Disclaimer :

Inuyasha © Takahashi Rumiko

A Foolish Agreement © Riztichimaru

Title: A Foolish Agreement

Pairing : Inuyasha x Higurashi Kagome

Noto:

Kata di bold (kata dalam hati/penekanan kata tertentu)

Gomen kalau masih banyak typo dan ceitanya gaje n ganti judul.

Tolong Review ya!!

Honto ni Arigatou gozaimashita

STOP!!! Don't like Don't read



Chapter 2

Oh No!!! It's My First Kisu

Aku terus melamun sampai tidak sadar kalau kuliah sudah usai dan tidak ada orang lagi di kelas kecuali temanku Sango yang memperhatikan aku sambil menyanggah dagunya dengan tangannya di depan mejanya. Dia memperhatikan wajahku sambil terseyum-senyum. Aku baru tersadar setelah dia tertawa kecil sambil batuk-batuk.

"Eh…"ujarku sedikit terkejut.

"Kagome.. kamu lagi ngelamunin apaan, sih? Kok masih di kelas gini, biasanya kamu yang ngajak aku pulang buru-buru."

Sango bertanya heran padaku, aku kikuk mau menjawab apa. Kikuk karena aku juga bingung, bingung karena masih memikirkan kejadian di kampus Sastra tadi.

"Ah.. tidak ada apa-apa, aku tidak mikirin apa-apa kok," ucapku berbohong, padahal aku sedang memikirkan cowok aneh itu.

"Ya sudah, ayo kita pulang saja!" ajak Sango padaku.

Aku lalu beranjak dari kursiku, memasukkan buku-bukuku kedalam tas dan berjalan mengikutinya. Lalu kami pulang bersama-sama. Kami berpisah di halte bus di dekat kampusku karena kami pulang dengan arah rumah yang berbeda dan bus yang berbeda arah juga.

Setelah masuk bus aku tidak bisa langsung duduk di kursi penumpang jadi aku berdiri ditengah kerumunan penumpang lainya yang juga berdiri, penumpangnya banyak dan hampir memenuhi bus. Akhirnya aku memilih berdiri tidak jauh dari pintu keluar bus sambil memandangi pemandangan dari jendela bus.

Tiba-tiba busnya mengerem mendadak dan…

'TIDAK!!!' jerikku dalam hati.

Ada seorang cowok yang menubruk tubuhku yang membuatku terjengkal ke dinding bus. Tidak! Dia… dia mencium bibirku. Aku… aku, aku tidak bisa berpikir lagi.

'Oh… tidak! Tidak mungkin, ini ciuman pertamaku. Kenapa aku berciuman dengannya. Kenapa bisa begini? Tidak!!!' teriakku dalam hati.

Aku lalu mendorong keras tubuhnya. Dia terdorong ke kerumunan orang-orang yang ada didalam bus. Para penumpang itu menatap kami heran. Sementara sang supir bus meminta maaf pada para penumpang bus karena busnya berhenti mendadak sebab ada anak kecil yang tiba-tiba menyebrang di jalan.

Aku masih diam tidak tahu harus melakukan apa, aku masih syok dengan kejadian barusan. Sementara cowok tadi sudah berdiri dengan gaya sok kerennya. Dia justru menatapku dengan tatapan mengerikan dan mendekatiku kemudian berbisik padaku.

"Baru kali ini aku berciuman dengan cewek aneh seperti kau, benar-benar tidak enak. Aku rasanya mual pengen muntah."

"APAA!!! Siapa juga yang mau melakukan hal bodoh itu denganmu. Iiihh… menjijikan, Kau benar-benar kurang ajar ya! Sudah mencium orang sembarangan mengatai orang lagi. Dasar cowok baka!!" teriakku padanya.

Aku kesal kenapa tiba-tiba cowok aneh ini bertubrukan denganku, menciumku dan berkomentar aneh seperti itu. Dasar cowok gila itulah yang keluar dari mulutku. Aku benar-benar akan gila berhadapan dengan cowok ini. Cowok yang ternyata tadi pagi bertemu denganku dan memaksaku mengganti netbooknya. Ya, cowok bertelinga aneh yang kaget setelah melihat wajahku.

"Kami-sama, kenapa aku bisa bertemu lagi dengan cowok menjengkelkan ini. Kenapa bisa satu bus dengannya dan kenapa pula sampai tidak sengaja berciuman dengannya. Ya Kami-sama, tolong aku cepatlah bus ini sampai ke halte berikutnya. Aku sudah ingin muntah melihat mukanya,"ujarku dalam hati memohon pada pada Kami-sama supaya cepat pergi dari cowok menyebalkan itu.

"Kau itu yang baka! Kenapa juga aku bertemu lagi denganmu, bawa sial saja."

"Maksudnya???"

Aku berteriak padanya yang masih memasang tampang sok kerennya. Aku sudah kehilangan kesabaran dengan cowok aneh dihadapanku ini, ingin sekali aku menendangnya dan memukuli wajahnya. Tetapi tidak mungkin banyak orang di dalam bus ini, orang-orangnya pun masih memandangi tingkah kami yang berteriak-teriak di dalam bus. Sebenarnya aku malu sekali pada orang-orang ini. Tapi, mau bagaimana lagi cowok ini nyaris membuatku gila.

"Nona, tolong jangan berteriak-teriak pada pacarmu! Dan kau! Kau jangan memarahi pacaramu di sembarang tempat begini, dasar anak jaman sekarang tidak tahu sopan santun!" ujar seorang pria tua yang sedang memangku seorang anak kecil pada kami. Kami?? Ya, padaku dan pada cowok berkuping aneh itu.

"APAA?? Maaf pak… saya bukan pacarnya dan saya juga tidak kenal dengan orang bodoh seperti dia ini," ujarku sambil menunjuk cowok bodoh itu. Dia hanya diam lalu meminta maaf pada para penumpang di bus ini.

"Sudahlah nona, jangan berbohong. Kami melihat sendiri kalian berciuman di bus ini. Ya, kan? Jangan malu-malu anjing seperti itu!" ujar penumpang lain yang duduk di kursi bagian belakang dengan santainya sambil mengunyah permen karet.

"Ah… sudahlah aku malas menanggapi kalian, maaf kalau aku menggangu kalian,"ujarku yang kemudian kembali memandangi pemandangan diluar bus. Aku tidak mau melihat wajah cowok bodoh itu, aku muak melihatnya.

'Apa maksudnya dengan sial bertemu aku, bukannya dia yang terus bawa sial padaku. Tadi pagi dia membuat aku kejatuhan netbook sampai kepalaku benjol seperti ini dan sekarang aku berciuman tidak sengaja dengannya lalu aku dimaki penumpang bus ini. Sial sekali aku bertemu dengan cowok bodoh ini' umpatku dalam hati sambil terus memandang keluar kaca jendela bus.

Aku sudah tidak sabar sampai ke halte berikutnya. Aku ingin secepatnya turun dan pulang ke rumah. Aku sudah sangat kesal sekali hari ini.

Beberapa menit kemudian, akhirnya bus berhenti juga di halte berikutnya -di halte biasanya aku turun-. Penumpang turun beriringan dan aku juga mulai melangkahkan kakiku kearah pintu keluar bus. Tiba-tiba ada seseorang yang menarik tanganku, aku menoleh. Ternyata, cowok bodoh itu yang menarik tanganku dan dengan sigap langsung memelukku. Aku kaget dan berusaha mendorongnya, tetapi dia lebih erat memelukku dan membisikan sesuatu padaku.

"Arigatou untuk ciuman pertamamu," ucapnya pelan ke dekat telingaku.

Aku kaget dan mendorong tubuhnya lalu berbalik berlari keluar bus. Aku terus berlari hingga aku tidak sadar aku sudah berada di tikungan jalan menuju rumahku. Aku berhenti sejenak untuk mengambil napas karena aku ngos-ngosan sebab berlari kencang sejak turun dari bus tadi.

"Apa, apaan cowok gila itu? Kenapa dia tahu kalau itu ciuman pertamaku? Aku tidak mengerti, tidak mengerti tingkah koyol cowok bodoh dan gila itu," tanyaku dalam hati.

Aku kesal bercampur bingung dengan tingkah aneh cowok yang aku temui hari ini. Lalu aku kembali berjalan menuju rumahku, menaiki tangga di tanjakan jalan dan sampai dirumahku.

***

Hari ini Minggu, aku bersiap-siap pergi ke taman kota di dekat rumahku. Kupakai sepatu ketsku dan mengambil botol air mineral yang aku letakkan disamping tempat dudukku, lalu beranjak keluar dari rumah.

"Ibu, Shota, Kakek… itte kimasu!"

"Itte irasshai! Hati-hati kagome! Jangan lupa bawa air mineralnya!"

"Oke, Bu! Airnya sudah aku bawa, dah!" seruku sambil melambaikan tangan kearah keluargaku yang masih memandangiku.

Aku berjalan lebih cepat menuju taman kota itu, hari ini aku datang lebih pagi dari biasanya bahkan sangat pagi. Kulirik jam tanganku, jam 5.30 a.m. Beberapa menit kemudian aku sampai di taman kota itu dan meletakkan botol minumanku di rerumputan, memasang iPod-ku lalu mulai berlari marathon mengelilingi taman.

Aku terus berlari sambil mendengarkan musik campur-campur dan gado-gado. Mulai dari musik pop negaraku sendiri –Jepang-, Western Slow Rock, dan Indonesian Slow Rock. Kadang-kadang aku memejamkan mata sambil terus berlari.

Ketika aku membuka mataku aku melihat ke sekeliling taman. Belum banyak orang ditaman itu, baru ada enam orang anak kecil yang bermain badminton dan seorang kakek-kakek yang membawa kucing yang berbulu panjang dan sangat lucu.

Aku terus berlari dan melihat ternyata ada orang yang duduk di dekat botol air mineralku dan meminumnya. Aku mendadak berhenti berlari dan dengan segera mendekati orang tersebut.

"Hei! Kenapa minumanku diminum? Itu minumanku tahu!" teriakku sambil berlari mendekatinya yang duduk lalu berbaring di rerumputan.

"……….."

"Hei bodoh! Bangun! Kenapa meminum air mineralku? Hei!"seruku sambil menarik tangannya.

Orang tersebut malah menarik tanganku yang membuat aku jatuh ketubuhnya yang berbaring di rumput. Aku menimpa tubuhnya, tapi dengan sigap aku manarik tubuhku dan terduduk di dekatnya yang masih berbaring dengan topi yang masih menutupi separuh wajahnya.

"Kau gila! Jangan sembarangan menarik orang begitu tahu!"

"Tapi kau suka, kan? Kau suka berada dekatku? Iya, kan cewek bodoh?"ucapnya sambil bangkit dari tidurannya dan mulai duduk disebelahku.

"APAA?? Maksudmu apa?"seruku, dia membuka topinya dan memandangku serius.

Aku terbelalak, ternyata orang itu adalah cowok aneh yang ketemu denganku beberapa hari yang lalu di Kampus Sastra dan juga bus ketika aku pulang. Dia lalu mengerdipkan matanya kearahku lalu tertawa.

"Ha.. ha.. ha.. kau ini bodoh, ya? Masa lupa sama aku yang keren dan tampan ini. Masa kau lupa pada orang yang merebut ciuman pertamamu," ucapnya yang terkesan mengejekku.

'Kenapa pagi yang baik dan cerah ini, aku harus bertemu lagi dengan orang bodoh seperti dia. Kami-sama kenapa aku bertemu dengannya lagi? Oh tidak! Aku tidak mau mendapat kesialan lagi karena bertemu dengannya,"seruku dalam hati.

Aku lalu beranjak dari dudukku, mengambil botol air mineralku yang ada didekatnya kemudian berdiri dan berlari menjauhinya. Gila! Aku harus pulang aku tidak mau mendapat kesialan lagi kalau bertemu dengannya. Aku terus berlari, aku merasa ada yang mengejarku. Aku berhenti dan menoleh kebelakang. Ternyata, lagi-lagi cowok bodoh itu yang mengejarku.

"Maumu apa, sih? Kenapa mengikutiku terus, aku sudah tidak ada urusan lagi denganmu. Tolong jangan mengikutiku lagi. Aku sudah sangat kesal melihatmu. Aku sudah mau muntah melihat mukamu, Bodoh!!!"

"Aku… aku tidak mengikutimu. Aku juga mau pulang, kok. Siapa yang mau mengikuti cewek bodoh sepertimu. Ih.. Ogah!" jawabnya santai seenak perutnya.

"Oh.. Begitu ya. Baguslah kalau begitu."

Aku baru mau berlari lagi tetapi belum sempat aku berlari dia menarik tanganku dan mengajakku berlari menuju sebuah mobil Sport merah menyala. Dia mencengKram keras pergelanagn tanganku dan menarikku dan menyuruhku mengikutinya.

"Hei bodoh! Kau mau menariku kemana? Hei! Hei bodoh!!!"

Aku berteriak keras tetapi dia tidak mendengarku dan tetap menarikku yang terhuyun-huyun berlari mengikutinya. Lalu dia membuka pintu mobil merah itu dan mendorongku masuk ke mobil tersebut. Menutup pintu dan berputar lalu masuk ke pintu mobil didekat stir lalu menyalakan mesin mobil.

"Hei, aku mau kau bawa kemana?? Hei, hei! Kau dengar tidak? Kau tuli ya?!" tanyaku berteriak-teriak sambil menarik-narik T-shirtnya. Dia menoleh padaku dengan raut muka marah. Aku terdiam dan berhenti menarik bajunya.

Hening untuk beberapa saat.

"Kau ikut aku, ada yang harus aku selesaikan denganmu. Kau bisa diam, kan!!!" ujarnya membuka suara sambil membentakku.

"Maksudmu? Jangan macam-macam ya! Mati kau kalau berani macam-macam denganku!"seruku sambil mengacungkan gengaman tinju padanya yang sudah kelihatan agak tenang.

"Baka! Bodoh!"

"Apa?? Kau bilang aku baka, kau itu yang baka. Dasar Doggy!"

"Hei cewek bodoh! Siapa yang Doggy, enak saja. Jangan asal nyablek ya! Dasar baka!!"

Aku tertawa melihat wajahnya yang kesal karena kuejek dengan kata Doggy. Bagaimana aku tidak mengatainya Doggy, telinganya itu sedikit banyak mirip telinga anjing. Dia cemberut sambil terus menyetir mobil tanpa melihatku.

Shiirrrrttt………

Mobil yang kami tumpangi berbelok menuju jalan kecil menjauhi jalan raya. Mobil pun berhenti, dia mematikan mesin, keluar, lalu membuka pintu di dekat arahku duduk.

"Cepat keluar! Keluar!"

"Oke, santai sedikit kenapa sih," jawabku kesal.

Aku lalu keluar dari mobil, dia menarik tanganku dan mengajakku masuk ke dua rumah besar yang terlihat sangat mewah itu. Kedua rumah tersebut sama persis dan memiliki warna cat dan arsitektur yang benar-benar kembar.

"Ini rumahmu?"tanyaku padanya yang berjalan lebih dulu dariku. Dia bergegas masuk melewati pos jaga security di gerbang depan rumah tersebut.

"Ohayou gozaimasu Tuan, Ohayou Nona." Dua orang security menyapa kami.

"Ohayou gozaimasu,"balasku pada mereka berdua sambil terseyum.

"Hei, ini rumahmu? Hei aku bertanya bodoh!"

"Bisa diam Tidak!!" bentaknya padaku yang mengulangi pertanyaan padanya.

"Terserah kau saja, aku bosan. Aku tidak akan bicara padamu lagi. Dasar baka!"

Kami lalu masuk ke salah satu rumah tersebut dan berjalan melewati koridor yang tampak elegan dengan gaya minimalis dan benar-benar sangat bersih. Aku melihat ada beberapa cowok-cowok yang seumuranku yang sedang nonton football dan juga ada yang sedang bermain game di komputer.

Mereka menatapku dengan pandangan heran dan ada beberapa yang terkejut melihatku. Aku terus mengikuti cowok bodoh itu dan mengabaikan pandangan cowok-cowok itu. Dia berhenti di sebuah kamar tepat di ujung koridor yang menghadap ke sebuah taman dalam ruangan –indor park-.

"Masuklah! Aku ambilkan kau minum dulu,"ujarnya setelah membuka pintu kamar itu dan menyuruhku masuk. Aku masih diam dan tidak masuk.

"MASUK!!!"

"Aku tidak mau! Untuk apa masuk? Memangnya ini kamar siapa, aku tidak mau masuk kamar orang sembarangan."

"Masuklah, ini kamarku. Masuklah, tidak apa-apa kau aman disini. Cepatlah masuk!" serunya yang kemudian berjalan ke ruangan lain.

Aku heran tetapi aku memberanikan diri juga untuk masuk ke kamar tersebut. Aku masuk lalu duduk di karpet di dekat tempat tidurnya yang tidak terlalu besar dan juga tidak tinggi. Aku tidak mau duduk di tempat tidurnya. Entah apa yang aku pikirkan tetapi aku tidak mau saja duduk disana.

Kuamati semua yang ada dikamarnya, sangat lengkap. Ada kamar mandi, tempat tidur, rak-rak tinggi yang penuh berisi buku-buku, lemari pakaian, meja komputer, TV dan sebuah meja Gambar ciri khas anak jurusan arsitektur.

"Apa cowok bodoh ini anak jurusan arsitek ya? kok ada meja gambar disini,"gumanku kecil.

Aku terus memandangi ruangan bercat putih dengan garis zebra di salah satu sisi ruangan segi empat itu. Bukan, bukan warna zebra sebenarnya tapi warna putih-merah dengan garis vertikal. Ada jendela lebar di depan meja belajar -meja komputer- yang menghadap ke taman diluar rumah. Kamar ini penuh dengan suasana minimalis seperti di ruangan lainnya.

"Hei! Cepat kau minum nanti keburu basi tahu!"

"Ehn…"

Aku menoleh dan melihat cowok bodoh itu membawa dua gelas jus jeruk dan satu kotak makanan. Aku tidak tahu apa isinya. Dia meletakkan gelas-gelas minuman dan makanan itu di dekatku duduk. Kemudian berjalan menyalakan komputer lalu memainkan musik yang ada di playlist musiknya.

"Makanlah, jangan melamun terus entar kamu kemasukan siluman, bisa bahaya tahu!"

"Siapa yang melamun, Baka!"

"Kau itu, Bodoh!"

"Kau gila!"

"Kau aneh!"

"Kau Doggy!"

"APAA?? Sudah kubilang jangan panggil aku Doggy!!!" teriaknya keras.

"BODOH!!! MEMANG KAU DOGGY, KAN?" balasku semakin keras.

"Sudahlah aku malas berdebat denganmu. Tujuanku mengajakmu kesini untuk memintamu membayar gantirugi netbook waktu itu. Bukannya kau yang harus menggantinya?" ujarnya sambil menunjuk kearahku.

"APAAAAAAA!!! KAU GILA YA, BUKANNYA AKU TIDAK MERUSAK NETBOOKMU. AKU KAN TIDAK MENYENTUHNYA SAMA SEKALI!!!" teriakku meledak-ledak. Aku benar-benar tidak menyangka dia masih membicarakan masalah netbook waktu itu.

'Tidak! Aku kan tidak merusaknya. Kenapa aku yang harus tanggung jawab, dia ini mungkin sudah gila? Apa aku kabur saja kalau gitu,' pikirku dalam hati.

Aku lalu beranjak dari tempat ku duduk dan melangkah kearah pintu. Dengan cekatan dia menutup pintu dan menguncinya. Aku panik dan berteriak keras.

"HEI!! BUKA PINTUNYA!! KAU MAU APA?? CEPAT BUKA PINTUNYA!! BAKA!!!"

Aku panik setengah hidup mengalami kejadian ini. Aku memukul lengannya yang lebih tinggi dariku. Dia menatapku lalu memegang tanganku dengan cengkraman kuatnya.

"Mau apa kau!! Jangan macam-macam, mati kau!!"

"Tenanglah… santai saja. Tidak usah sepanik itu, kali!" jawabnya sambil terus mencengkaram tanganku dan wajahnya sudah semakin dekat dengan wajaku tinggal mungkin 5 centimeter lagi. Aku panik dan tidak bisa melepaskan cengkramannya. Tiba-tiba dia…

to be continued…


Noto: Gomen Ne! banyk banget kata 'Bodoh/Gila', gak bisa di hindari... He.. he.. he..

Review ya! DOMO.