Dikarenakan banyaknya request untuk sequel dari fic ini, akhirnya setelah satu tahun berlalu fic ini di-update dengan sequelnya!
Maaf kelamaan, author sendiri udah hiatus dari FFn hampir 7 bulan -_-"
Enjoy~! ^^
Disclaimer.
Hello Again…
*Kuroko Tetsuya*
Sudah hampir satu tahun berlalu sejak hari itu. Hari dimana keinginan terbesarku terkabul, dan hari dimana aku kehilanganmu…
"Akashi Seijuurou"
Kapten terbaik yang pernah kumiliki…
Waktu itu…
Waktu kau berjalan meninggalkanku, tapi kemudian kembali untuk menolongku…
Waktu kau menyandarkan kepalaku di pundakmu dan mencium keningku…
Waktu kau mengelus pipiku, dan dengan sebuah senyuman terakhir kau mengucapkan kata-kata perpisahan…
Semuanya…
Semua adegan pada hari itu tergambar jelas di otakku…
Aku mengingat semuanya dengan jelas seolah semuanya baru terjadi semalam…
Aku berusaha mengingat semuanya…
Wajahmu, suaramu, gerak tubuhmu, senyumanmu, semuanya…
Semua itu kulakukan agar aku tidak akan melupakanmu…
Agar jika suatu saat kau kembali lagi…
Paling tidak, akan ada satu orang yang menyambutmu…
Satu-satunya orang yang mengingat keberadaanmu…
Satu-satunya orang yang mengetahui bahwa seorang 'Akashi Seijuurou' pernah hidup di dunia ini…
Satu-satunya orang yang sangat mencintaimu…
Satu-satunya… Yang menangisi dirimu tiap malam…
Yang bersedia dikira gila oleh teman-temannya karena terus-menerus memikirkan orang yang 'tidak pernah ada' di dunia ini…
Aku, Kuroko Tetsuya…
…
Akashi-kun, apa kau tau?
Seberapa besar rasa sakit yang kurasakan setiap harinya?
Semua orang mengira aku gila…
Mereka mengira aku gila karena selalu memikirkan dirimu…
Tapi aku tau mereka salah. Semua orang melupakan dirimu, kecuali aku.
Ya, aku. Satu-satunya orang yang benar-benar percaya bahwa 'Akashi Seijuurou' memang benar-benar ada.
Aku percaya. Aku percaya, tapi…
Tapi, meskipun begitu…
Jujur saja, terkadang aku ragu…
Mungkinkah…
Mungkinkah dirimu dalam ingatanku ini hanyalah hasil imajinasiku saja?
Mungkinkah seorang 'Akashi Seijuurou' yang selalu menghantui pikiranku ini hanyalah halusinasi belaka?
Aku tidak bisa menyembunyikan keraguan ini…
Aku tidak mempunyai bukti akan keberadaanmu. Satu-satunya petunjuk yang kumiliki hanyalah ingatan ini…
…
Akashi-kun…
Apa kau benar-benar ada?
Bisakah aku mempercayai ingatanku ini?
Bisakah aku berharap bahwa suatu saat nanti kau akan kembali ke sisiku lagi…?
Aku memerlukan bukti bahwa kau benar-benar nyata…
Aku merindukanmu… Aku ingin bertemu denganmu…
Aku ingin merasakan kehangatanmu… Mendengar suaramu…
Dan melihat sosokmu sekali lagi…
Akashi-kun…
Kumohon… Kembalilah…
…
*Akashi Seijuurou*
Hampir satu tahun berlalu sejak keberadaanku dihapuskan dari dunia ini…
Dihapuskan dari ingatan semua orang…
Semua orang kecuali satu. Satu-satunya orang yang sangat kusayangi dengan segenap hatiku, segenap jiwaku dan dengan segenap akal sehatku…
Kau, Kuroko Tetsuya.
Satu-satunya orang yang mengingat keberadaanku…
Satu-satunya orang yang menangisi diriku setiap malam…
Ya, aku tau. Aku tau karena sejak hari itu aku selalu mengawasimu… Selalu berada di dekatmu, kapanpun dan dimanapun kau berada…
Tapi tubuhku kini hanya berupa roh.
Aku tidak bisa menyentuh maupun berkomunikasi denganmu…
Dan apa kau tau? Rasanya sangat menyakitkan…
Aku ingin menyentuhmu…
Aku ingin memeluk tubuhmu dan merasakan kehangatanmu…
Aku ingin membelai helaian rambut birumu itu…
Aku ingin menggenggam tanganmu…
Tapi apa daya, aku tak bisa…
Ketidakmampuanku ini benar-benar menyiksaku…
Saat kau menangis sendirian di malam hari, aku ingin berada di sampingmu, memeluk tubuhmu dan menghapus air matamu…
Saat kau nampak begitu rapuh, aku ingin menjadi orang yang menghiburmu dan mencerahkan kembali hari-harimu… Mengembalikan senyuman di wajahmu…
Saat orang-orang mengira kau gila, ingin rasanya aku menghajar mereka dan mengatakan bahwa kau tidak salah…
Kau benar. Kau selalu benar, Tetsuya…
Lalu mengapa? Mengapa kau meragukan keberadaanku…?
Kumohon, Tetsuya…
Aku ada di sini…
Aku tidak bisa berinteraksi denganmu, tapi aku ada di sini…
Aku selalu mengawasimu, selalu ada di dekatmu…
"TETSUYA!"
Tidak bisakah kau mendengar teriakanku yang terus-menerus meneriakkan namamu?
Teriakan frustasi ini… Tidakkah kau mendengarnya?
Tetsuya… Tetsuya…
Kumohon…
Jangan meragukan ingatanmu… Jangan melupakanku…
Hanya kau satu-satunya…
Satu-satunya orang yang sangat, dan paling berarti bagiku…
Kalau kau juga melupakanku… Maka aku…
Aku… Aku… Aku tidak tau lagi harus berbuat apa…
Oh, Tuhan…
Kalau Kau benar-benar ada… Kumohon kabulkan permohonanku ini…
Kumohon…
Pertemukan aku kembali dengan Tetsuya…
Kumohon…
Satu kali saja sudah cukup…
Satu kali lagi… Aku ingin mengatakan hal-hal yang belum sempat kukatakan kepadanya…
Aku tidak ingin dia tersiksa… Aku ingin dia bahagia… Aku ingin dia tau bahwa aku benar-benar ada…
Aku ingin dia tau… Bahwa aku mencintainya…
Kumohon…
.
.
Satu tahun.
Hari demi hari berganti, dan kini tepat satu tahun berlalu sejak hari itu.
Dengan kata lain, tepat satu tahun, hari peringatan menghilangnya Akashi.
Tentu saja, tidak ada yang peduli akan hal itu. Tidak ada yang tau bahwa Akashi Seijuurou pernah hidup di dunia ini.
Tidak ada, kecuali satu. Kuroko Tetsuya.
Hari ini dia akan pergi ke taman itu. Taman di luar stadium tempat dilaksanakannya Winter Cup tahun lalu.
Winter Cup tahun ini dilaksanakan di tempat yang berbeda. Karena jadwalnya dipercepat, Winter Cup tahun ini sudah selesai beberapa hari yang lalu.
Seirin, lagi-lagi, keluar sebagai juara pertama, Touou kedua, dan Kaijou ketiga.
Atas kemenangan itu, teman-teman Kuroko mengajaknya untuk merayakannya hari ini.
Dan tentu saja, ia menolak.
Dia akan kembali ke taman itu. Ke bangku taman bercat putih tempat dia kehilangan Akashi.
.
.
Kuroko baru saja keluar dari gerbang rumahnya saat dia berpapasan dengan Aomine.
"Ah, Tetsu."
"Ohayou, Aomine-kun."
Aomine mengamati pakaian Kuroko yang jelas-jelas menunjukkan bahwa dia akan bepergian hari ini.
"Hmm? Jadi karena ini kau menolak ajakan kami? Apa kau ada urusan yang lebih penting daripada merayakan kemenangan bersama teman-temanmu?"
Kuroko mengangguk lemah.
"Maaf. Bukan berarti aku tidak ingin merayakannya bersama kalian, tapi… Hari ini sangat penting bagiku, Aomine-kun…"
"Aku tau. Ini pasti sangat penting, kan?"
"Memangnya ada urusan apa? Paling tidak beritahu aku supaya kami tidak salah sangka, Tetsu."
"Ah, itu…"
Kuroko menundukkan kepalanya.
Takut.
Dia takut memberitahu alasan ini. Dia tau Aomine pasti akan marah saat mendengar alasan ini.
"Aku…"
"Aku akan… Pergi ke… Stadium Winter Cup tahun lalu…"
Aomine menautkan kedua alisnya.
Ya, dia tau. Dia tau apa yang terjadi disana. Tetsu sudah memberitahunya berkali-kali. Cerita tak masuk akal tentang seorang pemuda bernama 'Akashi'.
Sudah terlalu sering Aomine mendengar hal itu sehingga membuatnya muak.
"Oi, Tetsu. Kau pasti bercanda, kan?" geram Aomine.
Kuroko tersentak.
Aomine marah. Ia pasti marah.
"Apa kau serius?! Kau menolak ajakan kami untuk 'menjenguk' pemuda hasil imajinasimu, hah?! Sudah berapa kali aku mengatakan padamu kalau orang bernama 'Akashi Seijuurou' itu tidak ada?! Hadapi kenyataan, Tetsu! Berhentilah berimajinasi!"
Kuroko mengepalkan kedua tangannya dan menggigit bibir bawahnya.
Dia ingin melawan Aomine. Mengatakan bahwa semua itu tidak benar. Bahwa Akashi benar-benar ada, tapi…
Tapi dia sendiri sudah lelah melawannya… Bagaimana kalau selama ini dia memang salah? Bagaimana kalau Akashi Seijuurou memang hanyalah imajinasinya saja?
Alhasil, Kuroko hanya bisa diam di tempat dengan kepala tertunduk, tidak merespon.
"Tch. Sudahlah. Terserahmu. Lakukan apa yang kau mau."
Aomine pun pergi dari situ, meninggalkan Kuroko.
…
'Sakit…'
…
Setelah menempuh perjalanan cukup lama, akhirnya Kuroko sampai.
Kini di hadapannya terdapat stadium besar tempat ia memenangkan Winter Cup bersama teman-temannya tahun lalu.
Ia membuka pintu stadium yang kebetulan tidak terkunci itu dan masuk ke dalamnya.
Masih suasana yang sama seperti tahun lalu.
Saat dia menatap lapangan basket yang kini kosong di hadapannya, dia dapat membayangkan teman-temannya dan para anggota Rakuzan yang berlarian berusaha mencetak skor.
Ia dan Kagami melawan Akashi dalam Zone… Papan skor yang terus berganti… Waktu yang terus berkurang…
Dan saat waktu tepat menunjukkan angka nol, bel berbunyi dan ketakjuban melanda semua orang di stadium, hingga akhirnya Kagami berteriak dan semua orang pun bersorak-sorai…
Kuroko tersenyum kecil mengingat semua itu…
Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru lapangan, menyegarkan kembali ingatannya setahun yang lalu, hingga…
Pandangannya terpaku pada sesosok pemuda berambut merah yang berdiri di bawah ring basket.
Akashi. Ya, Akashi.
Sosok Akashi itu tersenyum lembut padanya.
Kaki Kuroko refleks bergerak, berlari menghampiri sosok itu, tapi…
Dalam satu kedipan mata, sosok itu menghilang.
…Dan Kuroko pun kembali dihadapkan pada kenyataan yang menyakitkan bahwa sosok yang baru dilihatnya hanyalah halusinasinya belaka.
"Halusinasi…ya?"
Ia menghela napas dengan berat dan berbalik, keluar dari stadium itu sebelum halusinasinya kembali mempermainkannya lagi…
"Tidak mungkin… Akashi-kun ada disini… kan?"
.
.
Di luar stadium, angin sepoi-sepoi berhembus, perlahan menggoyang-goyangkan ranting pohon sakura yang memenuhi taman.
Kuroko tersenyum pahit melihat taman itu.
Ia masih bisa membayangkan dirinya sendiri tahun lalu yang berlarian kesana-kemari mencari Akashi.
Ia masih ingat dengan jelas saat dirinya menemukan Akashi di bangku taman… Rapuh dan tak berdaya…
Dengan secercah harapan dalam hatinya, Kuroko berjalan menuju taman itu…
Dia benar-benar berharap agar dapat bertemu dengan Akashi di tempat ini…
Tidak peduli se-mustahil apapun itu, Kuroko tetap ingin mencoba. Segala cara akan dilakukannya untuk bertemu kembali dengan kaptennya itu.
.
.
Dengan sendirinya, kakinya berjalan menuntunnya menuju bangku taman tempat mereka berpisah.
Dan…
Betapa terkejutnya ia saat melihat sesosok pemuda beberapa meter di hadapannya.
Seorang pemuda berambut merah dengan tinggi hampir sama dengan Kuroko. Dia memakai seragam sekolah Teikou dan jaket Rakuzan dengan nomor 4 di belakangnya.
Pemuda itu duduk di bangku taman dengan mata terpejam dan tangan terlipat, kepalanya sedikit tertunduk, seolah sedang tidur.
Se-mustahil apapun hal ini, semuanya ini benar-benar nyata. Kuroko mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, mencubit lengannya sendiri, dan sosok pemuda di hadapannya tidak menghilang.
Ya, sosok itu. Sosok yang sangat dirindukan Kuroko.
Sosok yang benar-benar dicintainya… Sosok yang telah ditunggunya selama ini…
Sosok itu.
Tidak salah lagi…
Akashi Seijuurou…
Kuroko tak mampu berkata-kata. Matanya melebar, mulutnya menganga dan napasnya terhenti sejenak. Tubuhnya seolah membeku saat melihat sosok itu.
Dan saat keheningan menyelimuti mereka berdua, butiran-butiran putih perlahan jatuh dari langit.
Salju.
Salju pertama di tahun ini…
-déjà vu-
Sosok Akashi itu menghela napas — memusatkan perhatian Kuroko kembali padanya.
Ia perlahan membuka matanya — menampakkan sepasang bola mata crimson terindah yang hanya dimiliki oleh seorang Akashi Seijuurou.
Akashi menengadahkan kepalanya. Ruby bertemu dengan Azure.
Sebuah senyuman tulus langsung muncul menghiasi wajah tampannya itu saat melihat Kuroko.
Sementara Kuroko masih terlalu terkejut untuk dapat bergerak, Akashi menepuk bangku di sampingnya dan berkata,
"Aku merindukanmu, Tetsuya. Kemarilah."
Kuroko kembali tersentak.
Suara itu. Suara bagaikan alunan musik yang selalu terngiang dalam kepalanya.
Perasaan bahagia yang meluap-luap dari dirinya sekarang tidak cukup digambarkan dengan kata-kata.
Semua ini… Semua ini terlalu indah untuk menjadi kenyataan.
Dan itu membuatnya takut…
Takut, kalau dia bergerak, semua kebahagiaan ini akan berakhir…
Takut kalau semua ini hanyalah mimpi…
Dan ia akan terbangun dari mimpi ini jika ia bergerak…
Dia takut kalau Akashi akan menghilang lagi…
Dan kejadian yang sama akan terulang lagi…
Rasa bahagia dan rasa takutnya bercampur menjadi satu, dan tanpa ia sadari, air mata perlahan mengalir dari kedua bola mata azure miliknya.
Melihat air mata Kuroko, Akashi refleks bangkit berdiri menghampiri Kuroko. Dengan sigap ia mengelus pipinya dengan kedua tangannya dan menghapus tetesan air mata yang membasahinya.
"Tetsuya… Tetsuya…"
"Jangan menangis… Aku ada di sini…"
Akashi menatapnya dengan tatapan sendu dan senyuman tulus yang hanya ditujukan pada Kuroko seorang.
Merasakan hangatnya sentuhan jemari Akashi, air mata semakin deras mengalir membasahi pipi Kuroko.
Secara refleks, ia memeluk tubuh Akashi, membenamkan kepalanya di dada bidang sang kapten, dan menangis…
"Aka… Akashi-kun… Akashi-kun… Kau benar-benar kembali… Akashi-kun…"
Dengan lembut, Akashi membalas pelukan Kuroko dan mengelus-elus punggungnya.
"Aku kembali, Tetsuya. Maaf membuatmu menunggu."
Kuroko semakin mengeratkan pelukannya, memuaskan segala hasratnya untuk menemui sang kapten. Keraguannya lenyap seketika. Kesedihan dan kesepian yang dialaminya selama ini dalam sekejap diganti dengan kebahagiaan oleh kehadiran Akashi dalam pelukannya saat ini.
"Aku… Aku sangat merindukanmu… Akashi-kun…"
Akashi membelai helaian rambut biru Kuroko dan mencium keningnya.
"Aku juga. Aku juga sangat merindukanmu, Tetsuya."
Kuroko menengadahkan kepalanya, menatap wajah Akashi yang balas menatapnya.
"Ini… Nyata, kan?"
"Akashi-kun… Aku bukan sedang bermimpi… kan?"
Dengan kedua tangannya, Akashi menghapus jejak-jejak air mata di pipi Kuroko dan mencium pipinya.
"Ini nyata, Tetsuya."
"Aku, Akashi Seijuurou, benar-benar nyata. Aku kembali untuk meyakinkanmu akan hal itu."
"Maaf… Seharusnya aku tau kalau kau benar-benar nyata… Maaf karena sudah meragukanmu, Akashi-kun…"
"Tidak apa-apa… Justru aku yang minta maaf karena tidak pernah ada di sisimu saat kau membutuhkanku…"
Mengingat masa-masa saat dia hanyalah 'roh' di samping Kuroko yang tak mampu menyentuhnya, tatapan mata Akashi berubah sayu.
"Tapi sekarang aku ada di sini, di sisimu. Kau tidak perlu merasa kesepian lagi, Tetsuya."
Kuroko tersentak, teringat akan sesuatu.
Secara refleks dia langsung menggenggam tangan Akashi, dan berkata,
"Aku perlu memberitahu yang lainnya! Mereka… Mereka semua melupakan Akashi-kun… Aku harus mempertemukan kalian… Dengan begini mereka semua akan percaya padaku…"
Tapi saat Kuroko menarik tangan tersebut, Akashi menahannya dan menggelengkan kepala pelan.
"Tidak, Tetsuya… Aku… Aku tidak bisa bertemu dengan mereka…"
Mendengar pernyataan Akashi, Kuroko mengeratkan genggaman tangannya, seolah takut kalau Akashi akan menghilang dari hadapannya.
"Tapi… Kenapa?"
Akashi hanya bisa menatap Kuroko dengan sebuah senyuman pahit, menggelengkan kepala dan menghela napas.
"Akashi-kun… Kenapa?"
Akashi mengedarkan pandangannya, seolah berusaha mencari alasan untuk menghindari pertanyaan ini.
"Tetsuya, ikut aku."
Nada memerintah itu masih tertinggal dalam kalimat Akashi. Seberapa penasaran pun Kuroko, Ia tidak bisa menolaknya.
Akashi menarik Kuroko ke dalam stadium, ke tengah-tengah lapangan basket. Ia mengambil sebuah bola yang tergeletak, dan melemparkannya pada Kuroko seraya membuka jaketnya.
"Maukah kau one-on-one denganku, Tetsuya?"
Kuroko bergantian menoleh antara Akashi dan bola basket di tangannya.
Ia ingin menolak, tapi melihat ekspresi sang kapten yang menatapnya penuh pengharapan, ia tidak mungkin menolak.
"Tentu saja, Akashi-kun."
.
.
Lapangan basket yang awalnya kosong itu dipenuhi suara decit sepatu dan pantulan bola basket.
Tak ada satupun kata yang keluar dari mulut mereka. Gerakan dan ekspresi saja sudah cukup untuk menjelaskan semuanya.
Berapa kali pun diulang, Kuroko selalu kalah.
…Atau lebih tepatnya, dia sengaja mengalah.
Karena, terakhir kali dia menang melawan Akashi, Akashi langsung menghilang dari hadapannya.
Dan Kuroko tidak ingin merasa kehilangan untuk kedua kalinya…
.
.
Hampir setengah jam berlalu, dan mereka sudah duduk di tengah lapangan basket, saling memunggungi satu sama lain.
"Kau sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, Tetsuya…"
"Tapi ini belum cukup untuk mengalahkan Akashi-kun…"
Tidak, justru sebenarnya Kuroko sudah bisa mengalahkan Akashi yang sekarang.
Belum sampai 30 menit bermain, keringat sudah bercucuran dari tubuh Akashi. Dan sekarang napasnya sudah terengah-engah. Sementara Kuroko masih sanggup bermain sekitar beberapa menit lagi.
Tubuh Akashi sudah jauh lebih lemah dari sebelumnya.
.
.
Kini mereka kembali berjalan di taman luar stadium.
Dengan santai mereka membicarakan tentang hal-hal yang terjadi selama Akashi tidak ada. Kuroko dengan semangat menceritakan pertandingn-pertandingannya melawan para kisedai, dan segala peristiwa lainnya yang terjadi. Akashi mendengarkan dengan sabar, sesekali mengangguk, tersenyum, bahkan tertawa.
Kuroko bahkan sudah melupakan fakta bahwa seorang 'Akashi Seijuurou' seharusnya sudah dihapuskan dari dunia ini.
…Dia melupakan fakta bahwa orang yang sudah mati tidak akan hidup lagi.
.
.
"Jadi… Akashi-kun, sudah hampir dua jam kita disini. Bagaimana kalau kita pulang?"
Topik pembicaraan yang tiba-tiba berganti itu sontak membuat Akashi tersentak.
"Entahlah, Tetsuya. Aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu di sini sebentar lagi…"
Kuroko hanya bisa mengangguk pelan mendengar jawaban sang kapten, dan mereka pun duduk di bangku taman putih, tempat mereka berpisah tahun lalu...
.
.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan di bangku taman itu, di antara mereka berdua, sementara salju yang jatuh perlahan mulai menghiasi taman dengan butiran-butiran putihnya.
"Tetsuya…"
"Ya?"
Kuroko menoleh, namun Akashi menundukkan kepalanya, seolah tak ingin menatap Kuroko. Ada keraguan dalam nada suaranya saat dia bertanya,
"Selama satu tahun ini… Apa yang kau rasakan? Bagaimana… Perasaanmu saat aku tidak ada?"
Kuroko sedikit kaget mendengar pertanyaan itu.
Setelah berpikir, mencari kata-kata yang tepat, akhirnya, dia tersenyum pahit dan menjawab,
"Sakit. Sangat-sangat sakit."
"Hanya aku yang tahu soal Akashi-kun. Rasanya seolah-olah aku tenggelam dalam dunia imajinasiku, dan aku tidak bisa — tidak mau — keluar. Aku sendirian. Bahkan Kagami-kun dan Aomine-kun sering menegurku. Aomine-kun justru pernah meninjuku sekali. Dan yang lainnya hanya memberiku tatapan prihatin, seolah aku ini sudah gila."
"Rasanya sangat menyakitkan."
Kuroko tertawa kecil lalu menatap Akashi dengan sebuah senyuman lembut.
"Tapi sekarang aku baik-baik saja."
"Semua rasa sakit itu tidak sebanding dengan kebahagiaanku saat bertemu kembali dengan Akashi-kun."
"Jadi Akashi-kun sama sekali tidak perlu mengkhawatirkan aku."
"Aku bukan Kuroko Tetsuya yang cengeng lagi."
Akashi ikut tersenyum mendengar jawaban Kuroko. Sebuah senyuman pahit, seolah-olah dia sedang berusaha menahan rasa sakitnya sendiri.
"Jadi… Tetsuya…"
"Bagaimana kalau…"
Akashi menelan ludah, tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
"Hmm?"
Kuroko hanya bisa menatap Akashi penuh tanya. Firasat buruk mulai menyelimutinya. Dalam hati ia hanya bisa berdoa agar kata-kata yang akan diucapkan sang kapten bukanlah sesuatu yang buruk.
"Tetsuya…"
Akashi menarik napas panjang dan memejamkan matanya.
"Tetsuya… Aku…"
"Bagaimana… Kalau… Aku…"
Suaranya tercekat. Ia menggenggam erat pinggiran bangku dengan kedua tangannya.
"Kalau aku… Pergi… Meninggalkanmu…"
Akashi menggigit bibir bawahnya, seolah berusaha menahan agar kata-kata itu tidak keluar.
"…Selamanya…?"
Sekujur tubuh Kuroko melemas seketika. Seolah seluruh sisa energi dalam tubuhnya terkuras habis mendengar ucapan Akashi.
"A-A-Apa… Maksudmu… A-Akashi-kun…?"
Akashi memalingkan wajah, tidak sanggup menatap wajah Kuroko yang jelas-jelas menunjukkan rasa sakit.
"Maaf, Tetsuya… Aku tidak bisa tinggal di dunia ini…"
"Akashi Seijuurou sudah dihapuskan dari dunia ini tahun lalu… Aku bisa bertemu denganmu karena ini adalah permohonan terakhirku sebelum aku benar-benar menghilang…"
"Maaf…"
"Sungguh, aku minta maaf… Aku ingin bersamamu, tapi—"
"DIAM!"
Akashi tersentak.
Kuroko membentaknya.
Seorang Kuroko Tetsuya baru saja membentak seorang Akashi Seijuurou.
"T…Tetsuya…?"
"Diam!"
"Tetsuya… Aku…"
"Diam! Jangan bicara lagi!"
"Jangan meminta maaf padaku… Jangan berkata seolah kau akan pergi meninggalkanku lagi… Jangan…"
Kuroko terisak. Dan Akashi baru menyadari bulir-bulir air mata yang mulai mengalir dari mata Kuroko.
"Akashi-kun… Aku tidak ingin berpisah denganmu… Tolong jangan pergi… Kumohon… Aku mohon dengan sangat… Jangan tinggalkan aku lagi…"
"Tetsuya…"
Kuroko mengangkat sebelah tangannya dan menempelkan telunjuknya di bibir Akashi.
"Aku tidak akan memaafkanmu. Kalau kau meninggalkanku lagi, aku tidak akan pernah memaafkanmu…"
Sakit.
Rasanya seperti diiris-iris.
Kata-kata itu menusuk begitu dalam, hingga Akashi hanya bisa meringis.
"Tetsuya…"
"Setidaknya biarkan aku meminta maaf karena membuatmu menangis…"
"Air matamu setiap hari… Itu semua salahku, kan?"
Kuroko tidak menjawab.
"Air mata itu…"
"Tetsuya… Apakah kehadiranku membuatmu bersedih?"
Kuroko hanya bisa menggeleng pelan. Ia masih terisak dan menoleh ke bawah, tak sanggup menatap wajah Akashi.
"Akulah penyebab air matamu setiap malam… Aku yang menyebabkan kesedihanmu bertumpuk setiap harinya… Akulah alasan mengapa teman-temanmu menegurmu… Aku…"
"Aku yang membuatmu tersiksa seperti ini…"
Kuroko refleks mengangkat wajahnya menatap Akashi. Mulutnya terbuka ingin memprotes, tapi kini giliran Akashi yang menempelkan telunjuknya di bibir Kuroko.
Sambil tersenyum pahit, ia berkata,
"Kalau kehadiranku dan ingatan tentang diriku membuatmu tersiksa seperti ini…"
"Tetsuya…"
"Tolong…"
"Lupakan saja aku…"
Setiap kata yang keluar dari bibir Akashi diliputi kesedihan yang mendalam, seolah-olah dia sendiri tidak ingin mengucapkannya.
Sebelum Kuroko sempat memprotes,
Akashi langsung menempelkan bibirnya ke bibir Kuroko, mendaratkan sebuah ciuman singkat, di tengah air mata mereka berdua.
Akashi memeluk tubuh mungil Kuroko dengan erat, menumpukan dagunya di bahunya, dan berbisik ke telinga Kuroko,
"Karena ini kesempatan terakhirku bertemu denganmu, aku diberi kekuatan spesial…"
"Orang yang kucium sebelum aku menghilang akan kehilangan segala ingatannya tentang diriku…"
"Tidak terlalu buruk sebagai hadiah perpisahan, bukan?"
Suara Akashi sendiri bergetar saat ia mengucapkan kalimat itu.
Kuroko merasakan tetesan hangat di bahunya.
Akashi juga menangis.
Kuroko ingin memprotes, tapi tak ada kata yang dapat keluar dari bibirnya. Semuanya seolah terkunci rapat oleh ciuman barusan.
"Maaf, Tetsuya…"
"Aku tidak akan memintamu untuk memaafkanku… Karena aku tidak akan memaafkan diriku sendiri karena sudah membuatmu menangis…"
"Tapi aku akan lebih membenci diriku sendiri kalau membiarkanmu hidup seperti ini terus… Aku tidak ingin membuatmu terbebani oleh ingatan tentang diriku…"
"Kalau ingatan itu menyiksamu… Maka lupakan sajalah aku…"
"Saat kau melupakanku…"
"Aku yakin…"
"Kau akan tersenyum…"
Kuroko memeluk Akashi erat-erat.
Dia tidak ingin melupakan Akashi.
Tapi jauh di dalam lubuk hatinya, dia tahu bahwa perkataan itu benar.
Saat dia melupakan Akashi, dia akan tersenyum…
Ironis, memang.
Tapi itu adalah fakta.
Seberapa besar pun keinginan Kuroko untuk menolaknya, hal tersebut tetaplah fakta.
"Akashi…kun…"
…Dan kejadian yang sama terulang lagi.
Perlahan, tubuh Akashi berubah menjadi serpihan-serpihan kecil bercahaya, yang menghilang perlahan bersamaan dengan butiran salju yang jatuh.
Air mata mengalir deras membasahi pipi mereka berdua.
…
*Akashi Seijuurou*
Sejujurnya…
Aku tidak ingin kehilanganmu…
Aku tidak ingin kau melupakanku…
Aku tidak ingin… Kau melupakan segala kenangan kita selama beberapa tahun ini…
Dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku ingin kau mengingatku…
Aku ingin kau menjadi satu-satunya orang yang mengetahui bahwa aku pernah ada di dunia ini…
Tapi, aku tidak boleh egois…
Justru ingatan tentang dirikulah yang menyiksamu selama ini.
Aku membuatmu menangis.
Suatu kesalahan fatal yang telah kulakukan…
Aku ingin kau mengingatku, tapi…
Aku tidak ingin kau tersiksa…
Kebahagiaanmu adalah prioritas utama bagiku.
Jadi…
Kalau air matamu menetes karena diriku, lupakan sajalah aku…
Buang saja segala ingatan tentang diriku kalau itu membuatmu menangis…
Lupakan aku…
Dan berbahagialah…
Saat kau melupakanku… Aku yakin kau akan tersenyum…
Selamat tinggal…
Aku mencintaimu…
...
*Kuroko Tetsuya*
Sejujurnya…
Aku tidak ingin kehilanganmu…
Aku tidak ingin melupakanmu…
Aku tidak ingin… Melupakan segala kenangan kita selama beberapa tahun ini…
Dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku ingin mengingatmu…
Aku ingin menjadi satu-satunya orang yang mengetahui bahwa kau pernah ada di dunia ini…
Tapi… Semua ini terlalu menyakitkan…
Aku menikmati setiap detik saat kita bersama…
Dan aku menangisi setiap detik saat kau tidak ada di dekatku…
Jika kau akan meninggalkanku selamanya…
Haruskah aku juga menangisimu seumur hidupku?
Jika aku tidak akan pernah melihatmu lagi…
Haruskah aku hidup dalam bayang-bayang akan ingatan dirimu yang tersenyum padaku?
Ini menyakitkan…
Aku tidak cukup kuat untuk melupakanmu…
Tapi aku juga tidak ingin disiksa oleh ingatan-ingatan indah tentang dirimu…
Jadi…
Kalau kau bisa menghapuskan ingatanku, aku akan berterima kasih…
Aku tahu aku mungkin terdengar egois...
Tapi rasa sakit dan rasa cintaku padamu tidak bisa menyatu.
Saat aku memilih untuk mencintaimu, maka rasa sakit ini akan terus berkembang.
Dan saat aku memilih untuk melupakanmu, maka rasa sakit ini akan pergi bersama dengan ingatan tentang dirimu...
Aku ingin mencintaimu... Tapi aku sudah tidak sanggup menghadapi rasa sakit ini...
Jadi...
Aku memilih untuk melupakanmu...
Maaf...
Selamat tinggal...
Aku mencintaimu...
...
…
Di hari yang sama, tempat yang sama, Kuroko Tetsuya kehilangan Akashi Seijuurou untuk yang kedua kalinya…
Untuk kedua kalinya mereka berpisah...
Namun kali ini...
Perpisahan itu dihiasi dengan senyuman...
Walaupun menyakitkan... Mereka tahu bahwa inilah yang terbaik...
...
…
several months later…
"Oi, Tetsu!"
"Ya?"
"Apa sesuatu terjadi padamu?"
"Hmm? Apa maksudmu, Aomine-kun?"
"Entahlah, maksudku… Belakangan ini kau nampak lebih… Ceria."
"Huh? Bukankah aku memang selalu seperti ini?"
"Err, tidak. Sebelumnya kau lebih… Murung."
"Benarkah?"
"Iya, dan, kau tidak pernah lagi mengungkit soal pria basket berambut merah yang selalu kau ceritakan padaku itu."
"Pria basket berambut merah? Kagami?"
"Argh, bukan. Aku lupa siapa namanya… A… Aka… Ah! Akashi! Ya, Akashi Seijuurou, kalau tidak salah."
"Akashi?"
"Akashi Seijuurou?"
"Siapa itu?"
...
"Hello again..."
"and..."
"Goodbye..."
~End~
TAMAT!
sekian sequel dari fic ini~
entah ini happy-end atau sad-end, tergantung bagaimana sudut pandang para reader sekalian...
Mind to RnR? segala kritik-saran akan diterima dengan senang hati :D
