Invisible Man
Cast :
Byun Baekhyun
Do Kyungsoo
Kim Jongin
Genre : Romance & Hurt/Comfort
Rating : T
New chapter updates!
.
.
.
I see you all the time baby
The way you look at him
I wish it was me, sweetheart
Boy I wish it was me
But I guess I'll never be
.
.
.
Kyungsoo merenung di atas kasur king size nya. Jemari tangannya sibuk mengutak-atik music box berbentuk piano pemberian Baekhyun. Alunan piano 'River Flows in You' menggema di kamar Kyungsoo dengan warna putih-coklat yang mendominasi.
Kyungsoo terlihat resah. Semenjak kejadian tadi sore, ia tidak melihat Baekhyun saat pulang sekolah. Faktanya, rumah mereka berseberangan. Ia memandang jendela yang berada tepat di depan kasurnya. Kyungsoo tersenyum kecil, melihat bahwa Baekhyun sedang berada di balkon kamarnya-kamar Baekhyun- sembari memainkan harmonika.
Kyungsoo menajamkan pengelihatannya saat ia melihat Baekhyun yang tersenyum kearahnya. Senyum. Senyum itu berbeda. Itu bukanlah senyum milik Baekhyun. Ia dapat melihat Baekhyun berbalik dan memasuki kamarnya. Kyungsoo tersenyum getir, tidak mengerti dengan segala situasi yang entah mengapa berubah secepat ini.
Pertanyaan dan tebakan mengenai keadaan Baekhyun berkecamuk di dalam otaknya. Alunan piano yang berasal dari music box miliknya berhenti, digantikan oleh suara air hujan yang berangsur turun ke permukaan bumi. Kyungsoo merebahkan tubuhnya, menatap sinar surya yang kian meredup dan hilang dipantulan dinding kamarnya.
Ia mengulurkan tangan kirinya, menaruh music box kesayangannya di nakas sebelah kiri kasurnya. Ia kembali terduduk, lalu beranjak turun dan berjongkok di depan kaca setinggi tubuhnya. "Jongin... Bagaimana kau bisa menerimaku? Aku tau, Jongin... Kau sudah memiliki yang lain. Tapi kau tetap menerima pernyataan ku tadi siang..." Kyungsoo menenggelamkan wajah manisnya di antara kedua lututnya.
Ia perlahan mendongak, menatap pantulan dirinya di kaca itu. Memandang remeh pada refleksi wajahnya yang terlihat rapuh. Mengusap wajahnya kasar saat merasa tetesan air mata mengalir di kedua pipinya. Ia menatap sendu sesuatu yang menempel di kaca tersebut, foto-fotonya bersama Baekhyun dari masa sekolah menengah sampai sekarang. Dia tidak bisa merasakan apapun mengenai sahabatnya itu. Hanya kenyamanan dan perasaan terlindungi yang ia dapatkan.
Ia merasa bodoh. Bodoh karena ragu dengan perasaannya, dan bodoh karena kelakuannya. Kyungsoo terisak, mengepalkan kedua telapak tangannya dan memukul pelan kepalanya. "Bodoh... Kau bodoh... Kau sudah tau Jongin sudah memilikinya, kenapa kau masih ingin menjadi miliknya?" dia merasa sebagai perusak. Perusak hubungan Jongin dan 'dia'.
Haruskah Kyungsoo senang mengenai hubungannya dengan Jongin? Atau haruskah Kyungsoo bingung dengan keadaan dirinya saat ini? Haruskah ia memikirkan perasaannya terhadap Baekhyun? Jawabannya, Kyungsoo tidak tahu.
.
.
.
Tok tok tok
Baekhyun yang sedang memainkan piano-nya terhenti dengan tiba-tiba. Ia menolehkan kepalanya ke jam klasik yang cukup besar di dekat piano bening miliknya. Pukul '19.23'. Ia berpikir kalau orang tuanya atau kakaknya yang datang dari kantor. Baekhyun memiliki kakak laki-laki bernama Byun Chanyeol yang kini sudah bekerja di perusahaan orang tuanya.
Dengan gesit, Baekhyun berdiri dan segera keluar dari ruang keluarga. Ia melewati ruang tamu dan membuka pintu masuk rumahnya. Ia terkejut melihat nyonya Do yang sedang berdiri di depan pintu rumahnya dengan raut wajah khawatir. Baekhyun membungkuk sedikit dan mempersilahkan nyonya Do untuk masuk ke ruang tamu dan duduk di sofa. Baekhyun tersenyum ramah dan duduk di sebelahnya.
"Maaf sebelumnya, ahjumma. Apa ada yang bisa Baekhyun bantu?" Baekhyun bertanya dengan halus. Nyonya Do tersenyum, lalu membawa berita yang benar-benar tidak ingin Baekhyun dengar. "Baekhyun, Kyungsoo sedang demam. Dan sejak sore tadi, dia memanggil namamu." ucap eomma Kyungsoo.
Jantung Baekhyun berdebar, sedikit senang karena Kyungsoo memanggil namanya dan khawatir berlebih karena Kyungsoo terserang demam. "Bolehkah saya mengunjungi Kyungsoo, ahjumma?" dan tanpa ragu, nyonya Do menganggukkan kepalanya.
Baekhyun mengunci pintu rumahnya, setelah menghubungi Chanyeol-kakaknya- untuk mengunjungi rumah keluarga Do bila membutuhkan kunci rumah. Baekhyun yang sudah memakai piyama tidurnya tetap mengunjungi rumah keluarga Do. Dia sudah terlampau khawatir terhadap keadaan Kyungsoo-nya.
Dia memasuki kamar Kyungsoo setelah berbincang sedikit dengan ayah Kyungsoo. Baekhyun membungkuk sopan dikala melihat kakak Kyungsoo, Do Joonmyeon sedang mengompres kening adiknya. "Ah, hyung..." sapa Baekhyun. Joonmyeon berdiri dan tersenyum menatap Baekhyun. "Ah, ya Baekhyun. Silahkan duduk di sini. Hyung sudah selesai mengompres kening Kyungsoo. Daritadi dia memanggil namamu." kata Joonmyeon lalu keluar dari kamar sembari membawa baskom kecil dan handuk yang tadi dipakainya untuk mengompres adiknya.
Baekhyun tersenyum lalu bergumam 'terima kasih' dan mendudukkan dirinya di bangku sebelah kasur Kyungsoo. Dia menatap seluruh isi kamar Kyungsoo yang tak berubah dari dulu. Pintu kamar sudah tertutup, menandakan Joonmyeon sudah keluar dari sana.
Baekhyun menggenggam tangan Kyungsoo yang terasa sangat hangat di tangannya. "Bukalah matamu, Kyung. Aku tahu kau belum tertidur." Baekhyun menghela nafasnya. Kyungsoo menarik senyuman kecil dibibir tebalnya yang sekarang terlihat memucat. Lalu Kyungsoo mengerjapkan matanya, menatap sayu ke arah Baekhyun yang terlihat khawatir.
Baekhyun tau, Kyungsoo tidak mungkin memanggil namanya dengan sungguh-sungguh apabila dalam keadaan tidak sadar. Baekhyun yang menyadari itu kembali tersenyum getir. Kyungsoo menggenggam erat tangan Baekhyun lalu bergumam kecil. "A-aku membutuhkanmu, Baek."
Perasaan itu lagi.
Perasaan ingin selalu bersama Kyungsoo, ingin merengkuh tubuh mungil Kyungsoo, dan perasaan yang sama seperti pertama kali ia melihat Kyungsoo.
Perasaan Baekhyun yang ingin mencintai Kyungsoo sampai ujung hidupnya.
Baekhyun memaksa bibir tipisnya untuk tersenyum, melihat mata Kyungsoo yang sembab. Lalu mengelus surai lembut Kyungsoo dengan pelan. Membelai pipi kanan Kyungsoo yang terasa panas di tangannya. "Istirahatlah, Kyungsoo. Cepatlah sembuh. Aku akan di sini menemanimu." ucap Baekhyun lalu mencubit kecil pipi gembul Kyungsoo.
"Nyanyikan aku lullaby, Baek... Kumohon." ucap Kyungsoo. Baekhyun tersenyum lembut dan mengeratkan genggamannya pada tangan Kyungsoo. Tak lama, suara merdu Baekhyun terdengar di telinga Kyungsoo. Itu lagu kesukaannya dengan Baekhyun. 98° - I Do.
I do cherish you
For the rest of my life
You don't have to think twice
I will love you still
From the depths of my soul
It's beyond my control
I've waited so long to say this to you
If you're asking do I love you this much
I do
Baekhyun tersenyum miris melihat Kyungsoo yang tertidur dengan air matanya yang menetes. Baekhyun mengelus kening Kyungsoo yang masih terasa panas oleh telapak tangannya. Jemari lentiknya menelusuri wajah Kyungsoo yang entah mengapa terlihat selalu bercahaya di matanya. Dengan memberanikan diri, Baekhyun memajukan wajahnya dan mengecup kening Kyungsoo. Lalu ia meneteskan air matanya yang selama ini ia pendam.
Jika kau menanyakan apakah aku mencintaimu... Jawabannya adalah Ya, Kyungsoo. Aku sudah terlalu jauh masuk ke dalam pesonamu, dan saat aku ingin keluar, tidak ada satupun jalan yang kutemui.
.
.
.
Pukul 05.30 pagi, nyonya Do memasuki kamar Kyungsoo dan tersenyum melihat anaknya sudah bangun, sedang mengelus surai Baekhyun yang kini tertidur dengan posisi duduk di sebelah kasurnya. "Sudah bangun, Kyungsoo? Apa panasmu sudah turun?" tanya nyonya Do lalu duduk di ranjang anaknya.
Kyungsoo tersenyum kecil melihat ibunya. "Sudah eomma. Panasku sekarang sudah menurun. Kemarin 38° bukan? Tadi saat aku baru bangun 37°" jawab Kyungsoo. Ibunya menampilkan raut wajah cemas saat mendengar panas Kyungsoo belum terlalu turun. "Apa kau mau ke rumah sakit, sayang? Panasmu masih tinggi." tanya nyonya Do. Kyungsoo menggeleng dan terus mengusap pelan surai Baekhyun yang masih terlihat tertidur.
"Oh iya, tadi malam keluarga Byun datang. Mereka ingin menjengukmu, tapi kau sudah tidur. Akhirnya mereka hanya mengambil kunci rumah mereka." ucap nyonya Do. Kyungsoo tersenyum manis mendengar perkataan eommanya. "Tolong sampaikan terima kasihku ke Chanyeol hyung dan eomma-appa Baekhyun ya, eomma." ucap Kyungsoo.
"Ne... Yasudah, bangunkanlah Baekhyun. Kasihan dia tertidur dengan posisi seperti itu. Eomma akan membuatkanmu bubur dulu." ucap nyonya Do lalu keluar dari kamar anaknya. Kyungsoo menatap kepergian ibunya dan menolehkan kepalanya kearah wajah Baekhyun yang menghadapnya. Ia tersenyum melihat wajah imut Baekhyun yang sedang terlelap.
"Setampan itukah sampai kau melihatku terlalu lama?" gumam Baekhyun. Kyungsoo mencibir lalu menarik telinga Baekhyun dengan pelan. "Percaya diri sekali. Dasar." ucap Kyungsoo. Baekhyun tertawa lucu dan menaiki ranjang Kyungsoo. "Ini hari Sabtu kan? Aku boleh tidur disini ya?" kata Baekhyun lalu dengan santainya merebahkan tubuh di samping Kyungsoo.
"Hey! Nanti kau bisa tertular Baekhyun!" ucap Kyungsoo. Baekhyun tidak mempedulikan suara Kyungsoo. Ia malah merebahkan kepalanya di paha sahabatnya itu dan menarik tangan Kyungsoo untuk mengelus surai hitamnya lagi. "Elus rambutku lagi, aku masih ingin tidur. Semalaman aku belum tidur." kata Baekhyun. Kyungsoo membulatkan matanya. "Jadi semalaman kau belum tidur, Baek? Kau ini! Kalau sakit bagaimana?" ucap Kyungsoo.
Baekhyun tertegun. Ini yang pertama kalinya. Pertama kali Kyungsoo terlihat peduli kepadanya. Dan pertama kali Kyungsoo tidak menyebut pemuda bernama Kim Jongin di depannya. Baekhyun senang. Ya, senang akan perhatian Kyungsoo yang mulai terlihat untuknya.
Baekhyun menatap wajah Kyungsoo yang juga sedang menghadap kearahnya. "Aku tau. Kemarin sore kau menangis bukan? Boleh aku tau kenapa?" tanya Baekhyun hati-hati. Kyungsoo berhenti mengelus surai Baekhyun lalu mengeratkan pegangannya pada selimut putih yang membungkus tubuhnya. Baekhyun dapat melihat pancaran ketakutan di mata Kyungsoo. Dengan perlahan Baekhyun mengelus pipi kanan Kyungsoo, dan tersenyum kecil. "Kau tidak usah menjawabnya, kalau kau tidak mau." katanya.
Kyungsoo memejamkan matanya saat Baekhyun mengelus lembut pipinya. Hangat. Terlalu hangat dan nyaman bagi Kyungsoo.
Salah. Ini semua salah. Kyungsoo merasakan itu semua. Kebimbangan dan keraguan di dalam hatinya. Di sana, di dalam hati Kyungsoo terselip rasa yang tidak dapat ia mengerti sama sekali.
Kyungsoo merasakan air matanya mengalir dengan perlahan. Membasahi pipinya dan tangan Baekhyun yang masih menyentuh lembut pipinya. Baekhyun terkejut melihat Kyungsoo menangis. Ia segera mendudukkan tubuhnya dan merengkuh tubuh berbalut piyama putih Kyungsoo ke dalam pelukannya.
Baekhyun mengelus lembut punggung Kyungsoo. "Shhhh... Aku disini Kyungsoo, tenanglah. Jangan menangis lagi." ucap Baekhyun mencoba untuk menenangkan Kyungsoo. Isakkan Kyungsoo mereda, ia sedikit mendorong dada bidang Baekhyun dan mendongakkan wajahnya untuk menatap manik gelap milik Baekhyun.
Kyungsoo tersenyum, lalu terkekeh pelan. "Apa aku salah? Apa semua yang aku lakukan salah? Apa aku salah menjadi milik Jongin?" ucapnya. Raut wajah Baekhyun mengeras. Mendengar nama pemuda berkulit agak gelap itu membuat dirinya panas. Namun setelah melihat raut sedih Kyungsoo, hati Baekhyun melunak. Dia tak berdaya melihat mata indah Kyungsoo yang meredup dan sayu seakan meminta pertolongan yang lebih.
Baekhyun terlalu munafik.
Mencoba terlihat kuat di mata Kyungsoo, walau hatinya sudah siap runtuh bila sedikit saja disentuh. Mencoba terlihat tegar, walau air matanya siap tumpah apabila mendengar pertanyaan Kyungsoo. Dan mencoba terlihat pasrah walau jantungnya dapat remuk bila mendengar rasa cinta Kyungsoo terhadap Jongin.
"Kau... Kyungsoo, kau... Tidak bersalah sama sekali. Bila hanya Jongin yang dapat membuatmu bahagia, maka cintailah dia." ucap Baekhyun lalu menarik kembali Kyungsoo ke dalam pelukannya. Kyungsoo membalas pelukan Baekhyun, merasakan betapa keras debaran jantung Baekhyun yang terasa sampai tubuhnya.
Kyungsoo sama sekali tidak mengerti, kenapa debaran jantung Baekhyun membuat dirinya tenang dan nyaman. Tetapi, sentuhan Baekhyun berbeda dengan Jongin. Di dalam diri Jongin, ia bisa merasakan hatinya membuncah senang. Dan saat bersama Baekhyun, dia bisa merasakan seluruh saraf tubuhnya merasa tenang dan aman.
Jongin itu menyenangkan.
Tetapi, Baekhyun jauh lebih menenangkan.
"Baekhyun... Kenapa seluruh hal yang mengenai dirimu membuatku nyaman?" gumam Kyungsoo. Baekhyun tercengang. Ini pertama kalinya Kyungsoo mengatakan seperti itu. Baekhyun merasakan pintu hati Kyungsoo yang mulai terbuka untuk dirinya. Kesempatan. Baekhyun memang mempunyai kesempatan. Tapi itu terlalu tak kasat mata. Baekhyun masih tidak merasakan ada pantulan dirinya di hati Kyungsoo.
Baekhyun tidak dapat melihat pantulan dirinya di sana
atau mungkin belum.
Baekhyun melonggarkan pelukannya. Mengarahkan kedua telapak tangannya untuk dapat menempel di kedua pipi gembul Kyungsoo. Wajah manis Kyungsoo memerah, entah efek menangis atau merona karena dia menyadari bahwa Baekhyun memiliki tatapan dan wajah yang mempesona. Tangan kanan Kyungsoo terangkat untuk menyentuh pipi kiri sahabatnya. Baekhyun tersenyum, merasa kehangatan yang selama ini dia inginkan di pipinya.
Kyungsoo hanya terpaku saat terpaan nafas Baekhyun yang seharum lavender mendekat ke wajahnya. Menghapus jarak diantara wajah rupawan yang mereka miliki. Tatapan penuh kasih Baekhyun menuju tepat ke kedua bola mata bulatnya. Kyungsoo tertegun. Tatapan Baekhyun menggoyahkan hatinya, membantunya untuk mencari kejelasan di dalam hatinya sendiri.
Rasa ini...
Rasa yang terlalu indah untuk ia deskripsikan sendiri. Rasa yang selama ini tersembunyi di dalam hatinya yang sudah di penuhi nama Kim Jongin. Rasa yang membuat rasa nyaman dan aman meletup di dada hingga saraf otaknya.
Kedua pemuda itu menutup mata mereka. Dan merasakan kelembutan bibir lain yang menempel pada bibir mereka. Hati Baekhyun membuncah. Cintanya memang sudah terlalu dalam untuk Kyungsoo. Bibir tipis Baekhyun mulai mengecup kecil bibir penuh milik sahabatnya. Merasakan kehangatan dari bibir Kyungsoo yang selama ini diinginkannya.
Kyungsoo menyandarkan punggungnya di kepala kasur. Pasrah dengan perlakuan Baekhyun yang terlalu manis untuknya. Manis dan lembut. Jauh lebih manis dari ciuman pertamanya dengan Jongin. Kyungsoo mengalungkan kedua lengannya di leher kuat Baekhyun. Menikmati bibir tipis Baekhyun yang mulai melumat pelan bibir tebal miliknya.
Kyungsoo terhanyut. Terhanyut kedalam pesona Baekhyun yang selama ini tidak pernah ia lihat sebelumnya. Tetapi, pena cinta di dalam hatinya tidak bisa mengukir nama Baekhyun disana. Goretan nama seorang Kim Jongin terlalu susah untuk dihapus. Kyungsoo meneteskan air matanya, mengingat bahwa Jongin yang telah memiliki 'dia', juga ingin memiliki dirinya.
Baekhyun... Kenapa kau bisa membuatku senyaman ini? Apakah perasaan yang kumiliki ini? Apakah semua ini salah?
.
.
.
TBC
Huwoh... chapter 2 di-update hehehe maaf ya kalo chapter ini kurang greget :3 aku akan mencoba yang terbaik untuk semua Baeksoo shippers~
maaf aku tidak bisa membalas review readers satu persatu :) tapi percaya deh, semua review kalian bikin aku senyum sendiri dan seneng banget... oh iya, pas aku ngetik ff ini, aku juga merasa kalau nyambung juga ternyata sama Moonlight nya EXO. Hehe ngomong-ngomong Moonlight lagu kesukaan aku di album Overdose.
Maaf ff ini mengecewakan atau ga jelas-_-
Big thanks for my reviewers!
Last, mind to review?
Sincerely, an unprofessional author
InfinitelyLove aka werewolfxoxo
