Naruto
Kishimoto Masashi

-.-
Irresponsible Kiss
by ceruleanday
-.-

NaruSasu fanfiction
Rate: T. Genre: Romance. AU.


Special fic for S.N.S Hanasu of Chocolate: Brown chocolate.


"aku selalu percaya bahwa Tuhan akan mempertemukan kita dengan orang-orang menyenangkan di luar sana dengan cara yang tak terpikirkan oleh rasionalitas kita. Dan aku... aku ingin menjadi teman bagi orang-orang itu, meski mereka membenciku."


TWO

-.-

Jauh dari semua keramaian kota Nagoya, berdirilah sebuah rumah sederhana dengan petak kebun jagung di sampingnya. Pohon-pohon rindang juga tumbuh dengan subur selayaknya bisa memberikan pondasi yang kuat saat musim salju terburuk akan tiba. Setidaknya, dedaunannya mampu menahan beban salju yang mungkin bertumpuk di atas genting rapuh rumah itu. Dua buah sangkar burung menggantung bebas di tepian selusur genting yang bentuknya mengarah ke bawah. Harum bau kari ikut menyambut siapapun yang baru saja melepaskan sepasang sepatu converse-nya dan masuk ke dalam rumah. Tawa cekikikan khas anak-anak kecil bersahut-sahutan menyambut sosok yang sedang menenteng sekantung plastik belanjaan.

Langkah mungil anak-anak berusia enam hingga sembilan tahun memenuhi koridor pintu depan rumah. Suara cempreng mereka ikut berhambur dengan tawa riang sosok ini. Rambut kekuningan cerah miliknya mencuat ke mana-mana, menjadi satu dari sekian bahan lelucon bagi anak-anak yatim piatu itu.

"Naruto no Nii-chan! Naruto no Nii-chan!"

Pemuda berjaket biru cerah itu mengeluarkan cengiran riangnya. Anak-anak kecil yang sudah bertahun-tahun dirawatnya berdatangan dari satu arah dan menerjangnya bak ia adalah bola bulu yang asyik untuk diajak bermain. Tangan-tangan mungil itu menarik-narik rambut, tali jaket, dan juga ada yang mencubit pipi berhiaskan cat's whiskers miliknya. Ia meraung sakit, namun tak menjadi alasan anak-anak itu berhenti melakukan keisengannya.

"He-hei! Berhenti! Ha-hahaha! Geli... Haa—haha!"

Anak-anak kecil itu semakin mendaratkan serangan ampuhnya—menggelitiki tubuh pemuda itu hingga ia menyerah.

"Katakan kalau Naruto no Nii-chan menyerah!" satu dari sekian banyak anak itu berteriak lantang. Bagian di mana gigi serinya seharusnya berada semakin membuat anak kecil sangat imut.

"Hahahaaha! Hen-hentikan, Moegi-chan! Gel-geliii—" pemuda itu menahan perutnya, "—o-oke! Naruto Nii-chan me-menyerah!"

"HOREEE!" gegap gempita suara cempreng milik manusia-manusia cilik itu merambat hingga ke ujung rumah.

Maka, mereka terdiam dan mengamati hingga kakak lelakinya itu selesai merapikan jaket dan rambutnya yang kusut. Ia lalu mengendus-endus aroma wangi dari arah dapur.

"Aku mencium bau kari. Siapa yang masak?"

Anak kecil bertubuh gembul mencuat secara tiba-tiba. Sembari mengunyah keripik kentang ia bergumam, "ithu Deidarha-nhii-chaan yhang mhasak."

"Habiskan dulu makanan dalam mulutmu sebelum bicara, Chouji-kun!" seru seorang anak perempuan manis berambut pirang—Ino namanya. Dua tangan kecilnya diletakkan di pinggang. Pipinya yang gembul memerah.

Pemuda pirang itu—Naruto—hanya terkekeh sebentar, kemudian berdiri dan melangkah. Chouji dan Ino terjebak oleh pemikiran masing-masing, mengakibatkan dua anak kecil itu terus bersilat lidah tentang berat badan. Di lain pihak, ada juga yang malah tertidur di kaki Naruto. Mau tak mau, pemuda itu menggendongnya sembari berjalan. Beberapa anak kecil lain mengikuti seperti prajurit yang mengekor pada jenderalnya.

"Shikamaru-kun mudah sekali tertidur ya?" celutuk Konohamaru—anak laki-laki tertua di antara anak-anak kecil tadi. Dialah yang sering menjadi biang kerok kerusuhan di dalam rumah.

Naruto membaringkan anak lelaki berambut nanas itu di atas tatami berlapiskan selimut tebal di ruang tengah. Setelah menyalakan lampu dan menggelar lebih banyak selimut, pemuda sembilan belas tahun itu mendudukkan dirinya sejenak dan menghangatkan kakinya di bawah meja penghangat. Diraihnya sebutir jeruk manis dari atas meja dan mulai mengupasnya. Satu per satu buah diberikannya pada setiap anak. Inilah kebiasaannya di tiap sore setelah ia pulang dari klinik tempat ia bekerja.

Anak-anak itu berjejer berdasarkan usia. Mulai dari yang kecil bernama Inari hingga yang paling tua bernama Konohamaru. Sekiranya terdapat tujuh orang anak kecil yang duduk memutari meja. Saat Naruto mengupaskan jeruk untuk mereka, tak ada yang bersuara. Mereka menikmati kesenyapan yang hangat itu.

"Ngg..."

Mata biru cerah pemuda itu melirik Shion—gadis cilik yang usianya tepat satu tahun di bawah usia Konohamaru mengerang seperti menahan sesuatu, "ada apa, Shion-chan?"

"Ngg, aku—aku mau pipis."

"Hei! Kita tidak boleh meninggalkan meja sampai Naruto no Nii chan selesai memberikan jeruk-jeruk itu." kilah Kiba, anak keempat tertua. Yang lain mengangguk setuju.

"Ta-tapi... kebelet." Setetes air bening mulai keluar dari ekor mata azure milik gadis manis itu. Naruto hanya tersenyum dan memperlihatkan cengiran khasnya.

"Pergilah, Shion-chan. Jangan ditahan pipisnya. Nah, kalau kalian juga ada yang mau ke belakang, pergi saja. Nanti Naruto-Nii chan akan menyimpankan jeruk kalian di atas piring. Jadi, tenang saja, ok?" sahut Naruto riang sembari memperlihatkan jempolnya.

Tapak langkah kecil terdengar berurutan. Kini, hanya ada enam orang anak kecil saja di dalam ruang tengah, minus Shikamaru yang sudah terlelap di samping Naruto.

Keheningan kembali terjadi. Anak-anak kecil itu mulai mengunyah jeruk-jeruk pemberian Naruto. Kadang kala, ada dari mereka yang iseng—seperti Inari dan Konohamaru misalnya. Mereka memuntahkan biji-biji jeruk dari mulut mereka dan menembakkannya bak peluru ke wajah Moegi dan Ten-Ten. Ten-Ten yang jago karate membalas dengan sama liarnya. Ia menginjak kaki Konohamaru hingga anak lelaki itu meringis sakit.

Mereka tertawa bersama.

Aroma kari yang semakin menguat membuyarkan lamunan semu Naruto. Seorang pemuda berambut pirang bergaya bak anak punk baru saja masuk ke dalam ruang kecil itu sembari membawa sepanci penuh kari daging. Perut-perut yang meminta 'tuk diisi kian bernyanyi riang. Dari belakang pria itu, muncul gadis kecil yang sedang membawa rice cooker berisi nasi hangat yang sudah matang. Shion dan Deidara—dua bersaudara kandung ini memang paling jago dalam urusan dapur.

"Uwoo! Deidara!" seru Naruto. Cengiran rubahnya terlihat lebih lebar. Deidara hanya menatap lelah.

"Hahh, kupikir kau pasti lupa membeli pesananku tadi pagi, un?"

Para anak mulai merapikan meja dan menyajikan piring-piring. Shion dan anak gadis lainnya mengisi piring-piring itu dengan nasi. Konohamaru bertugas menumpahkan kuah kari di atas nasinya.

"Hehe. Tentu tidak! Ini—"Naruto menyerahkan bungkusan plastik yang dibawanya tadi, "—soda tanpa gula. Beserta... ehh—ini."

Tangan panjang nan artistik milik kakak tiri Naruto itu mengambil beberapa botol minuman soda dan juga sebuah majalah entah-apa-itu. Melihatnya, pria pirang itu hanya membulatkan mata.

"Khekhekhe. Kau pikir aku tidak tahu ya kalau selama ini kau selalu mengirimkan secara diam-diam manga buatanmu? Kau ini! Kenapa tidak pernah bilang kalau kau pintar menggambar, Deidara!"

Deidara mengernyitkan dahi, "kau-nya saja yang tidak pernah menyadari, un."

"Eh? Masa' iya sih?" ujar Naruto sembari meletakkan dua lengannya di belakang kepala. Ia kemudian menerima sepiring nasi hangat dengan siraman kuah kari daging yang lezat.

"Dasar. Eh, terima kasih, Shion-chan," Deidara menepuk-nepuk kepala adiknya setelah menerima piringnya, "lalu—" ia melanjutkan, "—bagaimana pekerjaanmu hari ini, un?"

"ITADAKIMASU!" teriak Naruto—mengacuhkan pertanyaan Deidara. Baik Konohamaru dan yang lainnya menyerukan hal yang sama, "eh? Tadi kau bilang apa, Dei?"

"Hm, pekerjaanmu hari ini. Baik-baik sajakah?"

Naruto menyendokkan nasinya dan melahapnya penuh. Senyum bahagia terlukis benar di wajahnya, "ngg... pekerjaan ya? Hari ini kan hari terakhir turnamen Kendo tingkat universitas se-Jepang. Aku yang mantan murid dojo itu diminta tuk jadi petugas kesehatan. Yahh... pekerjaan membosankan seperti biasa. Mengawasi dan mengawasi. Tidak terjadi apa-apa sih. Aku hanya duduk diam di ruanganku dan mendengar bisik-bisik dari radio tentang jalannya pertandingan. Lalu, ada berita yang menyebutkan kalau pemenangnya jatuh dan kemudian aku lari tergesa-gesa—melupakan cup ramen-ku. Sambil berlari seperti orang kesetanan aku mendekati sang juara yang ternyata penderita asma bronchial. Ngg, lalu... aku melakukan CPR, kucium dia padahal dia laki-laki. Dan dia pingsan dan aku—"

"TUNG-TUNGGU DULU! Bisa kau ulang lagi di bagian kau melakukan CPR?"

Ucapan Naruto yang terus menerus berlanjut tanpa titik-koma sambil ia mengunyah nasinya terdengar begitu janggal di telinga Deidara. Sadar, pria pirang itu memotong kata-kata ganjil adiknya.

"—aku melakukan CPR dan hal itu sama saja dengan aku mencium bibirnya, padahal dia itu pri—"

ZIINGG...

"Kau—apa?"

"—aku melakukan CPR dan hal itu sama saja dengan aku mencium bibirnya, padahal dia itu pri—a."

ZIINGG...

"AA! Naruto no Nii-chan mencium laki-laki! Hiiiii!"

Hening sesaat. Burung-burung gagak melintas di atas kepala Naruto. Sendok yang digenggamnya jatuh dan membuat bunyi kelontang nyaring.

'Aku... mencium laki-laki? Aku—mencium laki-la—'

"ARRRGHHHHH! DEIDARA! AKU MENCIUM ORANG ITU! AKU MENCIUM ORANG ITU! AKU MENCIUM—GYAHHH! HOEEKKK..."

Anak-anak kecil itu saling mengeluarkan lidahnya dan cengiran jijik. Suasana yang sempat hening entah bagaimana caranya telah berubah penuh keributan.

Deidara hanya mendesah dan melanjutkan makannya. Prosesi makan malam nan hangat itu pun harus berakhir dengan teriakan-teriakan dan amukan Naruto.

"Diamlah, Naruto! Un! Kalian juga, anak-anak," seru Deidara dengan suara lantang, "jadi, itu hanya CPR kan? Kau hanya ingin menolong orang itu dan kurasa itu sangat wajar."

"Wa-wajar apanya? Aku tidak sadar telah memutuskan tuk memberi CPR pada si-si-si siapa ya namanya itu—de-demo! Dia itu laki-laki! Dan-dan-dan... itu—itu ciuman pertamaku..."

"Hahh..." keluh Deidara. Ia memijit-mijit keningnya yang mulai nyeri.

"GYAAAHHHH!"

Segera, pemuda berambut kuning cerah itu berdiri tegap dan mengambil langkah panjang menuju toilet. Gedebug suara tapak kakinya yang beradu dengan lantai kayu terdengar keras.

"KENAPA AKU BARU MENYADARINYA SEKARANG?"

Sepanjang koridor rumah, suara Naruto bersahut-sahutan menjadi nyanyian sumbang.

Di lain pihak, satu anak kecil yang baru saja terbangun dari tidurnya hanya mengucek-ucek mata sembari menatap lugu. Euphoria anak-anak lain di sekitarnya ampuh menjadi ramuan yang mampu membangunkannya dari alam mimpi. Setelah mendapatkan penjelasan yang lebih mirip teriakan dari Inari, Shikamaru hanya bengong.

"Ngg, memangnya... CPR itu apa?"

-.-

Suara sapaan yang sedari tadi ditunggu pemuda ini belum sama sekali terdengar. Hanya ritme khas saluran telpon yang berbunyi pelan. Dari balik telpon rumah di ruang makan, Uchiha Sasuke mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja telpon dan bersandar pada dinding keramik. Sesekali, ia melirik ke arah dapur, mengawasi alih-alih ibunya telah selesai mencuci piring. Pemuda ini memutuskan tuk segera menelpon kakak lelakinya yang menetap di Sydney seusai menghabiskan kudapan malamnya. Di rumah sendiri bersama ibunya, tanpa ayah yang kini menyusul putra sulungnya itu di Sydney sudah menjadi rutinitas sehari-hari Sasuke. Bahkan, ia sudah berkali-kali ditinggalkan sendirian di rumah.

"Hello."

Akhirnya, batin Sasuke.

"Hai, aniki. Ini aku."

Diam.

"Ah! Sasuke ya? Tumben menelponku. Apa Kaa-san yang menyuruhmu, eh?"

Nyengir, Sasuke hanya berdehem.

"Haha. Aku sudah tahu itu. Kau ini. Kalau mau curhat ke aniki, telpon saja kapanpun kau mau. Tidak usah menunggu disuruh Kaa-san."—Itachi menahan tawa. Bisa dipastikan Sasuke memerah karena malu.

"Curhat? Curhat apanya? Aku cuma mau bilang Omedetou untuk kelulusan program master-mu besok, nii-san." imbuh si bungsu Uchiha ini. Ia berbalik mengamati beberapa kumbang yang menempel di kaca jendela. Anak-anak rambutnya tersapu oleh angin malam.

Itachi tersenyum, "sankyuu, otouto. Apa hanya itu?"

Shot. Nampaknya, insting seorang kakak tak bisa diacuhkan begitu saja. Itachi sudah tahu Sasuke ingin banyak berbincang dengan kakaknya ini, "nii-san..."

"Hm? Aku mendengar, otouto."

"Aku—"Sasuke menahan suaranya. Ia menggigit kulit pipi bagian dalam. Ekot matanya kembali melirik ke arah dapur, "—sebenarnya, aku ingin kuliah di luar, sama sepertimu dulu dan sekarang. Tapi—aku berhenti memaksa Kaa-san dan Tou-san. Guess what, saat aku selesai berdebat dengan Tou-san tentang alasanku yang ingin sekolah ke luar, Kaa-san pasti menangis. Jadi, aku mengalah dan... here I am."

Sang kakak menahan senyumnya. Ada tawa kecil yang tercekat di tenggorokannya untuk sesaat. Seperti biasa, ia sudah bisa memerkirakan hal apa yang ingin diungkapkan Sasuke. Kalau bukan masalah edukasi, ya tentang pendidikan. Eh? Bukannya itu sama saja ya.

"Aku iri padamu, aniki."

Terdengar lemah tapi begitu menusuk. Itachi tak memungkiri bila kata itu pasti akan keluar dari bibir adiknya. Sejauh apapun ia berusaha menghindar, seorang kakak selalu menjadi dinding tertinggi yang ingin dicapai oleh seorang adik. Itulah hukum postulat milik Uchiha bersaudara ini.

"Kau selalu mendapatkan apapun yang menjadi pilihanmu, tak peduli kau akan gagal karena pilihan itu. Tapi, setidaknya... kau bebas."

Bebas? Hati kecil Itachi seperti dicubit. Sebuah kata yang ingin mengoyak masa lalunya.

"Kau tahu, otouto, setiap orang tua selalu memiliki alasan untuk semua keputusan mereka, terlebih bila itu berhubungan dengan masa depan anak-anaknya. Kaa-san pun demikian. Sasuke—"

Pendulum berputar perlahan. Memori itu mencuri perhatiannya sesaat. Ia terdiam dan tak menjawab apapun. Didengarnya beberapa kata dari balik saluran telepon, namun diabaikannya. Itachi hanya terlalu berharap bila semua yang dikatakan oleh adiknya hanya kebohongan. Bukankah yang menginginkan kata kebebasan itu adalah ia—Itachi?

"—saat kau lahir, aku sangat senang. Aku akhirnya menjadi seorang kakak. Waktu itu, aku masih duduk di bangku sekolah dasar tingkat satu. Sebagian besar teman kelasku sudah memiliki adik saat itu. Aku begitu iri dengan mereka. Hingga suatu hari, kau pun lahir. Aku nyaris tidak ingin meninggalkan Kaa-san yang terbaring di kasur rumah sakit. Aku berharap dengan terus menemani Kaa-san maka kau akan benar-benar lahir. Tepat tanggal dua puluh tiga Juli, aku yakin aku tak mendengar tangisanmu—"

"—kau tahu kenapa, otouto?"

Sasuke kembali mengarahkan mata oniksnya ke arah kumbang yang beterbangan dari kubikel jendela. Warna kekuningan cerah mewarnai pandangannya.

"—lehermu terikat oleh tali pusar dan air ketuban ibu masuk ke dalam paru-parumu—"

'Ap-Apa?'

"—itulah alasan kuno yang membuatmu mengidap penyakit menyusahkan itu, otouto." Itachi membiarkan adiknya menyimpulkan. Ia terdiam, kemudian melanjutkan.

"Kau juga memiliki gen alergi untuk beberapa jenis makanan. Itu sangat tidak menyenangkan, bukan? Apalagi... Valentine sudah dekat" Tawa kecil keluar dari bibir Itachi. Sasuke hanya berdehem ringan. Kepalanya tertunduk dalam, "kau pasti bisa paham maksud kata-kataku ini. Karena itulah Kaa-san dan Tou-san lebih—"

"—menyayangimu daripada aku."

Kerutan halus terlihat di kulit tangan pucat pemuda Uchiha itu. Sadar, ia terlalu keras menggenggam gagang telepon kabel. Sayup-sayup, angin yang menembus dari kubikel jendela makin mendinginkan suhu ruangan. Lampu ruangan meredup sesekali. Sasuke membiarkan tubuhnya membatu bak patung. Ia hanya terlalu terkejut.

Ada yang salah dengan kata-kata Itachi, pikirnya. Setidaknya, kata-katanya terlalu gamang dan rancu. Sungguh salah dan ia ingin menepis bahwa yang didengarnya juga kebohongan.

"Kaa-san dan Tou-san selalu menginginkan yang terbaik dari anak-anaknya, otouto. Jangan salahkan keputusan mereka. Aku yakin, suatu saat nanti, mereka akan benar-benar melepaskanmu dari sangkar ini." Tawa yang dalam mengejutkan Sasuke. Ia yakin Itachi lebih mampu memaknai segala hal yang mungkin terlihat begitu klise.

"Apa—"

"Ya?"

"—kau tidak marah, aniki?"

"Hm? Kurasa tidak. Untuk apa aku marah dan cemburu pada adikku sendiri, Sasuke. Kau mungkin berpikir terlalu sempit. Seseorang harus lekas mengubah sisi kekanakannya begitu mereka telah menjadi kakak, otouto. Dan, meski sedikit sulit pada awalnya, aku menerimanya dengan senang hati. Sebab, di dunia ini, kita hanya berdua. Bila Kaa-san dan Otou-san sudah tak ada, maka yang kau miliki hanya aku. Benar kan?"

Ya.

"Tetaplah di sana hingga Kaa-san masih mau mengubah kekhawatirannya. Aku yakin, kalau kau sudah punya kekasih kelak, maka kau akan sege—"

"Ap-apa? Kekasih? Ja-jangan bercanda!" potong Sasuke. Garis-garis samar kemerahan mewarnai pipinya.

"Haha. Makanya, cepatlah kau cari—"Itachi menggerak-gerakkan kelingkingnya dari balik saluran telepon, "—lalu, kau perkenalkan pada Kaa-san, maka—"

"Kau bicara begitu seakan-akan kau akan menikah saja, aniki!" kilah Sasuke tak mau kalah. Itachi dibuat terkejut.

"Oh. Aku memang sudah memperkenalkan 'calon'-ku pada Tou-san kok."

Kali ini, Sasuke tak bisa menahan keterkejutannya, "ussoyaro!"

"Memangnya sejak kapan aku berbohong pada adikku, hm? Tadi siang, selepas acara temu orang tua, aku memperkenalkan calon-ku—ah ya, namanya Haruno Sakura. Nama yang bagus, kan?"

Sang sulung Uchiha kembali mencairkan suasana yang sempat menegang. Sasuke pun dibuat kaget dengan pernyataan Itachi yang terkesan begitu enteng itu. Pekikan demi pekikan yang lagi-lagi un-Uchiha terlontar begitu saja dari bibir Sasuke. Mendengar ada yang mulai tidak beres, Mikoto masuk ke dalam ruangan itu dan melirik putra bungsunya yang sedang melotot sembari berpose menolak pinggang.

"JANGAN BERKATA SEMBARANGAN! AKU BELUM PUNYA PACA—"

"Hee? Sasuke-chan sudah punya pacar? Sini, sini—" Mikoto menarik paksa gagang telepon yang digenggam Sasuke. Kini, suara wanita mulai membuat Itachi kebingungan, "—ne, Ita-kun, Sasuke-chan sudah curhat apa saja denganmu. Sepertinya—"Mikoto kembali melirik wajah putra bungsunya yang aneh. Kerutan kasar terlihat di antara dua alis hitam Sasuke, "—pembicaraan kalian seru sekali. Apa Kaa-san meninggalkan sesuatu, eh?"

"Ah, Kaa-san ya? Hmm, katanya sudah ada tuh." ujar Itachi polos. Entah apa yang sedang ditertawakannya dari balik saluran telepon.

Sedikit mendengarnya, Sasuke memekik, "jangan berbohong, aniki!"

"Yare, yare..." keluh Itachi dan Mikoto bersamaan.

Keunikan keluarga Uchiha adalah sebuah berkah. Sebab, takdir selalu berkata lain di jalan hidup mereka...

"Ah, aku lupa. Katakan pada Sasuke kalau aku menyayanginya, Kaa-san. Dan... Happy Valentine untuk otouto-ku."

Mikoto tersenyum meski mendapati wajah Sasuke yang bersungut-sungut.

"Iya."

Perbincangan antara anak dan ibu itu pun berlanjut hingga larut malam...


To Be Continued


Ada yang tanya soal CPR ya? CPR adalah singkatan untuk Cardiopulmonary Resucitation. Biasanya, disebut resusitasi saja. Diberikan pada pasien henti nafas maupun henti jantung secara mendadak. Di setiap lima belas kali resusitasi, akan diberikan satu kali pernafasan bantuan. Pernah lihat film serial Bay Watch? Nah, banyak scene di film itu yang memperlihatkan cara melakukan CPR. =)

Secara tidak langsung, CPR bisa mengambil 'first kiss' seseorang lho. Fufufu...

Don't worry. The next chap won't take long time to update too. =)

See ya!