DISCLAIMER: Sama kayak yang di awal: cerita ini beserta segala kelebihan dan kekurangannya adalah milik saya, sisanya, terserah punya siapa. /plak
WARNING: AR, Bahasa Es Campur, Typo(s) maybe?, OOC, Shonen-ai/boys love, penyalahan fakta demi jalan cerita, etc.
Kesamaan ide atau latar hanyalah kebetulan belaka, OK?
. . .
Ini adalah kisah tiga ratus tahun yang lalu. Enggak juga sih, tapi kira-kira segitu, lah. Ini adalah kisah para leluhur Uzumaki dan Uchiha yang kini telah menetap di alam baka; sebelum Naruto dan Sasuke menyecap udara dan merasakan dunia, merekalah yang telah terlebih dahulu merasakan pahit-manis kehidupan dan menjalaninya dengan tegar dan tabah. Mereka adalah kakek dari kakek-kakek-kakek-kakek-kakek-kakeknya Naruto dan Sasuke (sebenarnya tak jelas generasi yang ke berapa, tapi ya sudahlah,) Hashirama Senju dan Uchiha Madara.
Tiga ratus tahun yang lalu—kurang lebih, keberadaan ninja masih usum di Jepang. Semua orang—baik laki-laki maupun perempuan, tua ataupun muda—bermimpi untuk menjadi ninja yang hebat. Bahkan, anak-anak kecil ingusan saat itu pun sangat menyukai ninja, terbukti dari mereka lebih memilih jajan shuriken ketimbang permen atau cokelat di warung-warung terdekat. Nah, dari sekian banyak ninja di negeri itu, Madara dan Senju adalah salah dua dari ninja-ninja terhebat yang pernah ada.
Kedua ninja berasal dari keluarga yang berada, berlimpah kekayaan dan memiliki pengaruh bagi kelangsungan Desa Konoha. Kedua nyonya dalam dua keluarga itu serupa: oh-teramat-sangat-fabolous dan mendambakan kesempurnaan. Keduanya lumayan sombong, dan karena tak ada saingan, akhirnya mereka pun saling menyombongkan kekayaan pada satu sama lain, dan saling menganggap musuh satu sama lain. Mereka selalu menggembar-gemborkan apapun yang mereka miliki: fashion, kekayaan, pekerjaan, popularitas, hingga kemudian, prestasi buah hati mereka.
Kedua ibu berusaha semampu mereka dalam mendorong anak-anak mereka agar menjadi seorang yang berprestasi dan berhasil. Selain itu, anak-anak mereka pun didoktrin untuk selalu bersaing untuk menjadi yang terbaik, terutama dengan para Uchiha/Harshirama. Alhasil, anak-anak mereka pun saling bermusuhan, terima kasih kepada ibu-ibu mereka.
Karena sudah didikte oleh ibu mereka sejak masih kanak-kanak, maka dapat dikatakan bahwa Senju dan Madara telah nyaris bermusuhan selama hampir seumur hidup mereka. Dari ketika masih memakai popok hingga punya jakun di leher pun, keduanya tetap membenci satu sama lain.
Ketika kedua pemuda itu telah cukup dewasa dan matang pikirannya, mereka baru mulai menyadari bahwa permusuhan mereka selama ini hanyalah sia-sia dan tiada artinya. Dengan dilandasi rasa keadilan dan kejantanan(?), akhirnya mereka pun memutuskan untuk berdamai dan mulai menjalin pertemanan, membiarkan omelan para bunda.
Namun kedua ibu ternyata masih belum menyerah. Mereka tetap mengupayakan untuk memisahkan Senju dan Madara hingga titik darah penghabisan. Tentunya, kedua anak bersikukuh dan tak membiarkan para ibu mereka berbuat semau mereka. Dan terjadilah drama picisan 'Dia Anakku Bukan Pacarmu—uhuk—Temanmu'.
Karena sudah terlalu kesal terhadap sikap para ibu mereka, akhirnya Senju dan Madara pun memutuskan untuk membuat suatu perjanjian untuk menyegel pertemanan mereka selamanya. Mereka menyegelnya di atas sehelai kertas, dibubuhi tanda tangan dan disertai materai enam ribuan. Di akhir perjanjian, diberi keterangan: kedua pihak akan tetap berusaha menepati janji itu, bahkan setelah keduanya menyandang gelar 'Almarhum' di depan nama.
Perjanjian disahkan. Kedua ibu seketika kicep dan tak bisa berbuat apa-apa; kedua anak tertawa nista bahagia.
Pasalnya, isi perjanjian itu adalah … mereka menikah. Enggak. Mereka berdua masih normal dan lurus, kok, selurus tiang bendera.
Isi perjanjian mereka ialah agar kelak mereka menikahkan anak-anak masa depan mereka. Hal ini dimaksudkan agar kedua keluarga mereka menjadi bersatu dan erat selamanya, tak dapat diruntuhkan oleh apapun. (Walaupun alasan sebenarnya adalah untuk membalas dendam terhadap ibu mereka. Akhirnya keturunan mereka punya darah Uchiha/Hashiramanya! Hahaha!)
Tahun berganti tahun, dan akhirnya mereka berdua pun menemukan sosok belahan jiwa masing-masing. Mereka menikah dalam upacara meriah yang diadakan bersamaan, lalu kawin—tidak bersama-sama, tentu saja. Intinya, kurang lebih setahun kemudian, istri-istri mereka telah masuk ke ruang bersalin, berjuang membawa kehidupan baru ke dunia. Para ayah melonjak-lonjak kegirangan di luar ruang bersalin bak anak kecil kelebihan gula. Pasalnya, mereka sudah tak sabar untuk menemui calon mantu.
Waktu berlalu begitu lambat hingga rasanya setahun seperti telah berlalu, namun kemudian para bayi terlahir ke dunia selamat. Kedua ayah langsung menemui para buah hati dan berbahagia dengan malaikat kecil mereka.
Ketika mereka akhirnya kembali bertemu untuk mengabarkan kondisi para calon menantu, mereka langsung kompak berteriak:
"It's a boy!"
But there's no girl.
Perjanjian langsung dibatalkan. Dikarenakan anak-anak mereka memiliki gender yang sama, niat terpaksa diurungkan dengan berat hati. Walaupun pada awalnya para ayah merasa perjanjian masih tetap dapat dilakukan, namun para istri bersikeras menolak. Setelah cek-cok panjang, akhirnya keluar ancaman manjur para istri: 'nanti aku gak kasih bagian buat kamu', dan para lelaki pun diam seketika.
Misi menjodohkan anak gagal, ambisi diturunkan kepada cucu. Ketika kedua pria tengah berada di ambang pintu akan mejadi kakek, keduanya diliputi perasaan histeria sebab akan dapat menjalankan misi abadi mereka. Kali ini mereka berdua optimis cucu mereka akan berbeda kelamin dan perjanjian dapat segera dilaksanakan. Anak-anak mereka telah angkat tangan dengan nasib anak-anak mereka sebab sudah lelah dengan ambisi ayah mereka. Namun, setelah keduanya sama-sama menyandang sebutan 'kakek', Madara malah secara sepihak membatalkan janji mereka. Pasalnya, walaupun cucu-cucu mereka memiliki gender yang berbeda, perbedaan umur keduanya terlalu jauh, dengan cucu Madara 15 tahun lebih muda dari cucu Hashirama. Madara tak rela cucunya menikahi tante-tante.
Sebenarnya mereka berniat akan melanjutkan ambisi mereka dengan mengawinsilangkan cicit-cicit mereka di masa depan, namun, karena batasan usia, mereka tak dapat menjalankannya. Akhirnya, mereka pun menurunkan perjanjian tersebut dalam sebuah wasiat kepada keturunan mereka selanjutnya. Bersama wasiat itu, disertai dengan sepasang cincin bermatakan berlian lazuardi dan safir sebagai mas kawin yang mereka beli dengan uang pensiunan (kedua istri harus dibungkam dulu dengan makan malam mewah dan tas berharga seangkasa agar tidak marah-marah.) Walaupun begitu, harapan kedua ninja tetap kandas di tengah jalan. Perjanjian itu tidak dijalankan oleh keturunan mereka dan dilupakan begitu saja. Pasalnya, perjodohan tak lagi usum dan anak-anak muda mulai bergrilya meminta kebebasan mereka.
Dekade demi dekade berlalu, abad demi abad terlewati hingga akhirnya wasiat kembali dibuka oleh keturunan mereka yang entah keberapa, dimana salah satunya bahkan tidak lagi memegang marga 'Hashirama' melainkan 'Uzumaki'. Kedua orang itu adalah Uchiha Fugaku dan Uzumaki Kushina.
Semua bermula ketika suatu hari, ketika Fugaku tengah membersihkan lemari dokumennya, ia menemukan sebuah amplop lusuh yang berisikan secarik kertas dan sebuah cincin safir. Kertas itu adalah wasiat yang ditinggalkan oleh Uzumaki Madara, kakek buyutnya. Dia pun menceritakan surat tersebut kepada sang istri, Mikoto, yang langsung heboh dibuatnya. Sebagaimana wanita rumpi pada umumnya, Mikoto pun langsung curhat pada sahabatnya. Merupakan suatu kebetulan yang mujur, Kushina lah sahabatnya itu. Mendengar kisah sang sahabat, Kushina pun ikut menceritakan pengalamannya yang nyaris serupa. Kushina menyinggung nama 'Uchiha', Mikoto menyebut nama 'Hashirama'; kesimpulan langsung ditarik detik itu juga, dan dua wanita pun menggila bersama.
Kedua keluarga pun mengadakan rapat kekeluargaan. Wasiat dibuka dan dibahas, cincin berharga dikeluarkan dan dibersihkan. Keputusan langsung diambil di menit pertama, yang membuat Fugaku menyesali pernah menemukan wasiat terkutuk itu. Namun apa mau dikata, dia kalah 2-1.
Dengan berasaskan imajinasi nista tapi nyata, khayalan tanpa batas, dan keabnormalan luar biasa kedua wanita yang membuat Fugaku hanya bisa menutup mata, mereka menjodohkan anak-anak mereka.
Uchiha Sasuke dan Uzumaki Naruto.
.
STOP PERJODOHAN INI!
.
STOP PERJODOHAN INI! © Akichii Roe
Naruto © Masashi Kishimoto
.
CHAPTER 2.THE MOTIVE
.
Naruto dan Sasuke bagaikan sepasang sepatu, selalu beriringan dan perpasangan. Keduanya telah saling mengenal semenjak lahir, walaupun belum tahu satu sama lain dan belum bisa berkomunikasi (jangan hitung bahasa bayi, siapa tahu mereka hanya ngomong sendiri-sendiri.) Mereka sering – hampir selalu bermain bersama-sama ketika masih balita, terutama ketika berumur 3 tahun. Waktu itu, Kushina dan Mikoto sedang hobi-hobinya ngerumpi, dan sebagai ibu yang baik, mereka tak pernah lupa membawa anak. Itachi sudah sekolah waktu itu, jadi beban Mikoto agak berkurang sedikit. Namun, anaknya yang paling kecil masih harus dibawa-bawa kemana-mana, begitu pula dengan anaknya Kushina. Jadilah Sasuke dan Naruto bermain bersama, jauh dari rumpi gila ibu-ibu mereka. Pada momen-momen ini, status Sasuke dan Naruto dapat dibilang bersahabat.
Saat Naruto menginjak umur 4 tahun, tiba-tiba, Kushina memutuskan untuk pindah ke luar negeri karena urusan personal. Sasuke dan Naruto pun berpisah dengan berat hati, disertai pelukan-pelukan persahabatan, linangan air mata, dan janji: 'sahabat sehidup-semati'.
Setahun berlalu dengan cepat, dan Kushina pun kembali ke tanah air tercinta, Jepang. Mikoto yang menjemput sahabatnya itu di bandara, ditemani dengan Sasuke kecil yang bahagia setengah hidup karena akan kembali bertemu dengan sahabat sehidup-sematinya, Naruto. Sasuke telah menunggu-nunggu momen ini selama setahun, dan dia tak sabar lagi akan kembali bermain dengan partner abadinya. Namun, ketika kedua bocah itu akhirnya kembali bertatap muka, Naruto malah melempar Sasuke dengan mobil mainannya, telak di muka. Sasuke membatu, shock. Setelah diselidiki lebih jauh oleh para ibu rempong yang panik, diketahui bahwa ternyata Naruto telah lupa bahwa ia memiliki sahabat bernama Sasuke.
Sepertinya Sasuke menaruh dendam personal yang amat mendalam kepada Naruto setelah insiden mobil-terbang-hantam-muka tersebut, karena kemudian, setelah tahun-tahun berlalu pun, ia tetap membencinya. Naruto pun tampaknya juga telah lupa pada perbuatannya di masa lalu, karena ia masih belum juga menemukan alasan mengapa Sasuke begitu membenci dirinya. Naruto terkadang merasa sedih karena Sasuke malah membencinya dan tidak mau lagi bersahabat dengannya, namun hal itu tak bertahan tak lama, sebab, begitu ia melihat muka menyebalkan Sasuke, ia pun akan ikut-ikutan membencinya.
. . .
Seperti couple-couple sahabat masa kecil cliché lainnya, Naruto dan Sasuke mengenyam pendidikan di sekolah yang sama (mulai dari SD, sebab ketika TK, Naruto tengah pergi ke luar negeri) dan selalu sekelas pula.
Saat SD, mereka sama sekali tidak dekat. Mereka tahu nama satu sama lain, sering bertemu saat ibu-ibu mereka ngerumpi, namun tidak berteman. Mereka bersikap seolah tak saling kenal. They are just acquaintances, no less, no more.
Mereka baru saling mengakui keberadaan masing-masing saat SMP. Saat itu masa MOPD di sekolah mereka, SMP Swasta Kuda laut. Saat itu sedang ada penyuluhan kelas dari salah satu guru mereka yang terkenal baik dan menyenangkan. Penjelasan dari guru itu tak pernah membuat bosan, dan selalu diselingi canda-gurau, games yang seru dan menarik, serta yel-yel yang lucu dan menambah semangat.
Saat itu mereka sedang memainkan game 'Konsentrasi'—dimana mereka harus menunjuk salah seorang teman jika ditunjuk, namun tak boleh menunjuk teman yang menunjuk mereka—Naruto ditunjuk oleh seorang gadis. Naruto yang tak berkonsentrasi saat itu kelimpungan dan berusaha menunjuk seseorang, masalahnya, ia tak hapal seorang pun teman-teman di kelasnya. Namun, ia juga tak mau dihukum karena hukumannya disuruh menanyi enka sambil menari di depan kelas. Demi harga diri: no. Satu-satunya orang di kelas yang ia ketahui adalah Sasuke, sialnya, saat itu ia lupa namanya, maka Naruto berteriak: "Pantat Bebek!" sambil menunjuk ke arah Sasuke, dan tawa pun meledak seketika. Setelahnya, Naruto tak lagi dianggap ada oleh Sasuke.
Itu awal dari puncak kebencian Sasuke pada Naruto, karena semenjak insiden 'Pantat Bebek' itu, Sasuke jadi sering dipanggil 'Bebek'—'Pantat'-nya dihilangkan demi kosopanan dan menjaga perasaan pihak yang terkait—dan Sasuke tidak suka itu. Sama sekali.
Insiden yang kedua terjadi setahun kemudian, saat itu mereka kelas VIII. Hari itu merupakan ulang tahun sekolah mereka yang ke-69. Pihak sekolah memutuskan untuk rehat sejenak dan mengadakan panggung hiburan di halaman sekolah agar murid-muridnya dapat rileks. Namun sebelumnya, diadakan upacara peringatan terlebih dahulu.
"Darimu, SMP Kuda Laut … Kumo!" Lagu himne sekolah berkumandang. Murid-murid jahil menambahkan kata 'Kumo' yang sebenarnya tak ada pada lagu dalam bisikan pelan. Ngomong-ngomong Kumo adalah kota letak sekolah mereka berada. "Menjunjungkan namamu, dalam panji pelajar …."
Murid-murid bernyanyi dengan suara keras dan tergesa-gesa, walaupun himne harusnya dinyanyikan dengan syahdu dan penuh penghayatan. Dari sekian banyak murid, suara Naruto lah yang paling keras dan cempreng. Suaranya nyaris-nyaris buta nada dan … kurang enak didengar. Naruto baris di belakang Sasuke, dan hal itu sungguh amat mengganggu sang pemuda Uchiha.
"Naruto, pelan-pelan nyanyinya," bisik Sasuke kepada teman-kenalan-musuhnya itu.
"Eh? Apa?" Naruto menyahut polos.
"Nyanyinya pelan-pelan! Berisik tahu!" bisik Sasuke kesal. "Mending kalau bisa nyanyi, suara jelek gitu juga."
Naruto, merasa dihina oleh Sasuke, jadi emosi. "Apaan sih, Teme!? Ngehina aja bisanya! Suara kamu emang gak jelek, huh!?"
Dan sulut pun mulai terbakar.
"Kayak yang kamu enggak aja! Suara kamu lebih jelek!"
"Jelekkan kamu, lah! Ngomel aja bisanya!"
"Ngajak berantem, hah!?"
"Ayo kalau berani, Pengecut!"
"Siapa yang pengecut!?"
"Pantat ayam!"
"Buta nada!"
Yang mereka tidak sadari, suara mereka telah menjadi terlalu keras hingga menganggu kelangsungan upacara. Himne berhenti dinyanyikan, semua mata tertuju pada kedua makhluk yang saling hina di dalam barisan.
"Uchiha-san, Uzumaki-san, bisa ke kantor saya setelah upacara selesai?" Kepala sekolah telah berada di hadapan mereka, tersenyum ramah, namun aura gelap di sekitarnya jelas-jelas menunjukan tanda bahaya. Kedua murid yang disebut meneguk liur dan mengangguk enggan. Keduanya mendapat hukuman membersihkan semua toilet pria di lingkungan sekolah.
Untungnya insiden itu terjadi menjelang akhir semester genap. Saat kenaikan kelas, Sasuke meminta pindah sekolah karena pride-nya sudah remuk hancur-lebur. Permintaan dikabulkan, sebab Fugaku saat itu juga harus pindah ke cabang kantor di luar kota. Catatan, insiden memalukan saat upacara dirahasiakan Sasuke rapat-rapat dari orang tuanya. Ia pindah ke SMP Negeri 1 Konoha. Sasuke bahagia. Lalu ibunya bercerita: Uzumaki Kushina juga pindah ke Konoha untuk membuka cabang baru toko busananya; Naruto juga pindah sekolah ke SMP Negeri 1 Konoha. Sasuke ingin bunuh diri saat itu juga.
. AKICHII .
Walaupun satu sekolahan, mereka kembali bersikap saling tak acuh seperti saat SD. Tak ada salam sapa setiap kali bertemu, tak ada senyum ramah setiap kali bertatap mata. Mereka masih mengobrol sedikit-sedikit jika terpaksa, tapi selebihnya mereka hanya dua insan tahu nama tapi tak saling kenal biasa.
Mereka lulus SMP dengan damai. Tak ada insiden memalukan lainnya dan semua berlancar normal dan lancar. Sasuke mendapatkan wibawanya kembali, malahan ia dikenal sebagai anak emas sekolah karena kecerdasan dan keaktifannya dalam mengikuti lomba akademik di luar sekolah. Dia juga punya fans club dan merupakan murid faforit para guru wanita. Sedangkan di lain pihak, Naruto lulus dengan label 'anak paling jahil satu angkatan'; ia terkenal di antara para cowok, tapi tidak dengan para cewek. Keduanya lulus dengan nilai baik: Sasuke adalah juara umum, dan Naruto masuk 50 besar, dari jumlah seluruh murid: 243 orang.
Keduanya masuk SMA Negeri 2 Konoha, sekolah terbaik di kota itu, dengan mudah. Sasuke langsung diapeli para gadis di hari pertamanya masuk sekolah; para pria langsung hilang harapan hidup melihat sasaran mereka dengan sukacita menemani Sasuke. Hanya alumni SMP Negeri 1 Konoha yang sudah terbiasa dengan pemandangan miris itu, jadi mereka sudah lebih tabah daripada yang lainnya. "Lepaskan saja para gadis itu, Kawan. Relakan." Mereka menghibur satu sama lain.
Tahun pertama berjalan mulus semulus jalan tol Cipularang di Indonesia sana. Enggak juga, sih. Tapi, serius, tak ada yang aneh dengan tahun pertama mereka. Tidak ada yang spesial. Mereka naik kelas dengan nilai bagus. Hore. Dan sekarang, di kelas XI, mereka berbagi kelas.
Awalnya semua berjalan lancar. Mereka bersikap acuh dan tak saling kenal. Lalu semua berubah semenjak Negara Api menyerang. Enggak, para ibu menggila. Ya, semua berubah ketika Naruto dan ibunda tercinta berkunjung ke kediaman Uchiha. Awalnya hanya terjadi bincang-bincang biasa, lalu tiba-tiba Mikoto mengucapkan kalimat itu. Ah, mimpi buruk bagi Naruto dan Sasuke.
"Sasuke-kun, Naruto-kun, kami sebagai orang tua, sepakat untuk menjodohkan kalian."
Hening lima detik. Detik selanjutnya, Sasuke bangkit dari sofa dan pergi dari ruang tamu. Ia diseret Itachi untuk kembali (ia dipiting di leher dan ditarik paksa oleh Itachi.) Naruto hanya bisa jawdrop dan megap-megap seperti ikan kekurangan oksigen, bingung mau bicara apa.
"Ta-tapi, Kaa-san … kenapa? Kenapa!?" Naruto berteriak dramatis. Air mata membasahi pipi, ingus menggantung di bawah hidung. Enggak gitu juga, kali. "Kaa-san! Aku normal, Kaa-san!"
"I know, I know," iya, ainow-ainow aja terus, Kaa-san, "tapi kami pikir ini yang terbaik buat kamu dan Sasuke-kun."
"Iya, Naruto-kun. Kalian sudah tahu sejak kecil, dan, keluarga kita kan, sudah dekat. Ya?" Mikoto ikut membujuk dengan senyum lima ratus rupiah, buat beli Alpenliebe satu batang.
Lalu diceritakanlah alkisah cerita para leluhur yang ingin mengawin-silangkan anak-anak mereka. Mengenai Hashirama Senju dan Uchiha Madara, dan anak-anak mereka serta cucu mereka. Tentang wasiat dan dua cincin jutaan yen di dalam lemari. Naruto hanya mengangguk-angguk dengan wajah kosong; Sasuke menahan emosi untuk tidak berteriak nista sekarang juga. Pikiran mereka saat itu sama: ibu-ibu mereka tidak ada yang normal.
Selanjutnya, yang mereka tahu, mereka telah duduk saling berhadapan. Bersenjatakan deathglare Itachi, kedua ibu meminta mereka saling mengucap janji untuk menikah di masa depan. Sasuke, dijadikan pihak 'lelaki' oleh kedua ibu, melamar Naruto sambil menyematkan cincin bermata batu lazuardi di jari manis kanan Naruto; Naruto menerima dan melakukan hal yang sama dengan cincin bermata safir. Dengan bujuk rayu para ibu, mereka setuju untuk akan terus memakai cincin itu. Namun demi menghindari hal-hal yang tak inginkan, mereka sepakat akan mengalungkannya saja. Dan kenyataan kalau mereka sudah tunangan akan disembunyikan hingga waktu yang tepat. Mereka hanya akan dinyatakan 'dalam status berpacaran', dan berita ini akan disebarkan melalui semua media sosial. Tak perlu disebutkan satu-satu, namun semua media yang tengah digandrungi remaja akan dipenuhi oleh berita-berita itu. Dan tanpa perlu diduga-duga pun mereka semua tahu berita ini akan jadi hot topic, terima kasih pada status Sasuke yang playboy kurang ajar. Semua terlaksana dalam waktu sekejap, terima kasih pada Itachi. Sasuke jadi mulai berpikir kalau kakaknya itu sebenarnya sangat membenci dirinya. Ia salah paham. Itachi sebenarnya sama abnormalnya dengan ibu mereka.
. AKICHII .
Malam itu, demi mempererat hubungan kedua keluarga, Kushina dan Naruto diminta menginap di rumah Uchiha. Kushina menerima dengan amat senang hati. Para ibu setuju akan mengobrol sampai pagi di ruang tamu, Itachi, yang tak punya hubungan khusus dengan event ini, tidak terpengaruh dan tetap tidur sendiri di kamarnya. Fugaku, terpaksa harus tidur sendirian tanpa ditemani sang istri. Seandainya bukan demi pride, ia sudah akan ber-'da aku mah apa atuh?' sambil menyeka air mata bohongan dengan gaya lebay. Dan dua tokoh utama dalam event penting ini, disuruh tidur bersama di kamar Sasuke. Awalnya mereka mau protes, tapi lelah dengan deathglare maut sang Uchiha sulung, mereka memilih untuk diam saja.
Dengan wajah kusut keduanya naik ke atas ranjang. 'Tidur seranjang', itu perintah ibu mereka. Daripada nanti timbul masalah, mereka memilih untuk menurutinya saja. Lampu besar dimatikan, lampu tidur yang redup dinyalakan. Mereka berbaring dibatasi oleh dua buah guling, dan demi mencegah saling tatap satu sama lain, mereka berbaring saling memunggungi.
Suasana lengang, diliputi ke-awkward-an yang membuat mereka ingin keluar dari ruangan itu saat itu juga.
"Ehm, Sas, dosa apa kita ya, sama ibu kita? Sampai dijodohin kayak gini," kata Naruto membuka percakapan, berusaha mencairkan suasana.
"Cih! Elu tetep berisik, ya? Gue mau tidur, nih!" balas Sasuke ketus sambil mendecakkan lidah.
"Yeee … gak usah sewot juga kali. Gue nanya baik-baik juga, dijawab begitu." Naruto memutar bola matanya jengah. Yah, mau bagaimana lagi? Begitulah Sasuke: tak pernah bisa menanggapinya dengan bersahabat.
Beberapa detik berlalu. "Well, aku juga enggak tahu. Aku rasa aku anak yang baik. Tapi, yang pasti, ini buruk banget," kata Sasuke, akhirnya menanggapi Naruto, didorong unek-uneknya sendiri yang juga kesal terhadap perlakuan orang tua mereka.
"Setuju. Banget. Ini menyebalkan."
"Ya, setuju. Ini gara-gara … siapa itu? Madara dan Senju!"
"Mereka leluhur kita, Sas, tambahkan kata 'kakek'."
"Oh, well, ini gara-gara Kakek Madara dan Kakek Senju!"
"Setuju banget. Gara-gara mereka kita kena imbasnya sekarang."
"Ya, setuju."
Hening sesaat, lalu tiba-tiba tawa renyah Naruto pecah.
"Wow, udah lama kita gak 'setuju-setuju'-an kayak gini, Sas." Naruto memutar badan, menghadap punggung Sasuke. "Terakhir kapan, ya, Sas?"
Sasuke ikut memutar badannya, menghadapi pemuda Uzumaki dengan alis berkerut dan bola mata naik, ekspresi lazim ketika berusaha mengingat sesuatu.
"Sempat waktu SD kelas II. Waktu itu ibu kita ngobrol seharian non-stop dan membiarkan kita kelaparan. Kita setuju kalau ibu kita kejam."
"Ahaha! Iya, iya, aku ingat sedikit-sedikit."
Mereka bertukar senyum tulus sekali lagi setelah sekian lama, walaupun hanya berupa seringaian getir dan senyum tipis.
"Hah, oke. Besok kita sekolah. Harus siap mental karena seisi sekolah pasti sudah tahu hubungan kita." Naruto mendesah lelah.
"Thanks to Itachi." Sasuke menimpali.
"Haha, yeah, thanks to Itachi."
"Dia benci gue."
"Dia juga benci gue."
"Mungkin?"
"Haha, malem, Sas."
"… Selamat malam … Buta Nada."
Satu tinju telak menghantam perut Sasuke sepersekian detik kemudian. Sebuah tangan kemudian menyusul menjambak rambut durian Naruto. Kedua pemuda pun asyik bergulat di ranjang. Dan di luar sana, kedua ibu sudah menguping dengan gelas kaca di lubang telinga, wajah semerah kepiting kematengan, darah mengalir deras dari hidung bak Air Terjun Niagara. Di dalam hati, mereka serempak mengharapkan kehadiran cucu pertama.
.
TBC
.
Oke, re-publish. Some some reason … or another. Jadi … sekian dari saya? o_o
Review?
