Disclaimer: J.K. Rowling

Warning: Slash and AU


Side Story _ Anak yang Bertahan Hidup

Hari itu cerah.

Cerah sekali sampai matahari rasanya menusuk-nusuk kulit dan raga. Hari yang tak disangka oleh pasangan suami istri Potter akan menjadi hari yang buruk bagi mereka.

Putra mereka, Harry James Potter, menghilang secara tiba-tiba dari pandangan mereka dalam sekejap.

Tadinya mereka merencanakan untuk pergi berkemah bersama di hutan Muggle bersama dengan keluarga Weasley (yang menuruti ajakan Arthur Weasley untuk bisa mengenal Muggle lebih jauh). Black dan Lupin tak mengikuti ajakan dari Lily saat itu, dengan alasan mereka tak begitu tertarik dengan kehidupan Muggle dan memilih untuk melanjutkan pekerjaan mereka di Kementrian.

Dan jadilah, mereka melaksanakan kegiatan kemah di sebuah hutan tepatnya dipedesaan sekitar Skotlandia dan mendirikan tenda sihir beserta api unggun. Keluarga Weasley sangat senang akan hal-hal yang baru yang mereka temui saat itu. Bahkan, Ron yang masih berusia enam bulan saja tertawa dan bergerak lincah di dekapan Molly. Berbeda dengan Harry yang menatap kegiatan itu dengan mata hijau cemerlang yang melebar penuh ingin tahu. Bagaimana pun juga, darah –ingin-tahu-apapun-yang-ada-disekitarnya- James mengalir deras di tubuhnya.

Katakanlah kejadian buruk atau yang bisa disebut tragedi di hari itu sangatlah berbumbu drama. Namun, kekhawatiran dan kepanikan yang terjadi di saat itu bukanlah drama biasa. Mereka panik, berlari ke sana kemari demi mencari bayi berumur enam bulan yang entah berada di mana.

Tentu saja James sudah memeriksa keberadaan Harry dengan sihir, namun ia tetap tak ditemukan. Lily pun sudah memeriksa di sekitar hutan itu dengan berharap anak laki-lakinya itu ditemukan. Namun nihil.

Tujuh hari sudah terlewati tanpa berita apapun dari Harry.

Di saat mereka putus asa dan berniat untuk meminta bantuan seluruh jajaran Kementrian di hari kedelapan, suara tangisan bayi terdengar nyaring di arah pepohonan yang terletak di kanan kediaman Potter. Sontak, James dan Lily bergegas ke arah tangisan itu.

Terdapatlah Harry yang menangis keras di antara batang pohon kokoh–tersangkut di pohon lebih tepatnya–di sekitar pohon-pohon pinus. James pun bergegas mengambil sapu terbangnya dan meraihtubuh kecil putranya itu sambil tertawa bahagia. Membawanya ke bawah dan membiarkan istrinya memeluk mereka berdua setelah ia menjejakkan tanah, James tertawa lebih lebar saat mendengar istrinya menangis meraung-raung mengikuti tangisan putranya.

Bagaimana bisa Harry ada di sekitar kediaman mereka padahal James dan Lily berserta Auror dan sahabat mereka sudah mencari di manapun juga, adalah suatu keajaiban dan misteri yang tak bisa dipecahkan sampai sekarang.

Dari situlah, James dan Sirius membuat lelucon dan panggilan sayang untuk putra tunggal keluarga Potter itu dengan sebutan 'Anak-yang-Bertahan-Hidup' ─yang berakhir dengan teriakan dan pukulan Lily yang menyuruhnya berhenti mengatai tragedi anak mereka sendiri.

Sayangnya, James dan Sirius tak mengindahkan kata-kata Lily itu dan tetap membiarkan panggilan itu tetap ada dan bahkan mereka sebarkan ke seluruh penyihir di Inggris.

Yang sayangnya lagi, panggilan itu membuat kesal seorang Harry Potter karena musuh besarnya, Draco Malfoy, tak henti-hentinya memanggil dirinya dengan sebutan Anak-yang-Bertahan-Hidup dengan tambahan panggilan kreatif yang menyebalkan lainnya. Tak bisakah ayahnya dan ayah baptisnya itu tak membuat nama panggilan yang sama sekali tak bagus itu?

Harry pun berjanji di dalam hati, ia tak akan menceritakan asal usul panggilan itu kepada anaknya sendiri nanti.

Sialnya, ia tak menyangka bahwa 'anaknya' itu akan muncul di saat ia berumur enam belas tahun dan bertanya kepada Draco mengapa ia mendapat panggilan 'Anak-yang-Bertahan-Hidup' dari teman-temannya. Dan dengan senang hati, Draco menceritakan panjang lebar kisah hidupnya yang memalukan namun salah satu keajaiban itu. Entah bagaimana Draco tahu detil-detil dari kisah hidupnya itu.

"Nah, itulah asal dari panggilan 'Anak-yang-Bertahan-Hidup' itu. Bagaimana? Memalukan sekali bukan?"

Oke, orang yang pertama akan ia bunuh adalah pemuda menyebalkan dari Slytherin yang merupakan musuh bebuyutannya sedari tahun pertama di Hogwarts, yang menceritakan asal usul panggilan memuakkan itu kepada kedua anak─yang mengaku sebagai anak, imbuh batin Harry─ mereka.

Reaksi dari kedua anak laki-laki itu pun terbilang aneh. Mereka tak tertawa ataupun terkejut dengan cerita pengalaman pribadi Harry itu. Reaksi mereka itu membuat Harry merasa terharu karena baru kali ini ia tak dielu-elukan atau ditertawakan oleh pendengar ceritanya.

Scorpius tiba-tiba berjalan ke arah Harry dan memeluk pinggangnya erat-erat. Harry tak perlu menyembunyikan kekagetannya dengan menaikkan alisnya. Anak berambut pirang pucat itu pun tersenyum sedih dan mengusap-usap pinggang Harry ─yang bisa ia raih─ sambil menganguk pelan.

"Tenang saja, Dad. Lain kali, jika nanti kita berkemah berempat, aku tak akan membiarkan Daddy berpisah sedetik pun dariku. Kalau Daddy menghilang lagi, nanti aku, James dan Father pasti akan kerepotan saat Daddy kembali seperti waktu itu dengan menangis meraung-raung dan tersangkut di pohon setinggi lima meter. Kata Father, anak laki-laki tak boleh menangis dan tak boleh menyusahkan orang lain, kan?" ujarnya sambil memandang Harry dengan tatapan sedih.

Alis Harry berkedut.

Tanpa merasa kasihan, Harry pun menarik pipi Scorpius sekuat tenaga sambil tersenyum kejam.

"Kalau begitu, mohon bantuannya ya, Sir Scorpius."

Jeritan Scorpius mengudara bersamaan dengan tawa terbahak-bahak dari Draco dan James.


Chapter 2 _ Secret

.

Seorang Malfoy tak pernah memperlihatkan emosi, kelemahan, ataupun bersikap simpati kepada orang lain. Adalah hal yang disebutkan oleh ayahnya sejak ia kecil sampai sekarang. Memantapkan hal itu, Draco selalu menyembunyikan kelemahannya kepada siapapun (yang walaupun kelemahannya itu kadang coretsering ia perlihatkan bila ia kalah melawan Potter dan gengnya) dan selalu bersikap tak peduli kepada siapapun yang bukan temannya.

Karena itu, di hadapan dua dedemit kecil yang mengganggu hidupnya mulai sekarang ini, ia tak akan pernah mengeluh dan tak mempedulikan mereka.

"Oh Merlin, kenapa aku harus berhadapan dengan masalah ini? Masalah absurd ini akan kuadukan ke ayahku sepulang dari Hogwarts nanti! Ini salahmu, Potter. Kau dengar itu?! Kau. Yang. Salah!" Draco berteriak frustasi sambil menunjuk-nunjuk muka Harry yang bersungut kesal.

"Please, hentikan rengekanmu itu, Malfoy. Kau mirip gadis remaja yang sedang datang bulan, kau tahu?"

Oke, ralat sedikit, sekali-kali bolehlah ia bersikap di luar peraturan ayahnya dan memperlihatkan kelemahannya di hadapan Potter Si Anak Sial yang Bertahan Hidup.

Harry memijat keningnya dan berpikir keras. Tak lama kemudian ia menghela nafas dan memandang ke arah dua anak yang menjadi awal sebuah masalah.

"Jadi, kalian ini adalah anak dari kami berdua di masa depan dan pergi ke masa ini demi bertemu dengan kami di masa lalu?" desahnya sekali lagi. Semua kejutan ini membuatnya pusing, sungguh.

Kedua anak itu menganguk senang, kecuali Scorpius yang walaupun wajahnya cemberut tapi ia mengangukkan kepalanya. Sepertinya darah Malfoy mengalir deras di tubuhnya, dilihat dari sikap dan perawakan tubuhnya─kecuali matanya yang berwarna hijau cemerlang seperti dirinya. Oke, sejak kapan Harry menerima kenyataan bahwa kedua anak di hadapannya ini adalah anaknya?

"Tapi bukankah laki-laki tak mungkin melahirkan? Bagaimana mungkin?! Sekalipun kalian adalah anak adopsi tapi tak mungkin wajah kalian sangat mirip─ Harry berdeham pelan─ dengan kami?" tanyanya sambil berbalik menatap professor berambut hitam kelam yang meneguk teh dengan anggun. Professor itu menaikkan alisnya dan menaruh cangkirnya.

"Tentu saja mungkin. Mereka kan anak kalian," ucapnya datar seakan-akan pasangan gay memiliki anak kandung adalah hal yang wajar. Harry menahan keinginannya untuk tidak mengacungkan tongkatnya dan meluncurkan rapalan mantra kutukan tak termaafkan tepat di wajah professor yang selalu tersenyum penuh makna itu.

Professor Tom Marvolo Riddle.

Adalah professor Pertahanan terhadap Ilmu Hitam yang paling disegani dan ditakuti di Hogwarts setelah Professor Dumbledore. Ia berwajah tampan, bermata dan berambut hitam legam dengan tatanan rambut yang rapi. Ia memiliki otak jenius, yang tak akan terdengar aneh jika kau mendengar kisahnya sewaktu muda yang sudah banyak membantu kementrian. Namun begitu ia lebih memilih untuk mengajar di Hogwarts ketimbang bekerja di kementrian, padahal pihak kementrian sendiri sudah memintanya untuk bekerja di sana.

Ia terlalu sempurna, batin Harry mencela.

"─ry?"

Mengerjapkan mata, Harry memandang keempat orang di ruangan pribadi milik Professor Riddle yang menatap dirinya dengan pandangan yang berbeda-beda. Professor Riddle memandangnya dengan tatapan yang seakan tak peduli─namun ia tahu tatapan itu adalah tatapan yang penuh makna, Scorpius dan James─ah tentu saja mereka masih ada di sini, ia hampir melupakan keberadaan mereka─ memandangnya dengan cemas, dan tak ketinggalan Draco yang memandangnya dengan tatapan tajam.

Ia mendengus kesal. Tak bisakah Malfoy itu bersikap bersahabat dengannya? 'Hell no,' batin Harry menjawab spontan.

"Harry, kau mendengar pembicaraan kita barusan?"

Sekali lagi mata hijau cemerlang itu mengerjap.

"Ya?" Ia balik bertanya.

"Mengenai kedua anak kalian ini." Professor Riddle mengedikkan bahunya ke arah dua anak yang sekarang menyesap teh mereka masing-masing. Harry dan Draco mengernyit secara bersamaan mendengar kata-kata 'anak kalian'. Oh Merlin, apakah mereka harus terbiasa dengan panggilan menjijikkan itu?

"Err, terakhir kudengar mengenai masalah masa depan dan masa lalu?"

"Mengenai tujuan mereka mengganggu kehidupanku yang menyenangkan ini, Potter. Apakah ibumu tak pernah mengajarkan untuk membersihkan telingamu setiap hari agar pendengaranmu tak terganggu? Ah, aku lupa ibumu bahkan tak sempat mengelap air liurmu waktu kau bayi," koreksi Draco dengan senyum yang merendahkan. Kilat marah terpancar dari mata hijau cemerlang itu.

"Kau─" Harry mengeluarkan tongkat sihirnya dan mengacungkannya ke arah Draco, lalu dengan secepat kilat, merapalkan mantra pembeku. Draco tak bisa menyembunyikan kekagetannya dan ia melangkah mundur sambil menatap horor tongkat Harry yang sekarang mengeluarkan cahaya merah dari ujungnya.

"Protego."

Bunyi dentum kecil terdengar sekilas bersamaan dengan kilat putih yang bertemu dengan kilat merah. Harry menatap nyalang pria yang hanya mengayunkan tongkat kremnya dari kursi di balik mejanya.

"Untuk apa kau melindunginya, Sir?" desisnya berbahaya. Pria itu balik menatap tajam pemuda Gryffindor yang sekarang menatap kejam ke arah pemuda Slytherin yang sekarang jatuh terduduk dengan tatapan ketakutan di dekat lemari buku.

"Kuperingatkan agar kau tidak menyentuh murid asramaku, Potter. Potong lima poin dari Gryffindor." Sebelum Harry membuka mulutnya, Riddle berbicara lagi dengan senyuman tak wajar terlihat dari wajahnya.

"Dan apa kau lupa kedua anakmu sedang melihat pertengkaran kalian?"

Harry mengerang mendengar kata-yang-tak-boleh-disebut itu. Ia melirik kedua anak laki-laki yang sekarang memandang khawatir ke arah dirinya dan Draco. Ia pun mendesah. Memasukkan tongkat sihirnya ke dalam jubahnya, ia berjalan mendekati dan berjongkok di depan kedua anak yang menatapnya dengan tatapan memelas. Harry mati-matian menahan keinginannya untuk tidak memutar bola matanya.

"Maafkan aku membuat kalian kaget," ujarnya sambil tersenyum menyesal.

Mendengar permintaan maaf itu, Scorpius memeluk lehernya dan menyembunyikan kepalanya di tengkuk Harry. James pun memeluk Scorpius dan Harry sekaligus sambil menyembunyikan kepalanya di sebelah kanan.

Kaget dengan pelukan tiba-tiba itu, Harry terdiam sebentar dan kemudian mengusap kepala mereka berdua sambil tersenyum. Kehangatan ini sudah lama tak ia rasakan semenjak kematian orang tuanya di umur satu tahun. Orang tuanya yang bekerja sebagai Auror dan Healer, meninggal di salah satu misinya karena mantra pembunuh yang dirapalkan oleh penyihir hitam yang menjadi buronan mereka selama lima tahun. Diawali dengan ibunya dan diakhiri dengan ayahnya. Penyihir hitam itu pun meninggal seketika setelah ia merapalkan mantra pembunuh ke ayahnya yang secara bersamaan merapalkan mantra yang sama ke buronan itu.

Menyedihkan? Ya, ia merasa ia adalah anak yang menyedihkan. Setidaknya, ia dirawat oleh ayah baptisnya, Sirius Black, dan ia pun menempati rumah di Grimmauld Place No. 12 semenjak ia ditinggal oleh kedua orang tuanya. Ia pun memiliki paman yang baik hati namun sedikit judes, Regulus Black, adik dari Sirius.

Walaupun ia kadang merasa sendiri, ia tetap merasa bahagia. Masih ada paman dan bibi Weasley, Remus, Hermione, Ron, dan yang lain di kehidupannya. Harry tersenyum kecil saat ia mengingat saat ia berulang tahun ke sebelas tahun, tepat di mana ia diberitahukan akan bersekolah di Hogwarts dan seketika kediaman Black menjadi sempit karena banyaknya orang yang hadir di pestanya itu.

Ah, bicara tentang keluarga, secara tak sadar ia mengerjapkan matanya.

Tunggu, apa tujuan kedua anak ini ke masa lalu?

Riddle yang memperhatikan ketiga orang tengah saling berpelukan itu menoleh perlahan ke pemuda Slytherin yang sekarang mencoba berdiri dari tempatnya semula dengan muka yang cemberut. Professor Pertahanan terhadap Ilmu Hitam tersebut menaikkan alisnya.

"Tak berpartisipasi dalam acara 'berbagi kehangatan bersama keluarga' itu, Malfoy?"

"Bloody Hell."

.

Setelah kedua anak itu melepaskan pelukan mereka dan memilih duduk di pangkuan Harry, mereka pun melanjutkan pembicaraan mereka yang tertunda. Harry pun bertanya apa tujuan mereka ke masa lalu. Pertanyaan itu ditanggapi mereka dengan kerjapan mata.

"Tujuan kami?"

Harry dan Draco menganguk pelan.

James-lah yang mengawali pembicaraan itu dengan senyuman lebar. "Tujuan atau misi kami ke sini adalah menyaksikan kalian menikah, Father dan Dad!"

Hening.

"Ah, maafkan aku, sepertinya telingaku memang diharuskan untuk dibersihkan. Sampai-sampai aku salah dengar kata-kata barusan," ujar Harry sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Hah, tak kusangka tuli-mu itu menyebar ke telingaku, Potter. Jangan mendekat lebih dari dua meter. Nanti idiotmu juga menyebar ke otakku."

"Bukannya kau memang idiot?"

"Kau lebih idiot."

"Kau."

"Kau."

"Aih, ternyata sama saja seperti di masa depan~ Father dan Dad juga sering bertengkar kecil seperti itu. Hanya saja bedanya kalian di sini belum menikah ya!"

Suasana sedingin dan sesunyi kutub Utara pun kembali terjadi. Dengus tertahan yang terdengar dari Riddle memecahkan keheningan yang menyesakkan itu seketika.

"Berarti kesimpulan dari kejadian ini adalah kalian berdua, Potter dan Malfoy, diharuskan untuk menikah setelah kalian lulus dari Hogwarts nanti," simpul Riddle dengan seenaknya sambil menangkupkan kedua tangannya.

Tak sempat berkata apapun─dan saking shock-nya, Harry dan Draco hanya bisa berteriak frustasi sambil melempar meja Professor Riddle hingga terbalik dan berakhir dengan detensi dari Riddle.

- u -

"Aku tak menyangka hubunganmu dengan Potter sebegitu jauhnya, Draco."

Pernyataan itu dibalas dengan lemparan bantal yang dilayangkan oleh Draco tepat di wajah pemuda yang berasal dari Itali itu.

"Bicara mengenai hal itu sekali lagi, aku akan mengutuk mulutmu menjadi batu, Blaise," desis Draco sambil menjatuhkan tubuhnya di atas kasur putih dengan selimut hijau lumut khas Slytherin. Yang bersangkutan hanya menyeringai jahil.

"Bagaimana aku tidak berkomentar seperti itu? Lihat, salah satu anakmu saja ada di sini," ujarnya sambil menunjuk anak laki-laki berambut pirang yang sudah terlelap di sebelah Draco.

Alis Draco berkedut.

Yeah, semua ini salah Potter sialan itu. Jikalau ia tidak memancing kemarahannya, ia tidak akan didetensi seperti ini oleh Riddle sialan itu.

"Aku minta kalian untuk membawa Scorpius dan James ke masing-masing asrama kaliantentunya sesuai asramanya masing-masing, dan biarkanlah mereka untuk tidur di tempat tidur kalian berdua. Jangan coba-coba menyihir tambahan kasur ataupun menyuruh mereka untuk tidur di tempat lain selain tempat tidur kalian. Aku akan segera mengetahui kalau kalian berbuat sesuatu di luar perintahku."

Adalah detensi sialan yang dikeluarkan oleh Professor sialan siang itu.

Setelah peristiwa yang terjadi di ruangan Riddle, mereka pun melenggang keluar dengan lemas karena terlalu banyak informasi di luar nalar yang mereka terima secara sekaligus. Mereka mengabaikan pandangan menusuk yang menatap mereka dengan pandangan yang bermacam-macam. Kedua anak kecil itu mengikuti mereka dengan senyum lebar di wajah mereka berdua─minus Scorpius yang tak tersenyum namun dari garis wajahnya terlihat ia senang.

Mereka pun berpisah di tangga bercabang yang membawa Harry dan James ke asrama Gryffindor dan ia dan Scorpius ke asrama Slytherin. Ia pun berjalan ke tangga yang menuju ruang bawah tanah tempat Ruang Asrama Slytherin berada. Ia berjalan agak cepat─karena Malfoy tak pernah terburu-buru─ seiring dengan nafasnya yang tak beraturan. Entah kenapa memikirkan kejadian tadi membuat emosinya naik dua kali lipat.

.

Ia pun melirik Scorpius yang tertidur dengan lelapnya di sampingnya. Ia benar-benar tak bisa membayangkan dirinya dan Potter akan hidup bersama, menikah, lalu memiliki dua anak. Merlin, dari mana pula dua anak ini dilahirkan? Dari anus? Atau mungkin dari mulut? Draco bergidik ngeri saat memikirkannya.

Kalau ia tak salah ingat, ramuan untuk membuat hamil ataupun membuat rahim pun tidak ada. Lagipula ramuan ataupun sihir yang berkaitan dengan 'hidup' atau penambahan nyawa seseorang sangatlah ilegal. Tak ada yang berani mencoba ataupun meramu sesuatu yang berhubungan dengan 'hidup'.

Dari cerita ayah baptisnya, Severus Snape, dulu pernah ada yang mencoba membuat ramuan yang berkaitan dengan 'nyawa' ataupun 'kehidupan' yang berakhir dengan ditahannya orang itu di penjara Azkaban. Yang menurut kabar burung, hasil dari ramuan itu hanyalah seonggok daging dan beberapa tulang yang menancap serta darah merah di sekelilingnya. Tak berbentuk seperti manusia, tentunya.

Semakin dipikirkan, Draco semakin keras mengurut pelipisnya. Merlin, tak bisakah ia menjalani kehidupan sebagai penyihir biasa?

"Aku harap dengan ini hubunganmu dengan Potter menjadi lebih intim, Draco," ujar Blaise tak membantu.

Sekali lagi, bantal putih terlempar ke wajah Blaise dengan lebih keras.

- u -

"Apa. Yang. Sebenarnya. Terjadi. Mr. Riddle!"

Geraman tak tertahan yang dilontarkan McGonagall saat itu hanya dibalas dengan senyum misterius dari Riddle.

"Bukankah tadi saya sudah menjelaskannya, Professor? Mereka adalah anak kandung dari Malfoy dan Potter yang datang dari masa depan," jawabnya tenang.

"Ya! Mana mungkin mereka adalah anak kandung Mr. Malfoy dan Mr. Potter! Tak ada sihir ataupun ramuan yang menghendaki itu! Dan apa kau tahu bahwa menjelajahi waktu adalah hal yang sangat ilegal dan dapat dimasukkan ke Azkaban?! Hal ini juga dilakukan oleh dua anak kecil berumur dua belas tahun! Dua belas tahun, Mr. Riddle! Apa yang sesungguhnya terjadi di dunia sihir ini?!" jerit McGonagall sambil mengacungkan jarinya ke wajah Riddle yang tak bergeming.

"Aku yakin bukan mereka sendiri yang melakukannya, Minerva. Mereka pasti dibantu oleh seseorang yang memiliki sihir yang kuat yang dapat mengirim mereka ke masa lalu. Seseorang yang ada di masa ini, kurasa."

"Dumbledore..."

Albus Dumbledore masuk ke ruangan pribadi Riddle sambil tersenyum penuh makna. McGonagall bergeser memberikan jalan kepada Dumbledore yang sekarang berdiri di hadapan Riddle. Riddle yang sejak tadi duduk di balik mejanya sambil menyesap teh yang tersisa menatap Dumbledore dengan senyum yang sama.

"Benar kan, Tom?" Dumbledore pun men-transfigurasi dua tungku kecil di dekat meja Riddle menjadi dua buah kursi yang nyaman. Ia pun mempersilahkan McGonagall untuk duduk di sampingnya.

"Perlukah aku menjawabnya?" Riddle balik bertanya dengan seulas senyum misterius.

Keduanya hanya diam dalam senyuman yang sama. Seakan saling mengerti dengan keadaan yang terjadi saat ini, Dumbledore menganguk dan menatap McGonagall yang juga menatapnya dengan bingung.

"Minerva, aku minta agar kau menyembunyikan masalah ini dari Kementrian. Aku yang akan mengurus segala masalah yang terjadi di pagi hari ini. Aku juga akan meminta Severus untuk mengurus tempat tidur untuk tambahan satu anak di asrama Slyhterin. Begitu juga denganmu, Minerva." Ia mengedipkan matanya ke arah McGonagall yang menatapnya seakan-akan hidungnya berubah menjadi pohon pinus.

"Ah, untuk masalah tempat tidur sepertinya itu tak diperlukan, Professor Dumbledore. Aku sudah menyerahkan tugas itu kepada Potter dan Malfoy untuk berbagi tempat tidur dengan kedua anak itu tadi," ujar Riddle. Mata McGonagall semakin melebar.

"Tu-tunggu dulu, Dumbledore! Apa─apa yang sebenarnya terjadi?! Apa yang kalian sembunyikan dariku?!"

Riddle tersenyum penuh kemenangan dan menangkupkan kedua tangannya di bawah dagunya seraya berkata,

"Biarkan ini menjadi rahasia kami berdua, Professor McGonagall."

- u -

"Apa yang sebenarnya terjadi, Harry?"

Harry memutar bola matanya bosan dan menatap Hermione yang mendekatkan wajahnya ke wajah Harry. Memojokkannya, lebih tepatnya.

"Bukankah aku sudah menjelaskannya tadi, 'Mione?"

"Yep, dan aku masih tak bisa menerimanya dengan hati yang lapang." Hermione menggerutu dan kembali duduk di tempatnya semula.

Hah.

"Aku pun sama sekali tak bisa menerimanya. Segalanya masih tertutup dengan misteri. Tak ada yang bisa kulakukan selain menerima kenyataan yang sekarang dan menjalaninya terlebih dahulu," desah Harry. Hermione mengerutkan dahinya, berpikir.

"Yang jadi masalah, di buku yang kubaca mengenai sihir tak ada satupun sihir, ramuan ataupun cara yang bisa membuat organ rahim tercipta. Dalam dunia Muggle pun─ tunggu, bukankah ada penelitian baru-baru ini?" Hermione terdiam dan terlihat berpikir lebih keras lagi. Harry hanya menatap heran perubahan sikap Hermione.

"Mate, aku ingin bertanya padamu..." Keheningan itu dipecah oleh Ron yang bermuka pucat.

"Ya?"

"...apakah kau sebenarnya─"

Harry menelengkan kepalanya.

"─wanita?"

Buku tebal milik Hermione langsung melayang ke rambut merah.

"Hey! Itu bukuku!" Hermione seakan tersadar dan segera mengambil bukunya yang tak bersalah yang tergeletak di lantai. Ron mengaduh sakit sambil mengusap-usap kepalanya yang terasa pening.

"Abaikan pertanyaan tadi, Harry. Dalam dunia Muggle, terdapat satu penelitian yang dapat memiliki anak. Kalau di dunia sihir tak bisa, kemungkinan besar mereka berdua berasal dari dunia Muggle!" terka Hermione bersemangat. Entah kenapa Harry heran dengan semangatnya yang menggebu-gebu itu.

"Tapi apa kau tak salah, 'Mione? Mereka itu berasal dari masa depan dan berasal dari dunia sihir. Dan apa kau tak merasa aneh kalau aku dan Malfoy pergi ke dunia Muggle untuk memiliki anak, begitu? Bukankah tabu untuk Malfoy yang berdarah murni meminta tolong ke dunia Muggle untuk mendapatkan keturunan?" Harry sedikit bergidik saat mengatakan dirinya akan memiliki anak bersama Malfoy.

"Tak aneh. Walaupun begitu, mereka tetap membutuhkan pewaris untuk kelangsungan garis keturunannya, bukan?" Harry mengerang.

"Oh 'Mione, please. Kau benar-benar berpikir bahwa mereka adalah anakku dan Malfoy? Kau benar-benar percaya dengan omongan mereka yang menyatakan bahwa mereka dari masa depan? Bagaimana kalau mereka berbohong?"

"Bagaimana kalau mereka benar?"

Harry terdiam.

"Kau gila, 'Mione."

"Nyatanya? Dari fisik mereka berdua, mereka begitu mirip denganmu dan Malfoy. Sifatpun, oke James memang mirip denganmu tapi tak begitu mirip dengan sifatnya, tapi Scorpius? Walau hanya sejenak aku melihatnya, darah Malfoy mengalir kental di tubuhnya! Dan namanya, Harry! Demi celana pink Merlin, James itu kan nama ayahmu, dan Scorpius, oh dari namanya saja terdengar Malfoy sekali, bukan?"

"Oh hentikan, Hermione." Harry menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia merasa malu, kesal, bingung, penasaran, namun terasa menjijikkan. Bagaimana mungkin ia berbagi cinta dengan Malfoy dan sampai memiliki anak? Bagaimana dengan interaksi intim─ oke, khusus satu ini Harry tak mau memikirkannya lebih jauh lagi. Adegan ciuman pria dengan pria di film─bukannya ia menonton film gay ya, ini secara tak sengaja ia melihatnya─ saja membuatnya mual apalagi sampai...please, Harry tak mau melanjutkannya.

"Kenapa kau terlihat senang sekali, 'Mione? gerutu Ron sambil mengusap-usap kepalanya. Harry ikut menganguk setuju mengenai pertanyaan Ron tadi.

Hermione mengedarkan pandangannya ke segala arah sambil tersenyum gugup.

"Err, penasaran?"

Harry dan Ron memicingkan mata mereka, tak percaya.

"Ah, daripada itu, di mana James sekarang, Harry?"

Harry mengedikkan bahunya ke arah kamarnya yang di lantai dua ruang asrama Gryffindor.

"Tertidur. Sepertinya ia terlihat lelah sekali." Hermione menganguk pelan.

"Tentu saja, perjalanan melintasi waktu memang memakan banyak tenaga. Apalagi dalam perjalanan yang jauh seperti itu," ujar Hermione.

Ya, setelah ia berpisah dengan Malfoy, Harry dan James pun pergi ke ruangan asrama Gryffindor dan Harry mengantarkannya ke kamar tidurnya. Ia tak mengacuhkan berbagai pertanyaan, siulan, dan beberapa godaan dari teman-teman seasramanya. Ia menyuruh James untuk tidur di tempat tidurnya. Terlihat koper coklat milik James tergeletak di dekat tempat tidurnya yang ia yakin, Professor Riddle-lah yang berjasa dalam hal ini.

Setelah memastikan James tertidur, Harry meninggalkannya dan berjalan ke arah Hermione dan Ron yang sedang berkumpul mengejarkan essai Ramuan.

"Kalau begini, kita memang harus menunggu petunjuk selanjutnya," ujar Hermione sambil menggulung kertas perkamennya dan beranjak dari tempatnya.

Harry menganguk dan memandang nanar ke arah perapian.

- u -

"Hei! Daddy Harry!"

Harry memandang kecut arah dua suara yang diucapkan secara bersamaan tadi. Ia pun menatap tajam dua orang yang memiliki wajah yang sama itu.

"Siapa yang kau sebut dengan 'Daddy', Fred, George..." desis Harry kesal. Dua anak kembar itu menyeringai.

"Tentu saja kau~ Daddy Harry~ Apa kau lebih senang dengan panggilan 'Mummy'?" terka Fred sambil memeluk pundak Harry.

"A─apa?!"

"Mummy~ Mummy~ Mummy Harry~! Aah, mungkin di pagi hari kalian akan berbuat seperti ini ya." Fred dan George berdeham pelan lalu saling menatap sama lain dengan sinar mata kejahilan.

"Morning, Harry Baby. Apakah tidurmu nyenyak?" ujar Fred dengan suara yang diberat-beratkan. Ia pun menyentuh pipi George dengan penuh kelembutan dan penuh cinta.

"Tentu saja, Draco Sweetie. Aku tidur nyenyak di bantalan lenganmu yang penuh dengan cinta dan kehangatan itu," jawab George malu-malu. Fred tersenyum penuh cinta dan menaruh jari telunjuknya di bibir Fred.

"Kalau begitu malam nanti, akan kuberikan kehangatan yang lebih padamu, My Harry Sweety Darling."

"Oh, Draco."

Dan mereka pun memajukan bibirnya dan membuat suara seperti ciuman. Harry bertaruh, mukanya memerah bagaikan udang yang direbus di dalam air panas yang mendidih.

"Oh diamlah kalian!" Harry pun melemparkan ayam dari piring Ron ke arah dua anak kembar yang dengan mudah menghindarinya dan kemudian menertawakan kelakuan Harry. Hermione memutar bola matanya dan melanjutkan kegiatan membaca buku tebalnya. Beberapa gadis Gryffindor dan Hufflepuff terkikik pelan saat mendengar lelucon dari duo Weasley itu.

"Daddy dan Father tidak pernah berbuat seperti itu!"

Si Kembar mengerjapkan matanya secara bersamaan. Menatap anak kecil berambut pirang yang sekarang berdiri angkuh di hadapan Harry. Matanya yang hijau cemerlang itu berkilat tajam. Si Kembar menyeringai kembali lalu menunduk untuk mensejajarkan pandangan mereka.

"Ah, Malfoy junior kedua*. Boleh aku bertanya satu hal padamu?"

Scorpius merengut menatap Fred dan George yang menyeringai sambil memeluk pundaknya dari sisi kanan dan kirinya.

"Apa?"

"Bisakah kau untuk memperlihatkan─"

"─bukti bahwa─"

"─Harry dan Malfoy junior pertama─"

"─benar-benar orang tua kalian?" Kalimat terakhir diucapkan bersamaan. Scorpius memandang mereka dengan mata hijau yang melebar.

"I-Itu..."

"Tentu saja ada!" Belum sempat Scorpius menyelesaikan, anak laki-laki berambut hitam ikal bermata abu-abu berjalan sambil tersenyum lebar ke arah mereka.

"Hoo~ Coba kau perlihatkan pada kami kalau begitu," sindir Fred dan George yang mendekati James. James merogoh bagian dalam jubah Gryffindor-nya dan meraih sebuah kertas─atau lebih tepatnya foto lalu memberikannya kepada Fred yang masih menyeringai.

Sejenak, mata Fred dan George terlihat melebar dan mereka terdiam. Aneh, tentu saja ada yang aneh dengan sikap mereka yang terdiam seperti itu. Dengan penasaran, Harry mendekati mereka dengan perasaan ragu dan perasaan yang yakin, foto itu bukanlah foto biasa. Harry sedikit berjinjit untuk bisa melihat foto yang masih di dalam genggaman Fred itu.

Matanya yang hijau cemerlang melebar. Ia menatap ngeri foto yang bergerak-gerak melambai kepadanya.

"Kau tak bilang padaku, Harry. Kalau ternyata kau memiliki tiga anak..." ujar Fred sambil menyeringai─ia dan George telah kembali dari kekagetannya.

Demi jenggot kepang Merlin.

Di foto hitam-putih itu terlihat dua anak laki-laki yang ia kenal sebagai Scorpius dan James yang tersenyum bahagia sambil melambai-lambai. Di belakang mereka terdapat dua pemuda sekitar berumur dua puluh tahunan yang berwajah mirip dengan dirinya dan Draco─ia mengungkiri bahwa dua pemuda itu adalah dirinya dan Draco─ yang tersenyum lebar. Pemuda yang berwajah mirip dengan Draco memeluk pundak pemuda yang berwajah mirip dengannya yang sedang mendekap sebuah bundelan.

Bundelan yang berisikan bayi sekitar lima bulan yang memandang ke arah mereka dengan mata bulat besarnya lalu tertawa.

"Bagaimana? Kalian percaya kan? Ah iya, bayi itu namanya Albus Marvolo Potter-Malfoy. Aku yang memberikannya loh! Bagus 'kan namanya?" teriak James sambil menepuk dadanya bangga.

Seluruh anak yang berkumpul di Aula Besar terdiam.

Entah untuk keberapa kalinya, pandangan Harry menggelap dan ia terjatuh dengan bunyi debam yang keras. Suara yang terakhir ia dengar hanyalah teriakan teman-temannya yang memanggil namanya. Di alam bawah sadarnya, Harry membatin.

Oh Merlin, Oh Tuhan, Oh semua penguasa semesta alam dan jagat raya ini...

Apa salah dirinya hingga ia dikenai dengan cobaan yang begitu berat ini?

.Bersambung.

.


Draco Malfoy's note

Hah, apa itu diary? Hanya orang yang melankolis seperti Potter yang menulis keluh kesahnya di buku harian. Apa? Buku harian dengan catatan sama saja? Akan kubunuh orang yang mengatakan hal itu.

Bagiku, Scorpius dan James hanyalah anak kecil yang mengaku bahwa mereka adalah anakku dan Potter. Mungkin karena ketampananku dan kesempurnaan dirikulah yang membuat mereka sampai berbohong seperti itu. Tapi kenapa harus dengan Potter sialan itu? Tak adakah gadis manis yang bisa dipasangkan denganku? Kenapa harus dengan si mata hijau cemerlang dan rambut ikal berantakan tapi halu─oh, lupakan.

Tidak, tak mungkin mereka adalah anakku dan Potter. Foto itu juga hanya rekayasa semata. Tak mungkin aku punya tiga anak. Tak mungkin aku memeluk Potter seperti itu. Tak mungkin aku tersenyum bahagia dengan hal-hal yang tak mungkin kulakukan itu. Tak mungkin, tak mungkin, tak mungkin. Ah, berapa kali 'tak mungkin' kusebutkan tadi?

Lalu apa? Mereka mendapat misi untuk melihatku dan Potter menikah? Hah, silahkan bermimpi. Ciuman dengan siput lebih baik dibanding harus menikah dan menjalani hidupku yang sempurna ini dengan si Kacamata Kuno itu.

Tapi kalau aku hidup dengannya seumur hidup itu berarti aku bisa mengganggu Potter seumur hidup... Menarik juga.

...

...Hei! Siapa itu yang menulis catatanku seenaknya! Pokoknya aku tak akan mau menikah dengan si idiot itu.

Se. La. Ma. Nya

-Draco Malfoy-

.


A/N:
Buat yang bertanya-tanya itu Sub Chap apaan, itu adalah cerita tambahan /side story dari fic ini. Ga tiap kali apdet ta' kasih side story, tapi beberapa chap doang yang ada nantinya. Kalau ga malas dibaca ya, soalnya beberapanya nanti buat hints rahasia di Main Ficnya B) /dbuang

.

Aiyaa aku terharu baca reviewnya ;;; /apa
Terima kasih atas review-review dan favenya~ Yang menunggu lanjutannya silahkan menikmati~ Bagi yang ga menunggu, ya terus gue mesti bilang wow sambil koprol di tengah jalan trus nyuci baju di kali bareng nenek-nenek lagi kayang gitu? /abaikan

Maaf ga bisa balas semuanya ;; tapi sangat berkesan di hati kok. ww

Freyja: HAHA Bloody Git-nya Draco kan minjem kata-kata negaranya :v /dtampolIggy Ntar Blaise gua kasih bilang 'Veee~ Pastaa veee~' kali ya? /dsepakBlaise

MJ: Orang ketiga? Udah ada orang ketiga dan keempat kok. /tunjukScorpius+James /itubukanorangketiga wkakaka masalah itu... lihat nanti B)

ayashaa: OOCnya mas Riddle soalnya ada sesuatu. Tapi tenang, ga akan dibuat lebih najong lagi kok dari itu. /bohong Ah, sebutan diary, note, jurnal gitu sih menurutku sama aja 8''D buktinya mas Riddle yang laki-laki jantan+seme punya diary unyu yang dikasih nyawanya ke situ. /bedamasalah

Beda ya menurut aya? yah, pokoknya anggap aja itu catatan kecil dari orang-orang di sini mengenai keseharian mereka. Yah, pendapat orang sih beda-beda, uke atau seme nulis diary ga masalah sih menurutku. ww Nantinya catatan itu makin penting lo. Soalnya mengandung hints-hints berbagai rahasia di sini /sokrahasia /pret

Anisha Sinna: Marganya berbeda karena di sini kedudukan seme-uke ta' samain dalam pewaris. Tapi kalau untuk ehem-ehemnya dibedain kekuasaannya(?) /lebihpreferDrarry /dbuangHarry Gimana juga mereka kan laki-laki jadi masing-masing juga butuh pewaris buat nama keluarga mereka. lol tapi khusus Albus itu beda. AHAHAHA /author malas mikir /dsepak

EDITED Tambahan: Malfoy junior kedua* itu maksudnya Scorpius. Walaupun marganya Potter, karena segi fisiknya mirip dengan Malfoy jadi Fred dan George tetap memanggil Scorpius dengan Malfoy Junior Kedua wkakaka
Malfoy Junior Pertama tentu si Draco :3

Review please? :''D