saya buat levi disini lebih luwes


Our Bond Never Break Up


Benar kata levi, pasti akan digantikan dengan yang lebih special, kesedihan dan kesalahan waktu itu dijadikan pengalaman, sekarang levi lebih protektif terhadapku, sangat protektif malah saat ini aku hamil anak keduanya, walaupun anak kita yang pertama telah di ambil Tuhan lebih dulu.

"petra kau sedang apa di dapur? Sudah ku bilang aku saja yang masak" teriaknya dari dalam kamar

"aku hanya ingin membuatkanmu teh hitam itu saja" sahutku "eh levi?" levi tiba-tiba saja memelukku dari belakang dan melingkarkan tangannya pada perutku sambil mengelus perutku yang membesar, dagunya ia sandarkan pada bahuku.

"petra kau semakin seksi" bisik levi pada telingaku walaupun sebenarnya aku agak geli, entahlah yang ada di pikiran lelaki, mungkin yang jelas saat kandunganku semakin membesar, semua badanku ikut membesar.

"kau sebaiknya duduk, aku akan masak untuk kita sarapan" levi mengintruksiku, aku hanya bisa mengangguk, tak ada bantahan bagi seorang heichou prajurit maupun seorang heichou rumah tangga. Aku pergi ke ruang tamu pelan sambil menopang pinggangku karena berat oleh kehadiran si kecil dalam kandunganku berumur 8 bulan.

Aku menahan permukaan bawah perutku pelan-pelan untuk duduk kemudian bersandar dikursi empuk, leganya. Tak lama kemudian levi membawakanku makan dan menyuapiku, sangat berlebihan memang levi si heichou rumah tangga ini. Dia membantuku minum selanjutnya baru ia yang makan.

"levi aku bosan di rumah terus, kita keluar ya?" pintaku

"tidak boleh!" levi menolak

"levi" kataku manja sambil bersandar di bahunya

"petra…aku tidak mau kau kenapa-kenapa" levi beranjak pergi ke kamar mandi, mengganti baju kerjanya untuk ke kantor survey corp.

"nee kalau begitu aku ikut denganmu ke kantor, aku ingin bertemu dengan teman-temanku dan rekanku yang lain" ujarku semangat, levi nampak berpikir sambil membetulkan cravat symbol ke kaptenannya "souka" katanya singkat. "tapi ingat jangan banyak tingkah, apalagi kau semakin seksi sekarang. Aku tidak mau usahaku dulu memperebutkanmu dari sekian banyak lelaki sia-sia" jelas levi.

"iya iya heichouku" "dan satu lagi ganti dress putihmu dengan warna lain yang lebih tidak terlihat lekukan-lekukan badanmu, kau tidak boleh terlihat seksi selain hanya untukku, aku tidak bisa menjamin dengan pikiran lelaki. Terutama si Erwin dan auruo" levi sangat detail. Aku hanya bisa mengangguk mendengarnya menasehati, aku tau perkataannya itu sangatlah benar. Lalu aku pergi ke kamar mengganti baju.

"jaa levi bagaimana dengan yang ini" aku meperlihatkan baju yang aku pakai, dress panjang sampai di bawah lutut berwarna coklat senada dengan seragam survey corp levi, bagian tengahnya mengkerut oleh tali membuat perutku yang membesar sangat terlihat jelas.

"kau masih terlihat seksi" levi tak setuju. Aku mendengus kesal "itu karena pikiranmu yang hentai levi heichou" levi hanya datar, sepertinya kataku benar "lagian kandunganku sudah 8 bulan, aku tidak bisa menyembunyikan lekukan perutku" sambungku lagi. Akhirnya kita berdua berangkat dengan jalan kaki karena tempatnya pun tidak terlalu jauh dari rumah, rumah yang kita tinggali sengaja di pilih levi agar tidak terlalu jauh dari kantornya dan bisa mengawasiku kapan saja.

"petra, apa kau lelah?" Tanya levi sambil menuntunku

"tidak, aku masih baik-baik saja" kataku

"hn tentu saja, kau kan berjalannya seperti siput" levi lagi-lagi membuatku kesal, tapi bukankah itu membuat warna dalam suatu hubungan agar tidak jenuh. Dan akhirnya kitapun sampai

"ppeetttrrraaaa" teriak hanji sambil berlari kearahku tangannya terbuka lebar untuk memelukku sebelum akhirnya hanji jatuh karena di halangi oleh levi.

"eh mata empat, kau harus hati-hati, sedikit saja kau melukai petra, akan ku bunuh kelinci manismu (sony dan bean)"

"ahh iya iya aku akan berhati-hati hehe" sahut hanji sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal dan dia memelukku dengan pelan "apa kabarmu petra" sambungnya "aku baik-baik saja hanji san" kataku ramah

"nee nee petra boleh aku memegang perutmu" kaca mata hanji berkilat sambil mendekatkan wajahnya pada perutku "hn tentu saja" walaupun sebenarnya aku sedikit takut kepada wanita obsesi titan ini.

Hanji memegang permukaan perutku "petra, dia sangat aktif sekali" ujarnya "benar hanji-san, aku sangat merasakannya, dia menendang-nendang" "benarkah?" sahut levi tiba-tiba dan menyingkirkan kepala hanji, levi pun ikut menempelkan tangannya pada kandunganku di susul dengan telinganya yang mendekatkan ke permukaan perutku "dia benar-benar aktif sekali di dalam, sepertinya ia tidak betah di dalam, makanya cepat keluar dan bermain dengan ayah" levi berbicara manis pada anaknya. Levi memang banyak berubah setelah menikah.

"kalian semua masuklah ke dalam, di luar sangat panas" sahut Erwin tiba-tiba dari balik pintu, akhirnya kami pun masuk ke dalam. "petra!" sahut erd dan Gunther "minna" kataku "aku rindu kalian" sambungku "kami juga rindu kau petra" ujar erd dan Gunther.

"eh aurou mana?" tanyaku "hmm semenjak kau menikah, dia uring-uringan terus" ujar erd "tapi tak lama dia menemukan nifa, dia mirip denganmu petra, jadi dia pdkt dengannya" timpal Gunther. "yukata kalau begitu" aku senang kalau memang ada penggantiku untuk aurou, waktu masih jadi prajurit dia selalu bergaya seperti levi, untuk mencuri perhatianku, memalukan tidak pantas sama sekali.

Tok tok tok, aku mengetuk pintu ruangan komandan "masuk" balasnya dari dalam. "komandan Erwin, ini minumlah" aku membuatkan kopi untuknya, sudah lama sekali aku tidak membuatkan kopi untuk komandan. "arigato petra, kau tak usah repot-repot mengantarkan ke ruanganku" ujarnya, "daijobu komandan, rasanya sudah lama sekali" kataku lalu kembali keluar "petra" Erwin memanggilku, aku membalikan badan "iya komandan". "petra kau duduklah, aku ingin berbicara padamu" aku menurut lalu duduk.

"petra apa kau bahagia dengannya? Dia tidak keras padamu kan?" komandan sangat mengkhawatirkanku. "tentu saja aku bahagia, tidak…dia justru sangat perhatian padaku, dia berubah menjadi lembut setelah kita menikah" "syukurlah kalau begitu" aku membalasnya dengan anggukan, aku mencoba untuk berdiri dari sofa, tapi agak susah karena perutku membesar, "sini biarku bantu" Erwin membantuku berdiri "arigato komandan" kataku senang sedangkan yang membantuku seyum ramah. Aku terkejut saat tiba-tiba levi ada di hadapanku menatapku dan Erwin dengan deathglarenya , aku langsung memecahkan suasana "ah levi, yukata kau datang… tolong bantu aku ke dapur ya, aku ingin membuatkan makan untuk kita semua" levi tetap diam, terpaksa aku menarik lengannya menuju ke dapur. Untunglah aku bisa menghindar dari suasana mencekam, suasana mencekam yang beda tipis saat ada colossal titan.

"jaa minna mari kita makan bersama" sahutku pada prajurit survey corp, yang tak lain adalah teman dan rekan kerjaku, walaupun sekarang aku adalah mantan prajurit setelah menikah.

"wuah petra, masakanmu enak sekali, aku rindu masakanmu, selama kau mengundurkan diri kita tersiksa karena makanan yang di buat hanji seperti makanan penjara" ujar mike, aku hanya tertawa mendengarnya

"eh mike, masih untung aku mau masak untukmu huh" hanji mendengus "kalau begitu petra kau harus sering-sering kesini ya" sambungnya

"tidak boleh!" tukas levi serius, membuatku dan yang lain sedikit ngeri. Setelah selesai makan dan waktupun tak terasa sudah malam, akhirnya aku dan levi pulang. Selama perjalanan pulang levi mendiamiku, rasanya sesak sekali.

"levi" sapaku, dia masih focus berjalan membuatku tertinggal di belakang, mengingat saat ini aku tak bisa lari menyusulnya. Apa levi marah padaku saat komandan Erwin membantuku berdiri, ini pasti salah paham. "levi, apa kau marah padaku" sahutku lagi sedikit berteriak karena levi semakin menjauh, namun levi tetap tak bergeming, entah mengapa air mataku mengalir begitu saja di pipiku, dadaku sesak dan sesegukan menangis. Aku duduk di atas batu tak jauh dari tempatku tadi, ada yang berusaha menarik tanganku saat aku menutup wajahku dengan lengan kananku untuk menyembunyikan bahwa aku sedang menangis, ternyata levi dia kembali, dia mensejajarkan tubuhnya di hadapanku lalu menyeka air mataku.

"maaf" kata levi lembut "tadi komandan Erwin hanya membantuku berdiri" kataku di tengah tangisku "aku tau berdirilah" levi membantuku berdiri lalu pulang sambil menuntunku.

Sesampainya dirumah aku langsung membaringkan diri di kasur, aku sangat mengantuk, mungkin seharian ini terlalu banyak aktivitas, mengeluarkan energy saat menangis. Levi mengerti hal itu lalu menyelimutiku dan mengelus puncak rambutku "selamat tidur petra, kau pasti sangat kelelahan, tidur yang nyenyak ya" aku hanya mengangguk sambil memejamkan mata karena terlalu lelah.

..

..

"levi kau sedang apa?" tanyaku bingung, karena levi memikul kayu, membawa palu dan paku

"ah aku akan membuat tempat tidur untuk bayi kita petra" sahut levi, aku sangat senang mendengarnya. Levi terus memukul-mukuli paku pada kayu yang hampir setengah jadi tempat tidur kecil yang di kelilingi pembatas-pembatas agar bayi kita nanti bahkan sampai tiga tahun pun terjaga supaya tidak jatuh, sambil menunggu aku membuatkan teh hitam kesukaannya.

"levi istirahat saja dulu" ajakku "tidak, sebentar lagi selesai kau masuk dulu sana di luar panas" katanya, aku mengikuti intruksinya. Levi sudah menyelesaikan tempat tidur bayinya, ia sangat kelelahan dan berkeringat, aku menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil, saat berkeringat aura ketampanan dia keluar, dia benar-benar tampan. Lalu menyuguhkan teh hitam kesukaannya "arigato istriku" katanya "hai" aku tersenyum.

"petra" tanya levi "hn" jawabku masih mengelap keringat di lehernya, dia menarik tanganku untuk berhenti melap keringatnya. "petra kau sebulan lagi akan melahirkan, aku berjanji akan mendampingimu" "benarkah" kataku senang "tapi kalau aku tak sibuk" lanjutnya. "levi….pokoknya sesibuk apapun kau harus tetap mendampingiku" aku memaksa "kalau ada titan bagaimana, tapi… sepertinya, aku lebih memilih titan" levi membuatku kesal "kuso kuso kuso" aku mendengus.

"kau ini….aku hanya bercanda" kata levi sambil mengacak-acak rambutku "nanti malam aku akan memberimu sesuatu" "apa" "lihat saja nanti malam petra ackermanku".

Waktu sudah menunjukan malam, aku menagih janji levi "levi hadiah apa yang ingin kau berikan padaku malam ini" levi menarikku keluar rumah, ia mengisi bak kayu dengan air yang sangat penuh. "petra kemari" pintanya, aku mengikutinya "pegang bintang ini" levi mengambil air dari dalam bak kayu yang isinya bintang dari pantulan cahaya bulan dan menuntunku untuk memegangnya dengan mengapit kedua tanganku pada air bak itu "sugoi" kataku senang "lihatlah petra, walaupun bintang sangat jauh tapi bisa di raih, sesuatu yang tidak mungkin pasti akan mungkin terjadi asal ada keyakinan bagaimanapun caranya" levi menasehati, aku mengangguk paham. "sebenarnya tadi siang aku ingin memberimu pelangi, tapi aku sangat lelah, jika besok cuaca cerah, aku akan memberimu pelangi" lanjutnya.

"hontoni levi" aku bersemangat "ya setelah ekspedisi" katanya sambil tersenyum walaupun sangat tipis.

..

..

Aku duduk di sofa menunggu kepulangan levi, menunggu janjinya untuk memberiku pelangi setelah ekspedisi. Sambil menunggu levi aku bernyanyi kecil untuk ackerman kecilku, "buk" aku merasakan tendangan aktif dalam perutku, aku mengelusnya pelan. "nak kau tidak sabar ya ingin cepat-cepat keluar, bunda juga sangat ingin melihatmu sayang. Tapi menunggu satu bulan lagi ya, kau harus sabar" kataku mengajaknya bicara "hari ini ayahmu sedang ekspedisi, jadi hanya kita berdua saja di rumah, semoga ayah cepat kembali dan berkumpul bersama kita lagi" lanjutku sambil mengusap kandunganku

Tok tok

"ah itu ayahmu pulang dari ekspedisinya, ayo kita sambut kepulangan ayahmu" aku berdiri untuk membuka pintu "selamat datang, lev-…"

"petra…" kata hanji muram, di dampingi komandan Erwin juga

"dimana levi? Dia tidak bersama kalian?" tanyaku ragu

"levi dia…." Hanji terbata

"Petra Ackerman, kita menyesal untuk memberitahumu" kata komandan Erwin berat "Levi Ackerman tidak kembali dari ekspedisi terakhir hidup-hidup"lanjutnya

Mendadak aku lemas mendengarnya, sendi-sendiku tak kuat menopang untukku berdiri, aku terduduk di lantai, aku mencoba mengendalikan pikiranku kalau semua itu bohong, tapi jika komandan Erwin yang bilang itu pasti kenyataan, aku menangis histeris, sangat histeris. Erwin berjongkok mensejajarkan denganku, aku meraih kerah baju komandan "kau bohong komandan kau bohong! Katakan padaku kalau itu bohong! Levi manusia terkuat tidak mungkin mati" teriakku histeris sambil menangis masih menarik-narik kerah baju erwin. "petra.." hanjipun ikut mensejajarkan badannya denganku.

"ku mohon di saat seperti ini kalian jangan bercanda, antar aku kesana hanji san, komandan" pintaku memaksa sambil mencoba berdiri.

"petra tenanglah" Erwin angkat bicara menenangkanku, badanku semakin kebas seperti kapal yang karam, aku merasakan suhu panas menyelimuti badanku terutama pipiku, pusing di kepalaku menekanku sampai akhirnya aku tak merasakan apa-apa lagi, semuanya gelap.

"petra! Petra!" Erwin menepuk-nepuk pipiku, untungnya aku tertahan oleh badan kokohnya komandan sebelum jatuh bebas ke lantai, dia menggendongku ala bridal style ke kamarku untuk di baringkan.

"hanji ambil air hangat untuk mengompresnya" perintah komandan pada hanji "hai" balasnya. Aku sangat lemas, janji levi untuk memberiku pelangi setelah ekspedisi tidak pernah terjadi bahkan untuk mendampingiku melahirkan anaknya. Dia tidak memenuhi janjinya.