Sekitar pukul enam lewat tiga puluh lima menit, beberapa warga kelas 10 A sudah datang dan melaksanakan pekerjaan mereka yaitu piket kelas. Meski kelas sudah dibersihkan oleh mereka yang melakukan piket sepulang sekolah, mereka yang datang pagi harus menyiapkan kelas untuk kegiatan belajar seperti menurunkan kursi dari atas meja, menyiapkan kapur jika sudah habis, mengelap meja, merapikan buku di loker dan lain sebagainya. Jika kelas masih terasa kotor pun boleh dibersihkan kembali.

Suasana piket aman dan damai, namun mendadak suara ember yang dilempar dari depan pintu membuat mereka yang berada di kelas terlonjak kaget, sontak menoleh ke asal suara dan dapati ember untuk air pel milik mereka sudah pecah akibat dilempar. Ketika melihat ke pintu, mereka dapati seorang lelaki dengan tatapan marah diiringi tangan yang berpangku di depan dada.

"Kukembalikan ember milik kalian," ucap lelaki tersebut, lalu mengangkat sedikit kepalanya--menatap seisi kelas dengan tatapan marah. "Aku akan mencari siapa yang berani membuang air pel padaku."

.

.

.

Yaya memegangi kedua tali tas ranselnya seraya berlari menuju kelas. Bangun kesiangan membuatnya tidak bisa mengontrol teman-teman yang piket, terlebih ia mau tak mau pergi seorang diri karena orangtuanya sedang pergi melakukan dinas di luar kota. Waktu menunjukkan pukul enam lima puluh lima, tiga menit lagi menuju bel masuk. Ia benar-benar merasa bersalah ketika harus terlambat masuk ke kelas sebagai ketua kelas sebab ia sudah menetapkan waktu untuk datang lebih awal.

Saat berhenti di depan pintu, setiap pasang mata tertuju padanya. Ada yang menatapnya sinis, menghela napas kecewa dan ada pula yang menggeleng. Ini kali pertamanya ia terlambat, dirasa Yaya cukup maklum mengingat tindakannya sekarang yang terlambat datang ke kelas. Ia melangkah masuk ke dalam dengan napas terengah-engah, namun kedua manik madu miliknya langsung terarah pada ember yang berlubang cukup besar di bagian bawah, membuatnya tersentak.

"Loh? Kok bisa pecah gini?" Yaya bertanya, menghampiri ember yang diletakkan di atas meja dan memegangnya.

"Tadi, ada kak Kaizo datang kesini."

Mendengar nama itu membuat Yaya tersentak sekaligus meneguk ludah. Jangan-jangan, yang kemarin tak sengaja disiramnya itu kak Kaizo? Ia menggeleng dan merutuki nasibnya, gimana kalau lelaki itu malah mencari-carinya?

"Dia yang ngelempar ember ini, terus dia bilang dia bakalan cari orang yang ngebuang air pel ke dia," jelas seorang perempuan yang berdiri di belakang meja.

"Bukan kamu 'kan, Ya?" tanya seorang gadis bermahkota pirang--Amy. "Kemarin yang buang air pel emang kamu sih, tapi kamu gak bakalan seberani itu 'kan buang ke kakak kelas?"

Yaya menggigit bibirnya, bingung. Memang dia yang membuang air pel, tapi mereka tak tahu kalau ia membuangnya dari jendela kelas 10 C dan tak tahu kalau ada orang di bawah sana. Kalau tahu orang itu adalah kak Kaizo, dia akan putar balik dan membuangnya di toilet saja daripada harus mencari masalah.

"Maaf, itu...aku yang ngebuangnya." Ia menjawab, membuat seisi kelas kaget. "T-Tapi," ucapnya, berusaha menjelaskan. "Ceritanya tuh aku takut mau ke toilet soalnya gelap jadi aku buang dari jendela kelas 10 C. Aku gak liat ke bawah dan tahu-tahu ada yang maki-maki...karena takut aku langsung buang embernya juga."

Semakin merasa bersalah karena ia sudah membawa nama kelasnya, kedua tangan Yaya disatukan--memberi gestur permintaan maaf. "Maaaf! Embernya bakalan kuganti dan..." Gadis berkerudung putih itu meneguk ludah. "Aku bakalan ngomong sama kak Kaizo dan minta maaf."

"Oh, jadi ini orangnya?"

Suara berat seorang lelaki terdengar, Yaya sontak menoleh dan mendapati lelaki bermahkota ungu tua dengan seragam acak-acakan, bahkan tak memakai almamater. Nyali gadis itu makin ciut ketika Kaizo berjalan masuk ke dalam kelasnya.

Kaki Yaya bergerak mundur namun Kaizo makin mendekati, hingga tubuhnya bertabrakan dengan pinggir meja dan tak ada celah lagi untuk kabur. Tanpa aba-aba, Kaizo mengepung Yaya dengan satu kakinya dan berujar, "Berani sekali ya?" Ia lalu mendekatkan wajahnya hingga jarak di antara mereka tinggal beberapa senti. "Temui aku saat jam istirahat, kalau tidak kau tahu akibatnya 'kan?"

Bel tanda masuk kelas berbunyi, lelaki bermahkota ungu tua itu langsung beranjak pergi meninggalkan kelas tersebut. Yaya merasa lemas, membuatnya jatuh terduduk dan teman-temannya menghampiri untuk membantunya berdiri. Ada pula yang mengelus punggungnya guna menenangkan gadis itu.

Astaga, secepat inikah aku bertemu dengan kematian?

.

.

.

Buku yang berada di atas meja ia kemaskan, dimasukkan ke dalam laci meja dan menghela napas kasar. Bel istirahat sudah berbunyi sejak tiga menit yang lalu dan Yaya masih melamunkan apa yang akan terjadi jika ia menemui kakak kelas yang dikenal berandal seantero sekolah. Sikapnya semena-mena karena tahu ia adalah anak "belian", dimana mereka adalah anak-anak berprestasi di bidang olahraga--terutama bola basket--untuk membawa nama SMA Galaksi di kompetensi bergengsi. Berkat anak-anak belian itu, SMA ini selalu memasuki urutan pertama pada prestasi pertandingan bola basket tingkat nasional. Namun, karena itulah kebanyakan dari mereka bersikap seenaknya hingga membuat guru-guru gemas. Yayasan tak pernah peduli akan hal tersebut, yang paling penting adalah sekolah mereka dicap sebagai sekolah terbaik dalam pertandingan bola basket.

Semua biaya mereka ditanggung oleh sekolah, namun jika mereka mengundurkan diri untuk tidak mengikuti pertandingan beasiswa mereka akan dicabut dan dikenakan biaya layak murid-murid biasa. Hal tersebut jelas tidak diinginkan oleh mereka. Sekolah gratis asal membawa nama sekolah saja sudah cukup.

Langkah berat membawa Yaya keluar kelas, mencari keberadaan kakak kelas tersebut. Masalahnya, ia hanya tahu nama dan kelas. Teman-temannya berkata bahwa Kaizo sendiri tidak pernah di kelasnya karena lebih sering menghabiskan waktu di luar kelas misalnya di kelas lain, taman belakang sekolah atau kantin. Terkadang juga di lapangan indoor/outdoor bahkan atap sekolah. Ya kali Yaya harus mencari ke seisi sekolah?

Tetapi ia memutuskan untuk masuk ke area kelas sebelas, dimana saat memasuki lorong di lantai tiga, sebelah kanan adalah kelas IPA dan sebelah kiri kelas IPS. Kelas unggulan IPA berada paling depan, tepat saat sampai di lantai tiga sementara kelas unggulan IPS berada di ujung lorong. Yaya tak tahu pasti kenapa sistem sekolahnya seperti ini, yang jelas kelas unggulan--kelas A--selalu berada di depan, seperti kelasnya.

Yaya mengintip-intip kelas dengan plang XI IPS A yang berada di ujung lorong sekadar memastikan apakah ada kehidupan disana. Perlahan langkah kakinya memasuki lorong kelas IPS, melihat melalui jendela yang terpasang di setiap kelas hingga tampak aktivitas di dalam sana. Jika ia ingin membandingkan, kelas anak sosial lebih berisik daripada kelas eksak. Buktinya sekarang, kelas IPA hanya beberapa yang tampak berada di luar kelas dengan nongkrong di koridor. Sisanya lebih banyak di dalam kelas atau perpustakaan. Sedangkan kelas IPS...ribut baik di kelas maupun koridor.

"Eh, adek kelas manis. Ngapain kesini? Cari abang ya?"

Seorang lelaki yang tiba-tiba mendapati Yaya memasuki lorong IPS menghampiri dengan genit, membuat gadis bermanik madu itu tersenyum kikuk dan menggeleng.

"M-Mau cari orang, bang...," jawabnya.

"Nyari siapa? Abang?" Ia lalu tersenyum. "Udah ngaku aja kamu. Kamu mau nembak abang 'kan?"

Ngaco, Yaya membatin.

Pletak.

Tiba-tiba saja sebuah botol berisi minuman isotonik mendarat di kepala lelaki itu, membuat Yaya tersentak sementara si pemilik kepala meringis kesakitan seraya mengelus kepalanya.

"Anjrit, siapa yang lempar hah?!"

Kaizo menatap lelaki itu tajam dengan satu botol yang dilempar-lempar ke udara dengan satu tangannya, sementara tangan lainnya masuk ke dalam saku celana. Lelaki itu mendecih, lalu berjalan masuk ke dalam kelas--melewati Yaya. Jika urusannya dengan Kaizo, kebanyakan dari mereka tidak mau mencari masalah lebih besar sebab mereka sadar diri--mereka tidak akan menang. Apalagi, anak "belian" lebih diprioritaskan selain anak beasiswa akademis maupun non-akademis lainnya.

Yaya meneguk ludah. Melihat lelaki itu berjalan menghampirinya membuat kaki gadis merah muda itu gemetar, rasanya ia tak mampu lagi untuk berdiri. Kaizo memegang botol minuman isotonik tersebut dengan erat setelah melempar-lemparkannya ke udara, lalu setelah berada di hadapan Yaya, ia menyodorkan minuman tersebut padanya.

Gadis itu mengerjap sebab botol tersebut disodorkan padanya. Yaya menatap botol merk ponari yang berada di genggaman Kaizo, lalu beralih pada lelaki itu. Ia tak tahu, kenapa kakak kelasnya memberikan air minum padanya? Jelas ia ragu untuk menerima, kalau ternyata ada apa-apa di dalam minuman itu bagaimana? Terus kalau dia di apa-apain?

"Aku tak sehina itu meracuni seseorang," ucap Kaizo tiba-tiba yang tampaknya bisa membaca pikiran Yaya, membuat gadis itu tersentak. "Kenapa tidak langsung dilakukan saja daripada berbelit-belit?"

Hanya ada Yaya dan lelaki itu di koridor ketika disadari, membuat gadis beriris madu itu ketakutan. Apa yang akan terjadi setelah ini?

Tiba-tiba Kaizo mendecih. "Kau sendiri masih ketakutan seperti tikus kecil dan sudah berani menyiramkan air pel padaku?" tanyanya seraya membuka tutup botol ponari lalu menenggak isinya.

"I-Itu, maaf, s-saya tidak se--"

"Apapun itu, aku tak mau mendengar alasanmu." Ia lalu melempar ponari pada Yaya, yang mau tak mau ditangkap oleh gadis itu. "Belikan aku yang baru, yang dingin."

"H-Hah?"

"Kau tidak mau?" tanyanya diiringi tatapan tajam.

Yaya menggeleng. "S-Saya tidak bilang begitu, kak!"

"Kau kuberi waktu 5 menit."

"A-Apa? L-Lima menit?"

"Satu."

Kaizo mulai menghitung, membuat Yaya langsung beranjak dari koridor dengan berlari menuju kantin. Sekarang ia berada di lantai tiga, sementara kantin berada di lantai satu. Bagaimana caranya membeli minuman dari lantai tiga ke lantai satu selama lima menit? Ah, Yaya beneran tunduk dibuatnya.

.

.

.

Kantin saat itu sangat ramai, tapi Yaya tak begitu memedulikan hal tersebut. Baginya sekarang adalah membelikan ponari dingin selama lima menit. Ia tak memedulikan orang-orang yang melihatnya tampak tergesa-gesa. Setelah mengambil ponari dari kulkas, membayarnya pada ibu kantin ia langsung bergegas ke lantai tiga.

Yaya berlari dari kantin hingga menaikki tangga tanpa memandang langkah kakinya, membuat dirinya terjatuh di tangga. Tanpa memedulikan rasa sakit yang biasa itu, membuatnya terus berlari hingga sampai di lantai tiga dan menuju ke kelas 11 IPS A.

Napasnya terengah-engah, kepalanya mendadak pusing, namun putuskan untuk menggeleng pelan. Ia mengetuk pintu kelas, membukanya dan menyembulkan sedikit kepala. Yaya mendapati lelaki beriris delima itu tengah duduk di atas meja dan tertawa bersama teman-temannya. Ketika melihat Yaya masuk ke kelas, terulas senyuman miring di wajah lelaki itu.

"Kau cepat juga," ucap Kaizo, entah memuji atau mengejek. Teman-temannya berfokus pada gadis yang memeluk dua botol ponari, membuat mereka tersenyum sumringah bahkan ada pula yang mendorong lelaki itu. Jelas mereka bangga karena orang seberandal Kaizo bisa mendapatkan perempuan alim seperti ini.

"Heh, kau mendahului kami ya?"

"Sialan kau, bro. Dapatnya yang bagus pula. Cocoklah sama kau, ya gak?"

Kaizo menggeleng pelan, lalu beralih pada Yaya yang berdiri tak jauh darinya. Ia menggerakkan dagunya, menunjuk dua botol yang berada di tangan Yaya.

"Mana punyaku?"

Gadis berkerudung putih susu itu langsung memberikan botol ponari pada Kaizo. Lelaki itu melihat botol tersebut, lalu menyuruh Yaya untuk pergi dengan menggerakkan kepalanya. Paham dengan kode tersebut, Yaya mengangguk dan berpamitan dengan Kaizo serta teman-temannya dengan suara yang pelan.

"Hah? Apa? Kami gak dengar! Ngomong yang jelas dong."

Mendengar itu membuat lelaki bermahkota ungu tua itu menendang kaki temannya, lalu memberi isyarat pada Yaya untuk pergi secepatnya dengan tatapan tajam. Yaya langsung pergi meninggalkan kelas tersebut tanpa mengucapkan apapun.

"Apa sih? Kau ini belum apa-apa udah marah." Seorang lelaki yang baru saja ditendang Kaizo berucap, nyolot. "Baru juga ketemu sekali."

"Bacot."

"Kapan kira-kira mau ditembak? Dengar-dengar anak itu juga populer di sekolah gara-gara dia jadi ketua kelas sama murid terbaik. Dia jadi sekretaris OSIS juga kalau gak salah."

Kaizo mendengus. "Cuma itu doang."

"Heh! Kau gak tahu ya, ada cowok yang deketin dia juga akhir-akhir ini?"

"Kok kau tahu sih soal beginian? Apa gegara sering ngumpul sama temen-temen cewekmu?" tanya seorang lelaki di sebelahnya.

"Tahu, lah. Iya, cewekku tukang gosip. Rata-rata gosip dia akurat sih, sampai masuk headline web sekolah. Tahu kagak?"

"Kagak."

"Makanya! Otak dipake buat porno doang."

"Anjir kau!"

Kaizo hanya menyimak percakapan kedua temannya seraya meneguk ponari. Sejujurnya ia tak begitu peduli dengan gadis itu, mau dia apa kek apa kek. Tetapi ia juga penasaran, lelaki mana yang sedang mendekatinya?

"Aku cabut," ucapnya.

"Mau kemana kau? Bentar lagi pak gundul masuk!"

Lelaki itu berhenti, menoleh ke arah temannya dan tersenyum kecil. "Kau kira aku peduli?"

Setelah mendengar itu, teman-teman mereka bersorak ria. Mereka maunya bolos berjamaah ketika ketuanya melakukan hal tersebut. Tahulah pak gundul itu kalau ngomong air liurnya kemana-mana, bahkan mereka harus siap-siap payung atau jas hujan biar tidak kena tempias air liur. Tetapi karena masih sholeh dan taat peraturan, mereka mau tak mau memakai jas hujan atau payung setiap pak gundul mengajar. Beruntung Kaizo hanya mengikuti beberapa kali di mata pelajaran guru ini, apalagi ia duduk di belakang dan masalah absen ia tak begitu memedulikannya sebab kehadiran bisa dimanipulasinya dengan mudah.

.

.

.

Yaya belum sarapan sejak pagi karena dirinya tak mengingat lagi untuk mengasup makanan, membuat perutnya keroncongan sekarang. Kepalanya juga mendadak berat yang diputuskan untuk berhenti sejenak di tangga menuju lantai dua dan mendudukkan diri disana. Tanpa sadar, ia membuka tutup botol ponari dan meminumnya. Rasa haus saat itu membuatnya tidak berpikir bahwa ponari yang dipegangnya sudah diminum oleh Kaizo.

Tiba-tiba ia merasa lututnya berdenyut bahkan terasa panas, membuatnya memegangi kakinya yang dibalut rok biru muda panjang. Yaya baru ingat kalau dirinya sempat terjatuh di tangga tadi. Ia menggeleng pelan dan memutuskan untuk berdiri, namun keseimbangannya hampir runtuh dan membuatnya tumbang--jika saja tidak ada menahan tubuhnya.

"Yaya?"

ooooo

Tbc ?

Haii~ aduhh sebelumnya maaf ya aku late update. Mood menulisku hilang datang kayak hujan, sekalinya ada malah gak bawa laptop. Akhirnya aku nulis di hape mau gamau dan update dari hape juga TT. Maaf kalau agak berantakan TT

Ngomong-ngomong, yang bakalan jadi orang ketiga siapa ya? xD