Disclaimer: Yah, Jika aku mempunyai uang sebanyak milik Kaiba, aku akan membeli lisensi mereka dari Kazuki-sensei. Tapi karena aku hanya gadis biasa dan bukan orang yang kaya (kaya apa?) dan aku sama sekali tidak memiliki kartu kredit, jadi itu hanya menjadi mimpi belaka.
Jadi, mereka semua karakter milik Kazuki Takahashi. Aku tidak membuat keuntungan apa pun dari cerita ini.
Catatan Pengarang:
Heehee. Mungkin ceritaku ada kurang?tapi cerita terus berjalan selama aku masih menulis kelanjutannya. Mungkin untuk versi ini aku akan memotong bagian yang sebenarnya masih ada di dalam cerita yang menggunakan bahasa yang lain. Itu juga karena rate yang aku gunakan disini adalah T.
Catatan Tambahan:
Shishishi~~~aku mendapat circle DJ yang aku cari tanpa sengaja waktu nyari judul yang lain tetapi dengan cirle yang sama! Sangat sulit mencarinya dan tak kusangka aku bisa mendapatkannya(hip hip horeeee!)
Oh, sepertinya aku terlalu banyak menulis catatan(haah). Kalau begitu kembali ke cerita.
"Kakak? !"
Mokuba terlihat masuk dengan wajah terkejut. Dia baru saja membuka pintu dan menemukan kakaknya sedang memeluk anak kecil yang mereka temukan dan anak itu sedang berusaha mendorong Kaiba untuk melepaskan dirinya dari pelukan Kaiba. Kaiba begitu mendengar suara adiknya langsung mengalihkan perhatiannya ke pintu. Dia melihat adiknya berjalan ke arahnya dan tiba-tiba Kaiba mendapat pukulan di wajahnya. Kaiba memegang wajahnya ketika Mokuba menarik anak itu dari dari kakaknya.
"Apa yang kamu lakukan Mokie! ?" Kaiba setelah mendapat pukulan secara tiba-tiba langsung memegang wajahnya. Hidungnya agak terasa sakit. Tapi untung saja tidak patah.
Mokuba buru-buru menyalakan lampu sehingga ruangan itu menjadi lebih terang. "Bagaimana .. bagaimana kakak bisa melakukan ITU?" Mokuba protektif menyembunyikan anak itu di belakangnya "Aku tidak tahu kakak benar-benar depresi dan me-melakukan.. hal seperti itu!Apakah kakak sudah berubah menjadi seorang pedhopilia." Mokuba tampak frustasi. " Aku tahu dia tampak seperti Jou dan aku yang meminta kakak untuk mengawasinya. " Kini nafas Mokuba mulai terengah-engah setelah selesai bicara dan dia mulai berkeringat dingin. Kaiba memandang adiknya dengan tatapan kosong dan tidak percaya dengan apa yang abru saja dikatakan oleh adiknya. Sebuah tawa geli terdengar dari anak kecil yang ada di belakang Mokuba dan tak lama meledaklah tawa itu.
"Mokuba .. terima kasih kau telah menyelamatkanku.." Mokuba berbalik dengan wajah kebingungan dan melihat anak kecil itu tertawa. Anak itu kemudian memeluk lengan anak laki-laki berambut hitam itu. "Aku berhutang pelukan padamu Mokuba."
"?" Mokuba menyipitkan matanya.
~ XXX ~
"Oh...jadi, kamu adalah Jou?" Anak kecil / Jou / itu mengangguk. Mokuba melirik Kaiba yang memegang hidungnya dengan tisu. Ada darah yang meresap di tisu itu "Apakah .. aku memukulmu terlalu keras kak?" Mokuba merasa bersalah. Dia bertanya dengan gugup. Dia memainkan jari-jarinya satu sama lain.
"Hn .. kau mempunyai pukulan yang keras Mokie .." Jou hanya tertawa lagi. Tapi dia tiba-tiba memegang perutnya. Mokuba yang duduk di pinggir tempat tidur berjalan mengambil obat dan segelas air dan memberikannya kepada Jou.
"Minumlah ini. Perutmu terasa tidak nyaman, bukan?." Jou menerima obat itu memasukkan ke mulutnya dan mulai meneguk segelas air. Mokuba kemudian meletakkan gelas kosong kembali ke meja dan duduk kembali di tepi tempat tidur dekat Jou "Jadi .. Marik dan Bakura yang melakukan itu?".
"Hmn .., mereka mengatakan bahwa mereka mempunya mantra untuk membantu.. tentang masalahku." Jou menghindari melihat tatapan mata yang penuh pertanyaan dari Kaiba "Aku tak tahu mengapa aku setuju dan berakhir seperti ini.".
"Jadi, mereka orang yang menempatkanmu di depan pintu gerbang?" Mokuba mendengarkan serius.
"Uh, aku tak tahu .. rasanya sebelum aku pingsan, aku mendengar mereka berbicara tentang mantra yang salah atau apapun itu..." Jou menggeram. "Jika aku bertemu dengan mereka besok, aku akan membunuh mereka!" Jou merasa frustrasi. Kaiba hanya tersenyum sambil masih memegang tisu di hidungnya.
"Tidak mungkin kamu melakukannya dengan ukuranmu yang sekarang pup." Jou memberikan tatapan tajam setajam pisau kepada Kaiba.
"Kau brengsek!" Mokuba merasa gelisah di tengah pertengkaran sepasang kekasih. Dia tahu tentang Jou marah terhadap kakaknya. Jadi, dia berdehem dan berbicara.
"Mungkin aku harus pergi .." Dia melihat kaiba "Tapi sebelum itu, aku minta maaf Seto... telah memukulmu..". Dia kemudian beralih ke Jou. "Mungkin Yugi bisa mengatakan bagaimana mengubah tubuhmu ke normal kembali. Kita akan berbicara dengan dia besok. Jadi, sekarang, lebih baik kau beristirahat di sini."
Jou setuju. Mokuba berjalan ke pintu dan melambaikan tangannya. Meninggalkan mereka berdua sendirian di ruangan itu.
"Jadi .." Kaiba menaikkan sebelah alisnya ketika mendengar Jou membuat sedikit suara "Apakah Kamu akan pergi dari kamar ini? sekarang aku ingin tidur .." Kaiba menghelai nafas.
".. .."
"Maafkan aku .."
"Untuk apa?"
"Tentang aku, membatalkan janji kita .."
Terjadi kesunyian.
"Ya, aku benar-benar marah tentang hal itu. Itu sebabnya aku kembali ke apartemenku.." Jou memandang Kaiba bergerak dari kursinya dan duduk di sebelahnya. Mereka melihat satu sama lain.
"Maafkan aku .." Jou menjadi gila dengan kata mohon maaf yang Kaiba ucapkan. Apakah dia benar-benar depresi? tapi Jou tahu dia membatalkan janji mereka karena dia benar-benar memiliki urusan yang penting tentang Kaiba Corp. Jou tidak bisa menyalahkan dia semua. Dia tidak bisa lama marah karena dia mencintainya.
"Baiklah, tetapi besok jangan ingkari janjimu lagi. Aku benar-benar ingin pergi denganmu Kaiba.." Jou merasa malu. Kaiba tersenyum ketika kekasihnya memaafkannya.
"Ya, apapun yang kamu inginkan." Ia tertawa dan membelai rambut Jou. "Kau tampak seperti anjing kecil sekarang .. seperti aku memiliki seoarng anak." Jou mengeluarkan geraman lagi tapi masih membiarkan Kaiba bermain dengan rambutnya. Rasanya menyenangkan seorang memainkan rambutmu dan membuatmu ingin menutup mata dan terlelap tidur. Dia merindukan sentuhan Kaiba dalam seminggu terakhir ini.
Tangan Kaiba mulai menyentuh telinga Jou dan turun ke pipinya. Jou memejamkan mata dan menikmati kontak antara kulit dengan kulit itu, rasa yang hangat. Kaiba menelan ludah, dia benar-benar ingin merasakan orang yang ada di depannya itu lagi. Tapi apakah dia akan marah? dan dengan ukuran tubuhnya, Kaiba khawatir dia akan mematahkan dia seperti apa yang hampir dilakukan sebelumnya. Dia harus menahan apa yang ia inginkan. Tapi kalau hanya sebuah sentuhandi bibir…
"Puppy..." Jou membuka mata dan tersadar bahwa wajah Kaiba berada di dekat wajahnya. Dia memegang wajah Jou dan menekan lembut bawah bibir Jou dengan ibu jarinya. Ia menunggu Jou membuka mulutnya. Jou tahu apa yang Kaiba ingin coba lakukan, jadi dia membuka mulutnya dan mereka mulai saling menyentuhkan bibir masing-masing, menyentuhkan bibir mereka dengan pelan seakan lama tidak saling bertemu. Sebuah suara lembut datang dari tenggorokan Jou. Sadar tentang apa yang akan terjadi jika ia meneruskan apa yang sedang dia lakukan. Kaiba mulai memegang pundak Jou dan perlahan mendorongnya kebelakang.
"Kau begitu lucu .. Rambut mop berwarna pirang mata cokelat dan hidung kecil" Kaiba mencubit pipi Jou. "... Jika seseorang melihat apa yang aku lakukan kepadamu sekarang seperti yang tadi Mokuba lihat, mereka benar-benar akan berpikir aku adalah seorang pedhopilia ..."
Wajah Jou mulai memerah dan dia memutar bola matanya. "Lagipula, mereka telah mengetahui kalau kau gay..." Kaiba menyeringai ketika mendengar itu.
"Ayo kita tidur pup.." Kaiba mendorong Jou kecil ke tempat tidur dan mulai menyelimutinya. Dia mencium dahi Jou sebelum berdiri. Jou hanya memandang Kaiba sebelum menutup matanya.
"Selamat malam Kaiba..."
"Malam pup..." Kaiba berjalan keluar dan mendesah lega. Ia senang bahwa Jou tidak tahu bahwa ia agak terbawa suasana tadi. "Aku harus mandi air dingin untuk mengatasi masalahku." Kaiba mulai berjalan ke kamarnya.
Aku suka saat menulis Mokuba memukul wajah Kaiba. M.E.N.Y.E.N.A.N.G.K.A.N~
Tanggapan?Woof- oh, maksudku meoow~
