A/n: Heuh... Masa author kayak yang mau nangis ngedenger kata-kata Ringo tadi? Padahal "touching" aja nggak... :P Btw, ini chapter 2! Nanti masih ada chapter lagi~ Keep reading, readers! :D

[Chapter 2: Stone of Kingdom Ruler, Snow Dragon, Future & Music]

(Emery's POV)

Garnet, Dash dan Cherry udah berhasil nemuin batu-batu berlian mereka. Kira-kira... Milikku dimana ya?

Kita akan lanjutkan pencariannya keesokan harinya. Tapi malam ini...

"Emery... Cahaya bintang-bintang yang warna-warni itu meredup!" Kata Yuki.

"Apa ini berarti waktu kita semakin pendek?!" Tanyaku khawatir.

"Kayaknya... Aku harap kita nemuin semua batu-batunya secepatnya..." Jawab Yuki.

"Iya... Ngomong-ngomong, masih ingat Sheffy?" Tanyaku lagi ke Yuki. Yuki hanya menggangguk kecewa atau apalah itu...

"Katanya, dia pernah pergi keluar dunia fantasy. Tapi dia masuk lagi karena ini rumahnya..." Kataku.

"Tapi tetep aja... Aku nyesel gak bisa ngajak dia keluar dunia ini lagi..." Jawab Yuki.

Keesokan hari...

"Ok! Kita mulai nyari dimana lagi?" Tanya Mirai antuasias banget.

"Hmm... Rune Prana?" Usul Kaz.

"Itu berbahaya, Kaz..." Kataku.

"Ya... Bisa jadi, kan? Disana tempat paling berbahaya. Dan biasanya, tempat paling berbahaya itu tempat kita bisa nemuin Barang-barang bagus..." Jelasnya. Memang ada benarnya-Karena author cerita ini suka nyari masalah-Tapi sebenarnya, ada yang buat Cherry, Dash dan Garnet bisa nebak dimana batu-batu mereka berada?

"Hey, Garnet, bagaimana kamu bisa tau batu punya kamu ada di Fenith Island?" Tanyaku ke Garnet yang berdiri disampingku.

"...Aku ngerasa dipanggil aja..." Jawabnya sambil memandang batu yang dia pegang.

"Oh iya, cahaya warna-warni dari bintang-bintang yang kemaren udah meredup..." Kata Yuki memberitahu.

"Eh?! Memang artinya apa kalo gitu?" Tanya Dash bingung.

"Kemungkinan, waktu kita tinggal sedikit." Jawab Yuki dengan nada yang tidak yakin.

"Huh?! Apa?! Yang bener?!" Tanya Dash kaget.

"Kemungkinan!" Jawab Kaz sambil teriak.

"Oh..."

"Tapi ini bener!" Tiba-tiba Kiel datang dengan bukunya... Pastinya...

"Huh?! Itu bener?!" Dash makin panik.

"Iya... Aku tanyain ke Arthur, Dolce, Leon dan Ventuswill. Itu katanya memang bener!" Jawab Kiel mempertegas.

"Oh iya, Kiel, kita resmi over, ok?" Kata Garnet.

"...Huh? Hmm... Ok." Jawab Kiel biasa aja.

"Ada cara gak biar cepetan kita nemuin semua batu-batu itu?!" Tanya Dash ke Kiel sambil panik.

"Tenang aja, Dash. Ada caranya..." Jawab Kiel sambil ngebuka bukunya.

"Gimana?"

"...Mirai pasti tau..." Jawab Kiel tiba-tiba gak nyambung.

"Hm? Aku?! Kenapa aku?!" Tanyanya bingung.

"Kamu pasti tau dimana mereka bakal nemuin batu-batu mereka, kan?" Tanya Kiel.

"...Hmm.. Mungkin iya... Mungkin nggak..." Jawabnya gak begitu yakin.

"Hmm... Berarti... Kalian tinggal pake cara manual aja. Kalian, satu-satu, nyari batu kalian di tempat kalian bisa nemuin siapa diri kalian sebenarnya" Kata Kiel sambil liat-liat bukunya.

"Berarti itu yang buat Dash bisa nemuin punyanya di Yokmir Forest?" Tanya Nekusuto.

"Iyap!"

"...Pantesan di Fenith Island..." Ucap Garnet sambil berbisik ke diri sendiri.

"Hmm... Memang kenapa kalau di Fenith Island?" Tanyaku karena kedengaran apa yang dia omong tadi.

"Karena aku udah ngejinakin semua monster di sana..." Jawabnya.

"Ah! Berarti aku tau dimana punya aku!" Seru Mirai dan lalu berlari.

"Ayo, Neko-kun!" Panggil Mirai dan Nekusuto mengikutinya.

(Mirai's POV *Reminder: Neko-kun = Nekusuto*)

Kemungkinan aku tau dimana letak batu punyaku dan Neko-kun! Yaitu di Obsidian Mansion! Kenapa? Karena disana tempat dimana musik bisa di tunjukan. Tapi sayangnya, ini tempat adalah tempat dimana masa depan berakhir... Karena you know, ini tempat para hantu!

Tapi aku punya feeling punya aku juga ada disini!

"Kenapa di tempat ini?" Tanya Neko-kun, dengan muka dinginnya.

"Pokoknya, aku yakin! Aku yakin!" Jawabku semangat sambil narik tangan Neko-kun.

Sesampai di sebuah panggung yang ada di Obsidian Mansion...

"Ok, kita sampai... Sekarang dimana?" Tanya Nekusuto.

"Sebentar..." Jawabku sambil mencari.

"Eh?! Nggak ada?!" Ucapku heran.

"Berarti kamu salah..." Jawab Neko-kun.

"Nggak! Aku yakin ada disini!"

"...Cuma perasaan kali..."

"Hey! Kalian mencari ini?" Tanya seseorang yang datang.

Ternyata, disana ada Dolce dan Pico. Mereka nemuin batu-batunya!

"Wahh! Kalian nemuin ini dimana?!" Tanyaku senang.

"Tepat di sini." Jawab Dolce singkat.

"Tadinya kita mau nyari kalian. Tapi gak taunya, kalian ada disini!" Kata Pico.

"Makasih!" Ucapku seneng banget!

Kita akhirnya balik lagi nyari yang lain...

"Minna! Kita nemuin batunya!" Teriakku semangat.

"Wah! Dimana?" Tanya Cherry.

"Di Obsidian Mansion!"

"Hey, Emery, Yuki sama Kaz mana?" Tanya Nekusuto ke Dash.

"Mereka ke Rune Prana..." Jawabnya.

"Huh?! Rune Prana?!" Aku kaget ngedengernya.

"Iya... Mereka bilang batu-batu punya mereka kemungkinan besar ada di tempat yang berbahaya kayak begitu..." Jawab Dash.

"Oh... Ngomong-ngomong, kenapa dari tadi kita gak nemuin monster, ya?" Tanya Nekusuto.

"...Iya ya..." Jawab Dash baru sadar.

"Mungkin mereka tidur!" Jawab Cherry gak masuk akal.

"...Mereka terlalu cape nyelawan kalian kali..." Jawab Garnet santai.

(Emery's POV)

"Ternyata jawaban aku bener dari tadi..." Canda Kaz dengan gaya soknya.

"Oh ya? Kita buktiin sekarang!" Jawab Yuki menantang.

"Rune Prana ini besar tempatnya. Jangan sembarang mencarinya, ok?" Kataku ke mereka berdua yang dari tadi gak serius mencarinya.

"Ok!"

Selama kita mencari, tempat ini sepi banget. Di tiap tempat pun gak ada monster atau apapun disini.

"Saat tempat yang banyak monsternya tiba-tiba gak ada monster satupun, berarti ini tanda bahaya..." Kata Kaz. (Ya, iyalah... Authornya gitu terus ceritanya... :P)

"Tau aja..." Jawab Yuki cuek.

"Intinya, kita harus temukan batu itu dalam keadaan selamat..." Ucapku.

"Ya, iyalah selamat... Kalo nggak? Udah nggak kita dead disini... Otomatis kita gak akan bisa balik lagi..." Jawab Kaz santai. -_-

"Iya, iya... Banyak ngomong kamu! Sekarang, cepet cari batu-batu itu!" Bentakku karena malas mendenger omongan dia.

Sampai malam, kita masih mencarinya. Karena kalau kita balik lagi, percuma. Sudah terlalu jauh kita perginya...

"Hey, liat!" Panggil Yuki.

"Hm? Kenapa?" Tanyaku heran.

"Cahaya bintangnya makin meredup..." Jawab Yuki.

"Kemungkinan besar, batas waktunya malam ini..." Kata Kaz sambil melihat ke langit.

"Kita harus cepat-cepat mencari batu-batu itu!" Ucapku sambil teriak.

"Tapi gimana?! Kita udah nyari berjam-jam..." Tanya Yuki.

"Mmm... Kita ke tempat paling berbahaya di sini!" Jawabku dengan muka yang serius. (And you know, Emery itu kadang serius banget orangnya..)

"Wah! Bagus tuh! Ayo!" Seru Kaz tiba-tiba seneng. (Penantang maut kali tuh anak... :v :v :v)

Sesampai di tempat itu...

"...Perasaan aku gak enak..." Ucap Yuki.

"...Memang bakal ada apa?" Tanya Kaz.

"Itu..."

Ternyata monster-monster itu berkumpul di tempat itu. Bersama... Seseorang yang tidak dikenal...

"Hah?! Ternyata monster-monster itu ada disini?!" Ucap Yuki kaget.

"Wah... Menantang nih~" Diwaktu seperti ini, dia masih aja bisa bilang yang begituan... -_-

"Kalian disini untuk mencari ini, kan?" Tanya si orang yang gak dikenal itu. Dia menunjukan 2 batu-batu yang kita butuhkan. Seharusnya kan ada 3?!

"Hanya ada 2 disini. Yang satu lagi, bukan hakku untuk memberikannya kepada kalian." Ucapnya.

"Tapi kedua batu ini akan kuberikan setelah kalian buktikan kemampuan kalian terlebih dahulu!" Lanjutnya dan dia menyuruh monster-monster itu untuk menyerang kita.

Sekitar 10 menit kemudian...

"Wah... Kalian cepat rupanya..." Ucapnya orang yang gak dikenal tadi.

"Tak disangka, Kingdom Ruler juga setangguh seorang kesatria..." Lanjutnya.

"Kalau begitu, aku berikan ini kepada kalian... Berdua..."

Ternyata kedua batu itu milikku dan Yuki.

"What?! Kalo begini, punya aku mana?!" Tanya Kaz heran dan lebay.. :v

"...Sudahku bilang, itu bukan hakku..." Jawabnya santai.

"Sekarang kembalilah kalian ke Selphia!" Lanjutnya dan kita di teleport balik ke sana.

~ To be Continued... ~