Jinhwan menghela nafas kesal menatap Arin. Beberapa kali pria itu terlihat memijat keningnya sedangkan Arin dengan tenang melahap ice cream yang dibeli Jinhwan sebagai sogokan atas cerita Arin tentang kejadian semalam tentu saja Arin merahasiakan tentang malam -bagi Arin- pertama mereka. Ia tak ingin Jinhwan yang berwajah manis itu tiba-tiba mengebiri Hanbin tercintanya.

"jadi... kau dan si sialan itu hanya bertemu di jalan begitu?"

"tentu, kau tahu kan betapa pintarnya aku merayu... sepertinya Hanbin sudah sadar dengan pesonaku" kekehnya sambil tersenyum sombong.

"bagaimana aku bisa percaya dengan itu!?"

"bagaimana kau bisa percaya jika kau saja semalam entah tidur diranjang siapa!"

"Kim Arin!" bentakan Jinhwan membuat Arin terdiam, mereka memang sering bertengkar tapi Arin tahu jika Jinhwan sudah membentaknya dengan nama lengkapnya maka meteran kemarahan Jinhwan sudah mencapai ubun-ubun. Arin menunduk takut, tatapan Jinhwan begitu dingin. Dengan sedikit keberanian Arin mencoba menyentuh Jinhwan namun sebelum Arin sempat menyentuhnya, pemuda itu sudah pergi meninggalkannya tanpa sepatah kata pun.

Arin menunduk dalam, air mata yang tadi ia tahan mulai mengalir di pipinya. Sikap Jinhwan begitu mengerikan. Ia merasa sedih ketika Jinhwan menatap tepat ke kedua matanya dengan tatapan marah dan kecewa. Arin bukan takut pada bentakan Jinhwan tetapi tatapannya, tatapan itulah yang membuatnya menangis. Jinhwan tak pernah sekalipun menatapnya seperti itu dan kali ini ia melihat tatapan itu, ini bahkan lebih menyakitkan daripada saat ayah dan ibunya bercerai dan mengabaikan mereka.

.

.

.

.

Arin mendudukkan di sebuah kafe yang lumayan jauh dari sekolahnya, ia sudah terbiasa kemari jika membolos, para pelayan di kafe itu bahkan sudah mengenal dan menghafal pesanan Arin.

Remaja itu tampak kacau dengan mata bengkak yang masih berair, hidung merah dan rambut acak-acakan. Kepalanya terus memutar detik-detik ketika Jinhwan membentaknya dengan tatapan mematikan itu, bahkan ia tak menyadari seorang bocah berseragam SMP sudah mendudukkan diri di hadapannya.

"bibiii... bibi... BIBI!" dan pekikan terakhir bocah itu sukses membuat Arin dan seluruh pengunjung kafe menatapnya, Arin mengerutkan keningnya pada bocah sialan di hadapannya ini.

"Kenapa denganmu sialan!?" kesal Arin.

"bibi mengabaikanku!" kesal pria itu sambil merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel putih berlogo apel yang tergigit.

"hei bedebah cilik! Aku tak mengajarkanmu untuk membolos!"

"hei bibi sialan, aku tidak membolos tapi guru menyuruhku pulang"

"kau berkelahi lagi?" dan hanya di jawab anggukan santai bocah itu.

"astaga Jeon Jungkook, aku dan ibumu hanya sepupu bagaimana bisa kau ikut-ikutan mewaris gen pengacau milik keluarga kami" Arin menatap Jungkook tak percaya sedangkan bocah itu mengendikan bahunya cuek.

"bibi, ku dengar dari gadis bername tag Changsik dari kelasmu... katanya kau berpacaran dengan Kim Hanbin"

"jika yang kalian maksud dengan berangkat bersama dan bergandengan tangan adalah berpacaran berarti aku dan Jinhwan sudah melakukan praktik incest!" kesal Arin menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Jeon Jungkook tersenyum kecil.

"hei bibi... gadis yang bernama Changsik itu lumayan cantik"

"jangan mendekatinya dia seorang 'pasta kedelai' Handal..." ucap Arin sambil menyeruput milkshakenya.

"pasta kedelai?" Jungkook mengerutkan keningnya mendengar ucapan Arin. Arin mengangguk.

"dia materialistis, ia menjadikan Lee Taemin sebagai ATM berjalan" Jungkook tertawa kecil.

"Lee Taemin? Anak Gubernur itu?" tanya Jungkook.

"tepat sekali" sahut Arin. Jungkook memperhatikan wajah sayu Arin, Hei! Kenapa pemuda itu baru menyadari jika penampilan Arin benar-benar luar biasa lusuh dari sebelumnya.

"ada apa denganmu?" tanya Jungkook lembut sambil memindahkan duduknya ke samping Arin dan mengelus rambutnya pelan. Arin menggeleng pelan.

"kau tak pandai berbohong, katakan padaku apa yang membuat bibi cantikku ini menangis"

"Jeon Jungkook, keponakanku tersayang berhenti bersikap sok dewasa"

"astaga bibi, ini karna aku mengkhawatirkanmu... kau tipe orang yang sulit menangis, tak punya hati, kejam dan suka menindas... sulit dipercaya jika kau menangis karna pria yang bernama Kim Hanbin itu"

Arin membuang nafas kesal dan menatap keponakannya itu tajam.

"ini tak ada hubungannya dengan pria itu!"

"lalu?"

"pamanmu" jawab Arin dengan satu helaan nafas berat. Jungkook mengangguk paham, ia memakluminya karna Jinhwan dan Arin memang terlalu sering bertengkar.

"apa kalian bertengkar?"

"apa kau perlu menanyakan hal yang sudah pasti?"

Jungkook tertawa canggung, baiklah... ia rasa masalah Jinhwan dan Arin kali ini cukup serius.

"baiklah ceritakan padaku"

Arin menatap ragu Jungkook, hingga akhirnya sebuah gelengan menjawab permintaan Jungkook dan hasilnya Arin harus menulikan telinga mendengar rengekan Jungkook.

.

.

.

.

Arin melirik arlojinya, sudah pukul setengah 9 malam dan ia masih belum berani untuk pulang ke rumah dan berbicara dengan Jinhwan, terlalu banyak hal mengerikan yang ia takutkan yang tak akan mungkin terjadi. Arin menghela nafas dan menatap Jungkook yang masih setia menemaninya, yah walaupun pemuda itu lebih sibuk dengan ponselnya.

"hei bocah, antar aku pulang" Jungkook tersenyum dan mengangguk semangat.

Dan di sinilah Arin sekarang, berdiri dengan bahu lemas dan kepala tertunduk dihadapan Jinhwan. Jungkook? Bocah itu kini tengah membongkar isi kulkas mencari cemilan mengabaikan sepupu termuda ibunya itu berhadapan dengan pamannya yang dikenal seluruh keluarga Kim dengan kemampuan bicaranya yang mampu membuat kepala sekolahnya merinding saat Jungkook ditegur karna dituduh mencuri yang nyata bukanlah perbuatan Jungkook dan disana Jinhwan datang sebagai pembela Jungkook.

"maaf..." gumam Arin pelan namun cukup untuk sampai ke telinga Jinhwan. Hanya deheman yang membalas permohonan maaf Arin, Jinhwan masih tetap menatap datar Arin. Jantungnya berdebar keras ketika tiap langkah Jinhwan terdengar mendekatinya, Arin mengepalkan tangannya takut ketika ekor matanya melihat tangan Jinhwan terangkat ia takut Jinhwan akan memukulnya sekuat mungkin Arin memejamkan matanya dan sebuah dekapan lembut membuatnya terbelalak, Jinhwan memeluknya? Kenapa? Bukankah dia marah?

"aku menyayangimu... aku takut kau akan berubah karna Hanbin. Kau satu-satunya kebanggaanku... aku takut kau juga akan meninggalkanku seperti Yongsil!" pelukan erat Jinhwan, suara berat yang jelas menahan tangis dan nama 'Yongsil' yang kembali ia dengar dari mulut kakaknya setelah sekian tahun, sebuah nama yang dianggap keramat oleh kakaknya... Cha Yongsil, kekasih Jinhwan yang tewas bunuh diri. Dan peristiwa itu sukses membuat kakaknya yang polos, manis dan cerewet berubah menjadi pendiam dan sensitive. Hanya isak tangis yang mampu Arin keluarkan... ia tak tahu apa yang harus ia katakan. Benar-benar tak tahu.

Jungkook terdiam senyum miris terpasang di wajahnya, cemilan-cemilan yang ada di depannya terlihat tak menarik lagi, seleranya menghilang ketika mendengar nama 'Yongsil' kembali diucapkan oleh Jinhwan, ia ingat saat itu ia dan Arin masih bocal tengil dengan balutan seragam sd, Jinhwan sudah menginjak bangku smp. Dan Yongsil, kekasih Jinhwan yang memiliki Borderline Personality Disorder(Gangguan Kepribadian Ambang - gangguan kepribadian dimana si penderita kesulitan mengontrol emosinya, takut ditinggal oleh orang paling penting dalam hidupnya dan punya kecenderungan untuk bunuh diri). Sayangnya, Jinhwan tidak mengetahui sama sekali tentang kejiwaan Yongsil hingga saat ini dan Jinhwan merasa kematian Yongsil itu salahnya dan sejak saat itu Jinhwan tak pernah menerima wanita manapun ke dalam hidupnya kecuali Arin. Jungkook menghela nafas, bagaimana ia tahu? Tentu saja. Karna ibunya adalah seorang psikolog, dan Yongsil adalah klien ibunya.

"Jika saja paman tahu, hah... seharusnya ibu yang menceritakannya, ibu lihat apa yang kau lakukan pada sepupu merepotkanmu ini" desah Jungkook.