"Yoon, aku menginginkanmu."
Sejurus setelah satu kalimat terkuak dari bibir tebal Jimin, Yoongi langsung mencoba melepaskan kedua tangan Jimin yang kini mengunci pergerakan dengan menekan pinggulnya. Diremas kuat, dengan badan yang ia kunci tersebut ditekan kebawah menahan.
"Tidak, Jim. Lepas—sial!"
Kedua lengan kokoh itu di tepuk—lebih tepatnya digebuk kuat karena jari Yoongi terkepal untuk melaksanakan aksi melepaskan dirinya. Napasnya memburu lebih cepat kala melihat kilat mata Jimin yang terpancar nafsu—ia benar benar tak mengerti.
"Apa yang kau mau?!" tangan Jimin yang masih terpasang kuat dipinggangnya diremat, pandangannya sedikit berkilah kala Jimin menyeringai dan mendengus bersamaan.
"Kau takut, Yoon?" Jimin mendengus, "Dan—aku kira aku sudah mengutarakan apa yang aku inginkan tadi." Satu tangan dilepas setelah tangan satunya—yang kiri—melingkari pinggang kecil Yoongi untuk mengeliminasi jarak sekaligus mengambil alih semua kerja untuk lebih menahan yang lebih muda di dekapan, "Kenapa kau menjadi seperti ini, hm? Kau benar benar tak tau aku mengincarmu selama ini?"
Dada Yoongi menaik. Napas yang ia tarik kuat ia tahan.
Yoongi—tau hal itu.
Pancar netra Jimin yang ia pandang kali ini bukan hanya sekali ia lihat. Seringkali—jika ia bersama Jimin di mobilnya.
Seperti seminggu lalu saat ia tak sengaja menumpahkan kopi pemberian Jimin—setelah Jimin tau Yoongi suka kopi—, mata tersebut sama persis seperti saat ini ketika Yoongi melepas seragamnya untuk dibersihkan.
Atau pada saat ia dipasangkan dasi oleh Jimin, seperti pagi biasa atau bahkan pagi tadi. Kedua indra penglihatan Jimin tersebut sama menakutkannya dengan saat ini. Seolah ingin menerkam lehernya jika Yoongi mendongak.
Yoongi sedikit risih awalnya. Tapi kelamaan, kedua netra yang bergerak dengan indah tersebut menjadi kesukaannya—atau bahkan saat kedua mata tersebut berkilat menyeramkan dan penuh akan gairah, Yoongi juga menyukainya.
Jimin terlalu sering melihatnya dengan tatapan tajam yang tak cukup dimengerti, membuat Yoongi kadang tak sadar kalau seharusnya itu menjadi tanda agar ia tak semakin mendekati bahaya seperti sekarang ini.
Jika saja Yoongi tau kalau pancaran tersebut akan bermain juga untuk hal sejauh ini. Pasti sudah dari lama ia memilih berangkat ke sekolah dengan bus seperti niatan awalnya.
Jika saja ia tau…
"Jim…"
Yoongi menghitamkan penglihatan kala tubuhnya menjengit dan bergidik ngeri saat punggung nya disentuh sensual oleh tangan kasar Jimin. Kedua tangan Yoongi dalam sekejap telah dibawa ke arah belakang dan di borgol oleh satu tangan Jimin. Lingkaran yang mengitari kedua tangannya itu—kuat bukan main-main.
"Biarkan aku memilikimu Yoon."
Yoongi tak sempat menggeleng, karena kepalanya sudah terlebih dulu mengulur ke atas menampilkan otot lehernya yang bergaris biru keunguan. Kedua bilahnya juga tak sempat menyangkal karena lebih dahulu mengerang dan mendengungkan teriakan tertahan.
Dada kanan Yoongi digigit kuat oleh Jimin.
Berani yakin, jika bekasnya bukan lagi merah muda tapi akan keunguan di sekitar ureolanya.
Bukan kenikmatan—tapi sakit yang menderanya.
Gigitan kecil menguasai, begitu Jimin selesai menggigit keras. Menggigiti sekitar, membuat dada Yoongi menegang dan tanpa sadar Yoongi maju mendorong dadanya untuk dapat lebih dimainkan.
Jimin menyeringai lalu melakukan gerak menjilat dan menghisap secara berulang tanpa atur. Ia menyentilnya dada Yoongi dengan lidahnya yang panjang, atau mengecup kupu kupu diatasnya.
Lalu mengecuh—sebelum benar benar dilepaskan panggutan untuk melihat wajah cantik yang muda.
Wajah Yoongi yang kini terengah dengan kedua mata nelangsa yang mengeluarkan air mata.
Sayangnya—Jimin tak mau lagi peduli.
"Cup cup Jangan menangis Yoon." Bibir Jimin dinaikkan saat Yoongi mendesis tak suka dengan tangan Jimin yang mengusapi pipinya, "Karena aku tak akan berhenti walau jika kau berteriak sekalipun,"
Dahi Jimin menyeruduk dahi Yoongi tanpa aba, Jimin mencium Yoongi dengan gigitan di ujung bibir sebagai awal. Lalu menggigiti bibir bawah Yoongi sebelum meraup kedua bilah Yoongi untuk dikulum.
Napas panas milik Jimin melingkupi wajah Yoongi, seperti sengaja dihembuskan saat bermain dengan lidahnya didalam. Dengan ahli ia mendalamkan tengkuknya, untuk membuka bibir Yoongi lebih luas. Menyedot saliva Yoongi dan menjelajahi rongga mulut Yoongi. Tengkak Yoongi bahkan disentuhnya sehingga membuat Yoongi terbatuk dalam ciuman.
Saliva bening diputus dengan tangan begitu menarik tengkuknya. Melepas ciuman sekaligus melepas napas terengah. Disetiap tarikan napas lanjutan terasa begitu menyiksa karena Yoongi hampir melupakan napas tadinya.
Lidah Yoongi menjulur kewalahan, kerongkongannya sangat merindukan oksigen.
Belum juga puas meraup udara, Yoongi kembali menggigit bibirnya dan gigi bergemelatuk karena wajah Jimin yang merunduk, tak lagi terlihat di pandangan Yoongi—Jimin sudah menenggelamkan wajahnya di tengah dadanya. Mengecup dan menjilat, sebelum ia menggigitnya.
'Jiminh—Hyun Ji—"
Dua kata yang bisa terlepas dari mulut Yoongi hanya nama istri Jimin dan Jimin sendiri, walau sebenarnya ada rentetan kata yang menunggu diungkapkan.
Jimin menulikan telinga, meraup puting kiri Yoongi yang belum mendapatkan jatah darinya.
'Jimh—dirumah—Hyun Ji ahjumma—ha-eungh—'
Yoongi menggeleng kuat. Jimin mengetatkan cengkeraman di kedua pergelangan tangan Yoongi, kembali mendorong Yoongi dengan tangan tersebut membuat dirinya semakin dilalap gelap.
'Hyun-Ji—ahjumma—menunggu dirumah—tidakkah kau merasa bersalah? Ugh—'
Bukan kata yang mengusiknya, tapi geraman di akhir kata yang biasa Yoongi lontarkan tersebut membuatnya berhenti.
Bunyi plup terdengar saat Jimin melepaskan bibirnya ditengah hisapan kuat, Yoongi terengah lega sekaligus menanti reaksi orang dihadapannya.
"Aku peduli apa?"
Dan reaksi yang didapatkan ini—benar benar tak terduga.
Cengkeraman dilepas, tangan Yoongi terkulai lemas disisi tubuhnya, "Aku juga menunggu waktu. Waktu yang tepat untuk bersama seseorang, waktu untuk melakukan hal yang lebih jauh. Aku menunggumu Yoon."
Yoongi terlalu lemah untuk memberontak, Yoongi hanya mendenguskan tawa—
—sebelum ia sedikit memiringkan kepalanya, karena telinganya mendenging saat Jimin mendekatkan wajah di perpotongan leher dan menempelkan bilah basahnya di pinggir telinganya, dan merapalkan kata aneh.
"Tertawalah Yoon. Tawailah obsesi gilaku. Karena obsesiku tak akan hanya berhenti disini,"
Tanpa tedeng aling aling, kedua paha Yoongi diturunkan dengan didorong dari pangkuan Jimin. Tempurung kepalanya jatuh tepat di sisi pinggir bawah kaca membuat Yoongi sedikit meringis akan sakit setelah bunyi 'buk' keras.
Ia kembali di kursinya—karena dilempar oleh Jimin.
Jaket yang dipakai Jimin dilepas, membuangnya ke arah Yoongi, "Kita pulang. Benar benar pulang,"
Yoongi menegap dari posisinya yang aneh dengan tatapan tak lepas dari Jimin. Jimin yang kini memakai sabuk pengaman lalu menoleh dengan seringaian.
Seringaian yang selalu sama—yang semakin terpatri di bibir si Park.
Jaket milik Jimin semakin dieratkan. Ini sudah tengah malam, dan itu berarti sudah lima jam dari kepergian Jimin setelah memulangkannya. Hampir seperti mengusir jika Yoongi yang membayangkannya sejujurnya.
Penolakan Yoongi seakan berpengaruh terhadap emosi Jimin—
Ah, tentu saja ia akan marah.
Yoongi juga tak tau kenapa ia menolak Jimin—
Ah—tidak. Sudah jelas alasannya. Hal tersebut tak benar. Jimin sudah dianggap seperti Ayahnya lalu juga ada Hyun Ji—
Tapi akal sehatnya menggila—ia seakan berputar diantara kalimat 'Jimin menginginkannya'. Membuatnya pening dan hampir terjerembab untuk menyetujui kalimat itu dan pergi menggedor pintu rumah Jimin lalu membiarkan diri disetubuhi si Park. Entah apa yang ia rasakan ini.
Gila. Ia menjadi gila. Nafsu milik Jimin menular pada Yoongi.
Yoongi duduk dengan kedua kaki ditekuk dirapatkan ke tubuh hangatnya sendiri. Jangankan mandi, ia bahkan belum berganti baju—ah berganti celana saja sebenarnya karena bajunya yang sobek di kerah itu sudah ada di tasnya, dimasukkan asal oleh Jimin sebelum mendorongnya keluar dari mobil seperti sampah.
Ketukan di pintu bahkan Yoongi biarkan. Ibunya akhirnya menyerah mengira Yoongi tertidur saat menyuruh Yoongi keluar untuk makan malam,
Yoongi berkecamuk, pikirannya kacau.
Jimin—benar benar membingungkan.
Sejenak ia berkata menginginkan Yoongi.
Tapi setelahnya ia bersikap seolah Yoongi menjijikan bahkan tak patut untuk dilihat sekilas.
Jimin pergi tanpa kata, meluncur langsung menuju rumahnya diseberang dan menutup pintu garasi tanpa menyadari Yoongi masih berdiri didepan rumah melihatnya.
Kepalanya dihempas, terjatuh tepat dibantalnya. Kedua tangan yang memegang masing masing sisi jaket melonggar. Melentangkan tangan dengan berhembus napas normal. Kegiatan sederhana untuk hidup—bernapas—tersebut rasanya amat menyiksa. Bau yang menyeruk ke penciumannya membuatnya mengeryit dengan mengepalkan jari.
Bau itu, bau yang Yoongi suka—bau kopi.
Candunya—candunya—candunya.
Bohong sebenarnya jika Yoongi hampir tak mau dilepas dari dekapan Jimin tadi.
Jimin yang pulang dari kerjanya.
Baunya bahkan bisa lebih menariknya dalam putaran mabuk milik Yoongi sendiri. Bau kopi tersebut semakin menyebar disegala pergerakan.
Semua pergerakan.
'ugh—'
Yoongi melenguh. Membayangkan Jimin yang tadi begitu menginginkannya membuatnya merasakan sesuatu bergelombang di perutnya. Mengalir ke seluruh tubuhnya sehingga ia bergidik akan apa yang dirasakan.
Sebegini kuatnya kah pengaruh Jimin?
Dadanya sedikit nyeri saat Yoongi ingin memiring ke samping. Geraman tertahan menambah kering tenggorokannya.
Badannya terasa sakit di segala tempat. Sakit karena badannya kaku, bahkan gesekan seprai membuat Yoongi tersiksa.
Sial—bayangan akan Jimin yang mencumbunya membuatnya menjadi amat tegang.
Jimin yang mencumbunya—
Jimin yang mencumbunya—
Jimin yang mencumbunya—
Hal itu—
—perlu dituntaskan.
Walaupun hal itu salah.
Bibirnya ia gigit dengan mata berkaca. Merasa tak biasa dengan apa yang kini dirasakan. Rasa akan haus sentuhan. Demi apapun! Bahkan ia tak meminum perangsang atau segala jenisnya.
Karena perangsang yang lebih kuat itu adalah hal yang kini tengah melingkupi tubuh dan kewarasannya—bau parfum kopi Jimin di jaketnya, benar benar membuat Yoongi separuh sadar melepas celana yang dikenakannya.
-karena ia memutuskan.
Biarkan gelap yang mengambil alih kesadarannya untuk melepas siksa.
'jimh—'
Tangannya yang bergerak menuju kepemilikannya sendiri dibalik celana dalamnya.
Mengurut miliknya dari dalam kain—yang sudah basah dari entah kapan membuat tangannya licin dan bergerak naik turun dan memutar leluasa.
'angh—jim—'
Celana dalam dilepas sembarang. Jaket yang digunakan tanpa di resleting tersebut dibiarkan tergantung gantung di badan polosnya saat ia berbalik menungging.
Mulutnya membuka, mengambil oksigen gelagapan saat ia memutari lingkaran retrum miliknya sendiri. Mata berkilat ingin, tapi jiwanya separuh mengatakan hal ini tak benar.
Lalu dimana jiwa persetannya kembali, matanya dipejam kuat—
Dan kedua jarinya menggelincir masuk ke tubuhnya.
'ANGH—ini sakit—ha—'
Ia diam untuk beberapa detik. Benar benar asing atas apa yang dilakukan dan dirasakan. Lidah yang menjulur bahkan tak sengaja ia gigit, gigi menggerit begitu tangannya bergetar memberi reaksi getaran tersebut ke bagian bawahnya.
'sakit—'
Dengan pelan, ia memasuk dan mengeluarkan jarinya dengan tempo yang amat pelan. Menenggelamkan wajah dibantal karena tangan yang menumpu beralih menyentuh penisnya yang menggantung memelas. Ia menggengam miliknya dan bergerak setempo dengan tangan di lubangnya.
Bibir yang masih digigit menjadi berdarah saat gigitan menguat. Rasa anyir darah menguasai rongga mulut.
'bagaimana—ungh—'
Ia menggeleng menjawab dirinya sendiri.
Tak ada kenikmatan yang diraih—atau mungkin belum, karena ia masih dalam kecepatan normal. Jenuh dengan gerakan, ia membuat gerakan menggunting dan memutar tak jelas arah didalamnya.
Lalu saat menekan dengan kuat—prostatnya telak tersentil dengan keras.
'hu—ungh—tiga-tolong-ah fuck—'
Jari ketiga ia masukkan dengan kuat. Sesekali menggeram dengan suara kecilnya saat tak sengaja menyempitkan lubangnya membuat jarinya sedikit tertarik keluar.
'yea—there—jiminie—ugh—'
Ya,
Jiminlah yang mencumbunya—
—bayangan sama seperti ia berada di mobil berada di pelukan seorang Park.
Kegilaan Yoongilah yang menguasainya.
Nafsu milik Park Jimin telah telak menular padanya—bahkan menjadi lebih parah.
Tangisnya tertahan begitu mengingat Jimin juga menginginkannya. Ia menginginkan Yoongi.
'eumh—'
Tubuhnya ia balikkan. Mengangkang di atas ranjangnya dengan tangan masih tertaut di bawah.
Tubuhnya digeliatkan saat merasa kebas di tangannya. Lalu kembali sedikit ke atas dan menopang tubuh dengan tangan satu.
Leher ia jenjangkan begitu kembali mengeluar masukkan jarinya. Bibirnya yang menutupi gigi gigi dan gusinya tersebut menganga lebar sama dengan kedua pahanya.
'kenapa jimh—'
Pikirannya berubah kalut saat ini. Jasmaninya haus akan Jimin, tapi ia juga masih memiliki rasa hormat kepada Hyun Ji yang sudah ia anggap seperti Ibu.
Ingin rasanya 'masa bodoh' terhadap Hyun Ji, sama seperti ia acuh untuk lanjut mengangkang dan menyentuh dirinya sendiri seperti sekarang ini.
'ani—ungh—'
Dadanya membusur saat gelombang yang dinanti akan datang, tangan satunya menyentil puncak dada kanannya yang membiru tersebut—menekannya membuat erangan sakit sekaligus nikmat akan pelepasan yang menumbunya.
Tubuhnya ambruk dengan perut yang masih bergejolak bahkan setelah pelepasan hebatnya, mengabaikan bahwa sperma telah mengotori sprei. Kedua matanya terpejam, tangannya ia lepaskan dari lubangnya yang menganga. Saliva yang meluber karena terlalu lama menganga ia biarkan menuruni dagu untuk membasahi bantal.
Mata sayunya meremang bahkan di ruang gelap pejaman, siluet cahaya yang muncul ia biarkan—
tak menyadari jika siluet disebabkan karena pintu kamarnya dibuka.
'jimh—kenapa—'
Yoongi meringik, dengan dahi disempitkan. Menahan isaknya.
"Apanya?"
Oh—suara familiar ini.
Yoongi menelungkupkan bibir, netranya membuka pelan.
"Puas bermain sendiri, sayang?"
Orang yang bergaya angkuh bersedekap dan bersandar di pintu kamar Yoongi itu—
"P-park Jimin."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
(jengjengjeng) /added bgm seperti drama/
Nyangka ga si malah jadi gini? wkwkw. Yoongi jadi main sendiri AHAhAHAHjajajaja
.
kay.
.
kalo ada kata atau kalimat aneh. pahami ya, aku ngedit ini selalu dalam keadaan mata ngantuk :')
.
Anw, aku mau bilang. aku tuh orang males banget edit. Apalagi kalo ffn tuh ya :') Double ngedit! jsjaksksksk ngeselin banget.Jadi, maaf ya kalo tulisan ga hebat ku ini makin jadi jelek karena ga teratur ㅠㅠ
