Sasuke meminun kopinya, sambil menunggu Hinata di meja makan, adiknya itu tengah bersiap siap.

"Lho? Nii-san lebih cepat dariku rupanya" Sapa Hinata begitu melihat Sasuke yang sudah menunggu di meja makan

Begitu Sasuke melihat penampilan Hinata, lelaki itu tersedak.

"Eh, Nii-san!" Hinata mendekati Sasuke dan menepuk punggungnya pelan

"Hinata, lepaskan ikatan rambutmu" Titah Sasuke

"Eeh?!" Hinata memegang kuncirannya. Rambutnya kan hanya diikat ponytail?

"Kenapa? Mengikatnya susah lho Nii-san" Hinata mencoba mempertahankan gaya rambutnya

"Kau bisa mengikat setiap ujung depan rambutmu kebelakang, tapi jangan pernah mengikat seluruh rambutmu seperti itu" Ujar Sasuke dengan nada tak ingin dibantah

Hinata itu gadis yang mempesona, dan kalau rambutnya diikat tinggi seperti itu, lehernya yang putih bersih bisa menjadi santapan mata mata lapar.

Dan Sasuke takkan membiarkannya. Takkan pernah.

Hinata mengembungkan pipinya dan menarik lepas ikatan yang sudah susah susah diaturnya.

"Tak Ita-nii, tak Sasu-nii, kenapa sih aku dilarang menguncir rambutku?!"

Sasuke yakin, alasan Itachi pasti sama sepertinya.

"Sudahlah, nanti Nii-san belikan bando dan jepit rambut untukmu" Ujar Sasuke yang seketika mengembalikan mood adik manisnya itu

"Baiklah! Ayo sarapan!!" Ucap Hinata semangat membuat Sasuke terkekeh

Hinata is Mine!

Disclaimer : Masashi Kishimoto dan Fujimaki Tadatoshi

Pairing : GoMxHinata!

Rate : T

Happy Reading~

"Perlu Nii-san antar ke kelas?" Tanya Sasuke begitu mereka sampai di gerbang sekolah

"Tak perlu, aku sudah tau arahnya kok!" Jawab Hinata sambil keluar dari mobil

"Ya sudah, kalau..."

"Ada apa apa aku pasti telpon Nii-san kok" Potong Hinata, sudah hafal kalimat Sasuke setiap akan meninggalkannya sendiri

Lelaki itu terkekeh pelan "Kau memotong perkataan Nii-sanmu Hinata"

Hinata tertawa pelan "Habis~, aku sudah hafal diluar kepala semua kata kata Nii-san"

"Baiklah, pulangnya seperti biasa Nii-san jemput, oke?"

"Oh iya!" Hinata menepuk kepalanya teringat sesuatu "Aku mulai ikut ekskul hari ini. Pulangnya lebih sore"

"Ekskul apa? Tak banyak lelaki kan?" Tanya Sasuke menyelidik

"Tidak kok, ini kan ekskul memasak" Jawab Hinata cepat cepat. Tak ingin memancing emosi Sasuke di pagi hari

"Oke. Pokoknya kalau ada yang menganggumu segera laporkan pada Nii-san"

"Aye kapten!" Hinata mengangkat tangannya, hormat pada Sasuke, yang membuat senyum langka lelaki raven itu terulas

Tak lama setelah Sasuke meninggalkan Hinata, manik gadis manis itu menangkap sosok orang yang dikenalnya.

"Kuroko-san!" Panggil Hinata yang sukses membuat langkah lelaki bersurai biru muda itu terhenti

"Hinata-san" Ucap Kuroko begitu Hinata sampai pada tempatnya

"Ohayou!" Sapa Hinata ceria

"Ohayou mo" Balas Kuroko datar

Ekspresi dan nada bicaranya memang datar, tapi percayalah, dakam matanya ada binar yang tak dapat diungkapkan melalui kata kata.

"Mau berjalan ke kelas bersama?" Tawar Kuroko

Sungguh. Ini pertama kalinya seorang Kuroko Tetsuya mengajak seseorang untuk pergi ke kelas bersama.

"Tentu" Balas Hinata sambil mengangguk "Kuroko-san kelas apa?"

"XI-C. Hinata-san dikelas XI-A ya?"

"Iya, berarti Kuroko-san dilantai 3 ya?"

Lelaki berekspresi datar itu mengangguk.

"Untuk kali ini rasanya aku ingin bertukar kelas dengan Midorima-kun" Gumam Kuroko pelan

"Kau bicara sesuatu Kuroko-san?" Tanya Hinata merasa mendengar gumaman Kutoko

"Tidak Hinata-san, ah kita sudah tiba di kelasmu" Ujar Kuroko merasa kenapa perjalanan ke kelas cepat sekali?

"Kuro-" Ucapan Hinata terhenti karna sebuah teriakan nyaring

"Hinatacchi~"

Terlihat lelaki bersurai sewarna matahari, Kise Ryouta, berlari ke arah Hinata dengan tangan terbuka.

Bersiap memerangkap gadis bermahkota indigo itu kedalam pelukannya.

Namun Kuroko tak membiarkan hal itu terjadi, ia menarik Hinata ke arahnya.

Dan sang model papan atas itu akhirnya hanya memeluk angin.

"Eh Hinatacchi kemana?" Lalu melihat ke arah kanan, Hinata ada disana dengan Kuroko "Huwaa!! Kurokocchi! Sejak kapan kau ada disana ssu!"

"Maaf Kise-kun tapi kau tidak boleh memeluk orang sembarangan" Dari nada bicaranya, jelas pemain bayangan itu keberatan

"Eh, Kurokocchi, Hidoi ssu!" Ucap Kise sambik memasang mimik muka sesedih mungkin, yang hampir membuat Hinata merasa kasihan

"Aku hanya ingin memeluk malaikat penyelamatku ssu!"

"Malaikat penyelamat?" Suara lain merespon, suara yang amat dikenal mereka semua

Hanya satu orang yang memiliki suara tegas dan tak terbantah seperti itu.

Akashi Seijuuro.

"Ya Akashicchi! Hinatacchi adalah malaikat penyelamatku ssu!"

Akashi menanggapinya dengan menaikan sebekah alisnya. Menantikan kelanjutan daru kalimat yang dilontarkan rekannya itu.

"Kemarin Hinatacchi menyelamatkanku dari fans gilaku dari sekolah lain. Jadi sekarang, aku ingin memberinya pelukan selamat pagi ssu!" Jelas Kise dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

Rupanya ia belum menyadari tatapan Akashi yang berkilat tajam.

"Tapi Kurokocchi malah menarik Hinatacchi"

"Tetsuya, kali ini aku mengapresiasikan tindakanmu" Ujar Akashi menatap penuh penghargaan pada pemuda biru itu

"Aku tidak tahan ingin memeluknya, Hinatacchi kawai ssu!"

Bukan hanya Akashi yang memberikan tatapan tajam, Kuroko pun sama, walau tersamarkan oleh ekspresi datarnya.

Sementara Hinata merona hebat, dikatakan malaikat penyelamat dengan bangganya oleh lelaki yang baru kemarin dikenalnya. Dipuji kawai pula.

"A-arigatou Kise-san"

Suara merdu Hinata membuat 3 pasang mata berbeda warna menoleh.

Seketika nafas mereka tertahan.

Hinata dengan pipi chubbynya yang merona, sungguh pemandangan yang begitu memukau.

"HINATACCHI KAWAI SSU!!" Teriak Kise dan hendak kembali memeluk Hinata.

Namun, tertahan oleh gunting Akashi.

Ya. Akashi menyodorkan guntingnya dihadapan Kise.

Glek.

Kise menelan ludahnya susah payah.

"A-akashicchi.."

Hinata bahkan membulatkan matanya. Lebih merasa heran darimana Akashi mendapat gunting merah itu?

"Aku selalu membawa gunting merahku kemanapun, Hinata" Ujar Akashi

Hinata mengerjapkan matanya, terlihat lucu di depan ketiga lelaki itu. Akashi menjawab pertanyaannya? Apa ia bisa baca pikiran?

"Aku tidak bisa membaca pikiran" Lanjut pria bersurai merah tersebut

"Benarkah?" Tanya Hinata yang dibalas anggukan Akashi

"Tetsuya, Ryouta, kembalilah ke kelas kalian"

"Baiklah, tapi Hinatacchi nanti istirahat denganku ya ssu!" Ajak Kise. Itu juga kalimat yang sedari tadi tertahan di tenggorokan Kuroko.

Sebelum Hinata menjawab, Akashi dengan baik hati menjawabnya.

"Sayangnya aku dan Hinata masih harus melanjutkan keliling sekolah. Aku belum memperkenalkan semua isi sekolah"

"Itu benar. Tapi apa kalian mau ikut?" Tawar Hinata yang dihadiahi tatapan blink blink milik Kise

"Tidak Hinata, aku tak suka kalau tugasku diganggu orang lain. Ryouta, Tetsuya, sepertinya kalian harus kuantar ke kelas masing masing"

Akashi menarik tangan Kise dan Kuroko, menyeret mereka berdua menuju tangga.

"Kau ke kelas duluan saja, Hinata"

Hinata mengangguk dengan ekspresinya yang masih keheranan.

Dan begitu masuk kelas, teman sekelasnya yang sudah hadir langsung menghampiri Hinata.

Bahkan gadis bercepol dua yang bernama Tenten memeluknya erat.

"Hinata, kau memang kawai!" Celetuk Tenten

"Kau berhasil menggaet 3 prince GoM!" Pekik gadis musim semi bernama Sakura

"GoM?" Tanya Hinata yang sukses membuat semua temannya melongo

"Kau tak tau GoM?" Tanya Ino, gadis bak barbie yang mengikat rambutnya ponytail. Uh membuat Hinata sedikit iri

"Wajar sih, Hinatakan dari Inggris" Ujar Ino

"GoM itu Generation of Miracle" Mulai Sakura menjelaskan "Anggotanya 6 orang. Akashi Seijuuro, Kuroko Tetsuya, Midorima Shintarou, Kise Ryouta, Aomine Daiki dan Murasakibara Atsushi"

"Mereka adalah lelaki yang mengabdikan hidup pada basket"

"Mereka itu idola semua gadis!"

"Kami bahkan sempat sangat mengidolakan mereka"

"Tapi lama lama kami lelah dan memikih lelaki lain saja"

"Sikap mereka sangat acuh terhadap para gadis, hanya 1 gadis yang bisa dekat dengan mereka. Hanya sang manager Momoi Satsuku"

"Tapi mereka tak terlihat ingin menjalin cinta dengan pelatihnya"

"Yah itu juga kan karna Momoi sahabat dekat Aomine"

"Dan Hinata. Kau adalah satu satunya gadis yang berhasil masuk dalam lingkup mereka"

"Kami mendukungmu! Siapapun pilihanmu!"

Mereka bicara bergantian membuat manik Hinata mengikuti mereka yang berbicara.

"Pilihan apa, nanodayo? Dan kenapa Hinata dikerubuni begitu? Bu-bukan berarti aku peduli, nanodayo"

"Eh Mido-kun" Sapa mereka sakah tingkah, takut ketauan

"Dan lebih baik biarkan Hinata menaruh tasnya dulu, nanodayo" Ucap Midorima yang membawa bola voli, itu pasti lucky itemnya.

Tapi mereka masih diam. Yakin bahwa kalimat Midorima belum selesai

"Ta-tapi bukan berarti aku peduli padanya, nanodayo" Lanjutnya sambil berlalu

Gotcha! Tebakan mereka benar, Midorima selalu saja menyangkal ucapannya, dasar tsundere.

"Ya sudah. Kau taruh tasmu dulu saja, Hinata-chan!"

Ucap Sakura kemudian berbisik pada Hinata "Sepertinya Mido-kun juga berhasil jatuh dalam pesonamu, hihi"

Wajah Hinata memerah.

Ah~ Manisnya ciptaan tuhan yang satu itu.

Hinatapun menuju mejanya yang semeja dengan Midorima.

"Bola voli itu lucky itemmu hari ini?" Tanya Hinata yang sebenarnya tak perlu ditanyakan lagi

"Iya" Jawab Midorima sambil menaikan kacamatanya yang tak bergeser sedikitpun

"Apa kau membawakan lucky item untukku?" Tanya Hinata, membuat wajah Midorima sedikit memerah

Sebenarnya Midorima tadi bingung bagaimana cara memberikan lucky item pada Hinata. Bisa saja gadis 148cm itu lupa kan?

"Ulurkan tanganmu, nanodayo"

Hinata mengulurkan tangannya, lebih tepatnya mengadahkan tangannya, ia kira Midorima akan memberikan lucky itemnya.

Tapi tidak, Midorima memasangkannya langsung pada pergelangan tangan Hinata.

Memasangkan? Yup! Sebab lucky item Hinata hari ini adalah ... gelang bergemerincing.

"Eh? Gelang?" Hinata menaruk tangannya, antusias menatap gelang itu "Wah~ Gelangnya bagus! Arigatou Midorima-san"

Hinata tersenyum, menularkan sebuah senyum tipis pada Midorima.

Sedangkan Tenten, Sakura, Ino dan beberapa teman lain berusaha keras agar tidak memekik.

Adegan itu manis sekali!

"Kau membeli gelang ini sendiri, Midorima-san?" Tanya Hinata yang tiba tiba membuat Midorima gelagapan

"Itu tidak penting, nanodayo"

"Tidak penting apa?" Tanya suara lain, Akashi.

"Bu-bukan apa apa nanodayo"

"Oh ya?" Akashi terlihat sangsi dan beralih menatap Hinata

"Ada apa Hinata? Apa yang tidak penting?"

"Midorima-san memberikanku lucky item, dan kutanya darimana ia dapat, katanya itu tak penting" Jawab Hinata

Midorima ingin sekali mengetuk kepala Hinata, meskipun ia takkan pernah berani melakukannya, gadis itu terlalu jujur!

"Baiklah" Ujar Akashi dan menatap Midorima, apa maksud lelaki itu? Seumur hidup baru kali ini Akashi melihat Midorima memberikan lucky item untuk orang lain

Dan akhirnya Akashi menunggu bel sambil mengobrol dengan Hinata juga Midorima

"Hinata ayo ke kantin bersama!" Ajak Sakura

"Gomenne minna, aku belum selesai berkeliling dengan Akashi-san"

Eh? Akashi menemani Hinata 2 hari berturut turut? Sepertinya dugaan mereka tentang pesona Hinata benar.

"Ayo Hinata" Ujar Akashi bangkit dari kursinya

"Baik, Akashi-san, Midorima-san aku pergi dulu" Pamit Hinata dan segera menuju Akashi yang sudah menghilang dibalik pintu

Dan di kursi samping Hinata, pria megane itu menghela nafas berat "Ini pertama kalinya aku ingin menjadi Akashi, nanodayo" gumamnya pelan

*

Akashi menghentikan langkahnya begitu sadar Hinata cukup tertinggal di belakangnya.

Langkah gadis itu kecil kecil. Akan lebih praktis kalo Hinata digendongnya kan?

"Akashi-san" Pemikiran Akashi terhenti oleh panggilan Hinata

"Jalannya jangan cepat cepat, langkahku kan tak selebar Akashi-san" Hinata mengerucut

Tampak begitu menggemaskan.

Akashi hampir saja mengangkat tangannya untuk mencubit pipi gadis itu.

"Hinata ayo berteman" Ajak Akashi setelah

menguasai keadaan

Hinata memiringkan kepalanya menatap Akashi heran

"Lalu selama ini kita apa?" Gantian, Akashi yang keheranan "Bukankah kita memang teman?" Lanjutnya

Akashi terkekeh pelan.

Catat itu.

"Pikiranmu simple sekali Hinata" Respon Akashi "Kalau begitu mulai saat ini panggil aku dengan suffiks -kun"

"Kenapa?" Tanya Hinata masih belum paham

"Tandanya kita berteman, bukankah teman memanggil dengan panggilan akrab?"

Hinata mengangguk pelan

"Coba panggil aku"

"Akashi-kun?" Akashi mengangguk, ia merasa satu langkah lebih dekat dengan Hinata

Dan Akashi pun mengenalkan tempat yang belum diketahui Hinata.

Ketika dekat dengan kantin, sebuah suara malas kembali menyapa mereka, tapi terselip nada senang didalamnya.

"Aka-chin? Hinata-chin? Masih berkeliling?"

Sang titan ungu, Murasakibara Atsushi berdiri menjulang dihadapan Hinata dan Akashi yang notabene jadi terlihat kecil.

"Murasakibara-san" Sapa Hinata "Ya, kemarin belum selesai"

"Jadi Hinata-chin belum membeli makanan?" Tanya Murasakibara sambil mengunyah maibounya

"Kau sendiri Atsushi? Kenapa diam disini? Biasanya setelah membeli snack kau kembali ke kelasmu?" Potong Akashi

"Aku menunggu Mine-chin, dia sedang membeli burger, aku ingin memintanya satu, uangku sudah kubelikan maibou-chan" Jawabnya acuh

Hinata tertawa pelan, mengalihkan atensi kedua pria disana.

Hinata merasa lucu mendengar panggilan Murasakibara untuk snacknya.

"Hinata-chin cantik kalo tertawa" Ucap Murasakibara polos, menghentikan tawa Hinata dan menggantinya dengan rona di dipipi

"Ini untuk Hinata-chin" Murasakibara menyodorkan satu buah maibou pada Hinata.

Seketika bahu Akashi memberat, ah, sepertinya akan banyak saingan untuk mendapatkan Hinata.

Murasakibara tidak pernah memberikan snacknya pada siapapun.

TIDAK PERNAH.

Walau pada keluarganya. Ataupun ada anak yang merengek disekitarnya ingin permen, Murasakibara tidak akan pernah memberikannya

Dan sekarang? Pada gadis yang ditemuinya kemarin dia bisa sebaik itu?

"Eh Mai-, ehm maksudku Hinata-chan. Masih berkeliling dengan Akashi?" Tanyanya begitu melihat tatapan tajam Akashi, hampir saja ia keceplosan memanggil Hinata dengan nama idolanya

"Masih Aomine-san, tapi sebentar lagi selesai, kami akan ke kelas sekarang, benarkan Akashi-kun?"

Akashi mengangguk membenarkan sedangkan Aomine dan Murasakibara merasa iri dengan panggilan -kun pada Akashi.

"Aomine-san membeli burger sebanyak itu?" Tanya Hinata agak kaget melihat 15 burger yang dibawa Aomine

"Kalau sedikit aku takkan punya tenaga untuk latihan nanti" Jawab Aomine, lantas alisnya berkerut saat melihat maibou yang digenggam Hinata

"Hinata-chan, itu.." Tunjuk Aomine pada maibou Hinata tanpa menyelesaikan kalimatnya

"Ah, ini dari Murasakibara-san" Jawab Hinata yang membuat mata Aomine membulat

Sepertinya pikirannya sama seperti Akashi.

"Baiklah kalau begitu ini juga burger untukmu" Aomine memberikan satu burgernya pada Hinata

"Nanti mau menonton tim basket latihan?" Tawar Aomine yang tidak ditentang Akashi

"Gomen, aku ada ekskul memasak sore ini, mungkin lain kali" Jawab Hinata

"Hinata-chin bisa memasak? Sugoi~ Hasil masakannya nanti berikan padaku ya~" Pinta Murasakibara yang membuat Akashi dan Aomine juga ingin mengatakan hal yang sama

"Oke, nanti aku bawakan untuk anggota basket"

Jawaban Hinata mengirimkan angin segar bagi Akashi dan Aomine.

Teeet teeet.

"Bel sudah berbunyi, ayo ke kelas Hinata" Ajak Akashi yang dijawab anggukan Hinata, lantas pamit pada Aomine dan Murasakibara.

*

Ternyata kelas memasak selesai lebih sore dari dugaannya, dan hari ini ia tak memasak.

Hanya materi tentang tepung.

Hinata segera membereskan barang barangnya, yakin kalau sang kakak sudah menunggunya. Terbukti dari banyaknya panggilan tak terjawab di ponsel Hinata. Ia memang mensilentnya tadi.

Dengan terburu Hinata segera meninggalkan ruangan memasak.

Dugaannya tepat. Mobil kakaknya sudah ada di samping gerbang dengan sang kakak yang bersandar di gerbang.

"Sasu-nii!!" Panggil Hinata yang sukses mengalihkan pandangan Sasuke

"Kau lama sekali? Apa ekskul memang selalu selama ini? Atau ada yang menggodamu?"

Tanya Sasuke bertubi tubi, yang dijawab Hinata dengan gelengan dan senyuman lebar.

"Kalau begitu ayo kita pulang, Nii-san lapar, kau harus memasakkan sup tomat, sebagai permintaan maaf"

"Baiklah~ Aku akan memasak sup tomat seember untuk Nii-san" Jawab Hinata yang dibalas kekehan Sasuke

Namun sebelum suara Sasuke terdengar, suara lain menyapa dari belakang Hinata.

"Kau Hinata? Uchiha Hinata?"

Hinata berbalik, dan Sasuke juga berdiri di sampingnya.

Dilihatnya gadis bersurai merah muda menyapanya.

Hinata mengangguk

"Kau cantik!" Ujarnya antusias yang justru mendapat tatapan menyelidik dari Sasuke, berbanding terbalik dengan Hinata yang merona

"Ah iya, aku Momoi Satsuki, manager basket, kau tau? Kau begitu heboh dibicarakan disana, mereka berebutan membicarakanmu, bahkan Sei-chan juga ikutan!"

"Lalu kau tau? Aku sempat mengira Dai-chan gila saat berteriak dengan keras 'Aku menemukan Mai-chan'. Sei-chan memarahi Dai-chan katanya namanya Hinata, bukan Mai-chan!"

Cerita Momoi antusias "Aku akhirnya dapat melihatmu Hinata! Kau memang cantik!"

Hinata merona dan aura Sasuke menggelap.

Apa katanya tadi? Hinata heboh dibicarakan tim basket? Yang artinya heboh dibicarakan lelaki? Dan Hinata disamakan dengan Mai-chan? Horikita Mai itu?

Itu idola sahabat dobenya, ia tau seperti apa Mai-chan itu.

"Hinata, gym disebelah mana?" Tanya Sasuke

"Ujung lorong lantai 2 sebelah kanan, lalu belok kiri" Jawab Hinata belum menyadari aura gelap Sasuke

Momoi mulai menyadarinya. Sepertinya Sasuke tipe Sister Complex.

Dugaan Momoi terjadi, Sasuke segera masuk ke sekolah, menuju gym.

Tangannya mengepal kuat

"Sasu-nii! Sasu-nii!" Panggilan Hinata diabaikan Sasuke, setidaknya ia tahu, Hinata bersama gadis bernama Momoi, tak mungkin Sasuke meninggalkan Hinata kalau adiknya itu sendirian

"Hinata-chan! Ayo kita susul, sepertinya kakakmu ke gym!"

Hinata mengangguk. Kakaknya itu memang sangat melindunginya, Sasuke pasti akan menemui Tim basket khususnya Aomine, memang Mai-chan itu siapa sih?!

"Momoi-san, Apa Sasu-nii cemburu karna Aomine-san juga menyukai Mai-chan? Sebenarnya siapa sih Mai-chan? Sasu-nii dan Aomine-san pasti akan memperebutkan Mai-chan! Kita harus cepat!"

Usai mengatakan itu Hinata berlari lebih cepat meninggalkan Momoi yang terheran dengan sikap Hinata.

"Dia tak tau siapa Mai-chan?" Tanyanya pada diri sendiri "Hinata-chan! Tunggu!"

Momoi ikut berlari lebih cepat.

Sementara itu di gym.

"Hinata-chin tidak kemari" Ucap Murasakibara muram

Anggota basket, khususnya GoM masih latihan disana

"Memangnya dia mau kesini? Bu-bukan berarti aku peduli, nanodayo"

"Kita jemput saja kalau begitu ssu!"

Sebelum ada jawaban lain pintu gym dibuka secara kasar dari luar, menimbulkan bunyi yang keras, mengalihkan perhatian semua anggota gym.

Mereka menatap heran pria yang datang dengan ekspresi marah tersebut.

"Uchiha Sasuke" Guman Akashi yang didengar semua

Mereka membulatkan mata. Uchiha? Kalau begitu dia kakak Hinata?

"SIAPA YANG MENYAMAKAN IMOTOUKU DENGAN HORIKITA MAI DARI MAJALAH LAKNAT ITU?!" Teriak Sasuke menggelegar dengan aura yang begitu gelap

Glek. Semua menelan ludah susah payah. Dan menatap Aomine.

Sasuke yang menyadari arah pandang anggota basket menatap tajam Aomine.

Udara disana memberat. Aura Sasuke mencekik mereka.

"Nii-san!! Sasuke-niisan!!" Teriakan Hinata yang kelelahan mengalihkan pandangan Sasuke

Sebelum Sasuke menjawab Lelaki belum surai kuning segera memerangkap Hinata dalam pelukannya.

"Kau menjadi malaikat penyelamat lagi ssu!!"

"Kise-san, sesak" Ujar Hinata merasa pelukan Kise sangat erat

Dan dalam sekali sentak Sasuke melepaskan Kise dari Hinata.

Pandangan tajam didapat Kise dari para kisedai, dan tatapan mematikan diberikan secara sukarela oleh Sasuke.

"Jangan. Sentuh. Adikku." Desis Sasuke mematikan

Sepertinya bukan hanya Aomine yang akan mendapat kemarahan Sasuke. Kise pun sepertinya sama.

-TBC-

Hallo minna!!

Gomen yaa kalau gak bisa update kilat, author di sekolah kepilih buat lomba pidato jadi kemarin fokus bikin teksnya dulu, hhe hhe.

Kayaknya selama dua minggu ke depan updatenya kisaran 5 hari sekali. Ntar kalo lombanya beres, bakal update cepet~

Semoga menikmati ya minna!!

Kalau sempet tinggalkan jejak yaa~ Biar jadi penyemangat, hihi.

Sampai jumpa di chapter berikutnya~

Oh iya! Tanjoubi Omedetou Gozaimasu Kuroko Tetsuya~