Chap sebelumnya sub judulnya namanya 'I See You First'. Dan Chap ini judulnya 'Hold Your Hand'. Jadi tiap chap sub judulnya beda, oke..

So, harusnya chap awal tadi aku bikin HunKai basah-basahan semua (di otak gue sih gitu.. tapi kok munculnya jadi kayak gitu -_- )

Yasudahlah, udah terlanjur ke post, jadi ini chap 2 nya! Silakan all HunKai shipper kita baca FF couple kesayangan kita! Yey!


..

}{

'''''

.

!HunKai!

;;

;


There is No Umbrella with Us


2: Hold Your Hand


HalverDragon Senior High School

Sejak matanya menangkap sosok manis itu berlari menerobos lebatnya hujan, Sehun selalu memimpikannya.

Seperti sekarang, tidur di taman rooftop sekolah bukanlah hal baik bagi siswa kelas XI seperti dia. Tapi ini sudah biasa. Bolos bukanlah sesuatu yang asing bagi Oh Sehun yang pintar melebihi Einstein. Selalu mendapat juara 1 sudah cukup membuatnya mampu bertindak semaunya. Terlebih wajah tampan dan tubuh sempurnanya mampu membuatnya menjadi idola.. katakan saja dia ulzzang top yang selalu ada di majalah remaja setiap edisi tanpa sepengetahuannya karena banyak paparazzi yang menguntitnya.

Sehun masih saja bernaung dalam mimpi indahnya yang bahkan sulit digambarkan. Hanya dia dan Tuhan yang tahu. Sepertinya Tuhan bahkan enggan membangunkannya dari mimpi indahnya. Angin siang itu menjadi semakin kencang. Berhembus dingin menerbangkan bunga-bunga sakura.

Rambut brown Sehun tertiup angin terlihat makin halus mengikuti alur angin yang menerjangnya, dan tetap tertidur.

Angin sejenak terhenti dan mahkota sakura berjatuhan disekelilingnya dan terakhir jatuh di rambut brownnya. Keheningan itu sedetik terhenti dengan langit yang makin kelabu. Makin gelap. Menutupi cahaya matahari sampai kebumi.

Suasananya jadi seperti pukul 6 pagi. Sejuk dan cahaya masih redup. Beberapa burung dipohon mulai berkicau, pulang kesarang sebelum hujan membasahi bulu halus mereka.

TES..

Tetesan hujan pertama itu jatuh tepat dipipi kanan Sehun. menyadarkannya dari tidurnya. Liquid dingin itu mengalir di pipi putihnya lalu jatuh begitusaja di kursi beton yang ditidurinya.

"Hujan lagi.." Sehun membuka mata tajamnya, memandang betapa gelap langit diatasnya. Semua siswa mungkin sudah pulang. Ini pukul 2 siang. Itu yang tertera di jam yang ada di atas pintu tangga rooftop.

"Aku masih mengantuk.." Sehun memejamkan kembali kedua matanya. Menyamankan tidurnya yang terlentang dengan membenarkan sebuah blazer sebagai bantalannya.

Ya.. itu blazer namja manis berambut silver yang ia temui di halte kota kemarin sore. Feeling Sehun mengatakan bahwa blazer ini harus selalu ada bersamanya.

Tes! Tes! Tes! Tes!

Hujan menetes kian deras. Sehun masih diam disana dengan mata yang sedikit terbuka. Dihirupnya wangi khas yang selalu muncul ketika hujan pertamakali turun. Ia suka wangi ini.


Zraaaasssshh..

Akhirnya langit benar benar menurunkan semua yang dibendungnya. Hujan sangat lebat menghujani seluruh permukaan tanah dan mengalir didahan-dahan pohon.

Dingin.

Adalah yang Sehun rasakan ketika tubuhnya mulai dihujami tetesan air yang lebat. Sedikit kotor kemeja putihnya oleh percikan hujan. Seluruh bajunya sudah amat basah, sepatunya mungkin sudah menampung banyak air.

Wajah tampan Sehun makin putih pucat seiring dengan tubuhnya yang mendingin. Bibir tipisnya menyunggingkan senyum tipis dengan mata yang masih terpejam. Tampan..

Puk!

Sehun merasakan sebuah tepukan ringan dilengan kanan yang ia gunakan untuk menutupi dahinya dan sebagian matanya agar air hujan tidak menggenangi matanya yang tertutup.

"Siapa yang berani mengganggu tidur siangku yang berharga.." Sehun mengatai dengan suara rendahnya khas orang bangun tidur. Menjauhkan tangan kanannya dari dahinya lalu perlahan bangun dengan kedua matanya yang masih tertutup rapat.

Air hujan mengalir turun dari tubuhnya. Rambut brownnya sudah amat basah.

"Mian, tapi tidak baik tidur ditengah hujan seperti ini" seseorang itu menghapus air yang mengalir dipipi Sehun dengan sapu tangan berwarna dark blue yang sudah basah juga.

Sehun membuka matanya perlahan. Melihat dengan tatapan tajamnya.

"Kau.." Sehun seolah tak percaya dengan seseorang didepannya itu.

Puk!

Percikan air tercipta dikursi beton ketika orang itu mendudukkan tubuhnya disamping Sehun yang masih diam memandanginya hingga puas.

"Lama tidak bertemu.. Sehun-sii" setelah mereka cukup lama terdiam menyesapi guyuran hujan, namja itu menyapa Sehun dengan senyuman manis terukir indah. rambut Silvernya basah. Seperti kemarin.

"Aku.. menunggumu" Sehun mendekatkan tubuhnya. Ingin dekat. Lebih dekat.


Grep!

"Siapa namamu?" Sehun memeluk erat bahu namja manis itu.

"Panggil saja Kai.." namja berambut silver itu menatap kosong pemandangan gelap langit di siang berhujan kali ini.

"Apa kita pernah bersama sebelumnya?" Sehun bahkan merasakan sesuatu yang nyaman seolah biasa memeluk tubuh itu. Pas sekali dalam rengkuhannya.

"Sehun-sii.. bisa kau melepaskanku?" Kai mencoba lepas dari pelukan Sehun.

"Ah.. ne" Sehun merasa canggung untuk kedua kalinya didepan namja manis berambut silver bernama Kai tersebut.

"Sehun-sii.. kenapa kau hujan-hujanan disini? Tidak pulang?" Kai bertanya sambil mengamati air yang membentuk riak karena tetesan hujan yang deras.

"Aku masih ingin disini. Aku tahu kita pasti bertemu lagi, Kai" Sehun beranjak, berjalan menuju pinggir pagar rooftop sekedar memandang jauh. Mencoba melihat lapangan basket yang sedikit kabur karena lebatnya hujan.

"Sehun-sii.." Kai mengikuti Sehun menuju pagar.

Tep..

"Jangan memanggilku seformal itu" Sehun mendudukkan tubuhnya diatas pagar. Itu sungguh berbahaya.

Bisa saja pagar besi dengan tebal 10 cm itu licin karena terkena air hujan, bisa-bisa Oh Sehun sang ulzzang keesokan harinya dikabarkan mati terjatuh dari lantai 10.

"Arraseo. Sehunnie.." Kai memanggil Sehun dengan nama itu. Sehun terkesiap, suara Kai terdengar cocok ketika memanggilnya seperti itu. Harus diakui ia sangat suka.


"Kemari manis" Sehun meraih tangan Kai yang sedari tadi memegang pagar disampingnya untuk beralih memeluk erat pinggangnya dan menyandarkan dagunya di pundak bidang Sehun.

"Kau sudah dingin Hunnie.. Lebih baik kau kembali ke kelas dan mengeringkan tubuhmu" Kai mengeratkan pelukannya di pinggang Sehun.

"Kalau begitu cium pipiku lima kali" Sehun mengusak pelan rambut Kai yang amat basah itu.

Asal kalian tahu, mereka kini berada ditengah-tengah hujan yang kian lebat. Angin berderu kencang membuat hujan berbelok mengikuti arah angin. Dengan bicara sedikit berteriak maka mereka bisa saling mendengar suara satu sama lain.

Dan mereka tetap disana.

Kai tak berbuat apa-apa.

Tangannya meremat ujung blazer Sehun dengan erat.

"Aku tidak akan jatuh, percayalah" Sehun mengecup dahi Kai.

"Hun.." dan dengan panggilan yang mengalun halus itu, pipi Sehun untuk pertama kalinya disentuh oleh bibir dingin merah indah Kai.


Chu~

Ciuman kelima.. terakhir dan Sehun memejamkan matanya tidak rela bibir itu menjauh dari pipinya.

"Terimakasih.." Sehun mengecup pipi Kai sekali untuk mengungkapkan rasa bahagianya.

Perlahan mereka berjalan beriringan menuju pintu rooftop yang merupakan tangga kebawah. Ditangan Sehun sudah ada blazer Kai. Tentusaja itu basah karena Sehun gunakan untuk bantalan saat tidur hujan-hujanan tadi.

"Kita basah bersama, hhe" Kai tertawa lirih mengamati betapa banyak air yang mengalir dari rambut Sehun.

"Blazermu-" Sehun merasa bersalah melihat blazer itu sudah amat basah seperti handuk yang dicuci. Banyak menampung air dan terasa berat ditentengnya.

"Gwenchana, kau bisa mengembalikannya sebisamu" Kai berkata enteng. Kedua mata mereka yang sedaritadi memandangi deras hujan dari pintu yang masih terbuka itu kini bertatapan.

"Ini.." Kai mengambil plastic bag putih yang entah sejak kapan tergantung di gagang pintu dalam.

"Blazerku?" mata Sehun menangkap nametag bertuliskan namanya yang tersemat disana.

"Ne, aku tahu kau kedinginan. Pakailah ini sekarang" Kai menyerahkan plastic bag.

"Lebih baik kau yang pakai" Sehun balik menyerahkan blazernya.

"Tidak, aku sudah dijemput Hun, mungkin besok kita bisa bertemu lagi" Kai sedikit mengacak rambutnya berusaha mengeringkan rambutnya yang benar-benar basah. Dan Sehun sedikit membelalakkan matanya takjub melihat betapa keren sekaligus sexy namja didepannya itu.

"Hei, sini biar kukeringkan" Sehun mendekat dan menggunakan blazernya untuk mengeringkan rambut Kai.

Sangat perlahan dan mereka saling memandang cukup lama. Senyum mereka tak pernah lepas.

Ingin ini tetap terjadi. Ingin selalu bersama.


"Sudah kering?" Kai bertanya setelah sekian lama, bahkan tak sadar jika kedua tangannya telah mengalung indah dileher Sehun.

"Su.. dah.." dan Sehun sedikit terbengong melihat penampilan Kai sekarang. Rambut yang acak-acakan itu sangat cocok dipadu dengan sleepy eyes, hidung mungil, dan bibir penuh berwarna merah yang sedikit mengkilap basah itu. Tatapan sendu menggoda itu, dan tubuh basah sehingga kemeja putih seragam Kai menempel ketat menerawang dengan leher jenjang tannya yang basah.

Posisi mereka terlalu dekat. Dan Sehun tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Tubuh tinggi Sehun perlahan mendekat, makin dekat.

Merengkuh tubuh indah itu dalam pelukannya.

"Sehun?" Kai bingung ketika Sehun memeluk erat tubuhnya.

"Kau indah.." Sehun memasangkan kemejanya dibahu Kai.

"Apa maksudmu?" Kai mengrenyitkan alisnya bingung.

Tak ada jawaban dari Sehun. Hanya senyuman, dan Kai akui itu tampan.

"Pulanglah duluan" Sehun menepuk kepala Kai perlahan.

"Baiklah, kau.. juga harus pulang, Se-Sehunnie" pipi Kai sedikit bersemu manis.

"Hati-hati. Dan pastikan kita akan bertemu lagi" Sehun mengatakan itu ketika tubuh Kai sudah berbelok diakhir tangga turun dan tak terlihat lagi.


Cuit.. cuit..

Sore..

"Hujannya sudah reda?" Sehun melongokkan kepalanya keluar pintu, melihat langit yang perlahan kembali cerah.

Pemandangan indah seusai hujan. Kau tahu itu? Orang-orang menamainya pelangi. Berwarna warni indah di langit, dengan beberapa bunga sakura yang beterbangan dibawa angin sisa hujan.

Burung-burung kembali beterbangan menghirup udara segar. Matahari sore melukiskan berkas cahaya jingga dilangit. Dengan butiran air hujan menetes di tiap dahan. Genangan air memantulkan warna warni dunia.

Ditangannya ada sebuah blazer tanpa nama. Tapi kini ia tahu nama pemiliknya.

.

.

.

.

"Siapa namamu?" Sehun memeluk erat bahu namja manis itu.

.

.

.

"Panggil saja Kai.." kata namja berambut silver.


There is No Umbrella With Us

-TBC-


Jreng! Jreng! Jreng!

Hujannya reda! Yey!

Ayo,, siapa yang mikir Sehun mau serang Kai? (aku!) hhe

Karena judulnya There is No Umbrella jadi di FF ini HunKai gak bawa payung! Intinya Cuma gak ada payung, dah Cuma itu.. hehe.. ide yang gak mutu ya..

Oke, aku balas repiew kalian dulu ^_^:

Sungie: ini udah lanjut, ya mereka memang so sweet, hhe

JongIn: ini udah lanjut

Y. S. N: kalo bisa follow ff ini hehe

Yuki Edogawa: iya, sampe kebawa mimpi lo..

Jonginisa: ini agak digantung FFnya, mian T_T

Jungjaegun: ini udah lanjut, hehe

Askasufa: iya, itu blazer aneh, manis-manis tapi gak taat peraturan sekolah. Makasih buat semangatnya

m. a: this is the next

babesulay: Thanks udah suka FF ini

RealDe: Iya tuh Sehun maen peluk aja -_-

Afranabilah19: romantis

Nhaonk: fighting!

Ardian. aiyul: wah iya, kamu yang ke 11

SooBabyBee: kau benar, Sehun ketemu Kai lagi, :D

Kamong Jjong: what? 2 FF yang lain ngeri? Kenapa chingu? Hhe

Xxxyixing: thanks udah menunggu

Okta1095: Hantu? Ko bisa?

Jongin48: ini udah next kok, hhe

Maya han: oke, besok Kai rambutnya berubah warna deh

Kkeynonymous: mian ini updatenya lama bro

Flamintsqueen: iya, tu Sehun jadi gay gara-gara liat Kai, keke

Novisaputri09: mian bikin kmu nunggu lama.. eh kok kamu panggil aku Eonni? Kalo aku seorang Oppa gimana coba?


Nah untuk selanjutnya review ya, Thanks all ^_^