Mentari pagi menyelundup masuk melalui celah jendela, membangunkan Megumi dengan lembut dari tidurnya yang lelap. Wanita berambut dark blue itu menggeliat dan beranjak bangun dari kasurnya. Ia melirik alarm yang ada di sebelah ranjangnya dan Satoshi.
Jam 5 pagi.
"Sacchan, hari ini masuk siang, kan? Mau bangun jam berapa?" Tanya Megumi lembut.
"Ngg...jam 7 lah. Aku masih ngantuk~" Satoshi memasang muka bantal super unyu karena efek topi tidur yang ia kenakan.
Megumi tersenyum. Ia keluar dari kamarnya dan mempersiapkan segala keperluan pagi sang suami. Hal yang dilakukan Megumi pertama kali adalah menyetrika setelan jas kerja Satoshi, lalu mendidihkan air untuk membuat teh. Selanjutnya memasak nasi dan juga sup miso. Satoshi selalu makan pagi dengan menu yang ringan tapi mengenyangkan untuk sarapan pagi, ditemani minum teh hangat dan nonton berita pagi sebelum berangkat kerja. Satoshi bekerja sebagai jaksa, dan terkadang ia pulang larut malam dengan perut kelaparan karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Sarapan dengan porsi yang ringan namun mengenyangkan lumayan memberinya energi di pagi hari.
Dua minggu sudah Megumi dan Satoshi menikah. Dan ia begitu menikmati perannya sebagai ibu rumah tangga. Satoshi yang hobi berkebun menanam beragam macam sayuran di halaman depan, dan Megumi juga turut serta merawat kebun itu dengan segenap kasih sayang. Sayuran itu kadang mereka petik untuk dikonsumsi sendiri. Rasanya sangat segar.
Benar-benar pasutri yang hangat, sodara-sodara.
Bruuuuussssh...
Ceklek.
Megumi memandang pintu kamar mandi dengan hati yang agak doki-doki. Setelah ini mungkin ia akan melihat suaminya yang keluar dari kamar mandi dengan handuk di pinggang, body berkilauan karena titik-titik air shower dan muka ganteng maksimal yang akan mengatakan:
"Yo, Megumi. Aku pinjam kamar mandimu, ya! Eri-chan mandinya lama, aku mau ke katering hari ini."
Krik.
"KYAAAAAAAAA!" Megumi menjerit panik sampai tak sadar menjatuhkan piring plastik yang tengah dipegangnya tadi. "So...So...Souma-kun, ke...ke...kenapa bisa masuk?"
"Heh? Pintunya nggak dikunci." Si pria beralis bocak sebelah itu menyeringai lebar. "Ah, wanginya enak. Masak apa?"
"Ano...sarapan." Megumi tampaknya berhasil sadar dari efek syok yang diterimanya. "Sup miso, teh sama nasi."
"Lauknya apa?"
"Jamur shiitake yang sudah direbus pakai shoyu, mirin, sake dan dashi, lalu diiris tipis. Aku selalu buat banyak karena Sacchan suka banget makan itu buat sarapan."
"Good." Souma duduk dengan kaki nangkring di atas kursi makan rumah pasutri Isshiki. "Aku mau, dong!"
"I...iya..."
Megumi dengan canggung menyediakan satu set menu sarapan hari ini: nasi dengan irisan shiitake rebus dan daun bawang, sup miso dan teh hangat.
"Ittadakimasu." Souma memakan sarapannya dengan tenang dan khidmat.
Megumi melanjutkan acara beberes rumah. Ketika ia membuka gorden, ia melihat dua truk box besar parkir di sebelah rumahnya, rumah nomor 18.
"Souma-kun, komplek ini banyak penghuni baru, ya?"
"Hmm." Souma masih asyik mengunyah. "Namanya juga komplek baru. Aku dan Eri-chan salah satu penghuni lama di sini selain Pak RT Tsukasa. Sama si Aldini bersaudara. Dan Nikumi-chan. Setelah itu pasutri Marui dan pasutri Ibusaki yang tinggal di seberang kita. Rumah nomor 18 itu susah laku karena dengar-dengar rumah itu lebih kecil dibanding rumah-rumah yang lain."
"Yah, hal itu yang aku dan Megumin pikirkan saat kesini. Karena kita berencana punya anak banyak, jadi kita ambil rumah ini."
"Sacchan, Souma-kun ikut-"
Souma hampir saja keselek sumpit yang ia pakai sementara Megumi cuma bisa mengerenyit getir, seakan ironi kehidupan ini harus selalu ia lalui sampai akhir menutup mata.
Isshiki Satoshi, keluar kamar. Menemui Megumi dan Souma.
Hanya memakai topi tidur.
HANYA memakai topi tidur. Setelahnya, tak ada lagi atribut yang menempel di tubuhnya, which means doi telanjang bulat.
"Ohayou, Sacchan..." sapa Megumi enggan.
"Ke...ke...ke...kenapa Isshiki-san nggak...anu...itu...ada..." Souma gelagapan karena nggak biasa ngelihat 'gajah' lelaki dewasa lain secara live.
"Maaf, ya. Sacchan suka lepas baju kalau di rumah." Megumi membungkuk seraya meminta maaf.
"Cara minta maafmu normal banget." Souma cuma bisa sweatdrop dengan muka yang rada ungu karena belum pulih dari syok.
"Ahahaha, Souma-kun lucu, deh." Satoshi duduk di sebelah Souma. "Kayak grogi gitu liatnya. Kamu sendiri punya, kan?"
"I...iya, sih." Souma tertawa canggung. "Cuma kayaknya benda itu nggak bakalan kupamerin selain ke Eri-chan."
"Ah, Souma-kun bisa aja." Satoshi tertawa, mengucapkan terima kasih karena Megumi menghidangkan makan pagi porsinya. "Apa jangan-jangan Souma-kun minder dengan ukuranku?"
"Ah, masaaaa? Nggak juga. Aku bisa membanggakan kejantananku karena dapat membuat Eri-chan tunduk padaku!"
"Tapi sampai sekarang belum punya anak?"
Souma langsung dirundung awan mendung. "So...soal itu..."
"Mungkin belum rejeki." Megumi berusaha menghibur Souma dari ucapan menusuk kokoro dari suaminya. "Orangtuaku melahirkan aku setelah mereka 12 tahun menikah, lho."
"Maji?!" Souma tercengang.
"Iya. Selama dua-duanya tidak mandul. Banyak-banyak makan produk kedelai. Itu bagus buat kesuburan." Megumi mengisi kembali gelas Souma.
"Yosh! Aku akan terus berusaha!" Souma menandaskan sarapannya, berikut tehnya dalam sekali teguk. "Gochisousama deshita. Aku pamit dulu."
Megumi menutup pintu ketika Souma pergi. Dan setelahnya terdengar teriakan seperti 'Eri-chan, ayo bikin anak' dan sumpah serapah lain yang tidak begitu jelas terdengar.
"Megumin, sini temani aku sarapan."
Megumi mengangguk dan makan bersama Satoshi. Sang suami menaruh sumpit terlebih dahulu karena sudah selesai makan.
"Kita belum kunjungan tetangga, lho. Kita kan penghuni baru." Ucap Satoshi.
"Iya. Mau kapan?" Tanya Megumi sambil menyeruput sup.
"Kita ke sebelah, nomor 18 dan nomor 15 malam ini. Besok atau lusa kita ke tetangga sebrang."
"Kalau istrinya Marui-san dan Ibusaki-san, aku sudah ketemu beberapa kali di tukang sayur. Mereka baik banget, lho. Erina-san hampir nggak pernah ketemu, tapi itu karena dia kerja, kan?"
"Iya." Balas Satoshi. "Bagaimana tetangga lain?"
"Aldini bersaudara salah satu penghuni yang belum menikah. Shiomi-san juga, tapi dia punya anak angkat. Shinomiya-san tinggal paling ujung. Dan juga, kita harus ke rumah Tsukasa-san selaku ketua RT di komplek ini." Tutur Megumi.
"Rumah paling ujung di sebrang kita rumah siapa?"
"Ah, itu..." Megumi berusaha mengingat-ingat. "Rumahnya Mimasaka-san. Beliau juga belum nikah."
"Ahahaha...daftar kunjungannya banyak. Aku jadi nggak sabar."
"Ryou-kun, aku sudah pasang TV barunya di lantai 2."
"Hmm."
"Hari ini bikin eskrim, ah. Ryou-kun mau rasa apa?"
"Terserah Alice."
"Okeee. Nee, nee...aku belum bilang Erina kalau kita pindah ke komplek ini, lho. Biar surprise."
Lelaki yang bernama Ryou itu mengangkat muka dari gadget di tangannya. "Mau bilang nanti malam?"
"Kalau sekarang, cuma ada suaminya. Nggak gereget, ah." Istrinya, Alice hanya bisa menggeleng.
"Hmm."
Kurokiba Ryou dan Alice sudah menikah dua tahun yang lalu, dan baru bisa bersama seminggu terakhir karena terpisah benua. Alice bekerja di sebuah industri raksasa sebagai seorang food scientist, sementara Ryou adalah wiraswasta yang membuka bisnis online shop skala besar. Di masa remajanya, Kurokiba Ryou memenangkan gelar the most professional game player di kejuaraan permainan game online di Amerika. Uang hadiahnya ia pergunakan membuka usaha bisnis online yang membawanya ke indahnya passive income state.
Alice dulunya adalah salah satu pelanggan Ryou, mereka bertemu karena Alice memintanya mengantar barang pesanan wanita itu-atau bahasa gaulnya COD. Namun keduanya saling jatuh cinta pada pandangan pertama dan meneruskan hubungan lebih lanjut. Naasnya, sehari setelah pernikahan mereka, Alice dipindah tugaskan ke Denmark sementara Ryou memilih pulang ke tanah airnya dan menjalankan bisnisnya sendiri. Dua tahun menjalani long distance relationship, Alice yang tak tahan memilih dinas saja di Jepang agar bisa tinggal dengan penuh kebahagiaan bersama suaminya.
Di komplek Tootsuki.
"Tadi mau ke rumah pak RT Tsukasa, tapi katanya besok aja. Doi sibuk bingits."
"Yaudah. Besok aja." Balas Ryou pasif. "Aku belum nyetok barang lagi. Besok mau pergi."
"Kalau mau dropping atau loading barang, aku ikut, ya!" Seru Alice.
"Hmm."
"COD juga, ya."
"Nggak boleh."
Alice merengut. "Kenapaaa?! Habisnya Ryou-kun kalau COD sama orang selalu di mall, cafe atau tempat nongkrong! Aku kan juga mau ikut! Sekalian jalan-jalan! Nanti kalau ada cewek yang ganjenin Ryou-kun gimana?! Kasih aku alasaaan!"
Ryou mendesah lelah. Ia mengusap-ngusap kepala istrinya dengan lembut.
"1. Alice rewel. Minta pulang terus kalau COD. Apalagi kalau barang elektronik. Alice juga selalu memberi penjelasan nggak guna."
Alice masih manyun. "Kedua?"
"Kalau ada cewek yang ganjen, terus kenapa? Dimataku hanya ada kamu. Cewek yang mampu membuatku berpaling dari semua game. Dan dunia online."
Wajah Alice bersemu merah. Sang suami yang menjulang tinggi itu meraih tangannya dan menggenggamnya lembut.
"Nanti bantu aku tulis alamat. Dan bungkus barang orderan. Hari ini ada beberapa yang harus dikemas." Kata Ryou-amat sangat jauh dari kata romantis.
"Okeeee~" balas Alice, yang tetap saja cheerful overload. "Bungkusnya pakai kertas kado yang lucu-lucu, yaaa?"
"Hmm."
"Ryou-kun yang masak malam malam, ya!"
"Hmm."
"Aku mau shrimp katsu sandwich. Sama scallop ceviche. Sama tuna tataki juga. Mau makan paella dan molten cake juga."
"Alice rakus. Nanti gembul, lho."
"Biarin! Aku tinggal olahraga lagi dan akan kurus seperti semula."
Oke, sodara-sodara. Kita doakan saja semoga pasutri Kurokiba bisa tahan tinggal di kompleks Tootsuki sebagai penghuni rumah nomor 18.
Dan bisa menerima keluarga Yukihira apa adanya.
"Sa...Sacchan, aku sudah oke, belum?"
Satoshi tersenyum lembut, mengusap pipi istrinya. Mereka hendak melakukan kunjungan tetangga yang pertama, dan Megumi merasa gugup luar biasa.
"Sudah, sudah." Satoshi tertawa pelan. "Santai, honey. Aku sudah bawa baumkuchen untuk oleh-oleh."
"Baumkuchen dari toko di stasiun itu? Sacchan keren, itu kan enak banget! Ramai banget lagi antriannya."
"Ahahaha, aku dikasih sama bawahanku." Satoshi menggandeng tangan Megumi. "Ayo."
Mereka berjalan bergandengan menuju rumah nomor 18. Papan namanya tertulis Kurokiba.
"Permisi!" Megumi dengan pede memencet bel.
Ceklek.
Dari balik pintu muncullah seorang lelaki tinggi sterek dengan raut muka sangar bagaikan karakter antagonis legend di film aksi. Aura di sekitarnya hitam kelam. Ia menengadah saat memandang Megumi dengan raut muka tak senang.
"Haaah?!" Geramnya.
"Pe...pe...permisi...ka..ka...kaa...kami tetangga...ba..ba...baru..." Megumi mendadak ciut, badannya gemetar menghadapi lelaki itu.
"Ryou-kuuuun, siapa ituuuu?"
Pintu terbuka agak lebar dan menampakkan cewek bule mulus bohay yang mengenakkan celana pendek dan kaus pink berkerah.
"Tetangga baru. Katanya." Jawab lelaki itu.
"Tetangga?! Masuk, masuk!" Wanita itu mendepak si lelaki agar menjauh dari pintu.
Megumi dan Satoshi melangkah masuk.
Rumah nomor 18 itu memang lebih kecil daripada rumah mereka. Desain rumahnya sangat futuristik, dan banyak mesin-mesin aneh yang tampak asing bagi pasutri Isshiki. Sebuah TV layar datar yang agak melengkung sedang menayangkan acara reality show Korea. Banyak kardus dan peti kayu besar yang menumpuk rapi di ruang tengah. Tampaknya mereka belum selesai berbenah.
Wanita itu mempersilakan mereka duduk. Megumi cuma bisa menyumput di balik punggung suaminya karena wajah si kepala keluarga Kurokiba bahkan jauh lebih horror dari kenyataan bahwa Yukihira Souma bisa seenaknya masuk rumah pasutri Isshiki.
Oke, skip karena itu sudah out of topic.
"Maaf, ya. Ryou-kun sedang sakit gigi. Mulutnya bengkak, mukanya dan ngomongnya jadi seram. Tapi dia baik kok. Silakan, silakan."
Pasutri Isshiki mengangguk paham. Megumi baru bisa keluar dari balik punggung Satoshi karena melihat selembar koyo besar menempel di pipi kanan lelaki seram itu. Megumi mengerti sekali seberapa tersiksanya saat sedang sakit gigi.
"Terima kasih." Ucap Satoshi. "Namaku Isshiki Satoshi, dan ini istriku,"
"...Megumi desu."
"Kami tetangga sebelah kalian. Ini, ada oleh-oleh dari kami." Lanjut Satoshi sambil memberikan baumkucken yang dibawakannya. "Yoroshiku onegaishimasu."
"Wah, oleh-oleh!" Wanita itu menepuk tangannya. "Namaku Kurokiba Alice, dan ini suamiku Kurokiba Ryou. Aku ambil teh dulu, ya!"
"Maaf merepotkan." Jawab Satoshi.
Alice kembali tak lama, membawa baki berisi empat kotak teh kemasan yang baru keluar dari kulkas. Kue pemberian pasutri Isshiki dipotong-potong dan dihidangkan juga bersama teh kemasan itu.
"Sepupuku juga tinggal disini." Kata Alice. "Yukihira Erina."
"Wah, dia tetangga sebelah kami!" Balas Satoshi. "Rumah nomor 16."
"Tapi aku belum kasih tahu Erina kalau kita pindah kesini." Ungkap Alice. "Ah, Isshiki-san kerja apa?"
"Aku jaksa." Katanya sambil minum teh kemasan. "Sementara istriku ibu rumah tangga."
"Kau bersalah~" Alice pura-pura memimik Satoshi sebagai seorang jaksa. "Ahahaha, pekerjaan yang keren."
"Begitulah." Satoshi tersenyum. "Alice-san sendiri? Ibu rumah tangga?"
"Aku food scientist. Sementara Ryou-kun bapak rumah tangga."
Hening.
Isshiki Satoshi menyimpulkan kalau Kurokiba Ryou adalah seorang pengangguran. Terlihat jelas dari matanya yang memicing menatap lelaki seram itu.
Hening.
Megumi yang baik hati dan peka mulai berusaha mencairkan suasana.
"A...ano..." Megumi membuka teh kemasannya. "Mungkin apa maksudnya Ryou-san itu wiraswasta yang kerja di rumah?"
Ryou mengangguk. "Online shop. Main saham juga."
"Wah, keren!" Ungkap Megumi tulus. "Pasti Alice-san senang ya, disambut pulang oleh Ryou-kun."
"Iyaaaaa~" Alice memeluk lengan suaminya. "Kami baru bisa serumah kali ini. Kami sudah 2 tahun menikah, tapi harus pisah rumah karena aku dinas di Denmark."
Pasutri Isshiki mengangguk-angguk.
"Karena kita tetangga, kalau ada apa-apa hubungi kami, ya!" Ucap Satoshi.
"Mohon bantuannya." Pasutri Kurokiba membungkuk hormat.
"Nee, darling. Sudah malam, ayo kita pulang." Ajak Satoshi.
"Ha...hai. Terima kasih. Kami pamit dulu."
Pasutri Kurokiba mengantarkan pasutri Isshiki sampai pintu depan dan melambai melepas kepergiannya. Setelah itu, Alice menatap suaminya dengan pandangan khawatir.
"Ryou-kun, besok kita ke dokter gigi. Muka sakit gigimu sudah bikin takut tetangga, tahu!"
"Hmm." Ryou hanya bisa menggeram sambil mengangguk pelan.
"Tadaima."
Souma berbinar-binar ketika melihat istri tersayangnya pulang sambil membawa sekeranjang parsel buah.
"Wuaaa, apakah hari ini hari istimewa kita? Eri-chan, aku mau bagian favoritkuuuu~"
BUAAK!
Sebuah duren menghantam wajah coret-mupeng-coret—tampan Yukihira Souma.
"Makan tuh kulit duren. Pede banget." Sembur Erina pedas.
"Itte..." Souma meringis, berusaha meredam rasa sakit akibat hasil ciuman pertamanya dengan kulit duren. "Kalau bukan buatku, buat siapa?"
"Buat Ibusaki-san." Balas Erina. "Aku dengar dari Pak RT dia kecelakaan."
"Hoooh." Souma mengangguk-angguk. "Salam deh, buat Ibusaki-san. Bilang cepet sembuh."
Erina tercengang. "Lho, Souma-kun nggak mau ikut?"
"Nggak ah. Kadar kegantenganku berkurang setengah. Mana bisa seorang kepala keluarga Yukihira keluar dengan muka yang nggak ganteng maksimal?" Kata Souma sambil menyisir rambutnya ke belakang.
"Ganteng maksimal dari Hongkong? Muka amburadul gitu." Erina meyepet tanpa ampun.
"Siapa yang mukanya amburadul?" Souma menyeringai. Ia menyergap Erina dari belakang dan mulai menggrepe-grepe istrinya. "Hayoo?"
"Ngg...ahosouma...dame..." Erina merintih.
"Eri-chan memang merengek ke siapa kalau minta 'jatah'?" Bisik Souma. "Ke cowok yang mukanya amburadul ini, kan?"
"Nggh..."
"Eri-chan mau berhenti dikasih 'jatah'?" Souma mencium telinga istrinya.
"Dame..."
"Hayo bilang minta maaf..." Souma mengusap bibir Erina.
KRAUK!
"IIITTEEEE!"
Sebentuk ceplakan gigi sukses bersarang di ibu jari Souma. Ia berguling kesakitan sementara Erina sukses melepaskan diri. Ia merapikan kembali pakaiannya dan mengibaskan rambutnya dengan gaya super elegan.
"Denger, ya ahosouma! Suka-suka aku mau bilang apa! Dan jangan... ...umm...jangan ancam aku p...pakai 'jatah'. Itu nggak lucu."
Souma tertawa.
"Jangan ketawa!" Bentak Erina dengan muka ngambeknya yang khas. Matanya berkaca-kaca. "Aku...serius."
"Hai, hai my lady." Souma bangkit dan mencium pipi Erina. Ia juga merapikan sedikit pakaian istrinya. "Sana. Aku masih ada kerjaan."
"Ung."
Erina pergi sambil membawa parsel buah.
BLAM.
"Itteitteitteitteeee!"
Souma kembali bergulingan memegangi jempolnya. Rupanya aksi gentle tadi cuma akting belaka, sodara-sodara.
Readers kecewa.
"Sempak! Itu cewek apa siluman buaya, sih? Gigitannya kenceng banget, edan!" Keluh Souma.
"Takumi-niichaaaan~"
"Oni-chan, itu punyakuuuu!"
"Lariiii!"
Terlihat Ibusaki Shun, salah satu lelaki dengan predikat cowok paling kece di kompleks Tootsuki ini mengejar-ngejar ketiga anaknya yang berkeliaran di halaman depan dengan susah payah. Para tetangga yang melihat hanya bisa memandang dengan perasaan luluh bercampur iba. Ibusaki Shun pastilah lelaki tegar dan sabar. Benar-benar suami idaman.
Punya anak kembar tiga pasti capek.
"Coba lihat ini siapaaa?" Takumi Aldini menggendong anak tertua dari para triplets, Ibusaki Tsuyoshi. "Tsu-chan sudah mandi?"
"Sudaaah!" Jawab bocah itu semangat.
"Bravo!" Takumi memberikan permen untuk anak itu. "Ini buat Tsu-chan."
Takumi memberikannya permen. Anak itu minta diturunkan dan ia memasuki rumah.
"Maaf, aku sedang agak repot." Shun menggembol kedua anaknya yang setengah meronta bagaikan tengah membawa 2 karung beras. "Masuk saja. Yuki ada di dalam."
"Permisi." Ryoko dan Erina melangkah masuk duluan.
"Ryokocchi, Erinacchi!" Ibusaki Yuki melambai bahagia. "Senangnya kalian datang!"
"Aku dengar kakimu patah." Ryoko terlihat begitu khawatir. "Apa yang terjadi?"
Ibusaki Yuki—atau Yoshino Yuki nama gadisnya, adalah atlet panahan sekaligus professional hunter di salah satu supplier daging buruan, dimana hewan buruannya diternakkan secara massal di hutan buatan untuk keperluan olahraga hunting atau hewan buruan itu harus ditangkap dengan cara diburu. Pada suatu perburuan, Yuki terperosok parit dalam sehingga kakinya patah. Mendengar kabar itu, para tetangga di komplek Tootsuki akhirnya datang menjenguk.
"Sudah hubungi dokter? Atau mau dipanggilkan dukun patah tulang?" Tanya Erina khawatir.
"Sudah, kok. Shun meminta tolong bantuan Tsukasa-san, dan aku dibawa ke dokter bersamanya. Shun harus menjaga anak-anak." Balas Yuki.
"Permisi..." Megumi dan Aldini bersaudara masuk terakhir karena sibuk membantu Shun memasukkan anak-anak mereka ke dalam rumah.
"Takumicchi dan Isamicchi! Ada Megumicchi juga." Ucap Yuki riang. "Mana Soumacchi?"
"Ada kok." Erina tertawa getir. "Di bawah sumur."
Para tetangga tertawa hambar. Mereka tak pernah melarang ataupun menggubris komentar sarkasme Erina soal suaminya yang 'agak' ajaib itu.
"Aku bawakan susu tinggi kalsium." Takumi memberikan dua karton besar susu cair tinggi kalsium. "Semoga cepat sembuh."
"Hai, terima kasih, Takumicchi."
"Aku bawa obat dari toko Cina, khusus untuk patah tulang." Megumi memberikan sekotak obat semacam salep. "Dipakai sebelum tidur, ya!"
"Megumicchi perhatian banget, makasih!" Yuki menerimanya dengan senang hati.
"Fuaaaah." Shun mendesah lega ketika berhasil menggiring masuk anak-anaknya ke dalam rumah. "Akhirnya aku bisa istirahat."
"Punya anak kembar 3 pasti repot, ya?" Gumam Megumi.
"Aku jadi khawatir." Ryoko mengerenyit. "Aku tak terlalu suka anak kecil."
"Nanti kau juga akan merasakan jadi mama." Balas Shun. "Ryoko sebentar lagi juga melahirkan, kan?"
Ryoko mengelus perutnya yang buncit. Rupanya ia tengah hamil besar. "Dokter bilang mungkin satu atau dua bulan lagi. Masih lama."
Salah satu anak pasutri Ibusaki melompat ke pangkuan ayahnya dan menciumi pipi sang ayah.
"Hmm? Kamu mau apa, Atsushi?" Tanya Shun lembut.
"Nggak ada." Anak itu menggeleng. "Aku sayang tou-chan."
"Benar?" Shun memangku anaknya.
Anak itu mengangguk.
"Kalau gitu sini cium tou-chan."
Anak itu mencium pipi Shun. Sang ayah menimang-nimangnya dan balas menciumnya penuh sayang. Ia menurunkan anaknya dan membiarkannya berlarian di sekitar rumah. Shun mengawasi anaknya—tidak kelihatan seperti apa pandangan matanya. Duh, mz makanya potong poni!
Para ibu-ibu melihat Shun dengan pandangan berbinar.
"Ibusaki-kun keren banget!" Cetus Ryouko. "Super daddy~"
"Bisa ngurus 3 anak kembar tanpa pakai marah-marah itu nggak gampang, lho." Puji Megumi. "Pasti tingkat kesabarannya tinggi."
"Ibusaki-kun dekat sekali dengan anak-anaknya, ya. Bener-bener bapak idaman."
"Co...coba Souma-kun bisa kayak gitu."
Krik.
Krik.
Krik.
"Ka...kayaknya yang itu sih nggak mungkin." Celetuk Takumi.
"Aku bahkan nggak paham kenapa Erinacchi bisa tahan sama manusia begitu." Balas Yuki.
"Aku harap nanti anakku nggak seabsurd Souma-kun." Ryouko mengusap perutnya.
"Ehm...Erina-san, jangan terlalu digubris, ya." Megumi menghibur Erina. "Mereka kan tidak bisa melihat sisi lain Souma-kun yang cuma bisa dilihat Erina-san."
"Sisi lain apaan? Dia itu super nggak tahu malu, jadi apa yang kalian lihat itu adalah sisi aslinya Souma-kun. Hahahaha." Erina tertawa sadis.
Semua orang cuma bisa sweatdrop.
Shun menghidangkan teh dan camilan, lalu mereka semua mengobrol tentang banyak hal. Arisan bulan ini jatuh kepada rumah Tsukasa-san selaku ketua RT, dan akan diadakan hari jumat ini jam 7 malam.
"Minna, aku permisi dulu." Erina mohon pamit lebih dulu. "Aku harus buat soal ujian untuk besok."
"Yah, padahal lagi seru." Yuki dengan berat hati melambai. "Dadah, Erinacchi! Datang lagi, ya!"
Erina tersenyum dan berjalan pulang. Ketika memasuki rumah, ia melihat Souma sedang tiduran di sofa sambil nonton acara pertandingan sepak bola. Ia mengenakkan kimono tidurnya dilengkapi celana panjang gombrong yang membuatnya kelihatan 20 tahun lebih tua.
"Oh, okaeri, Eri-chan." Sambutnya hangat beriring senyuman.
Dengan mata berkaca-kaca, Erina menghambur ke arah Souma dan memeluknya erat-erat. Karena merasa ada yang salah, Souma hanya balas memeluknya.
"Ada apa, Eri-chan? Hmm?" Ia menepuk-nepuk kepala istrinya.
"Semua orang..." gumam Erina. "Semua orang selalu bilang Souma-kun itu orang yang aneh dan menyebalkan. Dan itu memang benar!"
"Haah? Terus apa masalahnya?" Tanya Souma—tetap tidak merasa bersalah atas kelakuannya terhadap para tetangga yang kadang suka bikin geger.
"Me...meskipun itu benar..." Erina meremas kimono Souma. "Aku...entah kenapa...aku jadi merasa kesal..."
Souma tersenyum kecil. Ia mengeratkan pelukannya kepada sang istri dan berbisik pelan.
"Biarkan saja mereka mau bilang apa. Meskipun aku tahu semua orang membenciku, setidaknya Eri-chan masih ada untukku."
Erina tidak berkata apa-apa. Ia malah membenamkan wajahnya di pelukan Souma lebih dalam.
"Urusai, ahosouma."
hai readers sekalian, ini pojok bacotan author yang (sayangnya) harus anda baca setelah membaca fic ini hohohohoho. Ya, seperti yang sudah tertera di atas tetangga baru komplek tootsuki adalah Nakiri Alice dan Kurokiba Ryou. Semoga mereka betah, ya. Dan sepertinya sudah revealed bahwa bapak Isshiki Satoshi tidak senormal yang kita kira. Mungkin komplek ini lama-kelamaan bakalan membuat persatuan kepala keluarga ajaib.
Okelah, readers sekalian. Daripada bacotan author semakin nggak jelas, lebih baik author akhiri saja sampai sini. Nantikan chapter selanjutnya ya, dadaah~
