demi fic lainnya. -halah- Iya, SasuSaku kalo berantem emang makin te-o-pe! Makasih ripyunyaaa~);
Faika Araifa (Hyah! Neechan berkunjung juga! Seragam maid ya? Hihi... -ngikik setan- Ntar ada kok, nyuhu :]);
kawaii-haruna (Ini... nggak tau... Kayaknya nggak bakal terlalu panjang kok. :d Aku suka SasuSaku, kaliiiii... Kenapa Saku jadi pembantu? Wah, sudah kodrat. -ditampol Saku-);
MelloLovesMe (Waduh, dear. Kalo dibuat agak india gitu, aku bakal ditimpukkin ama pembaca lainnya! '^o^);
Chika the Deidara's Lover (Kata siapa ada cinta diantara SasuSaku? Perasaan aku nggak ngetik gitu. -ngeles- Berhasil kok, akhirnya ini fic di-apdet dengan selamat. :]);
Hikari Hoshizora (Neechan juga berkunjung! Makasih neechan, neechan terlalu memuji ah. Aku masih banyak kekurangan. -siapa nanya?-);
chaa. back. 2. emo (Aduh, maap namamu kukasih spasi. Soalnya kalo enggak, nggak bakal muncul. '-.- Haha, disini banyak kata-kata rambut ayam lho! Kebanyakan malah, iya! -dichidori Sasu- Naru... nanti akan muncul, Gaara juga. Ahh, aku juga nggak jago bikin summary, dear...);
Dani D'mile (Yap! Tau aja senpai ini judul dari Jerman. Tau artinya juga nggak? Nyuhu, akhirnya ini di-apdet duluan. Tapi pasti chap ntar di-apdet belakangan. Iya, Regret ternyata menuntut untuk di-apdet '-.-. Tapi kalo sekarang, aku mau fokus ke RtJ dulu aja deh...-disambit-);
Phillip William-Wammy (Haduh, maap belum ripyu chap dua Werewolves yaa! Tapi janji ntar bakal diripyu, sekalian sama Happines You Give-nya Dee dan CDWeb punya kalian.-ketauan cuma baca, kagak ripyu- Ahaha, makasih yaa~ Gaya bahasa kamu di Werewolves juga bagus :d);
lil-ecchan (Iya nih, abisan Saku membawa banyak inspirasi.-halah- Iya, samasama ecchan... Makasih juga udah ripyu yang ini~ )
