terima kasih atas review dan sarannya di fic ini.

dan entah kenapa banyak sekali yang mengkritik ketika Naruto bertemud dengan tuhan.

Jujur saja itu hanya Imajinasi saya saja dan jangan terlalu dibawa serius. saya dapat itu ketika saya sudah nonton anime Angel Beats yang dimana mereka mencoba untuk bertahan dari takdir kejam yang menimpa mereka. dan jika saya diposisi Naruto mungkin (Ingat cuma Mungkin) saya juga akan berkata seperti itu.

yah hanya itu saja dan Enjoy


Chapter 2

Di dalam sebuah hutan yang cukup rindang. Dengan aliran sungai jernih yang mengalir tenang. Malam yang indah dengan langit yang bertaburkan bintang. Angin dingin yang menghembus pelan memasuki pori-pori kulit. Disisi aliran sungai memperlihatkan seorang pria berumur 30 tahunan. Memiliki rambut hitam dengan poni berwarna emas. Yang ia lakukan sekarang hanyalah berjongkok ditepian aliran sungai dengan memegang sebuah pancingan.

Yah benar dia sedang memancing disana!.

Ia juga sedikit agak kesal karena pancingannya tidak ada yang menyahut. Sudah sedari tadi ia berjongkok disana menunggu pancingannya. Menunggu ada ikan yang menggigit kail pancingannya. apa mungkin ikan-ikan takut padanya karena wajahnya itu. Yah… ia juga tidak tahu sih alasan kenapa kail pancingannya tidak ada yang menyahut. Sekarang yang biasa ia lakukan hanya kembali menunggu, menunggu ada ikan yang terjerat di kail pancingannya

Tapi sayangnya acara memancingnya harus sedikit terganggu dengan munculnya sebuah pusaran angin kecil disampingnya. Perlahan pusaran angin itu menampakan seorang pemuda yang baru menginjak usia remaja. Ia terlihat memakai sebuah mantel panjang berwarna biru dengan tiga ekor, tiga pola ular kecil berwarna putih dikanannya dan sebuah tudung yang menutupi kepalanya. Dipunggungya terpampang jelas sepasang pedang untuk satu tangan. Dan soal wajahnya ia tampaknya menyembunyikannya dibalik sebuah topeng.

"Kurotsuki… kau datang juga akhirnya".

Pria berponi emas membuka suaranya, seraya bertanya pada sosok disampingnya yang bernama Kurotsuki itu. Ia sengaja memberi jeda saat menyebutkan nama pria disampingnya. Pandangannya masih tertuju pada sungai yang ada didepannya.

Kurotsuki, nama pemuda tersebut hanya terdiam sebentar. pandangannya tertuju pada pria disampingnnya itu. Sedikit lama ia memandang pria itu sebelum ia mengalihkan pandangannya pada seluruh sungai didepannya.

"jadi… apa maumu… Azazel?. Pemuda bernama Kurotsuki itu akhirnya membuka suaranya pada sosok disampingnya dengan nada monotonnya.

Pria yang diketahui bernama Azazel itu terdiam sejenak, seraya pikirannya masih terfokus pada kail pancingannya itu. Ketika ia merasakan tarikan dari pancingannya tersebut ia segara menariknya dengan sekuat tenaga. Tapi sayang seribu sayang, ketika ia melihat kail pancingannya itu tidak ada ikan satupun yang menyangkut di kail pancingnya. Ia pun kembali melempar kail pancingnya kesungai berharap ia akan mendapatkan sebuah ikan.

"Aku ingin kau mengawasi seorang pemuda...!". ia kembali memberi jeda pada kalimatnya itu.

"Seorang pemuda yang bersekolah di Kuoh gakuen di kota ini!".ia pun akhirnya menyelesaikan ucapannya itu.

"Siapa nama pemuda itu… Azazel".

Jujur saja Kurotsuki tidak suka dengan cara Azazel berbicara. Menurutnya cara Azazel berbicara itu terkadang blak-blak kan dan membuang waktunya. Ia juga memiliki banyak urusan disana-sini. Ia adalah tipe orang yang tidak mau membuang waktu, karena waktu itu penting, walau sedetikpun.

"Nama pemuda itu adalah…".

"Hyodou Issei".

Azazel akhirnya mengungkapkan siapa nama pemuda itu. Pemuda yang bernama Hyoudou Isseilah yang ingin ia awasi. Kurotsuki tidak tahu apa tujuannya menyuruh dia untuk mengawasi pemuda itu. Hyoudou Issei, kalau tidak salah ia pernah mendengar nama itu. Seorang pemuda mesum tingkat akut yang mendambakan apa yang namanya Harem. Dengan dikelilingi oleh wanita cattik dan seksi setiap harinya.

Menjijikan.

Itulah yang terucap dalam batin Kurotsuki ketika ia mengetahui pemuda bernama Hyoudou Issei tersebut.

"Hyodou Issei, 'kah. Jadi kenapa kau memintaku untuk mengawasi pemuda tersebut?.

Jujur saja Kurotsuki tidak tahu kenapa ia harus mengawasi pemuda itu. jika disuruh untuk mencari sebuah informasi ia akan menjalankannya. Tapi pertanyaannya adalah kenapa ia harus mengawasi pemuda itu. Pemuda yang terkenal akan kemesumannya itu. Apa ia mempunyai kemampuan khusukah? Ia tidak tahu itu. Yang pasti ia mempunyai semacam itu dalam tubuhnya.

"Belakangan ini, aku selalu merasakan aura yang sudah lama kukenal dalam tubuhnya. Sebuah aura yang mengingatkanku akan masa lalu. Sebuah aura yang belum bangkit dalam tubuhnya itu. Karena itulah aku memintamu untuk mengawasinya. Dan beritahu aku apa yang akan terjadi padanya kelak ketika ia menyadari aura itu. dan jangan membantunya ketika dia mendapat masalah". Ia pun secara panjang lebar menjelaskan alasan kenapa ia ingin mengawasi Hyoudou Issei itu.

Jika memang ia mempunyai aura seperti itu, kemungkinan besar banyak dari mereka yang menginginkan kekuatan itu. Kekutan tersembunyi yang belum bangkit dari tubuhnya, dan ketika kekuatan itu bangkit dalam tubuhnya, apa yang kan terjadi padanya kelak ketika ia membangkitkan kekuatan itu? memikirkannya juga tidak gunanya sama sekali, yang pasti ini mungkin sedikit menarik.

"Baiklah kalau itu maumu… Azazel".

Setelah berucap seperti itu, perlahan pusaran angin lembut tercipta dimata kanannya. Perlahan pusaran angin itu menelan tubuhnya, meninggalakan Azazel yang sedari tadi hanya fokus pada salah satu kegiatannya itu.

0o0o0o0o0

Krrrriiiiinnnggg!

Pagi yang indah dengan matahari yang bersinar terang. Kicauan burung indah yang bersemi di pagi hari, ditambah dengan suara khas jam weker yang bising. Sinar matahari yang terik mencoba untuk menembus sebuah gorden jendela di suatu rumah. Membuat sang figur yang tengah tertidur pulas harus terbangun dari tidurnya itu. Figur yang diketahui memiliki tambut merah cerah tersebut kemudian beranjak dari kasurnya, sedikit meregangkan tubuhnya agar badannya kembali segar. Figur itupun kemudian mengambil jam weker yang ada disampingya, berniat melihat jam berapa sekarang.

"Baru jam 6, masih ada waktu sekitar satu jam setengah lagi untuk pergi kesekolah." Figur itupun meletakan kembali jam wekernya ketempatnya.

Figur itupun kemudian mengucek matanya, untuk menghilangkan kotoran yang menempel di sela-sela matanya. Ia pun kemudian langsung beranjak pergi ke kamar mandi, melakukan ritual paginya untuk pergi kesekolah. Setelah 30 menit dikamar mandi akhirnya ia keluar dari kamar mandi tersebut dengan handuk yang melilit dipinggang. Iapun kemudian mengambil baju sekolahnya dari dalam lemari pakaiannya, berniat langsung memakai pakaian sekolahnya.

Tak berselang lama akhirnya ia selesai dengan pakaian sekolahnya itu. Pakaian sekolahnya terdiri dari kemeja berawarna putih bergaris-garis dengan pita hitam dikerah, ditutupi dengan sebuah blazer berwarna hitam denagn tambahan motif putih dikerah, celana panjang berwarna hitam dan sepatu coklat.

Selesai dengan pakaiannya ia kemudian pergi kedapur, berniat membuat sarapan pagi sebelum berangkat ke sekolah. Selesai membuat sarapannya, ia kemudian meletakannya dimeja makan. Ia pun langsung memakan sarapannya itu yang terdiri dari semangkuk nasi, telur mata sapi, daging sapi, dan sayur yang ditumis. Setelah selesai memakan sarapannya itu, ia kemudian membawa perlatan makannya kedapur untuk dicuci setelah ia pulang sekolah nanti.

Dirasa sudah cukup ia kemudian mengambil tasnya yang berisi buku-buku pelajaran yang berada dikamarnya, setelah selesai mengunci pintu rumahnya, ia kemudian pergi menuju sekolahnya yang bernama Kuoh Gakuen. Berjalan dengan santai menuju sekolahnya ia bisa menemukan orang-orang yang menyapanya, tak lupa beberapa siswi yang bersekolah bersamanya. Figur tersebut hanya membalas semua sapaan itu dengan ramah dan sopan pada semuanya.

Oh ya ada yang lupa, sedari tadi figur tersebut belum dikenalkan namannya, 'kan?.

Figur yang sedari tadi diceritakan bernama Akashi Naruto. Bukanlah Uzumaki Naruto yang dulu pernah terbunuh oleh seseorang. Alasan kenapa ia mengganti marganya adalah, tentunya ia membenci marga itu. Setelah ia direinkarnasi kedunia ini, ia sedikit mengalami perubahan dimatanya, yakni bukan mata violet yang indah, melainkan mata berwarna ruby merah dengan pupil vertikal. Ia pun kemudian mengganti marganya sendiri menjadi Akashi. kanji 赤=Aka, yang berarti merah yang mengisyaratkan warna rambutnya, dan kanji 司=Shi, yang berarti penguasa/raja.

Dan kalau digabungkan nama marganya bisa berupa penguasa berambut merah atau semacamnya. Meskipun ia hanya mengganti nama marganya saja itu sudah cukup baginya, ia cukup nyaman dengan nama depan Naruto, meskipun itu adalah nama pemberian orang tuanya yang ia benci, tapi yah sudahlah memikirkan nama jangan dibuat risih, yang kau perlukan hanya cukup merubah nama margamu saja, karena didunia ini banyak sekali nama yang mungkin ada nama yang mirip denganmu itu.

Soal kenapa ia mengganti marganya, hanya ada satu alasan untuk itu semua. Karena ia bertemu seseorang saat ia mulai menapakan dirinya kembali kebumi. Seseorang yang dengan senang hati merawatnya, meskipun baru pertama kali ia bertemu dengannya.

Flashback

Hujan yang sangat deras menghujani sebuah kota. Diselingi dengan suara kilat yang menyambar-nyambar dari langit yang sangat gelap. Hembusan badai angin yang kuat menerjang apa saja yang dilewatinya. Disisi jalan tampak seorang anak berusia sekitar 10 tahun. Dengan rambut berwarna merahnya yang basah oleh air hujan. Ia berjalan sambil memegangi perutnya dengan wajah menununduk kebawah. Menahan rasa dingin yang menusuk ke kulit dengan cara memeluk dirinya sendiri. Ia terus melangkahkan kakinya kedepan, mengikuti arah jalan yang ada didepannya. Langkahnya terhenti ketika ia melihat sebuah kedai makanan. Kedai tersebut menjual aneka makanan Sushi dan Sashimi. mendongakan kepalanya keatas, untuk melihat papan bergambar Sashimi yang ada diatas kedai tersebut, sebelum akhirnya keseimbangannya jatuh ketanah.

Ia terkapar didepan kedai makanan itu dengan sedikit kesadaran dimatanya. Entah apa yang akan terjadi nanti padanya ia tidak tahu, apa yang bisa dilakukan anak sepuluh tahun sepertinya?. Tidak ada sama sekali. Ia mencoba untuk membuka matanya dan memcoba bangkit dari sana, tapi rasa lelah dan laparnya menguasai dirinya, ketika ia akan kehilangan kedarananya, pancaran matanya tak sengaja melihat seseorang yang mendekat padanya. Sayangnya rasa gelap mulai menyelimuti matanya ketika ia akan melihat wajah orang didepanya itu.

Perlahan ia mencoba untuk membuka matanya itu, mencoba mencocokan dengan cahaya lampu yang menyinari matanya. Akhirnya kesadarannya terbangun, mencoba melihat kesamping ia bisa melihat dinding rumah berwarna coklat. Ia tidak tahu ia berada dimana sekarang, yang ia ingat hanyalah ketika ia akan kehilangan kedarannya saat ia berada disebuah kedai

Srekk!

Melihat kekanan, ia bisa melihat seorang wanita yang membuka pintu ruangannya. Seorang wanita yang sepertinya berumur 25 tahunan. Ia memiliki rambut merah sama seperti dirinya,entah ini kebetulan atau apa, tapi kontras warna rambutnya sams seperti dirinya.

"Kau sudah sadar, bagaimana keadaanmu?". Ucapnya dengan lembut padanya.

"A-aku baik-baik saja". Ucap anak itu dengan sedikit gugup.

Anak kecil tersebut perlahan mencoba untuk bangkit dari kasur Futonnya. dengan sedikit menahan rasa sakit ditubuhnya, tapi langsung dicegah oleh wanita didepannya.

"Jangan terlalu banyak bergerak dulu!, tubuhmu masih lemah, kau harus banyak istirahat dulu". Ucapnya mencegah anak itu untuk bangkit.

Anak kecil itupun kembali tertidur di kasur Futonnya. Bisa dilihat ada lilitan perban dikepalanya, sepertinya kepalanya juga sedikit mengalami rasa sakit.

"Jadi, siapa namamu, 'nak?. Ia mencoba untuk menanyakan siapa nama anak yang ia temui didepan kedainya.

"Na-Naruto". Ucapnya

"Jadi, Naruto kalau boleh tahu diamana orang tuamu, dan apa margamu?". Ia kembali menanyakan pada anak itu yang diketahui bernama Naruto, ia ingin tahu siapa nama orang tua anak ini dan apa marganya.

"…".

Hening

Naruto tidak membalas pertanyaan wanita tadi, ia lebih memilih menundukan wajahnya kebawah. Pertanyaan tentang orang tua agak sensitif ditelinga Naruto. Mengingat apa yang terjadi padanya dulu masih tertera dihatinya. Wanita tersebut agak sedikit risih dengan perubahan atmosfer didalam ruangan ini ketika ia ingin menanyakan siapa orangtua anak ini. Dalam benaknya, apa mungkin anak ini sebatang kara atau anak yang dibunag oleh keluarganya, ia tidak tahu itu.

"A-aku tidak punya keluarga… A-aku sebatang kara, lagipula aku tidak punya arah dan tujuan untuk hidup". Ucap Naruto dengan nada pelan, ia masih menundukan wajahnya kebawah.

Sepertinya pertanyaan wanita itu terjawab sudah, sekarang ia mengetahui bahwa anak ini seorang yatim piatu. Entah itu karena ia dibuang atau karena ada tragedi tertentu yang membuatnya kehilangan orangtuanya.

"Kalau kau mau, kau boleh tinggal disini, dan jangan bilang kau tidak punya arah dan tujuan. Setiap manusia pasti punya yang namanya tujuan dalam hidup mereka". Ucap wanita itu sambil menawarkan tempat tinggal untuk Naruto.

Naruto yang mendengarnya secara spontan langsung mengangkat wajahnya secara perlahan untuk melihat wajah wanita didepannya. Hanya sebuah senyuman tulus yang Naruto dapatkan ketika ia melihat wajah wanita didepannya.

"Benarkah, tapi aku takut membebani anda". Ada sedikit rasa bahagia dalam nada ucapannya itu. Tapi masih ada keraguan didalam benak hatinya, ketika ia mendapat tawaran dari wanita didepannya.

"Aku tidak masalah akan hal itu. Sejujurnya aku harap kau bisa tinggal disini setelah aku mendengar ceritamu itu. Dan kalau boleh, maukah kau mendengar cerita tentangku?". Ucapnya kembali pada Naruto. Naruto yang mendengarnya hanya mengangguk.

"Begini Naruto-kun, sejujurnya aku merasa sepi tinggal sendiri dirumah ini. Suamiku meninggal karena sebuah penyakit yang sudah lama bersarang pada tubuhnya. Dan aku juga tidak dikaruniai seorang anak ketika suamiku masih hidup. Aku sangat kesepian tinggal seorang diri disini. Aku sempat berpikir untuk mencari suami baru, tapi aku masih belum bisa melupakan kepergiannya. Karena itulah aku sangat menerimamu disini".

Naruto yang mendengar itu tidak tahu harus berkata apa, sejujurnya ia tidak tahu harus berkata apa ketika mendengar cerita wanita didepannya itu. Ia juga bisa melihat raut wajah kesedihan dari wanita didepannya itu. Ingin sekali ia menerima tawaran wanita didepannya itu, meskipun hatinya masih ragu untuk mengatakan apa yang diinginkannya. Akhirnya ia membulatkan pikirannya itu untuk mengeluarkan kata-kata yang sedari tadi ada dalam pikirannya.

"Ka-Kalau begitu… tolong ijinkan aku tinggal disini!". Ucapnya sedikit berteriak.

Wanita tadi yang mendengarnya sedikit terkejut dengan jawaban Naruto. Ia tidak tahu apa ia harus senang atau tidak atas jawaban Naruto. Sedangkan Naruto wajahnya sedikit menunuduk dengan rona merah dipipinya.

"Ha'i, dengan senang hati, Naruto-kun". Ucapnya lagi dengan nada lembutnya yang seperti seorang ibu.

"Oh ya, ngomong-ngomong aku belum memperkenalkan namaku. Namaku adalah Akashi Miya, mulai hari ini kau akan tinggal disini, dan juga kau boleh memanggilku Okaa-san, bagaimana?". Terdapat nada kebahagiaan dalam ucapan wanita itu yang diketahui bernama Akashi Miya. Ia juga menawarkan pada Naruto untuk memanggilnya Okaa-san.

"Okaa-san, tapi itu agak…". Naruto tidak melanjutkan ucapannya itu, ia lebih memilih mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"Tidak apa Naruto dan lagipula…". Ia kemudian perlahan mendekati Naruto, memegang sebagian rambutnya dan mendekatkan sebagian rambutnya dengan rambut Naruto."Entah kenapa kita mempunyai rambut dengan warna yang sama, entah ini kebetulan atau apa". Ucapnya sambil menyamakan rambutnya dengan rambut Naruto. Miya juga bisa melihat mata Naruto yang menurutnya indah. Merah seperti manik ruby dengan pupil vertikal.

"Dan juga mulai sekarang namamu adalah Akashi Naruto, mulai sekarang ini kau adalah anakku, Naruto!

"Ha'i Okaa-san". Naruto dengan semangat menjawab nama Barunya itu.

Hangat.

Itulah yang terasa didalam hatinya sekarang, ketika Miya mau mengangkatnya sebagai seorang anak. Ia juga mendapat marga yang sama seperti Miya, yaitu Akashi. Hatinya yang dulu bagaikan pecahan kaca entah kenapa mulai kembali tersusun. Hidup baru sebagai Akashi Naruto mungkin akan dimulai hari ini.

Kruuucchuukkk!

Suara aneh perlahan terdengar dari perut Naruto. Merasakan itu Naruto hanya bisa memegang perutnya dengan wajah merah padamnya. Miya yang mendengar itu hanya tertawa lembut ketika mendengar suara itu. Ia pun kemudian mengambil satu set makanan yang ia bawa tadi.

"Ini Naruto-kun makanlah, kau pasti lapar sekali. Apa kau mau aku suapi?".

Iapun kemudian menyodorkan semangkuk makanan. Bisa dilihat itu adalah sebuah bubur nasi lengkap dengan lauk pauknya. Mendengar kata disuapi, entah kenapa ia ingin menolak itu, tapi sayangnya iaa sudah terlambat. Bisa dilihat bahwa sendok itu sudah tersiap ditangan Miya.

"Ini Naruto buka mulutmu, Aaaa~". Narutopun hanya bisa menuruti saja. Meskipun begitu ia sedikit senang dengan perlakuan Ibu nya. Ia juga belum pernah merasakan makanan yang disuapai oleh seorang ibu, mengingat kehidupan dulunya yang kelam itu seperti mustahil baginya.

Naruto bisa milihat mata berwarna manik biru keungu-unguan itu, ada pancaran kebahagian dimata tersebut. Mengingat Miya tak punya anak dan ditinggalakan oleh suaminya, pasti hidupnya sangat hamap tak terisi. Sepertinya tuhan telah mengirim Naruto pada Miya agar mereka bisa mengisi kekosongan hati mereka yang penuh akan lubang hampa.

Kehidupan Naruto mulai berubah sejak ia tinggal dengan Miya. Ketika umurnya beranjak memasuki umur 13 tahun Ia pun dianjurkan sekolah menengah SMP oleh Ibunya, ketika ia mulai masuk SMP ia sudah menunjukan bakat dan kejeniusannya itu, banyak anak dari cewek yang mengidolakannya dan para pria yang iri padanya, tapi tak semua pria iri dengannya, ada juga yang mau berteman dengannya, dan sepertinya Naruto mulai menyukai apa yang namanya olah raga Basket Ketika ia tak sengaja bermain dengan temannya itu. Ia juga selalu membantu ibunya dalam bisinis kedai Sushinya, mengingat Miya yang sendiri mengurus kedainya itu membuat pekerjaannya sedikit terkurang dengan bantuan Naruto. Miya sangat bersyukur dengan datangnya Naruto pada kehidupannya yang hampa. Dengan datangnya Naruto hidupnya jadi lebih berwarna.

Senyuman.

Senyuman yang tak pernah terukir diwajahnya akhirnya mucul. Sebuah senyuman kebahagiaan yang tak pernah ia tunjukan pada siapapun, senyum senang dan bahagia, semuanya menjadi satu. Ia ingin seperti ini terus untuk selamanya. Ia yang dulu tak pernah merasa sesenang ini ketika ia berada didunia Ninja, yang bisa ia tunjukan hanyalah raut wajah kecewa dan putus asa akan hidupnya.

Naruto yang juga Ninja dimasa lalu tak lupa untuk melatih tubuhnya itu. Mengingat ia terlahir sebagai anak kecil berumur 10 tahun, sepertinya ia harus mengulang latihannya diawal lagi. Untuk soal latihan sebenarnya ada sebuah bukit yang ada dikota tempat mereka tinggal, menemukan tempat yang bagus Naruto tidak menyiyakannya, bukit itu jarang ada manusia yang pergi kesana, mungkin orang-orang pada malas untuk menaiki bukit tersebut yang tanahnya sedikit terjal. Tapi lainnya hal bagi Naruto, karena semua itu adalah menu latihannya.

Dan ia sepertinya menemukan fakta bahwa dirinya bisa menggunakan Sharingan, mata terkenal milik Uchiha, dan lebih hebatnya lagi matanya telah berevolusi menjadi Eien Mangekyo Sharingan yang membuat matanya tidak akan mengalami kebuataan saat menggunakan kekuatan mata tersebut.

Untuk soal elemen yang ia kuasai ia masih memiliki elemen tanah dan air, tambahan elemen api karena ia mempunyai Sharingan. Untuk elemen angin ia kehilangan elemen tersebut, mungkin terganti dengan elemen api yang ia dapatkan.

Selama empat tahun Naruto terus melatih kekuatan barunya itu. ia juga memakai sebuah Bunshin ketika ibunya membutuhkan bantuannya dalam mengurus kedai. Dalam latihannya itu ia sudah menguasai empat teknik mata terkuat Sharingan, yaitu Tsukuyomi, Amaterasu, Susano'o, dan Kamui. Untuk elemen dasarnya ia sudah menggabungkan elemnya itu, yakni elemen kayu, ia juga tidak tahu kenapa ia bisa mengusai elemen kayu yang katanya hanya milik Shodaime Hokage, tapi siapa yang peduli akan hal itu, malah ia bersyukur bisa menguasai elemen kayu itu.

Soal dunia barunya, Naruto mengerti apa maksud Kami-sama tentang dunia yang dihuni oleh mahluk yang hampir sejenisnya. Dalam hidupnya Naruto sudah tahu bahwa dunia ini diisi oleh tiga fraksi, Yakni, Tenshi, Da-Tenshi, dan Akuma.

Untuk informasi ini dia daptkan dari salah satu malaikat jatuh yang kebetulan mengincarnya, ia tidak tahu kenapa malaikat jatuh itu mengicarnya, mungkin ia tertarik dengan kekuatan yang ada pada Naruto. Namun naas bagi malaikat jatuh itu, ia harus berakhir dengan melihat ilusi mengerikan dari Naruto. Tak lupa Naruto juga mengorek semua informasi dari malaikat jtuh tersebut, setelah ia mendapatkan semua informasi dari malaikat jatuh tersebut, ia kemudian membakar mahluk tersebut dengan Amaterasu miliknya.

Tentu saja ia punya alasan kenapa ia membunuh mahluk tersebut. Jika dibiarkan hidup sudah pasti ia akan menjadi incaran mereka semua. Memastikan tidak ada saksi mata yang melihat peristiwa yang terjadi padanya, ia langsiugn menggunakan Kamui untuk pergi dari lokasi pertempuran dirinya dengan malaikat jatuh itu.

~•~

Diam.

Kali ini ia hanya bisa terdiam, terdiam ketika melihat ibunya hanya bisa terbaring dikasur Futon. Ia hanya diam disamping ibunya dengan handuk yang dicelup dengan air dingin yang ada dikepalanya, ya saat ini ibunya sedang sakit deman. Tapi entah kenapa hatinya seolah berkata ini bukanlah demam biasa, seperti sesuatu yang menyedihkan akan terjadi, menggelangkan kepalanya ketika ia memikirkan itu, ia hanya bisa berharap bahwa ibunya bisa sembuh. Naruto sempat mengajak ibunya untuk pergi kedokter, tapi ibunya berkata bahwa ini hanya deman biasa, tapi ini sudah dua minggu ibunya terkena penyakit ini.

"Okaa-san apa sebaiknya kita pergi kedokter. Mengingat ini sudah dua minggu Okaa-san sakit?.

Namun sang ibu hanya bisa tersenyum mendengar nada kekhawatiran anaknya. Naruto yang melihat senyuman sang ibu entah kenapa dadanya terasa sakit. Senyum itu, seperti sebuah senyum perpisahan.

"Tak apa Naruto, aku pasti akan sembuh". Ucapnya dengan nada pelan.

Miyapun kemudian mengangkat tangan kanannya, menyentuh pipi Naruto dan kemudian membelainya. Kedua tangan Naruto dengan pelan memgang tangan ibunya itu. Miya masih dengan senyum bahagianya melihat keibaan Naruto padanya.

"Naruto… aku sangat bersyukur atas keberadaanmu dalam hidupku. Memberi cahaya baru dalam hidupku ini yang penuh akan gelapnya rasa hampa…". Pandangan mata Miya kemudian teralih pada sebuah Foto, didalam Foto itu terlihat senyuman bahagia Naruto dan Miya ibunya.

Entah kenapa ucapan ibunya ini layaknya ia akan pergi selama-lamanya, meninggalkan semua kenangan indah bersama Naruto.

"Naruto, maafkan aku jika aku tak bisa melihatmu menjadi dewasa Uhuk!. Uhuk!…". Ucapannya diselingi dengan suara batuk dari mulutnya.

Perlahan air mata keluar dari pelupuk mata Naruto, air mata yang ia coba pendam ketika mendengar ucapan Ibunya, tapi ia tak kuasa untuk menahan air matanya. Ucapan ibunya menandakan bahwa ini adalah perpisahan.

"Dan untuk kedepannya kau boleh menjual kedai kita ini, mengingat kau sudah menjadi dewasa pasti kau mempunyai banyak kebutuhan untuk hidupmu dan sekolahmu". Naruto yang mendengar ibunya berkata seperti itu tak kuasa menahan rasa sakit didadanya, air mata semakin deras keluar dari mata Naruto.

"Okaa-san kumohon jangan berkata seperti itu, Okaa-san akan terus hidup dan melihatku dewasa. Karena itu, Kumohon Hiks!. Kumohon jangan berkata seperti itu, Okaa-san pasti akan sembuh".

Miya hanya tersenyum mendengar ucapan anak angkatnya itu, ia tak pernah merasa sebahagia ini ketika datangnya Naruto, tapi dalam hatinya ia sangat sedih jika harus meniggalakan Naruto sekarang, tapi apa daya penyakit dalam tubuhnya memaksanya harus pergi meninggalkan Naruto.

"Naruto kumohon berhentilah menangis, ibu tak suka melihatmu menangis. Dan juga ibu akan selalu berada disini". Miya kemudian menunjuk dada Naruto."Dihatimu Naruto!".setelah mengucapkan itu, tangan Miya mendadak kehilangan tenaganya. Kehilangan semua kekuatannya untuk bergerak, dan wajah penuh senyum ramah itu telah hilang diwajahnya.

"Okaa-san aku mohon bangunlah, Okaa-san, Okaa-san, OKAA-SAANNNNNNNNNN!.

Pada hari selanjutnya pemakaman diadakan untuk Akashi Miya, meninggalakn Naruto yang seorang diri didunia ini. Semua tampak terkejut dengan kematian Miya yang mendadak ini. Bahkan para tetangga pun tak tahu dengan keadaan Miya yang harus pergi secepat ini. Miya dikenal sebagai wanita yang ramah pada sesama, meskipun ia telah ditinggal oleh suaminya. itulah menurut para tetangga yang mengtahui sidat Miya.

Semua hadir dalam proses pemakaman Miya, saat ini hanya Naruto seorang yang ada didepan Nisan dengan nama Ibunya. Semuanya telah pergi ketika mereka semua menaruh bunga mawar berwarna merah didepan batu Nisan Miya. Naruto kemudian mengelus batu Nisan itu, tak luput air mata yang berjatuhan dari pelupuk matanya.

"Okaa-san, terima kasih atas semua yang kau berikan padaku. Walapun Okaa-san harus pergi secepat ini, meninggalkan Diriku seorang diri didunia ini. Walapun aku tak bisa bersama selamanya dengan Okaa-san, tapi aku merasa senang. Sekali lagi aku sangat berterimakasih pada Okaa-san yang sudah mau menerimaku disisimu". Narutopun kemudian menaruh bunga mawar merah pada Nisan Miya.

Ia pun kemudian beranjak pergi dari depan Nisan Miya, sebelum pergi jauh ia sempat berbalik dan berucap.

"Okaa-san Sayounara, semoga kau tenang di alam sana". Dengan air mata yang masih membekas dipipinya ia pergi dari depan Nisan Miya.

Ia kembali harus hidup sendiri didunia ini. Sendiri lagi seperti dimasa lalu, tapi walaupun begitu ia harus terus hidup, Miya pasti sangat sedih jika ia dalam keadaan terpuruk karena kepergiannya. Ia harus tegar menghadapi kenyataan ini, meskipun sakit ia harus tetap menerimanya. Untuk kedepannya ia harus bisa hidup mandiri, ia akan mencoba untuk tetapt melanjutkan bisnis kedainya itu, meskipun ibunya berpesan boleh menjual kedainya untuk ia bertahan hidup nanti.

0o0o0o0o0

Kuoh gakuen. Sebuah sekolah khusus yang terkenal akan pendidikannya dan prestasinya. Baru-baru ini sekolah tersebut diubah menjadi seolah campuran, yang berarti para laki-laki bisa masuk kesekolah tersebut. Baru berberapa tahun dirubah menjadi sekolah campuran, sekolah ini sudah banyak digandrungi oleh para cowok yang ingin masuk ke sekolah ini. Menyebakan rasio siswanya menjadi 8:3.

Saat ini Akashi Naruto sedang menuju ruangan kelasnya, dengan sebuah buku yang ia pegang ditangan kanannya. Langkahnya kemudian berhenti ketika ia melihat seorang pemuda berambut coklat dengan kedua temannya. Ia bisa mendengar bahwa ia berteriak "Terkutuk semua lelaki tampan di seluruh dunia". Ia berkata demikian ketika ia melihat lelaki paling populer dari Kuoh Gakuen, Yuuto Kiba.

Pandangan pemuda berambut coklat itu kemudian beralih padanya ketika Kiba pergi dari sana. Pemuda yang Naruto ketahui bernama Hyodou Issei, salah satu anngota trio mesum dari Kuoh gakuen, beserta temannya yang bernama Matsuda dan Motohama.

"Apa yang kau lihat Akashi Naruto, apa kau ingin menghinaku seperti Kiba tadi. Mengingat kepopuleranmu yang lebih tinggi dari Kiba, kau bisa saja mendapat semua Harem. Cih terkutuk kalian para LELAKI TAMPAN!". Naruto hanya bisa berkeringat turun ketika Issei berkata hal yang sama yang ia ucapkan pada Kiba.

Apa yang diakatan Issei memang benar, mengingat bahwa ia sangat populer disekolah ini sebagai murid paling jenius. Karena Akashi Naruto selalu mendapat nilai sempurna dalam setiap mata pelajaran, mengingat ia ramah dan sopan pada setiap guru dan murid, menambahkan kesan bahwa ia adalah pria idaman semua wanita.

Naruto akhirnya memilih untuk tidak menaggapi Issei yang sedari tadi mengoceh bersama kedua temannya itu. Ia pun langsung pergi ke kelasnya, sambil kembali membaca sebuah buku ditangan kananya. Ngomong-ngomong ia sebenarnya sekelas dengan Issei dikelas 2-A, ia selalu mendapat pandangan tidak suka dari Issei selama mereka dikelas, mencoba untuk bisa dekat, tapi entah kenapa ia merasa bahwa ia tidak bisa dekat dengan pemuda itu.

Sesampainya dikelas ia langsung menyimpan tas nya diloker tas yang ada dibelakan kelas. Duduk disebelah dengan jendela memang terasa nyaman. Ia bisa sesekali melihat keluar jendela untuk melihat awan yang indah.

Tak berselang lama Isseipun datang dengan teman senasibnya itu, ia kembali melihat kearah Naruto sambil berjalan menuju mejanya yang kebetulan tidak jauh dari tempatnya. Dalam benak Issei kenapa harus ada orang seperti Kiba Yuuto dan Akashi Naruto, imipiannya unutk menjadi Raja harem sepertinya harus kandas layaknya karang yang diterjang ombak.'Tak ada kesempatan'. Batinya berucap seperti itu ketka ia menyadari semua kenyataan pahit ini, bersaing dengan kedua murid paling populer tentu saja itu mustahil bagi orang seperti dirinya. Yang bisa ia lakukan hanyalah menenggelamkan wajanya dikedua tangannya pada meja belajarnya itu.

Time Skip.

Teng! Tong Teng!

Bunyi belpun menggema diseluruh penjuru bangunan sekolah yang menandakan bahwa pelajaran sudah selesai hari ini. Naruto kemudan mengambil tasnya dari loker tas yang ada dibelakangnya, ia kemudian memasukan semua buku-buku pelajarannya, belum sempat ia akan melangkahkan kakinya keluar dari kelas ia didatangi oleh 3 murid perempuan, mereka semua berasal dari kelas yang sama.

"Nee Nee Akashi-kun, apa setelah pulang sekolah kau punya rencana?".

"Mau ikut bersama kami ke tempat karaoke?"

Mendengar ajakan dari mereka Naruto hanya bisa berucap ramah pada mereka bertiga yang mengajaknya.

"Gomen hari ini aku ada kerja sampingan mendadak di tempat kerjaku". Ucapnya dengan ramah dan sopan.

"Yahh sayang sekali kalau begitu". Nada kekecewaan terdengar dari mereka berdua ketika Naruto menolak ajakan mereka.

"Aku sangat menghargai ajakan kalian, tapi aku sangat sibuk. Mohon permisi". Ia pun menuduk pada mereka yang mengajaknya, ia pun dari mereka dengan ketiga gadis itu yang mendambakan Naruto. Sedangkan Issei hanya bisa memandang itu denag raut wajah putus asa.

Time skip (lagi)

Kurotsuki kali ini sedang mengawasi seseorang dari jauh, dengan berdiri dari sebuah banguan dikota, mantel panjang yang berkibar akibat hembusan angin sejuk. Ia saat ini tengan mengawasi seorang pemuda berambut coklat dengan seorang wanita cantik dengan rambut hitam sampai punggung. Ia terus mengawasi gerak-gerik dari pasangan muda-mudi itu. Sampai akhirnya wanita itu mengajak sang pria menuju sebuah taman di kota, Kurotsuki masih melihat dua figur itu dari balik pepohonan untuk melihat apa yang terjadi.

Setelah sedikit perbincangan, Kurotsuki melihat wanita yang bersama sosok bernama Issei iyu berubah, mulai dari pakaiannya yang seperti BDSM, dengan dua pasang sayap hitam gagak dipunggungnya. Langit sore langsung berubah menjadi langit yang aneh.

Kurotsuki melihat wanita itu membuat sebuah tombak cahaya dari ketiadaan, ia dengan cepat melempar tombak itu menuju perut Issei. Darah segar kemudian mengalir dari perut Issei akibat tombak cahaya yang bersarang diperutnya, ketika ia akan memegang tombak cahaya itu dengan kedua tangannya, tombak itu langsung menghilang seketika dari perutnya, meninggalkan lubang menganga dari perutnya. Ia kemudian tumbang ketanah dengan mata sendu sambil memegang perutnya, taklama kemudian wania itu pergi terbang, meninggalakan Issei yang sekarat di tanah.

Selang beberapa menit datanglah wanita berambut merah darah dari lingkaran sihir. Kurotsuki tahu siapa wanita itu, dia adalah Rias Gremory, salah satu iblis elit dari klan Gremory. Ia pun kemudian menghilang kembali dengan lingkaran sihir, sambil membawa Issei setelah ia mereinkarnasinya menjadi seorang iblis.

"Begitu ya, jadi dia jatuh ke tangan keluarga Gremory". Ucapnya dengan nada Monotonnya itu.

Perlahan pusaran angin lembut tercipta dimata kanannya. Pusaran angin itu kemudian menghisap Kurotsuki dari tempat itu, dengan daun-daun berjatuhan mengiringi kepergiaannya itu. Ia pergi dari tempat itu seolah-olah ia tak ada disana.


TBC

Akhirnya selesai juga chap dua di Fic ini. untuk yang menanyakan pairing Naruto saya akan ambil itu dari OC.

kenapa saya milih OC? karena jika pair nya dari Chara DXD yahh Naruto nanti akan terlibat dengan masalah mereka.

saya akan coba buat Naruto tidak terlalu terlibat dengan urusan tiga fraksi.

untuk nanya soal update gak nentu, bisa cepat bisa lambat tergantung Mood author.

itu saja dan terima kasih udah mau review chap pertama fic ini.

Sayounara.