A-yoo readers ! Author A.B.A.L in the house is back..back..back dengan Chapter duuuaaaaa ~ (author ngiklan)
Saya mengucapkan terimakasih banyak kepada readers yang banyak memberi masukan pada FF "Different Ability" Chapter 1 yang sangat amat abal penuh cela, dan banyak cacat (?) itu. Sepertinya saya memang bermasalah dengan huruf kapital. Nyahaha. Jadi saya mencoba dengan sangat untuk memperbaikinya di Chapter ini ^^
Semoga ke abal'an saya semakin berkurang ya guys '-'v
Dikarenakan Chapter 2 sangat singkat, jadi author akan gabungkan chap 2 dan 3 bebarengan (?). yeyyy ~
Oke HAPPY READING~ ^^
Note :
Menggunakan bahasa baku (maaf jika readers tidak memahami diksi/gaya bahasanya)
Alur membingungkan (perlu kecermatan tinggi untuk memahami alur penulis)
Typo everywhere ~ '-'v
DON'T BE SILENT READERS !
WARNING GENDERSWITCH OF KRISBAEK COUPLE
Cast :
Kris/Chanyeol/Tao : Boy
Baekhyun/Kyungsoo : Girl
.
.
.
Different Ability
(Chapter 2)
"Aku akan terbang keladang, kau ingin siput?" lagi-lagi Kris sangat yakin dengan kemampuan terbangnya.
"Ini sudah sore, ayo mandi." dan lagi-lagi juga Baek tidak mendengarkan Kris.
Hal-hal seperti ini yang nampaknya menjadi rutinitas dalam kehidupan KrisBaek. Kris yang imajinatif, dan Baek yang tidak memperdulikannya. Menjadi suatu intensitas yang sering dan membosankan bagi Baekhyun. Ia tidak pernah mau menanggapi kata-kata Kris sekalipun. Bahkan meskipun mimpi Kris terdengar menyenangkan.
Aku rasa mimpi Baek juga menyenangkan. Perbedaannya adalah, ada Byun Baekhyun dalam mimpi indah seorang Kris Wu. Tapi...tidak ada Kris Wu dalam mimpi indah Byun Baekhyun. Bahkan mimpi buruk sekalipun tidak. Kris Wu cukup menjadi realita dalam hidup Baek. Terlalu berlebihan jika ia juga mau menjamah mimpi-mimpi Baekhyun. Apa terdengar menyakitkan? Sangat.
"Rendahkan kepalamu !" sulit bagi Baek menjangkau kepala Kris meskipun ia sudah naik ke atas kursi kecil sekarang. Kris hanya sangat tinggi, tidak jarang dia teratuk ambang batas atas pintu saat melewatinya. Rumah singgah kami memang bangunan tradisional lama yang pendek untuk ukuran Kris, namun setidaknya cukup untuk tinggi badan Baek dan Kyungsoo. Tapi apa yang sedang mereka lakukan? Baek hanya berusaha menggosok belakang telinga Kris agar bersih. Mereka sedang mandi sekarang. Tidak, bukan mereka, hanya Kris yang mandi. Baekhyun memandikannya.
Kris terlalu jangkung ! Menundukkan kepala saja masih tetap sulit dijangkau oleh Baek. Kris menundukkannya lebih sampai menempel pada kening Baekhyun. berdiri berhadapan seperti ini adalah hal yang cukup nyaman untuk Kris.
"Hei, aku bisa basah kalau begini !" mengomel saja terus kau Byun Baekhyun, dia benar-benar tidak sabaran. Kris selalu hening dalam diam saat mandi. Terkadang Baek bingung, saat tidak sedang mandi saja ia bisa mengomel panjang lebar tentang naga dan penerbangannya itu atau mungkin menyombongkan diri tentang karya-karya gambarnya yang legendaris, biarkan saja, setidaknya Kris penurut, itu cukup agar tidak membuatnya semakin repot memandikannya.
Apa ada yang bertanya? Kenapa Kris tidak mandi sendiri saja? Biar aku menjawabnya. Perkembangan motorik yang lambat membuat ia menghabiskan waktu seharian hanya untuk melapas kancing bajunya. Kris tidak lumpuh, dia hanya lambat seperti zombie, dan Baek sangat tidak sabar dengan itu. Jadi Baek bukan tidak pernah mencoba menyuruh Kris mandi sendiri.
Apakah juga ada yang bertanya bagaimana Kris bisa menggambar? Jawabannya adalah, Kris benar-benar tidak bisa menggambar ! tidak sedikitpun ! Ingat dengan gambar 'analog kuno' yang Baek sebutkan? 'analog kuno' adalah kata-kata Baek untuk mendeskripsikan seberapa buruk gambar-gambar Kris untuk Baek terjemahkan. Dulu Kris tidak bicara banyak, hanya menggambar serangga ketika lapar. Dan jangan pernah tanyakan bagaimana bentuk serangga yang Kris gambar !
###
Aku telah sampai pada halaman 6 sekarang, menyeruput teh hangat sejenak lalu menulis lagi. Menulis apa? Siapa aku ini? Tenang, biarkan aku menulis kisah ini sampai selesai. Lalu kau akan tahu siapa aku.
Jadi belajar apa kita kali ini? Biar aku review.. sepertinya Kris belum mengeluarkan bahasa-bahasa anehnya lagi. Kalau begitu lanjut saja.
###
"Kau harus latihan mengancing baju dengan benar Kris." melakukan hal yang sama setiap harinya adalah membosankan, Baek yakin Kris akan berkembang jika Baek merubah sesuatu. Mungkin tidak melulu harus terpaku pada prosedur terapi. Memberi sedikit seni dan sentuhan kasih? Kasih sayang? Tidak tidak, Baek bukan orang seperti itu.
Kris nampak belajar, mengancingkan satu persatu kancing bajunya dengan lambat. "Begini?" setelah beberapa saat berjuang dengan itu, Kris menatap Baek dengan harapan Ia akan memperoleh senyum mewah Baek dari hasil kerjanya itu.
"Kau cukup cepat mengancingkannya, yaa setidaknya ketika kau mengancingkan kancing pertama dengan lubang kedua, lalu kancing kedua ke lubang ke tiga, ck." kesimpulannya, Kris gagal. Tidak ada senyum, tidak ada kehormatan ataupun kemewahan. Ketika tidak tahu apalagi yang harus Ia perbuat, Kris selalu menurunkan pensil dari lipatan telinganya. Terlihat seperti menulis sesuatu mungkin. Ah tidak ~ Kris tidak bisa menulis, terakhir Baek menyuruhnya menulis kedalam selembar kertas, Kris malah melubangi kertasnya. Memberi terlalu banyak tenaga kedalam pensinya.
"Aku akan ambil makan malammu." Baek bangkit berdiri dan akan berlalu, Ia berhenti dan menatap ekspresi wajah Kris. 'aku yakin Kris tidak memahami kata singkatku dengan jelas' pikir Baek. Ya, kenyataannya Kris tidak pernah menyukai kata-kata Baek yang singkat. Itu karena kata-kata Baek terdengar seperti Ia akan meninggalkannya tanpa ucapan selamat tinggal yang menenangkan hatinya. Kris terlihat sedih.
"Dengar, kau ingin serangga-serangga itu?" benar, serangga = lapar = makan. Mungkin Kris akan paham. Berharap mendapat respon positif, Baek memberi sedikit senyum. Hal yang sangat jarang ia lakukan selama ini. Ini benar, senyum Baek sangatlah mahal.
"Aku tidak lapar." jawab Kris. Astaga? Lapar? Bukankah itu kata-kata orang normal? Baek tersenyum senang mendengar Kris mengatakannya. "Dengar, kau harus makan." Baek mencoba membujuknya. Tidak biasanya Kris seperti ini. Dengan postur tubuhnya yang jangkung, ia bahkan bisa makan lima kali sehari. Dan tidak biasanya pula Baek membujuknya. Ia lebih suka membiarkannya saja. Tapi Baek sedikit khawatir dengan mimik muka Kris yang begitu sendu.
"Tidak." Kris kembali menggerakkan pensilnya diatas buku pribadinya. Baek terpikir sebuah cara ampuh membujuknya.
"Kris, apa kau ingin aku terbang mengambilkan serangga-serangga itu?" untuk pertama kalinya, Baek membalas segala khayalan-khayalan imajinatif Kris dengan hobi terbangnya. Baek merasa bodoh, tapi dia berfikir apapun agar Kris mau makan.
Ia menghentikan gerakan pensilnya. "Terbang?" ini dia respon yang ditunggu Baekhyun "Benar, kali ini aku akan terbang. Asalkan kau makan." Baek merasa bodoh mengatakan hal-hal konyol ini. Belakangan ini Ia merasa Kris semakin kurus, dia harus banyak makan. Pikir Baek khawatir.
"Kau tidak akan bisa terbang." apakah itu? Ia mengabaikannya? Kris mengatakannya kepada Baekhyun?
Baekhyun tersentak, ia merasa mengorbankan harga dirinya demi terlihat bodoh seperti Kris. Dan hasil yang Ia peroleh sungguh mengejutkan hatinya. Ia selalu merasa tinggi ketika didekat Kris, merasa hebat, merasa benar, tapi sekarang perasaan apa ini?
"Kauu!?" baek menggigit bibir atasnynya, memalingkan wajahnya penuh amarah dengan rahang membentuk garis keras, matanya terlihat tajam penuh kekalahan. Jantungnya serasa pindah kepelupuk matanya. Baek merasa seperti pecundang. Kris tidak pernah menjawabnya dengan kata yang menusuk seperti ini. Disisi lain, bukankah ini yang selama ini Baek lakukan pada Kris? Tidak menanggapi kata-kata Kris sebagai kata berbobot yang harus didengar adalah kebiasaan Baekhyun. Tapi ketika Kris melakukannya, beginikah rasanya? Merasa ditolak, di abaikan, terhina, terlecehkan? Atau? Apa?. Lalu bagaimana dengan perasaan Kris saat Baek tidak pernah menanggapinya? Bahkan berkali-kali, dan setiap saat. Mengabaikan Kris bukan menjadi hal yang mengagetkan.
'Masa bodoh, Kris idiot. Mana mungkin dia punya perasaan. Dia cacat dan bodoh. Bodoh !' Baek benar-benar kacau. Pikirannya penuh dengan amarah. 'Dia pikir dia siapa? Aku mengurusinya setiap hari, mengorbankan tenaga dan impianku ! Bahkan aku tidak bisa mengurus ibuku yang sakit hanya karena dia, Kris bodoh !' batin Baek bergejolak. Ia ingin berlalu dan pergi, tapi kakinya seperti terpaku ke lantai. Air matanya membeku dibawah kelopak matanya yang meradang. Merah, dan marah. Benar-benar marah.
"Maafkan aku Baek. Aku..maksudku.." suara Kris berbisik, hampir tidak terdengar. Baekhyun membatu, darah berdesir menghilang meninggalkan jantungnya, memompa kepedihan pengganti bara amarah. Benarkah ini? Apa Kris baru saja menyebut namanya?
Cukup lama Baek kembali tersadar. Hanya Tuhan yang tau sudah berapa lama mereka saling menatap satu sama lain. Mengatur nafas dan tubuhnya yang bergetar bingung, limbung, hatinya gontai, jantungnya terkulai, kakinya melemas. Merasa lebih bodoh dengan perasaan dan pikirannya yang meledak-ledak hanya Karena Kris mengabaikannya satu kali. Keheningan meradang dengan pikiran-pikiran Baek yang penuh. 'Rumah adalah suasana dimana kamu menemukan ketenangan hati, bersama hal-hal yang kau sukai' samar-samar terkenang kalimat pertama dari rangkaian kata yang pernah Ia susun untuk Kris ketika pertama Ia datang ketempat ini. Oh ~ Kris yang malang. Tersesat, linglung, membutuhkan. Bodoh dan membingungkan.
"Baek, kau baik-baik saja?" salah, ini benar benar salah. Baek berdebar-debar, seperti tulang-tulangnya serasa ingin lari meninggalkan daging dan otot dalam dirinya. Baek merasa lebih baik Kris tidak memanggil namanya. Sekarang perasaan macam apa lagi? Mendengar suara berat Kris memanggil namanya, seperti ada aliran listrik dalam tubuhnya, menggelitik gendang telinganya, munusuk-nusuk kerongkongannya. Ia berharap Kris berhenti saja memanggil namanya. Tatapan kebodohannya selama ini hilang, bukan Kris Wu bodoh yang biasa Baek rawat. Lebih tajam, gelap dan sangat dalam. Menakutkan dan memabukkan disaat yang bersamaan. Bagaimana orang linglung seperti ini membuat candu dalam setiap juntai tatapannya? Sial !
"Kris, aku mohon, hentikan." suara Baek sungguh lirih. Iya menyerah sekarang. Ini tidak benar, listrik itu menyengat semakin kasar kedalam jantungnya. Baek tidak ingin ini dilanjutkan. Ini harus berakhir!
Baek bangkit berdiri tanpa menatap Kris, berlari keluar ruangan. Menyusuri koridor demi koridor rumah singgah yang seharusnya tidak asing lagi baginya. Tapi ia tidak tahu harus kemana? Ini dimana? Baek sangat kacau. Baek benar-benar mengakhirinya. Ini sunguh-sungguh telah berakhir. Sesuatu menyadarkan Baekhyun, listrik-listrik itu membuat otaknya berfikir semakin keras. Menyibak hamparan memori yang tidak pernah tersirat di benaknya saat bersama Kris. Pikiran-pikiran itu seolah meneriakkan bahwa, 'Byun Baekhyun tidak benar-benar mengurus Kris tanpa kasih sayang, hanya saja Byun Baekhyun tidak mengenal Kris dengan Benar ! siapa Kris? Bagaimana dia? Dan apa penaruhnya untuk Baekhyun kecil yang kehilangan mimpinya dimasa dewasanya?' Semua orang berfikir Byun Baekhyun lah yang paling mengenal Kris.
Sesungguhnya kasih sayang entah bagaimana dan dari mana datangnya. Kris Wu datang dengan sejuta mimpi dan harapan baru dengan hidupnya yang baru bersama Byun Baekhyun ketika Byun Baekhyun sudah memiliki mimpinya sendiri. Baek tidak mengelak, dia tidak memaksakan mimpinya ketika tiba-tiba seseorang datang, mencoba bangkit dari kematian kecil dalam hidupnya yang panjang. Mimpi akan selalu berkembang, dengan siapa dan apapun itu. Baek mengerti sekarang, mimpinya telah berubah, mimpi-mimpi itu berkembang bersama orang-orang di sekelilingmu.
Kita tidak hanya tidur satu kali, tidak juga hanya bermimpi satu kali. Baek sudah memilih jalan yang tepat, dia memilih bangun dan menjalankan hal-hal indah yang baru bahkan sebelum Ia sempat memimpikannya.
Kasih itu murah hati, kasih itu rela menolong. Kasih itu tidak mementingkan diri sendiri. Kasih itu, kasih itu sabar.
Kasih itu, kebersamaan Kris Wu dan Byun Baekhyun menjadi satu kesatuan.
Melengkapi bahkan tanpa memahami.
Menyayangi bahkan tanpa menyadari.
Different Ability
(Chapter 3)
_Ctrl+save_
Aku rasa cukup untuk hari ini. Mataku terasa berat untuk mengetik lebih banyak. Kulihat samar-samar pada kaca jendela rumah tempat aku tinggal. Ku rasa aku mendapatkan kantung hitam ini lagi dibawah kelopak mataku. Ah tidak~ aku memang terlahir bersama bulatan hitam ini bersamaku.
"Sudah cukup?" suara tidak beraturan yang aku rindukan akhirnya muncul.
"Sebenarnya aku ingin menyelesaikan ini, tapi sudahlah. Mari kita istirahat. Kita sudah bekerja sangat keras bukan?" kami terkekeh bersama.
Bekerja didepan layar komputer terlalu lama tidaklah baik bagi kesehatan. Mungkin aku bisa bertahan karena aku masih sangat muda untuk terus berjuang. Tapi aku tidak akan seegois itu. Aku bisa saja terus menulis seperti ini, tapi aku harus sabar agar cerita ini menjadi benar-benar terkenang bahkan ketika aku sudah mewujudkan mimpiku sendiri. Lagipula, aku tidak pandai merangkai kata-kata indah yang membuat orang lain tersentuh. Jadi, kenapa aku menulis sebuah cerita sekarang?
"Jadi, sampai dimana kita?" aku duduk merapikan diriku didepan meja komputer, mempersiapkan telingaku seperti biasa. Aku tidak mau salah dengar sedikitpun. Sembari merapatkan dirinya didekatku, kakek mulai mengangkat pensil dari lipatan daun telinganya. Aku tidak tahu ini kebiasaan atau apa. Yang aku tahu, pensil yang sama setiap tahunnya selalu berada disitu. Bedanya hanya, dulu pensil itu masih kokoh tertopang pada daun telinganya, tapi sekarang pensil itu mulai sering jatuh dari tempat ia bersanding. Tidak heran, pensil itu sudah menjadi sangat memendek akibat sering diraut. Aku harap kakek akan menggantinya dengan yang baru.
Mendengar kakek mulai bicara, aku terbangun dari pikiran-pikiran dalam hatiku dan mulai mengetik lagi.
###
Kris tidak pernah melihatnya sejak saat itu. Mimpi yang selama ini ia bangun dengan ingatan akan senyuman Byun Baekhyun tidak akan memudar. Senyum yang menjadi kehormatannya, harga dirinya. Bagai sebuah ideologi dan paradigma kebahagiaan bagi seorang lelaki rapuh yang mencoba membangun kehidupannya kembali sebelum kematiannya. Kesalahan terbesar dalam reinkarnasi hidupnya adalah ketika dia memutuskan untuk memulai awal hidupnya yang baru dengan Jatuh Cinta . Ia patah, terluka. Apalagi kata yang dapat menggambarkan kehampaan hidup Kris saat itu. Kepedihan. Senyum bulan sabit yang selalu menjadi kehormatannya sungguh ia rindukan. Merindu Byun Baekhyun membuat Kris mampu melupakan angan-angan dan kemampuannya untuk terbang mencapai lagit seperti seekor naga kebanggaannya.
###
Kakek terdiam, membuatku menghentikkan jemariku yang menari-nari diatas keyboard. Aku bisa merasakan tubuhnya bergetar di sampingku.
"Kita bisa lanjutkan besok saja, kakek istirahatlah" bisikku saat membenarkan posisi syalnya yang terjuntai ke atas dadanya yang bidang.
Ini terlihat sulit baginya. Entah part apa yang sedang aku tulis. Apapun itu, ada gejolak emosi yang besar terpancar didalamnya. Seperti sengatan listrik statis atau apa? Ah tidak tahu, aku khawatir dengan kakek. Tubuhnya nampak jauh lebih tua dari usianya.
"Tidak, kita selesaikan ini Huang Zitao" oh ! kakek menyebut namaku? sungguh? Astaga, aku sangat gembira mendengarnya. Benarkah ini? Membayangkan dia mengejanya saja tidak pernah. Aku berjanji akan membuat ini mudah kek, batinku. Mungkin perasaan seperti ini juga yang dirasakan orang bernama Byun Baekhyun dalam cerita yang ingin kita selesaikan ini, apakah mungkin perasaan yang sama? Lalu sebenarnya , cerita apa yang sedang aku tulis ini?
Kakek terus menuntunku menulis cerita ini. Aku mengetiknya secepat yang aku bisa. Terkadang kakek berhenti sejenak menahan nafasnya yang menderu. Detak jantungnya terdengar lebih cepat. Aku tidak mengerti, ada ikatan apa kakek dengan cerita ini? Aku selalu menyuruhnya istirahat ketika ia sudah seperti ini. Tapi, siapa yang bisa menahan kakekku?
Perlahan Ia membuka sebuah buku catatan tua yang sangat usang, astaga~ apa itu? Aku pikir itu tidak bisa disebut sebagai sebuah buku. Tampak seperti alas untuk memotong daging naga saja. Batinku.
"Apa yang sedang kau pikirkan anak muda? Apa kau merasa ini seperti alas untuk memotong daging naga?" aku tersentak. Sial ! kakek tahu pikiranku !
"Jadi buku apa itu? Terlihat seperti.." aku mencoba merangkai kata sebelum kakek menghabisiku karena menghina buku yang selalu ia bawa kemanapun. Bahkan ketika tidur, pensil dan buku itu? Mungkin mereka berasal dari generasi yang sama. Aku menggaruk pipiku ringan.
"Lihatlah" dengan tangan bergetar, kakek memberikan alas pemotong daging naga itu kepadaku. Sungguh, aku sungkan membukanya. Aku takut merusak buku ini, terlihat sangat lemah dengan warna kertasnya yang sudah kuning kecoklatan. Dia membantuku membuka halaman pertama.
Wah , buku ini. Hal pertama yang aku sadari, buku ini tidak bergaris layaknya buku gambar. Apakah isinya sebuah gambar? Karena aku yakin kakek tidak banyak menulis.
Halaman pertama lebih tebal dari halaman lainnya. Hanya ada coretan kecil disana. Aku hampir mengabaikannya ketika tiba-tiba menyadari coretan itu, menatapnya dengan seksama. Itu bukan coretan ! itu .. aku yakin ini sebuah tulisan. Sebuah tulisan dengan huruf china. Tapi bagaimana kakek bisa menulis?
Kata bibi Kyungsoo, kakek hidup sendiri. Tidak bisa banyak berkomunikasi dengan orang lain. Tidak pandai mengungkapkan perasaannya. Tidak bisa menulis apapun, dan tidak bisa bicara dengan bahasa yang normal. Pernah aku mendengar kakek bersikap aneh. Dengan mata terpejam Ia menyentuh dadanya dengan kelingking dan terus menyebut kata 'siput'. Dia sering melakukannya, terutama pada senja hari di musim semi, ketika ladang menjadi lembab dan berembun. astaga~ aku bahkan tidak mengerti apa yg dia lakukan.
Sejujurnya aku tidak tahu banyak tentang kakek. Yang aku tahu, kakek hidup dengan bersahaja dan mengadopsiku tiga tahun yang lalu. Itu benar, aku tidak ada hubungan darah dengannya. Sebelum diadopsi kakek, aku sangat kesepian. Tinggal dirumah singgah dengan bibi Kyungsoo dan pasien fisioterapi lain. linglung dan tidak bisa mengingat apapun. Aku merasa asing disini, polisi berdatangan seperti harimau yang mengintai banyak keterangan dariku. Memohon, memaksa, mendesak. Aku tersiksa, apa yang mereka mau dariku? Sampai kemudian kakek datang dan memberiku harapan dan mimpi baru yang indah. Aku diadopsi tanpa sebuah keluarga utuh. Aku tidak perduli jika kakek tidak punya keluarga, yang aku tahu bahwa aku senang tinggal bersamanya.
Kakek adalah orang yang penuh misteri. Seharusnya aku memanggilnya ayah, tapi dengan keadaannya yang tampak renta, merasa tidak sopan memanggilnya begitu adalah hal yang wajar, mungkin. Lagipula dia tidak keberatan aku memanggilnya kakek. Sejujurnya aku tidak tahu pasti berapa umurnya, aku pikir seusia bibi Kyungsoo? Tapi bibi Kyungsoo terlihat segar dan bebas, tawanya sepanjang hari menyiratkan kalau aku-masih-umur-empat-puluhan. Tapi kakek? Aku tahu dia belum setua kelihatannya. Hanya saja tubuhnya yang kurus kering dan nampak malang membuatnya nampak seperti aku-laki-laki-yang-tidak-ingat-berapa-umurku-sekarang. Aku begidik ngeri memikirkannya.
Aku kembali membuka buku usang itu. Apa? Tentu saja buku kakek. Aku tidak tahu tulisan apa yang ada dihalaman pertama itu, jika kata bibi Kyungsoo benar maka tidak mungkin itu sebuah tulisan. Mungkin saja itu coretan biasa yang terlihat seperti huruf china. Pikirku.
Halaman kedua.
...
...
...
...
Aku terdiam membatu, seperti seseorang memasang lem perekat pada kursi yang kududuki. Seperti tenda lemah yang dipasangi pasak pada tiap tepinya. Seperti bangkai belalang yang tersangkut pepohonan karena hempasan angin. Ini sungguh tidak benar !. apa ini? bibi Do Kyungsoo salah ! mereka semua salah !
.
.
.
.
-TBC-
Aiii_yoooo Ge Ge ~ (?) *muncul dari balik tong sampah*
Bagaimana readers? Tidak bagussss? Kurang Panjang? Mau lagiii?
yaa itulah tadi Chapter 2-3 guys. how how? Author abal butuh saran dari readers sekalian. Yahh ketawan lagi dah abalnya '-' Xixixixi
Siapkan jempolnyaaa ~ dan dan dan...r.e.v.i.e.w rame-rame cuss ~ ^^
Jangan lupa gamesnyaa ya readers :D, selamat menebak ! ('-')/
BIG THANKS TO :
shinelightseeker; evaliner; 620; dan 0110alfin a.k.a Mrs Park
note : terimakasih atas dukungan, masukan dan saran reviewers tersayang. sangat membuat saya terharu (?) huhu
