Tittle : My Guide Tour

Main Cast : Kim Jongin and Wu Yifan

Rate : T

.

.

.

Jongin berjalan menelusuri lorong kampus dan bertemu dengan dosen pembimbingnya pada pagi itu. Laki-laki tan yang sedang berjalan dan menyedot beberapa perhatian mahasiswa baru itu teringat beberapa waktu lalu dimana Yifan mengucapkan kata taboo dalam hidupnya. Selang sebulan setelah peristiwa itu, kenapa dia tidak ada komunikasi. Mungkin terlalu lama untuk Yifan berada dalam kurun waktu yang tak singkat hanya untuk menjelajah kota seperti Busan. Sejak memutuskan untuk aksi-protes-dengan-mogok-makan-dan-mengurung-diri, Tuan Kim menyetujui permintaan Jongin untuk berhenti menjadi personal guide tour laki-laki 27 tahun tersebut. Untung saja, Yifan tak menolak ketika Kim Jongdae kembali menjadi guide tournya yang cukup membosankan dan ia memilih untuk mempercepat tanggal kepulangannya ke Kanada lima hari setelahnya.

Jantung Jongin sedikit berdekat cepat saat itu. Ia tak memiliki nomor ponsel, ataupun alamat si kepala pirang tersebut setelah Yifan kembali ke Kanada tanpa mengucapkan sepatah katapun.

"Argh! Menyebalkan!"

Menggerutu tak jelas adalah salah satu kegiatan yang ia lakukan akhir-akhir ini dengan sering. Jongin memang populer, dengan keahilannya menaklukkan lantai dansa pump di game center se antero Busan, ia belum pernah diperlakukan seperti itu, maksudnya mencium-tanpa-permisi. Yifan telah merebut first kiss-nya yang ia deklarasikan akan menjadi milik istrinya kelak. Yeah, kau bertemu manusia modern berotak tua, seperti Kim satu ini.

Kampus itu terlihat sedikit lenggang di bagian utara gedung, mahasiswa tetap sepertinya ini seharusnya sedang menikmati hari-hari terakhir masa libur mereka. Orientation Day di kampusnya sudah berjalan dua hari ini, membuat seperempat luas kampusnya dipenuhi dengan seragam putih dan hitam khas mahasiswa baru. Konyol. Bahkan Jongin meninggalkan acara orientation day nya saat hari kedua dan berujung di game center. Ia membenci peraturan yang sangat teoritis. Setidaknya ia tak perlu pergi sendirian karena siswa-yang-mempunyai-nilai-dibawah-rata-rata-sama-dengannya itu wajib lapor dengan dosen pembimbing mereka.

.

.

Jeonpo Catholic Church yang terletak di satu pemukiman yang menghadap Busan Cinema Center, menaranya yang ramping menjulang di atas pepohonan. Walaupun letaknya menghadap salah satu tempat public yang sering dikunjungi penduduk sekitar, gereja itu sedikit sepi. Jongin memperlambat langkahnya keluar area gereja, setelah menyelesaikan ibadahnya.

Malam ini, jalanan sedikit renggang dan kering. Langkah kaki Jongin menuju Cinema Center itu tak terhenti, walau pikirannya benar tak ada disana. Setelah memasuki gedung yang besar dan cukup ramai pada malam sabtu itu, ia bergegas untuk melihat beberapa poster yang tertempel di ruangan sepanjang studio. Ia meneliti benar film apa yang ingin ia tonton. Ia sedikit menepuk pipinya pelan dan mengucek mata ketika dirinya berada di depan poster besar film dari China berjudul, Somewhere Only We Know. Ia memajukan dirinya untuk membaca nama pemain yang tertera di bawah poster itu, tak salah lagi. Wu Yifan. Jongin sedikit terkekeh dan menepuk jidatnya sendiri.

"Mungkin akhir-akhir ini aku sering memikirkan orang ini, melihat poster film saja teringat Yifan." ujar Jongin dengan kesal. Ia menggeser kakinya ketika sepasang anak muda berdiri menghadap poster itu tak jauh darinya.

Jongin mengangguk kemudian menepuk bahu si pria, "Apakah ini bertuliskan 'W-u-Y-i-f-a-n'?" sembari menunjuk poster bagian bawah letak dimana para pemain tertulis.

Sepasang kekasih itu menatapnya sedikit heran. Kemudian, si pria yang tubuhnya sedikit tinggi dari Jongin itu berkata, "Ya. Apakah kau buta bahasa Korea? Itu Wu Yifan."

"Kau mengetahui siapa dia?"

"Ku dengar, ia salah satu actor China yang mendapat Award dunia dengan pemeran pendukung terbaik." Perempuan itu menyahut pertanyaan Jongin dengan lancar.

Jongin mengangguk kemudian berjalan menjauhi poster tersebut. ia memiringkan kepala kekanan atau kekiri menimang perkataan perempuan tersebut.

'Jika dilihat dari wajahnya sih, ia tak terlihat berbohong.'

'Ah! Tapi apa benar Yifan adalah pemain film.'

'Tapi jika ia actor dunia, kenapa ia memilih penginapan tak selevel dengannya.'

'Jika ia actor, kenapa ketika ia berjalan dengan Jongin menyusuri Busan, tak ada yang meminta tanda tangan atau foto.'

'Ku pikir wanita di sepanjang jalan berbisik karena ia tampan, tapi mungkin karena mereka mengenali siapa Yifan.'

'Apa yang ku bilang barusan? Tampan? Cih! Aku lebih tampan daripada ahjussi tua itu.'

Ia dengan cepat mengeluarkan ponselnya dan melakukan web surfing. Mengetik keywords, 'Wu Yifan' dan matanya nyaris melompat jika ia menjadi salah satu chara di anime Jepang. Jongin baru mengetahui ternyata Yifan adalah laki-laki China-Kanada dan usiannya hanya terpaut 3 tahun lebih tua dari dirinya.

'Aku tak pernah menyangka, Yifan itu actor setenar ini.'

'Dan aku tak menyangka, umurnya lebih muda daripada penampilannya'

Ia mengscroll kolom komentar di weibo Yifan, dan menemukan sebuah komentar, 'Sepertinya, minggu lalu aku melihatmu di salah satu kedai ramen di Busan. Apakah itu benar anda?' komentar yang di tulis dua minggu lalu oleh seorang bernama Kim Jihyun.

Semakin pupus sudah harapannya untuk bertemu dengan Yifan. ia membenturkan kepalanya pelan pada mesin ticketing di depannya. Setelah membeli ticket menonton Somewhere Only We Know, ia benar-benar terkejut dengan apa yang menimpanya akhir ini. Seperti drama yang terlalu mengandaikan seorang idol dengan fansnya.

'Ya! Tapi aku bukan fansnya.'

Jongin tertawa, ia meninggalkan area mesin ticketing itu dengan pandangan aneh para pengantri ticket di belakangnya.

.

.

Setelah seminggu ia kembali menjalani kuliah semester baru dan membantu sedikit membantu beberapa tamu check in dan check out di hostel milik ayahnya, kesibukan Jongin belum berakhir. Setelah malam itu ia menonton film yang dibintangi oleh 'ahjussi tua' itu, ia benar-benar yakin jika Wu Yifan yang menyebalkan adalah si actor terkenal itu. Ia bahkan berulang kali bertanya pada perempuan teman sekelasnya, dan memang benar mereka mengetahui actor muda tersebut. Aku benar-benar seperti manusia yang sudah lama tak berada di luar gua, batinnya. Ponselnya bordering, dan hanya sebuah nomor yang muncul di layar tanpa nama.

"Ya?" katanya, sambil mengangkat panggilan tersebut dengan mengapit permukaan ponsel diantara bahu dan telinga kirinya. Sedangkan tangan kanannya terus mencatat ID card beberapa tamu yang akan check in di hostelnya.

"Temui aku sekarang di kamar 21." Suara dalam dan maskulin pria itu terdengar dari seberang sambungan.

"Ini siapa? Aku sedang mengurus check ini tamuku." Kilah Jongin.

Ia benar benar tak menyangka jika seorang tamu hostel milik ayahnya akan menelpon seperti ini, bagaimana ia mendapatkan nomor ponselnya.

"Baiklah. 10 menit lagi, tamui aku di kamar 21."

"YA!" Jongin berteriak membuat beberapa tamu hostelnya terlonjak kaget, setelah ia menggumamkan perkataan maaf dan membungkuk berkali-kali, ia berbicara pada lawan bicaranya. "Kau pikir aku siapa! Menyuruhku seenaknya."

Tak menerima jawaban selain sambungan tersebut terputus, Jongin mendengus kesal.

.

.

Sepuluh menit tentu berjalan dengan cepat saat Jongin telah menyelesaikan beberapa keperluan tamu hostel. Ia sedikit merenggangkan ototnya dan berpikir mungkin Jongdae sedang menjahili dirinya. Baiklah, ia akan melakukan balas dendam saat ini.

Jongin tiba di pintu bernomor 21 itu, tanpa mengetuk, ia membuka pintu biru laut itu tanpa permisi. Namun, niantnya untuk menjahili Jongdae terhenti ketika ia melihat siapa yang berdiri di tengah ruangan tersebut. Jongin ingin sekali menghambur kepelukan seseorang didepannya, namun, ia tau, ia laki-laki.

"Sudah tak sabar ingin bertemu denganmu," ujar seseorang didepannya. Jongin mengerutkan dahi dan mengangkat alisnya. "Aku sudah merindukanmu."

Jongin kehilangan suara untuk sepersekian detik.

"Aku baru kembali. Aku baru mengurus kepindahaknku di Korea."

Jongin berjengit saat membayangkan ia akan bertemu orang dihadapannya dengan sesekali, karena mereka berada di satu Negara yang sama. Yifan melangkah mendekati Jongin yang masih terpaku di ambang pintu, ia memeluk laki-laki yang lebih pendek darinya dan mencium puncak kepalanya.

"Aku benar-benar serius dengan ucapanku waktu itu."

Bagus! Untuk yang kedua kalinya Yifan membuat jantung Jongin seakan berlari dari tempatnya dan masuk kedalam laut yang berada di tepian Haeundae Beach.

Jongin menarik diri, mendorong tubuh Yifan beberapa centi bergerak. "Apa yang kau lakukan!"

Ia masih mempunyai harga diri. Yeah, Jongin yakin itu!

"Aku? Memeluk calon suamiku."

"Kau gila!"

"Yeah! Aku serpertinya sudah gila karenamu."

"Kembalilah ke Kanada atau China!"

"Tidak bisa! Aku sudah berganti kewarganegaraan menjadi Korea."

"Bagaimana bisa!"

"Aku bisa melakukan semua dengan tangan kosongku."

"Kau begitu yakin."

"Kau semakin cerewet saja,"

"Itu karena kau! Dasar actor abal. Manangis di film saja dengan wajah datar."

"Itu karena karakternya seperti itu." Yifan meyakinkan, "Kau sudah melihat film ku?"

Jongin mengangguk. "Sepertinya kau bukan actor yang baik."

Yifan terkekeh dan mengacak rambut Jongin. Ia kemudian melihat jam di mejanya. "Aku ingin memakan makanan Perancis. Antarkan aku kesana!"

"Kau bisa menggunakan GPS. Dan seharusnya kau menyewa hotel bintang lima di kawasan ini. Cih aku masih tak percaya kau memilih hostel murahan seperti ini selama di Busan."

Sesuatu pada nada suara Jongin menyadarkan Yifan. ia mengangkat wajahnya, dan disanalah laki-laki yang membuat hatinya tak beraturan selama lima tahun belakangan. Memenuhi beberapa ruang di dirinya.

"Ya! Aku tak bisa bernafas." Seru Jongin, beberapa saat setelah ia meronta di pelukan Yifan.

"Aku kesini ingin menikahimu."

"Kalau begitu, menikahlah dengan Wang Li Kun! "

"Kau cemburu."

"Tidak! Aku tidak cemburu. Enak saja!"

"Nada kesalmu menjelaskan semuanya."

"Diamlah! Aku tak cemburu. Kembalilah ke China atau Kanada sebelum aku menendangmu."

"Aku mencintaimu.."

"Ya.. Aku ju…. Ah tidak… tidak! Berbicara apa kau ini!"

"Terus saja mengelak."

"Yah! Dasar actor abal! Pergi kau!"

.

.

Yifan berjalan menyusuri kawasan Hongdae dengan kekasih adik tirinya, Sehun. Setelah sebelumnya mereka menghabiskan waktu berjalan dan meminum secangkir kopi di kawasan anak muda tersebut.

Pandangan Yifan terhenti ketika melihat kerumunan di depannya. Dari tempatnya ia berdiri, terlihat sekumpulan pelajar yang masih memakai seragam sekolah melakukan battle dance. Sehun menjelaskan pada Yifan tentang sekelompok penari yang umumnya laki-laki tersebut. ia menjelaskan bahwa kelompok street performer dihadapannya sekarang adalah salah satu penari yang tak diragukan dikawasan tersebut. Yifan tak menyimak betul penjelasan yang dipaparkan oleh Sehun, mata dan seluruh konsentrasinya tertuju pada seorang pelajar laki-laki yang sedang melakukan gerakan popping dengan kedua temannya di tengah kerumunan tersebut.

Yifan merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, sepertinya, ia mengagumi pelajar laki-laki dihadapannya tersebut dalam sepersekian detik.

Dan saat itu, ia merasa telah jatuh cinta pada sesuatu yang salah. Homoseksual masih menjadi sesuatu yang taboo di masyarakat, namun ia memecahkan dinding pembatas itu karena satu orang, namja tan yang memiliki bibir tebal di depannya.

.

.

Yeah, berterimakasihlah pada Sehun karena membantunya untuk mendapatkan sedikit informasi siapa namja tan tersebut. Sehun tak mungkin menolak, itu satu-satunya persyaratan yang diminta Yifan sebelum ia menikahi adik tirinya. Kakak ipar itu memanfaatkan ke-naïve-an Sehun, mungkin.

.

.

.

.

THE END

Saya membuat sequel ini karena review yang berkata jika cerita ini menggantung.