Cinderella Rambut Pink

(Remake of Dyan Nuranindya's novel)

Cast :

Min Yoongi

Park Jimin

Disclaimer :

This story belongs to Dyan Nuranindya. I only write it down with another cast and change the words that need to be.

.

.

.

.

.

.

Suasana pasar tradisional Haeundae di sudut kota Busan ramai dengan pedagang yang menawarkan barang dagangannya. Mulai dari berbagai macam ikan laut, sayuran, jajanan pasar, peralatan memasak, bahkan perabotan seperti lampu dengan desain unik pun tersedia di sana.

Aroma udara pagi telah bercampur dengan bau ikan laut yang sama asinnya dengan keringat penjualnya. Disebuah lapak tampak seorang ahjumma sedang sibuk tawar-menawar harga kesemek dengan sang penjual. Terlihat si penjual kewalahan melayani ahjumma itu. Berkali-kali ia mengusap keringat membasahi keningnya.

"Kesemeknya sekilo berapa?" tanya si ahjumma degan tampang juteknya. Alisnya terlihat sangat aneh karena dibentuk tajam dan tinggi dengan pensil alis. Tidak jauh berbeda dengan gambar gunung anak TK.

"Sepuluh ribu won, ahjumma!"

"Apa? Kenapa mahal sekali sih! Sepuluh ribu won tiga kilo!" Terlihat si penjual kesemek hanya bisa menggeleng lemas. Dalam hati ia mengomel betapa pelitnya ahjumma itu. Buktinya, menawar kesemek saja tidak kira-kira. Padahal penampilan ahjumma itu sudah seperti ibu-ibu arisan kelas atas. Tangannya penuh dengan gelang emas meskipun imitasi, lumayan membuat ia terlihat kinclong di mata para pedagang di pasar.

"Boleh sepuluh ribu won tiga kilo. Tapi batangnya saja." Si ahjumma tampak kesal dengan jawaban penjual kesemek itu. Ia mengangkat tasnya dan berjalan pergi dengan langkah gontai untuk mencari-cari siapa tahu ada pedagang bodoh yang bisa ditawar dengan harga ekstrem.

Di sudut lain, penjual berbagai macam ikan laut tampak dengan sadisnya memutilasi ikan di tangannya tanpa rasa canggung. Seperti terbiasa dengan adegan pembunuhan sadis tersebut, di sebelahnya terlihat seorang ibu muda yang sibuk memilih ikan makarel untuk dimasukkan ke plastik. Di kakinya, seekor kucing kampung dengan sabarnya menunggu siapa tahu ada ikan yang terjatuh. Berkali-kali kucing tersebut menelan ludah dan menyusun strategi jitu untuk mencolong ikan di meja.

Beginilah suasana pasar tradisional Haeundae di Busan. Ramai tapi aman terkendali. Bahkan security pasar pun terlihat asyik menyeruput teh ocha di salah satu warung jajanan tradisional.

Tapi tunggu dulu. Dari seberang jalan yang cukup padat terdengar seseorang berteriak histeris. Bukan lantaran melihat artis ibukota yang muncul di pasar. Melainkan...

"Pencuriiiiiiiii! Toloooooong...!"

Semua mata langsung tertuju ke arah datangnya suara. Tampak seorang pria kurus kerempeng berkaus hitam kumal dengan rambut keriting gondrong berlari kencang melewati kerumunan orang sambil membawa sebuah tas perempuan. Tak satu orang pun bereaksi. Entah karena takut melihat penampilan pria itu, atau memang tidak peduli. Aneh! Padahal hampir semua mata melihat aksi pencurian tersebut.

Namun dari kejauhan, seorang perempuan bertopi dengan potongan rambut lurus keluar dari kerumunan orang dan berlari dengan sangat cepat mengejar pencuri itu. Dengan gerakan yang lincah dan gesit, perempuan itu mampu melewati meja-meja dagangan tanpa menyenggolnya sedikit pun. Mungkin perempuan itu sejenis Wonder Woman atau Cat Woman. Entahlah. Semua orang menyaksikan adegan itu berdecak kagum. Sebagian malahan bertepuk tangan riang. mengira sedang ada shooting dan menerka-nerka siapakah artis perempuan yang menjadi jagoan itu. Beberapa di antaranya malahan sibuk mencari di mana kameramennya karena berharap bis muncul di film menjadi figuran dadakan. Muncul di tv...

Tanpa lelah perempuan itu terus mengejar si pencuri yang kemungkinan besar adalah penggemar Dao Ming Se karena menggunakan kaus lengan buntung. Aksi kejar-kejaran tersebut akhirnya melewati jalan raya, jalan tikus, jalan semut, pertokoan, sampai taman kota yang penuh dengan orang. Sepertinya si perempuan tetap ngotot ingin menangkap pencuri itu. Tak terbesit sedikit pun rasa takut dalam dirinya. Baginya, tidak ada kata lolos untuk seorang pencuri. Kalau setiap pencuri di negara ini selalu lolos, bisa-bisa orang-orang lebih memilih menjadi pencuri daripada menjadi pegawai kantoran.

Sang pencuri mulai panik ketika menyadari perempuan yang mengejarnya begitu bersemangat ingin menangkpanya. Pencuri itu berlari zig-zag layaknya penari salsa yang inign membuyarkan konsentrasi lawan. Tapi sang Wonder Woman terus mengerjarnya. Bahkan langkahnya sekarang menjadi empat kali lebih cepat. Persis seperti berlari di treadmill. Si perempuan tampak kelelahan. Keringat bercucuran di keningnya. Kalau diberi wadah bisa sampai satu ember. Ia merasa tak mampu lagi mengejar pencuri itu. Tapi egonya memaksanya untuk tidak menyerah. Maka dengan nekat perempuan itu melepas satu sepatunya. Ia menyipitkan mata, mengukur jarak, memastikan seandainya sepatunya ia lempar, apakah akan tepat mengenai sasaran. Lalu bak pemain softball profesional, ia memulai mengayunkan tanganyya, melemparkan sepatu tercintanya ke arah pencuri itu. Dan... DUK!

Apakah berhasil? Tidak! Meleset total! Sepatu dekil perempuan itu malah mendarat mulus di kepala seorang lelaki yang sedang serius memotret dengan kameranya.

"Oopss! Matilah aku!" ucap perempuan itu panik sambil memukul jidatnya kuat-kuat. Sampai-sampai dahinya memerah. Dalam waktu beberapa detik, ia terburu-buru kabur melupakan pencuri tadi sebelum sang lelaki berkamera menyadari keberadaannya dan menyeretnya ke kantor polisi.

Wajah lelaki itu mendadak merah padam. Telinganya sampai berasap saking marahnya. Bukan hanya karena terkena lemparan sepatu dekil perempuan itu, tapi juga karena konsentrasinya mendadak buyar. Padahal ia baru saja mendapatkan objek yang sangat bagus untuk difoto. Tapi sayang, ketika ia mengangkat kepala untuk mengejar pelaku pelemparan itu, si perempuan sudah terburu kabur. Hilang tanpa jejak. Gone with the wind...

"Brengsek! Awas kau! Akan kucari sampai ketemu!" omel lelaki itu sambil mengacung-acungkan sepatu sialan yang mengenai kepalanya itu. Dalam hati ia bersumpah akan mencari perempuan itu sampai ke lubang tikus sekalipun. Kalau perlu sampai perempuan itu sangat menyesal dan memohon ampun berkali-kali karena sudah melemparinya dengan sepatu sialan itu.

.

.

.

.

.

Kantor Radio Busan eFM, pukul 08.15

"Goodbye, Mr. Dekiiil! Hahhaha..."

Pagi ini wajah Min Yoongi, salah satu penyiar Radio Busan eFM, tidak ada bagus-bagusnya sama sekali. Kusut seperti baju yang tidak disetrika. rambutnya yang salah satu bagiannya di-highlight pink, acak-acakan tidak karuan. Semua ini lantara perempuan itu kehilangan sepatu kesayangannya yang selalu setia menemaninya ke mana-aman. Si Mr. Dekil...!

Tapi kondisi itu ternyata sangat berbeda dengan teman-teman kantornya di Radio Busan eFM yang bergembira ria menyambut berita sepatu kesayangan Yoongi yang hilang. beberapa diantaranya bahkan ingin segera mengadakan party saking happy-nya.

"Selamat ya, Yoon!" ucap Jackson tersenyum lebar sambil menjabat tangan Yoongi. Bibir Yoongi menjadi tambah manyun, mengalahkan hidung Pinokio.

"Huu..senyum sana yang lebar kayak kuda!" ucap Yoongi kesal sambil mengelus-elus sepatu dekilnya yang tinggal sebelah kanan. "Sabar ya, aku pasti akan menemukan pasanganmu..." ucap perempuan itu lirih pada sepatunya. Yoongi memang sangat sayang pada sepatu Converse-nya. Sampai-sampai sepasang sepatunya itu ia beri nama Mr and Mrs. Dekil. Sudah seperti saingannya, Mr and Mrs. Smith. Padahal sepatunya itu dekilnya minta ampun! Berani sumpah.

"Yoongi, lima menit lagi on air, ya," pesan Joy Eonni, perempuan berperawakan tinggi yang juga produsernya, dari balik pintu ruang siaran.

"Siap, Eonni!" jawab Yoongi lemah. Sesaat kemudian ia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ruang siaran sabil melempar bulpoin ke arah Jackson. "Huh! Aku sumpahin mulutmu tidak bisa tertutup!"

"Astagaaa, sadisnya... Takuutttt... Hhhahahaha..."

Yoongi menjatuhkan tubuhnya di kursi studio. Ia mengeluarkan permen karet dari mulutnya dan menaruhnya di sobekan kertas di atas meja. Yoongi memang sangat suka mengunyah permen karet. Tapi payahmya, dia suka sembarangan membuang permen karetnya itu jika rasanya sudah pahit. Beberapa orang pernah mengomel lantaran menjadi korban ranjau permen karetnya. Biasanya korban-korbannya itu langsung dihujami ucapan selamat agar semakin merasa menderita lahir-batin.

Dari ruang operator, Joy Eonni sibuk memberikan aba-aba dengan jari tangannya. Tiga... dua... satu...

Yoongi menarik napas dalam-dalam dan mendekatkan wajahnya ke mikrofon. " Hai, hai, hai! Selamat pagi, Busan! Bertemu lagi denganku Yoongi di 90.5 Radio Busan eFM. Selama satu jam ke depan, Yoongi akan setia bersama kalian semua dengan lagu-lagu yang pastinya bisa membuat hari kalian yang menyebalkan menjadi menyenangkan. Satu lagu lama yang sangat asik dari Sugar Ray, Someday..."

"Jangan hanya gara-gara Mr. Dekil hilang, siaranmu menjadi kacau seperti itu, Yoon," ucap Jackson ketika Yoongi selesai siaran. Tangannya sibuk menulis urutan lagu yang akan dia putar pada jam siarannya nanti. Meskipun berpostur tinggi besar mirip beruang madu, selera musik Jackson patut diberi empat jempol plus jempol kaki.

"Aku benar-benar tidak bisa fokus, Jack. Mr and Mrs. Dekil itu jimatku. Bisa kacau kalau salah satunya hilang seperti sekarang," ucap Yoongi lemas sambil mengikatkan satu sepatu dekil-nya di tas agar mirip seperti gantungan kunci. Padahal baunya...demi Tuhaannn...Pengharum ruangan pun tidak mampu melawan.

"Astaga aku sampai kasihan melihatmu, Yoon. Bagaimana jika aku membelikanmu yang baru? Lagian orang kantor kan juga sudah banyak yang protes karena kedekilan sepatu itu. Aku berani bertaruh, anak-anak lain pasti akan langsung mengadakan party jika sampai tahu Mr. Dekil hilang. Hahhaha...!"

"Noooo...ini berbeda, Jack. Kalau sepatu baru itu masih bau toko. Tidak ada sensasinya," potong Yoongi memakai jurus tidak-mau-kalah.

"Sensasi? Sensasi bau jempol kaki maksudnya?"

"Yup! Enak bukan baunya?"

"Yaikksss!"

Yoongi tersenyum lebar melihat Jackson meringis jijik. "Sudah ya! Aku pergi dulu, Jack. Takut telat ke toko musik. Byeeeee...!"

Setiap hari Yoongi selalu melakukan rutinitas yang sama. Pagi-pagi buta dia bangun dan langsung pergi menuju Radio Busan eFM untuk membawakan acara Morning Day. Selesai siaran, perempuan itu berangkat menuju toko musik untuk kembali bekerja hingga pukul tujuh malam. Hebat, bukan?

Dulu Yoongi tinggal di Daegu bersama kedua orangtuanya. Tapi semenjak kedua orangtuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil saat dirinya kelas satu SMA, Yoongi dititipkan ke pamannya. Waktu tinggal dengan keluarga pamannya itu, kehidupan Yoongi berubah drastis. Ia merasa menjadi Cinderella karena tantenya terlihat sekali tidak menyukainya. Apalagi ketiga sepupunya yang centil-centil itu. Makanya saat itu Yoongi terpaksa mencari penghasilan sendiri dan berhenti sekolah. Untunglah ia bertemu Kakek Kim. Seorang pelanggan setia kedai tempat Yoongi bekerja yang ternyata pemilik salah satu rumah Hasukjib* di Busan. Jadilah Yoongi memilih menata hidupnya kembali ke Busan dengan tinggal di rumah Kakek Kim sampai sekarang.

Ketika tiba di toko kaset, tanggapan teman-teman di sana ternyata juga tidak jauh berbeda. Mereka terheran-heran saat melihat Yoongi datang dengan wajah kesal dan sandal jepit di kaki. Tapi ketika mereka melihat sebuah sepatu dekil tergantung manis di tas Yoongi, mereka langsung girang bukan main. Masing-masing mulai menerka-nerka sumber kekesalan Yoongi.

"Aku rasa Mr. Dekil-nya telah robek."

"Ah tidak. Menurutku, pasti Mr. Dekil ditahan polisi karena berhasil membuat orang satu kompleks pingsan kebauan."

"Atau... bisa jadi Mr. Dekil dibuang oleh penjaga gereja gara-gara baunya bisa membatalkan jemaat yang beribadah. Hahhaha..."

Tinggallah Yoongi yang kesal setengah mati dengan tebakan teman-temannya yang tidak masuk akal. "Uughh... Kesal. Kesal. Kesal. Kesaaall!"

Jennie, perempuan penggila Marilyn Manson yang selalu berdandan serba hitam menatap Yoongi datar tanpa ekspresi seperti biasanya. "Kau sedang kesal, Yoon? Tadi kau menyebutkan kata kesalnya sampai berkali-kali."

"Sangat!"

Saat itu Jennie sedang mempertebal eye shadow hitamnya. "Aku pinjami sepatuku, mau?" tanya Jennie dengan suara serak-serak beceknya. Tidak biasanya si 'angker' berbaik hati menawarkan bantuan. Biasanya dia diam saja seperti patung prasejarah. Terkena sihir apa, dia?

Dengan berat hati Yoongi mengangguk.

"Itu, ambil saja di loker," Yoongi beranjak dari tempat duduknya menuju loker Jennie dengan ekspresi yang tidak berubah sama sekali. Mungkin itu tema ekspresi wajah Yoongi untuk hari ini. Kusut seperti rumus aljabar.

Tiba di depan loker Jennie, Yoongi lantas membuka pintunya dan terbengong-bengong melihat satu-satunya sepatu Jennie yang ada di sana. Yoongi mulai ingat selera 'gila' temannya yang satu itu. Jennie kan manusia serba ekstrem. Setiap jam istirahat, di saat semua orang sibuk mencari pinjaman sandal untuk dipakai bersantai ria di cafetaria kantor, pasti banyak dari mereka yang akan meminjam sandal Jennie. Masalahnya, bentuk sandal jepit Jennie agak aneh. Ada duri-duri di pinggirnya. Jadi kemungkinan dicuri pun sangat kecil. Hii...seram!

"Jen, sepatumu tidak ada yang lebih normal, ya?" ucap Yoongi pelan sambil mengangkat sepatu boots kulit hitam yang penuh rantai dan gerigi besi. Bagaimana Jennie bisa mendapat sepatu model aneh sepeti ini sih, pikir Yoongi.

Jennie menatap Yoongi tajam seperti sersinggung karena perkataan Yoongi barusan. Pandangannya, wihh, menyeramkan! Dia satu-satunya orang yang sanggup mengubah suasana dalam beberapa menit menjadi mirip pemakaman. Sepatunya saja horor. Bagaimana orangnya! Terbayang, bukan? Tubuh Yoongi lemas seperti jelly ketika ditatap horor oleh Jennie. "Hehe... tidak..tidak, sepatu yang ini juga tidak masalah. Keren. Cool..peace!" ucap Yoongi tersenyum kotak sambil mengacungkan jari tengah dan telunjuknya tanda damai. Takut dibunuh!

Kling, kling! Suara lonceng di pintu berbunyi. Itu tandanya ada pengunjung yang datang.

Seorang lelaki berambut kribo dengan pakaian yang serba bertabrakan warna, muncul. Lelaki itu sangat ramai. Ia mengenakan kemeja bergaris vertikal biru-putih dan celana cutbrai merah. Dengan pede lelaki itu mengambil sisir di saku celana dan mulai menyisir rambut sarang burungnya yang sudah pasti tidak akan berpengaruh kecuali dipakai jika memaki garukan sawah.

"Nah ini dia! Badut Everland datang!" Jennie yang sedang sibuk membaca majalah musik memberikan isyarat pada Yoongi. Dalam beberapa detik ia tertawa geli. Memang, belum pernah ada yang sanggup membuat Jennie tertawa geli selain lelaki kribo itu.

Yoongi yang sedang memakai sepatu Jennie mengangkat kepalanya dan langsung menyapa riang lelaki kribo itu, "Jisunggg... Ji...Ji... Jisuunggggg...!"

Lelaki kribo bernama Jisung tersebut segera mendekati kedua perempuan itu dengan gaya seakan-akan dialah yang paling oke sedunia. "Hi ladies! Yoongi and Jennie," ucapnya sambil menunjuk Yoongi dan Jennie bergantian seperti koboi yang menembak-nembak musuhnya dengan pistol. Jisung adalah teman satu flat Yoongi. Meskipun punya penampilam yang terlewat nyentrik dan norak, Jisung mahasiswa fakultas hukum salah satu perguruan tinggi di Busan.

"Ada apa? Mau minta jatah album lagi?"

"Eiitsss... jangan salah, Nona Manis," sangkalnya dengan masih pedenya. "Aku ke sini ingin... pinjam album."

"Hahahahha... benar, kan. Sama aja itu namanya!" Yoongi tertawa lebar karena berhasil membaca pikiran Jisung. Dasar manusia tidak modal! Dengan gaya sok berwibawa, Yoongi kembali bertanya, "Jadi kau ingin meminjam apa?"

"Ahh aku mencintaimu!" kata Jisung dengan bergaya ala Elvis Presley. "Aku sedang ingin review album BTS yang baru untuk majalah bulan depan," ucap Jisung yang notabene adalah penulis pada salah satu majalah remaja di Busan.

"Baiklah!" Yoongi mengedipkan sebelah matanya. Dengan sekuat tenaga Yoongi berjalan menuju rak album Korea karena sepatu Jennie beratnya minta ampun. Heran! Kenapa sepatu ini beratnya seperti batu bata.

Jisung mengikuti Yoongi spontan heran melihat sepatu ajaib yang dipakai Yoongi. Ia menaik-turunkan alisnya. "Memangnya kau ingin daftar wajib militer, Yoon? Kenapa sepatumu seperti kapiten saja? Kalau berjalan prok... prok... prok!"

Yoongi cuek saja dengan pertanyaan Jisung. Ia mengambil album yang diminta Jisung dan menyerahkannya pada lelaki nyentrik itu. "Ingat, lusa kembalikan. Kalau tidak, aku bisa dimarahi bosku."

"Beres...Gampang lah!" teriak Jisung sambil mencium album permberian Yoongi. "Love you, sugar!"

"Basi, ah!"

.

.

.

.

.

Keesokan harinya, di sebuah rumah.

Brak!

Pintu kamar Jimin terbuka keras saat lelaki itu masih tertidur pulas di balik bedcover bergambar catur. Padahal sekarang sudah jam satu siang. Lelaki itu masih saja berkelana di dunia mimpi.Sejak tiba dari Amerika kemarin, hidup jimin seperti terbalik-balik. Kalau siang bawaannya selalu mengantuk. Tapi giliran malamnya, mengalahkan hantu yang berkeliaran. Maklum saja, perbedan waktu di Amerika dan di Indonesia lumayan jauh. Makanya dia tepar ketika sampai di Indonesia jam tujuh pagi.

Seseorang menarik selimutnya, berharap Jimin bisa segera bangun. Tapi sayangnya tidak berpegaruh sama sekali. Jimin malah membalikkan tubuhnya membelakangi orang itu.

"Wake up!" bentak orang itu bak pimpinan di sekolah militer. Ia mengguncang-guncangkan tubuh Jimin dengan keras. Jimin membuka matanya perlahan. Mencoba melihat siapa orang yang mengganggu tidurnya itu. Sial! Padahal Jimin baru saja bermimpi indah. Mimpi berkeliling dunia memakai balon udara.

"Park Jimin! Bangun!" Jimin mengucek matanya, kemudian memandangi lelaki dihadapannya dengan tatapan tajam. Lelaki itu Park Namjoon, Hyung semata wayangnya yang mempunyai penampilan dan sifat seratus delapan puluh derajat berbeda dengan dirinya.

"Mengapa kau ada di Busan?" tanya Namjoon tanpa peduli dengan wajah adiknya yang masih setengah sadar.

Jimin diam saja. Mungkin berusaha mengontrol sakit kepalanya gara-gara dibangunkan tiba-tiba. Dia malah menutup kepalanya dengan bantal seakan tidak peduli dengan pertanyaan Hyungnya barusan. Namjoon menarik bantal yang menutupi wajah Jimin. Lalu dengan setengah memaksa, ia menarik bahu lelaki itu agak keras.

"Kau bermasalah lagi? Apa lagi yang kau perbuat? Kau dikeluarkan dari kampus?" Dengan nada tinggi Namjoon menghujani Jimin dengan berbagai pertanyaan yang menyudutkkan lelaki itu. "Sampai kapan kau ingin mempermalukan keluarga kita?" Jimin bangkit dan menatap Namjoon dengan penuh kebencian, seakan sedang berhadapan dengan musuh bebuyutannya. Seperty Harry Potter menatap Lord Voldemort, Batman menatap Jocker. Mata Jimin berkilat tajam.

"Jawab!" Namjoon semakin emosi. Wajahnya yang putih memerah. Suaranya agak bergetar karena menahan amarah.

Masih dengan ekspresi yang sama, Jimin memalingkan muka. Kemudian dengan lantang ia berkata, "Kenapa kau mengurusiku? Urus saja urusanmu sendiri! So, get out!"

"Aku mengurusmu karena aku Hyungmu!"

"Jangan sok romantis!" ucap Jimin tidak kalah keras. "Sangat menjijikkan."

"Sialan! Aku bahkan lebih tua darimu. Seharusnya kau bisa sedikit menghormatiku." Jimin tertawa keras. Kemudian ia kembali merebahkan tubuh dan memejamkan mata. Ia malas mendengar ocehan Hyungnya yang membuatnya bertambah muak. konyol sekali Namjoon ingin dihormati setelah apa yang dia lakukan dulu pada mantan kekasih Jimin.

Mantan kekasih? Ya, Irene namanya. Perempuan yang sangat dicintai Jimin dengan segenap jiwa dan raganya selama hampir dua tahun. Tetapi apa yang terjadi? Jimin melihat Irene bermesraan dengan Namjoon sewaktu mereka tinggal di Amerika. Setelah kejadian itu Jimin tidak mempedulikan Namjoon dan Irene. Kabar terakhir yang Jimin dengar, Namjoon dan Irene berada di kota yang sama. Namjoon menjalankan bisnis di Busan, dan Irene memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah di Amerika, lalu menjadi model di Busan karena keluarga Irene memang tinggal di Busan.

Namjoon, lelaki yang terkenal paling sabar di antara teman serta keluarganya jelas tambah naik pitam. "Percuma aku bicara dengan orang sepertimu!" ujarnya sambil beranjak dari kasur Jimin dan berjalan pergi meninggalkan kamar leaki itu dengan gusar.

Ketika mengetahui Namjoon telah keluar dari kamarnya, Jimin beranjak dari tempat tidur. Dengan langkah terseret, ia mengambil tas ranselnya dan mengeluarkan seluruh isinya. Ponsel, notes, bolpoin, kaus, handuk kecil, parfum, dan sebuah sepatu.

Jimin menarik tali sepatu itu dan meletakkannya dengan hati-hati di atas meja. Sejenak ia tertegun. Heran melihat benda-benda yang tertempel di sepatu tersebut. Ukuran sepatu tersebut termasuk mungil. Warna sebenarnya merah. Tapi karena kotor, warna merahnya menjadi agak pudar. Tapi uniknya, banyak sekali benda kecil yang tertempel di sepatu itu. Mulai peniti, kancing, stiker, dan pin. Sungguh ramai!

"Sepatu ini benar-benar dekil. Tapi kenapa perempuan itu masih memakainya? Perempuan kan kebanyakan anti terhadap sesuatu yang kotor. Tapi perempuan ini..." Jimin berbicara sendiri. Ia lalu membuka tas kecilnya dan mengambil kamera kesayangannya. Lelaki itu memang penggila fotografi. Pekerjaannya jalan-jalan dari satu kota ke kota lain untuk hunting foto. Dia mulai menekuni hobinya itu sejak SMP. Jadilah sekolahnya hancur karena sering membolos untuk hunting foto.

Ketika SMA, dia sengaja dikirim orangtuanya ke Amerika karena tiga kali di-drop-out dari sekolahnya di Seoul. Kelakuannya itu menurut orangtuanya memalukan nama besar keluarga Park. Yup, keluarga Park adalah salah satu keluarga tersohor di Seoul. Park Young Hoon, kakeknya, adalah pengusaha sukses pemilik Park Group yang banyak memiliki bisnis hotel, kafe, dan restoran.

Jimin mengarahkan kameranya ke sepatu dekil tadi, mencari angle yang tepat. Kemudian ditekannya salah satu tombol dan... klik! Ia tersenyum lebar. Dilemparkannya sepatu dekil itu ke bawah tempat tidurnya. Lumayan juga untuk menakut-nakuti tikus.

Sebenarnya Jimin menyukai foto bernuansa human interest. Karena ia merasa bisa merasakan apa yang dirasakan oleh objek dalam fotonya itu. Baginya, foto selalu memberikan cerita tersendiri tentang kehidupan. Ya, kehidupan yang terkadang sulit untuk dipahami. Foto juga membuatnya tidak pernah merasa sendiri meskipun berada di tempat sepi.

"Selamat pagi, Tuan Jimin," sapa bibi Ahn, pembantu keluarga Park yang telah mengabdi sejak Jimin masih kecil. Bibi Ahn membawa nampan berisi segelas susu dan roti tawar. Wanita tersebut sangat hafal jika Jimin paling benci terhadap makanan manis. Roti saja tidak ingin diberi apapun. Hanya tawar.

Jimin menggaruk-garuk kepalanya sambil menguap lebar. Sejenak ia mengusap wajah dengan ujung kausnya. Menghilangkan air liur yang mungkin masih menempel di wajahnya. Bibi Ahn tertawa melihat kelakuan anak majikannya itu. Sorot mata bibi Ahn tampak teduh. Menandakan betapa bijaksana dia.

"Ada apa, bibi Ahn?"

Bibi Ahn tersipu malu. Seperti anak remaja yang ketahuan mengintip laki-laki sedang berganti baju. "Ah, tidak. Bibi hanya teringat waktu Tuan Jimin masih kecil dulu."

Jimin membuka matanya lebar-lebar sambil menatap wanita yang ada di depannya itu. "Ingat apa, bi?" tanya Jimin dengan ucapan bibi Ahn. "Duduk, bi." Bibi Ahn meletakkan nampan di atas meja. Kemudian ia duduk di lantai.

"Kenapa bibi Ahn duduk di lantai?"

"Sudah, tidak apa-apa. Takut kasurnya kotor."

"Baiklah, kalau begitu aku juga duduk di bawah saja."

"Eh, jangan, Tuan," ucap bibi Ahn panik dan langsung duduk di sudut tempat tidur Jimin dengan ragu.

Jimin memperhatikan wanita tua di hadapannya. Bibi Ahn belum berubah. Hanya rambutnya saja yang telah memutih. "Bibi Ahn tahu tidak? Selama aku di Amerika, bibi Ahn satu-satunya orang yang kurindukan loh. Ternyata bibi Ahn tidak berubah, ya. Masih seksi. Hahhaha..."

"Ah, Tuan Jimin dari dulu juga tidak berubah. Masih hobi sekali meledek saya."

"Hahhaha... masa sih aku tidak berubah? Aku kan sekarang sudah dewasa. Sudah malu jika dimandikan oleh bibi Ahn. Nanti bibi kepengen, lagi," goda Jimin sambil tersenyum jahil.

"Ya mana mungkin, Tuan. Tuan jimin kan sudah saya anggap cucu saya sendiri," ucap bibi Ahn dengan wajah serius.

"Tapi aku serius. Selama aku di Amerika, bibi Ahn lah yang paling kurindukan. Karena ketika di Seoul, bibi Ahn yang mengurusku dari kecil. Bibi Ahn yang paling tahu diriku. Bibi Ahn juga yang sering menenangkanku jika aku habis dimarahi Appa," tutur Jimin.

"Oh iya, dulu saya yang memandikan Tuan Jimin waktu kecil, menyuapi makan, menemani tidur, bahkan saya yang mengejar-ngejar layangan waktu layangan Tuan Jimin putus. Saya dulu juga masih kuat lari-lari mengikuti Tuan Jimin naik sepeda roda tiga sambil menyuapi makan."

"Hahahha..." Jimin tertawa. Kemudia ia menghela napas panjang. "Waktu itu, hanya bibi Ahn yang sayang padaku. Sampai sebelum aku berangkat ke Amerika pun, bibi Ahn masih sering membelaku di depan Appa."

"Bibi masih ingat waktu Tuan Jimin pulang jam empat subuh sambil sempoyongan terus muntah-muntah."

"Iya, waktu itu bibi mengatakan pada Appa kalau aku baru saja pulang lari pagi dan kelelahan di kamar."

Mata bibi Ahn menerawang ajuh. "Dulu bibi sering kasihan pada Tuan Jimin. Anak kecil kenapa sering dimarahi? Nantinya kan malah tambah bandel. Tapi bibi senang melihat Tuan Jimin sekarang."

Jimin mengerutkan keningnya. "Senang kenapa, bi?"

"Karena Tuan Jimin sekarang sangat tampan. Mirip seperti idol boygroup anu itu loh, hmmm... Jimin BTS!"

"Hahhaha... Bibi Ahn bisa saja." Jimin tertawa melihat wajah bibi Ahn yang terlihat serius. Kemudian ia bertanya, "Hyung pergi ya, bi?"

"Iya. Jam segini biasanya Tuan Namjoon ke Soda."

"Soda?"

Bibi mengangguk. "Soda itu nama sebuah rumah Hasukjib*, Tuan. Pemiliknya bernama Kim Il Ho atau orang-orang biasa memanggilnya Kakek Kim. Beliau katanya masih bersahabat dengan Nenek Park. Orangnya sangaattt baik. Tuan Namjoon sering datang ke sana. Soalnya teman-teman Tuan Namjoon banyak yang tinggal di sana. Sudah begitu, cucu Kakek Kim yang bernama Nona Seokjin pernah dekat dengan Tuan Namjoon."

"Mereka sepasang kekasih?" Jimin mulai tertarik. Karena jarang sekali Hyungnya itu terdengar dekat dengan seorang perempuan.

"Saya tidak tahu, Tuan." Jimin berpikir sejenak. Apa mungkin Seokjin itu kekasih Namjoon? Lalu bagaimana dengan Irene? Kabarnya kan Irene menjadi model di Busan. Apa mereka berdua masih sering bertemu?

"Bibi Ahn tahu alamatnya?"

"Jelas tahu, Tuan. Rumah Soda itu sudah terkenal seantero Busan. Tuan Jimin ingin ke sana?" Jimin terdiam sambil menatap bibi Ahn tajam. Sesaaat kemudian mengangkat bahu. Menandakan ia ragu dengan jawabannya sendiri.

"Hayooo... Ingin mengincar perempuan cantik di sana ya, Tuan..?"

"Tidak tertarik. Pokoknya tidak ada perempuan yang bisa menggantikan keseksian bibi Ahn."

"Aduh, Tuan Jimin bercanda terus."

Jimin tertawa menatap wanita tua itu. Dalam hati ia berkata, Waktu berjalan begitu cepat. Bibi Ahn sudah bertambah rapuh. Kedua tangannya sudah tidak kuat lagi memijat seperti dulu. Walaupun begitu, wajahnya tetap tidak berubah, hanya sekarang terlihat keriput-keriput yang tidak bisa ditutupi. Namun di balik semua itu, wajahnya tetap memancarkan kelembutan dan kedamaian.

.

.

.

.

.

.

.

-TBC-

.

.

.

*Hasukjib : kurang lebih seperti kos2an kalau di Indonesia, jadi tinggal bersama keluarga pemilik rumah. Setiap pagi dan malam, ahjumma pemilik rumah akan menyediakan makanan dan makan bersama.

Hohoho akhirnya chapter 1 update...

Oh yaa terimakasih buat kalian yang udah baca serta review prolog kemaren hehhe

Happy reading guys maaf kalau masih banyak typo.. Dan jangan lupa FnF dan komen yaa. Aku menerima saran dan kritik yang membangun;)) atau mungkin kalian ada pertanyaan?

Thankyou!