Reply review chapter before:
namilaze cloud: yap, teman author memang terinspirasi dari GOH. Action luar binasa komik itu.
Portgas D ali: done.
Nagisa-sann: done.
Fahzi Luchifer: Fufufu, aku cukup yakin anggota kelompok Naruto jarang terpakai di fandom lain.
jusmantopratama000: Done :)
Nijananda Zaynur Averroes: Soal KG, lihat di A/N.
yadi: Wokeh.
Rodvek97: arigatou bung :D
deadly god: aku pilih Le Fay juga ada alasannya gan :D.
: sangkyu gan :D
Guest: GOH gitu loh :D
lang0874: MAKASIH GAN :D
pertapa sedeng: Arigatou vro.
KidsNo TERROR13: Done.
boled99: Done :)
Nazi Menschen: Done :D
Guest: Sangkyu :)
.161: Kekeke, Terima kasih gan :D.
Hellscythe007: Terima kasih. Tapi soal ide mungkin teman saya yang patut dipuji.
Train Heartnett: Arigatou gan :D
Random guy: Namanya [Mana Break] :D
Miji695: Ide yang menarik, nanti akan kucoba sepertinya :D.
Muhammad Kamil: Insya allah vro.
pebrek677: Good Game, kan :D. Makasih :).
Oppaimu Datar: Untuk soal KG, nanti bisa lihat di A/N. Tentu lebih dari satu seni beladiri yang akan dimiliki Naruto. Lagipula pemilik alurnya juga ingin Naruto mempelajari beberapa jenis seni beladiri yang berbeda.
Penghisap Darah: Thank you gan :)
silverbringer1: bukannya jarang sih, cuman temanya doang yang kayanya agak berat. Well, pencetus plot ingin seni bela diri yang dipelajari Naruto tidak lebih daripada empat jenis.
Timtam: selama pemilik alur masih punya ide, Insya allah gan.
tanpa nama: selama pemilik alur masih punya ide, Insya allah gan.
Trick Id: Fufufu, yang pastinya bakalan gila vro :D
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 2: Alter Ego
.
.
.
.
.
Kick The Limit
Summary: Hidupku hancur ketika Ayah tiriku melakukan eksperimen terhadap badanku. Kemanusiaanku hampir lenyap saat pembeliku memaksaku menghabisi sesamaku. Dan tujuanku bernafas tumbuh karena ajaran guru beda rasku.
"Sacred Gear? Sepertinya aku hanya butuh kaki dan tanganku saja."
Disclaimer: High School DxD(Ichiei Ishibumi) Naruto(Masashi Kishimoto) dan sedikit elemen Manhwa/GOH serta aspek film beserta karakter anime lain. Dimiliki oleh pengarangnya masing-masing.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 2
–
Alter Ego
.
.
.
.
.
Stay Calm and Enjoy Reading
.
.
.
{Story Start}
Lari dari rumah dengan membawa kabur Caliburn dan Excalibur Ruler merupakan hal mengagumkan tapi gila yang pernah dilakukan Arthur Pendragon. Tapi mau bagaimana lagi, hasratnya untuk menemukan musuh kuat di luar sana membuat dirinya membuang segala konsekuensi yang akan terjadi dari otak logisnya.
Adiknya, Le Fay Pendragon, yang khawatir dengan keadaan kakaknya memutuskan ikut bersamanya dan meninggalkan Asosiasi Penyihir "Golden Dawn" agar dirinya dapat menjauhkannya dari masalah mengingat kepribadian Arthur yang agak sombong serta keras kepala.
Akibat tindakan mereka berdua, Asosiasi Penyihir yang tak senang mengirim para Magician untuk merebut kembali Caliburn dan Excalibur Ruler sekaligus menghukum mati Arthur dan Le Fay. Meskipun begitu, berkat kerja sama Pendragon Bersaudara di akhir mereka berhasil mengalahkan bahkan lolos dari kejaran Magician terima kasih kepada penguasaan sihir serta Caliburn yang kemampuan itu dapat merobek ruang.
Namun, karena Arthur dan Le Fay kabur tanpa membawa apapun selain perangkat pertempuran mereka, maka keduanya menghabiskan waktu mereka di jalanan dengan perut berbunyi setiap saat. Belum cukup, Caliburn malah membawa mereka ke Kyoto pada saat hujan.
Bad luck indeed.
"Onii-sama, apa kau melihat ada tempat berteduh di sekitar sini?"
Le Fay bertanya pada Arthur dengan kedua lengannya menyentuh bahunya, gemetar merasakan hawa beku tanpa henti menyerang kulitnya.
Arthur mengamati sekitarnya, melihat sebagian besar toko telah tutup dan menurut perkiraannya hanya akan buka kembali saat fajar mendatang. Dia menghembuskan nafas dan menggeleng.
"Tak ada. Lebih baik kita lanjutkan saja perjalanan kita, Le Fay."
Le Fay mengatupkan bibir, mengangguk meskipun kecewa mendengar perkataan Arthur. Mereka pun bergerak lebih cepat menyadari hujan semakin bernafsu membasahi seluruh permukaan bumi.
Lima menit berlalu, perut sang gadis penyihir mengeluarkan bunyi lumayan keras, mendapat perhatian penuh dari pemegang Pedang Suci legenda.
"Gomen Onii-sama," kata Le Fay sembari memaksakan senyum agar kakaknya tak terlalu cemas.
Arthur merasa marah dan kesal pada dirinya sendiri, jika saja ia tidak terlalu egois pasti hal ini tidak akan...
Dia berkedip, mengendus aroma harum makanan dari rumah dengan model tradisional di sampingnya. Bukan hanya dirinya saja yang mencium itu, adiknya Le Fay juga sama apabila lidahnya secara tak sengaja menjilat bibir bagian bawah.
'Mungkin tiada salahnya aku mencoba untuk meminta makanan pada penghuni rumah ini. Lagipula, Le Fay akan sakit bila dia tak mengisi perutnya dengan sesuatu.'
Menghela nafas panjang, Arthur memberanikan diri dan mengetuk pintu sebanyak tiga kali ketukan. Kemudian mengambil langkah mundur sambil menunggu jawaban dari dalam.
"Sebentar!"
Pintu tergeser oleh seorang remaja satu tahun lebih tua dari Le Fay, dan dua tahun lebih muda dari Arthur. Remaja ini memiliki mata yang mengingatkan kedua Pendragon pada langit maupun samudera, dengan rambut pirang serta tiga guratan tipis seperti habis dicakar kucing. Dia mengamati Arthur dengan Le Fay secara bergantian.
Kemudian, sang pemilik pedang suci legenda dan si gadis penyihir melebarkan mata, terkejut melihat senyum mengembang di muka sang remaja. Lebih kaget lagi dengan perkataan sang remaja berikutnya.
"Ingin masuk?"
Line Break
Dengan agak canggung Arthur dan Le Fay mengambil posisi duduk di ruangan Washitsu. Semenjak masuk ke dalam rumah keduanya hanya diam tanpa berniat membuka percakapan sama sekali. Lima menit terlewat, Naruto datang ke ruangan dengan pemanggang arang diletakkan ke atas meja. Pergi ke dapur lalu kembali lagi dengan membawa piring berisi irisan daging sapi, bawang bombay, paprika, sosis, serta saus niku tare.
Mengelus kedua lengannya untuk menghilangkan debu, Naruto menatap Arthur dan Le Fay dengan senyum tipis.
"Selama aku menyiapkan makan malam, barangkali kalian ingin membersihkan diri dengan ofuro."
Arthur bersama Le Fay mengedipkan mata beberapa saat, baru menyadari keadaan tubuh serta pakaian mereka yang di bawah standar kelayakan.
"Umm... Terima kasih atas kebaikan yang kau tunjukkan pada kami Naruto-sama." Le Fay berkata seraya berseri.
Naruto terkekeh. "Semua guruku akan menghukumku jika berani mengabaikan orang lain yang membutuhkan pertolongan."
Setelah percakapan itu Le Fay menyeret kakaknya ke arah kamar mandi, merasa cukup jauh Arthur membuka mulutnya.
"Bisa kau lepaskan tanganku Le Fay? Kau tahu kalau aku itu bisa jalan sendiri."
"Maaf Onii-sama," ujar Le Fay, kemudian menambahkan, "ngomong-ngomong Onii-sama. Apa yang Onii-sama pikirkan tentang Naruto-sama?"
Arthur mengelus dagunya. "Karena Caliburn tidak bereaksi apapun itu berarti Naruto bukanlah Iblis, Magician, dan Malaikat Jatuh. Itu menunjukkan kalau ia hanyalah manusia normal."
Le Fay mengangguk. "Aku juga tak merasakan tanda-tanda supranatural semacam energi sihir ketika di dekatnya," senyum simpul terbentuk di bibirnya, "ini terlalu... Bagus, untuk menjadi kenyataan. Benarkan, Onii-sama?"
Arthur mengangkat bahu, mengendurkan "topeng" tanpa emosinya dan menyunggingkan senyuman.
"Sayangnya Le Fay, ini benar-benar kenyataan."
Mereka sangat beruntung kali ini.
Blam!
Arthur berkedip, membulatkan bola matanya ketika mengetahui adik dan satu-satunya anggota keluarga sedarahnya... Duluan masuk ke dalam kamar mandi.
"Hey!"
"Gomen Onii-sama. Tapi aku benar-benar lapar jadi biarkan yang lebih cepat yang mandi pertama."
"Kau tiga puluh menit. Aku kurang dari lima menit."
"Aku tidak peduli!"
"Yang muda seharusnya mengalah kepada yang tua!"
"…Perkataanmu terbalik Onii-sama!"
Walaupun jaraknya lumayan jauh, Naruto masih dapat mendengar pembicaraan (baca: pertengkaran) Arthur dan Le Fay meski samar-samar. Dia terkekeh dan meletakkan lapisan daging sapi dengan bawang bombay di atas pemanggang arang. Lalu menyisihkan tempat di atas alat untuk sosis serta paprika.
Line Break
Naruto berkedip, memandang takjub pemanggang yang makanannya telah lenyap… Ke dalam perut Arthur dan Le Fay.
"Huahhhhh kenyangnya!"
"Terima kasih atas makanannya."
Le Fay serta Arthur berbicara dengan nada berbeda. Yang satu riang sedangkan satunya lagi dewasa. Masing-masing meraih gelas dan mengambil tegukan secara pelan.
Selesai, Arthur mengamati pakaian milik Naruto yang dikenakannya sekarang, hanya saja dengan ukuran dua kali lipat lebih besar. Info yang didapatnya dari percakapannya dengan penghuni rumah ketika makan, yakni remaja manik ombak memang sengaja mempunyai itu untuk jaga-jaga jika ia naik umur.
Tidak seperti Arthur, Le Fay terpaksa memakai kembali pakaian penyihirnya yang ia keringkan ketika dalam kamar mandi. Beruntung, karena dia perempuan jadi Naruto tidak menaruh curiga pada durasi mandinya yang "sedikit" lebih lama.
"Kalau kau berdua tak keberatan menjawab pertanyaanku. Apakah kalian ini seorang turis?"
Pendragon Bersaudara menegang mendengar pertanyaan Naruto, hal ini diperparah dengan dirinya menampilkan senyuman ketika mengajukan itu. Menandakan kalau pertanyaan lelaki iris biru memang didasarkan dari rasa penasaran tanpa adanya maksud lain.
Arthur angkat bicara. "Tepat sekali. Kami berdua memang seorang turis. Sebelumnya kami mohon maaf karena telah menyusahkanmu atas kedatangan kami."
"Kan sudah kubilang barusan kalau tamu seperti kalian takkan pernah menyusahkan tuan rumah." Naruto berujar seraya terkekeh. "Lagian aku cukup percaya diri dengan apa yang aku bisa. Oh ya, seingatku aku belum tahu nama-nama kalian."
Le Fay berseri. "Namaku L–"
"Namanya Lily Victoria dan aku Elijah Victoria." Arthur memotong kata-kata adiknya, tak menghiraukan tatapan terkejut dari Le Fay.
Menganggukkan kepala, Naruto menegakkan badan dan berkata. "Ngomong-ngomong Elijah-san, Lily-san. Bisa kalian jaga rumahku sebentar? Aku ingin pergi keluar membeli sesuatu."
Arthur dan Le Fay saling pandang satu sama lain. Tercengang dengan permintaan Naruto. Meskipun begitu mereka tidak mungkin menolak itu.
Arthur mengangguk dan tersenyum tipis, sementara Le Fay dengan percaya diri menggembungkan dadanya.
"Serahkan saja pada kami, Naruto-sama!"
"Dengan senang hati."
Naruto mengambil payung putih lalu melangkah menuju Genkan, meraih sandal dari rak dan bergegas ke arah tempat yang menjadi tujuannya.
Memastikan tak ada siapapun selain dirinya dan Arthur, Le Fay mengalihkan pandangan pada kakaknya dan menggeram.
"Onii-sama! Kenapa kau membohongi Naruto-sama dengan nama samaran kita!"
Arthur menatap tajam Le Fay. "Dan membiarkannya menjadi incaran para Magician? Sebagai adikku kau seharusnya sadar meskipun kita telah pergi dari sini ada jaminan kalau mereka akan menyiksanya untuk mendapat informasi tentang kita. Apa kau mau Naruto berakhir meregang nyawa akibat kebaikannya?"
Le Fay terdiam, menyadari jika perkataan Arthur tidak salah dan ada benarnya.
Bukan berarti dia suka itupun.
Line Break
Akihabara. Area yang dikenal sebagai "Surga Otaku" atau "Otaku Central" oleh semua orang di Jepang. Karena sering berkunjung, Naruto mengerti kenapa sebagian orang menyebutnya begitu.
Mata birunya mengamati bangunan-bangunan besar yang dipenuhi poster-poster manga populer, action figure, karakter anime serta video game dari setiap kategori. Tersenyum tipis, Naruto masuk ke dalam salah satu bangunan, yang diterangi banyak lampu warna-warni di bagian langit-langit.
Selagi Naruto mencari video game dan kaset anime kesukaannya ke tiap-tiap sudut, suara maskulin nan berat terdengar di sampingnya.
"Nyo? Kau kan... "
Naruto menengok ke asal suara, mengedipkan mata beberapa saat untuk mencermati pria dengan tinggi tujuh kaki, wajah serius dan badan kekar karena dibentuk tumpukan otot-otot.
Semua orang pasti mengira pria ini bukan seseorang yang dapat kau ganggu. Meskipun kebanyakan akan berpikir dua kali untuk mendekatinya ketika melihat pakaian minimdengan tema Mahou-Shoujo melekat di badan manlynya. Parahnya lagi rambutnya diikat twin tail dengan pita sebagai pelengkap. Lalu roknya, roknya sangat pendek sehingga Naruto dapat melihat ujung **n** miliknya dengan jelas.
Naruto melebarkan matanya, tubuhnya gemetar seraya menunjuk sang pria.
"M-Mil-tan?"
Sang pria, Mil-tan, terkejut melihat Naruto dan tak sengaja mengeluarkan suara *cough* imut *cough* beratnya.
"K-Kyuu-tan?"
"Mil-tan!"
"Kyuu-tan!"
Mereka hampir berpelukan jika Naruto tak sadar kalau Mil-tan itu seorang pria; orang yang dikenalinya di dunia maya sebagai sesama fans Levia-tan.
"Bagaimana kabarmu, Mil-tan?"
"Mil-tan tentu saja baik." Mil-tan menggembungkan dada *cough* berbulu *cough* dirinya.
Naruto terkekeh geli melihat tingkah lakunya. Senang mengetahui kalau sifatnya tak jauh beda dengan detailnya di akun sosial.
"Begitu. Oh ya, menurutmu bagaimana setelah ini ki–"
Drrt! Drrt! Drrt!
"Hm?"
Naruto merogoh ponsel lipatnya dari saku dan melihat nama Fred tertera di layar. Matanya menyipit sebelum menatap Mil-tan.
"Kau tidak keberatan kan aku menerima telepon?"
"Mil-tan sama sekali tidak keberatan, Nyo!"
Tersenyum untuk terakhir kali, Naruto memilih jarak lumayan jauh dari teman dunia mayanya kemudian menaruh ponsel di telinga kiri.
"Hello? Hello? HELLO rekan pembasmi kejahatanku! Bagaimana Jepang memperlakukanmu? Ingin pindah ke barat? Lowongan wingman pribadiku masih tersedia~."
Fred. Orang yang Naruto temui di dunia maya sama seperti Mil-tan enam bulan lalu. Namun, tidak seperti Mil-tan yang merupakan teman sehobi, Fred adalah teman sekaligus Watcher mengenai kasus-kasus supranatural yang ada di seluruh dunia. Sebagai penambahan, dia juga seorang Wizard.
Bisa dibilang berkat adanya Fred, Naruto jadi mendapat berita terbaru tentang beberapa hal yang sedang terjadi di permukaan planet sekarang. Karena hal ini, remaja pirang mengajukan proposal bekerja sama dengannya. Kebetulan Fred memiliki obsesi dengan Man In the Chair(1) jadi tanpa pikir panjang dirinya menerima proposal Naruto. Sebagai balasan dari jasa Fred, Naruto menjadi vigilante dan membentuk alter-ego dengan nama samaran Azrael. Bukan hal sulit mengingat dia memang berniat menolong sesama dengan kelebihan yang ia punya.
Naruto tertawa kecil pada antusiasme Fred. "Sayangnya Fred. Aku suka Jepang. Siangnya normal dan malamnya gila."
"Cih, dasar perusak kegemaran. Ngomong-ngomong Naruto, aku ada berita aneh tapi mencengangkan di Italia. Kau tahu zombie?"
Naruto mengerutkan kening. "Maksudmu senjata biologis yang tercipta akibat virus yang disalurkan ke makhluk yang sudah mati lalu bangkit lagi sebagai pemakan daging yang hidup?" Dia membulatkan bola matanya. "Tunggu, jangan bilang-"
"Tepat sekali! Invasi zombie NYATA sekarang tengah terjadi di sana. Tentu saja, penyebabnya sangat berbeda dari film."
"...kirim aku ke lokasi dalam waktu kurang dari 25 detik."
"Itulah gunanya sihir! Satu hal lagi Bung, boleh aku menginap di rumahmu malam ini?"
"Tentu."
"Semoga beruntung!"
Memasukkan ponsel ke tempat semula, Naruto kembali mendekati Mil-tan dan tersenyum kikuk.
"Gomen Mil-tan. Aku lupa kalau aku ada kerja paruh waktu malam ini."
Mil-tan melambaikan tangannya dengan santai. "Tenang saja Naru-tan. Lagian aku juga ada sesuatu yang belum kuselesaikan di rumah."
Sesudah komunikasi berakhir sebab salah satu dari keduanya tiada, Naruto menghela nafas lalu memutuskan mengesampingkan urusan pribadi dan fokus dengan urusan umat manusia.
Line Break
Di salah satu kota dalam negara pencipta keju parmesan, tepatnya di sebuah jembatan. Jembatan ini dipenuhi kendaraan roda empat dan dua sementara pejalan kaki memenuhi sudut lain. Telepon seluler berdering dimana-mana layaknya paduan suara serta kumpulan asap hitam memenuhi udara.
Anehnya, pejalan kaki yang dimaksud memiliki keadaan pakaian sobek di beberapa titik berbeda dengan wajah dipenuhi luka dan bibir terbuka serta darah menetes ke bawah tiap menitnya.
"Tembakan pembuka!"
Suara itu mengandung nada ketegasan, datang dari seorang pria berpakaian atribut lengkap yang berdiri sejauh seratus kilometer dari kumpulan pejalan kaki tersebut. Di kedua sisi kiri serta kanannya, dengan berani para polisi mengarahkan senjata api masing-masing ke arah para pejalan kaki yang dimaksud. Menekan pelatuk senjata sebelum rentetan peluru menerjang mereka.
Kepala. Sepasang bola mata dan perut. Merupakan bagian tubuh pejalan kaki yang terkena ratusan peluru panas tanpa henti. Sebagian dari mereka ada yang langsung terjatuh, meskipun begitu beberapa pejalan kaki masih ada yang mampu berjalan.
Namun, tiba-tiba peluru yang tertanam di badan sebagian pejalan kaki melepaskan diri dengan sendirinya. Kemudian luka-luka yang mereka miliki menghasilkan asap dan sembuh menit demi menit.
"A-Apa?"
"Mustahil!"
"Makhluk macam apa mereka ini?!"
"Kapten. Perintah selanjutnya?" tanya salah satu polisi.
Sang kapten menggertakkan giginya. Ketakutan mulai mempengaruhi pikirannya. Dia tak tahu harus berbuat apa saat ini. Melanjutkan tanggung jawab sebagai penjaga masyarakat atau kabur dan membiarkan penduduk diserang oleh pejalan kaki di depan matanya.
Tak disangka oleh siapapun, sebuah keajaiban terjadi.
[Renewal Taekwondo]
Bukan hanya sang kapten yang mulutnya terbuka lebar, semua polisi juga terlihat tak jauh beda darinya. Alasan sikap mereka seperti itu, sebab mereka melihat seseorang memakai jaket tudung hitam dengan simbol Yin-Yang terlihat di belakang punggung jaketnya.
Seseorang ini muncul dari seberkas cahaya kuning dan mendarat di atas salah satu mobil dekat pejalan kaki. Dia memilih melompat ke aspal lalu memajukan kaki kanannya ke depan yang dibarengi dengan menggesekkan kaki kirinya ke arah sebaliknya. Terakhir dia memutar badannya dalam satu lingkaran penuh.
[Ground Drawer]
Seketika tornado mengelilingi sosok tudung hitam dan melempar sebagian besar pejalan kaki yang mencoba menggigitnya ke segala arah. Beberapa dari mereka bahkan sampai tenggelam ke laut maupun menabrak mobil sehingga menimbulkan benturan keras.
"...Azrael." gumam sang kapten yang tercengang.
Azrael. Hanya orang yang tinggal di gua saja yang tidak tahu tentang dirinya. Muncul enam bulan lalu di Inggris sebagai penolong putri keluarga kerajaan ketika ia sempat ditawan oleh kumpulan makhluk berkulit batu dengan sayap aka Gargoyle. Semenjak saat itu, Azrael selalu menampakkan diri kala ancaman supranatural yang mengancam keselamatan manusia muncul, kemudian menghilang entah ke mana setelah bantuannya tak lagi diperlukan.
Azrael berbalik, langkah demi langkah dia ambil untuk memotong jaraknya dengan para polisi serta sang kapten. Masker putih penutup mulutnya menyembunyikan geraman saat melihat bentuk pejalan kaki alias zombie.
'Sepertinya... Menahan diri bukanlah pilihan bagus saat ini.'
"Jika kalian tidak keberatan, aku ingin menawarkan bantuanku dalam menghadapi ancaman supranatural ini."
"Y-Ya tentu saja," kata sang kapten terbata-bata.
Dia memberi tatapan pada polisi yang posisinya paling dekat dengan Azrael, polisi yang dimaksud mengangguk sebelum melepas dahak untuk menutupi kegugupannya.
"Situasi di sebelah sana... Aku khawatir tidak ada yang hidup selain mereka. Penyebab kejadian ini juga belum jelas asal-usulnya, setidaknya untuk kami. Sebenarnya kami telah mengirim beberapa tim ke sana. Tapi sampai saat ini belum ada jawaban dari mereka. Entah karena mereka kehilangan alat komunikasi atau mereka telah berganti sisi menjadi mereka."
Azrael mengangguk, mengalihkan pandangan pada sang kapten dan berujar.
"Kalian sudah berusaha keras. Sisanya biar aku yang tangani ini sendirian."
Sang kapten mengerutkan kening. "Aku bukannya meragukan kemampuanmu, tapi kau lihat seberapa banyak jumlah mereka 'kan?"
Azrael terdiam, ia memutar badan dan perlahan berjalan menuju kawanan zombie.
"Sepuluh menit. Jika dalam sepuluh menit aku masih belum juga kembali dari area mati itu. Tolong, robohkan jembatan agar mereka tak menyebar hingga ke kota."
Tanpa berniat mendengar balasan sang kapten, Azrael langsung bergerak seraya mempercepat gerak kakinya tiap detiknya. Dia melompat ke salah satu atap mobil dan menyerang muka dua zombie terdekat menggunakan rangkaian pukulan, menyebabkan kepala kedua monster itu meledak dan beberapa tetes darah mendarat ke kaca salah satu motor.
Azrael melanjutkan aksi menerobos para zombie sembari mempersiapkan serangan berikutnya.
[Renewal Taekwondo Maelstrom Personal]
Makhluk-makhluk pengincar daging mulai berlari ke arah Azrael, masing-masing mulut para monster itu melebar sehingga memperlihatkan jumlah air liur yang cukup banyak di sekitar sudut bibir mereka.
Azrael, yang tak peduli betapa menjijikkannya pemandangan itu, segera mengepalkan tangan dan membiarkan tekanan udara menyelimutinya. Kemudian dengan kecepatan tinggi dia mendorong lengannya ke depan dan mengulangi gerakan menggunakan tangan lainnya.
[Mach Fist](2)
Jantung. Liver. Ulu hati serta otak lima puluh zombie terbelah akibat serangan Azrael yang merobek paksa otot dan diakhiri dengan musnahnya organ-organ dalam tubuh mereka. Darah demi darah mewarnai tiap-tiap sudut jembatan. Earphone di telinganya tiba-tiba berbunyi.
"Sepertinya hanya kekuatan fisik gila yang dapat mengalahkan mereka, huh? Ngomong-ngomong, bagaimana dengan pakaian baru yang aku kirim padamu, Naruto?"
Azrael tersenyum di balik maskernya. Menghindari terjangan tiga zombie kemudian mengayunkan kakinya ke kening ketiganya secara berurutan. Mengirim getaran ke tubuh mereka sebelum meledak dalam proses.
"Setidaknya kali ini bukan warna jingga."
"Terserah. Oh ya, setelah aku lihat lebih jauh melalui kamera CCTV di salah satu gedung di area itu. Aku mendapatkan sumber masalahnya."
"Sumber?"
Azrael menyipitkan matanya pada kawanan zombie di hadapannya. Menambah tenaga di kakinya untuk mempercepat laju larinya sebelum mengambil lompatan ke atas, tubuhnya dia putar di udara.
[Renewal Taekwondo Third Dragon Sign : Upper Hwechook](3)
Azrael mengayunkan kakinya dalam keadaan horizontal, yang kemudian menghasilkan gelombang udara besar yang cukup kuat untuk memisahkan kepala sebagian zombie dari raga sekaligus menghempaskan mereka jauh hingga menjangkau langit hitam. Sesaat sesudah itu dia mendarat ke tanah.
"Fred, apakah zombie di wilayah ini telah habis semua?"
"Yep. Hanya saja, satelit di luar planet menunjukkan dua orang sedang bertarung di atap bangunan tak terpakai disampingmu."
Azrael berkedip. "Tunggu, apa?!"
"Kau tidak perlu khawatir. Orang yang sedang menghadapi sumber dari masalah ini adalah seorang Exorcist. Untuk sekarang kau pulihkan saja tenagamu."
"Dan membiarkan orang ini kesulitan? Maaf, Fred. Kurasa tidak."
Mengabaikan teriakan partner pembasmi kejahatannya, Azrael perlahan berdiri dan berjalan masuk ke dalam bangunan yang dimaksud Fred. Dia menyenderkan diri ke tembok sejenak, merasa lebih baik ia segera berlari menaiki tangga untuk sampai ke atap bangunan.
Line Break
"La~ la~ la~ la~ la~ la~ la~."
Le Fay, dengan suasana hati gembira bernyanyi seraya menyedot berbagai noda dan debu di lantai menggunakan vacuum cleaner di tangannya. Tanpa memperlihatkan tanda-tanda mudah lelah, dia menyikat habis para pengganggu kebersihan di kediaman orang yang telah berbaik hati memberikan bantuan pada orang asing sepertinya.
Di lain pihak, Arthur saat ini sedang mengamati peta yang menampilkan seluruh dunia di atas meja dalam ruang tengah. Ia menandai beberapa wilayah yang akan dia pilih sebagai tempat pemberhentiannya dan adiknya, dan menutup mata untuk menenangkan pikirannya sejenak.
'Malam ini juga aku dan Le Fay harus bergegas pergi dari tempat ini. Jika kami terlalu lama tinggal di sini, aku takut bila Magician akan segera mengetahui lokasi kami dan menyerang kami di kediaman ini. Kasus terburuknya, Naruto mungkin akan mati karena kami berdua.' Pikir Arthur.
Dia bergumam. "Mungkin akan lebih baik ingatannya tentang Le Fay dan aku dihapus ketika dia kembali, setidaknya Naruto takkan meregang nyawa jika ia tidak pernah mengenal kami."
Lamunannya pudar saat lingkaran sihir Norse muncul di hadapannya. Menampilkan Göndul beserta cengiran lebar Rossweisse di sampingnya. Keduanya mengerutkan kening saat melihat salah satu keturunan Pendragon, Arthur pun tak jauh beda dari mereka.
Sebelum suatu komunikasi terjadi di antara kedua belah pihak, sebuah pola matahari dengan huruf Greek terbentuk tak jauh dari Göndul, menampilkan seorang remaja berambut pirang cerah dengan headphone terletak di lehernya. Remaja ini memiliki iris biru seperti Naruto hanya lebih terang untuk beberapa alasan. Ekspresinya menggambarkan keceriaan sampai dia menyadari kehadiran orang lain selain dirinya di kediaman tema tradisional itu.
Dia menyipitkan matanya pada Göndul, Arthur, Le Fay dengan Rossweisse secara bergantian. Mata birunya perlahan berubah warna menjadi kuning.
"Hello semua. Namaku Apollo. Kalian sudah tahu kan siapa aku ini?"
Line Break
Bentrok pedang bercahaya putih dengan cakar besar terdengar dari atap suatu gedung tak berpenghuni. Di wilayah ini, nampak seorang gadis berambut biru sebahu yang mengenakan pakaian ketat serba hitam, tengah mengadu pedangnya dengan lengan tajam tak manusiawi seorang pria berpakaian pendeta.
Tebas. Tangkis. Hindar. Tahan. Balas. Merupakan rangkaian taktik yang digunakan secara berulang oleh perempuan itu. Sepasang iris mata cokelatnya menyipit melihat sang pendeta mengambil beberapa langkah ke belakang.
"Berpikir jika aku semenjak tadi melawan anak ingusan sepertimu," mulai sang pendeta dengan senyum memuakkan, "sepertinya Vatikan benar-benar menganggap enteng kehadiranku, hingga ke tahap mereka hanya mengirim salah satu 'anjing' penurut mereka ke hadapanku."
Gadis itu menyipitkan matanya. "Setidaknya kami memang melindungi manusia dibandingkan kau yang menyiksa mereka dengan eksperimenmu, Diaz Rosinante. Sang Ilmuwan yang gila akan kekuatan."
Ia mengarahkan bilah pedangnya pada Diaz. "Karena tindakanmu. Aku, Xenovia Quarta. Seorang Exorcist dan pengguna Pedang Suci. Akan menghabisimu atas dosa yang kau perbuat akibat tindakan tidak manusiawimu!"
Diaz membiarkan giginya terlihat, tiba-tiba tubuhnya membesar disertai kulitnya mengalami perubahan menjadi lebih tinggi setinggi delapan kaki dengan bulu putih tumbuh di hampir sekujur tubuhnya. Kepalanya yang tadinya manusia beralih bentuk ke kepala sang raja hutan.
"Kau mengaku Exorcist tapi kau terlambat untuk menyelamatkan warga kota ini dari kontrolku. Bah, tidak masalah sih untukku. Karena berkat Project Canibalism yang kuhasilkan dengan menyebarkan virus terkontaminasi darah singa ke kota agar naluri 'liar' penduduk aktif dan menjadikan mereka Man-Eater sekaligus Anti-Human Armyku."
Diaz menyeringai lebar. "Saat ini kau tidak mungkin bisa menyerangku seperti tadi, Xenovia Quarta. Dengan peningkatan kemampuan berkali-kali lipat berkat DNA hewan buas serta kulit sekeras besi, kau tak memiliki kesempatan untuk mengalahkanku yang sekarang gadis kecil!"
Xenovia menggertakkan giginya, rasa marah dan sedikit takut menguasai hatinya. Dia tidak pernah menyangka kalau lawan di misi pertamanya merupakan seseorang yang memiliki julukan Freak Scientist oleh Vatikan itu sendiri. Ia menyesal tidak mengajak temannya bersamanya, dan itu semua berkat kearogannya yang berasal dari harga dirinya sebagai murid Griselda Quarta.
"Pertama akan kupatahkan kakimu, kutelan organmu, dan tanganmu kutar–"
Perkataan Diaz tenggelam dalam tenggorokannya ketika sesuatu berdiri di antara Xenovia dengan dirinya. Keduanya membeku saat menyadari hal aneh dari itu.
"Wow, besar juga lubang ini."
Atau lebih tepatnya seseorang.
Xenovia membulatkan bola matanya, sama sekali tidak mempercayai apa yang dilihatnya sekarang. Badannya sedikit gemetar tapi bukan karena ketakutan, melainkan kegembiraan yang luar biasa.
Diaz menggeram, memandang seseorang di hadapannya dengan tatapan penuh kebencian.
"The White Knight. Ally of Justice. Jadi itu kau… AZRAEL!"
Azrael mengabaikan kata-kata sang beast-man dan mengalihkan pandangan pada Xenovia, yang kelihatan ingin pingsan kapan saja. Dia tersenyum di balik maskernya.
"Pulihkan tenagamu dan beristirahatlah. Biar aku yang menyelesaikan orang ini."
Sang gadis surai biru berkedip. "T-Tunggu sebentar, bukannya akan lebih baik jika dua lawan satu? Maksudku, kita berdua bisa bekerja sa–AWAS!"
Diaz tiba-tiba menghilang dari tempatnya, dalam kedipan mata berada di belakang Azrael dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Dia mengayunkan cakarnya ke tengkuk leher lelaki pirang.
"Lengah berarti MATI!"
[Renewal Taekwondo]
Whush!
"!"
Dengan gerakan cepat serta tenang, Azrael berputar ketika Diaz melakukan serangan pembuka, mengakibatkan ayunan cakarnya gagal karena targetnya berhasil menghindari itu. Saat dia berhenti berputar, Azrael tanpa membuang waktu langsung menanam siku tangannya di perut Diaz.
[Arang](4)
Keheningan terjadi setelah Azrael menggunakan salah satu tekniknya pada Diaz. Diaz terdiam, matanya terbuka lebar dan tidak sadar mengambil satu langkah mundur dari serangan mendadak itu. Azrael hanya diam di tempat, memandang sang beast-man dengan kepala dimiringkan ke samping.
"Kalau ingin melancarkan serangan menggunakan satu lengan, usahakan gunakan tangan lainnya untuk melindungi organ seperti dada, jantung, ulu hati maupun perut. Jika tidak–"
Boom!
Kawah lebar sontak terbentuk di bawah kaki Azrael. Sang murid Keturunan Pertama acuh tak acuh dengan hal itu, iris birunya tertuju pada Diaz yang mengeluarkan air liur dan sisa makanan dalam jumlah banyak dari mulutnya.
"–sesuatu yang kau tahan akan dipaksa keluar dari dalam."
Diaz meringis. Merasakan sakit dari serangan Azrael meskipun hanya satu gerakan sederhana yang ia gunakan. Dia meraung.
"SIAPA KAU SEBENARNYA?! MENGAPA ORANG SEPERTIMU DAPAT MELUKAIKU YANG TELAH BERUBAH MENJADI MAKHLUK SUPRANATURAL DAN MEMILIKI TUBUH BESI!"
Sang Freak Scientist melebarkan matanya saat menyadari sesuatu.
"Apa jangan-jangan… Kau ini pengguna Sacred Gear?"
Azrael mengerutkan kening. "Maksudmu 'benda' yang menghalangi potensi asli manusia? Maaf jika mengecewakanmu, tapi apa yang aku bisa dan lakukan berasal dari latihan kerasku. Bukan dari 'alat' tak jelas itu."
Diaz menggeram. Menekuk lutut sebelum melesat ke arah Azrael, dia mengepalkan tangannya.
"Jangan bercanda! Kau ingin bilang kalau serangan menyakitkan tadi hanyalah kekuatan FISIK belaka HAH!"
Azrael mengangkat bahu, memandang pukulan yang sebentar lagi akan mengenai wajahnya dengan ekspresi tenang.
"Aku terkejut… "
Diaz menyeringai lebar, melihat sang White Knight hanya diam tanpa berniat mengelak dari serangannya membuatnya senang bukan main.
"Ya! Kau akan lebih terkejut lagi ketika aku sukses meremukkan otakmu AZRAEL!"
"…Tubuhmu tidak mengalami keanehan apapun saat ini."
Rumble!
Diaz kaget, merasakan seluruh otot-otot badannya bergetar seakan ditekan tekanan berat oleh kekuatan tak terlihat.
"A-Apa yang terjadi padaku!? Tidak! Ini tak mungkin! Tubuh ini tak memiliki kekurangan! Tubuh ini tidak mempunyai kelemahan! Seharusnya kekuatan ini sempurna!"
Azrael memutar bola matanya mendengar keluhan Diaz, berpaling untuk melangkah menghampiri Xenovia dan mengembangkan senyum tipis di balik maskernya.
"Apa kau bisa bergerak? Eto…. "
"X-Xenovia, namaku Xenovia." Xenovia memperkenalkan dirinya dengan sedikit gagap, masih tak mempercayai jika legenda hidup Ally of Justice sekarang berdiri di depannya!
Oh, Irina pasti akan sangat iri padanya.
Azrael mengangguk. "Baik Xenovia. Aku ulangi pertanyaanku. Apa kau bisa bergerak?"
Belum sempat Xenovia dapat menjawab pertanyaannya, dia dikagetkan dengan Diaz muncul di belakang Azrael sembari mencengkeram pundak sang Petarung Beladiri.
"Raga ini terbuat dari besi, besi yang sangat kuat! Apa kau pikir serangan barusan bisa mengalahkanku!"
Whush!
Diaz tercengang ketika Azrael tahu-tahu berputar, secara tidak langsung melepaskan dirinya dari cengkeraman Diaz. Tubuhnya berputar sambil membawa dirinya sendiri ke udara, lututnya terangkat ke atas dan menghantam dagu Diaz.
Wham!
Azrael tidak berhenti sampai situ, setelah mendarat di lantai ia mengarahkan kakinya ke depan hingga menjangkau tulang kerangka dada Diaz kemudian menendang bagian itu beberapa kali.
Crack! Brak! Duak! Wham!
[Renewal Taekwondo]
Itu adalah pemandangan luar biasa menurut Xenovia. Gerakan sang White Knight tiba-tiba meningkat. Dia menjadi cepat, bagi sang gadis berambut biru dia tampak seperti blur. Dengan kaki kanan terangkat, Azrael berputar, ia menyerang telinga kanan Diaz, terus dilanjutkan dengan mengetuk pelipisnya. Lalu dengan kecepatan yang jauh lebih cepat daripada sebelumnya, Azrael langsung muncul di belakang Diaz dan menendang tengkuk sang beast-man.
[3rd Stance Hwechook](5)
Remaja pirang berdiri beberapa meter di belakang Diaz. Wajahnya acuh tak acuh dan tenang saat tangannya sekarang tenggelam di saku celananya.
"Tubuh terbuat dari besi? Itu bodoh. Tidakkah kau lupa kalau besi itu memantulkan gelombang beberapa kali lebih kuat daripada daging dan tulang? Menurutmu apa yang akan terjadi jika aku mengirim gelombang kuat ke kepalamu? Kau pikir otakmu bisa mengatasinya?"
Pow! Pow! Pow!
Seakan menjawab pertanyaan Azrael, kepala sang beast-man miring beberapa kali dalam sedetik, itu bergerak ke arah acak seolah dihantam tiga jenis alat berat berbeda secara bersamaan. Dua menit terlewat darah keluar dari mulut Diaz, tubuhnya gemetar saat dia meluncur ke bawah, wajahnya mengenai lantai dan kesadarannya hilang seketika.
Azrael berpikir semuanya telah selesai. Namun, hal aneh terjadi ketika raga Diaz memancarkan pendar hitam yang perlahan menyebar ke sekitarnya. Dia mengernyit, sebelum melebarkan mata dan berlari ke arah Xenovia.
BOOM!
Line Break
Di sebuah ruangan dalam bangunan tak dikenal, seorang gadis kecil berambut hitam panjang lurus sampai ke pinggulnya, mempunyai sepasang mata kelabu dan mengenakan gaun hitam sesuai tingginya. Sedang memikirkan rencana berikutnya untuk mengalahkan "Baka-Red" selagi duduk di atas singgasananya.
Gadis ini mengerutkan kening, memiringkan kepalanya sambil menengok ke luar jendela. Dia berkedip.
"Aku, punya keturunan?"
Perhatian sang gadis langsung teralihkan ke pintu yang terbuka. Alisnya terangkat saat melihat seorang lelaki usia empat belas dengan rambut pirang bergelombang dan mata biru. Lelaki ini memakai kaus biru tua dibalut jaket hoodie putih dan jeans biru laut(6).
"Ophis. Sang Ouroboros Dragon. Senang bisa berjumpa denganmu," sapa sang lelaki dengan senyuman. "Sebelumnya, aku ingin minta maaf karena sudah membuat nama organisasimu sebagai umpan atas beberapa aksiku."
Ophs menyipitkan matanya. "Siapa, dirimu?"
Lelaki itu terkekeh. Seakan pertanyaan Ophis memiliki makna humor di dalamnya.
"Kau tahu, orang terakhir yang aku kalahkan di dunia ini bernama Indra. Orangnya cukup arogan menurut pendapatku. Dan soal namaku, kau bisa memanggilku Cthulhu(7)."
"Apa maumu?"
"Mauku? Oh, sederhana saja; yaitu menjadikan planet ini sebagai santapanku yang ke-101."
Line Break
Fred, atau identitas aslinya Apollo. Dewa matahari Olympus. Merasa terhibur dengan situasinya sekarang. Iris kuningnya tertuju pada Arthur Pendragon dan Le Fay Pendragon; kedua teroris muda yang dicari Golden Dawn akibat 'pencurian' Excalibur Ruler dengan Caliburn. Kemudian sorot matanya beralih pada Rossweisse dengan Göndul, nama kedua menyembunyikan nama kesatu di punggungnya.
"Seperti yang kuharapkan dari Naruto, setiap tamu yang datang padanya pasti mempunyai latar belakang yang menarik serta tak biasa."
"Aku ingin tahu apa yang dilakukan Olympian di area yang bukan wilayah mereka," kata Göndul datar.
Apollo membiarkan giginya terlihat. "Jika kau sangat ingin tahu, Valkyrie dear. Bisa dibilang aku adalah teman dari penghuni rumah ini."
Arthur, disamping sedikit ketegangan yang dirasakannya, menyipitkan matanya pada Apollo.
"Teman, eh? Kalau aku tidak salah ingat, kebanyakan Dewa sepertimu berteman dengan mortal hanya untuk memanipulasi kami dan menjadikan kami sebagai bahan tontonan kalian."
Apollo menatap tajam sang Pendragon Tertua, yang tak takut membalas balik dengan tatapannya sendiri.
"Perkataanmu memang benar pengguna Pedang Suci. Namun, aku tidak sebodoh itu. Jika aku berbuat macam-macam pada Naruto. Maka bukan hanya aku seorang yang akan terkena murka abadi dari Mother Nature, tapi Gunung Olympus juga."
Sebelah alis sang dewa musik naik saat merasakan 'penglihatan' lain di benaknya.
'Semoga Naruto siap untuk misi berikutnya.'
Line Break
"Uhuk. Uhuk. Uhuk."
Xenovia bisa merasakan sebagian besar asap memaksa masuk ke hidungnya. Tentunya, sang Exorcist tak mungkin membiarkan hal semacam itu terjadi. Jujur, dia kaget melihat sesuatu semacam barrier biru aqua menyelimutinya dan Azrael.
Dia mengedipkan mata selama beberapa saat, perlahan namun pasti, warna kulit mukanya hampir menyamai warna tomat. Hal itu disebabkan posisinya saat ini. Dimana dirinya di posisi bawah dengan Azrael berada tepat di atasnya.
"Beruntung ledakan itu berasal dari energi sihir. Jika bom normal, maka menggunakan [Mana Break](8) sama saja buang-buang Nature Force."
Sang gadis berambut biru sama sekali tak memedulikan keluhan Azrael. Pandangannya terfokus pada keadaan "muka" idolanya itu.
"Azrael-san! Wajahmu–"
"Ini? Oh, jangan khawatir, ini merupakan efek dari penggunaan Senjutsu."
Azrael, dalam Senjutsu Mode, mengalami perubahan drastis terutama di bagian mata. Pupilnya yang tadinya hitam sekarang berubah menjadi kelabu. Irisnya yang awalnya biru berganti warna menjadi ungu. Dan scleranya yang semula putih beralih menjadi hitam. Sisik ungu ukuran kecil tumbuh di atas alis serta di sisi kanan dan kiri indra penglihatan. Memberikan kesan reptil maupun naga bagi yang mengamatinya.
Dalam kedipan mata barrier menghilang dari eksistensi. Azrael, yang masih mempertahankan Senjutsu Mode terima kasih kepada Nature Force yang ia ambil cukup banyak. Mulai sadar kalau ia telah lama menindih tubuh sang Exorcist perempuan, menyebabkan dirinya panik dan segera bangkit kemudian menjauh darinya.
"Maaf Xenovia! Aku tidak bermaksud untuk... Yah... Kau tahu kan apa yang kumaksud?"
"Tidak apa-apa," ujar Xenovia, memalingkan wajah dan berusaha mempertahankan ekspresi tenang disamping mukanya yang masih merona, "lagian, kau melakukan itu untuk melindungiku, bukan?"
Azrael menghela nafas, lega karena perempuan di hadapannya tidak berpikir aneh-aneh tentang tindakannya. Dia menonaktifkan Senjutsu Mode dan ekspresinya langsung serius saat earphone di telinganya berbunyi.
"Naruto, kita punya masalah lain. Satelit menunjukkan seorang korban terakhir dari eksperimen Holy Sword sebentar lagi akan dibunuh karena masih hidup."
"Antarkan aku ke lokasinya sekarang."
Azrael mendengar kekehan di sebelah sana.
"Lima detik sebelum peluncuran. Ngomong-ngomong, mau ke bar setelah semua ini selesai? Satu hal lagi, kau tahu kan arti dari cougar?"
"...Hewan."
"Oh BS(Bullshit)! Kau pasti tahu apa itu cou–"
Azrael mencopot earphone dan sementara menyimpan itu di saku celananya. Dia memejamkan mata lalu pendar emas membalut permukaan tubuhnya sebelum menghilang dari sana.
Xenovia mengalihkan pandangan pada "Azrael".
"Oh ya Azra-eh? Kemana dia pergi?"
Line Break
Di sebuah hutan dekat bangunan tempat bekas Proyek Pedang Suci berlangsung, terlihat seorang gadis berambut pirang panjang dengan sepasang iris mata abu-abu kebiruan dan berumur tidak lebih daripada lima belas. Sedang mencoba mengambil nafas sembari menatap tajam dua Exorcist pria di depannya. Ekspresinya mengeras dan sorot matanya mengandung kebencian murni.
Gadis ini bernama Yumi Kiba; korban terakhir yang masih hidup dari eksperimen terlarang yang dikelola oleh Balba Galiel. Dia berhasil lolos dari cengkeraman Balba sebab pengorbanan teman-temannya, mengingat hal itu membuat genggamannya pada belati besi hasil Sword Birth, Sacred Gear miliknya, semakin kencang akibat gejolak emosi yang dirasakannya.
Sialnya, stamina yang dimiliki Kiba hampir habis karena pertempuran di lab. Belum lagi beberapa agen suruhan Balba yang mengejarnya tanpa henti dan pada akhirnya berhasil melacak lokasinya. Dengan kata lain, kesempatannya untuk kabur sejauh mungkin benar-benar tipis.
'Kalau begini, maka pengorbanan mereka akan menjadi sia-sia. Sial. Sial! SIAL!"
Melihat dua Exorcist suruhan Balba Galiel mengayunkan pedang suci mereka dari segala arah, Kiba memejamkan matanya dan menggertakkan giginya.
'Gomen minna.'
.
.
.
.
.
.
.
"Ya ampun, kenapa di dunia ini masih saja ada orang yang mengandalkan senjata aneh seperti replika light saber para Jedi ini."
Mengernyit bingung, Kiba membuka matanya hanya untuk melihat seorang remaja asing berdiri di hadapannya dengan tangan kanan memegang tulang lengan hasta Exorcist di sisi kanan, dan kaki kiri terangkat demi menahan ujung pedang suci Exorcist di depan.
Dia melebarkan matanya saat menyadari siapa seseorang yang melindunginya. Belum sempat Kiba mengutarakan sesuatu dalam kepalanya, kesadarannya berangsur-angsur hilang dan kegelapan menyambut penglihatannya.
"Hey, kau baik-baik sa–hm? Oh, mungkin dia seperti itu karena kelelahan serta terlalu banyak bergerak."
Dua Exorcist liar berkeringat dingin melihat kedatangan Azrael. Mereka sangat tahu legenda hidup Ally of Justice. Terus terang, keduanya benar-benar takut sekarang.
Usai mengamati keadaan Kiba, Azrael mengalihkan pandangan pada kedua orang asing-sebentar lagi jadi lawannya- seraya memicingkan mata.
"Seperti yang dikatakan Hoth-san; tidak selamanya makhluk hidup itu 'hitam' maupun 'putih'."
"T-Tunggu sebentar, kami bisa menjelaskan semua ini!"
"K-Kau menjaga manusia bukan? Kalau begitu, kau takkan menyerang kami benar?"
"..."
[Kyokushin Karate Maelstrom Original : New Improvement Dance of Seven Beast](9)
Dua Exorcist liar tak bisa mengelak kala Azrael melancarkan tendangan cepat ke pipi mereka berdua. Mereka langsung berputar di langit dengan Azrael meninju kuat perut keduanya. Sebelum jatuh Azrael menyerang dagu kedua agen Balba menggunakan siku hingga menabrak tanah diiringi bunyi keras.
[5th Stance : Spider Strike](10)
Mengabaikan erangan dan suara patah tulang di latar belakang, Azrael berbalik dan melangkah menghampiri Kiba. Ia baru ingin mengangkatnya ke punggung sebelum portal hitam tercipta di atasnya. Azrael terdiam, menunggu sesuatu jatuh dari sana.
Dia melihat seorang remaja keluar dari portal dan mendarat ke tanah. Remaja ini memiliki rambut hitam acak-acakan, memakai kemeja putih dibalut jaket dengan semacam lencana di saku kiri bajunya. Di sekitar kerah jaket, terlihat lapisan bulu seperti mantel musim dingin serta dasi kuning(11). Tak jauh dari sang remaja, tampak sebuah kristal pendar biru yang terus berkelap-kelip entah karena apa.
Azrael mengamati Kiba dan sang remaja secara bergantian. Ia lalumenaruh earphone ke telinganya.
"Fred. Teleportasi untuk tiga orang."
"Roger. Ngomong-ngomong, soal yang tadi aku minta maaf, Naruto. Aku seharusnya tahu kalau kau ini seorang lolicon."
"... Wanita yang menyukai pria yang lebih muda darinya, bukan?"
Line Break
Göndul, Le Fay, Arthur, Rossweisse dan Apollo. Bersama-sama mereka melihat sinar emas muncul dari ketiadaan, menampilkan Azrael, dengan Kiba dan sang remaja tak dikenal di belakangnya. Lupa kalau ada orang lain yang belum tahu identitas lainnya di kediamannya, Azrael tanpa pikir panjang mencopot masker dan melepas jaket.
"Fred. Aku butuh P3–"
Ada jeda dalam perkataan Naruto saat dirinya menyadari kalau bukan ia dan Fred seorang yang berada dalam rumah tersebut. Dengan gerakan patah-patah dia mengedarkan pandangan, mengamati ekspresi berbeda-beda dari yang lainnya.
"Jadi... Selama ini kau Azrael, Naruto?" (Arthur).
"Aku tidak menyangka kalau Naruto-sama adalah seorang pahlawan! Bukan pahlawan komik, tapi pahlawan sungguhan!" (Le Fay).
"Tidak murid, tidak guru. Sama-sama sumber perhatian publik." (Göndul).
"Wow..." (Rossweisse).
Apollo melempar seringai tipis pada Naruto.
"Semua keputusan ada di tanganmu Naruto."
Sang lelaki manik ombak menatap tajam Apollo, sebelum menghembuskan nafas dan menceritakan kisah awalnya sebagai Azrael.
Line Break
Naruto menyenderkan dirinya ke dinding, menunggu kepastian tentang kesehatan Kiba dan sang remaja tak dikenal. Mengingat sesuatu, ia memejamkan matanya.
(Mindscape)
"Kau datang juga, Naruto."
Membuka matanya, Naruto menemukan dirinya berada di suatu padang rumput dalam posisi sila. Dia menegakkan badan, menengok ke asal suara dan melihat seorang pria bersurai hitam memakai penutup mata di salah satu matanya.
"Guru Han."
Han Dae-Wi tersenyum tipis menatap muridnya itu, mengernyit saat Naruto membungkukkan badan.
"Hentikan. Waktuku tidak banyak jadi dengarkan baik-baik."
Mengangkat muka, Naruto mengambil posisi duduk dan mendengarkan apa yang dikatakan Dae-Wi.
"Selama setahun kau telah kuajari [Kyokushin Karate] lewat catatan yang kau tulis melalui instruksiku di bukumu. Seperti yang dikatakan Zelretch, karena kewajibanku telah selesai sudah saatnya aku kembali ke duniaku. Karena itu, aku akan meninggalkan sesuatu padamu."
Di tangan sang Kaisar Jade, muncul alat semacam tongkat putih berkilau. Naruto mengedipkan mata beberapa saat, merasa familiar dengan bentuk senjata tersebut.
"Guru Han, itu seperti –"
"Ruyi Jingu Bang," sela Dae-Wi, "sayangnya, senjata ini sedikit berbeda dari itu. Nama tongkat ini adalah Yeoul. Mirip tapi tidak sama dengan Ruyi Jingu Bang." Dia melempar Yeoul kepada Naruto, yang langsung ditangkap oleh orang yang bersangkutan. "Sekedar saran, jangan pernah sekalipun mencoba menjatuhkan Yeoul ke bumi."
"Kenapa?"
"...Karena planet bisa terbelah jika kau melakukan itu."
"..."
"..."
"..."
"..."
"...Serius?"
"Memangnya aku ini tipe yang suka bercanda?"
Naruto tertawa canggung. "Oh... Oke Guru Han. Ngomong-ngomong, aku harus meletakkan Yeoul dimana kalau begitu?"
Dae-Wi mengetuk telinganya. "Katakan 'mengecil, Yeoul' lalu letakkan di daun telingamu."
Naruto mengangguk, memutar Yeoul beberapa saat sebelum berujar.
"Mengecil, Yeoul."
Ukuran Yeoul yang tadinya melebihi tinggi badan Naruto, perlahan menyusut hingga ke tahap sebanding dengan ukuran penghapus. Dia pun menaruh tongkat mini ke telinganya.
"Oh ya, Guru Han. Apa Yeoul bisa memanjang melebihi tinggi aslinya?" tanya Naruto penasaran.
Dae-Wi tersenyum tipis. "Bisa."
"Seberapa panjang?"
"Sesuai imajinasi liarmu."
"...Melebihi planet?"
"Ya."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Naruto tertawa canggung. "Benar-benar... Menakjubkan sekali."
"Yep."
Melihat tubuhnya mulai hilang dari eksistensi, sang lelaki pirang mengerutkan kening. "Ya ampun, kelihatannya sebentar lagi aku akan terbangun." Bibirnya membentuk senyum riang. "Selamat tinggal Guru Han. Dan terima kasih karena telah mengajariku seni beladirimu."
Dae-Wi terkekeh. "Kau mengganti nama dan mengubah beberapa gerakan [Kyokushin Karate Ultimate: Dance of Four Gods] menjadi [Kyokushin Karate Maelstrom Original : New Improvement Dance of Seven Beast] membuatku bertanya-tanya siapa yang menjadi murid dan siapa yang menjadi guru di antara kita."
Belum sempat Naruto dapat membalas perkataan sang Kaisar Jade, kesadarannya langsung kembali ke alam kehidupan. Meninggalkan Dae-Wi dengan Zelretch yang tiba-tiba muncul setelah Naruto tiada.
"Aku tidak sabar melihat aksi Kosmos di hadapan Tiga Fraksi dan para dewa nanti, barangkali membuat mereka malu dan tersinggung mengetahui kalau ada seorang manusia tanpa Sacred Gear mempunyai kekuatan fisik yang sangat gila."
Dae-Wi menaikkan alisnya pada Zelretch.
"Kosmos? Bukankah namanya Naruto?"
Zelretch berkedip. "Oh, kau belum tahu ya. Kalau setelah [God of Bible] mengirim Kosmos dan Eve ke bumi sebagai hukuman karena telah memakan [Fruit of Knowledge], dia diam-diam memotong sebagian jiwa Kosmos dan mengirim itu ke masa depan. Sebelum pengiriman itu terjadi, dia memberikan tugas kepada seorang Malaikat berupa 'buat dia hanya menyayangi manusia'."
"...Kau benar-benar Vampire paling broken yang pernah ada."
Sang Ancient Vampire nyengir lebar mendengar kata-kata Dae-Wi.
Line Break
Dengan kelopak mata terbuka, Naruto menggosok indra penglihatannya dan melihat Apollo keluar dari salah satu kamar tidur khusus tamu, tempat dimana Kiba dan remaja tak dikenal dirawat serta diberikan pengobatan.
"Bagaimana keadaan mereka?"
"Hanya beberapa patah tulang di bagian bahu dan cedera ringan, selebihnya normal-normal saja."
"Begitu."
Apollo pura-pura batuk, mencoba mengumpulkan keberanian.
"Ngomong-ngomong, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu."
Naruto mengerutkan kening.
"Apa itu?"
"Sebenarnya... Yah... Aku ini bukan manusia, melainkan dewa. Dewa matahari Olympus alias Apollo."
Keheningan terjadi setelah pernyataan itu dikatakan.
'Semoga Naruto tidak marah padaku.' Pikir Apollo sedikit gugup.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Oh, kupikir apa. Jadi mulai sekarang aku harus memanggilmu 'Apollo' daripada 'Fred' begitu?"
Apollo berkedip, tidak mengharapkan respon semacam itu dari remaja pirang. Bukan berarti dia tak suka itupun. Hanya saja, dia sedikit berpikir ia pantas menerima rentetan pukulan maupun tendangan karena sudah berbohong. Dia bisa bohong itupun karena anugerah dari Hermes.
"Kau... Tidak marah?"
Naruto mengangkat bahu. "Selama tiga bulan ini, Ga-chan telah memperingatkan serta memberitahuku tentang identitas aslimu dan Hoth-san. Terus terang, alasan aku gak marah ke kalian sebab bantuan yang kau berdua berikan kepadaku. Contoh, aku yang tidak pernah masuk ke sekolah karena trauma masa lalu. Jika bukan karena Hoth-san yang mengajukan diri sebagai guru privatku, kau tahu sendiri apa yang akan terjadi padaku. Dan kalau bukan karena kau, aku barangkali takkan pernah bisa menjaga sesamaku mengingat informasi yang aku punya tentang dunia luar sangat sedikit."
Apollo benar-benar merasa lega saat ini, sebelum sweatdrop ketika menyadari nama panggilan Naruto kepada Mother Nature.
"Sekali lagi aku minta maaf Naruto... Ngomong-ngomong, apa kupingku tak salah dengar... Kalau kau memanggil Gaia dengan pet name?!"
Sang laki-laki iris biru mengangguk. "Dia lebih suka aku memanggilnya seperti itu. Setelah aku tanya mengapa, dia bilang berkat Senjutsu yang aku pakai untuk menyerap Nature Force, secara tak sengaja itu dapat digunakan sebagai 'pengambil' perasaan negatif yang dimiliki bumi kepada para Olympian. Karena Senjutsu pula, aku dapat merasakan kesadaran Ga-chan sekaligus menemaninya ketika ia membutuhkan teman untuk diajak bicara."
Apollo terkekeh gugup, tidak tahu harus merespon apa dengan pengetahuan yang baru dirinya dapat sekarang.
"Yah... Senang mendengar itu."
Line Break
Naruto, yang saat ini berada di ruang tamu, tercengang melihat betapa bersihnya ruangan itu. Dia mengalihkan pandangan pada Le Fay, yang semenjak tadi senyam-senyum dengan bintang di matanya.
"Bagaimana menurutmu Naruto-sama?"
"...Menakjubkan, Lily."
'Dan kupikir aku bisa melakukan semuanya sendirian.' Pikir Naruto sengsara.
Le Fay tertawa canggung. "Sebenarnya, namaku Le Fay Pendragon, Naruto-sama. Bukan Lily Victoria. Onii-sama memberitahumu nama samaran kami agar kau tidak terlibat ke dalam masalah kami. Tapi, karena Naruto-sama sendiri memang dari awal telah terlibat dengan supranatural, mungkin akan lebih baik bila Naruto-sama tahu nama asli kami."
Naruto berkedip. "Oke... Nama asli kakakmu?"
"Arthur Pendragon."
"...Kalian yakin kalau kau berdua sebetulnya bukan seorang cosplayer?"
Sang gadis penyihir mengerucutkan bibirnya pada Naruto.
"Mou! Aku dan Onii-sama memang keturunan asli Pendragon, bukan cosplayer Naruto-sama."
Naruto meletakkan kedua lengannya di belakang kepala, terkekeh geli.
"Baik, baik, aku percaya padamu... Untuk saat ini."
Naruto menunduk kala Excalibur Ruler terayun dari titik buta indra penglihatannya, dia berbalik dan mengayunkan tinjunya ke arah penyerangnya, yang ternyata Arthur dan dia tak memiliki waktu untuk menghindar sehingga terkena hantaman di dagunya.
Blam!
Le Fay sweatdrop melihat kepala kakaknya terjebak di langit-langit rumah, memperlihatkan bagian leher sampai ujung kuku kakinya saja.
Naruto mengatupkan lengan seraya membentuk corong di sekitar mulutnya.
"Ngaku! Kau ini sis-con, bukan?"
" $# +$$& $ & ! ." (Arthur).
Naruto mengangguk. "Sis-con. Paham."
"#$&&-&$ &-(-&&-++$# #." (Arthur).
"Hah? Lepaskan dirimu saja sendiri. Itu kan salahmu juga."
Mengabaikan erangan kekesalan Arthur, Naruto memilih berjalan ke washitsu untuk menghampiri Rossweisse dengan Göndul. Rossweisse, yang melihat kedatangan Naruto, langsung berseri seketika.
"Hidupmu benar-benar penuh kejutan, Naruto-kun."
Sang lelaki pirang terkekeh mendengar komentar Göndul.
"Aku anggap itu sebagai pujian. Ngomong-ngomong, kedatangan kalian kemari apa kalian ada urusan dengan Wukong-sensei?"
Göndul menggeleng. "Denganmu sebetulnya. Kau tahu, di Asgard kami memiliki tradisi dimana setiap calon Valkyrie yang menginjak usia empat belas tahun akan dikirim ke tempat pelatihan untuk dilatih lagi hingga layak dijadikan pengawal dewa di tiga tahun mendatang. Sebagai pengawal dewa, kebebasan Valkyrie sepenuhnya berada di tangan dewa itu sendiri."
Naruto mengangguk. "Teruskan Göndul-san."
"Terima kasih Naruto-kun. Di kelas cucuku, terdapat seorang demigod bernama Magni, putra Thor, yang memiliki dendam entah karena apa kepada Rose. Di usianya yang masih muda, Thor-dono berkeinginan menaikkan derajat anaknya sebagai dewa minor. Dari perkataanku sebelumnya, kau tahu makna dari kedua penjelasanku ini bukan?"
Raut wajah Naruto mengeras saat dirinya berhasil menghubungkan poin-poin penting dari tiap penjelasan sang Valkyrie legenda. Dia mengalihkan pandangan pada Rossweisse.
"Intinya, kau benar-benar tidak mau menjadi pengawal dewa, benar, Rossweisse?"
Rossweisse mengangguk beberapa kali.
"Ya. Setelah bertemu denganmu Naruto. Tujuanku lulus bukan lagi untuk diakui sebagai 'bisa' maupun diangkat sebagai pengawal salah satu dewa Norse."
Naruto mengerutkan kening, memandang Rossweisse dengan alis ditekuk.
"Lalu, sekarang kau mau apa?"
Menarik nafas panjang kemudian membuangnya, dengan wajah sedikit merah Rossweisse mengutarakan hal yang dirinya pendam dalam hatinya.
"Aku mau... Kalau kau tidak keberatan... M-Menjadi Valkyrie pribadimu?"
"..."
"..."
Naruto mengedipkan mata beberapa saat. "Oke... Jika itu berarti kau selamat darinya... Aku tidak terlalu keberatan."
Dia melirik ke arah Göndul. "Tapi, memangnya itu bisa? Maksudku, aku bukan seorang dewa. Aku hanya manusia."
Göndul menyunggingkan senyuman. "Aku senang mendengar pertanyaan itu. Dalam catatan milik Ibuku, aku mengetahui suatu ritual kuno yang dapat mengikat seorang Valkyrie dengan mortal. Ini akan... Sedikit menyakitkan di bagianmu Naruto-kun. Tapi aku yakin kau bisa melewatinya."
Naruto mengangguk.
"Apapun akan kulakukan untuk orang-orang berhargaku."
Line Break
Di atap gereja tak terpakai, terlihat Kokabiel sedang mengamati bulan yang perlahan digantikan dengan matahari. Langit pun mulai berubah warna dari hitam menjadi biru. Dia menghembuskan nafas sambil mengingat percakapan terakhirnya dengan [God of Bible].
"Dengan raga yang berbeda, sebagian jiwa Kosmos ini akan aku kirim ke masa depan."
"Jika boleh aku tahu Father, mengapa Kosmos yang satu ini tidak mempunyai jantung?"
"[Above] memilih Kosmos satu ini sebagai [Champion of World] dalam perang menghadapi Cthulhu [The First Monster]. Karena itu, Kosmos satu ini bukannya tak memiliki jantung, dia punya tapi jantungnya bukan jantung normal, melainkan Power Stone yang merupakan satu dari [Six of Universe Stone] danbertindak sebagai pengganti jantungnya. Kokabiel anakku, pastikan Kosmos satu ini tak menyayangi apapun selain sesamanya sendiri."
"Akan kulaksanakan tugas ini sepenuh hati, Father. Ngomong-ngomong, apa Kosmos mempunyai nama samaran lain?"
"Naruto."
"Naruto?"
"Ya putraku. Naruto. [Above] sendiri yang memutuskan nama itu cocok untuk Kosmos satu ini. Nama itu didapat dari salah satu dimensi berisi para ninja, dimana pemilik nama ini adalah seorang shinobi muda yang bercita-cita menjadi kepala desa di desanya. Bahkan raganya pun sama persis."
Kokabiel memejamkan matanya, perlahan namun pasti, beberapa tetes air mata jatuh dari kelopaknya.
"Hey, Tou-san. Lihat gambar ini. Keren bukan? Aku membuatnya sendiri loh."
"Ne, Tou-san. Jika Naru besar nanti, Naru ingin jadi pahlawan keadilan. Bagaimana, hebat kan cita-cita Naru."
"Woah! Tou-san seorang jendral? Sugoi! Apa Naru bisa yah punya jabatan setinggi itu?"
"T-Tunggu Tou-san. U-Untuk apa cairan it–ARGHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!"
Kokabiel reflek membuka matanya, sama sekali tak menghiraukan air matanya yang terus berjatuhan.
"Cepatlah tumbuh... Jadilah apa yang kau mau... Dan bunuhlah aku... Wahai putra kesayanganku."
.
.
.
.
.
T-B-C
.
.
.
1.
Seseorang yang mengirim informasi dari jauh lewat komputer, ponsel pintar, maupun alat elektronik lain kepada rekan/teman/partner/sahabat untuk membantunya dalam misi/tugas/kewajiban.
2.
Merupakan teknik yang mengandalkan rentetan pukulan yang begitu cepat sehingga dapat merusak kulit dan bahkan menghancurkannya hingga ke bagian terdalam. Karena teknik ini menggunakan tekanan udara sebagai pendorongnya, maka mustahil untuk diblok sehingga lebih baik menghindar daripada menahannya. Teknik ini bisa digunakan sebagai serangan jarak jauh.
3.
Versi yang lebih lemah dari Hwechook lainnya. Setelah melompat ke atas pengguna mengayunkan kakinya hingga menghasilkan gelombang udara yang cukup besar di langit. Meskipun terlemah, kekuatan serangan ini cukup kuat untuk menghancurkan beberapa hutan jika penggunanya serius.
4.
Teknik yang menggunakan siku sebagai pusat penyalur tenaganya. Bila korban serangan ini tak mempunyai raga yang cukup kuat untuk menahan kekuatan yang dihasilkan, maka akan menghasilkan kawah besar jika serangan ini dilakukan di daratan.
5.
Serangan yang mengumpulkan kekuatan pada titik sentral. Teknik dasarnya adalah tendangan tiga langkah, di mana setelah mengetuk kepala lawan dalam dua arah dengan tendangan pertama dan kedua, kemudian menindaklanjuti dengan menendang kepala lawan ke arah yang berlawanan untuk menyelesaikan lawan. Jika korban terjepit dan mencoba untuk mengelak dengan cara mundur, kerusakan meningkat.
6.
Mengambil penampilan dari Hyakuya Mikaela(Owari no Seraph).
7.
Aku hanya menggunakan nama Cthulhu dari Lovecraft wiki. Untuk penampilan "asli" tentunya sesuai imajinasi penulis dan pencetus ide.
8.
Merupakan salah satu dari kemampuan Sage of Infinite Dragon. Jika digunakan akan menghasilkan barrier biru aqua yang memiliki fungsi menetralkan segala jenis sihir. Jangkauan dari barrier ini adalah tidak terbatas, namun, bila jumlah Nature Force yang diserap oleh Naruto habis. Maka barrier ini akan menghilang seketika. Kekurangan dari kemampuan ini adalah pengguna takkan bisa menyerap Nature Force selama menggunakan kemampuan ini.
9.
Adalah pembaharuan dari Kyokushin Karate: Dance of Four Gods. Didapat setelah berlatih melalui instruksi Han Dae-Wi lewat alam bawah sadarnya. Karena tidak sesuai dengan seleranya, Naruto mengubah beberapa gerakan serta nama teknik agar sesuai dengan gayanya.
10.
Teknik ini mengarah tiga bagian tubuh; yaitu pipi, perut, dan dagu. Fungsi dari teknik ini adalah menghancurkan konsentrasi lawan dengan menyerang sebanyak dua kali per anggota badan di udara.
11.
Yang pernah maen salah satu game online dari Megaxus seharusnya tahu siapa remaja ini :)
.
.
.
A/N: Hello reader :) Bagaimana chapter kali ini, apakah menarik menurut kau semua? Aku tunggu pendapat kalian di tempat seharusnya :D
Soal KG... Lihat cuplikan PM author dengan 'seseorang' di bawah ini.
Fic Kampret Ganjen lo gak jelas tahu gak. Apa-apaan Narutonya kayak gitu. Itu bukan NARUTO tapi OC dengan nama NARUTO. Udah alur gak jelas, flashback tak beraturan. Gak PANTES tahu gak cerita yang kaya gitu ada di FANDOM.
Well, sepertinya untuk sementara fic KG author Hiatus kan sampai suasana hati author baik.
Gomen Minna-san ):
[Mars135: Out]
Next Time On Kick The Limit
"Sepertinya sisi manusia membutuhkan sedikit bantuan."
Naruto, Magni, dan Samuel mengalihkan pandangan ke asal suara. Mereka melihat seorang remaja berambut perak, dengan dua iris mata biru serta sepasang sayap mekanik di punggungnya. Remaja ini turun di samping Naruto.
"Perkenalkan; Vali Sitri. Pawn dari Maou Leviathan. Siap membantu."
