Looking For You
Diclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : NaruGaa, SasuNaru, NaruXxx, NejiGaa
Genre : Romance, Angst, Drama
Warning : OOC, Typo, Yaoi, Dark Naruto
Don't Like, Don't Read
Haruka saranin kalau mau membaca fict ini dengarkan lagu-lagu melow, biar lebih ngena gitu, hehe tapi kalau di pov Naruto, dengerin lagu-lagu yang agak nge beat aja, hehe :)
Okay, Happy Reading
.
.
.
Chapter 1
.
.
.
London, England.
.
.
Aku melangkahkan kakiku ke dalam lorong yang gelap dan dingin, aku terus berjalan dengan wajah datar, dan dingin. Aku terus berjalan sehingga aku melihat sebuah patung besar. Di belakang patung besar itu, terdapat pintu yang permukaannya terdapat ukiran-ukiran indah.
Aku berjalan mendekati pintu itu, aku menekan kenop pintu, dan perlahan pintu itu terbuka.
Ya, tidak ada yang boleh memasuki ruangan ini selain aku.
Aku terus melangkah memasuki ruangan itu, aku menyalakan saklar lampu, dan..
Terlihatlah barang-barang yang pernah di pakai oleh mantan kekasihku. Aku memang mengumpulkan barang-barang yang pernah di pakai olehnya.
Aku rawat setiap hari barang-barang itu
Aku mendekat ke arah lukisan wajahnya
Terlihat sosoknya yang tampan dengan tatapan mata setajam elang, dan wajah dinginnya.
Aku tersenyum miris, tanganku membelai foto itu dengan lembut.
"Kau tau? Aku sudah mencarimu, tapi kenapa sampai sekarang aku belum bisa menemukanmu?" air mataku mulai mengalir. "Aku merindukanmu, Naruto. Aku rindu wajahmu yang tanpa ekspresi, aku rindu tatapan tajammu, aku rindu seringai di wajahmu," aku terisak semakin keras, "Aku sudah mencarimu di sekeliling eropa, aku sudah mencarimu dimana-mana," aku meremas rambut merahku frustasi, "TAPI KENAPA AKU TIDAK BISA MENEMUKANMU, HAH?" aku berteriak histeris, teriakanku menggema di seluruh penjuru ruangan. Aku terus menangis, aku sangat merindukannya, sangat.
"Dimana aku bisa menemukanmu, Naruto?" gumamku dengan suara parau.
"Aku sudah berkali-kali mencarimu.."
Dimana?
Dimana aku bisa menemukanmu?
DEG
Jepang..
Negara itu satu-satunya yang belum aku kunjungi
Ya, mungkin saja ia berada di sana
Haha, iya kan?
Aku mendongkakkan kepalaku, iris mata Jade ku memandang kosong lukisan wajahnya.
"Kau berada di Jepang, kan? Aku yakin itu," aku tersenyum miris, "Aku yakin, pasti suatu saat kita akan bertemu,"
Aku yakin kita akan bertemu
Aku yakin perlahan-lahan kau bisa mencintaiku
Hanya Jepang yang belum ku kunjungi
Kau disana, kan?
Tunggu aku, Naruto
Aku pasti akan menemukanmu.
.
.
.
Suna, Japan.
.
.
.
Kota Suna. Ya, di sinilah aku berada, tempat ini adalah kunjungan pertamaku di Negara ini. Aku terus berjalan menelusuri jalan dengan pandangan datar, dan dingin. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru, mataku menangkap sepasang kekasih yang sangat mesra. Aku menatap nanar sepasang kekasih itu.
Andaikan mereka itu adalah aku, dan Naruto
Haha, aku terlalu banyak bermimpi.
Mana mungkin Naruto ingin bermesraan denganku?
Aku melangkahkan kakiku untuk menghampiri sepasang kekasih itu, "Permisi," sapaku dengan sopan. Terlihat mereka terganggu dengan kehadiranku, "Ya, ada apa?" tanya lelaki itu dengan dingin.
Aku merogoh kantung celanaku, dan mengeluarkan foto. Foto itu bergambar aku bersama Naruto yang sedang duduk di taman. Aku pun menujukan foto ini kepada mereka, "Apa kalian mengenal pria ini?" tanyaku sambil menunjuk foto Naruto. Terlihat mereka memperhatikan foto yang aku tunjukan, dahi mereka mengernyit, mereka saling bertatapan, dan menggeleng bersamaan.
"Maaf, kami tidak mengenalnya." Kata perempuan itu dengan datar. Mendengar itu, air mataku mengalir membasahi kedua pipiku. Terlihat sepasang kekasih itu terkejut melihat air mataku. "Bohong!" bentakku, "Kalian bohong, kan? Pria itu ada di sini, kan?" teriakku dengan air mata yang semakin deras mengalir.
"KALIAN BOHONG!" teriakku dengan suara serak sambil meremas rambutku.
"Eh," laki-laki itu berdiri dan memandangku dengan dingin, "Kami tidak tau pria yang kau maksud, lelaki cengeng!" hardiknya dengan dingin.
"Dia bernama Namikaze Naruto! Kalian mengenalnya, kan?" aku semakin terisak, "Iya, kan?" lanjutku dengan suara parau.
Terlihat sepasang kekasih itu memandangku dengan tatapan merendahkan, "Aku sangat merindukannya! Aku ingin sekali bertemu dengannya! Kalian pasti mengerti perasaanku, kan?" teriakku dengan histeris. Perempuan itu pun ikut berdiri di samping kekasihnya, "Pria gila! Kalau mau curhat, jangan di sini! Jangan malah marah dengan kami!" bentak perempuan itu.
"Dasar lelaki cengeng! Pria gila! Menganggu saja!" hina laki-laki itu dengan kasar, mereka pun meninggalkan aku yang masih menangis.
Tidak.. tidak
Naruto ada sini, kan?
Aku pasti menemukannya, kan?
JEGLER
Terdengar suara petir yang di iringi oleh air hujan, hujan yang tadinya hanya rintik-rintik sekarang semakin lama semakin deras, dan membasahi seluruh pekaianku. Aku meremas rambutku dengan frustasi, "ARRGGHHHH!" teriakku hsiteris. Orang-orang yang berlalu lalang di hadapanku menatapku dengan pandangan merendahkan, kasihan, bingung, dan lain-lain. Tapi aku menghiraukannya, air mataku terus mengalir dengan deras, "NARUTOOO!" aku berteriak dengan kencang, orang-orang yang mendengarnya pun terkejut.
"Naruto.. aku merindukanmu.. sangat merindukanmu.." racauku dengan lirih. Terlihat pintu mobilku terbuka, dan keluarlah sosok perempuan yang berlari ke arahku dengan tergesa-gesa, pakaiannya pun ikut basah karena air hujan yang turun. Dia pelayan pribadiku, Matsuri.
"Tuan Gaara! Astaga, Tuan!" terlihat Matsuri yang menghawatirkanku, aku yang melihat itu hanya memandangnya dengan dingin, "Kenapa kau keluar?" tanyaku dengan dingin, "Cepat masuk ke dalam mobil!" bentakku dengan kasar.
"Tidak, Tuan! Ayo kita kembali ke dalam mobil, hujan turun dengan deras, nanti anda bisa sakit!" teriak Matsuri dengan panik.
"KAU TIDAK PERLU MEMPERDULIKANKU!" bentakku dengan kasar, terlihat Matsuri terkejut karena bentakanku, "Kita lanjutkan nanti saja pencariannya, sebaiknya anda istirahat, dulu.." kata Matsuri dengan lirih.
"TIDAK!" aku pun terduduk di aspal yang sudah basah karena hujan, aku terus menggeleng, "Aku ingin bertemu Naruto!" aku meremas rambutku dengan kencang, "AKU MERINDUKANYA!" teriakku dengan histeris, air mataku pun semakin deras mengalir, "Kau tau rasanya, Matsuri?" tanyaku dengan suara serak, aku pun meremas dadaku, "Sakit.. sakit, Matsuri!" lanjutku dengan suara yang semakin serak.
"Aku ingin bertemu dengannya! Aku merindukannya!" teriakku dengan kencang, tanganku terus memukul jalanan beraspal itu dengan kencang, sehingga tanganku sedikit terluka, dan darah yang mengalir dari tanganku.
"Astaga, Tuan!" ia ikut terduduk di hadapanku, "Tuan, kita lanjutkan nanti saja pencarian Tuan Naruto," kata Matsuri berusaha membujuk.
Tidak
Aku tidak mau menundanya
Aku sangat merindukannya
Ya.. aku sangat merindukan cahayaku..
"Tuan Gaara," aku merasakan tangannya menyentuh bahuku yang bergetar, "Saya yakin pasti anda akan menemukan Tuan Naruto, tapi kita tunda dulu perjalanan kita," lanjutnya dengan lembut. Aku mendongkakan kepalaku agar dapat menatapnya, "Benarkah?" tanyaku dengan suara parau. Terlihat ia mengangguk dan tersenyum.
Lalu aku berdiri, dan ia juga ikut berdiri, ia pun menuntunku masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, aku di beri handuk. Mobilku yang di kendarai oleh supirku sudah melaju dengan kecepatan sedang, aku menatap air hujan yang semakin deras lewat jendela mobilku. Aku memandang hujan itu dengan sendu, "Naruto.." gumamku lirih. Air mataku pun mengalir lagi, aku memejamkan kedua mataku, dan membayangkan wajah Naruto. Mata tajam yang dingin, wajah tanpa ekspresi, seringai mengejeknya.. mengingat itu, air mataku semakin deras mengalir.
'Aku merindukanmu, Naruto.. sangat merindukanmu.' Batinku sedih, aku terus memejamkan mataku, dan tanpa sadar aku telah terlelap dalam tidurku.
.
.
.
Matsuri Pov
Tuan Gaara..
Aku sangat kasihan dengannya. Sifatnya berubah saat Tuan Naruto meninggalkannya, sifatnya menjadi sangat dingin, dan pendiam. Terkadang ia menyendiri di kamar dan menangis. Tatapannya kosong, matanya tidak terdapat cahaya, sama seperti saat Tuan Naruto belum datang di kehidupannya yang kelam.
Ia terus mencari Naruto di Negara-negara lain, ia terus menanyakan Naruto kepada orang-orang yang ia temui, berbagai macam umpatan dan makian yang sering di ucapkan oleh orang yang di tanyakan Tuan Gaara.
Kenapa Tuan Naruto sangat kejam meninggalkan, Tuan Gaara?
Ia selalu menyendiri di ruangan pribadinya yang siapapun tidak boleh memasuki ruangan itu. Aku sangat ingin membuat Tuan Gaara ceria seperti dulu, tapi hanya Tuan Naruto yang dapat membuatnya.
Sudah lama aku memendam perasaan ini..
Ya, aku mencintainya.
Aku telah mencintai majikanku sendiri, aku sadar Tuan Gaara tidak akan pernah mencintaiku, yang ia cintai hanya Tuan Naruto.
Aku akan terus memendam perasaanku hingga aku mati, mungkin.
Aku hanya berharap dia bisa bertemu dengan Tuan Naruto, agar ia mendapatkan cahaya kehidupannya kembali.
Matsuri Pov End
.
.
.
Aku melihat air hujan yang semakin deras lewat jendela kamarku, dan di temani alunan melodi musik klasik. Semenjak hujan turun, perasaanku menjadi gelisah, tapi aku menghiraukan perasaan gelisah itu.
Namaku Uzumaki Naruto, aku memiliki rambut pirang acak-acakan, mata bulat yang beriris Sapphire, dan kulit yang berwarna tan.
Umurku 18 tahun, aku di kenal sebagai pemuda yang ramah, ceria, hangat, polos, bodoh, dan aku aku menikmatinya.. mungkin. Aku memiliki kekasih, ia seorang perempuan yang cantik. Sifatnya yang ceria, hangat, dan perhatian itulah yang membuatku jatuh cinta semenjak pertama kali bertemu dengannya.
Aku tersenyum kecil, aku jadi teringat saat pertama kali bertemu dengannya..
Flashback
London, England.
Siang ini hujan turun dengan deras, terlihat orang-orang langsung terburu-buru berteduh, bahkan langsung memasuki rumah mereka masing-masing. Tapi tidak denganku. Aku malah berjalan dengan santai menelusuri jalan yang basah tanpa memakai jas hujan, atau payung. Aku hanya melihat lurus ke depan dengan datar.
'Andaikan dia tidak ada di rumah, pasti aku sudah pulang ke rumah dan bersantai. Ck, hanya melihat dia saja hanya membuat mood ku semakin buruk,' batinku dengan kesal terus merutuki orang yang ku maksud.
Aku terus berjalan menelusuri jalanan beraspal itu dan tidak memperdulikan pakaianku yang semakin basah karena air hujan.
Tiba-tiba aku merasa hujan tidak membasahiku, 'Padahal hujan masih turun dengan deras, tapi kenapa aku tidak merasa hujan turun membasahiku lagi?' batinku bingung. Aku mendongkakan kepalaku, dan terlihat payung berwarna ungu yang memayungiku. Aku mengernyitkan dahiku.
Payung?
Siapa?
Aku menolehkan kepalaku, dan..
"Bodoh!" bentak seroang perempuan yang sedang memayungiku dengan payung ungunya. Aku mengerjabkan mataku. Seumur-umur baru kali ini aku di bentak oleh seseorang. Aku menaikan sebelah alisku, "Huh?"
"Ini sedang hujan deras! Orang-orang sedang berteduh, tapi kau malah berjalan dengan santai seperti orang bodoh!" bentaknya di depan wajahku. Lalu? Apa peduliku? Aku hanya menatapnya dengan malas.
"Lihat," katanya sambil menunjuk-nujuk pakaianku yang basah, "Pakaianmu basah semua! Kau bisa sakit!" bentaknya sedikit khawatir.
Ck, cerewet sekali perempuan ini, "Lalu?" balasku dengan malas. Terlihat ia semakin kesal, "Lalu, katamu? Tidak berterima kasih! Aku sudah memayungimu, tau!" katanya dengan dahi yang berkedut-kedut.
Ck. Memangnya aku pernah memintanya untuk memayungiku? Setauku.. tidak. "Aku tidak pernah memintamu untuk memayungiku," balasku dengan cuek. Mendengar perkataanku, ia mendengus kesal, "Dasar lelaki yang menyebalkan! Ayo ikut aku!" ia pun menyeret tanganku dengan kasar. Ia tidak sadar karena perbuatannya, payungnya tidak mengenaiku lagi.
.
.
.
TBC
Maaf kalau fict ini abal, maaf kalau ada Typo, maaf kalau ada kesalahan. Jadi saya minta kritik dan sarannya :)
Hyde sasunaru : ya, pov nya memang Gaara :) terimakasih sudah mau review fict ini
Miaomaniakfujioshi8: iya gaara kasiah, hehe. Iya naruto emg jhat. Naruto nnt balik lg kok sm gaara, tp masih lma. Trimakash sdh mau review fict ini :)
Bisa tebak siapa orang yang di cintai Naruto?
Terimakasih yang sudah mau mereview fict ini, fict ini ada sedikit perbaikan. Kalau ada kesalahan mohon kritik dan sarannya
Review/Flame?
Terserah kalian ^^
