Hola Minna. Ada yang bosen ketemu fic baru (lagi-lagi) saya? Semoga nggak ya.
.
Fic Collab with Voidy.
.
DISCLAIMER : TITE KUBO
.
RATE : M For Safe
.
Warning : OOC (banget), AU, Gaje, Misstypo (Nongol mulu), Gak karuan.
.
Attention : Fic ini hanyalah fiksi belaka. Apalagi terdapat kesamaan atau kemiripan situasi atau tokoh atau apapun itu dengan cerita lain dalam bentuk apapun itu, adalah tidak disengaja. hehehe
.
.
.
Setelah menyelesaikan tugas-tugasnya, Ichigo segera menaiki kereta terakhir menuju desa Karakura.
Dia tak menyangka, setelah sekian lama kesempatan ini datang begitu saja.
Bahkan beberapa pekerjaannya sudah dibatalkan dan langsung saja ia melesat menuju tempat yang sudah ditinggalkannya selama delapan tahun. Tak pernah disangka, ternyata dia bisa kembali lagi ke tempat yang telah begitu banyak memberinya pelajaran dan mengajarinya bagaimana mengejar cita-citanya selama ini.
Tentu saja waktu selama delapan tahun mengejar cita-citanya bukanlah jalan yang mudah. Jatuh bangun untuk mengejar kesuksesannya sudah biasa. Asin garam pengalaman telah diteguk demi manisnya nama besar yang telah dicapainya saat ini.
Malam semakin larut. Yang berada di atas kereta shinkansen bersamanya hanyalah beberapa orang yang menuju pemberhentian terakhir.
Mungkin Ichigo akan tiba saat dini hari.
Kembali pria itu termenung. Keinginan bertemu kembali memang ada. Tapi sayang, dia tak pernah punya cukup waktu. Dan alasan. Selama ini dia tidak terlalu berusaha untuk mencari waktu yang pas. Hanya saja dia selalu berdalih. 'Pekerjaan selalu menumpuk dan dia terlalu sibuk. Belum lagi dia harus menghadiri acara ini-itu dan membuat pameran demi karirnya. Tak pernah ada waktu yang benar-benar luang.'
Semua itu omong kosong.
Ichigo hanya tidak terlalu nyaman mendatangi tempat yang selalu membayangi mimpinya selama ini. Mungkin orang lain akan menganggap sikapnya konyol, tapi sebelum meraih sukses dia berpikir tidak ingin merepotkan orang yang telah begitu baik padanya karena kesulitan ekonomi. Sedangkan setelah nama besar dicatutnya, dia tidak ingin mencari perhatian, apalagi jika sampai kedatangan kecilnya mampir ke telinga media.
Lagipula... itu hanya kenangan sesaat. Mungkin mereka sudah lupa. Mungkin juga mereka melanjutkan hidup mereka seolah Ichigo tidak pernah hadir di dalamnya. Ini adalah alasan utama Ichigo tidak ingin mengganggu kelangsungan hidup mereka.
Dan sekarang, dengan terpaksa dia membatalkan beberapa acara demi datang ke desa ini.
Desa yang ditinggalinya hanya selama dua minggu lebih.
Bersama gadis bermata cantik itu. Dan seorang kakek tentunya.
Ichigo jadi tak begitu sabar untuk bertemu lagi dengan gadis itu. Hanya karena panggilan darinyalah yang membuatnya segera menuju tempat kenangan masa lalunya.
Bagaimana rupanya setelah delapan tahun ini. Apa sudah banyak perubahan pada dirinya?
Gadis itu masih begitu polos dan lugu saat mereka pertama kali bertemu. Dan itu adalah kenangan yang tak pernah Ichigo lupakan. Gadis itulah yang menjadikan dirinya seperti sekarang ini. Jika tidak ada dia. Jika tidak pernah Ichigo menemuinya... mungkin dia tidak akan pernah lepas dari tempurung kataknya.
Setelah beberapa saat, akhirnya Ichigo sampai juga di desa ini. Karakura.
Menapak keluar dari stasiun, ternyata keadaan sudah lumayan berubah. Yang dulunya hanya jalan setapak, kini sudah beraspal. Dan ada beberapa kendaraan yang terlihat. Di sana-sini juga terlihat banyak perubahan. Ternyata... sungguh nostalgia sekali.
Seperti di masa silam. Hanya dengan tas ransel kecilnya, Ichigo berjalan menyusuri tempat ini. Berharap dia belum terlalu lupa karena waktu delapan tahun telah mengikis memorinya. Apalagi ini benar-benar masih dini hari. Bulan masih bertengger manis di atas kepalanya, menyinari setiap langkah Ichigo menuju gadis cilik dalam ingatannya.
Perasaannya yang begitu menggebu semakin membuatnya tidak sabar setengah mati. Dia bisa gila kalau membayangkan banyak hal seperti ini. Apalagi... astaga!
Jangan berlebihan, Ichigo!
Dia hanya seseorang yang Ichigo anggap adik. Hanya itu. Apa salahnya tidak sabar bertemu dengan adik sendiri? Lagipula perbedaan usia mereka juga lumayan jauh. Mana mungkin Ichigo pedofil. Selama ini sudah ratusan-ribuan?- wanita yang dia kencani. Dari yang wanita belia hingga berberapa tahun lebih tua darinya. Yang pasti tidak ada dalam koleksinya daftar wanita belasan tahun atau tante-tante.
Baginya... gadis itu merupakan keluarga yang selama ini dia rindukan. Keluarga yang didapatkannya dengan cara yang unik.
Samar-samar Ichigo ingat jalan ini. Rumah yang ditujunya memang tak terlalu jauh dari jalan utama desa. Hanya berjalan beberapa saat dan melewati klinik yang sekarang sudah jauh lebih bagus. Lalu...
Ichigo berhenti sejenak sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
Tak jauh dari tempatnya berdiri ada sebuah rumah yang masih begitu jelas dalam rekaman ingatannya. Lampu teras bangunan kayu itu tak menyala. Entah kenapa. Tapi diterangi oleh cahaya bulan. Oh... sepertinya bulan malam ini begitu terang dan begitu besar hingga sanggup membuat jalanan di sini begitu terang seperti siang hari bahkan tanpa lampu sekalipun.
Ichigo berusaha mempercepat langkahnya, tapi lagi-lagi terhenti karena pintu rumah yang dikenalinya itu terbuka pelan.
Siapa yang keluar dari sana?
Pemuda dengan ransel kecilnya tersebut masih terdiam. Entah kenapa dadanya juga bergemuruh luar biasa. Seolah dirinya sendiri memberitahu bahwa akan ada hal besar yang terjadi padanya.
Seorang gadis, yang nyaris dewasa melangkah keluar dari sana. Gadis itu agak mungil. Rambut hitam pendeknya terurai hingga mengalahkan kilau sang malam. Wajahnya tak asing. Dan terlihat begitu familiar bagi Ichigo.
Gadis itu menutup pintunya dan berjalan menuju teras rumah. Berdiri di sana memandang jalanan dengan tatapan sedih dan rindu.
Ichigo tak percaya...
Bahwa gadis cantik itu adalah gadis yang selama ini menjadi bunga mimpinya selama berpisah darinya.
"... Ka... kak?" suara bagai dentingan malaikat itu memecah lamunan Ichigo.
Pertama kalinya setelah delapan tahun dia kembali mendengar suara gadis itu berdiri di depannya.
.
.
*KIN*VOI*
.
.
"Terima kasih sudah mau datang. Kupikir Kakak akan sangat sibuk karena Kakak sekarang sudah sangat terkenal," buka gadis itu setelah menyilakan Ichigo masuk.
Tatapan Ichigo masih tak berpaling kemanapun selain menatap wajah cantik gadis itu.
Matanya masih tetap menawan. Besar dan bulat, apalagi dengan cahaya ungu kelabu itu yang membuatnya semakin cantik. Wajahnya tak kalah menggemaskan. Meski kecil dulu rasanya dia lebih imut, sekarang justru bertambah manis. Jika kecil dulu dia lebih mirip anak-anak dengan pipi mirip bakpau yang selalu Ichigo anggap adiknya, sekarang gadis ini terlihat lebih dewasa dan lebih mirip... gadis seusianya. Apa?
Hentikan imajinasi ini! Sial... kebiasaan buruk kalau terlalu lama memandanginya! Ini efek terburuk Ichigo sejak dia jadi playboy dan bertemu gadis cantik!
Karena kesal dengan fantasi liarnya, Ichigo sampai menjambak rambutnya sendiri.
"Kakak? Ada apa denganmu?" tanya gadis itu yang mulai khawatir.
Kuchiki Rukia.
Ichigo masih ingat nama gadis itu. Kuchiki Rukia. Namanya pun secantik orangnya.
"Ehh? Tidak... tidak apa-apa. Kenapa... kau belum tidur? Ini sudah malam bukan?" tanya Ichigo heran. Aneh sekali jika dia belum tidur. Padahal dulu gadis ini paling cepat tidur.
"Aku... tidak bisa tidur," jawabnya agak ragu-ragu kemudian.
Merasa bahwa Ichigo sudah menyinggung sesuatu yang tidak tepat, buru-buru dia mengalihkan pembicaraan. "Oh ya? Lalu ada apa kau... memintaku datang?"
Jujur saja, selama delapan tahun ini memang dia tidak pernah mendengar kabar apapun tentang gadis yang ada dihadapannya dan si kakek.
Ketika Ichigo bertanya hal itu, wajah Rukia langsung berubah aneh. Yang tadinya ceria menyambut Ichigo datang, sekarang berubah sedih. Ichigo tahu, gadis ini tengah mengendalikan sesuatu dalam dirinya.
"Oh, itu... Tidak apa-apa. Kita bicarakan besok saja. Kakak pasti lelah sekali kan? Istirahatlah," ujar gadis itu kembali menutupi ekspresi yang sempat dilihat Ichigo tadi.
Ichigo semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya dialami gadis ini. Mereka memang duduk berhadapan di sofa ruang tamunya, tapi dia terus menunduk menyembunyikan wajah cantiknya. Sedikitpun Ichigo tak lelah dengan perjalanannya.
"Tidak apa-apa. Kau bisa ceritakan padaku sekarang. Aku tidak lelah sama sekali. Ada apa?"
Rukia tampak menggigit bibir bawahnya. Bimbang. Berbagai ekspresi ditangkap oleh mata Ichigo yang sudah mahir menangkap berbagai ekspresi dari balik lensa pada wajah gadis ini. Tapi... dia tak melihat di mana kakek sangar itu sekarang ini. Apa sudah tidur?
"Aku... sebenarnya... ingin meminta bantuanmu, Kak... Aku tahu ini tidak sopan dan lancang sekali. Kakak pasti sangat sibuk dan tidak mungkin bisa menolongku. Hanya saja... aku tidak tahu lagi harus meminta bantuan pada siapa. Makanya... aku mencoba menghubungi Kakak dengan nomor terakhir yang Kakak berikan dulu. Kupikir... Kakak pasti sudah mengganti nomornya. Untungnya... Kakak tidak menggantinya," jelas Rukia. Nada suaranya terdengar getir dan berat.
"Bantuan apa yang ingin kau minta dariku?" tanya Ichigo akhirnya. Sedari tadi bicara gadis ini agak berputar. Seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Dia juga merasa kasihan melihat keadaan gadis ini yang kurang baik. Sejak tadi, terasa agak aneh. Tidak seperti biasa. Dulu, gadis ini selalu ceria. Seolah tak ada beban apapun di pundaknya. Dan sekarang...
"Aku... ingin mencari kakak kandungku."
"Ada apa dengan Kakek?" lanjut Ichigo bertanya juga. Rasanya penasaran juga. Karena seingat Ichigo dulu, kakak kandungnya sudah diadopsi oleh seorang kenalan orang tuanya. Sedangkan Rukia dititipkan pada kakek Barragan. Mustahil kan Rukia mau meninggalkan kakeknya dan mencari kakaknya kalau sesuatu tidak terjadi?
"Kakek... Kakek... sudah meninggal seminggu yang lalu..." suaranya terdengar lirih dan tercekat.
Mata Ichigo membulat lebar. Astaga!
Ichigo tahu gadis itu mati-matian menahan tangisnya. Tapi akhirnya pecah juga. Terdengar gemeretak giginya yang menahan gemetar tubuhnya. Ini pertama kalinya Ichigo melihat gadis ini menangis.
"Saat itu, aku berjanji akan melakukan apapun asal anak itu bisa tersenyum kembali. Dia masih terlalu kecil untuk menghadapi kenyataan bahwa ternyata dia tak punya apapun dan siapapun lagi. Setidaknya setelah aku tidak ada nanti."
Kata-kata kakek itu kembali terngiang di dalam kepala Ichigo.
Wajar kalau Rukia begitu kehilangan kakeknya dan menangis seperti ini. Selama ini yang membesarkannya hanyalah si kakek bercodet. Hanya kakek Barragan yang Rukia miliki selama ini. Tidak jadi hal yang aneh jika sampai sekarang rasa kehilangan tersebut begitu besar mempengaruhi dirinya. Ichigo tak bisa bayangkan sehancur apa hati Rukia begitu tahu kakeknya sudah tidak ada.
Tanpa aba-aba apapun lagi, Ichigo mendekat ke sofa gadis itu. Mendekapnya erat.
Tangisan Rukia langsung tumpah di dadanya. Wangi gadis ini masih sama. Wangi yang membuat Ichigo begitu terpesona dan―plak!
Gadis ini masih kecil dan dia lebih cocok jadi adikmu! Jerit Ichigo dalam hati.
Benar-benar dilema.
"Menangis saja sampai puas. Tapi berjanjilah setelah itu, jangan menangis lagi. Nanti kakekmu akan bertambah sedih," hibur Ichigo sambil mengusap kepala gadis itu.
Ini bukan gayanya. Tapi mana Ichigo tega membiarkan gadis ini menangis sendirian seperti ini. Sejak kecil dia sudah hidup tanpa kasih sayang orang tua. Dan jika kakeknya sudah tidak ada, Rukia akan benar-benar sebatang kara.
Sejak saat itu, Ichigo bersumpah di dalam hatinya, bahwa dia akan jadi keluarga untuk gadis ini. Agar Rukia tak perlu bersedih lagi karena merasa sendiri.
Ichigo tak ingat berapa lama dia mendekap gadis mungil itu dalam pelukannya. Dan jujur saja, memeluk Rukia begitu erat membuatnya nyaman sekali. Dan itu bukan karena dia mesum atau apa! Ichigo hanya ingin membuat gadis itu merasa bahwa masih ada seseorang yang menjaganya. Hanya itu. Lagipula... Ichigo tetap merasa bahwa Rukia adalah gadis kecil yang delapan tahun lalu membuatnya begitu sadar akan arti kehidupan. Dan sekarang, Ichigo sudah menganggapnya lebih dari keluarga. Semacam adik. (Author: Lebih dari keluarga dan semacam adik? Hm... Apakah anda mengendus sesuatu di sini? XD)
Melihat Rukia yang sudah jatuh tertidur karena lelah menumpahkan air mata di pelukannya itu, akhirnya Ichigo menggendongnya di lengannya. Tubuhnya bahkan terlalu ringan untuk seukuran gadis seusianya. Meski tubuhnya memang pendek dan mungil. Apa yang dia makan?
Begitu tiba di pintu kamar yang berhiasankan gantungan kelinci itu, Ichigo akhirnya membaringkan Rukia pelan di atas kasurnya yang penuh dengan beragam boneka kelinci berwarna warni. Mulai dari yang seukuran telapak tangan, hingga yang seukuran guling tidur. Dimana-mana ada kelinci ini. Bahkan dinding kamarnya juga berhiaskan gambar kelinci-kelinci itu. Sebenarnya gadis ini maniak kelinci ya?
"Dasar. Ternyata kau tetap saja bocah!" gumam Ichigo.
.
.
*KIN*VOI*
.
.
"RU-KI-AAAAAAAAAAAAAAAA!"
Brengsek!
Suara jelek apa itu yang memekakkan telinganya?
Ichigo baru saja tidur jam tiga tadi malam! Dan dia masih sangat mengantuk luar biasa! Apa-apaan suara jelek yang mengganggu tidurnya itu? Dasar tidak tahu diri!
Ichigo mencoba menutup kepalanya dengan bantal sofa. Setelah membaringkan Rukia di kamarnya, Ichigo memilih tidur di sofa. Mana mungkin Ichigo tidur satu ranjang dengannya kan? Dia masih punya otak! Lagipula kurang sopan kalau tidur sembarangan di rumah orang lain. Makanya dia beristirahat di sofa yang sebetulnya teramat tidak nyaman ini.
"RUKIAAAAA? KAU SUDAH BANGUN?" jerit orang tidak punya malu itu lagi.
Ichigo melempar bantal sofa tak berdosa itu hingga terpental pintu rumah. Kelihatannya orang gila itu masih nekat berteriak pagi-pagi begini!
Kebiasaan buruk Ichigo, kalau sudah bangun sulit tidur lagi. Dan ini adalah salah orang gila tersebut.
Dengan wajah kesal ditambah tekanan darah naik ke ubun-ubun karena terbangun dari tidurnya yang hanya sesaat, Ichigo menggeram sambil membuka pintu rumah dengan sedikit keras.
"Heh! Orang gila! Apa maksudmu berteriak di depan rumah orang hah!" bentak Ichigo setelah dia keluar dari rumah, hendak memaki orang yang dicap gila itu.
"Aku mau memanggil Rukia-chanku bukan―ehh? Kau..?"
Ichigo memperhatikan orang gila yang berteriak di depan rumah Rukia dengan mata disipitkan. Seorang pria dengan rambut merah menyala yang dikuncir tinggi ke atas. Tunggu dulu! Ichigo sepertinya ingat siapa orang ini.
"Kalau aku tidak salah... kau bocah yang melemparku dengan kerikil itu hingga tanganku nyaris patah kan?" tuduh Ichigo. Sebenarnya bukan karena kerikil yang dilemparnya yang pernah menyebabkan lengannya terkilir selama dua minggu. Tapi secara kronologis bisa dibilang dialah penyebab Ichigo jadi seperti itu.
"Kau... Paman Labu itu ya?" ujarnya kikuk.
"Apa? Paman Labu? Heh! Kau mau cari mati ya? Dan apa tadi? Rukia-chanku? Dasar bocah merah sialan! Ke sini kau! Biar kupatahkan tanganmu karena sudah mengganggu tidurku!" seru Ichigo menggeram marah. Dibangunkan dengan tidak elit plus kelakukan kurang ajar bocah di depannya betul-betul meningkatkan tensi darah di pagi buta begini.
"Kau sendiri! Apa yang kau lakukan di rumah seorang gadis yang tinggal sendiri! Kau pasti melakukan hal mesum di sana kan? Mau kau apakan Rukia yang sendiri itu! Dasar paman-paman mesum!" pekiknya tak kalah heboh. Dan rupanya tanpa mereka sadari, keributan itu memancing kehebohan warga sekitar.
Karena kesal, Ichigo langsung keluar dari teras rumah dan mengejar bocah kurang asem itu untuk dikulitinya hidup-hidup karena sudah menggelarinya sebutan 'paman mesum!'
"Kenapa ribut sekali sih?" gumam Rukia yang baru keluar dari rumahnya setelah terbangun karena suara berisik. Rukia menguap lebar setelah menyadari dua pria dengan warna rambut mencolok itu saling berkejaran keliling desa. Persis parade kostum buah.
.
.
*KIN*VOI*
.
.
"Hhh! Sialan! Kencang sekali larinya!" keluh Ichigo setelah tak berhasil menangkap bocah itu. Dia jadi berlarian pagi-pagi begini. Olahraga dadakan jadinya. Kenapa bocah bandel sepertinya bisa lari sekencang itu? Ehh? Jangan heran. Mereka dibesarkan di lingkungan seperti ini. Wajar kalau bisa jurus langkah seribu. Benar-benar bocah sialan. Ichigo sekarang sudah terlalu tua untuk diajak kejar-kejaran seperti itu. Lagipula, selama ini mana pernah Ichigo olahraga jalan kaki! Apalagi berlari.
"Kenapa Kakak pagi-pagi sudah keluar?" sosok gadis itu muncul dari kamarnya. Sepertinya dia baru saja selesai mandi. Rambutnya masih basah dengan handuk di tangannya. Ughh! Selalu seperti ini. Kendalikan diri... dia adik. Adik yang sangat manis.
"Tadi ada orang gila yang berteriak di depan rumah. Aku mau mengulitinya tadi. Tapi larinya kencang sekali," keluh Ichigo setelah menghempaskan diri ke sofa.
"Ahh~ sepertinya itu Renji, Kak. Dia memang biasa datang pagi-pagi sebelum pergi ke kebun ayahnya," jelas Rukia.
"Biasa? Apa dia selalu datang ke sini pagi-pagi?" selidik Ichigo.
"Mmm... dia selalu datang pagi-pagi. Kadang dia menemaniku di sini setiap malam juga. Karena aku tinggal sendirian sekarang ini," katanya lagi. Gadis itu tak terlihat sedih lagi. Sepertinya dia sudah bisa mengendalikan emosinya sekarang untuk tidak menangis lagi.
"Apa? Kau membiarkan orang seperti itu menemanimu? Bagaimana kalau dia berbuat―" tunggu Ichigo. Tunggu dulu. Apa yang kau pikirkan barusan?
"Berbuat apa?" ulang Rukia penasaran. Dan dia masih terlalu polos untuk mengartikan kata-kata Ichigo yang terputus itu.
"Err... sudahlah. Lain kali jangan biarkan laki-laki itu masuk ke rumahmu. Siapa tahu dia punya niat jahat. Oh ya, mengenai masalahmu semalam... apa yang bisa kubantu?" tanya Ichigo.
"Kakak pasti lelah. Aku bawakan minum dulu ya..." ujar Rukia kemudian melangkah menuju dapur.
Sepertinya masih ada rasa segan pada gadis itu. Ichigo tak ingin Rukia menganggapnya orang lain. Walaupun mereka pernah dekat hanya selama dua minggu lebih, tapi sekarang Ichigo benar-benar menganggapnya sebagai keluarga. Apalagi selama ini Ichigo juga tinggal sendirian. Sesuai keinginannya. Dan dia senang sekali keluarganya tidak mencarinya dan mengusik hidup barunya. Meski sekarang Ichigo sudah begini terkenal, keluarganya masih sibuk mengurus urusan mereka sendiri. Itu bagus.
Tak lama, Rukia keluar membawa teh dingin dan juga roti panggang. Rukia menyilakan Ichigo untuk menyantapnya lebih dulu. Lagipula... pasti lelah dari tadi mengejar orang.
"Kakek... sempat bilang kalau kakak kandungku ada di Tokyo. Aku juga punya alamat terakhirnya di sana. Aku... hanya ingin bertemu sekali dengannya. Walaupun... aku yakin, kakak pasti akan repot jika aku muncul tiba-tiba. Dan dia... juga sudah punya keluarga sendiri," buka Rukia.
"Jangan bersikap seolah kau benar-benar sebatang kara. Mana ada seorang kakak kandung pun yang menolak kehadiran adik kandungnya sekali pun dia sudah punya keluarga sendiri."
"Tapi... kami sudah lama tidak bertemu. Aku... selama ini benar-benar kehilangan kontak dengannya. Aku juga ragu, apakah kakakku masih ingat denganku."
"Tentu saja masih! Aku pasti akan membantumu menemukan kakak kandungmu. Percayalah. Dulu kakek Barragan banyak mengajarkanku beberapa pelajaran penting tentang menyikapi hidup. Jadi setidaknya, sekarang gantian aku yang akan membalas budi. Ayo kita ke Tokyo."
Mata cantik gadis itu membelalak lebar.
Pria ini masih terasa asing untuknya. Tapi kepada siapa lagi dia bisa meminta tolong. Dia tahu permintaan ini mungkin adalah hal terkonyol yang dia pikirkan. Tapi apa yang bisa Rukia lakukan? Dia ingin bertemu kakak kandungnya, walau sekali saja. Kalaupun nanti Rukia tak diterima, dia bisa kembali lagi ke desa ini dan hidup seperti biasa. Meski tanpa kehadiran kakeknya lagi. Ichigo bilang jangan menganggap dirinya sebatang kara, tapi kenyataan kalau sekarang Rukia hanya tinggal seorang diri tetap tak bisa dipungkiri. Tentu saja ini membuat Rukia gamang. Sebaiknya apa yang dia lakukan sekarang?
Apakah keputusannya untuk ikut Ichigo mencari kakaknya ke Tokyo adalah benar? Kenapa sekarang dia jadi bimbang?
Tidak. Dia ingin bertemu dengan kakaknya. Harus. Jika tidak untuk apa dia bersusah payah mencari nomor yang ditinggalkan Ichigo dan menghubunginya?
"Tapi... apakah tidak apa-apa aku ikut ke Tokyo? Apa Kakak tidak keberatan aku ikut ke sana?" tanya Rukia dengan menekan harapan di hatinya sekuat mungkin.
"Tidak. Tentu saja tidak. Kalian pernah menampungku di sini selama dua minggu. Lalu kenapa aku tidak? Ya, kalau kau mau mencari kakakmu ke Tokyo, kau tak bisa datang ke kota berbahaya itu sendirian. Ikut saja denganku. Kita ke Tokyo."
Rasanya lega bukan main. Rukia dengan senyum termanisnya segera berujar, "Terima kasih, Kak..."
Ichigo rasanya ingin menyemburkan teh yang baru saja dia telan. Tapi sebisa mungkin dia harus jaga image!
Melihat gadis ini berekspresi begini cantik mana mungkin Ichigo tidak tertarik? Tapi... kendalikan dirimu. Dia masih kecil. Jangan sampai sifat brengsek Ichigo kambuh. Di Tokyo nanti, sepertinya Ichigo harus menjauhkan gadis ini dari berbagai bahaya. Termasuk dirinya sendiri. Ugh...
Setelah berbincang sebentar mengenai masalah keikutsertaan Rukia dalam perjalanan ke Tokyo, gadis bermata ungu tersebut beranjak untuk menuju dapurnya lagi. Tapi kemudian berbalik lagi memanggil Ichigo.
"Kak?"
Ichigo menoleh dan mendapati gadis itu berdiri menghadapnya seraya memeluk nampan makanannya.
"Apa... Kakak sudah pernah pulang ke Amerika lagi?" tanya Rukia.
Kenapa tiba-tiba Rukia bertanya soal Amerika?
"Belum. Kenapa?"
"Wah... baguslah kalau begitu. Apa Kakak masih ingat janji Kakak dulu? Dulu Kakak bilang kalau aku sudah besar, Kakak akan mengajakku melihat pemandangan yang ada di kamera Kakak itu kan? Walau... sepertinya tidak akan bersama Kakek."
Astaga! Janji itu...
"Ya, aku masih ingat. Aku janji akan mengajakmu ke sana."
"Kapan itu?" sahut Rukia penuh antusias.
"Sedikit lagi. Kalau kau sudah besar sedikit lagi."
"Baiklah. Aku akan bersabar menunggu. Kakak janji ya...?"
Membawa Rukia ke Amerika.
Itu juga impian Ichigo.
.
.
*KIN*VOI
.
.
"Apa? Kau mau ke Tokyo bersama Paman Labu Mesum ini?" ujar Renji terkejut.
Sore itu, setelah selesai membantu ayahnya di kebun, Renji mampir lagi ke rumah Rukia. Sempat sih akan kabur lagi karena paman labu itu memandanginya dengan sorot yang tajam dan menusuk. Tapi Rukia langsung menyambut Renji dan menghentikan tatapan mengerikan dari paman itu. Entah kenapa setelah ingat kenangan sejak kecil itu, Renji agak bergidik setiap kali bertemu dengan pria berambut orange itu. Sekarang, Renji dan Rukia duduk bersila di teras rumah, dan si paman labu mesum itu tengah berada di ruang tamu sambil sesekali memeriksa ponsel dan kameranya.
"Yang benar Rukia?" kata Renji tak percaya.
"Mm!" angguk Rukia yakin. "Aku... mau bertemu kakak kandungku. Dan Kakak, mau membantuku mencarinya."
"Kau yakin dia tidak akan berbuat jahat padamu? Kau kan manis dan cantik. Bahaya kalau paman itu mau berbuat aneh!"
"Aku dengar itu, bocah!" pekik Ichigo dari ruang tamu.
"Lihat! Benar kan... dia pasti akan menjahatimu," hasut Renji.
"Kakak tidak begitu. Dia Kakak yang baik, kok. Kakak juga janji akan mengajakku ke Amerika kalau aku sudah besar sedikit lagi," kata Rukia bangga.
"Amerika? Di mana itu?"
"Tempatnya sangat indah, Renji! Aku sudah melihatnya di kamera Kakak! Bagus sekali. Ada jembatan yang sangat panjang, patung yang besar dan kota malam yang sangat cantik. Aku mau melihat semuanya..."
"Jadi... kau akan meninggalkanku?" keluh Renji.
"Tidak. aku tidak meninggalkanmu, Renji. Aku pasti akan kembali lagi kalau semuanya sudah selesai."
"Benarkah? Kau pasti kembali? Kau janji kan?"
"Tentu."
"Dan kau...," wajah Renji kemudian mulai tersipu-sipu, lalu melanjutkan, "pasti mau menikah denganku kan?"
"Tentu..." dan itu tentunya jawaban asal dari Rukia.
"Rukia-chaann~~~" panggilnya sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dan bersiap memeluk Rukia.
Sreet!
Ichigo menarik kerah baju belakang Rukia demi menghindarkan gadis cantik ini dari pelukan mesum bocah berambut merah ini. Kini Ichigo sudah berdiri menjulang di depan Renji dan Rukia yang ditariknya ke belakang punggungnya.
"Heh! Lihat sekarang siapa yang mesum, hah!" sindir Ichigo.
Renji segera berdiri tak terima dan berseru, "Heh, Paman! Apa yang kau lakukan tadi, hah! Rukia itu calon isteriku!"
"Mana mungkin aku membiarkannya menikah dengan pria mesum sepertimu!"
"Memangnya kau siapanya Rukia?"
"Aku Kakaknya! Kau mau apa hah?"
"Kau tidak terlihat seperti kakak! Tapi seperti paman mesum yang suka anak-anak! Dasar pedofil!"
"Heh! Tahu dari mana kau istilah begitu! Aku bukan pedofil tahu!"
Ichigo nyaris akan mencekik leher si rambut nanas itu, tapi dia keburu pergi setelah Rukia menarik tangan Ichigo untuk berhenti.
"Sampai jumpa Rukia! Cepat kembali ya! Setelah kau kembali kita segera menikah! Hati-hati dengan paman mesum itu!"
"Dasar bocah sialan!" teriak Ichigo tidak terima.
"Kakak jangan begitu dengan Renji. Dia hanya bercanda, kok," sela Rukia setelah Renji menjauh dari tempat mereka.
"Apa dia bermaksud bercanda dengan mengatakan soal pernikahan itu?"
"Iya," jawab Rukia polos. Tegas. Tak berdosa. Dan langsung tanpa ragu.
"Kau ini...! Memangnya kau tidak tahu apa itu menikah?"
"Tahu. Renji hanya bercanda."
"Darimana kau yakin, hah?"
"Kenapa kakak marah?" tanya Rukia tiba-tiba. Bingung juga melihat Kakaknya mirip mercon yang meledak-ledak.
Ichigo terdiam. Kenapa dia marah?
"Ahh sudahlah. Besok pagi-pagi kita harus ke Tokyo. Bersiaplah malam ini." kata Ichigo memututkan pembicaraan.
Kenapa Ichigo marah?
Grr! Dasar aneh!
.
.
*KIN*VOI*
.
TBC
.
.
Voidy's note : chapter ini sengaja agak pendek, karena ke depannya bakal lebih seru. Untuk beberapa reviewer yang minta update cepat... maaf karena agak lama, dari kin ngetik dioper ke saia untuk diedit plus-plus terus dibalikkin lagi ke kin. Heheh, untuk bathroom concert... maapkan saia, itu emang saia salah deskripsi. Betul juga ya, dawai kan senar. Mungkin harusnya bertubuh sintal seperti biola. Kyakakak~ untuk curio cherry, iya... untuk masa lalunya emang ingenuo banget ya? Untuk nenk rukiakate, heheheh~ hehe~ hehehe aja deh~ terakhir Nonana, wah... imajinasi kamu hebat. Apa begitu aja ya? Heheh~ untuk reader sekalian, saia coba tantang supaya chapter 2 nyampe 50 review. Kalo terjadi, chapter 3 nanti akan saia buat omake. Heheh~ kalo enggak, yah cuman chapter 3 isi doang.
Hola minna... saya datang lagi... wkwkwk moga gak bosen... hehehe
yah, sebagian udah dibilang sana neechan ya? hehehe saatnya balas review dari saya... oh ya, kalo ada yang mau ditanyain, bisa tanya saya atau tanya neechan, tapi di akhir review bilangin mau nanya siapa yaa... hehehe
Mikyo : makasih udah review senpai... heheh nih udah update...
oda k : makasih udah review oda... nih udah update... hehehe gak jamin juga sih bakal cepet update. hehheh
Haruka Ndo g login : makasih udah review Haruka... hehehe ya nih udah update makasih pujiannya heheheh
Piyocco : makasih udah review senpai... heheh ya sebenernya neechan yang suka rentang usia jauh begitu. saya sih sik asik aja. hehehehe
Nyia : makasih udah review senpai... heheh nih udah update... fic lain menunggu...
ChappyBerry Lover : makasih udah review senpai... wah makasih pujiannya, walo kayaknya saya gak gitu amat sih. hehehe ya saya sih pengen banget liat lemon yang hot. gak pernah liat neechan bikin lemon sih... wwkwkkwwk
arisakuchiki : makasih udah review senpai... nih udah update..
bathroom concert: makasih udah review senpai... heheh Ichi emang cocok jadi cowok resek plus brengsek... wkwkwk tapi tetep berkharismatik. hehehe masalah dawai segala macam itu, udah dijelasin sama neechan ya? hehhe soalnya bukan saya sih yang nambahin. saya juga gak liat bener *plak* eehh kapan update senpai?
mikalitiku : makasih udah review mika... amin. moga sukses.. heheh ehh cerita miriam? wah kurang tahu nih... hehhe ceritanya gimana tuh?
anna chan : makasih udah review senpai... nih udah lanjut... hehhe
lola-doniChan : makasih udah review senpai... hehehe saya juga bingung. nih udah update... saya juga nunggu lemonnya hehhehe
Rose nee : makasih udah review senpai... nih udah di update... uhmm saya jangan dipanggil senpai yaa.. Kin aja gak papa. kalo neechan gak papa dipanggil senpai... heheheh
can-can : makasih udah review senpai... nih udah update hehehhe
curio cherry : makasih udah review senpai... ya udah dijelasin sama neechan di atas. hehehehe
Chadeschan : makasih udah review senpai... heheh iya Ichi emang cocok pedofil. saya sih suka... hehehe kelanjutannya ada di chap ini..
hirumaakarikurosakikuchizaki : makasih udah review aka-chan ... yah gak janji sih bakal update cepet. tapi ini udah update. heheheh
beby-chan : makasih udah review beby... hehehe nih udah update... iya Ruki yang telepon. heheheh
ICHIRUKI FOREVER : makasih udah review senpai... iya nih udah update... heheh fic lain nunggu. hehehe
arumru-tyasoang : makasih udah review senpai... heheh makasih pujiannya. iya gak ada typo soalnya dikoreksi ama yang ahli. hehehe makasih udah di faveritin. hehehe nih udah update
Seo Shin Young : makasih udah review senpai... bedanya 9 tahun. lumayan ya? wkwkwkwk yah di sini udah ketemu banyak lum Ichirukinya? hehehe
narusaku20 : makasih udah review senpai... makasih udah suka fic saya. terharu banget. hehehe emm di sini gak sedih sih mungkin serius ya? soalnya genrenya romance sih. hehehehe
amexki chan : makasih udah review senpai... boleh kok, panggil apa aja hehehe nih udah update... hehehe
ayumi : makasih udah review senpai... heheh yah nih udah update... bedanya 9 tahun, chap kemarin Ichi 18 tahun. hehehehe
Ichiruki Yuki-Hime : makasih udah review senpai... makasih udah di faveritin. hehehe ya, nih udah lanjut. hehehe
nenk rukiakate : makasih udah review nenk... hehehe emang neechan suka yang beginian loh... hehehe *plakplakplak* wah gak janji tuh bisa update cepet. hehehe
Nonana : makasih udah review senpai... gak kok gak... hehehe mereka gak sodaraan tenang aja. hehehe
yupphh... makasih yang udah berpartisipasi sama fic ini. saya sangat berterima kasih loh... hehehe
oh ya, kalo mau lanjutin... ayo di review ya. biar semangat bikinnya. hehehehe
Jaa Nee!
