Kedatangannya
"你是谁?" (Siapa kamu?)
Sasuke mengatup mulutnya, ia menggaruk kepalanya, "Maaf?"
"Who are you?" (Siapa kamu?)
"Kenapa harus bahasa asing!!" teriak Sasuke di dalam hatinya
"Ano panganlan mo?" (Siapa namamu?)
"Oh tidak, bahasa apa yang dia pakai..."
"Ich hiesse Melon..." (Namaku Melon)
"Mungkin dia menanyakan nama? Tapi kenapa mengatakan melon?" Sasuke menarik nafas dalam-dalam, ia berjalan mendekati gadis itu, ia menunjuk dirinya sendiri sambil menjawab, "Sasuke.."
Gadis itu tersenyum, "Aa... Sasuke... puede mo ba ako tulungan?" (Bisakah kamu menolongku?)
Melon memandangin Sasuke yang memperlihatkan wajah kebingungan, di berdiri di hadapannya. Sasuke mendadak menghentikan langkahnya saat Melon tiba-tiba menggenggam tangannya. Gadis itu memejamkan matanya sejenak sebelum membukanya lagi, "Terima kasih, kau sudah menolongku..."
Wajah Sasuke tampak semakin kebingungan, "Ya.. a...em.."
"Aku tidak tahu bahasa yang digunakan di daerah ini, jadi, kupikir aku mencoba beberapa bahasa yang aku tahu. Saat aku menanyakan namamu, kau menjawab, jadi kupikir itu bahasa yang cocok... Tapi ternyata tidak sama.."
Sasuke hanya terdiam, gadis itu melanjutkan, "Kukira aku harus bercerita panjang..."
Mendadak Sasuke mendapatkan kemampuannya untuk berbicara lagi, "Ah, sebelum itu, sebaiknya kamu mandi dulu. Nanti sakit kalau tetap dengan baju basah itu."
Sasuke mengantarnya ke kamar mandi dan menjelaskan pada Melon cara menyalakan air, ia meninggalkannya sendirian di kamar mandi, namun ia melupakan sesuatu, ia berteriak dari luar pintu, "Gunakan sabun yang ada di sebelah keran..."
Melon mengambil sabun itu, "Maksudmu batu berwarna ungu ini?"
"Batu..? Oh, yah, itu... Err, aku akan mengambil baju untukmu." Ia berjalan menuju ke kamar Itachi, berhubung tubuh Itachi lebih kecil dari tubuhnya, Sasuke berharap baju milik Itachi akan cukup untuk gadis itu. Ia membuka lemari berwarna coklat tua itu dan mengambil sebuah kaos hitam dan celana pendek berwarna putih. Ia berbalik untuk menutup pintu lemarinya, tapi ia malah diam memandangi ruangan itu perlahan.
"Selama 7 tahun tinggal bersamanya, aku belum pernah memperhatikan kamar ini sebelumnya... Kenapa... Berbeda sekali dengan kamarku?"
Sasuke membandingkan apa yang dilihatnya dengan kamar miliknya.
Kamar Itachi : Ranjang rapi dengan sprei polos berwarna biru pucat, dinding putih tanpa poster atau kotoran, lemari coklat tua polos utuh, meja belajar tertata rapi, rak buku penuh dengan buku pelajaran.
Kamar Sasuke : Ranjang berantakan dengan sprei polos berwarna hitam, dinding biru dengan poster-poster dan coretan, lemari coklat muda dengan banyak goresan, meja belajar tak tertata, rak buku yang penuh dengan barang-barang tidak jelas.
Sekali lagi, Sasuke menggelengkan kepalanya. Ia meletakkan pakaian bersih di depan pintu kamar mandi dan menunggu di ruang tamu.
--
"Pertama, namaku Melon." Tanpa diketahui oleh pemilik nama, saat itu yang terbayang di benak Sasuke adalah sebuah buah berwarna hijau berbentuk bulat dengan kulit yang tidak rata.
"Jadi... Kamu ini apa?" tanya Sasuke tanpa basa basi
"Aku ini malaikat. Aku tinggal di surga, sebelum kemudian aku mendapat sebuah tugas dari yang di Atas untuk turun ke dunia bawah."
"Malaikat? Tugas?"
"Kami, para malaikat mengawasi manusia dari atas, kami tahu di mana masalah terjadi, kami tau apa yang harus kami lakukan, tapi bukan kami yang memutuskan. Ada saat dimana kami malaikat, diutus untuk turun ke dunia bawah untuk menyelesaikan tugas yang sudah diberikan kepada kami."
"Apa malaikat, selalu dapat terlihat seperti ini?"
"Ya, tapi, kami selalu menyembunyikan identitas kami, dengan menyembunyikan sayap kami, kami tidaklah berbeda dari manusia, sehingga keberadaan kami kurang diketahui oleh manusia."
"Jadi, adakah cara membedakan manusia dari malaikat jika sayap itu disembunyikan?"
Melon mengangkat tangannya dan memperlihatkan sebuah bandul kecil yang di kalungkan di lehernya berbentuk air mata berwarna hijau muda, ukurannya pun hanya seukuran setetes air.
"Setiap malaikat memiliki ini, sebuah tanda tugas."
"Sejak tadi aku mendengar kata tugas, tugas dan tugas... Apa yang dimaksud dengan tugas itu?"
"Tugas yang diberikan pada setiap malaikat tidaklah sama. Misalkan, tugasku kali ini adalah menjemput para malaikat yang melebihi batas waktu tugas mereka. Jika tugas mereka belum selesai, tugasku untuk membantu mereka menyelesaikannya agar mereka dapat kembali tanpa melebihi batas waktu."
"Kamu sendiri memiliki batas waktu?"
"Ya, 2 bulan di dunia manusia..."
Sasuke meletakkan jarinya di dagunya dengan posisi berpikir, "Selama menyelesaikan tugas itu, kamu akan tinggal dimana?"
Dengan santainya, Melon menjawab, "Di jalanan, kecuali orang yang bersangkutan dengan tugasku itu, memberiku tempat tinggal."
"Kamu bisa tinggal disini. Ya, walau aku tidak bersangkutan dengan tugasmu.."
"Tidak masalah, aku sangat berterima kasih..."
"Tapi,"
"Hm?"
"Kukira nama Melon terlalu aneh untuk orang-orang di sini... Sebaiknya... Selama kamu ada di dunia manusia ini, bagaimana kalau aku memanggilmu Sakura saja?"
"Sakura? Tidak buruk..." sebuah senyuman menghias gadis berambut pink itu. Ia memandang keluar melalui jendela berukuran cukup besar, "Sebaiknya aku mulai mengerjakan tugasku... Hujan sudah berhenti..."
Gadis itu beranjak dr sofa dan berjalan menuju ke pintu keluar, Sasuke mengejarnya dan mengutarakan keinginannya, "Boleh aku menemanimu?"
"Kenapa tidak?"
--
Mereka berjalan menelusuri kota kecil itu, rumah-rumah yang penuh keramaian, penjual jalanan yang menjajakan dagangan mereka, sampai mereka tiba di suatu taman yang memiliki banyak pohon rindang dan sungai panjang menghias taman itu dengan sebuah jembatan kecil berwarna merah.
Nampaklah dua orang perempuan disana, yang seorang berambut merah mendorong kursi roda dimana seorang perempuan lagi sedang duduk. Sakura memandangi kedua orang itu, ia segera berlari sambil menarik Sasuke, "Scarlet!"
"Scarlet? Maksudmu Tayuya?" ujar Sasuke. Sakura menghentikan langkahnya ketika Scarlet menoleh ke arahnya, ia berbisik pada anak yang duduk di kursi roda itu sebelum menghampiri Sakura.
"Melon!" Scarlet / Tayuya memeluk Sakura, tanpa menyadari keberadaan Sasuke di sana.
"Em, kupikir namaku Sakura sekarang..." jawab Sakura dengan sebuah senyuman kecil di wajahnya, "Scarlet, kau sudah melebihi batas waktu...Apa... ada yang bisa kubantu?"
Wajah Tayuya menjadi sedikit pucat, tapi ia tetap tersenyum. Ia membawa Sakura menjauh dari Sasuke, tidak juga dekat dengan gadis berkursi roda itu. Ia mengerutkan alisnya, "Aku kelebihan waktu? Oh.. ya.. mungkin kau bisa bantu aku mengenai anak yang duduk di kursi roda itu..."
"Siapa dia?"
"Namanya Yakumo. Awalnya, aku hanya ditugaskan untuk menemaninya ketika ia mendapat kecelakaan sampai ia sembuh... Menurut dokter, kakinya telah sembuh, dan dapat berjalan lg...tapi ia masih belum bisa berdiri..."
"Tekanan mental?"
"Mungkin... Tadinya dia adalah atlet lari... mungkin dia merasa putus asa, dan beranggapan bahwa dia tidak mungkin bisa berdiri atau berjalan, bahkan berlari lagi..."
Tayuya memandang Yakumo dari kejauhan, "Sekarang waktunya dihabiskan dengan melukis..."
"Ah.."
--
Setelah Sakura menceritakan kisahkan sendiri, ia memberikan sebuah rencana kecil pada Tayuya, yang memungkinkan dapat membuat Yakumo berdiri. Sakura berlari kecil menuju Sasuke yang sudah menunggunya.
"Tunggulah sebentar lagi..." kata Sakura. Ia mengajak Sasuke untuk melihat dari kejauhan rencana kecilnya. Dapat terlihat, Tayuya kembali membawa Yakumo berjalan di sekitar sungai, setelah mereka bercakap-cakap, tiba-tiba Tayuya kehilangan keseimbangan dan akan jatuh ke sungai.
"Hey!" teriak Sasuke, ia mencoba berlari tapi ditahan oleh Sakura, sontak ia menoleh memandang mata berwarna giok itu, Sakura melarangnya, "Jangan! Lihat!"
Saat Sasuke menoleh kembali, ia melihat, Yakumo berdiri menahan tubuh Tayuya yang hampir jatuh ke sungai.
"Lihat... Yakumo berlari untuk menolong Tayuya... Ia berdiri dan berlari..." Sakura lalu menarik Sasuke meninggalkan tempat itu. Sasuke tetap memalingkan wajahnya kembali untuk melihat Tayuya dan Yakumo, "Hey, apa yang terjadi kalau tugasnya sudah selesai? Apa Tayuya akan pulang?"
Sakura mengangkat wajahnya memandang mata hitam Sasuke, "Scarlet akan kembali ke surga..."
Sebuah senyum aneh terbentuk di wajah dingin Sasuke. Tak ada yang tau kenapa, atau apa, tapi senyuman itu terkesan memperlihatkan sebuah kesenangan yang tidak biasa.
"Baiklah, selama 2 bulan kau tinggal disini, sebaiknya kau mengenal teman-temanku. Mungkin diantara mereka, ada yang juga malaikat; walau sampai sekarang aku juga tidak tau."
Sakura menggenggam tangan Sasuke, "Tidak masalah." Selama perjalanan Sakura terus mengayun-ayun kan tangannya, yang berarti juga mengayunkan tangan Sasuke yang berada di genggamannya. Sasuke mengatakan padanya bahwa mereka akan pergi ke sebuah restoran kecil yang bernama Ichiraku Ramen. Katanya juga, di sana lah biasanya teman-temannya berkumpul.
Tak lama kemudian, terlihat dari ujung jalan yang ramai itu, sebuah bangunan kecil dengan atas depan bergaris-garis. Restoran itu benar-benar sangat kecil, jika Sakura tidak memicingkan matanya tadi, mungkin tidak akan terlihat. Restoran itu dihimpit oleh 2 bangunan yang lebih tinggi, wajar saja jika mungkin tidak terlihat.
Sasuke menggeser pintu geser yang menjadi pintu depan restoran itu. Mata Sakura melebar saat ia melihat keadaan restoran itu, sangat rapi, tak terlihat debu sedikit pun, desainnya pun sangat tradisional; menunjukkan makanan apa yang disediakan restoran itu. Tapi, senyum yang sejak tadi menghias wajahnya menghilang saat ia menyadari, restoran itu sangat sepi. Hanya ada beberapa pengunjung yang kelihatannya sedang berbincang-bincang satu sama lain.
Sakura memperhatikan tiap-tiap pengunjung restoran itu, banyak sekali yang seumuran dengan Sasuke. Saat matanya menelusuri ruangan kecil itu, bola hitam itu menangkap seorang anak laki-laki yang mungkin sedikit lebih tua dari Sasuke, ia memandang Sakura dengan matanya yang berwarna putih keunguan. Ya, Sakura mengenalnya. Saat ia hendak memanggil namanya, anak laki-laki itu melambaikan tangannya perlahan pada mereka.
Mungkin Sakura mengira ia hendak menyapanya, tapi sebenarnya yang disapa oleh anak laki-laki berambut coklat itu adalah manusia dengan rambut biru di sebelahnya. Sakura menyadarinya saat Sasuke tiba-tiba saja memanggil nama 'palsu' di pemilik mata lavender itu, "Neji."
Begitu nama yang tak dikenalnya keluar dari bibir dingin Sasuke, Sakura menutup rapat bibirnya, tidak hanya karena ia mendengar nama yang tak dikenalnya, tapi, Neji sendiri juga memberikan isyarat untuk tidak memanggilnya. Sasuke melangkahkan kakinya mendekati meja kecil di dekat jendela tempat di mana Neji berada bersama dengan seorang gadis muda dengan mata yang sama.
"Neji, Hinata..." ucap Sasuke perlahan sebelum ia melihat ke arah Sakura, "Ini Sakura. Sakura, Ini Neji, dan ini Hinata, adiknya."
"Apa kabar..." Neji berdiri sambil mengulurkan tangannya, Sakura menerima tangannya dengan sedikit keraguan. Setelah ia melepas tangannya, ia berpaling pada gadis di meja yang sama, ia berdiri dan mengulurkan tangannya juga seperti yang dilakukan kakaknya, "A-apa kabar..."
Sasuke mengambil tempat duduk di sebelah Neji sedangkan Sakura, mau tidak mau duduk di sebelah Hinata, "Kau mau makan?" tanya Neji
"Yah, boleh saja, belum sarapan, tentu lapar..." Sasuke memanggil seorang pelayan dan memesan 2 mangkuk Seafood Ramen. Sakura hanya berdiam diri saja. Sesekali, Hinata melirik ke arah gadis berambut pink itu, dengan disadari oleh neji.
"Hinata, bukankah sebentar lagi, pengambilan seragamnya akan ditutup akan ditutup?" tanya Neji pada adiknya
Hinata buru-buru beranjak dari kursinya, "Be-benar... K-kalau begitu, A-aku pergi dulu, Nii-san, Sa-Sasuke-kun, Sa-sakura-san..."
Hinata pergi meninggalkan restoran ramen itu dengan segera. Setelah pesanan ramen Sasuke datang, ia menyerahkan 1 mangkuknya pada Sakura, mereka makan dalam diam, namun diselingi dengan sedikit pembicaraan umum.
Tak lama kemudian, mereka meninggalkan restoran itu setelah membayar untuk ramen yang mereka makan. Dalam perjalanan pulang, Sasuke tiba-tiba saja menghentikan langkahnya, "Gawat! Dompet! Neji, Sakura, tunggu sebentar." Sasuke berlari meninggalkan mereka berdua. Beberapa detik setelahnya, Neji memulai, "Ada tugas apa?"
"Hanya sementara selama Eclipse sedang ada keperluan, aku sendiri tidak tau apa tugas Eclipse sebenarnya... Kau sendiri? Tak kusangka Pearl akan ada di tempat ini juga, dengan seorang 'adik' pula..." jawab Sakura dengan tenang.
Dia mengehela nafas, "Oh? Eclipse... Tugas ku, dan Eclipse dasarnya adalah sama, menjaga dan mengubah..."
"Apa Hinata tau kalau kau sebenarnya...?"
Neji menggeleng lemah, "Kalau dia?"
Sakura tersenyum kecil, "Ya, dia tau, tapi aku tak mengatakan tugasku yang sebenarnya, kupikir, dia sama seperti—"
Neji meletakkan tangannya untuk menutup mulut Sakura sambil berbisik, "Dia kembali. Kita lanjutkan lain kali saja."
Ia menurunkan tangannya sesaat sebelum Sasuke muncul dr ujung jalan. Nafasnya terengah-engah, "Ayo pulang."
Mereka kemudian berpisah di sebuah perempatan jalan, Neji harus kembali ke apartemennya sendiri, di mana ia tinggal hanya bertiga dengan Hinata dan Hanabi.
"Sasuke..." Sasuke hanya melirikkan matanya sedikit, menunjukkan bahwa ia mendengar suaranya, "Tadi, di Ichiraku Ramen, aku melihat sejumlah anak-anak yang kelihatannya seumuran denganmu. Apa tidak ada diantara mereka yang temanmu? Dan Neji kelihatannya tidak seumuran denganmu..."
Sasuke hanya diam, ia tidak menjawab pertanyaan itu sampai mereka sampai mereka kembali ke apartemen, Sasuke mengambil kunci, setelah memasukkan kunci itu, ia tidak langsung memutarnya, ia terdiam lagi.
"Sa—" katanya dipotong oleh kalimat panjang Sasuke, "Neji, memang tidak seumuran denganku. Dia 2 tahun lebih tua dariku, kakak kelasku. Dan orang-orang yang ada di restoran tadi, mereka satu angkatan denganku, tapi mereka...bukan temanku..."
Sasuke memutar kuncinya dan membuka pintu itu. Sakura melepas sandalnya yang kebesaran dan meletakkannya di rak sepatu yang ada di sana, ketika ia membuka rak itu, terlihat lah sandal untuk anak laki-laki dengan ukuran yang menurutnya bukan ukuran sandal Sasuke.
"Em... Sasuke..." terdengar sebuah 'ya' lemah dari jarak yang cukup jauh dari pintu masuk, Sakura meneruskan pertanyaannya, "Sebelum aku datang ke sini, kamu tinggal dengan siapa?"
Sasuke menampakkan dirinya sambil membawa segelas air mineral dalam genggamannya, "Dengan kakak angkatku, Itachi." Ia menegak air di dalam gelas itu dalam satu tegukan.
"Apa aku tidak apa-apa tinggal di sini? Bagaimana kalau dia tau?" Sakura menutup rak itu perlahan.
"Tidak apa-apa, dia sedang pergi untuk sementara waktu untuk menjalani pelatihan, tak akan kembali dalam satu setengah bulan."
Sakura menyipitkan matanya sedikit ketika mendengar bahwa kakak angkat Sasuke sedang pergi, ia berdiri dari posisinya semula dan berjalan menuju ke ruang tamu, dari sana, terlihat dapur kecil yang rapi.
"Sudah berapa lama... kalian tinggal berdua saja?" tanya Sakura dengan penuh rasa ingin tau.
Sasuke memandangi lantai sejenak sebelum menjawab, "7 tahun..."
Sakura masuk ke dalam dapur kecil itu, "Siapa yang memasak?"
"Itachi. Tapi terkadang aku masak sendiri jika dia pulang larut malam karena tugas kuliahnya."
Sakura berjalan kembali ke ruang tamu, ia meletakkan tangannya di sandaran sofa, "Apa..." ia mengangkat jari telunjuknya, menunjuk ke arah sebuah bingkai kecil di samping televisi, "...itu Itachi?"
Sasuke mengangguk sejadinya. Sakura pun tertawa kecil memandang foto itu, membuat Sasuke menjadi sedikit bingung, karena baginya, foto itu hanya foto biasa, saat ia lulus dari Sekolah Dasar.
Sakura menahan tawanya untuk menjelaskan, "Kalian... Benar-benar mirip..."
Sasuke menghela nafasnya, ia melangkah perlahan menuju ke kamar tidurnya, "Aku mau tidur... Besok, pagi-pagi sekali aku harus bangun dan pergi ke sekolah, mungkin tidak kembali sampai sore..." ia pun menutup pintu kamarnya.
Sakura sendiri tidak tau harus melakukan apa, bulan belum naik, matahari juga belum bersembunyi, awan yang berwarna oranye seakan-akan menahan kepergian sang mentari. Ia menutup matanya perlahan, sayap yang berwarna putih kehijauan tumbuh perlahan dari punggungnya. Dalam waktu singkat, sayapnya telah terentang lebar, ia membelai sayapnya dengan lembut, lukanya telah hilang.
Ia melipat sayapnya, seperti seekor burung yang ada di dalam sarang, ia membuka jendela kaca itu, dan berdiri di atas besi pembatas beranda. Ia melompat, karena gaya gravitasi, ia meluncur turun, tapi dalam sekejap, sayapnya telah kembali membuka, membawanya terbang tinggi menembus awan.
Berputar-putar dengan bebas, tanpa takut akan ada pesawat yang lewat. Sakura turun perlahan, kakinya melangkah di atap apartemen tersebut bersamaan dengan terlipatnya kembali sayap putih itu. Jari-jarinya menyentuh kawat yang mengelilingi tempat itu, ia menundukkan kepalanya hingga menyentuh kawat itu, matanya menutup rapat.
"Makhluk apa kau ini!"
Ia segera membuka matanya, setetes keringat jatuh ketika ia membalikkan tubuhnya dengan cepat ke arah suara itu. Ia memandang manusia yang mulutnya sedang menganga, tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya.
Sakura mengamati perlahan sosok itu, ia seperti mengenalnya, tapi ia tidak dapat mengingatnya apa ia sungguh mengenal anak kecil itu, atau hanya wajahnya yang serupa dengan orang yang pernah ia kenal.
Mata yang berwarna putih keunguan dengan rambut berwarna gelap panjang.
To Be Continued…
Saya senang atas reviewnya, terima kasih sekali semua yang telah membaca dan mereview, dan yang membaca tapi tidak mereview. Untuk chapter ini, telah dijelaskan kenapa judulnya Melon. Dan mungkin memang cerita ini agak aneh , karena saya sendiri orang aneh.
Have a nice day,
