.
Luhan menghela nafas lelah entah untuk yang keberapa kalinya. Dahinya sudah berkedut kesal sedari awal dia memasuki gedung sekolahnya, "Uh, Oh Sehun. Bisa kau berhenti mengikutiku?" Luhan menatap tajam Sehun yang kini balik menatap polos ke arahnya. Astaga, jika tidak ingat siapa Sehun untuknya. Sudah sedari tadi Luhan menghajar wajah menyebalkan namun tampan milik Sehun.
"Apa masalahnya jika aku mengikuti sua—" Tanpa perduli kelakuannya yang kasar terhadap Sehun, Luhan membekap bibir Sehun. Beberapa siswa yang sedari tadi menatap penasaran semakin menatap penasaran ke arah mereka berdua. Pasalnya Sehun belum menyelesaikan ucapannya. Mereka semua juga ingin tahu kenapa hari ini sikap Sehun benar-benar berbeda. Biasanya jika Luhan dan Sehun bertemu, bisa dipastikan akan terjadi perang besar. Namun kali ini, Sehun malah mengikuti Luhan sedari mereka tiba di sekolah hingga jam istirahat pertama. Jadi jangan salahkan para siswa yang menjadi ingin tahu dan merasa curiga.
Karena perbedaan tinggi tubuh keduanya, Luhan menarik leher Sehun agar tubuh milik pemuda berkulit pucat itu sedikit turun. Dia mendekatkan bibirnya ke arah telinga Sehun, "Jangan berkata yang macam-macam. Kita sudah membuat perjanjian," desis Luhan jengkel. Sehun menaikkan salah satu alisnya lalu menjauhkan tangan Luhan dari mulutnya.
Kini giliran Sehun yang mendekatkan bibirnya ke telinga Luhan, "Perjanjian kita batal karena beberapa hari yang lalu kita sudah bercinta baby," Sehun menjulurkan lidahnya lalu menjilat telinga Luhan membuat Luhan bergidik geli, "Mulai sekarang aku tidak akan menahan diri lagi." Setelahnya Sehun berjalan pergi dengan seringaian yang berhasil membuat beberapa siswi yang dilewatinya memekik tertahan. Luhan sendiri hanya bisa mengerang sebal sambil mengacak surai kecoklatannya. Tidak menyadari tingkahnya yang membuat orang-orang disekitarnya menahan gemas. Heh, mereka berdua sangat terkenal di sekolah mereka asal kalian tahu.
.
Soccer
.
Rate : M
Cast : Lu Han , Oh SeHun
Other(s) : EXO's members
Warn : BoysLove-Yaoi, typos, alur berantakan, NC gak hot :'v
.
DON'T LIKE DON'T READ
.
.
.
Sequel
.
.
"Luhaennn, kenapa kau diam saja sedari tadi, hm?" Baekhyun yang baru tiba di kantin langsung duduk di samping Luhan. Pemuda manis itu menatap Luhan lamat-lamat, meneliti wajah Luhan. Uh, dia sangat menyukai wajah Luhan. Apalagi bibir merah pemuda beriris rusa di depannya.
"Sehun sangat menyebalkan."
Baekhyun mengerjapkan matanya beberapa kali, "Sehun lagi? Kenapa kalian tidak berbaikan saja, huh? Padahal kalian berdua sama-sama ahli dalam sepakbola." Luhan tidak menjawab, dia hanya menghela nafas lelah. Membuat pemuda lainnya mengernyitkan dahi bingung.
Sedikit penjelasan, di sekolah ini tidak seorang pun yang mengetahui hubungan yang dijalani oleh Luhan dan Sehun. Guru bahkan sahabat mereka pun tidak ada yang tahu mengenai hal ini. Hanya mereka berdua beserta orang tua mereka lah yang tahu.
Sedang asik-asiknya melamun, Luhan harus tersentak kaget karena merasakan sebuah benda kenyal menyentuh bibirnya. Mata rusanya melotot horror saat mendapati wajah Baekhyun dengan mata terpejam yang ada di depannya. Matanya semakin melotot kala mendapati sosok Sehun yang duduk beberapa meja di belakang Baekhyun. Pemuda berwajah datar itu menyeringai menyeramkan sambil mengatakan sesuatu tanpa suara, 'Kau harus dihukum'. Tubuh Luhan sesaat menjadi lemas karenanya. Hukuman dari Sehun pasti tidak akan jauh-jauh dari yang namanya bercinta. Inilah salah satu alasan kenapa Luhan tidak ingin Sehun bercinta dengannya sebelum mereka lulus.
Luhan dengan lembut mendorong tubuh Baekhyun saat merasakan Baekhyun mulai melumat bibirnya. Baekhyun menatap tak suka ke arah Luhan yang telah mengganggu kesenangannya. "Sudah kukatakan berapa kali Baek. Kita tak bisa bersama. Itu berarti kau tidak boleh sembarangan menciumku." Baekhyun mencebik sebal sambil menatap ke arah lain. Luhan menghela nafas lagi. Beberapa minggu lalu dia baru saja menolak Baekhyun. Luhan yang baru mengetahui Baekhyun menyukai dirinya sempat terkaget. Dia semakin kaget kala Baekhyun berkata sering mencium bibirnya saat dirinya terlelap ketika mereka hanya berdua saja.
Pantas saja Sehun melarangnya berada terlalu dekat dengan Baekhyun. Dan dia mendapatkan jawabannya beberapa minggu yang lalu. Luhan menatap Baekhyun gusar. Terkadang sahabatnya ini sangat kekanakan jika keinginannya tidak terpenuhi. Tangan Luhan terangkat mengelus surai kelam Baekhyun. "Baek, kau harus ingat. Kita hanya bersahabat atau kau ingin menjadi adikku saja?" Baekhyun menolehkan kepalanya cepat, "Tapi kau tetap tak boleh sembarang menciumku." Ucap Luhan saat mengetahui isi pikiran Baekhyun. Membuat pemuda yang lebih muda mendengus sebal. Luhan sendiri hanya tertawa geli melihat tingkah Baekhyun. Tampaknya sesaat dirinya melupakan sosok Sehun yang masih menatapnya.
"Perhatian semuanya," Suara seorang Kim Jongin mengintrupsi kegiatan seluruh siswa di kantin. Kini semua mata terfokus ke arah sosok Jongin yang duduk bersama Sehun, "Ada yang ingin Sehun katakan." Elusan Luhan di kepala Baekhyun terhenti. Tangannya melayang di udara. Ekspresi di wajahnya tidak terbaca sama sekali.
Wajahnya perlahan memucat saat Sehun berdiri dengan tatapan mengarah tepat padanya. Jangan lupakan seringaian setan milik seorang Oh Sehun. "Baiklah. Aku akan mengatakannya sekali. Dengarkan baik-baik," Sehun berdeham sekali dengan mata yang terus menatap intens ke arah pemuda manis beriris rusa. Luhan yang masih memperhatikan sebenarnya ingin bangkit lalu membekap mulut Sehun. Tapi sial seribu sial tatapan Sehun seakan mengunci segala pergerakannya.
"Luhan," jari panjang Sehun terangkat menunjuk Luhan yang masih terdiam. Para siswa mengernyit bingung karena tiba-tiba Sehun mengucapkan nama Luhan, "Dia adalah suamiku semenjak, ah sebelum dia bersekolah di sini. Jadi kuharap tidak ada satupun dari kalian yang berani menyentuhnya," Sehun menjatuhkan tatapannya ke arah Baekhyun yang tengah menganga tak percaya, "dan jika kalian tak percaya, aku bisa membawakan surat yang menunjukkan bahwa kami telah resmi menikah." Setelah berucap demikian Sehun berjalan ke arah Luhan. Menarik pemuda itu bangkit dari posisi duduknya.
Dan tanpa aba-aba mencium Luhan ganas. Membersihkan setiap sudut bibir Luhan yang sempat dijamah oleh Byun Baekhyun. Tangannya mengelus lembut punggung sang terkasih. Luhan yang telah mendapatkan kembali kesadarannya segera mendorong tubuh Sehun lalu menatap garang sang suami, "Yak! Kau! Dasar suami sialan! Aku membencimu!"
Luhan memekik kaget kala dirinya dengan tak terduga diangkat layaknya karung beras oleh Sehun. "Kai, tolong katakan pada sonsaengnim, aku dan Luhan ijin karena ingin mengurus sesuatu." Kai hanya mengangguk, masih tidak percaya dengan perkataan sahabatnya barusan. Begitu juga dengan siswa lainnya. Berbagai ekspresi ditampilkan oleh mereka namun yang lebih dominan adalah ekspresi tak percaya.
"Nah, kau harus dihukum rusa manis." Ucap Sehun santai. Sebelah tangannya terangkat untuk memukul bokong kenyal Luhan yang berada tepat di samping wajahnya.
.
Luhan meringis saat tubuhnya dibanting dengan kasarnya oleh Sehun. Pemuda lainnya hanya menatap datar Luhan yang asik mengelus tubuhnya yang membentur kasur milik mereka berdua sejak mereka bercinta beberapa hari yang lalu. Mata rusa Luhan melotot tajam ke arah Sehun yang masih terdiam di posisinya. Tanpa disadari Luhan, bibir merahnya mengerucut. Tak menyadari Sehun yang tengah membasahi bibirnya karena melihat Luhan yang seakan sedang menggodanya itu. "Baiklah, kira-kira hukuman apa yang pas untukmu baby deer?" Sehun pura-pura berpikir. Luhan yang mendengar kata hukuman langsung merasakan alarm bahaya dalam dirinya. Dengan perlahan Luhan bangkit dari posisinya. Ini kesempatannya, sebelum Sehun selesai berpikir dia harus pergi dari sini secepatnya. Namun sayang, sebelum Luhan sempat kabur, sebelah tangannya ditarik oleh Sehun hingga tubuhnya kembali terbanting ke atas kasur bersprei putih di bawahnya.
"Kurasa melayani suamimu hingga puas pas untuk hukumanmu," Sehun berbisik dengan suara berat di telinga Luhan. Lidahnya menjilat seduktif telinga sang suami. Luhan sendiri hanya bisa mengutuk dalam hati. Jika begini, bisa dipastikan dia tidak akan bisa berjalan hingga beberapa minggu dan kemungkinan besar besok mereka tidak akan berangkat sekolah. Sehun itu memiliki stamina layaknya monster jika sudah berhubungan dengan ranjang dan Luhan tentu saja. Luhan hanya dapat berdoa dalam hati. Berharap ada yang bisa menolongnya. Namun tampaknya keberuntungan sedang tidak berpihak pada Luhan saat ini. Karena dia baru ingat, tidak ada yang tahu bahwa Luhan telah pindah ke apartemen Sehun. Bahkan kedua orangtuanya dan orangtua Sehun pun tidak mengetahuinya. Tamatlah riwayat lubang Luhan.
.
"Nghh..Sehunhh, berhentihh..mhh.." Sehun menghentikan kulumannya pada nipple Luhan. Kepalanya terangkat lalu menatap tajam suami manisnya. Wajahnya tampak datar.
"Tidak." Singkat. Padat. Jelas. Tipikal seorang Oh Sehun sekali. Bibir merah Luhan terbuka karena nikmat yang tengah menderanya. Tangan Sehun bergeliriya dengan ahli di tubuh bagian bawahnya. Miliknya telah sangat menegang dengan cairan precum yang sedikit membasahi ujungnya. Namun sang dominant tak berniat menyentuhnya sama sekali. Erangan keras di keluarkan Luhan saat Sehun dengan cepat membalik tubuh keduanya hingga kini dia duduk di atas pangkuan Sehun. Dia dapat merasakan kejantanan besar Sehun yang telah mengeras dengan sempurna. "Puaskan aku malam ini." Sehun menjilat pipi Luhan seduktif, menghasilkan desahan tertahan dari yang lebih tua. "Tidak ada penolakan. Ini hukumanmu." Ucap Sehun cepat kala dia menyadari Luhan hendak menolak perintahnya.
Luhan menggigit bibir bawahnya dengan kedua bola mata coklat yang bergulir ke sana kemari. Berpikir apakah dia harus melakukan apa yang diperintah Sehun atau tidak. Namun mau tak mau dia harus menurutinya saat matanya tak sengaja melihat bagian bawahnya menegang. Dengan perlahan Luhan menurunkan wajahnya lalu melepaskan celana dalam milik Sehun. Dia meneguk liurnya susah payah ketika melihat betapa besarnya milik Sehun. Walau ini bukan yang pertama kali, tapi tetap saja dia masih merasa kagum dengan ukurannya.
"Jangan dilihat. Kulum dia, atau jika perlu langsung masukkan ke dalam lubangmu," Sehun tersenyum jahil saat melihat wajah Luhan berubah ngeri. Dengan gemas dia mengecup bibir merah Luhan. Melemparkan senyuman lembut untuk suami tercintanya. "Kulum Lu."
Tanpa banyak bicara, Luhan menuruti ucapan Sehun. Dia memasukkan setengah milik Sehun lalu memegang setengahnya yang tak dapat masuk. Dengan perlahan dia memaju mundurkan kepalanya. Lidahnya juga turut ambil andil, menjilati batang keras Sehun yang ada di dalam mulutnya. Tangannya sendiri sibuk meremas pelan milik Sehun. Geraman rendah sarat akan kenikmatan terdengar. Luhan semakin mempercepat gerakannya. Saat dirasa sudah cukup, Sehun menjauhkan wajah Luhan. Dia hanya ingin keluar di dalam lubang hangat Luhan.
"Bagaimana jika kita sudahi permainan kita?"
Mata doe Luhan melotot tak terima dengan ucapan Sehun barusan. Apa katanya? Menyudahi kegiatan mereka disaat dirinya telah terangsang? Rasa-rasanya Luhan ingin meremukkan wajah Sehun sekarang juga. Kekehan kecil dari bibir Sehun menyadarkan Luhan dari lautan emosi. Mata beningnya mendelik penuh sebal ke arah Sehun."Bercanda, sayang. Aku sudah sangat merindukan lubang hangatmu, jika kau mau tahu. Aku ingin merasakan remasan lubangmu pada Sehunnie kecil," ucap Sehun sembari menjilat bibir bawahnya dengan penuh nafsu.
Wajah Luhan memerah matang mendengar ucapan Sehun. Uh, suaminya berbicara tanpa disaring terlebih dahulu. Membuatnya malu saja. Luhan yang malu melemparkan tatapan ke samping, tak berani menatap Sehun yang semakin bernafsu karena melihat tingkah menggemaskan Luhan. "Bisa kita mulai?" Suara Sehun memberat. Tangannya terulur, meremas bokong kenyal Luhan. Dan dibalas dengan lenguhan Luhan.
Sehun mendaratkan wajahnya di perpotongan leher Luhan. Menghirup lamat-lamat harum menyenangkan di tubuh pemuda yang lebih tua. Lidahnya terjulur menjilat leher putih Luhan, menggigit kecil hingga muncul bercak-bercak kemerahan. Terus berulang. Mengakibatkan tubuh Luhan dipenuhi bercak kemerahan di sana sini. Tangan Sehun sendiri sibuk memainkan nipple Luhan yang telah menegang. Memilinnya lalu menarik-nariknya, membuat desahan tak ayal dikeluarkan Luhan. Bibir merah Luhan terus mendesah seiring cumbuan Sehun yang semakin menggila. "Cukup, sekarang kau yang bekerja Lu baby," Sehun mengecup bibir Luhan sekilas lalu merebahkan diri di atas kasur dengan santai.
Wajah Luhan kembali memerah. Dia tidak mau melakukan hal memalukan seperti itu. Tapi dirinya sangat membutuhkan Sehun saat ini. Dengan membuang jau-jauh rasa malunya, Luhan bergerak mendekati Sehun, melumat bibir pemuda berkulit pucat yang masih asik berbaring di bawahnya. Tangan kurusnya merambat turun menyentuh milik Sehun. Mengurutnya pelan namun tegas. Membuat lenguhan kecil meluncur dari bibir Sehun. Luhan yang sudah tak kuasa menahan hasrat dalam dirinya, memasukkan sendiri jarinya ke dalam lubangnya, bergerak liar di bawah sana, hingga perpagutan mereka berdua terlepas karena Luhan tengah sibuk mendesah.
"Nghh..Se..Sehunniehh.."
Sehun berdesis, "Aku tidak menyuruhmu bermain sendirian Luhan," Sehun menarik tangan Luhan menjauh dari lubangnya, membuat Luhan melenguh kecewa karena kenikmatannya menghilang begitu saja. Bibirnya cemberut lucu, "Milikku lebih bisa memuaskanmu, jika kau mau tahu." Luhan mencebik sebal dengan wajah memerah karena ucapan Sehun.
"Astaga Luhan," Tanpa aba-aba, Sehun mengangkat pinggang kecil Luhan. Kemudian menghentakkan tubuh Luhan ke bawah.
"Arghhh..Sakit bodoh! Dasar tidak berperasaan!" Tangan Luhan terangkat memukul kepala Sehun yang dengan kurang ajarnya langsung memasuki dirinya tanpa aba-aba dan ijin padanya. Tubuhnya seakan terbelah dua. Sehun idiot, apa dia tidak sadar miliknya terlalu besar untuk masuk tanpa persiapan ke dalam lubang sempitnya. Luhan meringis, sebelah tangannya terangkat mengusap kasar air mata yang menggenang. Sehun sendiri terdiam, merasa bersalah. Salah Luhan juga sih, siapa yang menyuruhnya bermain sendiri dan seakan menggodanya, padahal 'kan Sehun sudah tidak tahan ingin menggenjot Luhan.
Sehun yang tadi sibuk mengelus surai Luhan pun mendesah tanpa di tahan karena Luhan yang langsung menggerakkan tubuhnya naik turun secara perlahan. Sehun bisa melihat dengan jelas bagaimana miliknya keluar lalu masuk karena dihentak secara keras oleh Luhan hingga menumbuk tepat di titik kenikmatan Luhan. Pemuda manis di atasnya menengadah ke atas saat serangan nikmat menyerbu tubuhnya."Nghh..Seh..Sehunniehh~"
Ritme pergerakan Luhan semakin lama semakin cepat. Suasana di sekitarnya pun telah memanas. Desahan keduanya saling bersahut-sahutan, walau lebih di dominasi oleh suara Luhan. "Ssshh..Luhanhh.." Sehun memejamkan kedua mata tajamnya. Miliknya di remas dengan kuat oleh lubang Luhan, seakan ingin meremukkannya saat itu juga. Astaga, suaminya sungguh sangat nikmat dan menggoda.
Wajah Sehun mendekat ke arah dada Luhan, lidahnya terjulur lalu menjilat puting Luhan yang menegang tepat di depan wajahnya. Menyebabkan sang submissive mendesah semakin hebat. Desahan lembut nan menggoda milik Luhan tanpa sadar membangkitkan sisi terliar seorang Oh Sehun.
Sehun kembali membalikkan tubuh keduanya. Hingga dimana posisi Luhan berbaring sedangkan dirinya bertumpu pada kedua lututnya. Dia menyibakkan poni hitamnya ke belakang, membuat Luhan memerah melihat betapa tampan sosok Sehun saat ini. Setelah menghirup nafas beberapa kali dan mendaratkan ciuman kecil di bibir merah Luhan. Sehun menggerakkan pinggulnya. Mengeluar masukkan miliknya dengan tempo lebih cepat dari sebelumnya.
"Se..Sehunieehhh..Anghh~" bibir merah Luhan terbuka. Saliva menuruni dagu putih hingga ke lehernya. Sehun yang melihat hal tersebut semakin bergairah. Dia terus mempertahankan tempo sodokkannya. Ekspresi nikmat Luhan membuatnya semakin bernafsu.
"Pelanhh..pelanhhh..kanhhh.." Sehun menggeleng.
"Tidak..nghh," ujarnya lalu melumat bibir merah Luhan yang terus mengeluarkan desahan nakal tanpa henti. Sehun berusaha membagi fokus antara ciuman yang diberikannya pada Luhan dengan ritme genjotannya. Dia ingin Luhan mengingat percintaan mereka malam ini. Agar Luhan tidak akan pernah berpaling darinya, karena kehebatannya dalam bercinta. Uh...
Luhan mendongakkan kepalanya, saat kenikmatan terus menyerbunya tanpa henti. Bibirnya tidak bisa dikontrol sama sekali. "Ak..aku..ahh.."
"Tahan, keluarkan bersama sshhh.."
Dahi Luhan mengernyit tanda tak suka dengan ucapan Sehun barusan. Namun pada akhirnya dia tetap menurut. Hingga pada lima tumbukkan terakhir pada prostatnya, keduanya mencapai puncak bersama dengan diiringi teriakan Luhan. Cairan semen milik Sehun memenuhi lubang Luhan, memberikan rasa hangat pada bagian sana. Sebagian dari cairan Sehun meluber keluar karena lubang Luhan tak mampu menampung seluruhnya.
"Sehunhhh~"
Keduanya terengah-engah. Luhan memejamkan matanya, menikmati kenikmatan selepas orgasme, begitu pula dengan Sehun. "Aku mencintaimu," gumam Sehun tepat di telinga Luhan.
Sebuah senyum terulas di bibir merah Luhan. Dengan mata terpejam dia membalas, "Aku juga mencintaimu." Luhan yang lelah hampir jatuh terlelap jika saja Sehun tidak memukul kecil kedua belah pipinya.
Dengan muka jengkel, dia menatap Sehun. Melemparkan pertanyaan 'apa' secara tak langsung kepada suaminya. "Aku tidak memberikanmu ijin untuk tidur, sayang. Kau harus menyelesaikan hukumanmu dahulu karena sudah membiarkan pemuda Byun menciummu di sekolah,"
"Tapi—"
Ucapan Luhan terpotong seketika. Matanya melotot horror dan tidak percaya ke arah Sehun. Pasalnya milik Sehun yang berada di dalam lubangnya kembali menegang hanya dalam hitungan detik. Sehun menyeringai. Dia menggoda Luhan dengan menggerakkan dua kali pinggangnya, hingga miliknya menabrak prostat Luhan. "Nghh~"
"Ya!" Luhan berteriak dengan wajah memerah matang.
"Berhenti berteriak. Lebih baik suaramu kau simpan untuk mendesah hingga esok hari," Sehun menempelkan bibirnya ke bibir Luhan lalu melumatnya beberapa kali sebelum kembali menyetubuhi suami tercintanya.
Sedang Luhan hanya bisa menerima nasibnya yang harus melayani Sehun hingga hari esok. Sekarang, biarkan kedua manusia itu menikmati percintaan mereka.
.
.
END
.
.
Haiiiiiiii. Sesuai janji, vii bkin in sequelnyaaa. Mian klo telat dan gak sesuai harapan. Dan mian jg klo NC nya gak hot sama sekali. Saya gak pinter bkin beginian /gelindingan/. Ada yg nunggu updatean IL? Harap bersabar yaa klo misalkan ada yg tunggu. Sya baru dpet mood buat ketik ff itu .-. Mungkin sabtu atau minggu sya update neee~
BIG THANKS buat yg udh review, fav dan follow ff abal ini. Gak nyangka bakal dapat respon segitu. But, Thanks yaa~ Sorry, gak bs bls review. Tp saya udh baca semua review kaliann kokkk. Semoga kebingungan kalian terjawab yaaa.
Then, RnR?
