Lost In Enigma World

Disclaimer: Naruto punya Masashi Kishimoto

Cerita ini, punya saya

Warning: Typo-OOC-OC-AlternativeUniverse :D


Ketika api di asrama membakar tubuhnya, Sakura yakin inilah saatnya ia pergi ke surga. Hidup dengan tenang, aman, tentram dan damai, sambil memakan anmitsu segar nan manis kesukaannya di sana. Tidak perlu merasakan kesedihan dan ketakutan yang selama ini menghantuinya.

Tapi, saat dia membuka kelopak mata setelah insiden kebakaran di asrama…

"Cerise! Putriku, kau sudah sadar?"

Dia melihat seorang pria setengah baya dengan rambut merah muda yang disisir rapi ke belakang, tengah berdiri dengan wajah cemas bercampur senang. Pria berwajah asing, dengan pakaian ala bangsawan abad pertengahan. Memanggil-manggil ke arahnya dengan sebutan Cerise.

Sakura mengerutkan kening. Apa ini mimpi? Ya, mungkin ini hanya mimpi sebelum dia pergi ke surga. Tapi kenapa harus ada laki-laki di dalam mimpinya? Dan lagi, apakah sebelum kita ke surga harus diberikan mimpi seperti ini dulu? Ini aneh.

Di samping pria itu, berdiri seorang anak kecil berambut merah ikal dengan wajah manis dan imut. Sakura masih belum bisa memastikan apakah anak itu laki-laki atau perempuan karena dia terlalu imut. Anak itu hanya terdiam seperti patung, terlihat ketakutan saat melihat ke arahnya.

Sakura membalas pandangan mata anak itu dengan pandangan yang sama. Ketakutan bercampur bingung. Entah kenapa semua ini terlihat nyata. Dia merasakan tubuhnya kembali hidup. Masih bernapas, sehat sentosa. Ragu-ragu dia mencubit tangannya yang bergetar kecil. Rasanya…sakit!

"Sepertinya Lady Cerise masih shock. Saya akan mencoba memeriksa lagi kondisinya."

Seorang pria berambut cokelat, dengan mantel hitam dan sebuah tas kulit besar di tangannya, mencoba mendekat ke arahnya.

Dan saat itulah, Sakura sadar seratus persen. Bahwa saat ini dia benar-benar terbangun di kamar mewah nan luas ala victoria, serta laki-laki yang ada di dekatnya saat ini adalah makhluk nyata. Bukan khayalan, mimpi, apalagi imajinasi.

"KYAAAAAA! LA-LAKI-LAKIIIII! MENJAUH DARIKU!" dengan segenap jiwa dan raga, Sakura berteriak keras hingga burung-burung yang hinggap di ranting pohon kediaman Fleur kabur menjauh.

Berharap saja ketiga laki-laki itu telinganya tidak berdarah setelah mendengar teriakan merdu Sakura.

.

.

.

.

Setelah peristiwa teriakan heboh Sakura yang membuat telinga berdengung, Duke Fleur akhirnya menyerah dan memutuskan untuk meninggalkan putrinya seorang diri di kamarnya. Termasuk Dokter Franz dan Vermiculo. Mereka mencoba memberikan waktu kepada gadis itu untuk menenangkan diri.

Tindakan bijak mereka harus Sakura syukuri, karena saat ini dia benar-benar butuh ketenangan untuk bisa berpikir jernih. Bayangkan saja jika kalian sudah yakin mati, tiba-tiba hidup lagi dengan kondisi dan berada di lokasi yang berbeda dengan kehidupan sebelumnya. Pasti dilanda kebingungan, kaget, khawatir dan rasa takut yang bercampur aduk. Sakura bahkan sudah mencubit pipinya, tangannya hingga menampar dirinya sendiri untuk meyakinkan dirinya bahwa ini bukan halusinasi.

Semua sosok yang ia lihat tadi terlihat seperti orang asing. Nama yang mereka sebut tadi juga terdengar bukan nama orang Jepang pada umumnya. Itu artinya dia tidak berada di Jepang. Lalu dimana? Siapa mereka semua? Bukankah harusnya dia sudah mati? Lalu, kenapa dia bisa terbangun dan mendapati dirinya masih hidup?

"!"

Sakura tiba-tiba teringat sesuatu yang berhubungan dengan situasinya saat ini. Seseorang yang sudah mati, kemudian hidup kembali, namun dengan sosok dan lokasi yang berbeda dari kehidupannya sebelum mati. Teori itu pernah Sakura baca di sebuah buku dari perpustakaan sekolah. Ya! Itu dia! Orang-orang dengan kepercayaan tertentu menyebutnya dengan,

"Rein…karnasi…?" bisik Sakura, tidak percaya dengan ucapannya sendiri.

Tidak. Tidak mungkin! Kenapa dia jadi berpikir jauh sampai ke reinkarnasi segala sih? Apa karena dia benar-benar depresi jadi berpikir jauh ke sana? Yaah, bisa jadi. Tapi tetap tidak mungkin. Memang saat ini dia berada di kamar mewah yang luas bernuansa victoria dan melihat laki-laki dengan pakaian formal ala bangsawan. Hal itu memang cukup aneh di jaman modern saat ini.

Tapi sosok dirinya masih sama kan? Bola matanya masih berwarna hitam, begitu juga rambutnya juga masih berwarna merah muda.

Huh? Merah muda?

MERAH MUDA?!

Sejak kapan, rambut pendek hitam legamnya, berubah jadi merah muda?!

Tanpa ba bi bu lagi, Sakura langsung beranjak dari kasur yang ia duduki dan berlari ke arah cermin terdekat. Gadis berumur 17 tahun itu membelalakan matanya saat melihat sosok yang ada di depan cermin. Dia melihat seorang gadis kecil berwajah cantik dengan gaun tidur berenda berdiri di hadapannya. Sosoknya seperti peri kecil yang manis dengan kulit seputih susu, mata emerald yang berbinar bagaikan permata, bibir merah alami seperti buah ceri, dan rambut panjang bergelombang lembut, bewarna merah muda bunga Sakura.

Sakura mengangkat tangan dan menyentuh cermin yang ada di depannya. Sosok itu pun melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan. Sakura yang masih ragu, mencoba melakukan berbagai macam pose. Mulai menjulurkan lidah, melambaikan tangan, memasang wajah konyol, hingga bergaya seperti monyet. Gadis kecil yang ada di dalam cermin itu mengikuti semua posenya. Dan gadis berambut merah muda itu adalah sosok barunya sekarang!

"HAAAH! INI AKU?!" Sakura berteriak kaget, seraya menjambak rambut merah mudanya.

Demi kumis Hitler! Dia tidak percaya! Tepatnya tidak mau percaya, kalau dia benar-benar bereinkarnasi! Apa, Kenapa, Siapa, Dimana, Kapan, dan bagaimana hal ini bisa terjadi padanya?! Kepalanya jadi tambah pusing karena pertanyaan 5 W plus 1 H yang bermunculan di dalam kepalanya.

"Tenang…aku harus tenang agar bisa menelaah situasi saat ini." Sakura menenangkan diri, seraya menarik napas panjang dan mengembuskannya kembali. Dia berusaha mengingat kembali semua kejadian sebelum dia mati terbakar di asrama pelan-pelan.

Mulai dari bangun pagi, pergi ke sekolah, belajar, sepulang sekolah langsung rapat anggota OSIS, membantu dan mengawasi persiapan ulang tahun St. Lily, pulang ke asrama, langsung tidur, kemudian kebakaran itu terjadi. Dia mati terbakar dan tiba-tiba berakhir di tempat antah berantah, dengan sosok yang berbeda pula. Setelah itu…setelah itu apa? Tidak ada kesimpulan yang jelas dari runtut kejadian yang ia susun barusan.

"La-Lady Cerise? Apa tubuh anda masih sakit?"

"Kyaaa!"

Sosok Vermiculo yang muncul tiba-tiba dari balik pintu kamar membuat Sakura kembali berteriak. Sekali lagi dia teriak mungkin suaranya akan habis.

"Ma-maafkan saya Lady Cerise!" Vermiculo langsung bersujud di dekat pintu.

Sakura spontan melongo bingung. Kenapa tiba-tiba anak berwajah imut itu bersujud? Apa teriakannya membuatnya takut? Sakura jadi tidak enak hati.

"Hei harusnya aku yang minta maaf! Teriakanku pasti membuatmu kaget. Jadi tidak usah bersujud seperti itu."

"Tidak bisa! Saya sudah lancang memasuki kamar Lady Cerise tanpa disuruh! Tadi saya benar-benar khawatir saat mendengar teriakan anda. Saya juga minta maaf karena sudah membuat anda jatuh dari perahu, saya rela dihukum tapi mohon jangan pecat saya!" pinta Vermiculo.

"Eeeh? Lady Cerise?" seru Sakura dengan wajah konyol, seraya menunjuk ke arah dirinya sendiri.

"Maksudmu aku ini…Lady?" lanjut Sakura, tidak percaya.

Vermiculo yang masih menundukan wajahnya kini mengerutkan kening. Bingung dengan pertanyaan Nona kecilnya itu. Tentu saja dia adalah nona di kediaman Fleur ini. Apakah nonanya mengalami lupa ingatan mendadak? Namun dia tidak ingin membuat majikannya marah dan menendangnya keluar kamar. Jadi Vermiculo pun hanya bisa menjawab pertanyaan Sakura dengan sedikit terbata-bata.

"Te-tentu saja anda adalah Lady Cerise Du Fleur. Putri satu-satunya dari Duke Monde Du Fleur."

CTAAAR!

Kilat dan petir menyambar! Bumi gonjang ganjing! Semua planet akhirnya masuk ke dalam Black Hole. Setidaknya itulah gambaran perasaan Sakura, yang saat ini membatu seperti patung. Belum hilang rasa terkejut Sakura setelah mendapati dirinya bereinkarnasi menjadi seorang Lady. Kini dia menyadari satu fakta yang lain. Fakta mengerikan, yang membuatnya takut setengah mati untuk bisa hidup di dunia ini dengan damai.

Lady Cerise Du Fleur, serta Duke Monde Du Fleur, memang tidak asing lagi. Nama itu pernah ia dengar dari mulut para pecinta novel roman erotis di kelasnya. Karena mereka sering mengobrol dan selalu mengoceh tentang novel itu. Mau tidak mau Sakura jadi ingat isi ceritanya. Tidak semuanya, tapi beberapa bagian penting ada yang ia ingat. Termasuk nama-nama tokoh utama, sampingan, serta peristiwa yang berhubungan dengan kisah cinta mereka.

Ini…hanya dugaan sementara saja. Untuk memastikan jika analisisnya benar, dia harus bertanya secara langsung pada anak berambut merah yang ada di hadapannya saat ini.

"Boleh aku mengajukan beberapa pertanyaan padamu?" tanya Sakura, dengan wajah was-was.

"Tentu saja Lady Cerise."

"Tapi kau harus bangkit dari sujudmu. Aku bukan dewa atau tuhan, tahu? Duduklah di kursi."

Vermiculo kembali tercekat kaget. Apa dia tidak salah dengar? Lady Cerise yang egois dan angkuh, yang selalu memandang sinis orang yang rendah derajatnya, menyuruhnya duduk di kursi kesukaannya? Apa matahari akan terbit di sebelah barat? Tapi dia tetap menuruti perintah Sakura dengan patuh.

"Baik Lady Cerise." Vermiculo pun berjalan ke arah kursi beludru berwarna merah muda yang terletak di dekat jendela, kemudian duduk dengan perlahan.

Di sisi lain Sakura juga ikut gugup. Vermiculo menatapnya dengan wajah penuh keraguan. Apa sikapnya masih kurang sopan? Tentu saja begitu. Dia bukan seorang Lady! Pasti dia merasa ada yang ganjil. Tapi masa bodoh, ah! Yang penting dia harus tahu situasinya sekarang.

"Apa nama negeri ini Helios?" Sakura membuka sesi pertanyaan.

"Eh? Be-benar."

"Di pimpin oleh seorang Kaisar bernama Ignis?"

"Kurang tepat Lady Cerise…Kaisar yang memimpin masih Yang Mulia Flaxen Ordo Helios. Ignis Ordo Helios adalah nama Pangeran kebanggaan negeri Helios, putra satu-satunya Kaisar Flaxen dan Permaisuri Ruby."

'Uaah, namanya yang aneh dan sulit untuk diucapkan!' pikir Sakura.

"Apa dia seorang playboy—ehm! Maksudku, apa dia suka merayu banyak wanita?" Sakura melanjutkan pertanyaannya.

"Sa-saya juga kurang tahu. Tapi yang pernah saya dengar wajah Pangeran Ignis sangat tampan, selain itu dia dikenal gentleman dan ramah pada siapa saja. Banyak yang menyukai pangeran Ignis dan menjadi istrinya di masa depan. Ta-tapi tentu saja Lady Cerise yang paling pantas menjadi kandidat calon pendamping hidup Pangeran Ignis!"

Vermiculo hampir lupa kalau nona-nya ini sangat tergila-gila pada Pangeran Ignis. Bahkan berani mencalonkan diri menjadi istri Pangeran Ignis di usianya yang masih muda. Yang Vermiculo tidak tahu, saat ini yang berdiri di depan cermin besar itu bukanlah Lady Cerise yang asli. Melainkan Haruno Sakura, gadis Jepang asli, si pecinta manisan, pembenci kisah-kisah romantis dan takut pada laki-laki.

"Lalu apa kau mengenal orang yang namanya Lord Corvus dan Duke Risus di negeri ini?"

Kali ini Vermiculo cukup lama terperangah kaget. Tentu saja dia mengenal betul dua nama itu. Terutama Risus yang merupakan sahabat baiknya. Tapi bagaimana bisa Lady-nya yang cuek itu tahu tentang sahabatnya di panti asuhan?

"Risus adalah nama sahabat saya di panti asuhan. Setahu saya dia memang diadopsi oleh seorang duke. Tapi kami tidak pernah bertemu lagi sejak dia diadopsi dua tahun yang lalu. Sedangkan Lord Corvus adalah Pangeran dari Negeri Caligo. Putra kedua dari King Alucard. Nama itu cukup tabu di negeri kita, anda pasti tahu apa sebabnya kan?" jelas Vermiculo dengan suara lirih.

Sakura yang mematung di tempat ia berdiri. Setelah mendengar penjelasan Vermiculo barusan, kini semuanya jadi masuk akal. Analisisnya tepat seratus persen. Apa yang ia takutkan menjadi kenyataan. Semua pertanyaan yang ia tanyakan kepada Vermiculo, sama persis dengan isi dari novel fantasi romantis yang selalu dikoarkan dari mulut ember teman-temannya di kelas. Sesuatu yang tidak ingin ia ketahui, namun karena ingatannya yang cukup kuat. Ocehan itu justru membekas di dalam memori otaknya.

Enigma. Adalah judul dari novel terkutuk itu. Novel yang ia temukan sebelum mati, kemudian ia lempar ke dalam api. Jadi, kesimpulan dari semua analisis-nya adalah…dia hidup kembali, namun terjebak di dalam dunia novel! Dari lokasi, hingga nama, semuanya benar-benar sama!

Kalau tidak salah inti dari cerita itu adalah tentang cinta terlarang, dimana seorang kaisar Ignis, Dark Lord Corvus, dan Duke Risus yang yandere, jatuh cinta pada Vermiculo, seorang pelayan biasa dari keluarga Fleur. Sialnya, Sakura mendapat peran sebagai majikan dari pelayan di dalam novel tersebut. Lady Cerise Du Fleur yang egois dan angkuh, adalah tokoh antagonis yang tega menyiksa pelayannya dengan kejam. Namun akhirnya, dia malah dihukum mati dengan cara dirajam di sepanjang jalan, disalib di alun-alun dan ditonton banyak orang, lalu dibakar hidup-hidup.

Dia masih ingat betul saat teman-temannya mengucap syukur bersama, saat mengetahui tokoh antagonis bernama Lady Cerise itu mati mengenaskan.

Itu artinya…dia yang sekarang akan mati…dengan cara yang sama seperti di dalam novel?

Tidak! Kenapa akhir hidupnya harus berakhir dengan api lagi?! Apakah ini sebuah karma karena dia sudah membakar novel itu? Apa dosa yang sudah ia lakukan hingga harus mendapatkan kehidupan yang menyedihkan seperti ini lagi? Tidak di dunia sekarang, juga di dunia sebelumnya. Dia hanya ingin kehidupan yang normal, damai, aman, dan tentram! Tapi kenapa semuanya jadi begini?

Belum lagi dia harus berhadapan dengan laki-laki, makhluk yang paling ia hindari dan takuti. Berada di dekat mereka saja rasanya jantungnya mau copot dan kesadarannya akan hilang. Apalagi ujung-ujungnya dia akan mati dibunuh oleh salah satu laki-laki di dalam novel itu. Daripada harus mati di tangan laki-laki, lebih baik dia bunuh diri saja sekarang!

"La-lady Cerise…anda menangis…"

Suara lembut Vermiculo menyadarkan Sakura dari lamunannya. Sakura bahkan tidak sadar kalau dirinya meneteskan air mata tanpa diundang. Memalukan sekali, baru kali ini dia mengeluarkan air mata dihadapan orang yang tidak dia kenal.

"Apakah ada ucapan saya yang salah? Saya minta jika saya membuat anda kesal Lady." Vermiculo bangkit dari kursi, lalu dengan penuh perhatian mengelap air mata Sakura.

Sakura merasa tersentuh. Entah kenapa ia langsung tahu, kalau pelayan ini adalah si tokoh utama yang akan jadi incaran para lelaki gila yang akan membunuhnya kelak. Mereka tidak salah memilih orang. Pelayan ini benar-benar baik hati, Sakura bisa merasa tenang berada di dekatnya. Wajahnya juga imut dan manis, wajar jika mereka mencintainya.

"Tidak kok! Aku hanya kelilipan. Terima kasih…ng…Vermi…culo. Kau sangat baik…" ucap Sakura, seraya tersenyum tulus.

Vermiculo terpaku. Rasanya hari ini Lady Cerise benar-benar berbeda dari biasanya. Namun perbedaan sikap itu bukan sesuatu yang buruk. Malah dia merasa senang dengan sikap Lady Cerise yang sekarang. Terutama saat melihat senyuman Lady Cerise yang pertama kali ditunjukan kepadanya. Dia harap Lady Cerise bisa terus bersikap ramah seperti ini.

"I…ini sudah kewajiban saya sebagai pelayan anda, Lady Cerise." Jawab Vermiculo dengan pipi bersemu malu.

Sakura merasa gemas dengan reaksi Vermiculo yang imut. Anak ini benar-benar manis! Dan segala sesuatu yang manis adalah kelemahan Sakura. Kok bisa sih, Lady Cerise yang dulu suka menyiksa pelayan semanis ini? Padahal Lady Cerise juga punya wajah yang tidak kalah manisnya, sayang tertutupi dengan sifatnya yang buruk. Mungkin ada yang salah dengan otak si Lady yang sebelumnya. Coba kalau dia mau berikap baik dan berteman dengan Vermiculo, pasti akhirnya…

Eh?

Tunggu dulu…Itu dia! Jalan cerita ini bisa ia ubah! Sebagai Lady Cerise dengan ingatan Haruno Sakura!

Sakura memang tidak tahu jalan cerita dari novel Enigma secara spesifik. Karena itu dia hanya bisa mengandalkan kepingan cerita yang dia ingat, untuk bisa bertahan hidup di dunia ini. Saat ini mereka belum bertemu dengan ketiga tokoh utama laki-laki. Mungkin saja dia tidak akan dibunuh jika bersikap baik pada Vermiculo. Dia juga tidak akan mau kok kalau disuruh berdekatan dengan laki-laki gila seperti mereka.

Sakura akan membiarkan Vermiculo memilih siapa pria yang akan dinikahinya kelak, dan mereka berdua bisa hidup bahagia! Dengan begitu nasibnya bisa terselamatkan dari siksa tiga pria yandere itu! Banzai untuk otaknya yang cemerlang!

Tapi sebelum dia berteman dengan Vermiculo, dia harus meminta maaf dulu atas perbuatan kasar Lady Cerise yang asli. Memang bukan dia pelaku yang sebenarnya, tapi rasa tanggung jawab itu harus ia pikul karena sekarang dirinyalah Lady Cerise. Image Lady Cerise yang mengerikan harus dihapus!

"Vermiculo, aku benar-benar minta maaf atas semua kesalahan yang pernah kulakukan padamu selama ini. Kalau kau belum mau memaafkanku, kau boleh kok memukul atau menjambak rambutku!" ujar Sakura penuh semangat.

"Eeeh?! Tidak mungkin saya melakukan itu pada majikan yang saya layani! Saya memaafkan Lady Cerise kok." Vermiculo menolak permintaan konyol Sakura. Sekesal apa pun dia, mana mungkin dia tega memukul seorang perempuan.

"Sungguh?"

"Sungguh!"

Sakura memandang Vermiculo dengan takjub. Semudah itu? Selain berhati baik, ternyata Vermiculo orang yang sangat pemaaf!

"Kalau begitu sekarang kita berteman ya!" Sakura menjulurkan tangannya untuk berjabat dengan Vermiculo.

"Hah?" Vermiculo langsung bengong.

"Kau tidak mau berteman denganku?" Sakura memasang wajah memelas.

"Te-tentu saja mau! Saya mau berteman dengan Lady Cerise!" seru Vermiculo, seraya menggenggam tangan Sakura dengan erat. Mereka saling melempar senyuman hangat.

"Terima kasih sudah mau jadi temanku! Oh iya, boleh aku memanggilmu Vermi saja? Namamu bagus, tapi rasanya seperti menyebut nama laki-laki. Padahal kau kan perempuan? Kalau Vermi terdengar lebih manis kan?" ujar Sakura menunjukan jempol penuh percaya diri. Vermiculo yang masih memasang senyum, memerengkan kepalanya perlahan lalu berkata…

"Lady Cerise…saya ini…Laki-laki…"

"…"

"…"

"…"

"Lady Cerise?"

Bruk!

Sakura langsung pingsan di tempat.

.

.

.

.

.

Traang!

Suara pedang yang saling beradu terdengar jelas di halaman utara, istana Helios. Seorang pemuda berambut kuning, dengan piawai mengarahkan ujung pedangnya ke arah sang lawan. Mata biru langitnya yang indah, terlihat bergerak mengikuti arah pedang prajurit yang ada di hadapannya. Saat melihat ada celah yang bisa ia kuasai, dalam sekali serangan dia pun akhirnya berhasil menjatuhkan pedang lawannya.

Latihan berpedang sang pangeran negeri Helios, melawan ksatria kekaisaran Helios pun berakhir. Dengan Pangeran Ignis yang keluar sebagai pemenangnya. Kedua laki-laki yang saling bertarung tadi mengangkat pedang mereka ke hadapan wajah, menyarungkan pedang mereka kembali, lalu saling menundukan badan, memberi hormat.

Semua prajurit yang menonton latihan itu langsung bertepuk tangan riuh. Terutama beberapa dayang istana yang diam-diam ikut menonton Sang Pangeran Ignis yang tampan. Tentu saja mereka tambah jatuh cinta tanpa harus diminta. Sayangnya mereka tidak bisa berlama-lama menatap pangeran Ignis, saat kepala dayang yang galak menjewer telinga mereka dari belakang.

"Seperti biasa, anda selalu bisa mengalahkan saya yang mulia." Kepala ksatria Bernd membungkukan kepala hormat.

"Tidak ada yang kalah dan menang dalam latihan seperti ini Sir Bernd. Lagipula aku berlatih pedang sejak kecil juga diajarkan olehmu. Kau adalah guru yang kusegani." ujar pangeran Ignis, bijak.

"Fufufu, pangeran kecil kita benar-benar sudah dewasa sekarang! Aku tidak akan kaget kalau kau punya banyak kekasih di luar sana! Kau juga mewarisi ilmu rayuan untuk wanita dariku!" ujar Bernd seraya menepuk punggung pangeran Ignis.

"Aku belum tertarik untuk memiliki kekasih. Aku masih ingin bebas, kau tahu itu."

"Aaa…tapi kudengar ada tiga kandidat permiasuri yang kuat. Mereka akan diperkenalkan saat acara ulang tahunmu yang ke tujuh belas bukan? Apa kau sudah tahu kandidatnya siapa saja?" tanya Bernd, penasaran.

"Sudah. Aku sering bertemu mereka di pesta para bangsawan yang membosankan. Apalagi Lady Cerise Du Fleur, anak dari Duke Monde Du Fleur itu. Dia benar-benar gadis kecil yang merepotkan." Keluh pangeran Ignis.

Dia mengingat kembali pertemuannya dengan Lady Cerise yang selalu menguntitnya kemana pun dia pergi selama di pesta. Cerise sangat cerewet dan menyombongkan bahwa dirinyalah yang terbaik di antara semua wanita yang ada di negeri Helios. Bahkan dia berani mengusir Lady lain yang berusaha mendekati pangeran Ignis. Tentu saja pangeran Ignis jadi risih.

"Ooh! Si peri kejam dari keluarga Fleur! Hahaha! Dia memang cantik, sayang sifatnya terlalu egois dan angkuh. Jika dia jadi istrimu kelak, aku tidak bisa membayangkan akan jadi apa negeri ini." Bernd tertawa keras.

"Jangan dibayangkan. Itu tidak akan terjadi…" gumam Pangeran Ignis, tersenyum simpul sembari melangkahkan kakinya keluar dari halaman Utara.

.

.

.

.

.

.

TBC


Keterangan para tokoh Lost In Enigma World:

Cerise Du Fleur (14 tahun) = Haruno Sakura

Vermiculo (15 tahun) = Sasori

Ignis Ordo Helios (16 tahun) = Uzumaki Naruto

Monde Du Fleur (48 tahun) = Haruno Kizashi

Flaxen Ordo Helios (48 tahun) = Uzumaki/Namikaze Minato

Ruby Ordo Helios (40 tahun) = Uzumaki Kushina

Bernd Forthstein (55 tahun) = Jiraiya