NHSM (NaruHina Smut Month) Day 2

Prompt: Hokage Desk

Disclaimer ©Masashi Kishimoto

Words Count : 1,952


Hari yang melelahkan bagi sang Hokage, Uzumaki Naruto, yang baru saja dilantik menjadi Nanadaime Hokage dua minggu yang lalu. Malang bagi Naruto, pelantikannya bertepatan dengan minggu-minggu sibuk menjelang ujian Chuunin yang akan segera dilaksanakan bulan depan. Sehari setelah pelantikannya, Naruto langsung mendapatkan 'hadiah' berupa setumpuk dokumen-dokumen yang harus ditandatangani serta membuat undangan formal ujian Chuunin yang harus dikirimkan kepada Negara tetangga. Baru saat itulah Naruto menyadari mengapa baik Kakashi maupun Tsunade tertawa begitu bahagia sambil menepuk bahunya dan berkata 'Semangatlah, gaki!' di hari pelantikannya.

Selama dua minggu ini pula, Naruto hanya mendapat kesempatan pulang ke rumahnya larut malam, bahkan terkadang saat pagi menjelang. Satu-satunya hal yang sempat dilakukannya hanyalah mendatangi kamar kedua anak tersayangnya, memberikan kecupan selamat malam, lalu kembali ke kamarnya dan tertidur bahkan dalam kondisi belum sempat melepaskan jubah Hokagenya. Namun, tak terbersit sedikitpun rasa penyesalan dalam dirinya karena telah menjabat sebagai Hokage. 'Aku senang aku kini bisa melindungi desa ini sebagai Hokage-ttebayo.'

Dan karena kesibukan itu pula, Naruto menjadi sangat jarang mendapatkan waktu berkualitas bersama sang istri, Hinata. Ia tak bisa lagi mengamati betapa manisnya wajah sang First Lady saat tertidur dalam pelukannya, tak bisa lagi mencium bibirnya yang manis itu, tak bisa lagi mengecap tubuh indah nan menggoda Hinata.

Naruto menggelengkan kepalanya keras-keras. 'Tak seharusnya aku berpikiran mesum tentang Hinata-ttebayo!'

Sang Hokage kini tampaknya benar-benar frustasi. Bukan hanya kekurangan istirahat, dirinya juga membutuhkan sentuhan ajaib sang istri agar dapat berfungsi dengan baik. Tentu saja, semua itu harus ditunda hingga semua pekerjaannya selesai.

Itu dia! Naruto hanya perlu melakukan satu hal agar malam ini bisa pulang ke rumah lebih awal. Dia harus segera menyelesaikan semua dokumen-dokumen ini. Dan ide apalagi yang lebih baik jika tidak menggunakan bunshin?

"Kage Bunshin no Jutsu!" Seketika keluarlah 5 orang bunshin dari balik kepulan asap. "Hei kalian semua! Apa malam ini ingin segera bertemu Hinata!" Tanya Naruto dengan suara menggelegar.

"YA!" Jawab kelima bunshin bersamaan. Siapapun yang lewat di depan ruang Hokage pastilah akan terkejut saat ini.

"Kalau begitu mari kita kerjakan dokumen-dokumen ini! Ayoo!" Teriak Naruto memberi semangat bagi bunshin-nya. Tentu saja, Naruto cukup cerdas dalam menyemangati bunshin-nya, mengingat semua klonnya juga memiliki ketertarikan yang sama dengan dirinya terhadap Hinata.

"OHH!" Kelima bunshin itu segera mengambil tumpukan-tumpukan kertas dan mengambil tempatnya masing-masing untuk segera menyelesaikan tugas mereka.


"Ughh…" Erang Naruto sembari memegang kepalanya. Akibat menggunakan klonnya untuk mengerjakan tugas-tugas kenegaraan yang penuh dengan istilah-istilah rumit serta membutuhkan kehati-hatian dalam menandatangani setiap dokumen, di detik Naruto menonaktifkan jutsu-nya, seluruh memori 'Naruto-Naruto' membanjiri otaknya. Pada akhirnya, meskipun malam ini Naruto berhasil menyiapkan seluruh tugasnya pada pukul delapan malam, sakit kepala intens yang menyerangnya selama lima menit terakhir sukses membuatnya tak bisa beranjak sedikitpun dari kursi Hokagenya.

'TOK TOK TOK'

Terdengar suara ketukan pintu yang lembut namun cukup keras untuk mendapat perhatian dari Naruto. Naruto menggeram keras, berpikir siapakah yang malam-malam begini masih mengunjungi kantor Hokage.

"Masuklah." Gumam Naruto pelan.

Terbukalah pintu menampilkan sesosok wanita berusia 20 tahunan dengan rambut lavender panjang yang diikat membawa sebuah bungkusan kain. Wajah Naruto langsung menjadi cerah melihat kehadiran wanita yang sudah dinantinya sepanjang hari ini.

"Hinata-chan!" Teriak Naruto keras. "Aduh.." Ringis Naruto pelan sambil memegang kepalanya. Teriakan kerasnya serta gerakan tiba-tiba membuat sakit kepalanya terasa lebih menyiksa lagi.

"Naruto-kun?" Hinata yang melihat suaminya kesakitan sambil memegang erat kepalanya segera berlari ke sisi Naruto, lalu mendudukkannya di atas kursi Hokage kebanggannya. "Ada apa, Naruto-kun?" Tanya Hinata sambil memijat pelan pelipis Naruto.

"Unggh.. Kepalaku sakit sekali-ttebayo… Gara-gara Kage Bunshin…" Balas Naruto pelan, meresapi kenikmatan yang diberikan kedua tangan halus Hinata yang memijat kepalanya pelan. Seperti sentuhan malaikat, rasa berdenyut yang sedari tadi menghantam kepala sang Nanadaime Hokage teras pelan-pelan menghilang akibat sentuhan lembut seorang Uzumaki Hinata. "Anak-anak dimana, Hime?"

"Boruto dan Himawari sedang bersama Otou-sama. Apa sudah baikan, Naruto-kun?" Tanya Hinata lembut sambil mengintip wajah Naruto yang memejamkan matanya.

"Hmm.. Masih ada yang sakit, Hime." Rengek Naruto. "Lenganku juga sakit.. Terlalu banyak menandatangani dokumen-dokumen-ttebayo…"

"Semangatlah, Naruto-kun. Aku dan anak-anak juga akan selalu mendukungmu." Balas Hinata menyemangati Naruto, sembari memijat perlahan lengan kokoh sang Uzumaki.

Sentuhan-sentuhan lembut Hinata yang diselingi dengan pijatan kuat sukses membuat Naruto merasa keenakan. Senyuman manis yang selalu ditampilkan Hinata tidak membantu Naruto mengusir nafsunya yang tiba-tiba bangkit di kantor Hokage ini.

"Hinata.." Gumam Naruto pelan, merasakan pijatan Hinata yang makin melembut dan lebih menyerupai rabaan pada sepanjang lengannya, merambat naik hingga lehernya.

Kini kedua tangan Hinata memegang erat pipi sang jinchuuriki, lalu Hinata mulai mendekatkan bibirnya pada Naruto. "Aku amat merindukanmu, anata." Hinata lalu menutup jarak yang ada di antara mereka.

Naruto segera membalas ciuman itu, berawal ciuman polos dari Hinata, berkembang menjadi ciuman liar yang melibatkan hisapan-hisapan lidah yang didominasi oleh sang lelaki. Naruto lalu melepaskan ciuman panas itu ketika dirasanya Hinata mulai kesulitan bernafas.

Ketika menatap wajah sang istri, Naruto malah menjadi lebih terangsang. Wajah merah malu-malu dengan benang saliva yang masih terkait di antara keduanya terasa begitu hot di mata Naruto.

"Hinata…" Geram Naruto pelan, membuat Hinata bertanya-tanya. "Aku menginginkan dirimu, sekarang."

"Eh?" Hinata terlonjak mendengar permintaan sang kepala keluarga. "Tapi orang bisa masuk kesini kapan sa – Kyaah!" Pekik Hinata pelan merasakan tubuhnya diangkat oleh kedua lengan sang Hokage dan segera direbahkan di atas meja Hokagenya.

"Aku tak menerima penolakan, Hime. Sudah berhari-hari aku menahan hasratku." Balas Naruto dengan wajah serius, membuat Hinata tak berani lagi menolak keinginannya.

Jemari Naruto segera melakukan kerjanya. Pertama ia membuka ikatan rambut sang istri. "Kau lebih cantik seperti ini, sayang." Bisik Naruto seduktif di telinga Hinata, lalu memberikan jilatan serta gigitan kecil pada daun telinganya, yang sukses membuat Hinata mengerang tertahan.

"Selanjutnya… Bajumu ini.. Mengganggu pemandangan indahmu, kau tahu.." Naruto segera mengangkat baju mengganggu tersebut dari tubuh Hinata, dan disuguhi oleh keadaan setengah telanjang sang istri, membuat Naruto berdecak kagum melihat keindahan tubuh wanita ini.

"N-Naruto-kun! Orang bisa masuk kapan saja ke ruangan ini. J-Jangan.. Ahhh…" Kekhawatiran sang gadis terpotong dengan erangan lembut ketika Naruto menelusupkan sebuah jari ke dalam kewanitaannya, menggesek-gesekkan kedua jarinya perlahan dalam tubuh wanita itu.

"Jangan menolakku, sayang. Aku tahu kau juga menginginkannya.." Bisik Naruto dengan suara parau karena nafsu yang kini dirasakannya. "Dan jika Himeku tidak ingin ada yang mengetahui hal ini… Sebaiknya kau menjaga eranganmu, sayang.."

Seolah ingin memberikan cobaan bagi Hinata, Naruto segera melebarkan kedua kaki jenjang Hinata, lalu melepaskan pertahanan terakhir Hinata dengan cepat, membiarkan kewanitaan Hinata terekspos jelas di hadapan Naruto.

"Hmm.. Harum sekali, Hina-chan." Naruto segera memberikan jilatan kecil, lalu menjilat sekeliling kewanitaannya, mencicipi cairan Hinata yang mengalir keluar.

"Nggh.. Mmm.." Erang Hinata dengan tangan kiri yang menutupi mulutnya berusaha mencegah keluarnya suara-suara aneh, serta tangan kanannya yang mencakar meja Naruto, berusaha menyalurkan rasa nikmat yang dirasakan tubuhnya.

"Jangan terlalu ribut, Hina, bisa-bisa nanti kita ketahuan." Kata Naruto pelan, berusaha menggoda istrinya. Kini ia menghisap klitoris Hinata dan memberikan gigitan kecil.

"Haah! Ahh.. Ngghh.." Teriak Hinata kecil ketika merasakan desiran luar biasa akibat ministrasi Naruto, namun kembali menutup mulutnya erat-erat ketika dirasanya derap langkah kaki mendekati ruangan Hokage.

"Narutoo.. A-Ada yang mendekat.." Ujar Hinata, merasakan langkah kaki itu semakin mendekat.

"Hmm.. Iya, Hime. Itu pasti Shikamaru." Balas Naruto tanpa mengangkat wajahnya dari bagian bawah tubuh Hinata.

"Shikamaru-san kini berada di depan pintu!" Bisik Hinata panik merasakan chakra si pria jenius dari klan Nara kini tepat berada di depan pintu Hokage.

"Cepat masuk ke bawah meja, Hinata!"


CKLEK

"Hei, Naruto. Mejamu berantakan sekali. Lihat ini, bahkan dokumen misi kelas S pun bisa terjatuh ke lantai." Tegur Shikamaru. "Aku mendengar ribut-ribut disini tadi. Apa kau sudah menyelesaikan dokumen-dokumenmu?"

"Ehh.. I-Iya. Sudah selesai kok. Tinggal memberes – AKH!" Pekik Naruto kecil, merasakan sepasang tangan kecil Hinata menggenggam erat kejantanannya.

"Hm? Ada apa, Hokage?" Tanya Shikamaru melihat Naruto yang tiba-tiba berteriak.

"T-Tidak ada masalah apapun.. Shikamaru…Ukhh..." Gagap Naruto merasakan sensasi nikmat dari mulut hangat Hinata yang kini melingkari juniornya, sambil sesekali memberikan jilatan kecil.

"Kau tampak kesakitan. Perlu aku panggilkan Sakura?"

"Tak usah, Shikamaru. Sekarang pulanglah.. Uhh! Temari pasti sudah menungguimu." Usir Naruto, berharap agar Shikamaru tak curiga dan mau cepat pulang. Melihat tatapan curiga Shikamaru, dalam hati Naruto mengutuk Shikamaru. 'Cepat pergi Bakamaru!' Malang bagi Naruto, Hinata malah mulai menaikturunkan kejantanannya dalam mulut kecilnya, membuat Naruto merasa ingin ejakulasi.

"Pergilah bodoh! Aku h-hanya.. Hngg. S-Sakit !" Bentak Naruto dengan suara keras. Shikamaru hanya menggeleng melihat tingkah laku sahabatnya ini. Tiba-tiba, suatu benda berwarna ungu menarik perhatian Shikamaru.

"Hei, Naruto. Ikat rambut siapa ini?"

Seluruh darah di tubuh Naruto serasa membeku mendengar pertanyaan Shikamaru itu. Ia baru ingat tadi ia melepaskan ikatan rambut Hinata di atas meja ini!

"E-Etto.. Ini hadiah buat Hinata-chan, Shikamaru." Naruto berharap Shikamaru percaya akan kebohongannya ini.

"Hoo, tuan Hokage romantis juga ternyata. Baiklah, Naruto. Aku pergi dulu. Jaa!" Shikamaru lalu berjalan keluar meninggalkan ruangan yang entah mengapa terasa begitu pengap.

Begitu Shikamaru meninggalkan ruangan, Naruto segera mengangkat tubuh ringan Hinata dan kembali merebahkannya di atas meja Hokage.

"Hime… Mengapa kau malah melakukannya saat ada Shikamaru? Aku hampir saja ketahuan." Rengek Naruto pada Hinata yang kini malah merengut?

"Bukankah tadi aku sudah bilang, jangan dilakukan disini. Siapapun bisa masuk ke ruangan ini." Balas Hinata sambil merengut mengingat kekeraskepalaan suaminya.

"Hoo.. Ternyata Hinataku sudah berani juga rupanya." Ujar Naruto sambil menyeringai mesum. "Kau tahu, Hime, aku ingin kau lebih sering melakukan hal seperti itu padaku."

Wajah Hinata memerah mengingat keberanian yang tadi dilakukannya. "Naruto-kun jangan menggoda.." Balas Hinata malu-malu.

"Baiklah, Hime. Aku takkan menggodamu lagi." Tanpa aba-aba, Naruto segera melesakkan kejantanannya bersatu dengan sang istri.

"Nggh.." Erang Hinata pelan karena kini bibirnya dikunci oleh Naruto dengan ciuman panjang memabukkan. Sementara itu, Naruto mulai menggerakkan tubuhnya dengan kecepatan penuh.

"Hinataa… Kau terasa memabukkan-ttebayo…."

Hinata tak bisa lagi menjawab pernyataan Naruto karena rasa nikmat yang serasa membanjiri seluruh indranya. Mata bulannya terpejam erat, tangan kirinya masih setia menutupi mulutnya, dan tangan kanannya bergerak liar di atas meja berusaha menyalurkan kenikmatan seksual ini.

Tibalah saatnya. Hinata tahu, ia bisa merasakan seperti ada sesuatu yang hendak keluar dari dalam tubuhnya. Otot perutnya menegang, demikian pula jepitan dinding kewanitannya yang mengerat pada Naruto.

Gerakan Naruto yang semakin liar dan cepat juga menjadi pertanda bahwa lelaki itu kini sudah dekat dengan puncak kenikmatannya. Naruto menggenggam erat pinggul Hinata, menimbulkan bekas kemerahan berbentuk lima jari. Geraman dan erangan tertahan mengisi ruangan yang seharusnya menjadi tempat administrasi pemerintahan itu.

"Ah… N-Naru.. I-Ini.. Aahh.. Mmm.." Teriakan Hinata disumbat dengan bibir sang pahlawan Konoha yang menempel erat berusaha meredam erangan memabukkan yang menandai berakhirnya kegiatan terlarang ini.

Naruto menggoyang-goyangkan pinggulnya, berusaha mengeluarkan setiap tetes spermanya di dalam rahim wanitanya, merasakan kenikmatan ketika dinding-dinding vaginanya menjepit erat juniornya. Naruto lalu mencabut kejantanannya keluar ketika dirasanya segalanya telah berakhir.

"Hinata, menurutku kita harus lebih sering melakukan ini-ttebayo." Seringai Naruto dengan mesum.

"Naruto-kun.." Balas Hinata sambil memukul pelan dada bidang Naruto.

END


OMAKE :

Setelah 'kegiatan' mereka di kantor Hokage, Naruto tengah berjalan menuruni gedung Hokage bergandengan tangan dengan Hinata.

"Hei, Naruto, baru pulang sekarang?" Sapa sebuah suara familiar dari belakang Naruto.

"Ehh,, hai Shikamaru. Kau belum pulang?" Jawab Naruto dengan gugup. 'Kenapa orang ini belum pulang juga?'

"Ya, begitulah, aku merokok dulu sebelum pulang. Bisa-bisa Temari marah lagi jika aku ketahuan merokok." Shikamaru lalu menyadari kehadiran seorang wanita di samping Naruto.

"Konbanwa, Hinata-san." Sapa Shikamaru pada istri Nanadaime. "Aku tidak melihatmu di ruang Hokage tadi?" Tanya Shikamaru, heran bahwa tiba-tiba Naruto berjalan pulang dengan Hinata.

"Etto.. Anoo.. T-Tadi aku sedang di toilet, Shikamaru-san." Jawab Hinata dengan wajah merona mengingat apa yang sebenarnya dilakukannya tadi.

Shikamaru mengernyitkan alisnya, merasa aneh dengan gelagat Hinata.

"Begini, Shikamaru. Hinata tadi datang saat kau belum datang. Lalu dia pergi ke toilet sehingga kalian tidak bertemu. Naruto kini berkeringat dingin menanti respons dari penasihatnya.

"Oh, ya, begitukah. Ya sudahlah, aku pulang dulu ya, jaa!" Shikamaru lalu melambaikan tangannya lalu berjalan pulang. Sebenarnya ia masih merasa aneh tapi memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya.

Sungguh pengalaman yang amat menegangkan bagi sang Nanadaime Hokage dan First Lady Konoha.


Prompt untuk NHSM Day 2: Hokage Desk!

Bagaimana pendapat minna-san mengenai chapter ini? Apakah baik? Buruk? Butuh perbaikan?

Author sebenarnya merasa sedikit sedih karena kurangnya antuasiasme readers terhadap NHSM, dilihat dari jumlah reviewers yang lebih sedikit dibandingkan dengan fic Rated M author yang lain. Padahal, sejujurnya author membutuhkan masukan dari readers mengenai bagaimana supaya untuk prompts2 ke depannya bisa lebih baik lagi, mengingat saya juga author yang baru berkecimpung dalam dunia tulis menulis selama 4 bulan. Tapi yah tak apa-apa, dukungan readers dalam bentuk apapun sungguh berarti, entah itu dalam bentuk review, fave, follow, ataupun hanya sebagai silent readers :D ^^

Update next prompt: 3 Aug Good Cop & Bad Criminal