LET THE RHYTHM FLOW CHAPTER 2

Katholieke Universiteit Leuven Belgium-1,5 tahun lalu

KU Leuven- salah satu universitas ternama di Eropa tersebut tampak ramai penuh dengan visitor siang ini. Selain dipenuhi dengan pelajar dari universitas itu sendiri, banyak juga tamu dan para orang tua pelajar berkeliaran di sekitar kampus. Ya, hari ini adalah FEB PG interview day- Faculty of Economics and Business Postgraduate interview day. Berbagai pelajar datang dari nationality yang berbeda-beda. Mereka semua berpakaian rapi, dengan wajah tegang dan mata yang penuh dengan rasa kagum berada di kampus tersebut, menunggu giliran untuk di-interview untuk memasuki jenjang pendidikan S2 di salah satu universitas terbaik di Eropa tersebut.

2 dari ber-ratus-ratus peserta interview adalah Junsu dan Changmin. Junsu, 21 tahun. Tahun ini ia akan menyelesaikan pendidikan S1 nya di Inggris, Dari berbagai postgraduate (S2) application yang ia masukkan ke berbagai universitas, Junsu tidak menyangka bahwa ia akan diterima untuk interview disini. Untuk melanjutkan S2 –Master of Finance di KU Leuven.

Junsu mulai bersekolah di luar negeri sejak tahun terakhir A level nya. Sejak SMA Junsu masuk ke sekolah internasional dan tahun terakhir nya ia habiskan di Tokyo, di sebuah akademi private elit selama satu tahun penuh. Setelahnya, Junsu melanjutkan S1 di Inggris, dengan 3 bulan pertukaran pelajar di Manheim, Jerman, lalu sekarang akan melanjutkan S2 di Belgia.

Ya, Junsu adalah putri keluarga konglomerat. Sejak kecil ia terbiasa hidup mewah dan berada dengan orang-orang yang mempunyai kelas yang sama dengannya. Di Tokyo pun ia hanya bergaul dengan anak-anak konglomerat juga. Tapi tidak di Inggris, Junsu membaur dengan murid-murid lainnya. Sebagai pelajar mahasiswa biasa, ia tidak lagi sekolah di lingkungan elit. Gadis ini pun tidak kesusahan untuk beradaptasi. Junsu mempunyai cukup banyak teman dan menjalani hidup yang biasa-biasa saja.

Berbeda dengan Junsu, diantara para calon peserta interview itu juga ada Changmin, 22 tahun. Changmin mengikuti program akselerasi saat ia masih berada di bangku SMP. Karna ulang tahunnya yang adalah di bulan November, ia juga masuk sekolah 1 tahun lebih cepat dibanding teman-temannya. Setelah menyelesaikan 3 tahun program undergraduate (S1) di Rotterdam di umur 19 tahun. Changmin kembali ke negara asalnya untuk ikut berkerja di perusahaan ayahnya. Ayah Changmin adalah CEO Shim Corp, perusahaan elektronik besar dimana ayah Changmin adalah pewaris utamanya. Dengan ke-brilian-an otak dan pengalaman Changmin di dunia bisnis, setelah 2 tahun berkerja dan masing-masing 6 bulan professional course dan business summer school di New York dan St. Andrew, Changmin akhirnya memutuskan untuk mengambil MBA di Belgia selama setahun penuh.

Dengan diterimanya Junsu dan Changmin di universitas yang sama, di tahun yang sama, dan berasal dari negara yang sama. Disinilah kisah Kim Junsu dan Shim Changmin dimulai.

KU Leuven-Juli tahun lalu

Area kampus penuh dengan mahasiswa baru minggu ini. Semua murid berlalu-lalang, dan juga di gedung pascasarjana (postgraduate). Term awal baru saja dimulai, masih banyak siswa yang mendaftar kelas di kantor administrasi, atau berlalu lalang mencari lokasi gedung lecture/kuliah mereka.

Jam menunjukkan pukul 15 menit kurang dari pukul 1 siang. Seorang pria tinggi berwajah asia terlihat bulak balik didepan library KU Leuven dengan wajah bingung. Backpack di pundaknnya,dan handphone di genggaman. Dengan hati-hati ia coba mencegat satu orang yang baru keluar dari pintu library lagi. Seorang pria eropa, selayaknya majority student disini

"excuse me, do you know where the engineering building is?" Tanya Changmin dengan Bahasa inggrisnya. Permisi, gedung engineering dimana ya?

"Sla linksaf en ga rechtdoor. je zult het gebouw daar vinden" jawab pria itu dengan bahasa Belanda yang sangat jelas.

Tapi Changmin ini tidak mengerti sama sekali artinya. Sudah 5 orang dia tanya tapi jawabannya sama. Dengan bahasa Belanda, dengan jari menunjuk kedepan. Iya kedepan tapi kemana?! Gerutu Changmin. Ia masih kesal karna kemampuannya yang payah dalam membaca peta. Baru beberapa hari tiba di kota dan kampus ini. Dan sekarang harus menemukan gedung untuk tempat kelasnya. Yang akan dimulai. Changmin melirik jam di tangan kirinya. 10 menit lagi. Ck. Arghhh! Gerutu Changmin lagi dalam hati

Berbeda dengan kenyataan ia tidak mengerti, Changmin hanya mengangguk sok mengerti sambil tersenyum pahit

"alright, dank u!" sambil mengangguk-angguk. Terima kasih, ucapnya. Pria tadi pun segera berlalu juga.

Changmin menanyai beberapa orang lagi selagi ia berjalan ditengah pekarangan kampus. Kali ini ia menghampiri seorang berwajah Asia. Orang Cina? Korea? Jepang? Ah aku harap dia bisa menjelaskan dengan bahasa inggris dan tau engineering building dimana. Pikir Changmin

"excuse me, do you know where the engineering building is?" Tanya changmin lagil. Mencari letak gedung tersebut

Gadis yang sedang mendengarkan headset tersebut mencabut sebelah headset nya.

"ah, yeah, turn left from here, and go straight. Just have a 10 minutes walk and you'll find the engineering building there on your right" jawab nya dengan Bahasa inggris yang sangat lancer setelah sejenak berpikir. Belok kiri, lurus terus, 10 menit jalan, ketemu disebelah kanan.

Wajah Changmin langsung berubah sumrigah mendengar jawaban tersebut.

"wow thank you!"

Terima kasih! Ucap Changmin dengan senyum lebar. Akhirnya ada yang bisa menjelaskan dengan bahasa inggris. Pikirnya.

Gadis itu hanya tersenyum sambil memasang headset nya kembali. Changmin berjalan kearah yang dituju, yang ternyata adalah arah yang dituju gadis ini juga.

"are you an international student as well?" tanya Changmin karna mereka berjalan searah hampir berdampingan, dengan bahasa inggris. Changmin menangkap bahasa inggris gadis ini sudah sangat lancar. Tidak ada aksen sama sekali. Ia bertanya apakah gadis ini adalah murid internasional juga

"ah yeah, I'm an international student here" jawab nya. Iya, aku juga murid internasional disini

"where do you come from?" tanya Changmin secara langsung. Kau berasal darimana? Well, pertanyaan paling mainstream kan, kalau bertemu orang baru dinegara orang seperti ini.

"South Korea. And you?" jawab gadis ber-rambut lurus hitam sebahu tersebut

"waaa you are a south korean as well? kau orang Korea juga?" Changmin langsung membalas dalam bahasa korea (anggep aja ini bahasa korea ya, hehe)

Mendengarnya gadis itu langsung semakin tersenyum sumrigah juga, menemukan orang yang berasal dari negaranya juga.

"iya! Kau juga?" jawabnya dengan semangat

"tentu saja. Kenalakan, aku Shim Changmin" Changmin mengulurkan tangannya untuk bersalaman

Gadis ini membalas dengan ramah

"Kim Junsu"

"ahh Junsu ssi, senang bertemu denganmu!" ucap Changmin

"yaa, senang juga bertemu denganmu" Junsu tersenyum lebar

"kau,, kuliah apa Junsu ssi?" tanya Changmin sambil mereka masih berjalan berdampingan melewati gedung-gedung kampus dikiri kanan, diantara pohon-pohon rindang yang masih hijau di musim panas seperti ini.

"aku ambil Master of Finance. Kau sendiri, emm, Changmin ssi?" Tanya Junsu

"ah aku ambil program Mba disini. Kau.. dari Seoul juga?"

"heeh betul. Kau juga?"

"hahah iya" jawab Changmin sambil mengangguk.

"terima kasih sudah membantu ku Junsu ssi, orang lokal disini hanya mau bicara dengan bahasa Belanda, haha"

"haha tentu saja, no worries Changmin ssi" jawab Junsu masih dengan senyum nya yang Changmin pandang dalam-dalam berkali-kali hari itu. Dan senyum itulah, yang membuat Changmin tidak bisa lupa. Hingga esoknya, minggu depannya, bahkan beberapa bulan kemudian. Senyum Junsu ditengah kampus KU Leuven, di musim panas yang terik, diawal minggu perkuliahannya yang baru dimulai. Hari dimana ia menemukan seorang Kim Junsu.

-TBC-

Halloo. Terima kasih untuk yang udah dalam baca dalam sehari. Karna ada yang baca, saya lanjut lagi, baru dimulai yaa ceritanya dari Junsu-Changmin dulu. Dibuat tanpa diedit jadi sorry banyak salah. Dalam bahasa juga, antara Indonesia-korea-inggris. Ya begitulah semoga bisa dimengerti ya. Bahasa Belanda nya juga berantakan (modal google translate haha) dan alurnya kecepetan (udah kebawa nulis dan idenya kayak begini). Maaf gak update banyak, semoga besok sempet update lagi. Terima kasih sekali lagi!

Regards,

Jeslyne