Title : My Panda

Author : Raichi Lee SangJin ELF

Rated : T

Pairing : KrisTao/TaoRis, HunHan

Genre : Romance and Fantasy

DISC : para cast hanyalah milik tuhan YME, orang tua, dan SM Ent. Saya hanya pinjam mereka untuk membuat fantasy saya menjadi terwujud di FF ini.

Summary : sebuah perjanjian didesa kecil dengan makhluk penjaga desa yang dianggap sang malaikat kematian. IT'S YAOI! TAORIS/KRISTAO IS HERE! HUNHAN IS HERE TOO

Let's check it out, Chingudeul and Yeorebeun~!

Warning : BL/ BoysLove/Shonen Ai. Miss typo(s), alur terlalu dipaksakan, gaje, bikin mual, EYD yang ngasal. I told you before, if you hate YAOI or IF You HATE me, better if you don't read my fanfic, okay?

Author's note : annyeong ^^. Kembali lagi dengan saya, Rai.

GYAAA~!

Annyeong annyeong XD.

Kali in saya lanjut lgi loh~ fic in tujuan fic in sebenarnya buat mengobati rasa galauku karna fic Vampire n Hyung I am 'sick' dihapus. Hiks..

Setelah saya lihatin fic Can I Love you yg ver HaeHyuk it cukup menarik, jd mikir knp g bkin ver TaoRisnya. Kali aj seru. Pertamanya emng g ad ide buat nulisnya, jd awal2 copas XD. Mungkin ad beberp kta, nma dri fic lama yg blum d gnti, jd yh gtu XXD.

Oke, mari balas review XD

Guest : hiks…iya..ficku kea pus. It karya pertamaku XD. Iya, alurnya aku buat beda.

Guest (icyng) : banyak banget yg namanya Guest -_-v ?.

Iya, sangat sangat sangt overdosis XD.

MermutCS : sepolos kertas putih tanpa coretan *EA~

Guest : karna saya yng pengen XD *plakk*

Eternal Clouds : Kya~ iya. Aku udh jd fans berat couple stu in XD. Iy yah, kaya teroris. Namanya banyak. Ah~ Tapi Kris oppa kn Teroris hatiku~ *apadeh*

Brigitta Bukan Brigittiw : hm? Jinjja? Ok, nnti d edit lgi. Gomawo :D. sbnrnya, klo chingu perhatikan, coba deh chingu baca fic DraRy *Dracox Harry*, yg muncul mlah TaoRis. Jd sbnrnya mnrt aku TaoRis it lbih ke DraRry couple XD *apadeh*

Guest : hiks…fic it d apus chinguya~

Guest (Rizkyeonhae) : iya ^^. Namanya jg alurnya sdikt d ubah chingu ^^.

Eka Kuchiki : eh? Onnie bkin fic EXO jg? Kok g d FFn?. Terima kasih reviewnya Onnie. Bnran mmbntu XD.

Kyaahhahaha~ bener, nih? Jd semangat XD. Aku malah bnran ingat Tom Felton yg jadi Draco Malfoy. Sbnrnya, aku bikin pemaparan Kris yg d fic in karna terinspirasi Draco ~ KYaa~~~~ aku jatuh cinta sm Draco Malfoy pas pertama kli nonton Harry Potter.

Alrzanti1 : mungkin~ kkk~ XD.

Tunggu kelanjutannya XD *plakk*

Dinodeer : klo aku malah ingat Tom Felton yg jd Draco Malfoy XD. Siapa coba? XD *gaje*

EvilPumkinSmile : jinjja? Jd semangt nih XD. In udh d lanjut~ XD

Golden12 : iya, in udah d lanjut ^^

Nah, mari kita langsung saja mulai FFnya ^^

tolong tetap beri saya review anda *bow*

.

.

Oke, tanpa banyak bacot, mari kita langsung saja.

.

.

.

.

DON'T LIKE, DON'T READ!

.

.

I TOLD YOU BEFORE!

.

.

IF YOU HATE YAOI, BETTER IF U NOT READ MY FIC!

.

.

RAICHI

.

Pagi hari seperti biasa di desa Ramandu. Seperti biasa pula Luhan si namja cantik sudah membuka toko rotinya.

"Huah~ hari ini cuaca cerah dan terang sekali..~ tumben juga yah." Ucap Luhan sambil tersenyum. Luhan segera menyiapkan cafénya.

Beberapa orang sudah mulai berdatangan untuk membeli roti ditempatnya.

Seorang namja manis keluar dari belakang kasir yang menyambung dengan ruangan dalam rumahnya dan langsung menrjang Luhan dari belakang.

"Pagi ge~" sapa seorang namja manis yang memeluk Luhan.

"Yah! Panda, kau mengejutkanku. Kau ini lebih tinggi dariku tapi memelukku. Nanti kalau Sehunnie cemburu lagi bagaimana, eoh?" tanya Luhan sedikit tertawa. Ya, dia bahagia keluarganya dulu mengadopsi Tao dan kini menjadikan Tao sebagai adiknya.

Dia juga ingat kejadian ketika Sehun cemberut karena tiba-tiba ketika melihat Luhan yang mengelus sayang kepala Tao dan Tao memeluk Luhan layaknya seorang adik memeluk kakaknya. Dan Luhan dengan lembet menjelaskan dengan Sehun kalau Tao hanyalah adiknya. Hm, walau seorang polisi handal, Sehun juga tetaplah Sehun yang terkadang bisa bertingkah diluar dugaan (?).

"Humph, Sehun-gege tidak akan cemburu. Aku janji, lagi pula aku ini adikmu ge." Ucap Tao sambil tersenyum manis. Ais~ Tao~.

"Kau tidak pergi?" tanya Luhan kemudian ketika Tao melepaskan pelukannya.

"Uhm, aku akan pergi jalan-jalan lagi. Aku sudah janji dengan temanku yang kemarin kalau aku akan mengunjunginya lagi." ucap Tao. Luhan tersenyum sedikit.

"Kalau begitu, kau harus bawa sarapanmu lagi, eoh?" ucap Luhan yang sudah memasukkan beberapa potong roti ukuran sedang kedalam sebuah kota makan.

"Hm, dia teman yang aneh tapi menyenangkan." Ucap Tao sambil tersenyum. Luhan dia sebentar.

"Uhm..Tao..temanmu itu…berambut pirang, kan?" tanya Luhan. Tao mengangguk. "Entahlah, tapi rasanya rambut pirang itu..membuatku sedikit cemas. Kau ingat tentang cerita yang dulu nek Nicolai ceritakan dengan kita saat umurmu baru 10 tahun itu? Kalau dulu ada sebuah keluarga yang berasal dari desa Aquamerine? Keluarga penyihir dengan rambut pirang, kulit pucat dan mata biru indah itu?" tanya Luhan. Tao berusaha mengingat.

"Ya, aku ingat ge. Keluarga itu adalah penyihir terhebat dulunya. Kepala keluarganya bahkan konon bisa membuat gunung berpindah tempat dan bisa membuat naga dari api besar. Katanya seluruh keluarga itu menghilang akibat tertelan sihir kepala keluarga mereka sendiri. Dengar-dengar kepala keluarga mereka tertelan sihir kepala keluarga mereka sendiri karna sombong ingin mencoba menghidupkan orang yang sudah mati itu. Benar, 'kan?" tanya Tao. Luhan mengangguk.

"Kau benar. Aku jadi cemas jangan-jangan temanmu yang berambut pirang itu keturunan dari keluarga itu." ucap Luhan yang sudah selesai menyiapkan 2 gelas susu.

"Hum, ge berambut pirang belum tentu dia dari Aquamerine, 'kan? Ah! Aku terlambat. Bye Luhan-ge." Ucap Tao yang langsung menyambar kotak makannya dan memasukkannya kedalam tasnya lalu berlari. Luhan menatap punggung adiknya itu.

"Benar sih…berambut pirang belum tentu dia dari desa Aquamerine, apalagi dari keluaga itu..tapi…aish!" decak Luhan.

.

.

.

TAO POV

.

.

Ahh….aku suka sekali hutan dekat sini. Bersih, hijau segar, terang dan udaranya membuatku sangat merasa nyaman.

Aku bersenandung sambil melewati rerimbunan pohon yang tinggi menjulang.

Kicauan burung membuatku semakin merasa nyaman. Dan suara serangga hutan juga ikut meramaikan. Indah dan nyaman.

Ah, itu dia jalan setapak yang akan menyambungkan dengan air terjun. Segera aku mempercepat langkahku.

.

Di saat aku sampai dan akan menyibakkan semak tinggi yang menutupi tubuhku, aku mendengar sesuatu yang sangat sangat merdu.

Iya! Itu suara nyanyian yang menurutku sangat merdu.

Suaranya berat, tapi merdu dan menenangkan. Ini..sedikit mirip dengan suara…

Segera aku langsung menyibak semak itu dan terkejut dengan apa yang aku lihat.

.

.

END OF TAO POV

Tao menyibak semak itu dan terkejut ketika melihat sebuah keajaiban dan pemilik suara merdu itu.

Di sana, dia melihat sesosok namja yang dia kenal, Kevin Wu atau yang dipanggil Kevin-ge oleh Tao. Tapi bukan itu saja yang membuatnya terheran-heran juga terkejut

Dia berada di tengah sungai, berdiri di sana dan tidak tenggelam!

Tidak tenggelam loh! Tao saja sampai terkejut melihatnya. Pasalnya, Tao baru pertama kali melihat manusia yang bisa berdiri di atas air dan tidak tenggelam.

Di akhir nada lagunya, Kevin membuka matanya lalu menatap Tao yang terheran. Wajahnya tersenyum atau menyeringai bangga? Entahlah, Tao sendiri kurang yakin.

Sepertinya, Kevin sudah lama merasakan kedatangan Tao.

Dengan penuh elegan, Kevin mengulurkan tangannya ke arah Tao. Dan tanpa diduga, tubuh Tao terdorong dengan sendirinya sampai tubuhnya maju hingga ke tepi sungai.

"UAAA…!" jerit Tao ketakutan bercampur kaget. Saat berhenti di tepi sungai, Kevin berjalan menuju tepi sungai dan tersenyum ke arah Tao. Keduanya saling menatap, hingga tangan Kevin terjulur ke arah Tao. Seakan, tangan itu berkata, "ayo-kita-ke-tengah". Tao hanya menggeleng sebagai tanda jawabannya.

"Aku tidak mau. Aku tidak bisa berenang, Kevin-ge. Kalau aku tenggelam bagaimana?" tanya Tao takut-takut. Kevin hanya tersenyum tampan ke arah Tao. Senyum yang begitu tampan dan lembut yang bisa membuat siapapun meleleh karnanya, termasuk…Tao.

"Hm, aku janji kau tidak akan tenggelam, Tao. Percayalah." Ucap Kevin yang tangannya terus menunggu Tao dengan elegan. Tao sedikit ragu dan akhirnya menyambut tangan Kevin yang lebih besar darinya.

Tao mulai melangkahkan kakinya ke air tapi dia ragu. Matanya menatap mata Kevin. Kevin hanya tersenyum dan seolah berkata kalau ini tidak apa-apa. Tao mulai melangkahkan kakinya lagi ke air dan benar saja!

Tao tidak tenggelam. Tidak tenggelam, loh! Ajaib, 'kan?

"Aku sudah bilang denganmu, Tao. Kau tidak akan tenggelam. Selama kau menggenggam tanganku, kau tidak akan tenggelam." Ucap Kevin yang menyakinkan Tao. Kevin mulai menarik Tao berkeliling sungai ini dengan berjalan diatas air. Yang ajaib, airnya tidak membasahi celana dan sepatu keduanya.

Tao bisa melihat dunia air dari sini. Indah dan jernih. Kevin juga seolah bisa merasakan kebahagiaan Tao. Ah, benar-benar pemandangan indah.

Keduanya berbincang dan bercanda sambil berjalan-jalan diatas air. Sungai disini luas sekali berbentuk lingkaran. Dan di ujung sungai, ada air terjun deras dan dingin. Air di sungai ini bersih dan jernih, karna belum terkotori.

Lama keduanya menikmati jalan-jalan keduanya. Kevin menoleh ke air terjun itu dan tersenyum.

"Tao, kau tahu apa yang ada di balik air terjun itu?" tanya Kevin yang menunjuk sungai itu. Tangan keduanya masih bergenggam erat.

"Uhm…entahlah..aku tidak tahu. Kalau disana ada goa, itu pasti goa mengerikan!" ucap Tao yang mulai bergidik. Kevin sedikit tertawa kecil.

"Humph….tentu saja bukan, Little Panda. Kau mau melihatnya? Tapi kau harus janji denganku untuk tidak memberitahukan dengan siapapun." Ucap Kevin. Tao menatap polos Kevin. Lalu mengangguk.

"Aku janji!" ucap Tao yang tersenyum. Keduanya berlari kecil menuju air terjun itu. Kevin menatap air terjun itu dan bergumam sesuatu. Tao langsung terkejut ketika tiba-tiba air terjun itu terbelah hingga airnya seolah membentuk tirai. Kevin tersenyum kecil lalu langsung menarik Tao untuk untuk mendekat. Saat masuk, air terjun itu menyatu kembali.

Disana, Tao melihat lingkaran besar. Sepertinya goa dan ditutupi dengan batu besar.

Kevin menyentuh batu besar itu. Seketika, seperti sebuah gambar berbentuk naga api bersinar. Kevin melepaskan tangannya dan batu itu bergeser. Seketika Tao langsung melihat sebuah keindahan.

Disana, terlihat sebuah ruangan besar berwarna putih bersih. Benar-benar ruangan dan tidak terlihat seperti didalam goa. Bentuknyapun elegan.

Sebuah lampu krystal yang besar dan indah menyinari ruangan itu.

Ada sebuah tempat tidur ukuran king size berwarna putih dengan tirai putih juga. Kayu penyangganya berwarna coklat gelap dan berukiran rumit dan indah. Tempat tidur itu juga diapit dengan dua buah meja kecil yang tingginya pas. Ada lampu meja yang indah disetiap meja yang mengapit tempat tidur itu dan terdapat pula satu vas bunga bening yang diisi dengan 10 tangkai mawar putih segar.

Ditengah ruangan, terlihat kolam air berbentuk bulat yang dilingkari dengan 4 penyangga berwarna biru. Penyangganya terlihat bercahaya dengan butiran kristal. Pantulan air kolamnya begitu indah. Airnya jernih bercahaya biru. Aromanya pun segar. Airnya jatuh dari atas tapi tidak deras. Malah mengalir biasa saja.

Tepat didepan kolam itu terdapat sofa berukuran besar berwarna putih elegan dan terdapat meja didepannya, di atas mejanya juga terdapat vas bening berisi 3 tangkai Lily putih segar. Dibawah sofa dan mejanya terdapat carpet berwarna putih gading sedikit cream.

Di sudut ruangan terdapat Baby Grand Piano berwarna putih susu yang indah.

Ruangan ini begitu bersih, indah, bercahaya dan putih! di dekat Piano itu ada 2 buah pintu berwanra coklat gelap dengan ukiran yang juga rumit.

Satu kata, SEMPURNA!

Tao hanya terdiam melihat tempat itu. Kevin tersenyum dan menarik tangan Tao untuk masuk kesana.

"Ini rumahku, Tao." Ucap Kevin sambil tersenyum. Tao tidak bisa berkata lagi.

"Ke..Kevin-ge..i..ini indah sekali. Ini rumahmu? Aish, indah sekali. Airnya jatuh dari mana?" tanya Tao antusias. Kevin menuntun Tao untuk duduk disofa.

Tao terus menelusuri ruangan indah ini. Tapi…Kevin ge tinggal disini sendirian, 'kan?

"Kau haus?" tanya Kevin. Tao teringat sesuatu.

"Ah, gege aku tidak haus. Uhm, gegeku membekaliku roti buatannya. Ayo kita sarapan, Kevin-ge! Aku yakin kau belum sarapan!" ucap Tao semangat yang mengambil kotak bekalnya. "Boleh aku pakai dapurmu?" tanya Tao. Kevin mengangguk.

"Dipintu sebelah kanan dekat Piano." Ucap Kevin. Tao mengangguk semangat lalu berlari kecil menuju dapur Kevin.

Tao membuka pintu itu dan juga terkejut.

Dapurnya juga tidak kalah! Begitu indah dengan warna putih mendominasi.

Tao berlari dan menyiapkan sarapannya yang masih hangat. Dapurnya begitu rapi. Tao bisa menebak, Kevin-ge tidak pernah masak. Tapi, kalau tidak masak, dia makan apa?

Setelah selesai, Tao segera membawakan sarapannya menuju ruangan

.

.

.

.

SEMENTARA ITU.

.

.

.

Terlihat Sehun yang sedang berjalan menuju sebuah tujuan yang tempatnya agak jauh dari tengah kota Ramandu. Dia tiba di sebuah rumah. Di sana, sudah ada 1 orang yang menunggunya karna terlihat dari jendela. Segera dia masuk ke rumah itu lalu langsung menemukan orang yang sudah menunggunya.

"Tuan Sehun, bagaimana?" Tanya seorang namja berumur dengan nada meminta penjelasan. Sehun yang di panggil tuan itu duduk berhadapan sambil memasang wajah cool miliknya.

"Khe..khe..khe…tuan kepala desa..tuan Sehun..." Panggil sebuah suara. Mereka berbalik dan menemukan seorang yeoja berwajah muda dan berumur mungkin 20 tahunan dengan dandanan gothic, nyentrik dan serba hitam. Kalian pikir dia masih muda? Kalian pikir dia benar-benar 20 tahun?

Silahkan hapus pernyataan kalian. Dia adalah Nicolai. Dukun desa yang sangat sakti. Dia lah yang selalu berinteraksi dengan 'monster' itu. Nicolai, sebenarnya sudah berumur 500 tahun. Perlu saya besarkan tulisannya? Ya, 500 TAHUN. Sangat tua. Tapi wajahnya masih seperti wajah muda yang cantik. Dia tidak awet muda, dia menggunakan sihir untuk awet muda.

"Hn, Nenek Nicolai, eoh." Ucap Sehun cuek sambil menatap bosan wanita itu. wanita itu menggeram marah.

"Panggil aku dengan Nona!" balas Nicolai lalu duduk di antara kepala desa dan Sehun. Sehun tetap cuek saja. Dia tidak takut dengan siapapun dan apapun. Kepala desa hanya menghela nafas kecil.

"Bagaimana ini, ehm…nona Nicolai, apa yang harus kita lakukan? Persembahan sudah tidak ada. Tiffany adalah gadis desa terakhir yang sudah kita berikan untuknya 5 tahun lalu. Dia pasti akan menghancurkan desa ini kalau kita tidak memberikannya!" ucap kepala desa yang terdengar lelah dan frustasi. Nicolai mulai berpikir.

"Khe..khe..khe…kau benar Tuan Kepala desa. Tapi aku akan coba cari solusi terbaiknya." Bujuk Nicolai. Sehun hanya menggeleng tidak mengerti.

"Oh! aku tahu! Kita persembahkan saja namja berwajah cantik di desa kita!" sang kepala desa mengeluarkan idenya. Nicolai mulai berpikir, sedangkan Sehun mulai mendengarkan dengan serius.

"Ide yang bagus, Tuan Kepala Desa. Aku akan coba berbicara dengan 'dia'. Kalau memang dia mau, siapa yang akan kita berikan?" Tanya Nicolai. Kepala desa berpikir lagi.

"Bagaimana kalau si Luhan itu? Menurutku dan seluruh penduduk desa, dia namja yang sangat imut dan manis." tawar kepala desa dengan wajah penuh kegembiraan karna merasa memiliki ide untuk namja yang pertama kali akan di uji cobakan.

Sehun sontak langsung berdiri lalu langsung mengarahkan pedangnya yang terlihat tajam, mengkilap dan sepertinya kau bisa membelah tubuh hanya dengan sekali tebasan. Pedang itu mengarah dan ujung runcingnya tepat berhenti di depan wajah sang kepala desa, lebih tepatnya di antara kedua matanya. Nicolai bahkan sangat terkejut. Sehun yang sekarang terlihat begitu menyeramkan dan sepertinya bisa membunuh siapapun tanpa pandang bulu.

Sang tetinggi desanya hanya meneguk liur takut. Sepertinya dia sudah salah bicara. Dan dia lupa kalau Oh Sehun ini adalah NAMJACHINGU Luhan. Soo Man sebenarnya takut dengan Sehun, karna biarpun Sehun seperti namja normal, tapi kalau sudah marah, mungkin kurang lebih hampir sama seperti 'makhluk' penjaga desa mereka yang menyeramkan.

"Berani kau sentuh Luhan Hyung, akan aku potong semua tubuhmu dan aku beri ke buaya! Aku tidak segan membunuh anda, Lee Soo Man-ssi." Ucap Sehun sangar. Sepertinya dia tidak suka dengan cara Soo Man yang asal mengajukan ide. Soo Man hanya mengangguk ketakutan.

"A..a..Arraseo arraseo. Aku tidak akan mengatakannya lagi, Tuan Sehun. Bisa kau turunkan pedangmu itu, Tuan Sehun?" Tanya Soo Man sambil tertunduk dan pasrah bercampur takut, karna ujung pedang itu masih di antara kedua matanya. Sehun menyeringai lalu kembali menarik pedangnya. Wajahnya tetap di biarkan di Evil Mode: On.

"Saya akan coba berpikir lagi. Silahkan kalian pulang." Ucap Nicolai. Sehun yang pertama kali pergi. Dia memang kurang suka rumah Nicolai. Biarpun kelihatan normal seperti di setiap rumah, rumah Nicolai seperti memiliki hawa menyebalkan dan hawa itu seperti membuat sesak dirinya.

.

.

.

LUHAN

.

.

Namja manis ini terlihat sedang membaca buku. Sepertinya buku kuno.

"Aish..benar, 'kan? Ciri-cirinya bahkan sama. Tapi…mana mungkin teman Tao itu.." ucap namja manis bernama Luhan ini sambil mempoutkan bibirnya.

KLING..!

Luhan menoleh ke arah pintu dan menemukan Sehun. Sehun tersenyum dan menghampiri Luhan.

"Kau membaca apa, Luhan hyung?" tanya Sehun. Luhan menaikan sedikit bahunya.

"Hanya sebuah buku lama pemberian Nek Nicolai. Kau sendiri?" tanya Luhan yang menutup bukunya dan meletakkannya di dalam laci meja yang ada di meja kasir itu. Sehun hanya mengangkat bahunya.

"Kau tahu, ada yang aku ingin bicarakan denganmu hyung. Bisa kau antarkan Cappucino untukku?" tanya Sehun. Luhan tersenyum manis sambil mengangguk. Sehun berjalan ke tempatnya biasa duduk dan duduk disana.

Luhan membawakan minuman hangat kesukaan Sehun ke tempat biasa dia duduk.

"Jadi katakan denganku, apa yang ingin kau katakan denganku, Sehunie?" tanya Luhan yang duduk disebrang Sehun. Kebetulan cafénya hari ini sedang sepi.

"Soal persembahan tahun ini.." ucap Sehun. Luhan langsung mendengarkan serius apa yang akan dikatakan dengan Sehun.

"Soal persembahan? Jadi sudah diputuskan siapa yeoja cantiknya? Tapi siapa?" tanya Luhan antusias. Sehun menghela nafas kecil.

"Tadi aku datang ke rumah Nicolai dan ada kepala desa. Kami memutuskan kalau…..persembahan tahun adalah..namja cantik." Ucap Sehun sedikit hati-hati. Luhan membelakan matanya.

"MWO? Jadi…namja…? Aigo..jadi bagaimana? Sudah diputuskan siapa?" tanya Luhan cemas.

"Belum diputuskan siapa. Kau tidak usah cemas, hyung. Tadi aku sudah mengancam kepala desa untuk tidak menganggumu atau dongsaengmu." Ucap Sehun. Luhan terdiam.

Ada sedikit perasaan cemas yang menghantamnya. Tapi…apa arti perasaan cemas ini..?

.

.

.

Skip Time

TAO

.

.

.

"Ahhh~! Aku suka sekali di sini, Kevin-ge~." Ucap Tao manja yang tersenyum lembut sambil memeluk bantal berwarna putih dan lembut. Kini, keduanya sedang bersandar di hangatnya tempat tidur Kevin. Tempat tidur Kevin hangat namun juga terasa sejuk.

"Kalau begitu, tinggal saja di sini bersamaku, Tao." Ucap Kevin sambil tersenyum tampan dan terlihat begitu…mengharapkan..?. Tao mulai berpikir.

"Ah, itu tidak bisa Kevin-ge." Jawab Tao yang mengibaskan tangannya pelan. Kevin mulai membuat air wajahnya menjadi berwajah penasaran.

"Waeyo?"

"Karna aku punya Gege angkat yang menganggapku adik kandungnya. Aku juga punya kehidupan." Ucap Tao sambil mengadah. Kevin terlihat murung, tapi dia sembunyikan urat kemurungannya.

"Oh." Hanya itulah respon Kevin.

Lama keduanya hanyut dalam diam. Hingga Tao sadar sudah harus pulang. Dia melihat jam tangannya dan terkejut ketika mendapati jam sudah menunjukkan angka jam 16:36 sore.

"GYAAA!" pekik Tao. Kevin hanya menoleh heran ke arah Tao.

"Ada apa, Tao?"

"Aku harus pulang, sekarang Kevin-ge!. Sudah sangat sore." Ucap Tao panik lalu merapihkan tasnya.

"Aku antar." Ucap Kevin. Kini, dia langsung mengambil tangan Tao dan mulai mengantarnya.

.

.

.

"Apa besok kau akan ke sini lagi, Hyukkie?" Tanya Kevin. Tao terlihat berpikir.

"Akan aku usahakan, ge." Ucap Tao kemudian sambil memamerkan senyum manisnya.

"Baiklah. Aku tunggu." Kevin hanya tersenyum. Kini keduanya terpisah. Kevin menatap sungai kembali dan tersenyum melihat matahari senja yang baginya terlihat begitu indah.

.

.

.

Malam hari yang cerah, udara juga sepoi-sepoi di Ramandu. Sebuah rumah yang posisinya agak jauh dari pemukiman. Rumah itu terasa menusuk.

Di dalam rumah itu, terlihat seorang yeoja berparas cantik. Dia lah Nicolai. Sang dukun desa.

Sepertinya, kini dia sedang berusaha berkomunikasi dengan 'makhluk' penjaga desa.

"Ada apa….? Kau menggangguku waktuku, Nicolai!" bentak sebuah suara berat dan mengerikan. Nicolai memulai ritualnya. Dia harus menanyai, perihal pemikiran tentang tumabal namja cantik.

"Tuan…hamba hanya ingin menanyai sesuatu tentang tumbal untuk besok malam, tuan….." bisik Nicolai. Suara mengerikan itu menggeram.

"Grrr….bukankah tumbalnya harus kau serahkan besok malam? Atau kalian tahu akibatnya!" bentai suara itu. Nicolai mulai menekan rasa takutnya. Sebulir keringat turun dari pelipisnya.

"Hamba tahu..hamba hanya ingin menyampaikan sesuatu." Buka Nicolai. Suara itu menggeram kecil, menandakan kalau Nicolai harus segera berbicara.

"Hamba hanya ingin mengatakan…kalau di desa kami sudah kehabisan yeoja cantik, tuan.." ucap Nicolai.

"APA? Baik kalau begitu! Akan aku hancurkan Ramandu dengans sekali sapu! Apa kau ingin aku mengahancurkan Ramandu, HAH?" bentak suara itu.

"Tapi…" potong Nicolai menggunakan nada menawarkan sesuatu.

"Apa?" Tanya suara itu.

"Kami berpikir….untuk memberikan tumbal namja berwajah cantik yang sangat banyak di desa kami, tuan." Ucap Nicolai.

"Hm….sepertinya boleh juga. Baiklah. Aku juga memiliki satu tawaran menguntungkan untuk Ramandu." Ucap suara itu. Nicolai menangkap nada yang bisa sangat menguntungkan Ramandu.

"Apa itu, tuanku?" Tanya Nicolai.

Suara itu menjelaskan cirri-ciri dari namja tumbal yang di minta oleh suara itu. Nicolai terkejut bukan main lalu tersenyum bahagia.

"Mengerti? Jika kau menyerahkannya pada malam bulan purnama di altar kaki gunung, aku akan menjaga desamu dan untuk selama-lamanya, aku tidak akan meminta tumbal lagi." Ucap suara itu.

"Baik…baiklah tuanku. Saya terima tawaran anda. Saya akan bawakan namja itu sebagai tumbal sah yang anda minta. Kamsahamnida, tuan." Ucap Nicolai. Dan seketika pembicaraan itu berhenti.

.

.

.

Nicolai mulai mengambil buku dari catatan nenek moyangnya. Menurut cerita, 'makhluk' itu sepertinya merencakanakan sesuatu.

"Ah…aku mengerti. 'tuan' sedang mengalami kejadian persis dengan nenek moyangnya. Khe…khe..khe… menarik sekali.." bisik Nicolai.

Dan seketika udara begitu dingin menusuk kulit. Ada perasaan cemas yang tiba-tiba menyelimuti hati setiap penduduk di sana.

Dan malam itu hanya dilewati dengan gesekan angin kencang.

Dan tanpa di ketahui oleh siapapun di Ramandu, sesosok tubuh tinggi dengan balutan Tuxedo hitam, dengan kulit seputih bayat, dan sayap yang seperti kelelawar namun berwarna putih mayat terlihat mengawasi Ramandu dari atas sebuah pohon tinggi yang sangat menjulang di pinggiran desa Ramandu.

Mata hitamnya yang tajam terlihay menatap tajam menuju ke sebuah rumah penduduk.

Bibirnya yang berwarna merah seperti darah menyeringai mengerikan ke arah rumah penduduk itu. Dan seringaian itu berhasil memperlihatkan sepasang taring putih dan setajam pedang berkilat dan terlihat mengintimidasi.

Lama, dia menatap desa itu, lalu akhirnya dia terbang tinggi menuju tempatnya.

Ya, dialah sang penjaga Ramandu, makhluk misterius dengan julukan Examinus. Atau yang biasa di sebut.

Malaikat Kematian.

.

.

.

.

TBC

Yahaaa~!

Selesai lagi epep Gaje Rai XD.

Otte? Mian Rai selalu telat update. Gr2 jadwal mau msuk SMA yg padet, Rai jd lupa nulis. Sekali lgi mian.

Last, mind to review?

No flame, please ^^