.
Okaeri
NaruMai fanfiction
With little bit YakumoHaruka
© Yuki Yahiko
Ghost Hunt Fuyumi Ono
Crossover fic with
Psychic Detective Yakumo © Kaminaga Manabu
.
.
.
.
Mai mencoba membuka matanya yang terasa berat. Manik cokelat itu mengerjap cepat ketika menyadari posisinya saat ini, terbaring di tempat yang gelap. Dengan gerakan cepat dan terburu-buru, gadis brunette itu membangunkan tubuhnya.
'Dimana aku?' Benaknya bertanya.
Dalam hitungan sepersekian detik ingatannya kembali-saat ia berjumpa dengan sesosok arwah wanita dengan aura pekat, diterjang angin kencang, menabrak jendela kaca besar bangunan tua itu hingga dirinya terjun bebas kebawah.
'Terjun.'
Manik itu kembali membeliak kaget dan dengan segera mengecek seluruh tubuhnya.
'Tidak sakit. Darah pun tidak ada.'
Batinnya mulai bingung. Apakah ingatannya tentang jatuh itu hanyalah sebuah mimpi?
Kebingungan semqkin melanda pikirannya. Selama ini, jika dia berada di alam mimpi, Gene akan selalu datang untuk membimbingnya. Namun, tidak untuk sekarang. Selalu seringnya Gene muncul dalam mimpinya membuat Mai tidak dapat membedakan realita dan mimpi. Duo davises yang dulu bersamanya sekarang sudah tidak ada lagi.
Ya, harus Mai akui, semenjak tubuh Gene ditemukan dan kembalinya Naru ke Inggris-negara tempat tinggalnya, Gene sudah tidak pernah lagi hadir dalam mimpinya. Tidak untuk memberikan arahan seperti dulu, dan tidak juga mengatakan salam perpisahan untuknya.
Mai meremat bagian jantungnya yang berdegup kencang. Rasanya sakit, ketika kau mengetahui kau jatuh cinta pada dua orang yang salah. Baik Gene maupun Naru telah meninggalkannya. Kedua Tuan muda Davis itu sama sekali tidak mengucapkan salam perpisahan untuknya, baik untuk berkata 'selamat tinggal' maupun 'sampai jumpa kembali.'
Mereka berdua meninggalkannya. Dan tidak hanya mereka, teman-teman SPR yang telah ia anggap keluarga, pun demekian samanya.
Mai … kembali menjadi gadis yatim piatu yang kembali ditinggalkan.
Bulir-bulir air mata terjun bebas tanpa bisa ia kendalikan. Mai kembali menangisi kesendiriannya.
'Ada apa denganku? Bukankah, aku sudah sering sendiri? Kenapa sekarang rasanya sungguh menyiksa?' batinnya.
Mai menjerit dalam tangisnya. Mengeluarkan segala emosi yang dia simpan sejak dulu.
"Aku … tidak ingin sendiri." Ucapnya parau disela-sela tangis.
Kedua tangannya saling bersahutan untuk menghapus air mata yang sedari tadi berjatuhan.
"Gadis yang malang."
Sayup-sayup, Mai mendengar suara seorang wanita yang berbisik di depannya. Tidak hanya itu, gadis itupun merasakan sentuhan lembut dipucuk kepalanya.
"Siapa?"
Dengan suara takut, Mai mencoba mengintip sosok yang saat ini berdiri di depannya. Manik Russet-nya menangkap samar sosok wanita anggun berbalut dress hitam panjang dengan rambut hitam yang tergerai bebas.
"Kau, siapa?" tanyanya lagi.
Wanita itu tertawa pelan sebelum tangannya terulur untuk menghapus buliran air yang masih terus turun membasahi pipinya.
"Kau bicara apa, Mai. Ini aku, kakakku. Dasar gadis kikuk!" jawabnya seraya memberikan sentilan kecil di dahi gadis itu.
"Ka … kak?" cicitnya pelan.
"Ayo, kita pulang." Ajaknya seraya menjulurkan tangannya.
Bagai terhipnotis, Mai menyambut tangan itu dalam diam. Kebingungannya yang sedari tadi menguasai dirinya menguap entah kemana.
Dan … ketika tangan mereka bersambut, wanita itu menampilkan senyuman lebar.
.
.
.
.
Ozawa Haruka, tengah berjalan pelang mengitari koridor rumah sakit yang sepi. Sebuket bunga lili putih berada dipelukannya. Kedati terlihat tersenyum, senyuman gadis itu tidaklah seceria biasanya. Manik lavender itu menatap sendu bunga dipelukannya.
"Dia akan baik-baik saja, 'kan?"
Suara lirihnya itu berbalas dengan sebuah gumaman, "Hn." Dari pemuda bersurai cokelat yang sedari tadi berjalan di belakangnya.
Langkah kaki Haruka terhenti.
"Harusnya, aku memaksanya untuk berhenti." Isaknya.
Haruka tidak tahu, sejak kapan buliran air bening itu meluncur bebas dari pelupuk matanya. Dalam diam, gadis itu berusaha untuk menghentikannya. Tangannya tergerak untuk mengusap kasar wajahnya, agar aliran air itu berhenti membasahi pipinya.
Pemuda itu menghela napasnya. Kedua bola mata berbeda warna miliknya terpejam sejenak, sebelum melangkah maju dan berdiri tepat disamping gadis berhelaian fuchsia itu. Telapak tangan pemuda itu terulur mengusap pelan kepala haruka.
"Jika , gadis ceroboh yang selalu dikelilingi masalah sepertimu baik-baik saja, maka aku yakin gadis ceroboh lainnya itu akan bernasib sama." Ucapnya datar.
Niat hati, pemuda itu ingin mengibur gadisnya. Tetapi, bukan senyuman manis ia dapatkan, melainkan raut wajah kesal dengan kedua pipi yang digembungkan kesal.
"apa-apaan wajahmu?" tanyanya seraya menggaruk bagian belakang kepalanya.
Haruka tak langsung menjawab. Sebaliknya, gadis itu memalingkan wajahnya seraya kembali mengambil langkah panjang sebelum berguman, "Kau menyebalkan, Yakumo-kun." Meninggalkan pemuda itu jauh dibelakangnya.
.
.
.
.
Disisi lainnya, tepatnya di sebuah kamar dengan nuansa putih dan bau khas obat-obatan itu, Matsuzaki Ayako, tak henti-hentinya merapalkan do'a untuk sosok gadis yang tangannya ia genggam sedari tadi.
'Buka matamu, Mai!' batinnya terus berteriak, tetapi mulutnya tak sanggup untuk mengeluarkan suara.
Wanita bersurai merah itu menyesal karena tidak bisa melindungi sosok yang saat ini tengah tertidur. Harusnya, Ayako sudah tahu sedari dulu, kalau gadis brunette itu selalu menjadi target dari arwah yang akan mereka murnikan. Tak hanya sekali, tapi berulang kali, bahkan hampir di semua kasus yang mereka tangani sosok ini selalu berada dalam bahaya.
Padahal, Naru pernah mengatakan kepada mereka bahwa status Mai berada dalam status dibawah pengawasan ketat.
Berbicara tentang Naru, Ayako selalu bertanya-tanya, kenapa bocah arogan bertampang tampan itu tetap menjadikan Mai sekretarisnya?
Bahkan, hingga SPR dinonaktifkan sementara dan kepemimpinan dialihkan kepada Mori Madoka, pun Shibuya Kazuya tetap mempertahankan Mai di kantornya-Walaupun, dia sempat menyuruh gadis itu untuk mencari pekerjaan lain.
Hal itu membuat Ayako selalu bertanya-tanya, apa yang sebenarnya dipikirkan Sang pemimpin SPR yang saat ini tengah menuju kemari.
Dan, lamunan itu terhenti ketika pintu ruangan mereka terketuk pelan diiringi dengan suara salam dan kemunculan dua orang berbeda gender dari balik pintu yang kini tertutup pelan.
.
.
.
.
Takigawa melipat kedua tangannya seraya menyandarkan tubuhnya yang lelah pada body mobilnya. Disampingnya, John Brown juga melakukan hal yang sama. Raut wajah kusut keduanya masih melekat sedari semalam.
Sesekali, umpatan kecil akan keluar dari mulut mantan biksu yang sedang turun gunung itu. Pikiran pria bersurai cokelat itu melayang jauh. Rasa menyesal karena tidak dapat melindungi sosok gadis kecil yang sudah dia anggap keluarganya dan penasaran ketika gadis itu dinyatakan tidak mengalami cidera yang fatal melingkupi dirinya.
"Harusnya, aku memaksa untuk berhenti dari pekerjaan ini sejak Naru kembali ke Inggris." Sesalnya yang diamini oleh pemuda bersurai emas disebelahnya.
"Mai-san, sedari dulu selalu saja celaka." Imbuh Sang Pendeta muda itu diiringi helaan napasnya.
Dan kini, Takigawa yang mengiyakan ucapan John sebelum akhirnya keduanya sama-sama menghembuskan napas berat lagi.
.
.
.
.
"Naru, berhenti!" teriakan Lin Menggema di dalam ruang kedatangan mereka. Pria bersurai hitam dengan model emo itu Nampak mengejar sosok pemuda di depannya.
Disisi lain, kedati wajah datar tetap menghiasi wajahnya, Naru tidak bisa berbohong bahwa laju jalannya lebih cepat dari biasa. Hentakan sepatu membentur lantai itu menggema disepanjang koridor ruangan tersebut.
"Lin." Suara berat itu menyahut teriakan pria di belakangnya, "Kirimkan Shiku-mu."lanjutnya tanpa menghentikan langkah kakinya.
Pemuda itu ingin segera keluar dari tempat ini dan bertermu dengan sosok asistennya dulu. Tangan kanannya yang tersembunyi dibalik saku menggenggam erat sebuah benda tipis guna memastikan bahwa sang empunya baik-baik saja.
Tanpa menjawab, Lin segera melakukan apa yang diinginkan oleh bosnya itu.
.
.
Ketika naru dan Lin menginjakan kaki mereka diluar Gedung Bandara, manik kelam mereka menangkap siluet Takigawa dan John yang sedang melambai kearah mereka. Tanpa membuang waktu, keduanya segera menghampiri mereka, masuk ke dalam mobil yang dibawa oleh Takigawa dan meluncur meninggalkan tempat tersebut.
"Takigawa-san, John-san, bagaimana kondisi Taniyama-san sekarang?"
Percakapan dalam mobil bersuasana sunyi itu dimulai oleh Lin. Tak seperti biasanya yang acuh, Lin memulai karena dia tahu, saat ini kepala Naru berisi tentang pertanyaan tersebut. Namun seolah enggan berucap, pemuda beriris kelam itu lebih memilih diam dan fokus kepada suasana hatinya yang buruk.
Tanpa menoleh ke belakang, John, yang saat ini duduk dikursi depan sebelah kemudi menjawab mewakili Takigawa yang Nampak fokus menyetir dengan dahi berkerut.
"Kami belum mendapatkan kabar terbaru dari Matsuzaki-san. Dan bisa dibilang, kondisi Mai-san saat ini berada distatus koma. Walaupun, Dokter bilang bahwa lukanya tidaklah buruk."
Lin Nampak mengangguk paham, ekor matanya melirik pelan kearah Naru yang kini Nampak marah-tetapi wajahnya tetap datar tanpa ekspresi.
"Kalian sendiri, kami kaget ketika mendapat kabar keberangkatan kalian dimajukan dari jadwal semula." Ucap John.
"Ah soal itu, Saya dan Naru memang berniat berangkat hari ini." Dusta Lin. Bagaimanapun, dia tidak ingin membuat suasana hati Naru yang sudah buruk semakin buruk dengan mengatakan kebenarannya.
Harusnya, keberangkatan mereka ialah esok hari. Tetapi, Naru nekat ingin kembali ke Tokyo dimalam ketika mereka mendapat kabar tentang kecelakaan yang menimpa Mai. Merasa mustahil,-karena mendapatkan izin terbang di tengah malam sangatlah sulit- akhirnya mereka memutuskan untuk berangkat di penerbangan pertama pagi harinya.
"Naru-bou, suasana hatimu nampaknya sangat buruk. Jika, ini tentang kondisi jou-chan kau sebaiknya tenang saja. Gadis itu, lebih Tangguh dari kita semua." Ucap Takigawa menyemangati diri sendiri.
Kedati berusaha bersikap seperti biasa, pria yang sangat dekat dengan Mai itu tak dapat menapik bahwa dirinya tetap merasa gelisah. Bahkan, genggaman pada stir mobilnya cukup menjadi bukti bahwa dia sudah sedang berusaha untuk tenang.
Manik kelam Naru yang semula tertutup itu terbuka perlahan. Pemuda minim ekspresi itu sama sekali tidak menanggapi ucapan Takigawa. Sebaliknya, iris kelam itu menatap hampa langit-langit mobil mereka dan berucap lirih.
"bagaimana aku bisa tenang, jika sekarang dia berada diambang kematian."
.
.
.
.
Butuh sekitar 1 jam perjalanan hingga mereka berempat sampai kembali ke Rumah Sakit tempat Mai dirawat. Begitu Takigawa selesai memarkirkan mobilnya dengan rapi, keempat lelaki berbeda usia itu segera menuju ruangan dimana Mai dirawat.
Naru yang pertama kali tiba didepan ruangan tersebut dan segera membuka pintunya. Hati pemuda itu mencelos ketika mendapati tubuh Mai yang tengah tertidur ditanjang pasien. Kedua kakinya mengambil langkah lebar nan cepat tetapi dia usahakan untuk tetap terlihat seperti biasa.
Manik hitam itu segera mengamati tubuh Mai dari ujung kaki hingga kepalanya yang terbalut perban putih. Kondisi luarnya memang tidak seburuk orang-orang yang pernah jatuh dari ketinggian, persis seperti yang diceritakan John dan Takigawa tadi. Tetapi tetap saja, melihat manik cerah gadis itu tertutup membuat perasaan Naru tertampar benda tumpul.
Ingin rasanya Naru menerjang pundak itu seraya meneriakan perintah utnuk membuka matanya. Tetapi niatnya terhalang ketika menyadari bahwa diruangan tersebut tidak hanya ada dirinya. Tak hanya itu, manik kelam itu menangkap dua orang asing yang tidak dia kenal.
Salah satu sosok asing itu tersenyum ketika menyadari dirinya kini tengah menjadi pusat perhatian.
Dengan sopan, gadis itu membungkukan badannya seraya memperkenalkan diri.
"Senang bertemu dengan Anda Shibuya-san, Mai sering menceritakan tentang kalian. Saya, Ozawa Haruka, Dan yang disamping saya, Saitou Yakumo. Kami adalah Saudara jauh dari Taniyama Mai"
Keempat sosok yang baru datang tersebut mengangguk singkat.
"Shibuya Kazuya, Saya adalah atasan Mai dan manajer SPR. Pria yang berambut hitam itu adalah Koujou Lin, Asisten Saya dan kedua pria yang dibelakang Lin adalah Takigawa Houshou serta John Brown." Ucap Naru memperkenalkan dirinya, begitupun dengan ketiga pria lainnya yang membungkuk singkat.
Haruka tersenyum simpul untuk membalas salam mereka.
"Bou-san, Ayako, Madoka, aku ingin kalian ikut denganku dan menceritakan detail kejadian kemarin." Titah Naru seraya berjalan menuju pintu kamar Mai
Takigawa yang berada didekat Naru segera mengikuti Naru begitupun , Ayako dan Madoka yang tadinya tengah duduk di sofa tunggu kamar rawat Mai. Keduanya langsung berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Naru setelah sebelumnya memberi senyuman kepada Haruka.
Yakumo yang sedari tadi juga tengah duduk ikut berdiri.
"Tunggu, Aku juga ikut dengan kalian." Ucapnya seraya mendekati mereka dan hanya dibalas dengan anggukan meng-iya-kan oleh Naru.
Mereka berenam-beserta Lin- segera keluar dari ruang rawat tersebut. Persis ketika Yakumo akan menutup pintunya, pemuda itu berucap, "Haruka, Apapun yang terjadi jangan keluar dari ruangan ini sampai aku kembali."
Haruka menangguk patuh seraya tersenyum.
Dan kini, tinggalah Haruka, John dan Hara Masako yang mengawasi Mai.
.
.
.
T.b.c
Sebenarnya ide dari awal emang mau bikin crossover.
setelah dipertimbangkan apakah akan jadi satu fandom atau multifandom, Yuki memutuskan untuk mengubah fic ini ke versi crossover.
Semoga kalian suka dengan ceritanya, ya...
Salam,
Yuki Yahiko
