[WARNING! FIC MENGANDUNG UNSUR MATURE MESKI SEDIKIT, YANG BELUM 17TH AKU TAK LARANG KALIAN BUAT BACA FIC INI, TAPI BAGI YANG BELUM SIAP MENTAL DAN TERUTAMA YANG KENCINGNYA BELUM LURUS BETUL, SILAHKAN KLIK TOMBOL BACK. SATU LAGI, DOSA DITANGGUNG MASING-MASING PEMBACA!]
Strike the Pose
2
CN Scarlet
.
.
.
.
Fairy Tail©Hiro Mashima
.
.
.
.
.
.
Jellal F & Erza S
.
.
.
.
.
.
Cerita ini dimulai di pagi hari yang cerah. Hari Senin pagi. Diluar sana, para pelajar dengan seragam sailor mereka berlomba menuju angkutan atau halte terdekat. Takut terlambat menuju sekolah. Namun di dalam sini agak-agaknya sedikit berbeda.
Dalam sebuah kamar lumayan besar dan hangat, di apartemen Honeybone no 121, tampak sebuah selimut bergulung di atas ranjang. Ada pergerakan kecil setiap helaan nafas, menandakan selimut itu ada isinya.
CEKLEK, KRIEEEEEET...
BLAMMM...
Suara pintu, seseorang berambut ungu panjang menyembul dari balik selimut menampakan sebagian kecil dari tubuh polosnya, juga helaian biru pria yang menemaninya semalaman. Memicingkan mata, setengah sadar juga karena dia mempunyai miopia sejak dulu, perempuan itu mencari kacamata bundar miliknya. Senyuman terkembang saat dia menemukannya, memakainya, dia melihat ke arah pintu dimana seorang pria berkaos hitam dengan jeans denim berdiri tegap dan menatapnya datar.
Wajah gadis itu pucat seketika.
"D-Dragneel-s-sama..."lirihnya, sembari berusaha menutupi sebisa mungkin tubuh polos bertabur kissmark itu dengan selimut tebal. Mengakibatkan pria di sebelahnya benar-benar terekspos.
"Raki... aku masih mengantuk... khhh..."gumam pria berambut biru itu, masih di posisi semula hanya saja dia menyimpan lengan kekarnya menutupi kedua matanya dari cahaya yang menerobos gorden kamar.
"Jellal bangun, ini sudah siang!"
Itu jelas bukan suara seorang gadis. Pria yang dipanggil Jellal tadi, langsung membuka matanya dan menemukan sang atasan tengah berdiri angkuh di seberang ranjang. "Z-Zeref... sedang apa kau di sini?" tudingnya. Gadis di sebelahnya tadi sudah melarikan diri sekarang.
"Aku sudah menghubungi managermu, asal kau tahu, dia tidak tahu kau dimana. Eh, ternyata kau sedang 'berolahraga' dengan wanita yang lain lagi?" sindir Zeref, Jellal masih kelabakan memakai kembali pakaiannya yang berceceran di seluruh ruangan kamar yang sungguh berantakan. Pria dengan satu istri sejak lulus SMA itu jelas ngeri membayangkan apa yang bajingan bawahannya satu ini perbuat semalaman, serta seberapa kerasnya 'permainan' mereka di tempat ini sampai menghancurkan seisi ruangan. "Dan... kuharap kau hanya 'melakukan' dengan seorang wanita saja malam ini, hingga tenagamu tersisa untuk pemotretan yang sudah terjadwal, tuan Fernandes."
"Urusi saja urusanmu, tuan Kurang-Kerjaan. Lagipula apa enaknya 'bergoyang' dengan satu wanita yang sama? Dan lagi, kita hanya rekan kerja."ucap Jellal menanggapi sindiran terakhir atasannya.
Zeref hanya terkekeh, sebelum bilang "maaf saja, Mavis-ku terlalu sayang untuk sekedar kuselingkuhi dengan wanita-wanita di sekitar yang mungkin sudah kau cicipi..."
"Hei, apa kau datang kemari hanya untuk menceramahiku tentang 'bagaimana caranya hidup sehat?' kalau iya, enyah saja kau!"memang terdengar kurang sopan seorang model dan artis mengatakan hal itu pada atasannya, tapi mereka memang sudah sangat akrab sejak jaman lulus sekolah dasar. Jadi wajar lah...
"Yayayah... sebenarnya tidak juga, sebagian, tapi mau bagaimana lagi. Kau itu temanku, Jell, dan pagi ini kedua mataku sudah tercemar melihat pemandangan hina yang kau buat bersama salah satu karyawan mbah Makarov yang sering mampir ke perusahaanku."
"Maaf."
"Kumaafkan jika kau berhenti berganti perempuan dan mengikuti jejakku menikah!"
"Hei..."maksud Jellal hendak membalas saran pedas temannya, tapi malah diam karena Zeref sudah mendahuluinya keluar ruangan. Sambil tertawa kecil.
Iri memang, temannya itu beruntung bertemu gadis cantik nan imut sebayanya di bangku sekolah menengah atas dan langsung menikahinya. Ditambah lagi, Mavis Vermilion seorang gadis baik-baik yang mendirikan perusahaan Fairy Tail Magazine yang awalnya adalah majalah fashion biasa tapi, Makarov pamannya, mengambil alih perusahaan dan merombaknya menjadi majalah porno. Kau tahu, usia seorang Mavis kala itu terlalu muda dan tidak bisa dipercayai di Fiore untuk ukuran CEO sebuah perusahaan besar. Begitulah Dreyar mengambil alih.
Bersama Zeref, gadis itu mendirikan De La'tauroue. Majalah fashion terupdet yang popularitasnya kini bersaing dengan Fairy Tail, tapi mereka bersaudara dan bersaing sehat, buktinya banyak model wanita yang sering keluar masuk kedua perusahaan itu untuk bekerja.
Dan begitu pula Erza, model freeshman Fairy Tail Magazine yang sedang dalam perjalanan menuju perusahaan De La'tauroue bersama sang Co CEO yang menjemputnya langsung ke Fairy Hills pagi-pagi sekali. Enerjik dan juga cantik, begitu penilaian pertama dirinya untuk seorang Mavis Vermilion. Namun gadis itu mungkin terlalu jenius di usianya itu, dan juga beruntung.
Iri, tentu saja Erza iri dengan segala keberuntungan yang menimpa takdir gadis pirang bertubuh pendek di sebelahnya. Mereka berjalan melewati toko roti yang wangi, tepat hendak melewati bangunan berplang 'Honeybone' yang Erza yakini sebuah hotel bergaya klasik, dua orang laki-laki keluar dan gadis di sebelahnya langsung menyapa yang berambut hitam.
"Suamiku, kau menemukan orang itu?"
"Hai sayang, dia bersamaku..."
Ow, ow. Erza yang masih dengan sisa asumsinya semalam tentang model-model pria, langsung saja punya pikiran ke arah yang iya-iya. Kalau saja ya, kalau saja Mavis tidak menyapa tadi.
Mereka berdua langsung jalan bergandengan dengan mesranya di depan Erza –dan juga Jellal. Layaknya sepasang pengantin baru, saling bercanda ria sepanjang jalan, sambil sesekali saling berbisik dan tertawa. Membuat siapapun merasa...
"Iri... huuuhhh..."
"Apa?" ucap Erza, merasa tersindir dengan gumaman sangat jelas si rambut biru. Jelas-jelas itu yang dia pikirkan tentang Mavis dan si rambut hitam. "Apanya yang iri? Kau mau mengejekku?"
"Bukan kau Scarlet, aku yang iri dengan kehidupan mereka. Terutama si Zeref yang selalu menyombongkan istri sebayanya itu." masih berjalan bersebelahan, menuju tempat yang sama. Mengekori pasangan sah nan romantis di depan. Dengan mulut mengerucut sebal.
"Hahaha... sungguh aneh seorang laki-laki yang menutupi kissmark di lehernya dengan syall pagi hari mengatakannya. Dan hei, aku punya nama, jangan sembarangan memanggilku Blue!"protes Erza. Pria itu sempat terhenyak beberapa saat begitu mendengarnya, namun kesadaran cepat mengambil alih.
Dia mungkin gadis yang polos, sangat polos, itu asumsi pertama Jellal tentang Erza.
"Aku bukan burung, namaku Jellal. Sungguh kukira aku cukup terkenal untuk kau tahu sekedar namaku, yah kau tahu, sampai mengikutiku sepagi ini. Tunggu dulu," dia menghentikan langkahnya "kau bukan papparazzy 'kan, Scarlet?"
Erza berkacak pinggang, kerutan empat sudut tercetak di dahinya. "Tentu saja bukan! Enak saja kau, aku datang untuk bekerja. Sekali lagi, aku punya nama dan kukira Mavis sudah memberitahumu sebelumnya."dia menghela nafas sebelum melanjutkan "namaku Erza, hanya Erza."
"Hah, hanya Erza? tidak seru..."
Awalnya Jellal bermaksud bercanda saja, tapi tiba-tiba saja timbul raut wajah sedih pada gadis cantik yang baru dia temui pagi ini. Menurut cerita yang dia dengar dari Zeref tadi di hotel, dia bisa mengambil kesimpulan kalau model yang direkomendasikan Gray kemarin malam memang Erza. Tapi hei, gadis dengan seragam sailor kepanjangan bin kebesaran ukurannya itu tidak ada seksi-seksinya, apanya yang membuat Natsu mimisan?
"Apa liat-liat?"
"T-tidak, hanya penasaran..."
"Huh?"
"Apa benar model Fairy Tail Magazine yang baru itu kau, Scarlet?"
"Memangnya kenapa kalau iya? Dan lagi, berhenti memanggilku dengan bukan namaku."
Erza mengucapkan itu dengan nada datar dan biasa saja tapi entah mengapa dia merasa gadis itu marah padanya. Hatinya merasa tercubit. Oh ayolah Jellal, biasanya kau cuek pada wanita kecuali diatas ranjang, kenapa sekarang kau sok peduli sih?
"Kenapa, bukannya kau tidak punya nama belakang. Mulai sekarang nama belakangmu Scarlet..."
"H-hei..."
"Scarlet itu warna rambutmu, jadi aku tidak akan lupa.."
WUSH...
Angin berhembus menggoyangkan rambut merah Erza yang kini mematung. Jellal sudah lebih dulu meninggalkannya memasuki gedung perusahaan majalah De La'tauroue yang megah nan menggetarkan hati itu. Ucapannya, ucapan lelaki berambut biru dengan tatto di sebelah sisi pipinya itu entah mengapa membuat sesuatu menghangat di bagian tubuhnya yang lama beku. Gadis itu hanya menatap kosong pintu masuk gedung yang mulai ramai selama entah berapa menit, sampai perempuan berambut pirang berombak panjang, dengan gaun putih gadingnya, datang menjemput.
"Erza, ayo cepat kita masuk..."
"Ah ya, sumimasen."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Penipu!
Pakaian sailor kedodoran, kaus kaki panjang, dan segala macamnya yang umum dikenakan siswi kuper nan polos itu menipu!
Lihat dia!
Dalam balutan baju kelinci yang mempertontonkan apa yang tersembunyi beberapa jam yang lalu. Blitz-blitz kamera saling menyambar bersahutan. Dalam bisingnya ruangan dominan putih, diatas sofa yang bertabur mawar, gadis itu berganti-ganti pose bersama sebuah majalah dan anggur merah tahun 1976, sesuai arahan si penata gaya. Melirik genit, sesekali menjulurkan lidah, memasang senyum menggoda, bahkan tak segan menatap sayu pada kamera.
Berani sumpah dia tidak percaya kalau gadis genit di sana adalah Erza yang mengobrol dengannya sepanjang perjalanan menuju kemari. Jellal sempat berhenti bernafas melihatnya.
"Jangan kaget!" Jellal menoleh, mendapati Gray sudah berdiri shirtless tepat di sampingnya. "Erza-chan memang selalu penuh kejutan, kau tahu, dan hebatnya lagi.." dia mendekat dan berbisik amat sangat pelan. Bersyukur pendengaran pria biru itu sangat bagus untuk bisa mendengarnya.
"Dia masih perawan!"
"H-HEEEE?" tentu, sekali lagi Jellal terkejut dengan entah kenyataan entah rumor yang barusan dikatakan Gray si hentai prince, yang pasti nih ya, dia sudah sangat berniat mengundang si Gadis kelinci Fairy Tail Magazine itu ke atas ranjang malam ini juga setelah melihat betapa bitchy-nya perempuan berambut merah itu di depan kamera.
Hooo.. kenapa tidak sekalian mengecek kebenaran ucapan si Hentai?
Oh yes, isi otak Jellal mulai nista.
"Yo, sedang membicarakan perjalanan free sex kalian?"
Zeref tiba-tiba saja nyangkut ditengah-tengah mereka berdua "jangan bilang kau menyarankan wanita malam lain untuk sahabat sekaligus model majalahku, eh Gray?"
"Hei Zeref, kau itu menikahi sahabatku bukankah seharusnya aku juga sahabatmu?"
"Ya deh, untuk sahabat-sahabatku yang suka 'kencing' sembarangan macam kalian ini, sebaiknya kusarankan untuk segera menikah sepertiku."ucapnya bangga, lalu menambahkan "kau tahu, istriku itu sangat jago memasak juga sangat pintar pokoknya..."
"Pokoknya kau cinta dia..."sambung Jellal dan Gray secara bersamaan, Zeref tertawa. Memang bukan sekali-dua kali temannya itu mengingatkan model-model bawahannya yang selalu 'keluyuran' seperti mereka agar cepat berumah tangga dan hidup sehat dengan satu pasangan. Jellal bahkan berasumsi, Zeref mengikuti program kemanusiaan bahkan mungkin saja, masuk FBI bagian divisi pengamanan selangkangan.
Entahlah.
"Gray, cepat ambil bagianmu berpose sana! Awas kalau mengecewakan." Kata Zeref sembari mendorong pelan bongkahan pinggul Gray yang tertutup celana denim bergaya rebel. Erza dan seorang model seksi milik De La'tauroue bernama Sayla, sudah bersiap di sana dengan gaun beludru khas pesta. Yang tertutup, tentunya.
Kenapa bukan lingerie? Jellal juga sebenarnya ingin protes begitu mengingat ketiga model itu adalah model majalah dewasa, kecuali Sayla yang seorang actrees wanita film dewasa a.k.a bintang bokef. Ingat bung, De La'tauroue itu majalah fashion NORMAL biasa. Sekalipun model-modelnya bintang bokef semua, tetap saja pakaiannya sopan.
Oke, kesampingkan kostum kelinci yang tadi diperagakan Erza karena itu untuk iklan majalah porno manajemennya yang akan dimuat dalam satu halaman De La'tauroue bulan ini.
Sebenarnya baru ketika selesai pemotretan 'lah inner Jellal protes, kenapa nggak sekalian sih Erza naked supaya dia tidak perlu berfantasi ria. Dia menggerutu sembari sesekali menyuapkan cheese burger panas yang baru saja dibagikan Mavis secara cuma-cuma. Sekarang si doi sudah kembali memakai baju serba longgarnya, Jellal mendesah kecewa.
"Hahaha... lihat siapa yang berfikiran kotor, huh?"goda Gray, saus tart caramel sedikit belepotan di sudut bibirnya.
"Urusai Gray!"
"Erza sepertinya gadis yang baik ya, dia cocok kau nikahi, Jellal!" saran Zeref. "Kubilang dinikahi ya, jangan pernah berfikir kau akan menidurinya malam ini. Tidak malam ini, tidak malam manapun sebelum kau menikahinya."
"Hei, apa seorang CEO tidak mempunyai pekerjaan lain selain merecoki modelnya?" sindir Gray, masih tidak terima ada yang mau mengusik hidup bebas yang dia dan temannya anut.
"Hari ini Mavis menghandle semuanya, siapapun tahu bagaimana kemampuan istriku."lagi-lagi dia membanggakan istrinya.
"Tadi kulihat dia membagikan ini," Jellal menyodorkan setengah cheese burger panasnya. "Kukira dia sangat sibuk, kenapa kau tidak menolongnya?"
"Ah baiklah kalau kalian memaksa..." Zeref akhirnya mengalah "oh ya, setelah istirahat ini kau antarkan Erza sekaligus melanjutkan pekerjaan di Fairy Tail yah Jell! Mereka butuh kau untuk model alat kontrasepsi."
Jellal menepuk jidat. Demi apapun juga, dia hanya suka berbugil-ria di ranjang dengan ditemani perempuan yang hendak bergulat mesra dengannya, atau kamar mandi untuk mandi. Biasanya dia meminta Silver ataupun Mard Geer, atau siapapun yang nganggur, untuk menggantikannya mendatangi tempat itu.
Dan lagi, apa tadi, alat kontrasepsi? WTF!
Berapa kemungkinan dia tidak naked, 1% kah? hei, Fairy Tail Magazine itu majalah dewasa. Jellal melirik Gray...
"A-apa? Maaf saja, setelah ini aku masih ada pemotretan di tempat ini. Erza!"
Jellal menoleh, Erza melambaikan sebelah tangannya dari sebelah Sayla dan Kyouka. Mengantri menghapus make up oleh Lamy, make over sponsor. Dia memberi kode kalau dirinya mendengar apa yang diucapkan Gray. "Kau pulang ke Fairy Tail bareng Jellal ya!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kau ini kenapa kaku sekali, cepatlah sedikit. Lepas celanamu Jelly! Aduh, padahal asalmu juga model majalah dewasa juga, kenapa masih berlagak coba?"
Natsu mencak-mencak didepan kameranya yang baru saja dia bersihkan lensanya. Dia tak habis pikir kenapa anak itu tiba-tiba saja bersihkeras ingin shirtless dimana perusahaan pengiklan yang membayar jasanya mahal-mahal, meminta pose nude dalam majalah dewasa. Padahal yah Natsu ada benarnya, sebelum bekerja untuk De La'tauroue Jellal bekerja sebagai model dalam majalah kelinci juga. Majalah dewasa!
Jellal mendudukan dirinya di atas ranjang merah bertabur kondom dalam kemasan yang sedang diiklankannya dengan santai sambil bilang, "lagipula kau hanya mengambil sebagian tubuhku untuk kau potret, kenapa ribut suruh telanjang sih? Bukankah begini saja cukup!" sergahnya sambil bersedekap dada.
"Jellaaaal..."
"Cukup Natsu, biar aku yang tangani ini."
Erza keluar dari balik ruang ganti dengan handuk yukata besar. Berjalan sensual menuju ke arah Jellal yang masih shirtless di atas kasur bertabur alat kontrasepsi. Wajahnya sangat cantik dengan make up tipis, dikepalanya juga dihiasi bando mutiara cantik, membuatnya tampak menawan di mata siapapun yang melihatnya.
Tapi, yang paling mengganggu Jellal adalah aroma mawar dan vanilla dari farfum yang dipakai gadis itu. Sial memang, aroma itu memabukkan baginya. Membuat pria itu ingin segera memeluknya, lalu memakai sesuatu yang bertebaran di sekitarnya untuk melakukan 'sesuatu' yang dia bayangkan sejak tadi.
Oh shit!
Erza sudah duduk di sebelahnya dan dia sudah merasa 'sesak'.
Tidak Jellal, tenangkan dirimu! Kau biasanya tidak selemah itu dalam urusan 'ini'. Jellal berusaha menenangkan batinnya yang mulai bergairah.
"Jellal, bisakah kau menuruti keinginan Natsu? Kita akan berpose untuk iklan alat kontrasepsi yang akan dipajang di majalah dewasa, kau pikir aku tidak berani berpose nekat denganmu yang seorang model majalah anak-anak, eh?" sindir Erza dengan kalimat sakrartis, nada datar, dan senyuman ceria.
"K-kau..." satu lagi, Jellal tidak pernah menyangka kalau seorang model pendatang baru berbicara senekat ini. Juga berani mengundang, bahkan menantang seorang pria ke atas ranjang.
Oke, ini bukan isi pikiran kotor Jellal yang tengah berfantasi ria beberapa waktu yang lalu. Ini memang kenyataan. Dan mereka akan berpose, di atas ranjang. Benar-benar diatas ranjang!
Dengan pose benar-benar menantang tentunya.
"Terserah kau mau bersihkeras pakai celana atau memang mau menurut dilepas sekarang, jangan salahkan aku jika kau merasa tidak nyaman. kita akan memulai pemotretan sekarang, pokoknya!"
Natsu sudah berada di belakang kameranya kembali. Mengatur fokus dan posisi yang akan dia ambil untuk shooting. Begitu pun kru yang lain sibuk membantu. Kesempatan itu dimanfaatkan Erza untuk berbisik...
"Ayo kita bertaruh Jellal..."
Hawa panas yang sengaja dihembuskannya ke sekitar pria itu, membuat sensasi aneh yang membuatnya merinding. Sensasi yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Bahkan tidak dengan wanita manapun yang pernah dia gagahi sebelum-sebelumnya.
"Seberapa lama kau bisa menahan diri untuk tidak ereksi selama pemotretan ini!"
Astaga...
Jellal meneguk ludah susah-susah. Seumur hidup, dia tidak pernah merasa sebergairah ini. Walaupun ini bukan yang pertama, benar-benar bukan yang pertama kalinya untuk lelaki itu, dia merasa sangat ya ampun.
Sepertinya dia tak yakin akan menang.
SREEEETTT...
"Oh shit!"
Jellal memejamkan kedua kelopak matanya. Dia menyesal, tidak mengikuti interupsi Natsu untuk melepas celananya.
Tapi...
Nasi sudah menjadi bubur.
Jellal sekarang,
benar-benar,
merasa...
SESAK!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
[Bersambung atau berhenti?]
Author note...
Karena review kalian, aku mau tidak mau melanjutkan fic ini. iya aku sangat ikhlas kalau demi JerZa Lovers sedunia, terutama yang menantikan fic ini.
Khusus fic chapter ini ya, aku terinspirasi pas nggak sengaja liat alat kontrasepsi yang dijual dekat kasir. Itu loh yang ada gambar buah-buahannya. Pertamanya aku kira itu permen. Hahahaha...
(kebayang banget kalau hari itu aku bawa keponakan dan keponakan aku nangis pengen beli barang itu, hahaha... pasti malu banget)
Dan seperti biasa ya, readers... aku nggak akan pernah melanjutkan fic ini kecuali kalian memang suka, sekali lagi jangan remehkan fic rated M!
Aku akan melanjutkan fic ini kalau review minimal lebih lima dari syarat di chap 1. (Min 15 ya!)
Thanks udah baca!
.
.
.
CN Scarlet
[yang login kemarin, lihat balesan di PM yaaa :** ]
