Warning: a bit OOC and a bit aneh dan kurang berasa

Disclaimer: Naruto is kepunyaan Masashi Kishimoto XD

Author note: Makasih banget atas reviewer yang ngingetin~ Bener-bener lupa saya dengan Disclaimer-nya! *ngegetok kepala* kali ini saya berniat untuk mengubah panggilan bahasa Jepang yang sebelumnya ada di chapter sebelumnya dan yang paling susah itu mempertahankan sikap karakternya! Saya, bla bla bla bla bla...

Sasuke: Woi! Cepet dikit!

Daku: Diem! Emang anda siapa saya?

Silakan dinikmati chapter dua ini~ walau agak aneh sih...

#####

Mayat-mayat bergelimpangan, bau anyir darah menusuk hidung gadis itu. Air mata mulai menggenangi pelupuk matanya. Hanya satu ingatan yang saat itu membekas diingatannya. Pandangan membatu dari wanita itu dan… pedang panjang yang berlumuran darah.

#####

Hinata bergerak dari tidurnya, tangannya menyentuh kepalanya yang terasa sakit, 'sepertinya kepalaku terbentur sesuatu…'. Mata lavender mudanya terbuka perlahan, ia menggerakkan lehernya ke samping kiri dan kanan. Dengan bertumpu pada kedua sikunya, Hinata berhasil bangkit. Masih dalam posisinya yang menduduki kasur, gadis itu memutar memorinya.

"Waktu itu.. aku tertangkap.. lalu..?" sekuat apapun ia mencoba mengingatnya, hanya kabut yang menyelimuti memorinya saat itu.

Ia menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, lalu melompat turun dari keranjang. Karena gerakkannya yang tiba-tiba itu, matanya menjadi berkunang-kunang.

"HEI KALIAAAAAN! APA YANG SEDANG KALIAN BICARAKAN?"

Teriakan itu berhasil membuat Hinata terkejut dan terpeleset jatuh mencium lantai kayu. Ia mengusap-usap jidatnya yang memerah. Ia tidak menyangka ada orang yang bisa berteriak sekencang itu. Mungkin kalau orang itu ikut lomba paduan suara, pasti dia pemenangnya (lah, apa hubungannya?).

Hinata terkikik sebentar saat memikirkan pendapat gilanya itu, namun sesaat kemudian, ia tersadar! Ia berada di dalam sebuah ruangan yang tidak ia ketahui!

Dengan panik ia bangkit berdiri, menatap keadaan sekelilingnya dengan gelisah. 'apa jangan-jangan.. aku tertangkap?'gadis berambut indigo pendek itu mendengar suara orang-orang yang berbicara, tidak jauh dari ruangan tempat ia berpijak sekarang. Mungkin sekitar 10 meter dari pintu kamarnya. Begini-begini, si Hyuuga manis satu ini memiliki pendengaran yang tajam.

Hinata gemetar, ia membuat gerakan perlindungan diri ketika suara-suara itu berhenti, digantikan oleh langkah-langkah kaki yang semakin mendekat. Matanya membesar, terlihat jelas pancaran ketakutan. Dan ketika handlepintu itu bergerak, Hinata hanya dapat memejamkan matanya kuat-kuat. Oh Kami-sama! T-tolong aku!

#####

"Hei guru Kakashi," bisik Sakura pada Kakashi yang sedang asyik membaca buku bersampul oranye. Pria itu mengalihkan pandangannya dari buku itu lalu memandang Sakura, namun aksinya itu hanya bertahan sedetik saja. Selanjutnya, ia sudah asyik kembali dengan bukunya.

"Apa?"

"Ehm… apa mereka kesini karena perempuan itu?" tanya Sakura dengan suara kecil.

"Yah, begitulah. Bagaimanapun, perempuan itu masih ada hubungan darah dengan mereka."

Sakura membelalakkan matanya, "Ehh? J-jadi dia itu seorang Hyuuga?"

"Ya, begitulah." Jawab Kakashi dengan santai.

"Memangnya kenapa kalau dia Hyuuga?" tanya Naruto dengan tampang anehnya, mukanya berkedut tidak mengerti.

"Ya tentu saja janggal bodoh! Kebanyakan, para miko itu kan anak para pendeta di kuil Shinto itu!" ujar Sakura kesal, namun tetap dengan suaranya yang kecil. Naruto mengernyitkan sebelah alisnya, "Kuil Shinto? Bukannya Mizuyose?" Sakura menghela napasnya. Lelah sekali menjelaskan segala hal pada laki-laki yang hanya berpikir menggunakan otot…

"Begini. Biar aku jelaskan." Sakura dan Naruto melayangkan pandangannya ke arah si empunya suara, Kakashi.

"Mizuyose jinja.Atau bisa kalian sebut juga, 'Kuil Shinto Mizuyose'. Kuil Shinto adalah struktur permanen dari kayu yang dibangun untuk pemujaan menurut kepercayaan Shinto." Jelas Kakashi.

"Jadi, Mizuyose itu hanya nama saja?" tanya Naruto sambil memicingkan matanya.

"Ya, begitulah."

Sakura mengangguk-angguk mengerti. Tiba-tiba saja Naruto menyembulkan kepalanya di antara mereka berdua dengan ekspresi tidak mengerti.

"Tunggu guru! Kau bilang, 'pemujaan menurut kepercayaan Shinto'. Memang pemujaan seperti apa?" muka sirambut kuning jabrik itu berkedut-kedut penuh pertanyaan.

"Ah! Benar juga kau Naruto!" ujar Sakura membenarkan kata temannya itu. Kakashi menghembuskan napasnya. 'dasar anak jaman sekarang… tinggi sekali keinginantahuan mereka.'

"Agama Shinto melibatkan pemujaan kami, yang bisa diterjemahkan sebagai dewa, roh alam, atau sekedar kehadiran spiritual. Sebagian kami berasal dari daerah setempat dan bisa dianggap sebagai roh yang mewakili daerah tersebut, namun kami lainnya mewakili benda-benda dan proses alami utama, misalnyaAmaterasu, sang dewi matahari. "

Sakura dan Naruto hanya ber 'oh'. "Oooohh, jadi.. Kuil Mizuyose itu berarti air kan? Jadi roh kamiyang menempatinya itu, Suijin, dewa air kan?" ujar Sakura sambil menatap Kakashi.

"Ya, begitulah."

"Oh, begitu ya. Aku baru tahu, hahahaha—hmmph!" mulut Naruto yang tadi terbuka kini ditutupi oleh tangan Sakura.

"Dasar bodoh! Tenanglah sedikit!" bisik Sakura kesal, karena kini mereka diperhatikan oleh Hiashi yang menatap tajam. Uih! Suerem boss!

"Ehehe.. K-kami minta maaf!" ujar Sakura tergagap lalu menatap Naruto dengan pandangan 'diam atau kuhajar!'.

Sasuke mendengus. Kini tatapannya kembali tertuju ke depan, di sampingnya adalah si laki-laki Hyuuga yang sedari tadi mengusik pikirannya. 'laki-laki ini... kenapa tadi dia memandangku dengan aura membunuh yang kuat? Mau apa dia?'

Seperti bisa membaca pikiran sang Uchiha, Neji membuka mulutnya.

"Tidak. Aku hanya tidak menyangka. Ternyata masih ada 'peninggalan' dari klan Uchiha yang punah. Tidak—'hampir' punah." ucap Neji dengan intonasi yang tenang, matanya tak bergerak sedikitpun untuk memandang Sasuke.

"Lalu, apa maumu?" tanya Sasuke dingin. Iapun tidak menatap pemuda Hyuuga yang berumur lebih tua darinya itu.

Neji menaikkan ujung bibirnya, matanya menyorotkan keangkuhan, "Menyedihkan." Dengan cepat Sasuke memutar lehernya, memandang tajam ke arah pemuda Hyuuga itu. Namun Neji tidak balas memandangnya, hanya senyumannya saja yang tidak menghilang dari mukanya.

"Itu bukan urusanmu, Hyuuga." Sasuke memberi penekanan di kata 'Hyuuga'. Terlihat sekali, atmosfir kelam yang berada di sekeliling mereka, "Haaah… Ini akan menyusahkan sekali…" ujar Kakashi kepada dirinya.

Merekapun kembali melanjutkan perjalanan dalam diam karena Tsunade menyuruh mereka untuk tenang.

"Baiklah Hiashi. Ini ruangannya." Ujar Tsunade. Kini mereka telah berdiri di depan ruangan itu. Tsunade mengulurkan tangannya untuk membuka pintu, perlahan ia memutar kenop pintu tersebut.

Bziit.

"TIDAAAAAAAAAKKK!" terdengar jeritan seorang anak perempuan dari dalam dan pintu kamar terdorong ke arah Tsunade dan yang lainnya oleh pusaran air, untunglah mereka sempat menghindar.

"I-itu.." ujar Shizune tergagap, di depan mata mereka kini melayang sesosok wanita dengan berpakaian kimono, ia mengenakan selendang dan rambutnya hitam panjang. Sebagian rambutnya disanggul ke atas, menampakkan lehernya yang jenjang dan indah. Wanita itu melayang di hadapan seorang anak perempuan berambut indigo pendek yang terduduk di lantai sambil memegangi kepalanya. Terlihat sekali wanita itu melindungi si gadis kecil, tatapan mata wanita itu tajam tapi lembut. Kemudian ia menggerakkan tangannya bersiap untuk menyerang. Sejurus kemudian Hiashi menyerukan nama anak perempuannya itu.

"Hinata!"

Hinata yang terduduk di lantai menengadahkan kepalanya, ia masih tetap merasakan sakit di kepalanya, dengan napas terengah ia menatap orang yang memanggil namanya itu.

"A..yah..?" kemudian pandangannya mengabur dan dunianya menggelap. Hanya terdengar suara-suara yang memanggilnya sebelum ia benar-benar kehilangan kesadarannya dan pingsan.

"Hinata?" dengan sigap Hiashi melompat masuk ke dalam kamar dan memegangi tubuh anaknya. Wanita yang tadi siap menyerang mereka itu telah menghilang, tetesan air muncul saat menghilangnya perempuan itu.

"Apa dia baik-baik saja?" tanya Tsunade cemas, ia mendekati Hiashi yang telah berdiri sambil menggendong anak yang disayanginya itu. Hiashi hanya menganggukkan kepalanya.

"Sepertinya ia hanya pingsan." Neji datang mendekati. "Mungkin ia harus istirahat lagi."

Hiashi menatap wajah Hinata yang terlihat pucat, kemudian ia membaringkan Hinata kembali ke atas tempat tidur. Mengusap rambut anak perempuannya itu sebelum beranjak keluar.

"Mungkin sebaiknya kita berbicara di ruanganmu saja, Tsunade."

Tsunade menganggukkan kepalanya, "Ini mungkin ada hubungannya dengan Orochimaru."

#####

Hinata terbangun perlahan dari pingsannya yang kedua kali. Ia mengucek-ucek matanya. Ia merasa bermimpi bertemu ayah dan sepupunya, Neji.

"Oh, kau sudah bangun ya?" ujar Kakashi sambil memegang buku bacaannya seperti biasa. Hinata yang kaget hanya bisa diam terpaku.

"E-ehh! S-siapa itu?" ujar Hinata sambil menggeserkan badannya menjauhi Kakashi yang duduk di ujung kepala HInata. Kaki pria itu menggantung menyentuh lantai. Terlihat sekali dia PW—Posisi Wuenak, hehehe.

"Hah? Oh, maaf. Namaku Kakashi, Hatake Kakashi." ucap Kakashi dengan tenang, masih dengan posisi duduknya yang nyantai itu. Ada kalanya ia terkikik dengan pipi sedikit memerah saat membaca bukunya. Hinata menatap pria itu dari balik poni ratanya, ia menyelimuti sekujur tubuhnya dengan selimut.

"Uh…Ummmhh..Uhh.." gadis itu ingin bertanya sedikit pertanyaan: Dimana aku sekarang? Kenapa aku bisa ada disini? Kenapa kau membaca buku itu? Kok mukamu memerah? Apa kau tidak lelah duduk dengan bergaya begitu? Dan sedang apa kau disini? Sedikit kan pertanyaannya?

"Sudahlah, tidak usah dipikirkan." Kakashi menutup bukunya. Hinata mengerjap-ngerjapkan matanya kebingungan.

"Kami sudah menunggumu. Lebih baik kita ke ruang tamu sekarang." Seulas senyuman muncul di wajah Kakashi, membuat pipi Hinata merona dan menuruti ajakan Kakashi menuju ruang makan. Ruang tamu ini terbilang cukup luas dan bersih. Ada beberapa hiasan lukisan yang terpajang.

"Ayah? Kak Neji?" Hinata berlari ke arah Hiashi yang duduk di salah satu kursi makan, sementara itu Neji duduk di sebelah pamannya itu, tersenyum ke arah Hinata yang memeluk Hiashi, tangannya membelai rambut Hinata. Sementara itu Tsunade dan Kakashi hanya bisa tersenyum.

"A-aku rindu sekali pada kalian!" kehidupannya selama menjadi Miko memang mengharuskannya menjauh dari keluarganya, hidup terisolasi. Kini, setelah 5 tahun, ia bisa menemui kembali keluarganya!

Satu persatu air mata Hinata menetes, ia menangis dalam diam. Hiashi hanya bisa memeluk tubuh putrinya dengan erat. Bagaimanapun, ia merindukan putrinya yang satu ini. Semenjak kematian istrinya saat Hinata masih berumur 8 tahun, ia menyerahkan putrinya itu untuk dijadikan sebagai Miko. Sebuah alasan untuk melarikan diri. Karena, setiap kali ia menatap Hinata, ia selalu teringat dengan mendiang istrinya. Itu adalah sebuah kesalahan besar yang ia perbuat. Bukan salah Hinata bila ia mewarisi sosok ibunya.

"Maafkan ayah, Hinata.." Hinata semakin menenggelamkan mukanya ke tubuh Hiashi, terdengar sesenggukan kecil. Marah, sedih, rindu dan takut menjadi satu di benak gadis berumur 13 tahun itu. Marah terhadap ayahnya yang terkesan 'membuangnya' dan menjadikannya sebagai seorang Miko, yang menyebabkan ia tidak bisa menemui keluarganya. Sedih atas kematian teman-teman Mikonya dan seluruh pendeta yang ada pada malam itu. Rindu karena kini ayah dan sepupunya berada di hadapannya. Dan takut…

"M-malam itu…" suara Hinata terdengar lembut namun bergetar ketakutan. Kini ekspresi di wajah Tsunade dan Kakashi berubah menjadi serius.

"Benar-benar menyeramkan..!" Hinata masih menyembunyikan wajahnya di pundak ayahnya itu. Tubuhnya bergetar, Neji hanya bisa menatap prihatin kepada sepupunya yang manis itu. Ia bisa merasakan rasa takut yang sangat besar dari dalam diri Hinata.

Mereka menunggu Hinata untuk melanjutkan ucapannya dengan sabar.

"Malam itu…."

Malam itu ia diperintah kepala Miko untuk membeli beberapa bahan makanan untuk sarapan besok. Tugas yang mudah bila daftar yang diserahkan kepadanya tidaklah sepanjang lapangan bola seperti ini.

"Untunglah..?"keringat mengalir melalui pelipis Hinata. Ia menenteng 3 buah kantong belanjaan yang penuh semua. Sudah biasa. Itulah yang ada dipikirannya, karena sudah sering ia disuruh untuk berbelanja bahan makanan oleh kepala Miko. Hal ini disebabkan oleh ketelitian yang dimiliki Hinata. Semua barang yang dicatatkan pasti terbeli.

Angin malam bertiup agak kencang malam ini, menerpa rambut indigonya. Ada perasaan tidak enak yang menyeruak di dadanya, seakan-akan sesuatu yang buruk telah terjadi. Gadis itu mempercepat langkahnya, ia merasa harus cepat-cepat sampai ke kuil, ke tempat kepala Miko yang telah menungguinya. Namun saat ia menyentuh tangga pertama, perasaan tidak enak itu semakin kuat dan semakin jelas saat ia telah sampai di puncak tangga. Berdiri di depan Torii, ia melihat mayat-mayat berbalut pakaian Miko bergelimpangan dimana-mana, darah segar mengalir dari sudut-sudut bibir mereka, begitu pula dengan para Kanusshi, Mikoshi dan para pendeta. Tidak ada satupun yang bergerak, semuanya diam kaku.

"KY—!" ia urungkan niatnya untuk berteriak. Kantong belanjaan semuanya terjatuh ke atas lantai, membuat beberapa isinya berserakan di halaman kuil. Gadis itu menutup mulutnya, air mata sudah membanjiri pipinya, badannya gemetar ketakutan.

Sosok itu... Pria berambut hitam panjang, mengenakan pakaian panjang berwarna krem, celananya berwarna abu-abu. Kulitnya yang berwarna pucat membuat Hinata terdiam terpaku. Matanya… bola matanya… mirip sekali dengan ular. Ada seringaian mucul di wajahnya, namun bukan mengarah ke gadis berambut indigo itu. Melainkan sesuatu yang berada dicengkeraman tangannya.

'Pak kepala pendeta?' pekik Hinata dalam hati.

"Ah, rupanya kau tidak mau menuruti kata-kataku ya.." pria berkulit pucat itu menarik sesuatu yang terselip di belakang punggungnya, pinggangnya terlilit semacam tali tambang berwarna nila muda.

Panjang, berwarna perak, dan terlihat membunuh, itulah gambaran pedang yang dikeluarkan pria berkulit pucat itu. Pria itu menyeringai, ia mencengkeram kepala Kepala Pendeta tersebut, dan dengan cepat cipratan darah telah bersemburan kemana-mana.

"GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!" Hinata jatuh terduduk, ia menutup mulutnya. Badannya tersentak horor tatkala pria berkulit pucat itu melayangkan pandangan kearahnya.

"Ah.. ternyata masih ada.." seringaian itu kembali muncul.

Jantung Hinata berdegup kencang, pria itu berjalan mendekatinya. Pedang panjangnya yang kini berlumuran darah semakin membuat Hinata ketakutan. Ia berusaha menggerakkan badannya yang gemetaran, berusaha untuk melarikan diri dari sana. Namun, tangan dan kakinya seolah-olah telah tertancap oleh paku.

"JANGAN PERNAH KAU MENDEKATINYA..!" tiba-tiba seorang wanita dengan pakaian Mikonya yang agak belepotan—kotor maksud si Author, muncul secara tiba-tiba, membentuk sebuah gerakan perlindungan di depan tubuh mungil yang tengah duduk terkulai ketakutan.

"O-RO-CHI-MA-RU!" wanita Miko itu menggeram.

"M-Matsuri-San.." dengan terbata-bata Hinata memanggil nama wanita Miko yang ada dihadapannya, sekaligus sang kepala Miko. Namun sang kepala Miko tidak bergeming, masih berdiri membelakangi Hinata, ditangannya tergenggam sebilah pedang samurai yang panjang.

"Hinata. Cepat bawa kabur benda ini!" tanpa menoleh, Matsuri merogoh saku Hakamanya, mengeluarkan sesuatu yang menyerupai bungkusan kecil dan melemparnya ke arah Hinata yang dengan cekatan menangkap bungkusan itu dengan tangannya (beruntunglah Hinata yang sering bermain baseball selama menjadi Miko *di kaiten ma Hinata*.

"A-apa ini?" tanya Hinata.

"Sudahlah! Jangan banyak tanya dan segera pergi dari sini! Kalau tidak…" Matsuri memalingkan sebentar matanya ke arah Hinata, sedetik kemudian, pandangannya membatu, darah menyembur keluar dari mulutnya. Sesuatu yang tajam menusuk dadanya. Pedang Orochimaru.

"M-MATSURI-SAN!"

Di sela-sela semburan darah dari mulut Matsuri, ia dapat melihat mulut Orochimaru yang bergerak.

"Serahkan benda itu atau kubunuh."

#####

Kini Hinata telah menduduki kursi yang berada di antara Hiashi dan Neji. Pandangannya terus mengarah ke bawah. Wajahnya memerah, berusaha untuk menahan air matanya. Neji yang melihat sepupunya seperti itu, hanya bisa mengusap kepala Hinata dengan lembut.

"Dan, bagaimana caranya kau lolos dari Orochimaru nona Hyuuga?" tanya Kakashi, ia bersender di dinding ruang makan, menyilangkan kakinya.

"W-waktu itu.. M-Matsuri-san menahan pria itu agar tidak mengejar saya…" ujar Hinata, ia menggigit bibirnya saat mengingat tubuh wanita itu bergerak, memperdalamkan tusukan yang berada di dadanya untuk menusuk Orochimaru.

"Lalu, apa yang membuat Muna Himo-mu itu berbercak merah darah?" tanya Tsunade. Hinata melihat atasan pakaian Mikonya. Benar. Ada beberapa bercak darah yang menodai kain putihnya itu.

"I-ini..." Hinata menyentuh atasan pakaiannya itu, "Maaf.. Saya tidak ingat.." Hinata menundukkan wajahnya dalam-dalam. Hiashi menatap sedih anak perempuannya tersebut.

"Oh ya. Benda yang dititipkan Matsuri-Sama padamu." Sahut Tsunade lagi. Hinata mengangkat wajahnya yang memerah dan sembab menahan tangis. Kemudian ia merogoh saku Hakamanya dan mengeluarkan bungkusan yang berwarna perak kekuningan. Ia memegangnya erat.

"Bolehkah kulihat?"pinta Tsunade. Dengan ragu-ragu Hinata menyerahkan bungkusan itu.

'bungkusan apa itu?'Kakashi memicingkan matanya agar penglihatannya menjadi lebih jelas lagi. Bukan karena ia rabun, hanya saja, mata kirinya sekarang tidak berfungsi lagi karena suatu perkelahian. "Maaf saja, tapi aku terlalu malas menjelaskan detailnya kepada kalian." Jawab Kakashi sok cuek. (Gak ada yang nanya juga!)

Tsunade membuka tali yang melilit bungkusan itu perlahan, lalu mengeluarkan isinya yang ternyata, "Ini…!"

"Suijin no Tenshu..!" Ujar Hiashi terpengarah.

"Bola dewi air." Timpal Kakashi.

"Pantas saja dia menginginkan benda ini. Begitu ternyata!" ucap Tsunade sambil menggertakkan gigi-giginya.

"Sepertinya, benda inilah yang memunculkan replika dewi air waktu itu."

"Replika?" ucap Kakashi, mengarahkan pandangannya ke arah Tsunade.

"Ya. Replika dewi air yang ditampilkan oleh Hinata-san. Itu hanyalah replika. Bukanlah Suijinasli." Terang Tsunade sambil menerawang bola yang berwarna biru lumut itu. (Author yakin.. Tsunade sedang nyari wangsit! *di tinju*). Kakashi manggut-manggut tanpa mengerti maksudnya. Kenapa replikanya doang? Kenaga ga sepaket dengan yang asli?

"Oya nona Hinata. Kau yakin tidak mengingat apapun setelah kejadian Orochimaru dengan Matsuri itu?" Kakashi melayangkan pandangannya ke arah Hinata yang tersentak kaget. Soalnya, dari tadi dia sedang bengong kayak sapi ompong—ralat, termenung mengingat kematian Matsuri.

"A-ahh! Eee…" Hinata menggerakkan bola matanya ke samping kiri dan kanan. Kini semua orang memfokuskan pandangannya ke arah gadis pemalu itu. Ia mulai memainkan jari-jemarinya.

"Setelah melarikan diri dari hadapan mereka.. A-ada tiga orang a-aneh y-yang mengejar.. W-waktu itu gelap, banyak semak-semak d-dan pepohonan.. S-salah seseorang dari mereka m-megang lenganku.. S-setelah itu.. Aku.." Hinata semakin menunduk dalam. Ia meremas Hakamanya.

Tsunade mengubah posisi duduknya, di tangannya masih tergenggam bola biru lumut itu. Ia menghembuskan napas.

"Bagaimanapun kita tidak bisa melepas pengawasan terhadap Hinata-san dan Suijin no Tenshuini. Aku pernah mendengar mengenai bola ini, hanya seorang Miko yang bisa menjaganya." Wanita berambut pirang yang di ikat dua itu menepuk-nepuk jidatnya, berpikir.

"Saya yang akan menjaganya."

Semua mata tertuju ke arah Hinata. Suaranya terdengar tegas dan berwibawa, tidak terbata-bata dan gemetar.

"Apa kau yakin?" tanya Tsunade sekali lagi, padahal tadi dia udah punya pikiran untuk menitipkannya ke kuil lain. Dengan yakin Hinata menganggukkan kepalanya, tidak ada keraguan yang terlihat dimatanya. Semua terlihat keheranan melihat sikap Hinata yang berubah. Gadis itu sadar lalu kembali menundukkan mukanya yang memerah. Masih Hinata yang lama toh…

Wajah Hiashi terlihat mengeras, ia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya. "Tolong jaga anakku Tsunade." Hiashi membelai rambut Hinata.

"Aku tidak yakin keselamatan Hinata akan terjamin di lingkungan Hyuuga. Walau penjaga di sekeliling rumahku banyak, namun lawannya kali ini adalah Orochimaru. Pria kejam itu."

Tsunade menutup matanya sebentar, "Baiklah. Hinata-san." Hinata melayangkan pandangannya ke arah Tsunade.

"Biasakanlah dirimu berada di klan Konoha."ujar Tsunade singkat. Hinata terdiam sebentar. Lalu menganggukkan kepalanya. Apapun yang dipilih ayahnya, dia tidak akan menolak. Karena ia yakin, ayahnya tahu yang terbaik bagi keluarganya.

"Maafkan ayah Hinata. Bukan maksud ayah untuk tidak menerimamu pulang. Ayah hanya khawatir akan keselamatanmu. Maafkan ayah…" dengan penuh penyesalan Hiashi memeluk Hinata.

"Tidak apa-apa. Aku mengerti, ayah." ucap Hinata berusaha riang.

Setelah mengobrol beberapa menit, Hiashi dan Neji pulang. Hinata melambaikan tangannya, di sampingnya berdiri Kakashi dan Tsunade. Tak jauh dari mereka, berdiri seorang laki-laki dengan rambut ravennya. Menatap dua Hyuuga yang menghilang dari balik gerbang dengan mobil mereka dan seorang Hyuuga yang sedang melambaikan tangannya.

"Heh.."

#####

Muna Himo (kalau gak salah): kain putih untuk atasan Miko

Hakama: bawahan Muna Himo yang berwarna merah. Celana panjang dan lebar.

Suijin: Kami of Water

Jinja: Kuil Shinto

Suijin no Tenshu : Bola dewi air

REVIEWS-:

tsuki-chan : Salam kenal juga! *nyengir* Tankyu compliment-nya~ Sip! Ini udah update~

yuraKanayoshi : Anda benar... Maafkanlah saiia... *netes air mata buaya* Sip! Disclaimer-nya ada! XD Iyap! Itu Neji~

nohiru hikari : Iyap. Bener sih.. Sebenarnya mau ngebuat General/Humor. Tapi jadinya Humor doang. Gomen eh~ *nyengir* Sip~ Ini udah update.

Ai HinataLawliet : Itu masih dipikirin, cuz, ini fanfic saya buat tanpa mikir XD Itu.. Karena Orochimaru mau ngambil Suijin no Tenshu kali~ Hehehe. Uih, itu Neji! Hueeeee, maaf! Sepertinya ada beberapa kata yang berbelit ya. Muaaf sebanyak-banyaknya! *bungkuk bungkuk* Kali aja dijodohin XD Sip! Ini udah update~

AUTHOR NOTE LAGI-:

Maaf bila mana chapter yang ini agak kurang berasa, tiba-tiba aja otot di otak saya macet. Mesti dikasih minyak dulu *sweats drop* Mohon maaf sekali lagi...