Pairing : ShiMin, KyuMin, Broken!KyuWook, YeWook. For awhile… broken!KyuMin

Rating : PG-15

Warning : Heavy Angst, MPreg

Disclaimer : KyuMin belong to each other. Disagree? Dislike? Hate? Get fucking out from here.

.

.

.

oOoOoOo

.

.

.

Leeteuk baru sampai di rumah sakit saat Leader Super Junior itu menemukan Siwon mondar-mandir di depan ruang ICU dengan raut tegang.

"Siwon-ah?"

Siwon berbalik, ia tersenyum lega melihat Leeteuk dan member Super Junior yang lain. Tapi senyumnya langsung lenyap begitu ia menangkap dua sosok yang paling tidak ingin dilihatnya sekarang. Ryeowook. Dan Kyuhyun. Mau apa mereka kemari?

Satu bisikan dalam hati Siwon mengatakan padanya untuk menghajar Kyuhyun. Disini dan saat ini juga. Tidak akan ada yang menyalahkan dirinya, Siwon punya kesempatan dan alasan yang kuat.

"Siwon-ah? Bagaimana keadaan Sungmin sekarang?"

Pertanyaan Kangin mengalihkan emosi Siwon. Ia beralih pada Ayah Super Junior itu dengan wajah keruh. Siwon menggeleng dan tersenyum getir, memberikan jawaban yang menggantung.

Keadaan Sungmin sekarang? Mungkin membaik, mungkin memburuk.

"Apa yang kau lakukan padanya, hyung?" desis Kyuhyun dari belakang kerumunan anggota Super Junior. Magnae itu berkata dengan nada rendah, tapi cukup jelas terdengar karena suasana Rumah Sakit yang tenang.

"Apa maksudmu?!" seru Siwon kesal. Kali ini ia benar-benar tidak bisa menahan emosinya. Dua kakinya seolah bertindak diluar kendali, Siwon melangkah mendekati Kyuhyun dengan emosi yang terbakar di dadanya.

Siwon menyambar kerah baju Kyuhyun sekuat tenaga hingga tubuh Magnae itu terangkat sedikit. Tapi Kyuhyun tidak bergeming, ia tidak takut. Pikirannya terlalu kacau. Sungmin, Sungmin, dan Sungmin mengambil alih akal sehatnya.

"Harusnya kau berkaca dan bertanya pada dirimu sendiri! Apa yang sudah kau lakukan pada Sungmin-hyung, Magnae Setan!" Seru Siwon kalap. Siwon bergerak terlalu cepat hingga yang lain tidak sempat mencegah semua tindak-tanduknya.

BUGH!

Satu pukulan mendarat di wajah Kyuhyun.

Kyuhyun terlempar ke lantai. Memar di wajahnya terbentuk secepat Siwon mengukirnya disana. Tapi Kyuhyun tidak bergeming. Ia hanya mengusap sudut bibirnya dengan ekspresi datar. Satu bisikan dalam hatinya mengatakan kalau ia memang pantas mendapatkan pukulan Siwon. Karena itu Kyuhyun tidak melawan. Ia hanya duduk disana, bergulat dengan hatinya.

"Siwon! Cukup!" KangIn dengan sigap menahan gerakan Siwon, sebelum BibleBoy itu melakukan sesuatu yang lebih parah pada Magnae mereka. Leeteuk ikut menenangkan Siwon. Ia membisikkan sesuatu yang perlahan membuat amarah Siwon meredup.

Eunhyuk dan Donghae hanya memandang semua itu dengan mata khawatir. Sebenarnya Eunhyuk merasa iba dan ingin menolong Kyuhyun bangun, tapi mengingat semua yang diceritakan Leeteuk… Eunhyuk merasa kalau Magnae Setan itu pantas mendapatkan pukulan Siwon.

Ryeowook bergantian memandang takut ke arah Kyuhyun dan Siwon. Tubuhnya gemetar. Tidak ada yang menyadarinya, kecuali Yesung yang perlahan mengulurkan tangannya untuk merangkul Ryeowook.

Di saat suasana yang tengah memanas, pintu ruang ICU terbuka dari dalam. Seorang dokter keluar dari sana. Ekspresi wajahnya seolah mengisyaratkan pada member Super Junior untuk memperhatikannya.

"Sungmin-sshi sudah sadar. Keadaannya masih lemah, jadi tolong jangan buat keributan disini." tegur dokter itu dengan wajah serius.

Siwon yang pertama memaksa masuk ke ruang perawatan begitu dokter itu selesai bicara. Kyuhyun dan member yang lain bergegas menyusul masuk.

Sungmin tergeletak lemah di atas tempat tidur. Selang infus menempel di lengannya yang putih mulus. Siwon menahan nafas, miris rasanya melihat wajah yang biasa bersinar itu kini pucat pasi.

Sungmin menatap lurus kedepan dengan mata kosong.

"Sungmin-hyung…" panggil Siwon lembut.

Sungmin mendongak, ia menatap Siwon dan member lain dengan ekspresi bingung. Wajah-wajah asing itu mulai memenuhi ruangan dan entah mengapa membuat Sungmin panik.

Merasa tidak mengenal wajah-wajah itu, Sungmin menarik tubuhnya mundur, merapat ke dinding.

"Si-siapa?" tanya Sungmin gugup, bibirnya gemetar. Ketakutan dan kegelisahan terukir jelas di wajahnya. Sungmin tidak ingin orang-orang ini mendekat padanya. Semakin mereka mendekat pada Sungmin, semakin panik lah pemuda itu.

"Sungmin-ah, ini aku." Siwon berusaha mendekat. Namun langkahnya spontan terhenti saat ia menyadari tubuh rapuh itu bergetar makin hebat. Ia ingin memeluk Sungmin sekarang juga, namun setiap ia maju satu langkah, Sungmin akan semakin menekan tubuhnya kebelakang dengan ekspresi ketakutan. Dan itu membuat Siwon mau tidak mau menahan emosi dalam hatinya. Ia hanya memandang lembut ke arah Sungmin, berharap itu akan membuat Sungmin mengenali dirinya lewat sorot matanya.

"Dokter, sebenarnya ada apa? Kenapa Sungmin tidak mengenali kami?" tanya Leeteuk frustasi sambil berusaha menahan airmatanya yang menggenang.

Pemandangan Sungmin yang tergeletak dengan tubuh dan ekspresi rapuh itu seolah mengoyak hati Leeteuk. Ini bahkan lebih parah dari insiden kecelakaan tahun 2007 lalu. Leeteuk bisa melihatnya, bukan hanya fisik Sungmin yang terluka. Dongsaengnya itu tampak runtuh dari dalam.

Ya Tuhan.. Apa yang sedang menimpa kami saat ini?

Leeteuk menghela nafas panjang, berusaha menarik kembali bulir-bulir hangat yang mulai menggenang di matanya.

"Sungmin-sshi mengalami benturan yang cukup parah di kepalanya, dan itu mengakibatkan Sungmin-sshi mengalami Temporeri Amnesia. Hilang ingatan sementara," Dokter Han melipat kedua tangannya, ikut merasa bersimpati atas apa yang menimpa Sungmin. "Tapi kita juga tidak bisa memastikan kapan ingatannya akan kembali." jelas Dokter Han lagi sembari mendesah getir.

Hening, tidak ada yang berkomentar setelah itu. Semua orang terlalu shock. Beberapa mengatup mulut menahan tangis.

"Aku ingin bicara dengan pasangan Sungmin-sshi. Siapakah?" Dokter Han memandang wajah member Super Junior satu-persatu.

Kyuhyun bergeming. Belum sempat mengatakan sesuatu dan Siwon sudah menyela langkahnya.

"Aku." sahut Siwon cepat. Ia mengatakannya dengan tegas dan penuh keyakinan. Seolah memang itulah jawaban yang benar, dirinya lah pasangan Sungmin SEKARANG.

Semua mata kontan menatap Siwon bingung.

Kyuhyun membeku, lidahnya tercekat dan tidak ada komentar yang bisa keluar. Ia hanya bisa melempar pandangan shock ke arah Siwon.

Ada amarah saat Siwon menunjuk dirinya sendiri, tapi bersamaan dengan itu, sebersit sesal juga melintas di dada Kyuhyun. Apa dirinya masih berhak untuk marah?

"Kalau begitu tolong ikut saya," Dokter Han mengisyaratkan Siwon untuk mengikutinya.

Tanpa menunggu respon dari member lain, Siwon dan Dokter Han pergi menghilang keluar ruangan.

Sungmin bergerak gelisah. Berada di sekitar orang-orang yang asing baginya membuatnya makin merasa tidak nyaman dan ketakutan.

Leeteuk mengerti hanya dengan melihat gerak-gerik Sungmin yang canggung.

"Minnie. Ini Teukie-umma, kau tidak ingat?" Suara Leteuk bergetar, ditatapnya Sungmin dengan mata sendu. Leeteuk ingin mengulurkan tangannya, namun lengannya gemetar. Sulit sekali untuk tenang saat orang yang disayangnya tengah menderita sendirian.

Sungmin tidak menjawab. Ia balas menatap Leeteuk dengan wajah bingung.

Umma?

Satu kata itu terus terngiang di kepalanya.

Umma…

Sungmin mendelik. Tangannya refleks melayang ke arah perut begitu ia mendengar kata 'umma' terucap.

Sungmin mengusap perutnya lamat-lamat. Lembut pada awalnya, namun berubah kasar seolah tengah mencari sesuatu.

Sungmin tahu. Ia bisa merasakannya.

Kemana? Kenapa tidak terasa?

Sungmin tersedak. Matanya memanas.

Sudah hilang. Tidak ada.

"HYUNG!" Eunhyuk dan Donghae berseru panik lalu buru-buru membantu Sungmin saat pemuda itu memaksakan diri untuk bangun.

"Lepas!" Sungmin menepis tangan-tangan dingin yang berusaha menyentuhnya. Pikirannya terlalu kacau. Sungmin merunduk sambil terus berjuang untuk turun dari tempat tidur dengan usahanya sendiri.

Leeteuk terus menawarkan tangannya dengan raut putus asa, karena Sungmin akan bergerak makin tidak terkendali saat seseorang berusaha mendekatinya.

Semua orang di dalam ruangan tersentak kaget tanpa dapat mencegah saat Sungmin menarik selang infus di lengannya dengan paksa.

Sungmin tidak peduli pada darah yang mengalir dari luka tarikan infus itu. Ia tidak peduli kepalanya akan berdenyut semakin nyeri seiring saat ia memaksakan diri untuk bergerak. Ia juga tidak peduli pada orang-orang asing di ruangan ini yang bersikukuh untuk membantunya. Sungmin tidak peduli, ia terlalu tidak peduli dengan semua hal itu.

Hanya satu yang berkecamuk dalam kepalanya…

"Bayiku…"

.

.

.

oOoOoOo

.

.

.

"Sungmin-sshi terlalu menyepelekan masalah ini. Harus ada seseorang yang mengingatkannya. Jadi tolong usahakan agar Sungmin-sshi tidak kelelahan atau terlalu banyak pikiran." jelas Dokter Han sembari melepas kacamatanya.

Siwon mengangguk mengerti. Ia memperhatikan setiap penjelasan Dokter Han dengan ekspresi tenang. Meskipun begitu, sebenarnya Siwon menyembunyikan perasaannya.

Bagaimana bisa Sungmin merahasiakan hal sepenting ini? Lemah jantung?

Lemah Jantung bukan sesuatu yang bisa disepelekan begitu saja! Dan Sungmin menutupi semua ini selama lebih dari 5 tahun! Oh, God.

Bukan hanya Siwon. Bahkan semua orang sudah tertipu dengan senyum manis dan ekspresi ceria Sungmin yang ternyata hanya pura-pura.

Dan sekarang, setelah mendengar semua kenyataan ini… Siwon merasa seolah tulang-tulang rusuknya saling menghimpit, membuatnya sesak, kesulitan bernapas. Sedih, kecewa, marah, dan putus asa bercampur aduk dalam hatinya.

"Dan saya tidak yakin Sungmin-sshi akan menerima berita buruk soal 'kehamilannya' dengan lapang dada. Saya tahu betul Sungmin-sshi menginginkan bayi itu," ungkap Dokter Han dengan raut penuh simpati.

Selama 3 tahun, Dokter Han menjadi dokter pribadi Sungmin. Pemuda manis itu selalu berkonsultasi padanya. Namun Dokter Han tak menyangka kalau Sungmin menyembunyikan penyakit ini dari orang-orang terdekatnya, bahkan Sungmin juga menyembunyikan perihal kehamilannya.

Sungmin selalu mengelak setiap Dokter Han menanyakan soal kerabat dekatnya. Ia pasti menyembunyikannya dari semua orang, Dokter Han menyadarinya hanya dengan melihat ekspresi wajah Siwon sekarang.

"Saya yang akan menjelaskan padanya. Semoga Sungmin mengerti." Siwon bangun dari duduknya. Setelah menjabat tangan dokter Han dan mengucapkan terima kasih, Siwon bergegas keluar, kembali ke ruangan tempat Sungmin dirawat.

.

.

.

oOoOoOo

.

.

.

Siwon buru-buru masuk saat didengarnya ribut-ribut dari dalam kamar inap Sungmin. Begitu ia membuka pintu, pemandangan di dalam ruangan itu membuat Siwon kontan tercekat.

Sungmin terpekur sambil terus meratap. Ia memberontak marah saat Eunhyuk mencoba untuk memeluknya.

Semua member berkumpul mengitari Sungmin. Leeteuk dan Eunhyuk berjongkok di sisinya, berusaha merayu Sungmin untuk kembali ke tempat tidur. Namun Sungmin menepis setiap tangan yang mencoba untuk memeluk dan berbagi duka dengannya.

"Tidak. Tidak mungkin!" Sungmin terus meracau ditengah tangis. Suaranya serak, nyaris tidak tersisa. Pemuda itu menunduk gemetar dan membiarkan bulir demi bulir airmatanya jatuh bebas.

"Sungmin-ah…" Siwon mencoba meraih tubuh rapuh itu. Tidak peduli meski Sungmin terus memberontak, Siwon justru memeluknya makin erat.

Leeteuk yang tidak sanggup lagi melihat pemandangan itu segera mengatup mulutnya dan menangis tanpa suara. Eunhyuk menyambut uluran tangan Donghae karena tidak sanggup melihat keadaan sahabatnya lebih lama. Dua namja itu berpelukan, saling menenangkan.

Hening. Yang terdengar hanya deru nafas bercampur isak dari bibir Sungmin dan suara tangis member lain.

Ryeowook beringsut mundur. Suara isak Sungmin seolah menggema dalam kepalanya. Setiap detik pemandangan yang berputar pelan di hadapannya kini seolah menuding ke arahnya. Mengungkit-ungkit awal mula semua bencana ini terjadi dan menenggelamkan Ryeowook dalam kubang perasaan bersalah.

Merasa tidak sanggup berdiri lebih lama di dalam ruangan ini, Ryeowook berbalik, bergegas keluar sebelum tangisnya pecah. Tidak ada yang menyadari kepergian Ryeowook, kecuali Yesung yang langsung sigap menyusulnya.

Dan Kyuhyun...

Kyuhyun bergeming, sibuk bertarung dengan hatinya sendiri. Pemuda itu belum beranjak dari tempat awal ia menjejaki ruangan ini. Dua kakinya seolah terlalu merasa bersalah untuk mendekati Sungmin.

"Sungmin-ah, kumohon... Jangan begini." Siwon mengusap kening Sungmin, menyeka keringat dingin yang mulai membasahi wajah pucat itu.

Tangis Sungmin terhenti. Sungmin mengingat suara ini, suara tadi yang menunjuk diri saat Dokter bertanya tentang siapa pasangannya. Mungkin saja dokter menyampaikan sesuatu pada namja ini, kan? Sesuatu tentang –bayinya…

Sungmin mendongak, menatap penuh harap pada namja tampan yang tengah memeluknya ini.

"Bayiku? Bagaimana?"

Kyuhyun membeku. Dadanya bergemuruh dan dua matanya membulat kaget mendengar kata 'Bayiku' meluncur dari bibir Sungmin.

'Bayi? Apa-apaan ini!'

Siwon hanya menatap mata besar itu sebentar, lalu ia memalingkan wajah. Tidak tega berlama-lama menatap ke dalam mata sembab yang memandangnya dengan sinar penuh harap.

Apa ia sanggup mengatakannya?

Siwon mulai ragu pada keputusannya.

"Beritahu aku! Ia tetap disini kan?" Sungmin menarik-narik kerah baju Siwon, meminta perhatian. Sebelah tangannya memeluk perutnya erat, seolah ingin melindungi sesuatu yang mungkin saja sudah tidak ada di sana.

"Mian—mianhae Sungmin-ah..." Siwon mengatakannya dengan mata terpejam. Ia mendekap kepala Sungmin erat ke dadanya, berantisipasi sebelum namja mungil itu memberontak.

Siwon harus melakukannya, ini demi kebaikan Sungmin juga.

Sungmin tertegun. Ia masih bersandar diam di dada bidang pemuda kekar ini, sebelum mengerti maksud kata 'Maaf' Siwon, sebelum satu kenyataan pahit menghantam wajahnya.

Sungmin tercekat. Pemuda itu gemetar dalam pelukan Siwon. Isak pelan kembali terdengar. Sungmin terisak –awalnya, karena isakan itu makin lama berubah menjadi histeria dan teriakan frustasi. Sungmin memberontak dan mati-matian berusaha melepaskan diri dari pelukan Siwon.

"Lepas! Lepas! Kembalikan bayiku! Kenapa kalian lakukan ini padaku? Lepas!" Sungmin berteriak histeris. Ditariknya kemeja Siwon dengan brutal, lalu mulai mendorong dan memukul dada kekar itu menjauh darinya.

Meski tentu saja, dengan kondisi selemah itu, apapun yang di lakukan Sungmin, ia tidak akan bisa mendorong Siwon menjauh dengan usahanya sendiri.

"Sungmin-ah, kumohon tenang. Kau menyakiti dirimu sendiri," Siwon mengeratkan pelukannya. Ia baru akan meminta Leeteuk memanggilkan dokter saat tubuh dalam rengkuhannya memberat dan limbung.

Siwon bergerak sigap, ia langsung memeluk Sungmin yang pingsan sebelum tubuh namja itu lepas dari rengkuhannya.

"Sungmin!"

Semua orang diruangan itu berseru panik.

Siwon menggigit bibir. Dipandanginya wajah pucat Sungmin dengan tatapan sendu. Wajah pucat dan dua lingkar hitam yang mengelilingi mata sembab itu menjadi pemandangan yang mengiris hatinya.

Apakah rencana ini akan berjalan baik atau justru akan makin melukai Sungmin?

.

.

.

oOoOoOo

tebeseeeeh!

oOoOoOo

.

.

.

OLD ARCHIVE RE-CONTINUED.