Yuhuu! Chappy 1 update!


Kamichama Karin Chu © Koge Donbo

Cappuccino © anaracchi

Warning: AU, OOC, Nggak Jelas, Typos, dan masih banyak lagi!

Rate: T.

Genre: Romance.

Satu, bertemu dengan orang yang belum pernah kau kenal sebelumnya. Dua, orang itu mencari gara-gara denganmu. Tiga, kau terus-menerus memikirkannya. Empat, kau terobsesi padanya. Lima, kau jatuh cinta padanya.

Chapter 1


"Karin! Ada yang jemput tuh!" Yuuki yang sudah berseragam lengkap itu memanggil Karin yang masih berada di kamarnya.

"Tsk. Siapa sih pagi-pagi gini udah ada yang jemput?" gumam Karin segera menuruni tangga sambil mengikat rambutnya ala ponytail, padahal rambutnya belum benar-benar tersisir rapi. Serepot itu kah menjadi perempuan, Yuuki yang melihatnya juga cuma bisa sweatdrop.

Karin berlari sambil menyambar sehelai roti tanpa selai dan langsung berjalan menuju pintu setelah acara mengikat rambutnya selesai. Yuuki yang melihatnya kerepotan pun membukakan pintu dan membuat Karin yang berdiri di ambang pintu itu langsung nge-froze, lagi.

Di sana, pemuda berambut pirang memakai seragam yang sama dengan Yuuki itu sedang duduk di atas motornya. Iris safirnya menatap lurus iris emerald Karin dan seringaian tersungging di wajahnya. Ternyata penilaian pertama Karin tentang Kazune yang dingin itu salah besar, Kazune sangat amat menyebalkan.

"K-Kamu ngapain di sini? Kita kan cuma ber—"

"Berpacaran? Iya, tentu saja, sayang." potong Kazune cepat dengan menekankan kata sayang. Karin melirik Yuuki yang nyengir dari ekor matanya.

"Sou, silakan nikmati kencan pagi kalian," Yuuki mendorong pelan punggung Karin dan membuatnya menghampiri Kazune. Sementara Yuuki sendiri berjalan menaiki motornya setelah mengunci pintu rumah mereka.

"Nah, Kujo. Aku titip Karin, ya. Jangan sampai melukainya." Yuuki pun melajukan motornya dengan cepat. Oke, Karin yang berada di samping Kazune hanya bisa mendengus. Biasanya ia selalu berangkat bersama Yuuki.

"Apa?" Kazune berkata dingin. Karin menatap ke sekeliling, siapa tahu ada orang yang satu sekolah dengannya lewat.

"Kita kan hanya berpura-pura pacaran, Kazune!" ujar Karin kesal. "Dan apa itu tadi. Kenapa Yuuki juga kayak gitu, hah?!"

"Mau gimana lagi? Sakurai kan teman sekelasku yang paling comel di kelas jadi aku tak bisa memberitahukan hal ini padanya," jawab Kazune yang membuat Karin sweatdrop. "Cepetan. Lama-lama kita terlambat nih."

Karin—dengan setengah hati—menaiki motor itu.

"Pegangan," Kazune berucap lagi dan membuat Karin memutar bola matanya malas.

"Gak," jawabnya tak kalah dingin. "Kita hanya berpura-pura." Karin melanjutkan.

"Ya sudah," Kazune langsung melajukan motornya dengan cepat. Karin yang terkejut dengan aksi dadakan Kazune itu spontan memeluknya.

"Tsk," gumam Kazune disertai seringaian tipis di wajah tampannya. Sadar akan perlakuannya Karin langsung melepaskan pelukan itu dengan wajah yang memerah. Membuang muka karena Kazune meliriknya melalui kaca spion.

Hening menyelimuti mereka. Karin sudah terlanjur menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya dan meniup helaian rambutnya sementara Kazune fokus pada jalanan di depannya. Ada beberapa siswa yang kebetulan satu sekolah dan yang lebih kebetulan lagi penggemar Kazune, melihat mereka dan akhirnya jatuh pingsan, seperti kemarin.

Karin hanya bisa berdoa semoga guru yang mengajar jam pertama gadis itu tidak galak atau disiplin.

Setelah beberapa menit akhirnya Kazune dan Karin sampai di sekolah. Kazune pun memarkirkan motornya di tempat parkir sekolah mereka. Karin yang sudah lebih dulu turun itu hanya menatap murid-murid sekolahnya yang memperhatikan dia dan Kazune dengan sambil berbisik-bisik. Sebenarnya Karin cukup malu, tapi senang juga sih, entah mengapa.

"Gak usah diperhatikan," suara Kazune terdengar. "Lebih baik sekarang kita cepat ke kelas sebelum bel masuk."

Kazune pun melenggang pergi diikuti Karin di belakangnya, "hei …" sahut Karin dan dijawab gumaman tak jelas dari Kazune.

"Kalau aku kenapa-napa gara-gara penggemarmu itu, kau harus bertanggung jawab!" lanjutnya.

"Ya," jawab Kazune singkat.

Mereka melewati kelas Karin, dan Karin memasukinya tanpa pamit pada Kazune. Ada beberapa orang di kelas Karin—contohnya Miyon—yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Ohayou, Miyon." sapa Karin sambil tersenyum dan menyimpan tas jinjingnya pada meja yang biasa ditempatinya. Miyon yang duduk di bangku belakang Karin membalas senyumannya.

"Ohayou mo, Karin," balasnya. "Oh, ya. Banyak gosip di BBM kalau kau berpacaran dengan pangeran sekolah itu, Kujo Kazune. Benar?" tanyanya langsung ke topik.

Karin sudah siap dengan pertanyaan seperti ini.

"I-Iya, begitulah, haha." Karin tertawa garing sambil menggaruk pipinya dan mencoba untuk terus menatap Miyon.

Berbeda dengan Kazune, Karin bukan orang yang pandai berbohong. Ironis.

"Kapan?"

"Belum lama, tapi awalnya backstreet dulu sampai kemarin ketahuan fans-nya Kazune," entahlah, Karin merasa dirinya sedang diinterogasi oleh sahabatnya sendiri. Miris. Miyon mengangguk mengerti dan senyumannya bertambah lebar. Ia berdiri sambil menepuk pundak Karin, nyengir.

"Semoga langgeng, ya!" ujarnya semangat. Karin bersyukur saat itu, karena Miyon tidak termasuk dalam fans club Kazune, ngomong-ngomong mereka menyebut diri mereka sebagai 'Kazuners'.

"A-Ah, ya. T-Terimakasih," balas Karin sambil tersenyum grogi.

"Oh, ayolah. Tak perlu gugup seperti itu. Aku ngerti kok kalau orang baru pacaran pasti masih malu-malu kucing, gitu deh." Miyon menurunkan tangannya. Karin baru sadar, kalau Miyon seorang yang cukup polos.


"Oi, Kujo!" Kuga Jin, seorang pemuda berambut hitam pekat dan memiliki mata onyx berwarna kuning seperti kucing yang baru saja datang dan duduk di atas meja sambil menghadap Kazune yang duduk di belakangnya.

Kazune yang mendengar marganya dipanggil pun menaikkan sebelah alisnya sebagai tanda pengganti kata 'apa'.

"Nanti malam, aku, Kazusa, Himeka, dan Nishikiori akan menonton film. Kau mau ikut kan?" ajaknya.

"Tidak." jawab Kazune singkat. Ia memang selalu malas berpergian sewaktu-waktu.

"Tapi Himeka dan Kazusa yang memaksa. Kalau aku sendiri sih, terserahmu," Jin berkata cuek. Kazune berpikir, kalau masalah ini menyangkut permintaan kedua adiknya—Kazusa dan Himeka—ia harus berpikir dua kali.

"Hah. Yah, terserahlah," Kazune pun membuka buku Sejarahnya yang tebalnya minta ampun itu.

"Sekalian ajak pacarmu juga," gumam Jin dan membuat Kazune menatapnya kaget—tapi ekspresinya tetap saja datar. Ia mengangguk sekilas sambil mengembalikan pandangannya pada rentetan kata yang tercetak pada buku itu.

Lonceng masuk berdentang dan membuat anak-anak memasuki kelas XII-A yang 'katanya' memiliki murid-murid yang jenius. Padahal kenyataannya hanya Kazune saja yang mendapatkan peringkat satu paralel.

Lihat saja Jin, dia hampir tidak pernah peduli dengan pelajarannya dan sering bolos berkedok manggung. Kazune masih tidak mengerti kenapa adiknya mau-mau saja menerima orang seperti Jin.


Lonceng istirahat berdentang. Kazune sudah keluar kelas duluan karena ia sudah selesai mengerjakan soal ulangan dadakan, pun sudah berdiri di depan kelas XI-B. Menunggu kekasihnya, tentu saja.

Ia membungkuk sopan ketika melihat seorang guru yang keluar dari kelas Karin. Setelahnya banyak sekali murid yang berlari keluar dari kelas itu—yang untungnya tidak menyadari kehadiran Kazune. Kalau tidak, bisa mati ia karena dikejar oleh penggemarnya itu.

Karin yang masih di kelasnya akhirnya menyadari kehadiran Kazune, tentu saja ekspresi Kazune yang (lagi-lagi) menyeringai tipis ke arahnya. Dengan setengah hati, gadis itu pun menghampirinya.

"Apa?" tanyanya sinis.

"Ayo makan bareng," ajak Kazune dan langsung menarik lengan Karin tanpa meminta izin dari sang empunya. Sementara yang ditarik hanya bisa menjerit dalam hatinya, demi Athena! Kenapa aku mau-mau saja mengikuti sandiwaranya? Dan kenapa ia berperilaku seolah aku benar-benar pacarnya?!

Tak perlu membutuhkan waktu lama untuk mereka sampai di kantin yang untungnya memiliki kapasitas yang sebanding dengan murid di sini sehingga tidak terlalu menyesakkan. Kazune menarik Karin hingga mereka sampai pada sebuah meja yang diisi dengan empat orang dengan warna rambut yang berbeda itu.

"Yo, Kazune-kun!" seorang pemuda jangkung berambut cokelat karamel itu menyapa Kazune yang baru duduk di kursinya, dan Karin yang duduk di sebelah Kazune.

"Kazune-chan, kekasihmu cantik sekali…!" seorang gadis berambut indigo sepunggung berkata manis saat melihat Karin. Gadis yang memiliki ciri-ciri yang sama dengan Kazune itu mengangguk menyetujui.

"A-Arigatou," balas Karin disertai rona merah yang menjalar di pipinya.

"Aku Kujo Himeka dari kelas sebelas C. Aku adiknya Kazune-chan. Yoroshiku ne," gadis berambut indigo itu memperkenalkan dirinya.

"Aku Kujo Kazusa dari kelas sebelas A. Aku juga adiknya Kazune. Yoroshiku," siswi berambut pirang dan memiliki iris mata biru safir, mirip seperti Kazune. Ia tersenyum ramah.

"Aku Kuga Jin, sekelas dengan pacarmu. Dan ini temanku Nishikiori Michiru kelas dua belas B," jelas Jin menyeringai jahil ke arah Kazune dan dibalas dengan ekspresi datar dari Kazune. Karin meringis dalam hati mendengar kata pacar.

"Aku Hanazono Karin kelas sebelas B," Karin memperkenalkan dirinya sambil tersenyum ramah. Ternyata teman-temannya Kazune orang baik semua—tidak seperti apa yang ada di pikiran Karin sebelumnya.

Biasanya karena saking lamanya bersama, sifat seorang teman dan teman lainnya tidak akan jauh berbeda. Untung saja yang dingin dan judes dan menyebalkan cuma Kazune seorang.

"Wah, ternyata kalian berbeda kelas semua, ya," Michiru nyengir lebar dan Kazusa sweatdrop.

"Kalau sekelas juga ngapain kita kenalan dulu, hah?!" tanya Kazusa dan menambah lebar cengiran Michiru.

"Nah, semoga kau betah bersama kami, ya. Pacarnya Kujo," Jin menyeringai ke arah Karin.

"Bisakah kau tidak menyebut salah satu dari kami dengan sebutan 'pacar', Kuga?!" hardik Kazune disertai tatapan membunuhnya dan membuat Jin ciut sehingga dia hanya bisa memakan makanannya dalam diam.

Karin tersenyum geli melihat perilaku kedua temannya itu.

"Santai aja kali, Kazune," gumam Karin. "Iya, Jin, aku lebih nyaman dipanggil nama saja,"

"Nah, Hanazono-san," Karin menoleh ke arah Michiru yang tersenyum ke arahnya. "Aku pikir Kazune-kun belum memberitahukan hal ini. Benar kan, Kazune-kun?"

"Hn," gumam Kazune dingin seperti biasanya.

"Setelah pulang sekolah nanti, mau menonton bersama kami?" ajaknya. Karin terlihat menimbang-nimbang sesuatu. Haruskah ia pergi dengan orang yang baru saja dikenalnya beberapa menit yang lalu? Karin pun melirik ke arah Kazune. Kazune adalah orang yang terpelajar dan ia juga temannya Yuuki, jadi ia mungkin bisa bertanggung jawab dan dapat dipercaya.

Hey, apa yang baru saja kau pikirkan, Karin?

"Yah, tentu," jawab Karin disertai anggukan. Ia melihat senyum Kazusa yang semakin melebar dan Himeka yang bersorak senang.

Mereka pun menyudahi acara mengobrol dan berkenalannya, digantikan oleh menyantap makanan mereka masing-masing sebelum lonceng masuk kembali berdentang.


04.00 PM

"Karin-chan!" Himeka berdiri di depan pintu kelas Karin sambil melambai ke arahnya dan dibalas senyuman Karin.

"Miyon, aku harus pulang duluan, gak apa-apa, kan?" tanya Karin kepada Miyon dan dibalasnya dengan senyuman.

"Nggak apa-apa kok. Lagian aku masih harus kumpul ekskul," jawabnya.

"Souka. Jaa ne, Miyon!" pamit Karin sambil berlari kecil ke arah Himeka dan Kazusa yang baru datang.

"Yup! Selamat bersenang-senang, Karin!" seru Miyon sambil melambai ke arah Karin. Himeka tersenyum sekilas ke arahnya, dan dibalas oleh Miyon sendiri. Mereka saling kenal. Tentu saja karena pada saat kelas sepuluh Himeka dan Miyon itu satu kelas.

"Nanti kita mau nonton film apa?" tanya Karin saat ia, Himeka, dan Kazusa sedang berjalan di koridor sekolah menuju tempat parkiran.

"Film horor!" jawab Himeka semangat. Kazusa meneguk ludahnya karena ia pribadi cukup takut dengan film horor. Sementara Karin mengangguk mengerti.

"Uwah! Serangga!" seru Himeka sambil menghampiri kupu-kupu yang kebetulan melintas di depan mereka. Iya, sekarang mereka sudah sampai di koridor dekat taman sekolah.

"Oh, ayolah, Himeka. Kita bisa membuat mereka menunggu terlalu lama," ujar Kazusa mengingatkan sambil menarik pelan lengan Himeka. Himeka mengangguk singkat walau dalam hatinya ia ingin menangkap kupu-kupu itu.

"Himeka suka serangga?" tanya Karin dan langsung dijawab anggukan semangat dari Himeka.

"Tapi Kazune membencinya," lanjut Kazusa. "Hah, kakak-adik memang berbeda sifatnya." gumamnya sambil sweatdrop.

Kalian bertiga memiliki sifat masing-masing yang sangat jelas perbedaannya, batin Karin ikutan sweatdrop.

Tak lama, mereka semua sampai di parkiran motor dan melihat ketiga siswa yang sangat dikenali mereka sudah naik ke motor masing-masing. Kazusa dengan Jin, Himeka dengan Michi, dan yang terakhir tentulah Karin dengan Kazune.

"Nah, ayo balapan! Siapa yang lebih dulu sampai ke Bioskop dia yang menang!" seru Jin sambil memakai helmnya dan langsung mendapat pukulan ringan yang mendarat di punggungnya, siapa lagi kalau bukan dari Kazusa.

"Sudah kubilang berapa kali aku tak suka balapan liar," balas Kazune ketus sambil memakai helmnya juga. Sementara Michi dan Himeka sudah pergi duluan tanpa pamit. Disusul Jin dan Kazusa, dan yang terakhir Kazune dan Karin.

Cie Kazune anak baik, batin Karin geli.

Jin mencibir dan cemberut seperti anak kecil. Karin sadar ekspresi geli Kazusa walau gadis itu menyembunyikannya. "Ini kan bukan balapan liar. Masa ada balapan liar yang pesertanya hanya tiga orang."

"Apa mereka tau sandiwara kita?" tanya Karin pelan namun masih bisa didengar Kazune.

"Tidak."

"Kenapa?"

"Lebih baik tidak usah ada yang tahu. Tapi aku juga gak ada maksud membohongi mereka, sih," kata Kazune sambil menatap punggung Kazusa yang berada di depannya. Karin mengangguk mengerti.

"Makanya, jalani saja sandiwara ini. Setidaknya sampai aku lulus," ujar Kazune dan dijawab anggukan setuju dari Karin.

Mereka masih semester satu, dan menunggu Kazune lulus adalah hal yang tidak sebentar.

Setelah memotong beberapa jalan, akhirnya mereka sampai di Bioskop dan Himeka yang turun duluan saking bersemangatnya. Disusul Kazusa, Karin, dan ketiga pemuda itu.

"Ah, seriuslah kita akan menonton film horor? Aku lebih suka komedi," gumam Kazusa yang terlihat tidak bersemangat. Sebuah tepukan yang tidak terlalu keras mendarat di bahunya.

Menonton film horor di Bioskop memang bukan ide yang bagus.

"Tenang saja. Kalau bukan horor paling akan kupilihkan film kriminal untukmu," Jin menyemangati kekasihnya itu. Bukannya semangat Kazusa malah menjadi tambah pundung dan lagi-lagi membuat Karin tersenyum geli.

"Minna! Kita dapat film horor! Yeay!" Himeka tersenyum dan meloncat semangat ke arah mereka sambil membagikan tiket. Sementara Michi dan Kazune sudah kembali setelah membeli popcorn dan minuman soda.

Setelah menunggu sebentar (baca: satu jam), akhirnya mereka pun memasuki Theater itu dan menontonnya.

Kau bisa bayangkan apa yang terjadi selanjutnya, kan?


Skip Time

Kazusa-lah yang keluar duluan dari Theater itu. Wajahnya pias seakan menahan muntah. Selanjutnya Karin yang sekarang sudah lemas. Disusul oleh Himeka, Michi, Jin, dan Kazune yang berjalan biasa saja.

Oh, Himeka masih semangat.

"Lain kali, ayo kita nonton film itu lagi!" seru Michi sambil mengangkat telunjuk kanannya. Disusul anggukan semangat dari Himeka.

"TIDAK!" seru Karin dan Kazusa bersamaan. Jin melihat ke arah jam tangannya.

"Sudah jam tujuh, nih. Mau makan malam dulu?" tanya Jin.

"Err, aku harus pulang duluan," Karin menjawab cepat dan membuat teman-temannya menoleh ke arahnya.

"Kenapa, Karin-chan? Tidak makan dulu?" tanya Himeka sambil memiringkan sedikit kepalanya. Karin menggeleng pelan.

"Aku bisa makan di rumah. Lagipula aku tidak biasa pulang malam seperti ini."

"Ya sudahlah. Kalau gitu, biar aku antar saja," Kazune merogoh sesuatu yang diyakini Karin adalah kunci motor. Dan benar dugaannya, Kazune mengeluarkan kunci motor itu dan langsung melenggang pergi.

"A-Ano, aku pulang duluan.Jaa ne!" ujar Karin sambil berlari mengejar Kazune.

"Jaa, Karin!" Kazusa melambaikan tangannya yang langsung dibalas oleh Karin. Sadarkah kau, Karin? Kalau teman-temanmu selain Kazune nyengir lebar ketika Kazune bilang akan mengantarmu pulang.

Karin memperlambat larinya saat ia sudah berada di belakang Kazune. Kazune pun sampai di tempat parkir motor dan menaikinya, lalu diikuti oleh Karin.

Selama perjalanan memang tidak ada yang menarik, sih. Hanya ada deru kendaraan yang terdengar sepanjang jalan. Karin diam sambil menatap jalanan, sementara Kazune fokus pada jalanan.

Memang tidak memakan waktu banyak. Hanya selama tiga puluh menit dan akhirnya mereka sampai di rumah Karin yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil. Karin pun turun dari motor Kazune.

"Thanks ya. Teman-temanmu asyik," kata Karin. Kazune mengangguk singkat dengan tatapan datar, seperti biasanya.

"Ya. Sama-sama," balas Kazune. "Aku pulang duluan." setelah itu ia melajukan motornya meninggalkan Karin yang menatap punggung Kazune. Senyum tipis terbingkai di wajah cantiknya.

"Hati-hati."


"Bagaimana kencan pertamamu?" Yuuki sudah berdiri di belakang pintu dan membuat Karin memekik pelan setelah ia baru satu langkah memasuki rumahnya. Lalu Karin pun memutar bola matanya malas sambil mengusap dadanya.

"Biasa saja," jawab Karin sambil memasuki rumah yang terkesan sepi itu.

Yuuki menyeringai, "benarkah? Pasti ada sesuatu yang menarik, kan?" selidiknya sambil mengekori Karin yang sedang menaiki tangga.

Karin berhenti sambil memutar badan untuk menghadap Yuuki. "Helo, aku lelah," sejurus kemudian gadis itu berlari dan memasuki kamarnya. Meninggalkan Yuuki yang mengendikkan bahu tanda ia tidak peduli.

Karin langsung melempar tasnya dan mengempaskan tubuhnya yang masih dibalut oleh seragam Sakuragaoka High School itu. Manik zamrudnya menatap langit-langit kamarnya yang bercat putih.

Karin yang memang sudah lelah itu pun merasakan matanya yang mulai terasa berat, sebelum terlempar ke alam mimpi, Karin sempat bergumam.

"Awalan yang bagus ..."

.

.

To Be Continue


Zona Bacot Author:

Yuhuu! Balik lagi sama author yang hobinya bikin ff absurd! Oh ya, ini cuma sebagai pelampiasan aku aja sebagai pelajar, hoho. Jadi alurnya juga nggak terlalu berat /lupa nulis di ZBA(?) yang sebelumnya/

Nah, mau tahu kenapa judulnya Cappuccino? Emang nggak ada hubungannya sama alur ceritanya, loh. Tapi ada hubungannya sama summary! /yakalaugituadahubungannyalah/

Pokoknya yang lebih jelasnya itu ada di akhir chapter!

Special thanks to: keke. kaylifasalsabila, Akiko Akaike, alfina, f devil, dc, Risha, Sazumi Misako, Hayashi Hana-chan, silent readers, juga yang sudah mem-fave dan follow.

Akhir kata,

Review please?