A/N: Holahola~ Akhirnya apdet juga ya… (gerilya online jam 2 dini hari sambil nonton pertandingan Rice Bowl 2009 lalu di yutup). Kayaknya nggak usah banyak basa-basi, ya? Kita mulai saja.
WARNING!!!: chapter ini semakin gaje, parody, abal. OOC?
Pair: ShinWaka? ShinSaku? SakuWaka? o.O
Disclaimer:
-Eyeshield 21 dan antek-anteknya milik Riichiro Inagaki dan Ryuusuke Murata.
-TV Tokyo Corp yang saat ini dipimpin Masayuki Shimada juga sama sekali bukan milik saya (iyalah~).
-Permohonan maaf sebesar-besarnya untuk: Naoya Goumoto, Mika Sakenobe, Mamoru Miyano, dan Kenji Nomura sebagai seiyuu dari Shin, Wakana, Sakuraba dan Ootawara.
~*~*~*~*~*~
CHAPTER 2: Important Discuss
PRIIIIT PRIIIT PRIIIIIIIT!!!
"Semuanya, waktu telah menunjukkan pukul 8. Latihan pagi selesai. Terima kasih atas kerjasamanya. Silakan minumannya," perkataan Wakana mengakhiri latihan pagi itu. Semua anggota menghentikan kegiatannya dan saling membungkuk. Mereka lalu beranjak mengambil sport drinks yang telah disediakan Wakana.
"Shin-kun, Sakuraba-kun, Otawara-kun," 3 orang yang disebutkan menoleh ke arah suara yang memanggil mereka barusan, Wakana, "Bacalah surat ini…," Wakana menyodorkan surat itu dan segera diambil Shin. Mereka bertiga membacanya dalam diam.
"… Hah? Rekaman? Untuk character's song?" tanya Otawara sambil mengupil lagi.
"… Hem… bagiku tidak masalah. Besok lusa, ya? Baiklah. Wakana, sebulan ke depan Ojo tidak ada pertandingan, 'kan?" tanya Sakuraba santai.
Wakana mengambil notebook manajernya dan membukanya. Ia berhenti pada suatu halaman dan matanya menelusuri tiap kata yang tercetak di situ, "Sampai sebulan ini tidak ada… dan tampaknya rekaman ini memang proyek character's song…"
"… Rekaman itu apa?" tiba-tiba terdengarlah suara dingin mengejutkan dengan nada kebingungan. Shin.
Glotak! Wakana menjatuhkan notebook-nya dengan tatapan kosong, Sakuraba menepuk dahinya, Otawara buang angin. Wakana menggigil dan pucat, ia baru menyadari kelalaian fatal ini…
"Astaga… Sakuraba-kun, aku… aku lupa mengenai Shin-kun!!" Wakana memekik panik dan histeris, "Kalau begini caranya, jika kisah Eyeshield benar-benar dilanjutkan pada sesi universitasnya, bisa-bisa kita tidak akan dimunculkan lagi! Ojo hanya tinggal nama…"
"Ah, sial! Kenapa Riichiro-sensei harus membuat kepribadian Shin seperti ini?!" Sakuraba ikut-ikutan panik.
"Kau benar! Jatah uang makanku juga akan bekurang drastis!!!" Otawara tambah membuat kacau suasana dengan pernyataan protesnya yang tidak penting.
"…Kalian ini kenapa?" Shin kebingungan dengan perubahan suasana yang begitu cepat itu.
~*~*~*~*~*~
"Sungguh, Sakuraba-kun. Apa yang harus kita lakukan mengenai Shin dan rekaman ini?" Wakana bertanya sambil menyeruput susu kotak stroberinya. Sekarang waktunya istirahat makan siang Ojo, dan sekarang mereka sedang mulai mendiskusikan satu masalah yang cukup serius, "Aku dan pelatih Shogun tadi pagi sudah mengkonfirmasikan kedatangan kita di sana. Tampaknya pelatih juga melupakan kesalahan fatal ini…"
Di lain tempat, Shogun bersin.
Wakana menyeruput susu stroberinya lagi sampai habis, "Kira-kira, berapa lama proses rekaman sebuah lagu?" tanyanya pada Sakuraba yang tentunya sudah berpengalaman dalam hal ini.
Sakuraba menopang dagunya, matanya berputar menatap langit-langit kafetaria sekolahnya. Ia berusaha mengingat masa lalunya, "Kalau aku sih biasanya sebulan sampai dua bulanan…, makanya tadi kutanyakan padamu apakah sebulan ke depan Ojo ada pertandingan atau tidak"
Wakana mengangguk. Kini ia membuka bungkus roti melonnya dan mencuilnya, "Lalu, bisakah kau ceritakan kepadaku seperti apa proses rekaman sebuah lagu itu?"
"Uhm… pertama, kita akan diperdengarkan versi instrumental lagu itu. Yah, kalaupun belum dibuat instrumennya berarti biasanya kita juga akan diajak campur tangan dalam pembuatannya…," Sakuraba berhenti sebentar, ia menggigit apel merahnya.
Wakana mengangguk, "Hem… aku mengerti. Kalau hanya mndengarkan instrumental sepertinya Shin-kun masih bisa tenang. Lalu selanjutnya?"
"Kita diperdengarkan versi mentah lagu itu, alias dinyanyikan oleh orang lain. Dan karena kita bernyanyi dengan dua orang lagi, Shin dan Otawara, mungkin tiap orang akan mendapat bagian lirik masing-masing. Nah, di bagian inilah, kekompakan dan kerja sama dibutuhkan…"
"Kekompakan dan kerjasama. Kurasa kita memilikinya, benar?"
"Ya, dalam pertandingan football. Tapi entahlah kalau soal rekaman lagu," jawab Sakuraba ragu.
"Hem, benar juga... Lalu?"
"Tentu saja latihan supaya dapat menyanyikannya dengan suara khas masing-masing. Setelah dirasa cukup dan siap, barulah kita memasuki dapur rekaman…"
Keduanya terdiam. Membayangkan… seperti apa 'kepolosan' Shin dalam menghadapi dunia elektronika…
"Dan… masalahnya sekarang… bagaimana dengan Shin-kun?" Wakana kembali pucat.
Mereka terdiam lagi. Kali ini lebih lama. Mereka sama-sama berpikir keras bagaimana membawa Shin ke studio rekaman tanppa melakukan hal-hal yang berpeluang membuat TV Tokio rugi besar…
"Uhm… Wakana-chan, aku terpikir sebuah ide, tapi sepertinya ini terlalu 'keras' untuk Shin…"
"Apapun itu, tolong beritahukan padaku, Sakuraba-kun," potong Wakana cepat.
"Bagaimana menurutmu… kalau kita… memborgol Shin…?" usul Sakuraba yang langsung membuat Wakana tersedak saat mengunyah roti melonnya.
"…Wakana-chan? Kau tidak apa-apa? Ini, minumlah…," Shin menyodorkan sebotol air putih yang segera diminum Wakana pelan-pelan.
"Memborgolnya, katamu?"
"I…iya…?"
"Kukira apa. Itu takkan berpengaruh banyak, kau seharusnya tahu itu, Sakuraba-kun. Shin-kun dapat memutus borgol itu dengan mudah!" Wakana berargumentasi.
Sakuraba menggaruk kepala bagian belakangnya yang tidak gatal, "Ah… ahaha… kau benar. Aku melupakan kemampuan bench press dan kekuatannya yang berlebihan itu…"
"Tapi… Mungkin Otawara-kun bisa menjaga tangan Shin?"
"Setelah memutus borgolnya, dia akan segera mentackle Otawara tanpa ampun. Shin dapat mentackle Otawara dengan mudah. Pinggang Otawara kecil, jadi efeknya besar. Lagipula Shin itu kurang bisa menahan emosi… eh, itu menurutku saja lho ya…"
Mereka terdiam lagi.
"Apa… kita harus menghubungi Kurita-san, lineman Devil Bats itu? Yang kutahu dari Mamori-san, kekuatan bench press-nya sekitar 160 kilogram. Dan lagi, aku tidak bisa membayangkan Shin dapat men-tackle tubuh sebesar Kurita-san…"
"Wakana-chan, ruang rekaman itu sempit lho. Kita akan 'dikurung' dalam ruang kaca kedap suara. Kau mungkin pernah melihatnya?"
Wakana mengangguk lemah, "Ah ya. Kau benar, Sakuraba-kun. Aku memang tidak tahu apa-apa… AHH!!!" Wakana membelalakkan matanya dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya secara tiba-tiba di akhir kalimat.
Sakuraba kebingungan, "Kau menemukan cara lain, Wakana-chan?" Ia melihat wajah Wakana yang sedikit memerah.
"Tidak! Eh, maksudku… iya! Tapi… cara itu…"
"Maaf aku mengambil kata-katamu, Wakana-chan. Tapi apapun itu, tolong beritahukan padaku," ujar Sakuraba sambil menatap Wakana dengan penasaran.
"Uhm… bagaimana kalau…"
~*~*~*~*~*~
Bersambung…
Nyuehehe… mati penasaranlah kalian semua! (ditransfigurasi jadi Butaberos). Membosankan? Typo banyak? Alur kecepetan? OOC kerasa amat sangat? Membosankan?
(Lirik jam) Hieee?? Sudah jam setengah lima?! (siapa suruh ngetik sambil nonton pertandingan Rice Bowl…) Gawat! Program gerilya harus selesai saat ini! Publish ceritanya ntar siang aja ah. Review? Sampai jumpa di chapter selanjutnya~ ^_^v
PS: huwe… aku pingin nonton Rice Bowl secara langsung di Tokyo Dome sana… (nangis guling-guling). Eh, tapi yang Super Bowl juga boleh kok… (ngelunjak) *disapu*.
